Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 PERAN IDENTITAS DIRI MAHASISWA SEBAGAI MODERATOR DALAM KERANGKA KERJA KEWIRAUSAHAAN Antonius Satria Hadi Fakultas Ekonomi. Universitas Widya Mataram Jl. Tata Bumi Selatan. Banyuraden. Gamping Sleman Yogyakarta e-mail: antonius_satria@widyamataram. ABSTRACT Entrepreneurship is believed to be able to create jobs and generate economic growth. The entrepreneurial spirit is the most significant economic development in the history of business. New businesses built by entrepreneurs can maintain market growth and contribute to the national economy. This research aims to examine the variables of attitude, subjective norms, perceived behavioral control, and tendency to act influencing entrepreneurial intentions which are moderated by self-identity variables. This research has four hypotheses. Data was collected from 100 respondents obtained from an online questionnaire distributed to students in Yogyakarta who were studying in the entrepreneurship department/study program or had taken entrepreneurship courses with a sampling technique using purposive sampling. The data was then analyzed using structural equation modeling techniques with the help of SmartPLS 3 software. Keywords Ai personal attitudes, subjective norms, perceived behavioral control, propensity to act, entrepreneurship intention, self-identity ABSTRAK Wirausaha diyakini dapat menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Semangat kewirausahaan merupakan perkembangan ekonomi yang paling signifikan dalam sejarah bisnis. Bisnis baru yang dibangun oleh wirausahawan dapat menjaga pertumbuhan pasar dan berkontribusi pada ekonomi Penelitian ini bertujuan untuk menguji variabel sikap, norma subyektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan, dan kecendurungan untuk bertindak mempengaruhi niat berwirausaha yang dimoderasi oleh variabel identitas diri. Penelitian ini memiliki empat hipotesis. Data dikumpulkan dari 100 responden yang diperoleh dari kuesioner daring yang dibagikan kepada mahasiswa di Yogyakarta yang kuliah di jurusan/program studi kewirausahaan atau telah menempuh mata kuliah kewirausahaan dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data kemudian dianalisis menggunakan teknik model persamaan struktural dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 3. Kata Kunci Ai sikap personal, norma subjektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan, kecenderungan untuk bertindak, keinginan untuk berwirausaha, identitas diri PENDAHULUAN Wirausaha diyakini dapat menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan pertumbuhan Semangat kewirausahaan merupakan perkembangan ekonomi yang paling signifikan dalam sejarah bisnis. Bisnis baru yang dibangun oleh wirausahawan dapat menjaga pertumbuhan pasar dan berkontribusi pada produksi nasional (Doern et al. ,(Galindo-Martyn et al. , 2. Selain perusahaan besar dan mapan, para Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 wirausahawan ini semakin dianggap sebagai pelaku ekonomi, dengan memanfaatkan peluang pasar yang semakin terbuka yang didukung munculnya kemudahan distribusi pemasaran (Jimynez-Maryn, 2. , (Rumangkit & Wahyudi, 2. Kewirausahaan sekarang ini juga merupakan alternatif pilihan karir yang mulai diminati oleh berbagai lapisan Berdasarkan laporan Global Entrepreneurship and Development Institute (GEDI) tahun 2020, negara peringkat teratas yang memiliki skor GEI (Global Entrepreneurship Inde. tinggi ternyata didominasi oleh negara maju seperti negara Amerika dan negara-negara di Eropa Barat (GEDI, 2. Di kawasan Asia Pasifik. Australia menempati urutan pertama dengan peringkat global pada posisi keenam. Indonesia bersama Malaysia dan Thailand mengalami peningkatan skor tertinggi pada tahun 2020 jika dibandingkan dengan tahun Namun, skor Indonesia masih rendah secara global dengan skor GEI 26,0 sementara Malaysia dan Thailand masing-masing memiliki skor 40,1 dan 33,5. Perlu dicatat bahwa GEI ini mengukur kualitas kewirausahaan suatu negara serta peningkatan dan kedalaman dukungan terhadap ekosistem kewirausahaan. Penguatan ekosistem kewirausahaan dapat dilakukan dengan kemitraan publik-swasta . ublicprivate partnershi. , bank, universitas, yayasan amal, pemerintah, dan lembaga bantuan (GEDI, 2. Mengenai dukungan pendidikan di Indonesia terhadap kewirausahaan penanaman jiwa kewirausahaan sejak dini telah dilakukan sejak sekolah menengah pertama dan pendidikan tinggi. Namun, skor GEI yang diperoleh Indonesia berdasarkan pemeringkatan GEDI 2020 memunculkan pertanyaan tentang keberhasilan mendukung ekosistem wirausaha di Indonesia, termasuk dari lembaga pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus memiliki cara untuk meningkatkan jumlah entrepreneur muda, karena membawa dampak positif bagi perekonomian nasional. Pada tahun 2009. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat bahwa, hanya 6,14% lulusan perguruan tinggi yang menjadi wirausahawan, sedangkan 83,18% lulusan perguruan tinggi lebih senang mencari pekerjaan . ob seeke. dibandingkan menjadi Pada tahun 2017. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa terjadi peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi yang menjadi entrepreneur, yaitu sebesar 11%. Hal ini menunjukkan bahwa, lulusan perguruan tinggi memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi seorang entrepreneur muda. Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 Kewirausahaan atau penciptaan usaha berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi. Kewirausahaan dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan revolusi teknologi melalui kemajuan teknologi, ekspansi bisnis, dan penciptaan lapangan kerja baru (Parker, 2. , (Zahra, 2. Sebuah bisnis yang baru akan membawa kedinamisan ke dalam ekonomi negara yang bersangkutan. Dinamika dapat mencakup berbagai aspek pembangunan ekonomi, seperti peningkatan pendapatan per kapita warga suatu negara atau penurunan tingkat pengangguran (Manaa & Muhammad Abrar, 2. Model penelitian yang dipilih peneliti untuk memprediksi fenomena minat berwirausaha khususnya kepada para mahasiswa adalah Theory of Planned Behavior (Armstrong, 1. Menurut (Krueger et al. , 2. , memulai bisnis baru adalah perilaku terencana dan dipengaruhi oleh minat, sehingga prediksi terbaik adalah melalui minat terhadap perilaku, bukan melalui sikap, keyakinan, kepribadian, atau demografis. TPB yang berasal dari psikologi sosial merupakan salah satu teori yang paling sering dikutip dalam publikasi ilmiah dalam menjelaskan minat berwirausaha (Choe et al. , 2. TEORI DAN HIPOTESIS Kewirausahaan dan Niat Berwirausaha Kewirausahaan telah menjadi fokus utama dalam pembentukan kebijakan publik dan pembangunan ekonomi sejak teori yang diperkenalkan oleh Schumpeter pada era 1930-an (Roy et al. , 2. (Bignetti et al. , 2. Selama beberapa dekade terakhir, peran kewirausahaan semakin diakui secara global sebagai alat yang sangat vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Definisi kewirausahaan atau jiwa kewirausahaan, seperti yang diuraikan oleh para peneliti terdahulu, merujuk pada proses inovatif dalam menciptakan hal baru dengan dedikasi waktu dan upaya yang signifikan, yang pada gilirannya membawa dampak positif berupa pendapatan, kemandirian, dan kepuasan finansial (Baumol, 2. Theory of Planned Behavior Teori yang paling kuat digunakan dalam studi kewirausahaan dan niat berwirausaha adalah Model Intensi Berwirausaha Shapero dan Theory of Planned Behavior (Mwange, 2. , (Hadi et al. , 2. TPB menjadi pusat dalam studi psikologi sosial yang berkaitan dengan menjelaskan perilaku (Lucas, 2. Menurut (Ajzen, 2. , para peneliti memperluasAuTheory of Reasoned Action ke Theory of Planned BehaviorAyyang berkaitan Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 dengan jenis perilaku yang orang-orang memiliki kendali terbatas atas upaya untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu. TPB bergantung pada niat untuk menentukan intensitas upaya untuk melakukan perilaku tertentu. Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavio. mengemukakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi niat seseorang, yaitu sikap personal, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dipersepsikan, baik dari faktor internal maupun eksternal ((Ajzen, 2. Sikap personal merujuk pada penilaian individu terhadap hasil dari perilaku tertentu serta tingkat kesukaannya terhadap perilaku tersebut. Sedangkan kontrol perilaku yang dipersepsikan mengacu pada sejauh mana individu merasa memiliki kemampuan untuk melaksanakan perilaku tertentu dan seberapa besar mereka merasa dapat mengontrol perilaku tersebut. Dalam konteks psikologis, niat diakui sebagai prediktor utama dari perilaku yang direncanakan. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam terhadap niat kewirausahaan menjadi kunci dalam memahami proses kewirausahaan yang kompleks serta menjelaskan perilaku kewirausahaan secara menyeluruh (Miranda et al. , 2. Gambar 1. Model Entrepreneurial Intention Berbasis Theory of Planned Behavior Theory of Entrepreneurial Event Teori lain yang menggambarkan dorongan untuk menjadi seorang wirausaha adalah Teori Peristiwa Kewirausahaan. Menurut (Shapero & Sokol, 1. , dorongan yang dirasakan . erceived desirabilit. merujuk pada daya tarik personal untuk memulai usaha, yang mencakup pengaruh internal dan eksternal. Sementara itu, kelayakan yang dirasakan . erceived feasibilit. mencerminkan sejauh mana seseorang yakin akan kemampuannya sendiri untuk memulai bisnis (Krueger et al. , 2. Kemauan untuk bertindak . ropensity to ac. dapat diartikan sebagai kecenderungan alami seseorang untuk mengambil langkahInstitut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 langkah berdasarkan pada keputusan mereka, yang mencerminkan kemauan dalam niat Secara konseptual, kemauan untuk bertindak dalam menghadapi peluang tergantung pada persepsi kontrol Ae yaitu keinginan untuk mengambil kendali melalui tindakan-tindakan yang diambil. Model dari teori ini berfokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi entrepreneurial intention meliputi faktor situasional dan sosial. Faktor situasional menyatakan bahwa entrepreneurial terbentuk karena suatu situasi yang mengharuskan individu berbuat sesuatu, sedangkan faktor sosial menyatakan bahwa entrepreneurial terbentuk karena pengalaman-pengalaman masa lalu. Model dari teori entrepreneurial event dapat dilihat pada Gambar . Gambar 2 Model Entrepreneurial Intention Berbasis Theory of Entrepreneurial Event Beberapa penelitian sebelumnya ((Gymez-Ramirez et al. , 2. , (Shalender & Sharma, 2. ) bertujuan untuk menguji model entrepreneurial intention dengan melihat tiga variabel dari Theory of Planned Behavior, yaitu attitudes, subjective norm, dan perceived behavioral control terhadap entrepreneurial intention. Sedangkan para peneliti lainnya ((Kaffka & Krueger, 2. , (Ranga et al. , 2. , (Soomro et al. , 2. ) melakukan penelitian untuk menguji model entrepreneurial event terhadap entrepreneurial intention. Temuan penelitian tersebut adalah model entrepreneurial event terbukti mempengaruhi entrepreneurial intention. (Krueger et al. , 2. menambahkan bahwa adanya kesamaan variabel antara kedua teori tersebut yakni attitude dan perceived desirability serta perceived behavioral control dan perceived Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 Identitas Diri Perkembangan identitas merupakan sebuah perjalanan yang rumit dalam mengadopsi, mempertahankan, atau menolak keyakinan, nilai, dan tujuan hidup. Proses ini sering kali melibatkan periode ketidakpastian dan kebingungan mengenai konsep diri seseorang (Mmbaga et al. , 2. Pembentukan identitas terjadi saat individu mengamati perilaku dari tokoh-tokoh teladan yang sesuai dengan konteks budaya dan tingkat kesamaan karakteristik pribadi. Oleh karena itu, peran tokoh teladan sangatlah penting karena kemampuannya untuk menginspirasi individu yang memiliki kesamaan karakteristik dengan mereka (Leitch & Harrison, 2. Menurut (Stryker & Burke, 2. , pemilihan peran dipengaruhi oleh identitas yang membentuk konsep diri, yang disusun dalam struktur hirarkis berdasarkan tingkat kepentingannya . Konsep diri individu terdiri dari berbagai identitas, seperti hubungan keluarga, hubungan profesional, dan lainnya, yang melengkapi identitas kewirausahaan mereka. (Murnieks & Mosakowski, 2. serta (Conger et al. , 2. menekankan bahwa individu terdorong untuk terlibat dalam kewirausahaan karena sesuai dengan konsep diri yang penting bagi mereka, yang memicu emosi positif dan motivasi. Fokus pada identitas wirausaha memungkinkan pemahaman lebih baik tentang mengapa beberapa orang menunjukkan semangat kewirausahaan yang tinggi sementara yang lain tidak, meskipun melakukan aktivitas yang sama. Terlebih