Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1869-1879 Analisa Kehilangan Hasil Produksi Usahatani Kentang Food Loss Analysis on Potato Farming Production Luthfi Zakaria Drajat*. Trisna Insan Noor. Erna Rachmawati. Zumi Saidah Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jl. Ir. Soekarno Km 21. Jatinangor. Kabupaten Sumedang Jawa Barat *Email: luthfi20003@mail. (Diterima 20-01-2025. Disetujui 25-06-2. ABSTRAK Kentang diketahui memiliki prospek dan potensi yang baik untuk dikembangkan dalam rangka memacu program diversifikasi pangan. Produksi kentang di Indonesia diketahui mengalami peningkatan rata-rata sekitar 2,34% setiap tahunnya. Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang menjadi penghasil kentang di Indonesia. Salah satu daerah di Kabupaten Garut yang menghasilkan kentang adalah Desa Sarimukti. Akan tetapi, produksi kentang di Kabupaten Garut mengalami fluktuasi hasil produksi yang disebabkan terjadinya kehilangan hasil usahatani kentang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak dan penyebab kehilangan hasil usahatani kentang serta karakteristik petani yang berpengaruh terhadap kehilangan hasil usahatani kentang di Desa Sarimukti. Kecamatan Pasirwangi. Kabupaten Garut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan teknik wawancara dan observasi kepada 55 Hasil penelitian menunjukkan bawah terjadi kehilangan hasil kentang dengan rata-rata sebesar 2091,8 kg/ha pada tingkat produksi dan terdapat pengaruh antara faktor produksi yang digunakan Petani Desa Sarimukti dengan kehilangan hasil kentang yang terjadi. Kata kunci: kehilangan hasil, kentang, petani ABSTRACT Potatoes is known to have good prospects and potential to be developed in order to spur food diversification Potato production in Indonesia is increased by an average approximately around 2. 34% each Garut Regency is one of the district in West Java Province that produces potatoes in Indonesia. One of the areas in Garut that produces potatoes is Sarimukti Village. However, potato production in Garut Regency experiences fluctuations in production due to food loss in potato farming. This research aims to find out how much is food loss in potato farming and the causes of food loss as well as farmers characteristics that influence the food loss in Sarimukti Village. Pasirwangi District. Garut Regency. This research uses the quantitative descriptive method with interview and observation techniques to 55 farmers. Results The results showed that there was a loss of potato yield with an average of 2091,8 kg/ha at the production level. Moreover, there is an influence between the production factors used by Sarimukti Village farmers and the potato yield loss that potato yield loss that occurs. Keywords: food loss, potato, farmer PENDAHULUAN Setiap negara memiliki makanan pokoknya tersendiri yang disesuaikan dengan lingkungan dan Salah satu makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi di dunia adalah kentang. Kentang (Solanum tuberosum L. ) merupakan tanaman pangan yang penting nomor empat di dunia berdasarkan produksinya setelah jagung, beras, dan gandum dengan tingkat produksi hampir 300 juta ton/tahun (Ayalew, 2. Menurut (FAOSTAT, 2. produksi kentang dunia telah mencapai total 376 juta ton, tiga Negara penyumbang hasil produksi tertinggi yaitu China dengan total produksi kentang sebesar 94,3 juta ton. India dengan total produksi sebesar 54,2 juta ton dan Ukraina dengan total produksi kentang sebesar 21,3 juta ton. Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2019 melaporkan bahwa terjadi kehilangan hasil sekitar 14% dari pangan di seluruh dunia atau senilai $400. 