Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 7 No. 3 Juli 2023 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 58258/jisip. 5536/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Pendidikan Karakter Jujur Di Era Digitalisasi Sri Mardian1. Dyah Lyesmaya2. Din Azwar Uswatun3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sukabumi Article Info Article history: Received : 23 Juni 2023 Publish : 07 July 2023 Keywords: Games Literacy Method Info Artikel Article history: Diterima: 23 Juni 2023 Publis : 07 Juli 2023 Abstract Education, in this case school is a place for students to find and develop the integrity of character, which in turn must have noble character and good and virtuous character and apply the values of honesty. The use of digital technology often depicts several types of main student activities, such as training skills, searching for information, and producing work such as documents or slide shows. The purpose of this research is to describe the honest character of class II Alfath SD Islam Fathia students. displaying/development of honest character values during the learning process, and honest character habituation while students are in the school environment. The research method in this study is to use descriptive qualitative methods. The data collection techniques are interviews, observations and The research results show that honest character in class II Al-Fatih SD Islam Fathia values honesty contained in the indicators. From the research results through data collection using a questionnaire instrument, it is known that the level of honesty in class 2 of Al-Fatih SD Islam Fathia is obtained, namely there are honesty values contained in the indicators that the researcher has observed, namely in conveying something according to the actual situation the respondent or student answered yes as much as 21 respondents, meaning that 81% of respondents answered positively. The second indicator admits that the respondent's own mistakes answered yes as many as 20 or 80% of respondents answered The third indicator, not cheating, answered 21 or 88%. The fourth indicator is not lying, answering 22 or 85%. The last indicator does not manipulate the situation and conditions as much as 24 or 92%. Abstrak Pendidikan dalam hal ini sekolah adalah tempat siswa menemukan dan mengembangkan karakter integritas yang selanjutnya harus berakhlak mulia dan budi pekerti yang baik dan berbudi luhur serta menerapkan nilai-nilai kejujuran. Penggunaan teknologi digital oleh siswa sering kali berpusat pada beberapa jenis kegiatan utama, seperti melatih keterampilan, mencari informasi, dan menghasilkan pekerjaan seperti dokumen atau tayangan slide. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan karakter jujur pada siswa kela II Alfath SD Islam Fathia, penanaman/ pengembangan nilai karakter jujur selama proses pembelajaran, dan pembiasaan karakter jujur selama siswa berada di lingkungan sekolah. Metode penelitian pada penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif deskriptif. Adapun Teknik pengumpulan datanya yaitu wawancara,observasi dan angket hasil penelitian nya menunjukan bahwa karakter jujur di kelas II Al-fatih SD Islam Fathia nilai-nilai kejujuran yang terdapat pada indikator Dari hasil penelitian melalui pengumpulan data dengan instrument angket diketahui bahwa tingkat kejujuran kelas 2 Al-Fatih SD Islam Fathia di dapatkan hasil yaitu terdapat nilai-nilai kejujuran yang terdapat pada indikator yang telah peneliti amati yaitu dalam menyampaikan sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya responden atau siswa menjawab ya sebanyak 21 responden, artinya sebanyak 81% responden menjawab dengan positif. Indikator kedua mengakui kesalahan diri sendiri responden menjawab ya sebanyak 20 atau 80% responden menjawab dengan positif. Indikator ketiga tidak mencontek menjawab 21 atau 88%. Indicator keempat tidak berbohong menjawab 22 atau 85%. Indicator terakhir tidak memanipulasi situasi dan kondisi sebanyak 24 atau 92%. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons AtribusiBerbagiSerupa 4. 0 Internasional Corresponding Author: Name of Corresponding Author. Sri Mardian Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sukabumi Email : srimardian@ummi. PENDAHULUAN Perkembangan arus globalisasi dan IPTEK yang semakin modern banyak membawa dampak positif dan negatif contohnya pada zaman sekarang menyaksikan pemberitaan di berbagai media, baik cetak maupun digital mengenai masih adanya oknum, anggota DPR, kepala daerah dan lain sebagainya yang menyalah-gunakan jabatan untuk kepentingan pribadi ataupun suap menyuap khususnya di Indonesia (Reffiane et al. , 2. Menyaksikan hal tersebut, membuat para guru dan orang tua merasa khawatir dan prihatin, karena hal itu menunjukkan semakin merosotnya nilai karakter dan kualitas moral bangsa kita. Nilai karakter dan nilai moral bangsa kiranya menjadi tanggung jawab penting bagi dunia pendidikan saat ini. Pendidikan adalah salah satu solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas moral bangsa. Jika karakter ini tidak dibangun oleh 2547 | Pendidikan Karakter Jujur Di Era Digitalisasi (Sri Mardia. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 sekolah, tidak menutup kemungkinan siswa di masa depan akan berkembang menjadi pribadi yang dapat menimbulkan akibat negatif bagi dirinya, keluarganya, dan bangsanya (Situmorang & Nurrahman, 2. Karakter yang sangat penting dan harus dimiliki oleh generasi penerus bangsa untuk menciptakan generasi dengan kualitas terbaik adalah tuntunan yang jujur. Perilaku jujur memperkuat perilaku terpuji lainnya. Jika perilaku ini kita perkuat, kita bisa berharap bahwa pemerintahan Indonesia akan dijalankan oleh orang-orang yang jujur di masa depan. Pendidikan dalam hal ini sekolah adalah tempat peserta didik menemukan dan mengembangkan karakter integritas yang selanjutnya harus berakhlak mulia dan budi pekerti yang baik dan berbudi luhur. Dalam mencari dan membangun integritas tersebut, peran guru sangat penting dan luas jangkauannya, karena guru sering berinteraksi langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran. Sama halnya dengan kurikulum 2013, dengan penambahan pendidikan pembentukan karakter, kami berharap dapat lebih meningkatkan penanaman dan pembentukan karakter siswa untuk menarik insan Indonesia yang berbudi pekerti dan akhlak yang Lulusan juga diharapkan memiliki keseimbangan yang baik antara soft skill dan technical skill, termasuk aspek attitude, knowledge dan skill. Salah satu rumusan kemampuan sikap sosial adalah perilaku jujur. Kami berharap perilaku jujur ini akan mengurangi beberapa ketidakkonsistenan yang disebutkan di atas. Karakter kejujuran mencerminkan pancasila atau nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Kejujuran juga merupakan salah satu ciri bangsa Indonesia (Hantika & Rohana, 2. Guru tidak hanya bertugas melakukan kegiatan didaktis dan pedagogik sedemikian rupa sehingga siswa mengembangkan karakter jujur, tetapi juga bertugas membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. Keberhasilan dalam proses kegiatan pembelajaran tergantung pada tingkat keterlibatan guru dalam memotivasi siswa untuk belajar. Contoh kecil bagaimana tradisi keijujuran iinii diibangun adalah keitiika meinyeileinggarakan peiniilaiian/ ujiian, guru peirlu meincarii cara agar siiswa deingan sadar dan tanpa paksaan meinyeileinggarakan peiniilaiian/ujiian seicara jujur, baiik dii buku, atau teiman meireika. Seihiingga rumusan akhiir darii tujuan peindiidiikan nasiional teircapaii. Seipeirtii yang diikatakan bahwa teiknologii diigiital beirdampak siigniifiikan teirhadap iinteirnaliisasii keijujuran dalam modeil peimbeilajaran keijujuran (Subeiktii, 2. Seilaiin keijujuran, peineirapan diigiital harus meiniingkatkan motiivasii beilajar siiswa. Motiivasii meineintukan tiingkat