SOCIETAS DEI Vol. No. Oktober 2025 p-ISSN: 2407-0556 e-ISSN: 2599-3267 Riwayat Artikel: Diserahkan: 23 Juni 2025 JURNAL AGAMA DAN MASYARAKAT AuBusuk dan Jijik Perbuatan MerekaAy: Orientasi Religius dan Emosi Jijik pada Individu Dewasa di Jabodetabek "They are Corrupt and Vile": Religious Orientation and Disgust among Adults in Greater Jakarta Direvisi: 5 November 2025 Laura Precious Bless1 Karel Karsten Himawan1* 1 Fakultas Psikologi. Universitas Pelita Harapan. Indonesia Diterima: 1 Desember 2025 Korespondensi karsten@uph. DOI https://doi. org/10. 33550/sd. Halaman Abstract Religious beliefs are often intertwined with emotional responses, particularly toward stimuli perceived as impure or morally The way individuals internalize religious teachings may shape how they experience emotions like disgust. This study examined the influence of religious orientationAeboth intrinsic and extrinsicAe on disgust sensitivity among adults in the Jabodetabek area. To explore this, 375 participants (Mage = 32. SD = 2. were recruited using snowball and purposive sampling methods and completed an online survey. Religious orientation was measured using the Religious Orientation Scale (ROS), while disgust sensitivity was assessed with the Three Domains of Disgust Scale (TDDS). Analysis revealed that extrinsic religious orientation significantly predicted higher levels of disgust sensitivity, and this relationship was more pronounced among women. These findings suggest that individuals who approach religion for instrumental or social purposes may exhibit heightened emotional reactivity to disgust-related stimuli, with gender differences indicating a potentially stronger sensitivity among women. Keywords: religiosity, religious orientation, moral disgust, sexual disgust, pathogen disgust Keyakinan agama sering kali terkait dengan respons emosional, khususnya terhadap stimulus yang dianggap najis atau menyimpang secara moral. Cara individu menginternalisasi ajaran agama dapat membentuk cara mereka mengalami emosi, seperti rasa jijik. Penelitian ini mengkaji pengaruh orientasi religiusAebaik intrinsik maupun ekstrinsikAe terhadap sensitivitas terkait emosi jijik pada orang dewasa di wilayah Jabodetabek. Untuk mengeksplorasi hal ini, sebanyak 375 partisipan (Musia = 18. SD = 2. direkrut melalui metode snowball dan purposive sampling, serta mengisi survei daring. Orientasi religius diukur menggunakan Religious Orientation Scale (ROS), sedangkan sensitivitas terhadap rasa jijik diukur dengan Three Domains of Disgust Scale (TDDS). Hasil analisis menunjukkan bahwa orientasi religius ekstrinsik secara signifikan memprediksi tingkat sensitivitas jijik yang lebih tinggi dan hubungan ini lebih kuat ditemukan pada partisipan perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa individu yang menjalani agama untuk tujuan instrumental atau sosial cenderung menunjukkan reaktivitas emosional yang lebih tinggi terhadap stimulus yang membangkitkan rasa jijik dengan perbedaan gender yang menunjukkan sensitivitas lebih kuat pada perempuan. Kata-kata Kunci: jijik moral, jijik seksual, jijik patogen, religositas, orientasi religius A 2025 Reformed Center for Religion and Society Artikel ini di bawah ketentuan Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. L AURA P RECIOUS B LESS & K AREL K ARSTEN H IMAWAN Pendahuluan Manusia merupakan makhluk emosional. Perasaan dan suasana hati dapat memengaruhi sikap, motivasi, perilaku, dan interaksi individu dengan orang lain1. Ekman dan Cordado menyebutkan bahwa manusia memiliki enam emosi dasar, yaitu terkejut, takut, marah, senang, sedih, dan jijik. 2 Dari enam emosi dasar yang dimiliki manusia, emosi jijik kerap dianggap sebagai emosi yang paling memengaruhi seseorang dalam membuat keputusan moralnya. 3 Emosi ini biasanya muncul ketika seseorang merasa tidak nyaman dengan suatu objek atau situasi yang dianggap tidak menyenangkan atau membahayakan dirinya. Emosi jijik adalah emosi dasar yang termanifestasi secara universal pada budaya mana pun dan merupakan reaksi dari tekanan yang dihasilkan oleh lingkungan, seperti membantu individu menghindari penyakit, mengenali tanda-tanda jika terkontaminasi, serta memberikan regulasi diri terhadap pemicu emosional yang menekan. Studi-studi tentang emosi jijik secara umum mengategorikan tiga area emosi jijik: patogen, seks, dan moral. 5 Fungsi emosi jijik adalah untuk melindungi tubuh dari objek ofensif, menjauhkan diri dari insting primitif yang tidak sesuai dengan nilai moral, serta menjaga tubuh . tau jiw. dari kontaminasi. 6 Adanya perilaku menolak kelompok yang berpotensi menimbulkan ancaman kontaminasi merupakan salah satu contoh dari emosi jijik patogen. 7 Emosi jijik terhadap seks membuat seseorang menampilkan berbagai sikap dalam upaya menjaga diri agar tetap AusuciAy dan menghindari gangguan seksual. 8 Emosi jijik terkait moral dijelaskan sebagai kecenderungan untuk menjadi terobsesi dengan ketakutan akan dosa sehingga memotivasi perilaku kompulsif untuk mengeliminasi dosa dengan berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan. 1 Marc W. Heerdink. Lukas F. Koning. Evert A. Doorn, dan Gerben A van Kleef, "Emotions as guardians of group norms: expressions of anger and disgust drive inferences about autonomy and purity violations," Cognition and Emotion 33, no. : halaman yang dikutip, https://doi. org/10. 1080/02699931. 2 Paul Ekman dan Daniel Cordaro. AuWhat is Meant by Calling Emotions Basic,Ay Emotion Review 3, no. 364-370, https://doi. org/10. 1177/1754073911410740. 3 Ika Widyarini. Fathul Imam. Thomas Dicky Hastjarjo, dan Rahmat Hidayat. AuPeran Emosi Moral Dan Kekuatan Karakter Dalam Pengambilan Keputusan Etis,Ay (Disertasi Doktoral. Universitas Gadjah Mada, 2. , https://etd. id/penelitian/detail/156345. 4 Valerie Curtis. Mycheyl de Barra, dan Robert Aunger. AuDisgust as an adaptive system for disease avoidance behaviour,Ay Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences 33 . : 389-401, https://doi. org/10. 1098/rstb. 5 Bunmi O. Olatunji. Thomas Adams. Bethany Ciesielski. Bieke David. Shivali Sarawgi, dan Joshua BromanFulks. AuThe Three Domains of Disgust Scale: Factor Structure. Psychometric Properties, and Conceptual Limitations,Ay Assessment 19, no. : 205Ae25, https://doi. org/10. 1177/1073191111432881. 6 Paul Rozin. Jonathan Haidt, dan Clark R. McCauley. AuDisgust,Ay dalam Handbook of Emotions (Third Editio. Michael Lewis. Jeanette M. Haviland-Jones, dan Lisa Feldman Barrett (New York: Guildford Press, 2. , 75776. 