000 (USD). Sebagian besar penyebab terjadinya kehilangan hasil disebabkan oleh rantai pasok yang tidak efisien, distrbusi yang Analisa Kehilangan Hasil Produksi Usahatani Kentang Luthfi Zakaria Drajat. Trisna Insan Noor. Erna Rachmawati. Zumi Saidah tidak baik, kurangnya penggunaan teknologi, kurangnya pengetahuan, keterampilan hingga akses pasar (Gustavsson et al. , 2. Menurut (FAO, 2. kehilangan hasil produksi terjadi antara 15% hingga 50%. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Urge et al. , 2. terjadi kehilangan hasil produksi kentang hingga 53,69% dari seluruh rantai produksi, secara spesifik kehilangan hasil produksi kentang pada tahapan panen terjadi hingga 13,7%, sortasi 5,8% dan pada tahap distribusi hingga 4,6%. Kehilangan pada tahapan panen disebabkan oleh kebusukan, luka atau tersayat, serangan hama dan penyakit, dan tertinggal didalam tanah. Kehilangan hasil pada tahapan sortasi disebabkan oleh mekanisme panen dan menghijau. Kehilangan hasil pada tahap distribusi disebabkan memar dan sobek (Urge et al. , 2. Schneider et al. , . menyatakan bahwa kehilangan hasil pada tahapan pemanenan terjadi akibat tertinggal didalam tanah dan tersortasi berdasarkan fisiknya. Ditemukan kehilangan hasil hingga 4,9% disebabkan tertinggal didalam tanah dan 6,1% disebabkan tersortasi (Schneider et al. , 2. Di Indonesia sendiri kentang memiliki prospek dan potensi yang baik untuk dikembangkan di Indonesia dalam rangka memacu program diversifikasi pangan (Balitsa, 2. Permintaan kentang terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia (Sipayung, 2. Rata-rata konsumsi komoditas kentang di Indonesia sebanyak 2,2 kg per kapita per tahun dan terus meningkat setiap tahunnya dari tahun 2016 hingga 2020 dengan rata-rata peningkatan sebesar 2,79% per tahun (PUSDATIN, 2. Seiring dengan meningkatnya jumlah konsumsi kentang di Indonesia, agribisnis kentang semakin berkembang dan menyebar di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini mampu meningkatkan jumlah produksi kentang di Indonesia dan membantu mengurangi impor kentang serta meningkatkan pendapatan negara. Dari segi produktivitas serta mutu, komoditas kentang yang dibudidayakan di Indonesia telah tergolong cukup tinggi (Sihombing, 2. Produksi kentang di Indonesia diketahui mengalami peningkatakan rata-rata sekitar 2,34% setiap tahunnya. Tabel 1. Produktivitas Kentang di Indonesia Periode 2010-2022 Produksi Luas Panen Produktivitas Tahun . on/h. 15,94 15,96 16,58 16,02 18,20 18,25 15,40 18,71 19,27 19,55 18,96 20,52 Sumber: Badan Pusat Statisik . Berdasarkan Tabel 1, jumlah produksi kentang di Indonesia mengalami fluktuasi, begitu pula dengan luas lahan dan produktivitasnya. Akan tetapi, sejak 2020, produksi kentang terus meningkat. Namun produktivitas kentang terus mengalami fluktuasi. Produktivitas kentang di Indonesia juga masih sangat rendah jika dibandingkan dengan Amerika yang mencapai 50 ton/ha serta Belanda. Perancis dan Jerman yang dapat mencapai 40 ton/ha (FAOSTAT, 2. Negara lain di Benua Asia seperti India memiliki tingkat produktivitas yang sedikit lebih baik dari Indonesia sebesar 23 ton/ha sedangkan Bangladesh sedikit lebih rendah dari Indonesia sebesar 20 ton/ha (FAOSTAT, 2. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1869-1879 Jawa Barat merupakan provinsi nomor tiga yang menghasilkan kentang terbesar di Indonesia dengan 856 ton pada tahun 2020 dan terus meningkat sebesar 240. 482 pada tahun 2021 dan 272. pada tahun 2022 (BPS, 2. Kabupaten Garut diketahui menjadi salah satu daerah penghasil kentang terbesar di Provinsi Jawa Barat setelah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Majalengka. Tabel 2. Produksi Kentang di Provinsi Jawa Barat Wilayah Produksi Kentang (To. Garut Bandung Majalengka Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut . Berdasarkan Tabel 2. Kabupaten Garut merupakan daerah yang menghasilkan kentang terbesar di Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2019 produksi kentang di Kabupaten Garut mencapai sebesar 227 ton lalu pada tahun 2020 terjadi penurunan jumlah produksi menjadi hanya 121. 