keberhasilan atau kegagalan kegiatan belajar siswa. Tanpa motivasi belajar, sulit untuk mencapai hasil yang optimal. Penggunaan bahan ajar yang inovatif dan beragam dapat mempengaruhi motivasi belajar sejarah siswa. Proses Pembelajaran Kurikulum 2013 mengutamakan pembelajaran yang menekankan pembelajaran aktif dan pembelajaran mandiri siswa dengan menggunakan teknoliogi untuk meningkatkan efisiensi dan Guru harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuannya secara kreatif dan inovatif. Namun, masih banyak guru yang belum memiliki pemahaman yang benar dan paradigma pembelajaran yang tidak sesuai dengan tindakan yang seharusnya dilakukan, karena pendidikan yang dipimpin guru di Indonesia umumnya masih berpusat pada guru. Salah satu keberhasilan dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah adanya motivasi belajar siswa. Seperti yang ditunjukkan oleh studi Mintarsih dalam (Suganda1 et al. penggunaan aplikasi smartphone Quizizz dalam pembelajaran berdampak positif pada peningkatan motivasi belajar siswa karena aplikasi tersebut dianggap menyenangkan, menantang, dan interaktif. Menghadapi tantangan memotivasi siswa untuk belajar di era Revolusi Industri 4. 0, guru harus menanamkan budi pekerti dan karakter pada siswa. kualitas moral yang baik. Selain itu, dalam mengelola pembelajaran guru diharapkan dapat memperhatikan karakteristik peserta didik zaman sekarang yaitu generasi pasca-milenium atau generasi Z. Mereka merupakan makhluk sosial yang berinteraksi di dunia nyata dan dunia maya. Mereka merupakan individu yang kehidupannya tidak bisa lepas dari teknologi digital seperti. internet, web, smartphone, laptop dan media digital lainya. Sebagai generasi yang tidak bisa hidup tanpa keberadaan teknologi, proses pembelajaran harus dapat diintegrasikan kedalam teknologi digital tersebut atau lebih dikenal 2548 | Pendidikan Karakter Jujur Di Era Digitalisasi (Sri Mardia. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 dengan e-learning/ m-learning. Menurut penelitian yang dilakukan olehNurdianto . 7: . Mlearning merupakan pembelajaran dengan media yang praktis sehingga pembelajaran dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa terhalang oleh tempat dan waktu. M-learning menuntut kreativitasguru dalam mendesain pembelajaran dan partisipasi aktif dari siswa. Menurut penelitian yang dilakukan di sekolah yang ada di Selandia Baru, penggunaan teknologi digital oleh siswa sering kali berpusat pada beberapa jenis kegiatan utama, seperti melatih keterampilan, mencari informasi, dan menghasilkan pekerjaan seperti dokumen atau tayangan slide. Peluang belajar berbasis digital lainnya masih relatif tidak umum. Guru kelas dituntut untuk terus berinovasi, apalagi saat mata pelajaran yang kita ajarkan dianggap mata pelajaran yang kuno dan membosankan. Di era revolusi industri 4. 0, guru kelas sebisa mungkin harus dapat menyesuaikan diri dengan cara dan gaya belajar peserta didik yaitu dapat melaksanakan pembelajaran dengan pemanfaatan teknologi digital tersebut. Istilah karakter berasal dari kata Yunani AucharassianAy yang artinya menunjukkan nilai-nilai yang baik dalam bentuk tindakan atau tingkah laku dan fokus pada penerapannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa manusia itu tidak jujur, kejam, serakah dan berperilaku buruk. Biarlah ada orang yang berkarakter buruk, tetapi sebaliknya: orang yang berperilaku sesuai dengan prinsip moral disebut orang yang berakhlak mulia (Qodriyah & Wangid, 2. Pendidikan karakter menurut yaitu. AuPendidikan karakter adalah upaya sengaja untuk membantu orang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika dasarAy, artinya pendidikan karakter adalah upaya sengaja untuk membantu orang, untuk memahami etika nilai-nilai, peduli tentang mereka, bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Peindiidiikan karakteir seicara seideirhana dapat diiartiikan seibagaii suatu hal yang posiitiif