7 Mark Schaller dan Damian R. Murray. AuInfectious Disease and the Creation of Culture,Ay dalam Advances in Culture and Psychology: Volume 1, peny. Michele J. Gelfand. Chi-yue Chiu, dan Ying-yi Hong (Oxford: Oxford Academic, 2. , 99Ae151, https://doi. org/10. 1093/acprof:oso/9780195380392. 8 Charmaine Borg. Peter J. de Jong, dan Willibrord Weijmar Schultz. AuVaginismus and Dyspareunia: Relationship with General and Sex-Related Moral Standards,Ay The Journal of Sexual Medicine 8, no. : 223-31, https://doi. org/10. 1111/j. 9 G. Kawika Allen, dan Kenneth T. Wang. AuExamining religious commitment, perfectionism, scrupulosity, and well-being among LDS individuals,Ay Psychology of Religion and Spirituality 6, no. : 257-64, https://doi. org/10. 1037/a0035197. Vol. No. Oktober 2025 ORIENTASI RELIGIUS DAN EMOSI JIJIK Emosi yang melatarbelakangi keputusan individu dalam berperilaku dapat dipengaruhi oleh religiositas individu. 10 Dengan paradigma ini, dapat disimpulkan bahwa suatu stimulus dapat mengaktivasi emosi tertentu yang mengarahkan seseorang untuk berperilaku sesuai dengan emosinya, salah satunya adalah orientasi religiositas Nilai-nilai kepercayaan yang ditawarkan oleh agama kerap dijadikan sebagai kompas moral bagi para pemeluknya. 11 Secara sosiologis, nilai-nilai agama dianggap dapat memberi arahan mengenai perilaku yang baik dan tidak baik untuk dilakukan. Sebagai contohnya, individu yang menjadikan nilai agama sebagai bagian dari identitasnya cenderung lebih termotivasi untuk berbuat baik,13 mengurangi perilaku agresif,14 impulsif, keinginan untuk berhenti merokok,15 membangun gaya hidup hemat,16 serta membatasi diri untuk tidak terlibat dalam aktivitas seksual di luar Tingkat keterlibatan seseorang dalam kehidupan beragamanya dikenal dengan 18 Beberapa studi telah mengkaji peran religiositas sebagai prediktor terhadap berbagai fenomena psikologis, seperti: kepuasan hidup, kestabilan emosi, dan stres. Religiositas terdiri dari berbagai dimensi, antara lain dimensi kognitif, emosi, perilaku, dan relasi sosial. 20 Dengan mempertimbangkan natur multidimensional dari religiositas, penulis berfokus pada satu aspek spesifik dari religiositas agar dapat diamati dengan cermat dinamikanya. Studi ini ingin memusatkan perhatian pada aspek orientasi 10 Raluca D. Szekely. Adrian Opre, dan Andrei C. Miu. AuReligiosity enhances emotion and deontological choice in moral dilemmas,Ay Personality and Individual Differences 79 . : 104Ae9, https://doi. org/10. 1016/j. 11 Kimberly R. Wood. David M. Compton, dan Jocelyn R. Smith. AuThe Influence of Personality and Religiosity on Decision-Making Associated with Moral Judgments,Ay International Journal of Psychology and Behavioral Sciences 10, 3 . : 63Ae75, http://article. org/10. 12 Ryan S. Ritter dan Jesse Lee Preston. AuGross gods and icky atheism: Disgust responses to rejected religious beliefs,Ay Journal of Experimental Social Psychology 47, no. : 1225Ae30, https://doi. org/10. 1016/j. 13 Sam A. Hardy dan Gustavo Carlo. AuReligiosity and prosocial behaviours in adolescence: the mediating role of prosocial values,Ay Journal of Moral Education 34, no. : 231-49, https://doi. org/10. 1080/03057240500127210. 14 James A. Shepperd. Wendi A. Miller, dan Colin Tucker Smith. AuReligiousness and aggression in adolescents: The mediating roles of self-control and compassion,Ay Aggressive Behavior 41, no. : 608Ae21, https://doi. org/10. 1002/ab. 15 David Timberlake dkk. AuThe Moderating Effects of Religiosity on the Genetic and Environmental Determinants of Smoking Initiation,Ay Nicotine & Tobacco Research 8, no. : 123Ae33, https://doi. org/10. 1080/14622200500432054. 16 Muhammad Danish Habib dan Festus Victor Bekun. AuDoes religiosity matter in impulsive psychology buying behaviors? A mediating model and empirical application,Ay Current Psychology 42 . : 9986-98, https://doi. org/10. 1007/s12144-021-02296-0. 17 Amy Adamczyk dan Brittany E. Hayes. AuReligion and Sexual Behaviors: Understanding the Influence of Islamic Cultures and Religious Affiliation for Explaining Sex Outside of Marriage,Ay American Sociological Review 77, no. : 723-46, https://doi. org/10. 1177/0003122412458672. 18 Y. Anuradha Iddagoda dan H. Opatha. AuReligiosity: Towards a Conceptualization and an Operationalization,Ay Sri Lankan Journal of Human Resource Management 7, no. : 59Ae69, https://doi. org/10. 4038/sljhrm. 19 John Maltby dan Liza Day. AuReligious orientation, religious coping and appraisals of stress: assessing primary appraisal factors in the relationship between religiosity and psychological well-being,Ay Personality and Individual Differences 34, no. : 1209Ae24, https://doi. org/10. 1016/s0191-8869. 20 Vassilis Saroglou. AuBelieving. Bonding. Behaving, and Belonging: The Big Four Religious Dimensions and Cultural Variation,Ay Journal Cross-Cultural Psychology . 1320Ae40, https://doi. org/10. 1177/0022022111412267. SOCIETAS DEI: JURNAL AGAMA DAN MASYARAKAT L AURA P RECIOUS B LESS & K AREL K ARSTEN H IMAWAN religius, yakni cara individu memandang dan menjalani keyakinannya dalam kehidupan sehari-hari?21 Ada dua jenis orientasi religius yang terdiri atas orientasi ekstrinsik dan Religiositas intrinsik adalah ketika seseorang menjadikan agama sebagai tujuan utama dan panduan hidupnya, sedangkan religiositas ekstrinsik adalah ketika agama digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi, seperti status sosial. Jika dibandingkan dengan religius ekstrinsik, orang yang berorientasi religius intrinsik lebih sedikit berprasangka, cemas, takut, dan terobsesi pada kematiannya. 22 Sebaliknya, tingginya tingkat orientasi religius ekstrinsik cenderung berasosiasi dengan ketidakstabilan emosi yang lebih tinggi,23 perasaan bersalah dan neurotisisme yang lebih besar,24 kecemasan dan tekanan psikologis yang lebih tinggi, serta harga diri yang lebih Meskipun emosi jijik dapat mendorong seseorang untuk bertindak ke arah yang dianggapnya benar Ae dalam hal ini yang sejalan dengan nilai agamanya, tetapi hal tersebut dapat menjadi berbahaya ketika emosi jijik mendominasi perasaan seseorang. Inozu dan kawan-kawan26 mencatat bahwa peningkatan emosi jijik yang berlebih dapat menyebabkan gejala fobia dan kecemasan, serta gangguan lainnya seperti gangguan obsesif-kompulsif, khususnya ketakutan akan kontaminasi atau juga patogen. Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa partisipan yang beragama Islam cenderung memiliki sensitivitas yang lebih terhadap rasa jijik yang mendorong seseorang lebih sering untuk mencuci . , memeriksa . , dan memastikan kesesuaian urutan . secara berulang. Hal ini disebabkan oleh dorongan yang kuat untuk melakukan tindakan yang bertujuan untuk menetralkan pikiran dan mengurangi rasa kotor secara moral, seperti mencuci tangan dan membersihkan badan. Penelitian lain pun menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap nilai agama berasosiasi dengan homofobia. 