314 ton saja kemudian pada tahun 2021 terjadi peningkatan menjadi 160. 945 ton dan pada tahun 2022 menjadi jumlah produksi tertinggi dengan 192. 551 ton. Salah satu daerah di Kabupaten Garut yang menghasilkan kentang adalah Desa Sarimukti. Kecamatan Pasarwangi. Berdasarkan penelitian awal di Desa Sarimukti rata-rata Petani hanya mampu menghasilkan sekitar 18 ton/ha, angka produktivitas tersebut berada dibawah rata-rata produktivitas nasional. Salah satu penyebab terjadi rendahnya produktivitas adalah kehilangan hasil usahatani. Diketahui kehilangan hasil tanaman pangan pada tingkat produksi di Indonesia mencapai 12 juta hingga 21 juta ton per tahun (BAPPENAS, 2. Berdasarkan data tersebut perlu adanya upaya meningkatkan hasil produksinya. Upaya untuk meningkatkan persediaan pangan tidak hanya melalui peningkatan hasil produksinya melainkan dapat juga dilakukan dengan upaya memperkecil kehilangan hasil hasil produksi (Kader, 2. Kehilangan hasil produksi telah dimulai sejak sebelum Petani mengelola lahan yaitu ketika petani tidak memiliki akses terhadap faktor produksi dasar seperti benih unggul, penggunaan teknologi untuk benih dan pengetahuan dalam bertani (Chatterjee et al. , 2. Berdasarkan fenomena rendahnya produktivitas dan fenomena kehilangan hasil yang terjadi maka perlu pengkajian mengenai Analisa Kehilangan Hasil Produksi Usahatani Kentang. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa banyak kehilangan hasil produksi usahatani kentang, penyebab kehilangan hasil, dan mengetahui pengaruh antara penggunaan faktor produksi dengan kehilangan hasil produksi usahatani kentang usahatani kentang di Desa Sarimukti. Kecamatan Pasarwangi. Kabupaten Garut. Metode Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Desa Sarimukti. Kecamatan Pasirwangi. Kabupaten Garut. Jawa Barat. Pada penelitian ini Desa Sarimukti. Kecamatan Pasirwangi. Kabupaten Garut ditetapkan sebagai tempat penelitian. Petani kentang dipilih dengan cara purposive berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, yaitu petani yang merupakan pemilik lahan baik lahan pribadi ataupun lahan sewa. Analisis Data Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Data yang diambil meliputi karakteristik petani, karakteristik usahatani, penyebab kehilangan hasil produksi kentang, serta faktor kehilangan hasi produksi kentang. Untuk mengertahui seberapa banyak dan apa penyebab kehilangan hasil produksi usahatani kentang dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara penggunaan faktor produksi dengan kehilangan hasil produksi dianalisis menggunakan regresi linear Dalam penelitian ini variabel-variabel fakor kehilangan hasil yang digunakan adalah hasil produksi, pupuk kimia, pupuk kandang, benih, kehilangan, kentang tertinggal didalam tanah, tenaga kerja dan luas lahan. Persamaan regresi sebagai berikut. Analisa Kehilangan Hasil Produksi Usahatani Kentang Luthfi Zakaria Drajat. Trisna Insan Noor. Erna Rachmawati. Zumi Saidah yc = yu yu ycu yu ycu yu ycu U yu ycu yun Keterangan: : Kehilangan hasil : Konstanta : Koefisien regresi ke-1 : Koefisien regresi ke-2 : Koefisien regresi ke-3 : Koefisien regresi ke-4 : Koefisien regresi ke-5 : Koefisien regresi ke-6 : Koefisien regresi ke-7 : Hasil produksi : Pupuk kimia : Pupuk kandang : Benih ycu : Kentang tertinggal didalam tanah : Tenaga kerja ycu : Luas lahan : galat acak atau error HASIL DAN PEMBAHASAN