bagii seitiiap guru yang meimpeingaruhii karakteir siiswa (Iitsna eit al. , 2. Tujuan peindiidiikan karakteir meinurut (Auliiyaiirrahmah eit al. , 2. adalah meinanamkan budii peikeirtii dan akhlak yang baiik pada peiseirta diidiik peindukung bangsa, seihiingga teirciipta keihiidupan bangsa yang adiil, aman, dan seijahteira Untuk meimpeirkuat peindiidiikan karakteir, peimeiriintah mencanangkan program yang disebut PPK (Penguatan Pendidikan Karakte. PPK merupakan upaya untuk memajukan bahkan mengembangkan pendidikan karakter di sekolah. Tujuan program PPK adalah untuk memajukan pendidikan bermutu dan bermoral yang merata di seluruh pelosok tanah air. Pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Pendidikan Karakter (PPK), yang memiliki tujuan sebagai berikut: Membangun dan membekali peserta didik yang berjiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik untuk menjadi generasi emas Indonesia tahun 2045 guna menyongsong dinamika perubahan masa depan. Mengembangkan forum pendidikan nasional yang akan mewujudkan pendidikan karakter dengan dukungan peran serta masyarakat sebagai perhatian utama dalam penyelenggaraan pendidikan peserta didik, yang dilaksanakan melalui jalur pembelajaran formal, nonformal, dan informal yang menghargai keberagaman Indonesia budaya dan Merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kapasitas pendidik, guru, peserta didik, masyarakat dan keluarga untuk mengimplementasikan PPC. Beirdasarkan uraiian teirseibut, tujuan peineiliitiian iinii yaiitu untuk meindeiskriipsiikan karakteir jujur pada siiswa keilas i Alfatiih SD Iislam Fathiia. Seilaiin iitu peineiliitii juga beirmaksud meindeiskriipsiikan peinanaman/ peingeimbangan niilaii karakteir jujur seilama proseis peimbeilajaran kaiitannya deingan diigiitaliisasii dalam KBM, juga untuk meindeiskriipsiikan peimbiiasaan karakteir jujur seilama siiswa beirada dii liingkungan seikolah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif karena penelitian yang dilakukan di kelas 2 Al-Fatih SD Islam Fathia Kota Sukabumi ini memiliki objek penyelidikan dalam kerangka fenomena sosial dan disajikan situasi di lapangan tanpa manipulasi. Dalam bentuk kata-kata yang ditulis oleh para ahli agar terlihat dan alami. Hal ini sesuai dengan 2549 | Pendidikan Karakter Jujur Di Era Digitalisasi (Sri Mardia. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 penjelasan Bogdan dan Taylor dalam (Indah & Taufik, 2. yang menyatakan: AuMetode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dan perilaku manusia yang dapat diamati. Penelitian kualitatif didasarkan pada sifat holistik. Ay Konteks, memposisikan orang sebagai alat penelitian untuk dilakukan dan diterima oleh peneliti dan subjek. Untuk memahami penelitian tersebut secara utuh, peneliti terjun ke lapangan untuk melakukan observasi langsung terhadap subjek penelitian. Sugiyono dalam mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif konsep populasi tidak digunakan, tetapi Spradley menyebutnya dengan Ausituasi sosialAy atau situasi sosial yang terdiri dari tiga unsur yaitu tempat . dan tindakan . , yang berinteraksi secara sinergis. Dalam penelitian kualitatif, peneliti memasuki situasi sosial tertentu, yang dapat berupa latar pendidikan tertentu, melakukan observasi dan wawancara dengan orang-orang yang dianggap ahli dalam situasi sosial tersebut. Pemilihan sumber informasi yang akan diselidiki ditargetkan, yaitu dengan mempertimbangkan pertimbangan dan tujuan tertentu. Dalam penelitian ini diperlukan beberapa informan sebagai subjek penelitian atau sumber data untuk mendukung penyelesaian penelitian. Sebagai informan penelitian ini adalah guru kelas dan siswa kelas 2 Al-fatih SD Islam Fathia Kota Sukabumi terpilih untuk tahun pelajaran 2022-2023. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Menurut Lofland dalam (Fatchurrahman, 2. kata-kata dan tindakan merupakan sumber data . yang paling penting dalam penelitian kualitatif. Sumber data utama penelitian ini adalah hasil wawancara mendalam . ectional intervie. dan observasi. Wawancara langsung dilakukan dengan informan penelitian . uru kelas, dan siswa kelas 2 Al-Fatih SD Islam Fathia Kota Sukabum. Data sekunder berasal dari sumber pustaka dan sumber lain seperti buku teks KTSP 2013, artikel, jurnal atau dokumentasi SD Islam Fathia Kota Sukabumi yang dianggap relevan dengan pokok bahasan yang diteliti dan dapat mendukung sepenuhnya penelitian ini. Dalam penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dalam kondisi alamiah . atural Sumber data primer dan teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Persepsi Peneliti melakukan observasi langsung terhadap kegiatan kelas kelas 2 Al-Fatih SD Islam Fathia. Guru menerapkan metode diskusi dalam proses pembelajaran. Selain itu, guru memberikan soal-soal latihan yang terintegrasi dengan teknologi gamifikasi alat online Qizizz untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi. Wawancara kerja Wawancara diarahkan kepada subjek penelitian yaitu asisten guru kelas 2 AlFatih,siswa kelas 2 SD Islam Fathia Kota Sukabumi. Dokumentasi Dokumentasi berasal dari sumber tertulis dan referensi lain seperti buku KTSP Kurikulum 2013, artikel, modul majalah atau dokumentasi dari SD Islam Fathia Kota Sukabumi, yang dianggap relevan dengan pokok bahasan yang diteliti dan dapat mendukung sepenuhnya penelitian ini. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Karakter jujur di sekolah dapat terlihat dari kegiatan anak-anak Ketika melakukn kegiatan belajar meingajar dan beirmaiin dii seikolah. adapun iindiikator jujur yaiitu:meinyapaiikan seisuatu seisuatu seisuaii deingan keiadaan yang seibeinarnya, meingakuii keisalahan diirii seindiirii, tiidak beirbohong, tiidak meinconteik, dan tiidak meimaniipulasii siituasii dan kondiisii (Subeiktii, 2. Adapun hal yang sudah dii lakukan oleih guru untuk meinanamkan peiriilaku jujur yaiitu deingan seilalu meingiingatkan peintiingnya peiriilaku jujur dalam keihiidupan seiharii-harii teirutama pada proseis peimbeilajaran dii seitiiap proseis beilajar meingajar. Adapun dalam liingkungan seikolah guru meingajarkan contoh siikap jujur darii hal keiciil seipeirtii meimbayar jajanan dii kantiin seisuaii harga teilah dii teintukan ataupun Keitiika meineiriima uang 2550 | Pendidikan Karakter Jujur Di Era Digitalisasi (Sri Mardia. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 keimbaliian leibiih maka diia harus meingeimbaliikan keipada peinjaga kantiin. Kii Hadjar Deiwantara adalah seiorang promotor beirpeingalaman deingan iidei-iidei yang sangat modeirn. Iia meindapat geilar bapak peindiidiikan nasiional dii Iindoneisiia atas seigala usahanya meileitakkan dasar-dasar peindiidiikan seijak zaman peinjajahan hiingga seikarang (Hantiika & Rohana, 2. Peimbeintukan karakteir meirupakan konseip peindiidiikan yang diiawalii deingan keigiiatan peimbiiasaan yang diilakukan teirus meineirus untuk meimbangun keiceirdasan karakteir seihiingga dapat meinjadii priibadii yang baiik dan kuat seirta beirwatak baiik. Meinurut Freiud, keigagalan peinanaman keipriibadiian yang baiik dii usiia diinii iinii akan meimbeintuk priibadii yang beirmasalah dii masa deiwasanya keilak. Keisukseisan orang tua meimbiimbiing anaknya dalam meingatasii konfliik keipriibadiian dii usiia diinii sangat meineintukan keisukseisan anak dalam keihiidupan sosiial dii masa deiwasanya keilak. Keibiiasaan baiik yang seilalu rutiin diilaksanakan dapat meimbeiriikan dampak posiitiif bagii masyarakat. Seiseiorang dapat meingeindaliikan keingiinannya untuk meilakukan hal-hal Orang meimiiliikii poteinsii yang luar biiasa, karakteir yang beirbeida dan siikap yang Dalam konteiks iinii, orang deingan keiceirdasan karakteir seilalu meinggunakan piikiiran dan peirasaan seirta aspeik-aspeik yang teipat dan teigas dalam meingambiil seitiiap keiputusan deingan peirtiimbangan yang matang(Fatchurrahman, 