27 Diskriminasi tersebut dapat terjadi karena prinsip dan nilai agama yang menimbulkan pemikiran bahwa homoseksualitas itu berdosa dan tidak suci. Di sisi lain, penelitian yang secara langsung mengaitkan orientasi religius sebagai prediktor emosi jijik belum banyak dilakukan, meski keterkaitan antara religiositas secara umum dengan sensitivitas Gordon W. Allport dan J. Michael Ross. AuPersonal religious orientation and prejudice,Ay Journal of Personality and Social Psychology 5, no. : 432-43, https://doi. org/10. 1037/h0021212. 22 K. Lesniak. William Rudman. Margaret B. Rector, dan T. David Elkin. AuPsychological distress, stressful life events, and religiosity in younger African American adults. Ay Mental Health. Religion & Culture 9, no. : 15Ae28, https://doi. org/10. 1080/13674670512331389533. 23 Maltby dan Day. AuReligious Orientation. Religious Coping and Appraisals of Stress. Ay 24 John Maltby. AuProtecting the sacred and expressions of rituality: Examining the relationship between extrinsic dimensions of religiosity and unhealthy guilt. Ay Psychology and Psychotherapy: Theory. Research and Practice 78, no. : 77Ae93, https://doi. org/10. 1348/147608305x39644. 25 P. Watson. Ronald J. Morris, dan Ralph W. Hood. AuExtrinsic scale factors: correlation and construction of religious orientation types,Ay Journal of Psychology and Christianity 9 . : 35-46. 26 Mujgan Inozu. Fulya Ozcanli Ulukut. Gokce Ergun, dan Gillian M. Alcolado. AuThe mediating role of disgust sensitivity and thought-action fusion between religiosity and obsessive compulsive symptoms,Ay International Journal of Psychology 49, no. : 334Ae41, https://doi. org/10. 1002/ijop. 27 Christopher H. Rosik. Lois K. Griffith, dan Zenaida Cruz, "Homophobia and conservative religion: Toward a more nuanced understanding," American Journal of Orthopsychiatry 77, no. : 10-19, https://doi. org/10. 1037/00029432. Vol. No. Oktober 2025 ORIENTASI RELIGIUS DAN EMOSI JIJIK terhadap rasa jijik sudah pernah dilakukan. 28 Studi lain lebih menekankan pada korelasi antara rasa jijik dengan rasa takut akan Tuhan dan akan dosa29. Dikarenakan adanya fenomena-fenomena tersebut, peneliti ingin mengetahui peran orientasi religius seseorang terhadap emosi jijik yang dirasakannya. Pengembangan Hipotesis Indonesia menyajikan kanvas yang unik untuk mempelajari mekanisme ini karena masyarakat Indonesia memersepsikan peran dan nilai agama sebagai atribut yang sangat 30 Hal ini memicu kecenderungan beberapa individu untuk memanfaatkan atribut agama demi diterima di lingkungan sosialnya. Namun demikian. Indonesia merupakan negara yang sangat multikultural sehingga peneliti membatasi populasi studi ini pada wilayah Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang. Bekasi untuk mengontrol keunikan budaya yang mungkin memengaruhi variabel penelitian. Pemilihan area Jabodetabek diasumsikan dapat merepresentasikan isu-isu modern yang terjadi di kota Peneliti juga melakukan studi ini pada partisipan dewasa dikarenakan individu dewasa dianggap dapat membuat keputusan secara mandiri,31 termasuk keputusan mengenai agama. Ketika mencermati dinamika ini, studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh orientasi religius intrinsik dan ekstrinsik terhadap emosi jijik individu dewasa di Jabodetabek. Hipotesis dalam studi ini adalah H1: Orientasi religius intrinsik berpengaruh secara signifikan terhadap emosi jijik individu dewasa di Jabodetabek. H2: Orientasi religius ekstrinsik berpengaruh secara signifikan terhadap emosi jijik individu dewasa di Jabodetabek. Dengan belum banyaknya studi yang mengeksplorasi hubungan kedua variabel ini, peneliti berasumsi bahwa mereka yang berorientasi ekstrinsik mungkin memiliki emosi jijik yang tinggi pula. Asumsi ini muncul dikarenakan persepsi peneliti bahwa individu dengan orientasi ekstrinsik cenderung lebih ingin terlihat religius sehingga mereka akan berusaha untuk menampilkan sifat-sifat ekstrem, seperti menunjukkan perasaan jijik dan menghindari hal yang di luar ajaran agamanya secara berlebihan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih kaya mengenai pengaruh orientasi agama seseorang dinamika pengalaman emosinya, khususnya terhadap perasaan jijik. Zhaoliang Yu. Persefoni Bali. Myron Tsikandilakis, dan Eddie M. Tong. AuAoLook not at what is contrary to proprietyAo: A meta-analytic exploration of the association between religiosity and sensitivity to disgust,Ay British Journal of Social Psychology 61, no. : 276-99, https://doi. org/10. 1111/bjso. 29 Patrick A. Stewart. Thomas G. Adams Jr. , dan Carl Senior. AuThe Effect of Trait and State Disgust on Fear of God and Sin,Ay Frontiers in Psychology 11, no. : 1-9, https://doi. org/10. 3389/fpsyg. 30 Karel K. Himawan. Ihan Martoyo. Eunike M. Himawan. Yonathan Aditya, dan Christiany Suwartono. AuReligion and well-being in Indonesia: exploring the role of religion in a society where being atheist is not an option,Ay Religion. Brain, & Behavior 13, no. : 313Ae15, https://doi. org/10. 1080/2153599x. 31 Jeffery J. Arnett. AuEmerging Adulthood: Understanding the New Way of Coming of Age,Ay dalam Emerging adults in America: Coming of age in the 21st century, peny. Jeffrey J. Arnett dan Jennifer Lynn Tanner (American Psychological Association, 2. , 3-19. https://doi. org/10. 1037/11381-001. SOCIETAS DEI: JURNAL AGAMA DAN MASYARAKAT L AURA P RECIOUS B LESS & K AREL K ARSTEN H IMAWAN Metode Penelitian Desain Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Data dikumpulkan melalui survei dengan pengambilan data satu kali, serta dianalisis dengan pendekatan statistik Partisipan Peneliti menggunakan snowball sampling dan purposive sampling untuk mengumpulkan sampel dengan karakteristik tertentu. Individu yang menjadi partisipan penelitian memiliki ciri-ciri sebagai berikut: . berusia 18 sampai 65 tahun dan . berdomisili di Jabodetabek. Jumlah sampel minimum yang diperlukan untuk penelitian ini adalah sebanyak 107 responden. Jumlah tersebut didapatkan dari perhitungan dengan memasukkan effect size 0. 15, error probability 0. 05, dengan 2 prediktor yang dihitung menggunakan rumus dalam aplikasi G*Power. Instrumen Penelitian Terdapat tiga bagian yang akan dijelaskan oleh peneliti sebagai instrumen dari penelitian ini yang terdiri atas data demografis, alat ukur ROS, dan alat ukur TDDS . ihat lampira. Untuk mendapatkan data demografis, partisipan diminta untuk mengisi informasi, yaitu nama/inisial, jenis kelamin, usia, agama, dan domisili. Orientasi religius diukur menggunakan ROS yang dikembangkan oleh Allport & 33 direvisi oleh Gorsuch & McPherson,34 dan dilakukan back translation ke dalam Ross. Bahasa Indonesia oleh Himawan. 