Kentang merupakan salah satu komoditas yang mengalami kehilangan hasil, kehilangan hasil dapat terjadi diberbagai tingkatan seperti produksi, sortasi, pembersihan, penanganan hingga pengemasan. Kehilangan hasil pada tingkat produksi atau petani di Desa Sarimukti memiliki rata-rata 2091,8 kg/ha atau 13% dari total produksi. Tabel 3. Penyebab Kehilangan Hasil Tahapan Penyebab Panen Kebusukan Luka atau Tertinggal Terserang hama atau Menghijau Kerusakan Distribusi Sortasi Transportasi Total Rata-rata . Ratarata (%) Minimum Maximum Kehilangan hasil disebabkan kebusukan di Desa Sarimukti memiliki rata-rata sebesar 1,3% dari total rata-rata kehilangan hasil panen. Penyebab kebusukan pada umbi yang dipanen umumnya berasal dari benih yang kurang baik. Dalam hal ini benih yang dikatakan kurang baik dapat terlihat dari ciri fisiknya seperti lembek, memiliki memar atau luka. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1869-1879 Penyebab lain dari kebusukan pada kentang adalah melakukan perbanyakan benih dengan cara pembelahan, upaya tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menekan biaya produksi kentang. Pembelahan umbi dilakukan dengan cara membelah umbi kentang kebeberapa bagian mengikuti pertumbuhan mata tunasnya, setelah itu bagian dari umbi yang terbuka ditutup menggunakan semen. Umbi yang tidak tertutup secara sempurna secara tidak langsung mempercepat proses pembusukan Kehilangan hasil disebabkan kebusukan yang terjadi di Desa Sarimukti tergolong lebih rendah dibandingkan kehilangan hasil yang terjadi menurut Urge et, al . yaitu sebesar 2,63%. Kehilangan hasil disebabkan luka atau tersayat di Desa Sarimukti memiliki rata-rata paling rendah yaitu sebesar 0,9% dari total kehilangan hasil panen. Penyebab terjadinya luka atau tersayat pada umbi kentang umum nya disebabkan teknis pengolahan lahan atau pembumbunan, pembumbunan dilakukan menggunakan cangkul dan terkadang mengenai umbi sehingga terluka ataupun tersayat. Kehilangan hasil disebabkan luka atau tersayat di Desa Sarimukti lebih rendah dibandingkan kehilangan hasil yang terjadi menurut Urge et, al . yaitu sebesar 3,05%. Kehilangan hasil disebabkan kentang tertinggal di dalam tanah di Desa Sarimukti memiliki rata-rata paling tinggi yaitu sebesar 4,5% dari total kehilangan hasil panen. Penyebab terjadinya kentang tertinggal di dalam tanah disebabkan oleh cara panen yang konvensional menggunakan tangan dan alat sederhana seperti cangkul. Fenomena tinggi nya rata-rata kehilangan yang disebabkan tertinggal di dalam tanah ini terjadi dikarenakan pemilik lahan yang membiarkan hal tersebut terjadi. Menurut pemilik lahan, kentang yang tertinggal didalam tanah merupakan bonus bagi buruh yang dipekerjakan. Kehilangan hasil disebabkan tertinggal di dalam tanah di Desa Sarimukti lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan hasil yang terjadi menurut Urge et, al . yaitu sebesar 1,87% Kehilangan hasil disebabkan serangan hama dan penyakit di Desa Sarimukti memiliki rata-rata sebesar 1,9% dari total kehilangan hasil panen. Serangan hama dan penyakit pada tanaman atau umbi kentang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, kualitas benih, cuaca dan penggunaan obat-obatan yang tidak tepat. Kehilangan hasil disebabkan serangan hama dan penyakit di Desa sarimukti lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan hasil yang terjadi menurut Urge et, al. 3,03% Kehilangan hasil disebabkan menghijau di Desa Sarimukti memiliki rata-rata sebesar 1,4% dari total kehilangan hasil panen. Pada umumnya penyebab umbi kentang menghijau adalah pembumbunan yang tidak sempurna sehingga kentang muncul keatas permukaan tanah dan terkena sinar matahari sehingga menghijau. Penyebab