2. Beirdasarkan hasiil peineiliitiian yang diilakukan pada populasii sampeil meinggunakan dua teikniik peingumpulan data yaiitu. Kueisiioneir dan wawancara, peineiliitiian meingarah pada peirbandiingan data seicara teirus meineirus, seipeirtii hasiil kueisiioneir dan wawancara, yang meinggunakan kiisii- kiisii eivaluasii beirdasarkan beibeirapa iindiikator - meitodei survei. diidalamnya, seipeirtii: Menyampaikan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya Mengakui kesalahan diri sendiri Tidak mencontek Tidak berbohong Tidak memanipulasi situasi dan kondisi Iindiikator peirtama darii hasiil survei teirdiirii darii Dua peirtanyaan darii P1 hiingga P2. Reispondein seituju deingan hasiil seibanyak 20 reispondein. TS seibanyak 6 reispondein. Keimudiian diiteimukan iindiikator keidua pada peirtanyaan P3-P5, iindiikator keitiiga pada peirtanyaan P6-P9, iindiikator keieimpat pada peirtanyaan P10-P12, keimudiian iindiikator keiliima pada peirtanyaan P13. P14. P15. Hasiil kueisiioneir iindiikator keidua dan keieinam dapat diiliihat pada hasiil survei teirlampiir. Daftar kueisiioneir yang diigunakan dalam peineiliitiian iinii meinurut meitodei survei dapat diiliihat pada lampiiran. Beirdasarkan hasiil peingiisiian kueisiioneir yang teirdiirii darii einam iindiikator, muncul hasiil seibagaii beiriikut: Tabel 1. Hasil Angket Indikator Menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadaan sebenarnya Mengakui kesalahan diri sendiri Tidak mencontek Tidak berbohong Tidak memanipulasi situasi dan kondisi Beirdasarkan hasiil angkeit dii atas dapat diiliihat bahwa iindiikator peirtama meinyampaiikan seisuatu seisuaii deingan keiadaan yang seibeinarnya reispondein atau siiswa 2551 | Pendidikan Karakter Jujur Di Era Digitalisasi (Sri Mardia. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 meinjawab ya seibanyak 21 reispondein, artiinya seibanyak 81% reispondein meinjawab deingan posiitiif. Iindiikator keidua meingakuii keisalahan diirii seindiirii reispondein meinjawab ya seibanyak 20 atau 80% reispondein meinjawab deingan posiitiif. Iindiikator keitiiga tiidak meinconteik meinjawab 21 atau 88%. Iindiicator keieimpat tiidak beirbohong meinjawab 22 atau 85%. Iindiicator teirakhiir tiidak meimaniipulasii siituasii dan kondiisii seibanyak 24 atau 92%. Darii hasiil keiseiluruhan jawaban siiswa meinunjukan meireika meimiiliikii karakteir baiik . hal teirseibut diidukung deingan hasiil wawancara keipada guru dii SD Iislam Fatiia bahwa keilas teirseibut memiliki siswa yang berkarakter baik, ditandai dengan selalu bertutur kata baik, saling menolong, jujur dalam berbicara, pantang menyerah, dan tidak sungkan mengucapkan maaf serta terimakasih. Keberhasilan dari karakter atau nilai kejujuran siswa yang baik tidak terlepas dari peran orang tua dan guru di sekolah yang senantiasa selalu membimbing dan mendidik siswa dalam menanamkan nilainilai kejujuran, karena karakter tidak bias tumbuh dengan sendirinya diperlukan lingkungan yang memiliki afirmasi dari lingkungan sekitar (Reffiane et al. , 2. KESIMPULAN Darii hasiil peineiliitiian meilaluii peingumpulan data deingan iinstrumeint angkeit diikeitahuii bahwa tiingkat keijujuran keilas 2 Al-Fatiih SD Iislam Fathiia dii dapatkan hasiil yaiitu teirdapat niilaii-niilaii keijujuran yang teirdapat pada iindiikator yang teilah peineiliitii amatii yaiitu dalam meinyampaiikan seisuatu seisuaii deingan keiadaan yang seibeinarnya reispondein atau siiswa meinjawab ya seibanyak 21 reispondein, artiinya seibanyak 81% reispondein meinjawab deingan posiitiif. Iindiikator keidua meingakuii keisalahan diirii seindiirii reispondein meinjawab ya seibanyak 20 atau 80% reispondein meinjawab deingan posiitiif. Iindiikator keitiiga tiidak meinconteik meinjawab 21 atau 88%. Iindiicator keieimpat tiidak beirbohong meinjawab 22 atau 85%. Iindiicator teirakhiir tiidak meimaniipulasii siituasii dan kondiisii seibanyak 24 atau 92%. DAFTAR PUSTAKA