35 Alat ukur ini dipilih karena dapat mengidentifikasi dua orientasi religius . ntrinsik dan ekstrinsi. secara spesifik,36 serta menunjukkan keandalan yang baik dalam konteks Indonesia. 37 Alat ukur ini mencakup 14 item, yaitu 5 butir pernyataan mengenai orientasi intrinsik dan 9 butir pernyataan mengenai orientasi Untuk menjawab pernyataan tersebut. ROS menggunakan skala pengukuran Likert dengan 5 skala . ngka 1 = sangat tidak setuju dan angka 5 = sangat setuj. untuk mengukur sikap individu terhadap butir pernyataan. Butir pernyataan orientasi intrinsik, contohnya AuSaya senang membaca hal-hal terkait dengan agama sayaAy, sedangkan dimensi orientasi ekstrinsik memiliki butir pernyataan seperti AuSaya pergi ke tempat ibadah karena itu membantu saya bertemanAy. Hasil uji psikometri dari versi original menunjukkan bahwa alat ukur ini memiliki validitas dan reliabilitas yang baik dengan skor CronbachAos Alpha . 83 untuk orientasi intrinsik dan skor . 65 untuk orientasi 38 Di samping itu, hasil uji psikometri dari hasil adaptasi ke dalam Bahasa Franz Faul. Edgar Erdfelder. Axel Buchner, dan Albert-Georg Lang. AuStatistical power analyses using G*Power 3. 1: Tests for correlation and regression analyses,Ay Behavior Research Methods 41, no. : 1149-60, http://dx. org/10. 3758/BRM. 33 Gordon W. Allport, dan J. Michael Ross. Religious Orientation Scale, (APA PsycTests, 2011. https://doi. org/10. 1037/t04437-000. 34 Richard L. Gorsuch dan Susan E. McPherson. AuIntrinsic/Extrinsic Measurement: I/E Revised and Single-Item Scales,Ay Journal for the Scientific Study of Religion 28, no. : 348-54, https://doi. org/10. 2307/1386745. 35 Karel K. Himawan. "AoThey are surprised that i am still singleAo: Why more Indonesians are not marrying and how they cope with the challenges of singleness" (Disertasi Doktoral. University of Queensland, 2. 36 Gorsuch dan McPherson. AuIntrinsic/Extrinsic Measurement,Ay 348-354. 37 Himawan. AuThey are surprised that i am still single. Ay 38 Gorsuch dan McPherson. AuIntrinsic/Extrinsic Measurement,Ay 6. Vol. No. Oktober 2025 ORIENTASI RELIGIUS DAN EMOSI JIJIK Indonesia menunjukkan validitas S-CVI dengan skor . 95, serta reliabilitas dengan skor CronbachAos Alpha . 84 untuk orientasi intrinsik dan skor . 75 untuk orientasi ekstrinsik. Berdasarkan data dari studi ini, alat ukur Religious Orientation Scale mendapatkan reliabilitas yang cukup baik dengan CronbachAos Alpha dimensi intrinsik ( = . dan dimensi ekstrinsik ( = . Selanjutnya, emosi jijik diukur menggunakan TDDS yang dikembangkan oleh Tybur dan kawan-kawan. 40 Pemilihan alat ukur ini didasarkan pada kesesuaian aspek domain emosi jijik yang ingin diukur dan properti psikometri yang baik. Alat ukur ini mencakup 21 butir pernyataan yang terdiri atas 3 dimensi, yaitu jijik moral . isalnya, membohongi tema. , jijik seksual . ontohnya, mendengar dua orang yang melakukan hubungan seksua. , dan jijik patogen . ontohnya, menginjak sesuatu yang koto. Item tersebut akan dijawab memakai skala Likert yang mengandung 7 skala yang dimulai dari tidak menjijikan sama sekali . sampai sangat menjijikan . Dimensi jijik moral memiliki pernyataan, seperti Aumencuri dari tetanggaAy. dimensi jijik seksual memiliki pernyataan, seperti Aumenonton video pornoAy. sedangkan dimensi jijik patogen memiliki pernyataan, seperti Aumenginjak kotoran anjingAy. Setelah diuji secara statistik, versi original dari alat ukur ini menghasilkan validitas konvergen dan divergen yang baik, yaitu Comparative Fit Index (CFI) sebesar . 89, serta CronbachAos Alpha sebesar 0. 84 untuk jijik patogen, . 87 untuk jijik seksual, dan . 84 untuk jijik moral. 41 Di sisi lain, versi adaptasi dari alat ukur ini memiliki reliabilitas dengan skor CronbachAos Alpha sebesar . 963 untuk jijik seksual, . 961 untuk jijik moral, dan . 958 untuk jijik patogen. Selanjutnya, validitas dengan skor korelasi Pearson sebesar . 956 untuk korelasi jijik seksual dengan jijik moral, 967 untuk korelasi jijik seksual dengan jijik patogen, dan . 971 untuk korelasi jijik moral dengan jijik patogen. Berdasarkan data pada studi ini, alat ukur TDDS memperoleh reliabilitas yang baik ( = . dan validitas yang baik, yaitu item-rest correlation sebesar Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedua alat ukur ROS dan TDDS merupakan alat ukur yang reliabel dan valid. Prosedur Penelitian Sebelum melanjutkan proses pembuatan kuesioner daring, peneliti meminta izin terlebih dahulu kepada perancang alat ukur agar dapat melakukan proses adaptasi ke Bahasa Indonesia menggunakan prosedur back translation. Menurut Douglas & Craig,42 Back Translation adalah teknik yang paling umum digunakan untuk memeriksa keakuratan terjemahan dalam penelitian survei. Meskipun menghasilkan terjemahan langsung atau literal, terjemahan ini tidak membahas masalah kesetaraan konseptual. 43 Dalam proses adaptasi, peneliti pertama bertugas menerjemahkan alat ukur yang berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia menggunakan proses forward translation 1 dan melibatkan Himawan. AuThey are surprised that i am still single. Ay Joshua M. Tybur. Debra Lieberman, dan Vladas Griskevicius. AuMicrobes, mating, and morality: Individual differences in three functional domains of disgust,Ay Journal of Personality and Social Psychology 97, no. : 103Ae22, https://doi. org/10. 1037/a0015474. 41 Tybur. Lieberman, dan Griskevicius . AuMicrobes, mating, and morality,Ay 19. 42 Susan P. Douglas, dan C. Samuel Craig. AuCollaborative and Iterative Translation: An Alternative Approach to Back Translation,Ay Journal of International Marketing 15, no. : 30-43, https://doi. org/10. 1509/jimk. 43 Douglas dan Craig. AuCollaborative and Iterative Translation,Ay 13. SOCIETAS DEI: JURNAL AGAMA DAN MASYARAKAT L AURA P RECIOUS B LESS & K AREL K ARSTEN H IMAWAN akademisi bilingual di bidang psikologi untuk melakukan proses forward translation 2. Lalu, peneliti akan melakukan sintesis 1 dan melibatkan peneliti kedua untuk melakukan Pada tahap terakhir, para peneliti akan melanjutkan proses adaptasi dengan Backward Translation serta Final Translation. Setelah itu, peneliti akan membuat penjelasan dan persetujuan . nformed consen. sebagai etika dalam meminta izin kepada partisipan untuk melakukan penelitian. Lalu, peneliti akan menyertakan informed consent bersama dengan kuesioner dari 2 alat ukur, yakni ROS dan RDDS dalam formulir Google, serta menyebarkan melalui media sosial. Saat partisipan membuka halaman pertama dari tautan tersebut, partisipan akan menemukan lembar informed consent dan diminta untuk memberi tanda centang pada kotak yang tersedia sebagai tanda persetujuan jika ingin berpartisipasi. Pada halaman kedua, partisipan diharapkan untuk mengisi data demografis yang terdiri dari nama/inisial, jenis kelamin, usia, agama, domisili, dan nomor WhatsApp. Pada halaman ketiga, terdapat kuesioner yang mencakup 2 alat ukur dengan total 35 pernyataan. Saat selesai mengisi kuesioner, partisipan dapat mengumpulkan jawaban dengan menekan tombol AusubmitAy pada kanan bawah dan menutup tautan tersebut. Setelah semua data sudah terkumpul, peneliti mengundi nomor WhatsApp dan memberi saldo Gopay sebanyak Rp50. 000 kepada 10 partisipan yang terpilih sebagai penghargaan atas partisipasi mereka. Teknik Analisis Dalam mengolah data secara statistik, peneliti menggunakan program JeffreyAos Amazing Statistic Program (JASP) versi 0. Pertama, peneliti akan melakukan uji reliabilitas dengan melihat koefisien Cronbach Alpha dari alat ukur yang sudah melalui proses adaptasi, baik per dimensi maupun secara keseluruhan. Selain uji reliabilitas, validitas konstruk terhadap masing-masing alat ukur juga diuji menggunakan Confirmatory Factor Analysis. Kedua, uji asumsi klasik akan dilakukan oleh peneliti dengan memenuhi uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk untuk mengetahui kenormalan distribusi data, linearitas untuk mengetahui kelinieran data, homoskedastisitas untuk menguji homogenitas variansi data, serta multikolinearitas untuk mengetahui korelasi masingmasing variabel. Ketiga, uji hipotesis dilakukan menggunakan uji regresi linear. Keempat, uji beda berdasarkan jenis kelamin akan dilakukan oleh peneliti sebagai analisis tambahan. Uji beda menggunakan independent sample t-test untuk melihat hubungan antarjenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Selain itu, uji ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan norma yang signifikan antarkedua jenis kelamin tersebut. Jika data laki-laki dan perempuan berdistribusi normal maka peneliti akan menggunakan independent sample t-test. Akan tetapi, jika salah satu atau kedua data jenis kelamin tersebut menunjukkan tidak berdistribusi normal, peneliti akan menggunakan Mann-Whitney test. Pertimbangan Etik Studi Kemungkinan risiko berpartisipasi dalam studi ini ialah dapat menimbulkan perasaan atau emosi tidak menyenangkan dalam pengerjaan kuesioner, terutama pada partisipan yang memiliki pengalaman terkait pelanggaran norma, melihat atau terkena patogen, dan hal-hal yang mencakup hubungan seksual. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Vol. No. Oktober 2025 ORIENTASI RELIGIUS DAN EMOSI JIJIK peneliti menyediakan informasi mengenai layanan kesehatan mental yang dapat diakses oleh partisipan yang akan dilampirkan pada lembar terakhir kuesioner. Selain itu, peneliti memberikan kebebasan kepada partisipan untuk berhenti berpartisipasi ketika merasakan emosi yang berlebihan atau perasaan tidak nyaman. Sebelum mengisi kuesioner, peneliti memberikan informasi mengenai penelitian, seperti tujuan, penggunaan data, prosedur, jangka waktu, risiko dan mitigasi, sifat partisipasi secara sukarela, kerahasiaan data, dan hak untuk menolak berpartisipasi tanpa sanksi apapun, serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam undian sebagai bentuk apresiasi kepada partisipan. Selanjutnya, partisipan memiliki hak untuk menerima atau menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian. Jika partisipan memilih untuk tetap melanjutkan partisipasinya, partisipan dapat memberi tanda centang pada kotak yang tersedia di formulir Google dan menekan tombol AuselanjutnyaAy sebagai bentuk persetujuan. Saat penelitian sudah berakhir dan jurnal sudah diterbitkan, partisipan mendapatkan kesempatan untuk mengakses hasil penelitian dengan mengunjungi laman publikasi laboratorium riset RELASI . elasi-lab. Aspek etik dari studi ini telah dievaluasi oleh Komite Etik Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan nomor 195/SKR-UPH/X/2021. Hasil Uji Goodnes of Fit Uji ini dilakukan untuk memastikan keajegan model teoretis dari alat ukur yang Terhadap alat ukur ROS, berdasarkan data partisipan, diperoleh hasil NA. = 784. 212, p<. Hasil tersebut mengindikasikan model tidak sepenuhnya sesuai dengan data. Dengan menggunakan fit indices alternatif, model diperoleh fit apabila tiga butir pada konstruk religius ekstrinsik dieliminasi (ES11. ES13. EP. (CFI = . TLI = RMSEA = . SRMR = . GFI = . MFI = . Hasil ini konsisten dengan studi metaanalisis yang pernah dilakukan. 44 Sementara itu, pada alat ukur TDDS, diperoleh hasil NA. = 935. 344, p<. 001 yang mengindikasikan model tidak fit. Dengan mengeliminasi satu butir pada dimensi patogen (PAT. , model fit diperoleh (CFI = . TLI = . RSMEA = . SRMR = . GFI = . MFI = . Dalam studi ini, analisis dipertahankan dengan menggunakan jumlah butir yang tidak dieliminasi. Hal itu mempertimbangkan alat ukur yang sudah digunakan secara luas dan teruji pada kelompok sampel besar dan untuk menjaga konsistensi dengan hasil penelitian serupa yang menggunakan jumlah butir yang sama. Uji Asumsi Klasik Peneliti melakukan uji asumsi klasik yang mencakup uji normalitas, linearitas, homoskedastisitas, dan multikolinearitas. Berdasarkan grafik Standardized Residuals Histograms dan Q-Q Plot Standardized Residuals, data penelitian sudah membentuk Trimble. AuThe Religious Orientation Scale: Review and Meta Analysis of Social Desirability Effects,Ay Educational and Psychological Measurement 57, no. : 970-86, https://doi. org/10. 1177/0013164497057006007. SOCIETAS DEI: JURNAL AGAMA DAN MASYARAKAT L AURA P RECIOUS B LESS & K AREL K ARSTEN H IMAWAN AuloncengAy dan membentuk garis diagonal sehingga dapat dikatakan bahwa uji normalitas residual terpenuhi. Uji linearitas dilihat dari scatter plot yang menunjukkan bahwa scatter plot sudah membentuk pola linear sehingga asumsi linearitas terpenuhi. Peneliti memperhatikan residual vs. predicted untuk menentukan uji homoskedastisitas. Pola yang terbentuk sudah cukup menyebar dan tidak membentuk megafon sehingga asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Nilai tolerance ialah . 605 dan variance inflation factor Kedua variabel independen tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat indikasi multikolinearitas dalam model penelitian ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hubungan antarvariabel independen bersifat bebas atau tidak saling memengaruhi secara linear. Profil Partisipan Setelah menyebar kuesioner dan mengolah data, peneliti berhasil mengumpulkan sebanyak 375 partisipan . 