lain dari umbi yang menghijau adalah ketika melakukan pada musim kemarau, tepatnya pada saat melakukan penyiraman. Penyiraman pada tanah yang kering menyebabkan erosi tanah disekitar pangkal tanaman kentang, sehingga kentang dapat muncul keluar permukaan tanah dan tersorot langsung oleh sinah matahari. Kehilangan hasil disebabkan umbi kentang menghijau di Desa Sarimukti lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan hasil yang terjadi menurut Urge et, al. yaitu sebesar 1,01%. Kehilangan hasil disebabkan teknis panen di Desa Sarimukti memiliki rata-rata sebesar 0,9% dari total kehilangan hasil panen. Petani di Desa Sarimukti umumnya melakukan pemanenan dengan alat bantu sederhana seperti cangkul atau sekop, dengan tujuan untuk mengangkat tanah sehingga memudahkan untuk mengambil atau memanen umbi kentang. Terkadang ketika mengangkat tanah dengan cangkul atau sekop, kentang yang berada didalam tanah terkena cangkul atau sekop. Sehingga memberikan luka terbuka pada umbi kentang, umbi kentang yang terbuka lebar tidak dapat bertahan lama karena mudah busuk dan mudah terserang penyakit. Kehilangan hasil disebabkan teknis panen di Desa Sarimukti lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan hasil yang terjadi menurut Urge et, al. yaitu sebesar 1,41%. Kehilangan hasil disebabkan distribusi dari lahan ke tengkulak di Desa Sarimukti memiliki rata-rata sebesar 2,1% dari total kehilangan hasil panen. Letak lahan pertanian kentang di Desa Sarimukti berada pada daerah yang sulit diakses, sehingga untuk pengangkutan hasil panen kentang menggunakan ojeg khusus. Ojeg atau angkutan khusus tersebut memiliki keterbatasan dalam mengangkut hasil panen sehingga banyak terjadi kerusakan ketika melakukan pengiriman. Kehilangan hasil disebabkan distrbusi yang Analisa Kehilangan Hasil Produksi Usahatani Kentang Luthfi Zakaria Drajat. Trisna Insan Noor. Erna Rachmawati. Zumi Saidah terjadi di Desa Sarimukti lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan hasil yang terjadi menurut Urge et, al . yaitu sebesar 3. Uji Statistik Uji Normalitas Tabel 4. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz ed Residual Normal Parameters Mean Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Most Differences Std. Deviation Extreme Absolute Positive Negative Berdasarkan hasil uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Didapatkan R hitung 0,200. Hal tersebut menunjukan bahwa terdistrubusi secara normal karena R hitung > 0,05. Uji Multikoliniertitas Tabel 5. Uji Multikoliniertitas Variabel Toleran VIF Hasil Produksi Pupuk Kimia Pupuk Kandang Benih Kentang Tertinggal didalam . Tenaga Kerja Luas Lahan Sumber: Data diolah menggunakan SPSS 2022 Berdasarkan Tabel 18, hasil perhitungan uji multikolinearitas antara variabel bebas telah memenuhi kriteria karena nilai VIF masing-masing variabel kurang dari 10. Nilai toleransi masing-masing variabel lebih besar dari 10 persen atau . Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas dalam model regresi tersebut. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah terdapat pola tertentu dalam penyebaran model regresi. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1869-1879 Gambar 1. Uji Heteroskedastisitas Pada Gambar 1, dapat dilihat bahwa titik-titik pada grafik scatterplot tidak memiliki pola penyebaran tertentu atau penyebaran yang jelas. Titik-titik tersebut menyebar diantara angka 0 pada sumbu Y. fenomena tersebut menunjukan bahwa tidak terjadi gangguan heteroskedastisitas pada model regresi Analisis Statistik Pengaruh Antara Penggunaan Faktor Produksi dengan Kehilangan Hasil Produksi Usahatani Kentang Model Tabel 6. Koefisien Determinasi R square Adjusted R square Std. Error of the