lagi, identitas kewirausahaan bisa naik atau turun seiring dengan perubahan dalam konsep diri individu, menjelaskan variasi dalam motivasi untuk menjalankan peran kewirausahaan dari waktu ke waktu. Dalam konteks kewirausahaan, kontrol perilaku yang dipersepsikan adalah persepsi mengenai kemudahan atau kesulitan dalam mewujudkan minat menjadi seorang pengusaha (Liyyn et al. , 2. , (Dana et al. , 2. Konsep ini serupa dengan persepsi efikasi diri menurut (Perrig & Grob, 2. dan kelayakan yang dirasakan menurut (Shapero & Sokol, 1. (Perrig & Grob, 2. menjelaskan persepsi efikasi diri sebagai penilaian kemampuan seseorang untuk mengatur dan mencapai kinerja tertentu. Dengan kata lain, ini mencerminkan penilaian individu terhadap kemampuannya untuk menjalankan perilaku tertentu. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa identitas diri dapat memoderasi hubungan antara kontrol perilaku dan perilaku kewirausahaan (Obschonka et al. , 2. Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 H1: Sikap personal berpengaruh positif terhadap keinginan berwirausaha yang dimoderasi oleh identitas diri H2: Norma subjektif berpengaruh positif terhadap keinginan berwirausaha yang dimoderasi oleh identitas diri H3: Kontrol perilaku yang dipersepsikan berpengaruh positif terhadap keinginan berwirausaha yang dimoderasi oleh identitas diri H4: Kecenderungan berwirausaha yang dimoderasi oleh identitas diri Gambar 3. Kerangka Kerja . Penelitian METODE PENELITIAN Penelitian ini berakar pada pendekatan positivisme dalam riset, yang menekankan pada pencarian realitas sosial melalui logika sistematis yang memanfaatkan keterkaitan fakta, konsep, dan definisi. Filosofi ini juga mengandalkan penggunaan bukti dan data yang ada untuk memvalidasi teori yang telah ada (Taylor et al. , 2. Proses penelitian ini meliputi beberapa langkah, yakni observasi langsung terhadap realitas sosial, pembentukan hipotesis berdasarkan teori yang terkait, pengumpulan data yang teliti guna menguji hipotesis tersebut, serta analisis hasil pengujian yang akan mengonfirmasi atau Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 mengembangkan model dan teori yang telah ada sebelumnya. Jenis penelitian ini dapat disebut sebagai penelitian kuantitatif, di mana pengujian hipotesis dilakukan melalui metode survei untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam (Cahya, 2. Sebanyak 100 mahasiswa di Yogyakarta menjadi responden dalam penelitian ini, dipilih melalui metode non-probability Ae purposive sampling. Mereka merupakan mahasiswa yang sedang mengambil jurusan/program studi kewirausahaan atau telah menyelesaikan mata kuliah kewirausahaan, serta berusia antara 18 hingga 24 tahun, sesuai dengan kriteria dewasa muda (Auter, 2. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang telah dimodifikasi dari penelitian sebelumnya sebagai alat pengumpulan data. Skala Likert digunakan untuk mengukur data, di mana responden menilai tingkat persetujuan mereka dengan jawaban dari "sangat setuju" yang diberi skor 5. AusetujuAy diberi skor 4. AunetralAy diberi skor diberi skor 3. Autidak setujuAy diberi skor 2, dan "sangat tidak setuju" yang diberi skor 1. Variabel penelitian mengandung beberapa item yang perlu diukur dan dianalisis untuk menguji hubungan antara masing-masing variabel. Kemudian uji validitas menggunakan analisis faktor konfirmatori sedangkan uji reliabilitas menggunakan Cronbach's Alpha (Civelek, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Keseluruhan, sebanyak 100 survei telah disebar secara daring melalui aplikasi Google Form, dengan tautan yang dibagikan kepada para responden. Dari jumlah tersebut, 56% di antaranya adalah wanita, sementara 44% sisanya adalah pria. Mayoritas responden berusia antara 21 hingga 24 tahun, mencapai 60%, sedangkan 40% sisanya berusia antara 18 hingga 20 tahun. Analisis terhadap semua variabel penelitian, termasuk sikap, norma subyektif, persepsi kontrol perilaku, kecenderungan bertindak, niat berwirausaha, dan identitas diri berwirausaha, menunjukkan reliabilitas konstruk yang baik, dengan nilai CronbachAos Alpha dan reliabilitas komposit melebihi 0,70. Validitas konvergen yang baik juga terlihat pada semua variabel penelitian, dengan nilai faktor muat standar dan nilai AVE yang melebihi 0,50. Uji hipotesis dilakukan menggunakan analisis jalur, dan hasilnya disajikan dalam Tabel 1 melalui pengujian bootstrapping SmartPLS. Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 Tabel 1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Construct Validity Convergent Validity Construct Reliability AVE Standardized Composite CronbachAos Reliability C Alpha (CR) 0,50 C 0,7 C 0,7 Discriminant Validity Variabel Standardize d Loading Factor C 0,50 Sikap C 0,50 0,74 0,86 0,93 C 0,50 0,65 0,87 0,88 C 0,50 0,58 0,86 0,85 no cross Yes C 0,50 0,62 0,75 0,78 no cross Yes C 0,50 0,67 0,82 0,81 no cross Yes C 0,50 0,76 0,85 0,94 no cross Yes Norma Subjektif Persepsi Kontrol Perilaku Kecenderung an untuk Bertindak Niat Berwirausah Identitas Diri GOOD Kesimpulan GOOD Rotated Component Matrix no cross no cross AVE > RA Yes Yes GOOD GOOD Gambar 4. Standardized Loading Factor Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 Analisis koefisien jalur pada Tabel 2 menunjukkan bahwa sikap, norma subyektif, persepsi kontrol perilaku, dan kecenderungan untuk bertindak memiliki dampak yang kuat dan positif terhadap niat untuk berwirausaha. Hasil ini menggambarkan bahwa semakin positif sikap seseorang, semakin kuat norma subyektif yang mereka miliki, semakin tinggi persepsi mereka terhadap kontrol perilaku, dan semakin besar kecenderungan mereka untuk bertindak, maka semakin tinggi pula niat mereka untuk terlibat dalam kegiatan Selain itu, analisis menunjukkan bahwa identitas diri sebagai seorang wirausaha memiliki peran yang signifikan dalam memoderasi hubungan antara sikap, norma subyektif, persepsi kontrol perilaku, dan kecenderungan untuk bertindak terhadap niat berwirausaha. Faktanya, identitas diri wirausaha juga secara langsung berkontribusi pada peningkatan niat berwirausaha. Hal ini menunjukkan bahwa identitas diri wirausaha tidak hanya mempengaruhi hubungan antara variabel-variabel lain dan niat berwirausaha, tetapi juga memiliki pengaruh langsung terhadap niat tersebut. Dengan demikian, peran identitas diri wirausaha dapat dikategorikan sebagai quasi moderator yang penting dalam konteks ini, karena tidak hanya mempengaruhi hubungan antara variabel-variabel lain, tetapi juga secara langsung memengaruhi niat berwirausaha. Hal ini menegaskan pentingnya memperhatikan faktor identitas diri dalam memahami perilaku kewirausahaan Tabel 2. Koefisien Jalur ATT Ie EI PBC Ie EI SN Ie EI PTA Ie EI ESI Ie EI Mod. Effect 1 Ie EI Mod. Effect 2 Ie EI Mod. Effect 3 Ie EI Mod. Effect 4 Ie EI Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T-Statistic P-Values Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Antonius Satria Hadi Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol 10. No. Maret 2024 KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian dan analisis data yang telah dilakukan terkait dengan pengaruh sikap, norma subyektif, persepsi kontrol perilaku, dan kecenderungan bertindak terhadap niat berwirausaha yang dimoderasi oleh identitas diri, ditemukan bahwa semua faktor tersebut secara positif dan signifikan memengaruhi niat berwirausaha, dengan pengaruh yang dipengaruhi oleh identitas diri. Penemuan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya oleh (Roy et al. , 2. Namun, berbeda dengan temuan ini, studi oleh (Purusottama, 2. menunjukkan bahwa norma subyektif secara statistik tidak berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa, meskipun sikap dan persepsi kontrol perilaku memiliki dampak yang signifikan. Temuan serupa juga ditemukan dalam penelitian oleh (Al-Jubari, 2. Ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi minat berwirausaha mahasiswa dapat bervariasi, mungkin disebabkan oleh kompleksitas ekosistem wirausaha dan faktor mediasi lainnya. Pengalaman belajar di kampus juga dapat memainkan peran penting dalam memperkuat minat wirausaha Beberapa saran untuk penelitian selanjutnya tentang minat berwirausaha harus lebih mengintegrasikan theory of planned behaviour (TPB) dengan faktor kontekstual lainnya sebagai bentuk perbaikan dari kekurangan analisis TPB dalam penelitian ini. Dalam konteks tanggung jawab pendidikan tinggi, penelitian Rengiah & Sentosa . mencoba menghubungkan analisis TPB dengan dukungan universitas dan program pendidikan DAFTAR PUSTAKA