1% perempua. yang bervariasi dari usia 18 sampai 65 Tabel 1 memaparkan bahwa sebagian besar partisipan berusia 18 sampai 25 tahun . 1%). Berdasarkan domisili, mayoritas partisipan berdomisili di Jakarta . 3%), dilanjutkan secara berturut-turut di Tangerang . 3%). Bogor . %). Depok . 8%), dan Bekasi . 6%). Dilihat dari agama, mayoritas partisipan beragama Islam . 7%), diikuti berturut-turut dengan agama Kristen Protestan . 2%). Kristen Katolik . 5%). Buddha . 6%). Hindu . 9%), dan Konghucu . 1%). Tabel 1. Karakteristik Partisipan Karakteristik Usia 18 Ae 25 tahun 26 Ae 40 tahun 41 - 65 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Domisili Jakarta Tangerang Bogor Depok Bekasi Agama Islam Kristen Protestan Kristen Katolik Buddha Hindu Konghucu Sumber: data primer Uji Korelasi Antar Variabel Tabel 2 menunjukkan skor orientasi religius intrinsik dan skor orientasi religius ekstrinsik yang berkorelasi positif secara signifikan dengan skor emosi jijik. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi orientasi religius seseorang, baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, maka semakin tinggi juga emosi jijik yang dirasakan oleh individu, begitu juga sebaliknya. Sementara itu, usia berkorelasi negatif secara signifikan dengan orientasi religius ekstrinsik dan jijik moral. Dengan begitu, disimpulkan bahwa semakin tinggi usia seseorang, semakin rendah orientasi religius ekstrinsik dan emosi jijik Vol. No. Oktober 2025 ORIENTASI RELIGIUS DAN EMOSI JIJIK terhadap pelanggaran moral yang dirasakan, begitu pun sebaliknya. Tabel 2. Matriks Korelasi Antar Variabel Variabel Usia OR-I OR-E 386*** TDDS 380*** 408*** 400*** 434*** 852*** 373*** 284*** 867*** 627*** 205*** 330*** 846*** 563*** 598*** Catatan: PearsonAos Correlation. *p < . **p < . 01: ***p < . OR-I = Orientasi Religius Intrinsik. OR-E = Orientasi Religius Ekstrinsik. TDDS = Three Domain of Disgust Scale. DS = Disgust Seksual. DM = Disgust Moral. DP = Disgust Patogen. Selanjutnya, kedua dimensi dari orientasi religius menunjukkan adanya korelasi positif secara signifikan . = . 386, p<. Selain itu, emosi jijik berkorelasi positif secara signifikan dengan ketiga dimensinya . = . 846Oe. 867, p<. Orientasi religius intrinsik ditemukan berkorelasi positif secara signifikan dengan dimensi-dimensi dari emosi jijik, yaitu jijik seksual . = . 400, p<. , jijik moral . = . , dan jijik patogen . = . 205, p<. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi orientasi religius intrinsik seseorang, semakin tinggi pula emosi jijikAibaik secara seksual, moral, maupun patogenAiyang dirasakannya. Di samping itu, adanya korelasi positif secara signifikan ditemukan pada orientasi religius ekstrinsik dengan dimensidimensi dari emosi jijik, yaitu jijik seksual . = . 434, p<. , jijik moral . = . 284, p<. dan jijik patogen . = . 330, p<. Hal itu menyimpulkan bahwa peningkatan orientasi religius ekstrinsik seseorang akan meningkatkan emosi jijik dari individu tersebut, baik terhadap seksual, moral, maupun patogen. Analisis deskriptif juga dilakukan berdasarkan jenis kelamin partisipan . asilnya ditunjukkan pada Tabel . Hasilnya secara konsisten menunjukkan bahwa peningkatan skor orientasi religius intrinsik dan ekstrinsik juga diikuti dengan peningkatan emosi jijik pada lelaki maupun perempuan. Menariknya, pada perempuan, tetapi tidak pada lelaki, peningkatan usia diikuti dengan penurunan skor orientasi religius ekstrinsik. Tabel 3. Matriks Korelasi Antarvariabel pada Laki-laki . iagonal ata. dan Perempuan . iagonal (M=36. Variabel (M=33. (M=21. (M=20. (M=112. (M=37. (M=38. SD=13. SD=4. SD=4. SD=22. SD=8. SD=8. SD=8. Usia (M=31. SD=12. OR-I 461*** 421*** 404*** 401*** 272*** (M=32. SOCIETAS DEI: JURNAL AGAMA DAN MASYARAKAT L AURA P RECIOUS B LESS & K AREL K ARSTEN H IMAWAN SD=5. OR-E (M=20. 324*** 405*** 410*** 261*** 367*** SD=4. TDDS (M=116. 342*** 406*** 848*** 857*** 859*** SD=20. (M=40. 389*** 453*** 857*** 583*** 595*** SD=7. (M=39. 351*** 303*** 878*** 680*** 610*** SD=7. (M=36. 296*** 839*** 546*** 588*** SD=8. Catatan: PearsonAos Correlation. *p < . **p < . 01: ***p < . OR-I = Orientasi Religius Intrinsik. OR-E = Orientasi Religius Ekstrinsik. TDDS = Three Domain of Disgust Scale. DS = Disgust Seksual. DM = Disgust Moral. DP = Disgust Patogen Pengaruh Orientasi Religius terhadap Emosi Jijik Peneliti melakukan uji regresi berganda untuk mengetahui nilai signifikansi pengaruh dari variabel orientasi religius terhadap variabel emosi jijik. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua orientasi religius . ntrinsik dan ekstrinsi. memiliki pengaruh yang signifikan terhadap emosi jijik (F. = 53. 941, p<. Namun, orientasi religius ekstrinsik ( ekstrinsik = . lebih berpengaruh terhadap emosi jijik dibandingkan orientasi religius intrinsik ( intrinsik = . Untuk mendapatkan gambaran yang lebih spesifik, analisis regresi dilakukan terhadap masing-masing dimensi dari emosi jijik sebagai variabel dependennya. Sebagaimana ditunjukkan Tabel 4, orientasi religius ekstrinsik dan intrinsik secara bersama-sama merupakan prediktor yang signifikan terhadap ketiga dimensi dari emosi Uniknya, jijik seksual dan jijik patogen lebih dipengaruhi oleh orientasi religius ( seks patogen = . , sedangkan jijik moral lebih dipengaruhi oleh orientasi religius intrinsik ( moral = . Secara bersama-sama, orientasi religius intrinsik dan ekstrinsik dapat 8% varians skor pada emosi jijik seksual, 15. 8% varians skor pada jijik moral, dan 11. 1% varians skor pada jijik patogen. Tabel 4. Uji Regresi Orientasi Religius terhadap Dimensi Emosi Jijik Orientasi Religius Jijik Seksual Jijik Moral OR-I OR-E Adjusted R Jijik Patogen Uji Beda Variabel Penelitian Berdasarkan Gender Uji independent sample t-test dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor orientasi religius antara partisipan lelaki dan perempuan. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak Vol. No. Oktober 2025 ORIENTASI RELIGIUS DAN EMOSI JIJIK terdapat perbedaan skor religiusitas intrinsik . = 1. p = . maupun ekstrinsik . = 1. p = . antara lelaki dan perempuan. Skor tingkat emosi jijik juga tidak ditemukan berbeda secara signifikan antara lelaki dan perempuan . = 1. Dalam hal jenis-jenis emosi jijik, lelaki (M = 37. SD = 8. diketahui memiliki skor emosi jijik seksual yang lebih rendah secara signifikan . = 3. p =. daripada perempuan (M = 40. SD = 7. Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara lelaki dan perempuan dalam hal dimensi emosi jijik lainnya . Pembahasan Pembahasan Studi Studi ini berfokus untuk mempelajari pengaruh orientasi religius terhadap emosi jijik pada dewasa di Jabodetabek. Walaupun studi antarkedua variabel ini jarang diteliti di Indonesia, tetapi beberapa studi di luar negeri menunjukkan bahwa tingkat orientasi religius dapat memprediksi emosi jijik individu. 45 Oleh sebab itu, studi ini ingin mengeksplorasi fenomena tersebut di Indonesia, khususnya wilayah Jabodetabek. Hasil analisis data penelitian membuktikan bahwa kedua hipotesis alternatif pada studi ini diterima: orientasi religius intrinsik dan ekstrinsik memengaruhi emosi jijik secara Berdasarkan hasil uji regresi, orientasi religius memprediksi emosi jijik 1% pada masyarakat di Jabodetabek. Dalam konteks ini, semakin tinggi seseorang meyakini dan menerapkan kepercayaannya pada kehidupan sehari-hari, semakin tinggi pula kemungkinan individu merasa jijik terhadap suatu hal. Temuan ini sejalan dengan studi kuantitatif terdahulu yang menemukan emosi jijik sebagai salah satu respons yang dirasakan individu untuk mempertahankan keputusan moral dalam menjalani kepercayaannya. Temuan utama dalam studi ini menunjukkan bahwa orientasi religius ekstrinsik, jika dibandingkan dengan orientasi religius intrinsik, lebih memengaruhi emosi jijik secara keseluruhan. Ini berarti individu yang menggunakan agama untuk kepentingan pribadinya cenderung menonjolkan reaksi jijik terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seksual, pelanggaran norma, dan penyakit. Temuan ini menawarkan kebaruan yang menarik karena kebanyakan literatur hanya mencantumkan religiositas,47 tetapi tidak menekankan orientasi religiositas yang memiliki peran lebih besar terhadap emosi Kontribusi orientasi religius pada emosi jijik individu dapat dijelaskan melalui beberapa pandangan. Pertama, orientasi religius berperan signifikan, setidaknya sebesar 8% terhadap emosi jijik seksual. Hal ini dijelaskan pada studi yang menemukan bahwa emosi jijik diekspresikan sebagai salah satu usaha bagi umat beragama untuk mempertahankan AukesucianAy dirinya dengan menghindari berbagai hal yang dapat membahayakan reproduksi seksualnya. 48 Penjabaran kedua terkait dengan jijik patogen. Orientasi religius memiliki peran yang signifikan sebesar 11. 1% pada emosi jijik patogen. Inozu dkk. AuThe mediating role of disgust sensitivity,Ay 7. Yu dkk. AuAoLook not at what is contrary to proprietyAo,Ay 276Ae99. Stewart. Adams, dan Senior. AuThe Effect of Trait and State Disgust,Ay 276. 47 Yu dkk. AuLook not at what is contrary,Ay 276-99. Inozu dkk. AuThe mediating role of disgust sensitivity,Ay 7. 48 Borg, de Jong, dan Schultz. AuVaginismus and Dyspareunia,Ay 8. SOCIETAS DEI: JURNAL AGAMA DAN MASYARAKAT L AURA P RECIOUS B LESS & K AREL K ARSTEN H IMAWAN Hasil studi ini juga konsisten dengan studi terdahulu yang membuktikan bahwa individu beragama memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami rasa takut akan 49 Selain itu, orientasi religius ekstrinsik lebih dapat memprediksi emosi jijik seksual dan patogen. Dengan kata lain, individu yang memanfaatkan agama untuk mencapai tujuan lain lebih mungkin untuk memperlihatkan emosi jijik terhadap hal- hal yang berhubungan dengan seksualitas dan kontaminasi virus atau bakteri yang bersifat Berikutnya, penelitian ini menemukan bahwa orientasi religius memberikan pengaruh signifikan pada emosi jijik moral, yakni sebesar 15. Hasil dari studi ini mengonfirmasi bahwa orientasi religius yang dimiliki seseorang dapat berkontribusi pada respons individu demi menetralkan pikiran dan mengurangi persepsi dari adanya kekotoran secara moral. Dalam hal ini, respons yang ditunjukkan adalah emosi jijik. Selain itu, orientasi religius intrinsik memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan ekstrinsik pada emosi jijik moral. Hal ini menjelaskan cara individu yang melihat agama sebagai pedoman hidupnya akan cenderung untuk mengikuti nilai-nilai moral yang diajarkan sehingga menghindari perilaku yang melanggar norma. Fenomena ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan pada partisipan di Selandia Baru di mana individu dengan orientasi religius intrinsik tentu akan berkaitan positif dengan kesucian, terutama akan hal emosi jijik dan ketakutan akan kontaminasi. 51 Hal ini dikarenakan individu memandang agama sebagai sesuatu yang benar dan baik, terlepas dari manfaat pribadi atau sosial sehingga ia akan berusaha untuk membela nilai-nilai moral melalui emosi jijik yang ditunjukkan. Terdapat hal baru yang ditemukan dalam studi ini. Usia berkorelasi negatif secara signifikan dengan emosi jijik moral. Peneliti berasumsi bahwa hal ini dapat disebabkan oleh dua argumen. Pertama, semakin bertambahnya usia, maka semakin bertambah juga peluang keterpaparan individu dengan situasi yang berkaitan dengan emosi jijik moral sehingga terjadi habituasi. Habituasi ini sendiri diartikan dengan penurunan respons terhadap suatu stimulus dikarenakan adanya proses yang repetitif. 53 Kedua, terdapat studi yang menemukan bahwa anak muda lebih sering dihakimi dibandingkan dengan orang yang lanjut usia dalam konteks pelanggaran norma. 54 Ini dapat dikarenakan orang cenderung lebih merasa iba pada orang yang lanjut usia sehingga mereka cenderung menurunkan emosi jijik moralnya terhadap kelompok tertentu. Analisis lebih lanjut menunjukkan pola unik yang menunjukkan bahwa usia berkorelasi negatif secara signifikan dengan orientasi religius ekstrinsik hanya bagi partisipan perempuan. Dari sini, penulis dapat mengindikasikan bahwa peningkatan Joevarian Hudiyana dkk. AuGods, germs, and science: Unraveling the role of scientific literacy, germ aversion, and religious fundamentalism in predicting attitudes towards gays and lesbians,Ay Journal of Community & Applied Social Psychology 32, no. : 87-108, https://doi. org/10. 1002/casp. 50 Inozu dkk. AuThe mediating role of disgust sensitivity,Ay 7. 51 Joseph Bulbulia. Danny Osborne, dan Chris G. Sibley. AuMoral Foundations Predict Religious Orientations in New Zealand,Ay PLOS ONE 8, no. : 1-7, https://doi. org/10. 1371/journal. 52 Bulbulia. Osborne, dan Sibley. AuMoral Foundations Predict Religious. Ay 53 Daniel T. Blumstein. AuHabituation and sensitization: new thoughts about old ideas. Ay Animal Behaviour 120 . : 255-62, https://doi. org/10. 1016/j. 54 Fernando Aguiar. Guido Corradi, dan Pilar Aguilar. AuAgeing and disgust: Is old age associated with harsher moral judgements?,Ay Current Psychology 42 . : 8460-70. Vol. No. Oktober 2025 ORIENTASI RELIGIUS DAN EMOSI JIJIK usia pada perempuan diikuti dengan penurunan kecenderungan untuk mengatribusikan diri dengan simbol dan ritual agamanya. Hal ini dapat dijelaskan dengan dua alasan. Pertama, saat diperhadapkan dengan masalah, laki-laki cenderung berpikir bahwa Tuhan akan membantu mereka, sedangkan perempuan menganggap bahwa masalah tersebut merupakan bentuk hukuman dari dosa mereka. 55 Lalu, perempuan lebih sering mengalami kebingungan dan kekhawatiran akan agama. 56 Kedua alasan tersebut dapat menyebabkan perempuan menjadi lebih sering menghadiri ibadah dan mengikuti aktivitas keagamaan yang pada akhirnya membuat mereka menjadi lebih religius jika dibandingkan dengan laki-laki. 57 Hal ini dapat sekaligus menjelaskan temuan menarik lain dari studi ini, yaitu terdapat dinamika yang berbeda dari emosi jijik seksual pada jenis kelamin. Sama dengan yang diasumsikan oleh peneliti sebelumnya, jika dibandingkan dengan laki-laki, perempuan cenderung lebih merasa jijik untuk hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas. Adanya dampak yang lebih negatif bagi perempuan untuk pilihan seksual yang buruk membuat mereka menghindari dan karenanya menjadi lebih jijik dengan berbagai perilaku seksual. Keterbatasan Studi Studi ini memiiki beberapa keterbatasan. Data penelitian yang didominasi oleh partisipan yang berdomisili di Jakarta membuat studi ini belum bisa merepresentasikan realita emosi jijik yang dirasakan pada individu di wilayah lain (Tangerang. Depok. Bogor. Bekas. Keterbatasan selanjutnya berkaitan dengan partisipan yang mayoritas beragama Islam. Kristen Protestan, dan Kristen Katolik. Studi ini belum memiliki sampel partisipan yang cukup dari agama lain (Buddha. Hindu. Konghuc. Natur studi yang bersifat cross-sectional juga tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat yang meyakinkan. Terakhir, model teoretis yang diusulkan dari hasil studi ini belum sepenuhnya ajeg mengingat terdapat beberapa butir dalam masing-masing alat ukur yang memiliki muatan faktor . actor loadin. yang rendah. Kesimpulan Temuan Studi Studi ini menunjukkan bahwa orientasi religius dapat menjadi faktor risiko munculnya emosi jijik pada individu beragama di Jabodetabek. Semakin tinggi tingkat orientasi religius, terutama orientasi religius ekstrinsik, maka semakin tinggi tingkat pengalaman emosi jijik yang dialami individu. Hasil ini memberikan perspektif yang baru dan penting untuk menginvestigasi lebih lanjut dinamika orientasi religius dengan emosi jijik yang masih jarang diteliti. Penelitian ini juga memaparkan adanya kontribusi usia dan emosi jijik seksual pada perempuan. Hubungan berbanding terbalik antara usia dengan orientasi religius ekstrinsik perempuan, sekaligus tingginya tingkat emosi jijik seksual Mualla Yildiz. AuReflections on gender discrimination in the spiritual life of a muslim community,Ay dalam ReEnchanting Education and Spiritual Wellbeing: Fostering Belonging and Meaning-Making for Global Citizens, peny. Marian de Souza dan Anna Halahoff (London: Routledge, 2. , 149Ae60, https://doi. org/10. 4324/9781315105611-13. 56 Yildiz. AuReflections on gender discrimination,Ay 159. Sangwon Kim dan Choong Yuk Kim. AuKorean American AdolescentsAo Depression and Religiousness/Spirituality: Are There Gender Differences?,Ay Current Psychology 36, no. : 823Ae32, https://doi. org/10. 1007/s12144-016-9471-x. 58 Tybur. Lieberman, dan Griskevicius. AuMicrobes. Mating, and Morality,Ay 19. SOCIETAS DEI: JURNAL AGAMA DAN MASYARAKAT L AURA P RECIOUS B LESS & K AREL K ARSTEN H IMAWAN pada perempuan menjadi fakta menarik pada studi ini. Temuan yang dihasilkan ini sejalan dengan fenomena, tinjauan teoretis, dan studi-studi sebelumnya. Saran Penelitian ini memiliki sejumlah kontribusi untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Pertama, penelitian ini dapat dijadikan acuan teoretis yang empiris untuk memahami orientasi religius sebagai salah satu penyebab emosi jijik pada umat beragama. Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan motivasi individu dalam menjalani ajaran agamanya serta keterkaitannya dengan variasi emosi jijik. Studi longitudinal juga dapat dipertimbangkan untuk memberikan kesimpulan yang meyakinkan mengenai hubungan sebab-akibat antarkeduanya. Dinamika mengenai cara orientasi religius untuk memunculkan emosi jijik dengan metode kualitatif dapat dieksplorasi oleh penelitian Studi replikasi dengan memastikan keajegan konstruk alat ukur juga diperlukan untuk mengonfirmasi akurasi hasil studi. Selain emosi jijik, peneliti lain pun dapat meneliti lebih lanjut pengaruh orientasi religius terhadap emosi-emosi lainnya, seperti emosi terkejut, takut, marah, senang, dan sedih sehingga dapat lebih memahami mekanisme pembentukan perilaku melalui religiositas. Data demografis tambahan yang meliputi latar belakang partisipan, tingkat pendidikan, dan persepsi akan agama juga dapat turut dianalisis dalam penelitian berikutnya. Secara praktis, hasil dari studi ini dapat menjadi acuan bagi umat beragama di Jabodetabek bahwa cara pandang akan ajaran agama memiliki kontribusi pada perasaan Pengetahuan akan orientasi religius yang dimiliki berpengaruh pada kesadaran akan emosi jijik yang dirasakannya sehingga diharapkan dapat membuat individu lebih mampu mengendalikan perilakunya terhadap suatu hal yang dianggap menjijikan. Walaupun emosi jijik bukanlah suatu hal yang buruk, tetapi emosi tersebut dapat memberikan dampak negatif jika dirasakan secara berlebihan dan termanifestasikan pada perilaku yang negatif. Karena itu, peneliti menganjurkan umat beragama di Jabodetabek untuk meningkatkan kesadaran diri akan pengalaman emosi negatif yang dialami agar dapat mengantisipasi tingkah laku yang negatif pula. Tingkah laku negatif atau buruk yang dapat disebabkan oleh emosi jijik berupa diskriminasi dan intoleransi terhadap kaum minoritas, keengganan untuk menolong orang lain, melakukan aktivitas membersihkan diri dari dosa secara berlebihan, dan sebagainya. Peneliti juga menyarankan masyarakat Jabodetabek untuk memahami orientasi religius yang dimiliki agar mempermudah masyarakat dalam mengenali jenis emosi jijik yang dirasakan. Secara konkret, umat beragama di Jabodetabek dapat saling mengingatkan satu sama lain akan dampak dari emosi jijik jika dimanifestasikan ke dalam perilaku secara Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan melakukan penyebaran edukasi seputar pengendalian perilaku maladaptif yang disebabkan oleh emosi jijik dan kaitannya dengan orientasi religius di lingkungan sekitar. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Chrysan Gomargana yang telah membantu dalam pengolahan data statistika, khususnya pada bagian analisis faktor terhadap alat ukur yang digunakan dalam studi ini. Vol. No. Oktober 2025 ORIENTASI RELIGIUS DAN EMOSI JIJIK Referensi