Analisis terhadap faktor-faktor penduga yang diperkirakan berpengaruh terhadap kehilangan hasil usahatani kentang dilakukan dengan teknik analisis regresi linear berganda. Variabel bebas pada penelitian ini merupakan hasil produksi . cu ), pupuk kimia . cu ), pupuk kandang . cu ), benih . cu ), kentang tertinggal didalam tanah . cu ), tenaga kerja . cu ), dan luas lahan . cu ). Variabel terikat . adalah kehilangan hasil usahatani kentang. Hasil penelitian menunjukan nilai R2 sebesar 0,721. Artinya sebesar 72,1% variasi kehilangan hasil dapat dijelaskan oleh variabel bebas sedangkan sisanya 28,9% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dijelaskan pada penelitian ini. Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Koefisien Standar Variabel Regresi . error Konstanta 022 -. Sumber: Data diolah menggunakan SPSS 2022 Berdasarkan persamaan regresi linear berganda diatas dapat dijelaskan bahwa: Nilai konstanta memiliki nilai positif yaitu 82. 496, nilai ini menunjukan pengaruh yang berbanding lurus atau searah antara variabel bebas dengan variabel terikat, hal ini menunjukan bahwa hasil produksi, pupuk kimia, pupuk kandang, benih, tertinggal didalam tanah, tenaga kerja dan lahan memiliki nilai nol atau konstan, maka nilai kehilangan hasil adalah 82. Analisa Kehilangan Hasil Produksi Usahatani Kentang Luthfi Zakaria Drajat. Trisna Insan Noor. Erna Rachmawati. Zumi Saidah Variabel hasil produksi . cu ) memiliki nilai koefisien regresi 0. Artinya, apabila terjadi kenaikan variabel hasil produksi sebesar satu satuan maka akan menaikan kehilangan hasil 078 satuan. Dengan asumsi variabel lain tetap. Tanda positif pada nilai koefisien regresi menunjukan hubungan searah antara ycu dengan yc. Hal ini menunjukan apabila semakin tinggi hasil produksi maka kehilangan hasil akan semakin tinggi. Variabel pupuk kimia . cu ) memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0. Artinya, apabila terjadi kenaikan pada variabel pupuk kimia sebesar satuan maka akan menaikan kehilangan hasil sebesar 065 satuan. Dengan asumsi variabel lain tetap, tanda positif pada nilai koefisien regresi tersebut menunjukan hubungan searah antara variabel ycu dengan yc. Hal tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi nilai pupuk kimia maka kehilangan hasil akan semakin tinggi. Variabel pupuk kandang . cu ) memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0. Artinya, apabila terjadi kenaikan variabel pupuk kandang sebesar satu satuan, maka akan menaikan kehilangan hasil sebesar 0. 001 satuan. Dengan asumsi variabel lain tetap, tanda positif pada nilai koefisien regresi tersebut menunjukan hubungan yang searah antara variabel ycu dengan yc. Hal tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi nilai pupuk kandang maka kehilangan hasil akan semakin Variabel benih . cu ) memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0. Artinya. Apabila terjadi kenaikan variabel benih sebesar satuan, maka dapat menaikan nilai kehilangan hasil sebesar 0. Dengan asumsi variabel lain tetap, tanda positif pada nilai koefisien regresi melambangkan hubungan searah antara ycu dengan yc. Sehingga semakin tinggi nilai variabel benih maka kehilangan hasil akan semakin tinggi. Variabel kentang tertinggal didalam tanah . cu ) memiliki nilai koefisien regresi sebesar 1. Artinya, apabila terjadi kenaikan variabel kentang tertinggal didalam tanah sebesar satu satuan, maka akan meningkatkan kehilangan hasil sebesar 1. 239 satuan. Dengan asumsi variabel lain tetap, tanda positif pada nilai koefisien regresi tersebut menunjukan hubungan yang belawanan antara variabel ycu dengan yc. Hal tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi nilai variabel kentang tertinggal didalam tanah maka kehilangan hasil akan semakin tinggi. Variabel tenaga kerja . cu ) memiliki nilai koefisien regresi sebesar -1. Artinya. Apabila terjadi kenaikan variabel tenaga kerja sebesar satuan, maka dapat menurunkan nilai kehilangan hasil 152 satuan. Dengan asumsi variabel lain tetap, tanda negatif pada nilai koefisien regresi melambangkan hubungan berlawanan antara ycu dengan yc. Sehingga semakin tinggi nilai variabel tenaga kerja maka kehilangan hasil akan semakin rendah. Variabel luas lahan . cu ) memiliki nilai koefisien regresi sebesar -310. Artinya. Apabila terjadi kenaikan variabel luas lahan sebesar satuan, maka dapat menurunkan nilai kehilangan hasil 434 satuan. Dengan asumsi variabel lain tetap, tanda negatif pada nilai koefisien regresi melambangkan hubungan berlawanan antara ycu dengan yc. Sehingga semakin tinggi nilai variabel luas lahan maka kehilangan hasil akan semakin rendah. Uji F (Uji Simulta. Tabel 8. Hasil Uji F Jumlah Kuadrat Model Fhitung Sig. Kuadrat Tengah Regr 18644919. Resi 7198363. Total Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS 2022 Berdasarkan hasil uji F pada Tabel 20 diperoleh nilai signifikansi dengan nilai 0. 000 sehingga nilai signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak yang berarti yu = yu = yu = yu = yu = yu = yu = yu = 0 Artinya ycu , ycu , ycu , ycu , ycu , ycu , ycu secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Uji T (Uji Parsia. Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel luas lahan, variabel tanggungan keluarga, variabel pendidikan dan variabel pengalaman usahatani berpengaruh terhadap kehilangan hasil usahatani Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1869-1879 Variabel dapat dikatakan berpengaruh secara signfikan apabila nilai thitung > ttabel atau nilai signifikan dibawah 0,05. Tabel 9. Hasil Uji T Variabel Sig. Pengaruh masing-masing variable bebas terhadap kehilangan hasil usahatani kentang diuraikan sebagai berikut: Pengaruh variabel hasil produksi terhadap kehilangan hasil usahatani kentang Variabel ycu memiliki nilai signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak yang berarti variabel hasil produksi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Hal ini sejalan dengan penelitian dari (BAPPENAS, 2. bahwa kelebihan produksi menjadi salah satu penyebab langsung dari terjadinya kehilangan hasil. Pengaruh variabel pupuk kimia terhadap kehilangan hasil usahatani kentang Variabel ycu memiliki signifikansi > 0,05, maka H0 diterima yang artinya variabel pupuk kimia secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Hal ini terjadi karena penggunaan pupuk kimia secara tepat dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan tanaman (Sumarsono et al. , 2. dalam (Soemargono et al. , 2. Fakta lapangan yang terjadi di Desa Sarimukti yaitu para petani telah memahami cara penggunaan pupuk kimia yang tepat, sehingga penggunaan pupuk kimia tidak berdampak terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Pengaruh variabel pupuk kandang terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Variabel ycu memiliki t signifikansi > 0,05, maka H0 diterima yang artinya variabel pupuk kendang secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Hal ini terjadi karena penggunaan pupuk kendang dalam jumlah yang banyak dan dalam jangka waktu yang Panjang tidak memiliki efek negatif terhadap tanah dan tumbuhan (Sumarsono et, al. , 2. dalam (Soemargono et al. , 2. Sehingga tidak memberikan dampak terhadap kehilangan hasil usahatani yang terjadi. Pengaruh variabel benih terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Variabel ycu memiliki nilai signifikansi > 0,05, maka H0 diterima yang artinya variabel benih secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Penggunaan benih kentang yang unggul memiliki hasil yang lebih produktif . 690 kg/h. dibandingkan dengan non unggul . 749 kg/h. (Nugraheni et al. , 2. Petani di Desa Sarimukti cenderung memilih untuk menggunakan benih bersertifikat, selain produktfitasnya yang dinilai cukup baik para Petani di Desa Sarimukti dapat menggunakan benih unggul tersebut berkali-kali. Pengaruh variabel kentang tertinggal didalam tanah terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Variabel ycu memiliki nilai signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak yang berarti variabel tertinggal didalam tanah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Fakta lapangan menunjukan bahwa kentang tertinggal didalam tanah berpengaruh terhadap kehilangan hasil karena Petani pemilik lahan membiarkan hal tersebut terjadi. Menurut Petani setempat kentang yang tertinggal didalam tanah setelah proses panen pertama adalah bonus untuk tenaga kerja. Pengaruh variabel tenaga kerja terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Variabel ycu memiliki memiliki nilai signifikansi > 0,05, maka H0 diterima yang artinya variabel tenaga kerja secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kehilangan hasil usahatani Tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting dan harus diperhitungkan pada proses produksi dengan jumlah yang cukup namun tidak hanya dilihat dari ketersediaan, kualitas serta jenis tenaga kerja pun perlu diperhatikan (Rahim & Hastuti, 2. Fakta lapangan menunjukan bahwa Petani pemilik lahan tidak kesulitan dalam mencari tenaga kerja, hal ini Analisa Kehilangan Hasil Produksi Usahatani Kentang Luthfi Zakaria Drajat. Trisna Insan Noor. Erna Rachmawati. Zumi Saidah disebabkan mayoritas penduduk di Desa Sarimukti bermata pencaharian sebagai Petani dan juga tidak tebatas oleh modal untuk menggunakan jasa orang lain. Pengaruh variabel luas lahan terhadap kehilangan hasil usahatani kentang. Variabel ycu memiliki memiliki nilai signifikansi > 0,05, maka H0 diterima yang artinya variabel luas lahan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kehilangan hasil usahatani Lahan pertanian menjadi salah satu penentu dari pengaruh komoditas pertanian (Randika, 2. Fakta yang terjadi di lapangan adalah luas lahan tidak mempengaruhi produktivitas atau kehilangan hasil dari lahan usahatani nya. Hal ini disebabkan petani di Desa Sarimukti tidak terkendala oleh modal dan tenaga kerja, sehingga lahan dapat diusahakan secara Selain itu tanah di Desa Sarimukti memiliki kondisi yang baik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan tersebut, maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: Terjadi kehilangan hasil usahatani kentang di Desa Sarimukti. Kecamatan Pasirwangi. Kabupaten Garut dengan total rata-rata sebesar 2091,8 kg/ha yang terbagi dari 6 penyebab kehilangan hasil. Kebusukan 207,7 kg/ha, . Luka atau tersayat 141 kg/ha, . Tertinggal didalam tanah 729,4 kg/ha, . Terserang hama dan penyakit 301,2 kg/ha, . Menghijau 223,8 kg/ha, . Mekanisme panen 151,9 kg/ha dan . Distribusi 334,6 kg/ha. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehilangan produksi hasil usahatani kentang di Desa Sarimukti berpengaruh signifikan secara simultan. Terdapat dua variabel yang memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap kehilangan hasil usahatani. yaitu hasil produksi . cu ) dan kentang tertinggal didalam tanah . cu ). Faktor yang mempengaruhi kehilangan hasil usahatani kentang dapat dijelaskan oleh tujuh variabel bebas sebesar 72,1% sedangkan sisanya 27,9% dijelaskan oleh faktor-faktor yang tidak dijelaskan pada penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA