JIGE 4 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige PERJALANAN MENUJU PEMAHAMAN YANG MENDALAM MENGENAI ILMU PENGETAHUAN: STUDI FILSAFAT TENTANG SIFAT REALITAS Basuki 1. Arif Rahman2. Dase Erwin Juansah3. Lukman Nulhakim4 1, 2, 3, 4 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Banten. Indonesia History Article Article history: ABSTRACT Received Month xx. Year Approved Month xx. Year Keywords: Philosophy. Rality. Unders Knowledge The understanding of the philosophy of reality can vary from individual to This is due to the different backgrounds, interests, approaches, and points of view that each person has about the subject. The philosophy of the nature of reality involves complex and abstract philosophical questions that can be interpreted and understood in different ways by different people. The aim of this study is to discuss the philosophy of reality as a journey towards a deeper understanding of science. This study is a qualitative descriptive study based on literature. The results of this research suggest that the journey towards a deeper understanding of reality involves an understanding of the nature of science itself, how science is acquired, and how science depicts reality. An in-depth understanding of reality can be gained by studying the history of philosophy, studying philosophical currents, reading classical and contemporary philosopher texts, engaging in discussions and debates, thinking critically and analyzing arguments, researching related disciplines, asking questions, and staying open. ABSTRAK Pemahaman tentang filsafat sifat realitas dapat bervariasi dari individu ke individu. Ini disebabkan oleh perbedaan latar belakang, kepentingan, pendekatan, dan sudut pandang yang dimiliki setiap orang terhadap subjek tersebut. Filsafat sifat realitas melibatkan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang kompleks dan abstrak, yang dapat ditafsirkan dan dipahami dengan cara yang berbeda oleh orang yang berbeda. Tujuan kajian ini adalah untuk membahas filsafat tentang realitas sebagai perjalanan menuju pemahaman yang mendalam mengenai ilmu pengetahuan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif berdasarkan literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju pemahaman yang mendalam tentang realitas melibatkan pemahaman tentang sifat ilmu pengetahuan itu sendiri, bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh, dan bagaimana ilmu pengetahuan menggambarkan realitas. Pemahaman tentang Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 722 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . realitas yang mendalam dapat dilakukan dengan cara Mempelajari sejarah filsafat. Mempelajari aliran-aliran filsafat, membaca teksteks filsafat yang klasik dan kontemporer. Melibatkan diri dalam diskusi dan debat. Berpikir kritis dan menganalisis argumen. Mengkaji disiplin ilmu terkait. Mengajukan pertanyaan dan tetap A 2023 Jurnal Ilmiah Global Education *Corresponding author email: mr. tng@gmail. PENDAHULUAN Realitas adalah bagian penting dari ego manusia. Realitas menjadi titik tolak dan acuan dasar bagi lahirnya gagasan dan konsep pemikir, yang menentukan dan merangsang kreativitas. Refleksi terhadap realitas ini berangkat dari pemahaman manusia tentang hubungannya dengan realitas dunia yang dialaminya, dan bagaimana realitas itu ikut menentukan seluruh aspek manusia, termasuk bahasa, simbol, dan objek. Di sisi lain, realitas dunia yang dialami juga membedakan keberadaan satu orang dengan orang Manusia, jika seseorang melihat secara mendalam keberadaannya, adalah cerminan dari realitas. Manusia adalah tanda realitas. Kemanusiaan sebagai penanda realitas berarti bahwa manusia ada dengan manusia lain . esama manusi. yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam cara pandang, cara mengungkapkan pikiran, dan pola perilaku. Hal ini disebabkan oleh keintiman dan kedekatan yang dimiliki orang dengan apa yang dialaminya (Karisna, 2. Berdasarkan sudut pandang kesatuan hubungan ini, realitas dan manusia tidak dapat dipisahkan, karena realitas memegang peranan penting dalam menentukan manusia. Kita bisa melihat contoh paling nyata dalam realitas saudara. Realitas kehidupan sehari-hari rahib adalah ia wajib menghadiri perayaan komuni, memakai jubah putih pada Misa, tinggal di lembaga yang didedikasikan untuk mempersiapkan calon-calon seiman, dan harus setia mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh rahib yang diberlakukan setiap saudaranya. Lembaga untuk studi filsafat dan teologi. Dari fakta di atas, terlihat bahwa realita saudara berbeda dengan realitas guru, petani, dan pengusaha. Cara seseorang mengalami realitas dunianya sangat berbeda dengan lainnya, yang berkontribusi pada identitasnya. Realitas menciptakan hubungan yang unik, khusus, dan saling tergantung dengan manusia yang mengalami realitas tersebut. Yang satu memberi makna dan nilai kepada yang lain. Sangat Ini adalah hubungan timbal balik di mana memberi dan menerima bersatu. Pentingnya menyadari realitas ini pun mengundang Plato, salah seorang pemikir terkemuka dalam sejarah pemikiran filsafat, untuk mengungkapkan pandangannya. Plato mengungkapkan pandangannya tentang realitas dalam konsepnya yang terkenal tentang "mitos gua" (Mahfud & Patsun, 2. Dalam pandangan ini. Plato mengatakannya sedikit berbeda, bahwa realitas yang dialami atau diamati yang kita alami melalui indera kita hanyalah refleksi atau gambaran yang tidak sempurna dari realitas sejati. Realitas murni hanya dapat dicapai melalui akal murni atau gagasan tentang kebaikan tertinggi dan tertinggi. Menurut Plato, realitas nyata ini hanya dapat diwujudkan ketika pikiran manusia menerima pencerahan dan cahayanya dari "Matahari", yang tidak lain adalah ide murni itu sendiri yang bersifat metafisik. Dari cara pengungkapannya. Plato sangat menyukai realitas orisinal, bukan bayangan reproduksinya. Dunia pemikiran, dunia bentuk murni, adalah satu-satunya realitas yang sempurna, benar, abadi, dan tidak dapat diubah. Pada saat yang sama, dunia tempat kita hidup dan segala isinya adalah tiruan atau reproduksi bentuk kedua dari dunia bentuk murni yang tidak dapat diamati oleh indera manusia (Aryati. Di sisi lain, kisah ini dengan jelas menunjukkan bahwa dia menarik perbedaan yang tegas dan sangat penting antara dua aspek yang saling bertentangan. Tempat tertinggi ditempati oleh ide murni dengan realitas dunianya yang sempurna. Sementara itu, di bagian lain, tempat di bawah ditempati oleh dunia buatan, sebagai gambaran dan hasil pantulan dunia pikiran. Realitas dalam bentuknya yang murni menjadi acuan dan rujukan yang dicari manusia. Lebih lanjut, pemahaman tentang realitas tidak terbatas pada pengungkapan pikiran dan wacana yang murni teoretis, tetapi telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan (Najmuddin & Syarkawi, 2. Diskusi tentang realitas mengambil bentuk konkret dalam maknanya. Realitas tidak terbatas pada wacana abstrak sebagai sumber kekayaan manusia, melainkan meresapi hakikat manusia sebagai pemuasan kebutuhannya sendiri. Karena manusia adalah Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 723 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . makhluk yang membutuhkan . omo economicu. , mereka selalu memiliki kebutuhan yang menuntun mereka untuk menemukan objek yang memuaskan mereka. Paradigma baru telah muncul di sini. Tanda kelahiran dari sebuah era baru adalah adanya pergantian yang diiringi oleh perkembangan ilmu pengetahuan, kemampuan rasional dan penemuan-penemuan teknologi baru (Glattfelder, 2. Era sekarang fokus pada implementasi konseptual dengan kebebasan subjektif sebagai konsekuensinya mengarah pada pemenuhan dan pemenuhan kepentingan individu dan sosial. Era yang penuh subjektivitas, kritik dan kemajuan, juga sejalan dengan gerakan Renaisans dan Reformasi, adalah era modern (Fadli, 2. Di sini, peran akal manusia . mendominasi seluruh aspek zaman ini, terutama dalam ekonomi manusia. Karl Marx adalah salah satu pemain di era modern dan juga berperan penting dalam mengungkapkan pandangannya. Perhatian Marx lebih tertuju pada persoalan ekonomi, dalam hal ini terkait kritiknya terhadap hubungan sosial politik antara kapitalis sebagai pemilik modal dan proletariat sebagai buruh atau pekerja. Marx memandang realitas dunia dari perspektif pemanfaatan, dan peran sentral dunia dalam kehidupan manusia dari perspektif kebutuhan. Marx memandang realitas dunia dari perspektif pemanfaatan dan peran sentralnya bagi kehidupan manusia dalam perspektif kebutuhan. Pandangan pragmatis ini adalah sarana untuk mencapai apa yang diinginkan Marx. Marx ingin menciptakan situasi yang harmonis dan seimbang. Situasi ini adalah situasi di mana tidak ada lagi perbedaan antara menguntungkan . dan menguntungkan . (Jalil, 2. Inilah yang disebutnya masyarakat tanpa kelas. Setiap orang berhak dengan bebas menentukan sikapnya sendiri terhadap realitas tanpa bergantung pada subjek lain. Di sini, peran pikiran manusia benar-benar subyektif, terlepas dari keputusan subjek lain. Subjek memiliki hubungan langsung dengan realitas sebagai objek. Itu adalah hubungan khusus tanpa dominasi dan tekad. Kajian-kajian filsafat yang menganalisis tentang sifat realitas secara spesifik masih secara umum diantaranya Nawawi & Mubarok . pendapatnya yang menyatakan bahwa kehadiran dan kemunculan konsep-konsep realitas dalam mental kita berasal dari efek-efek realitas eksternal merupakan perspektif yang sering dijelaskan dalam filsafat. Pandangan ini terkait dengan teori representasionalisme atau teori salinan . opy theor. yang mengemukakan bahwa pemahaman kita tentang realitas didasarkan pada representasi mental yang merefleksikan atau mencerminkan entitas dan fenomena di dunia eksternal. Kemudian penelitian Hasan & Pananrangi . yang menyatakan bahwa Memahami kebenaran dalam perspektif filsafat melibatkan penelusuran tentang sifat dan kriteria kebenaran serta pertanyaan tentang bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan yang benar. Filsafat kebenaran mencakup berbagai pendekatan dan teori yang telah dikembangkan oleh filsuf selama berabad-abad. Studi filsafat tentang sifat realitas sebagai perjalanan menuju kepahaman mendalam sebuah ilmu perlu dikaji secara khusus. Dalam perspektif filsafat, realitas merupakan konsep yang kompleks dan sering kali menjadi pusat perdebatan. Beberapa pendekatan penting dalam memahami realitas dalam filsafat diantaranya realitas itu objektif dan independen dari pikiran dan persepsi manusia. Kemudian menurut idealisme bahwa realitas tergantung pada persepsi dan interpretasi subjektif kita. Ada berbagai bentuk idealisme, termasuk idealisme absolut . eperti dalam pemikiran Plat. dan idealisme subjektif . eperti dalam pemikiran Immanuel Kan. Selanjutnya konstruktivisme yang berpendapat bahwa realitas adalah hasil dari konstruksi atau pembangunan sosial dan budaya. Menurut pandangan ini, realitas tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor objektif, tetapi juga oleh bahasa, budaya, dan konvensi-konvensi sosial yang membentuk persepsi dan pemahaman kita. Kemudian materialisme yang berpandangan bahwa realitas terutama terdiri dari materi fisik dan proses fisik. Menurut materialisme, segala sesuatu yang ada dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip ilmiah dan pengetahuan tentang dunia fisik. Sedangkan pandangan Konseptualisme menyatakan bahwa realitas tergantung pada konsep-konsep atau kategori-kategori yang digunakan oleh pikiran manusia. Menurut konseptualisme, realitas hanya dapat dipahami melalui konsepkonsep yang kita terapkan pada pengalaman kita (Hasan & Pananrangi, 2. Studi filsafat tentang sifat realitas merupakan salah satu cabang utama dalam filsafat yang membahas mengenai aspek-aspek mendasar dari realitas atau kenyataan. Filsafat realitas berusaha untuk memahami dan menjelaskan apa yang benar-benar ada di dunia ini, serta bagaimana kita dapat memahami dan berhubungan dengan realitas tersebut. Oleh karena itu kajian ini perlu dilakukan karena studi filsafat tentang sifat realitas juga mencakup perjalanan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas. Pemahaman mendalam ini melibatkan refleksi kritis, eksplorasi konsep-konsep filosofis, dan pengujian teori-teori yang ada. Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 724 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . METODE Artikel ini ditulis dengan menggunakan pendekatan kualitatif penelitian kepustakaan, yaitu dengan menelaah sumber-sumber bacaan yang relevan dengan penelitian yang bersangkutan, serta penelitian kepustakaan dengan menggunakan temuan-temuan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan filsafat ilmu. Pengumpulan data di lakukan dengan menelusuri buku-buku bacaan terbitan tahun 20192023, jurnal ilmiah yang bereputasi serta sumber-sumber dari google scholar, digital labrary, dan lain-lain. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian tersebut adalah realitas ilmu dalam filsafat, pemahaman, kajian filsafa. HASIL DAN PEMBAHASAN Perjalanan menuju pemahaman mendalam dalam filsafat tentang realitas adalah perjalanan intelektual yang menantang dan kompleks. Filsafat realitas melibatkan penyelidikan terhadap sifat sejati dari dunia di sekitar kita, termasuk pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi, hakikat, dan hubungan antara pikiran dan materi. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat membantu dalam perjalanan menuju pemahaman mendalam tentang filsafat realitas: Mempelajari sejarah filsafat Penting untuk memahami perkembangan pemikiran filsafat tentang realitas dari masa ke masa. Meneliti pemikiran filosof kunci seperti Plato. Aristoteles. Descartes. Kant. Hegel, dan filosof lainnya akan memberikan wawasan tentang bagaimana pemikiran manusia telah berkembang seiring waktu. Berikut ini adalah pemikiran beberapa filsuf kunci dalam filsafat tentang sifat realitas: Plato Plato adalah seorang filsuf Yunani kuno yang mengembangkan pandangan idealisme. Menurut Plato, realitas yang sejati terletak di luar dunia fisik yang terlihat. Dia percaya bahwa ada dunia ide atau dunia bentuk yang merupakan sumber kebenaran mutlak. Dunia fisik yang kita alami hanyalah bayangan atau salinan yang tidak sempurna dari dunia ide tersebut. Bagi Plato, realitas yang sejati terletak pada dunia ide atau dunia bentuk yang merupakan sumber kebenaran mutlak . Menurut Plato, dunia yang kita alami dengan indera kita adalah dunia fisik yang terlihat dan berubah-ubah. Plato menyebut dunia ini sebagai "alam semesta yang terlihat" atau "alam semesta yang berubah". Dia percaya bahwa dunia ini hanyalah bayangan atau salinan yang tidak sempurna dari dunia ide (Nietlong & Kato, 2. Dunia ide, menurut Plato, adalah tempat di mana terdapat bentuk-bentuk abstrak yang murni dan sempurna, seperti kebaikan, keindahan, keadilan, dan sebagainya. Bentukbentuk ini merupakan sumber dari segala sesuatu yang ada di dunia fisik. Plato berpendapat bahwa objek-objek fisik yang kita lihat hanyalah imitasi atau bayangan yang tidak sempurna dari bentukbentuk ide tersebut. Plato menggunakan alegori "Gua" untuk menjelaskan pandangannya. Dalam alegori ini. Plato menggambarkan manusia sebagai tahanan dalam gua yang hanya dapat melihat bayangan-bayangan yang terproyeksikan di dinding gua tersebut. Bayangan-bayangan ini mewakili dunia fisik yang kita alami. Plato berpendapat bahwa tugas filosof adalah untuk meninggalkan gua dan mencari kebenaran di dunia ide yang sejati. Pandangan Plato tentang realitas ini mempengaruhi pemikiran banyak filsuf selanjutnya dalam sejarah filsafat (Papadis, 2. Aristoteles Aristoteles adalah seorang filsuf Yunani yang dikenal dengan kontribusinya pada logika, metafisika, dan filsafat ilmu. Bagi Aristoteles, realitas terletak pada objek konkret yang ada di dunia Dia percaya bahwa realitas dapat dipahami melalui pengamatan dan analisis rasional dari alam. Aristoteles membagi realitas menjadi dua bagian: potensi . dan aktualitas. Objek memiliki potensi untuk menjadi sesuatu, dan ketika potensi itu terealisasi, objek menjadi aktual (Anna, 2. Aristoteles membagi realitas menjadi dua aspek yang saling terkait, yaitu potensi . dan aktualitas. Objek atau entitas memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang lebih daripada apa yang ada pada saat ini. Misalnya, sebuah biji memiliki potensi untuk tumbuh menjadi Potensi ini menjadi aktualitas ketika biji tersebut benar-benar tumbuh menjadi pohon. Aristoteles menganggap bahwa potensi dan aktualitas adalah aspek-aspek penting dari perubahan dan perkembangan di dunia ini. Baginya, realitas bukan hanya mengenai keadaan saat ini, tetapi juga melibatkan kemampuan atau potensi untuk mencapai keadaan yang berbeda. Pengamatan dan analisis rasional dari alam adalah metode yang digunakan oleh Aristoteles untuk memahami realitas. Melalui pengamatan, kita dapat mengenali entitas-entitas individu dan karakteristik-karakteristik yang ada pada mereka. Analisis rasional digunakan untuk mengidentifikasi sifat dan hubungan kausal yang Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 725 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . mendasari realitas yang diamati. Pandangan Aristoteles tentang realitas berpengaruh dalam banyak bidang filsafat, termasuk etika, metafisika, dan ilmu pengetahuan alam (Piskun, 2. Reny Descartes Descartes adalah seorang filsuf abad ke-17 yang terkenal dengan aforismenya "Cogito, ergo sum" (Saya berpikir, maka saya ad. Descartes memulai pemikirannya dengan skeptisisme radikal dan mencoba membangun fondasi pengetahuan yang pasti dan tidak diragukan. Bagi Descartes, realitas dapat diketahui melalui pemikiran dan penalaran yang jelas dan tegas. Dia mengidentifikasi realitas dengan pikiran dan kesadaran manusia, dan memandang benda fisik sebagai objek eksternal yang dapat dipercaya berdasarkan keyakinan yang terpahat di dalam pikiran. Menurut Descartes, realitas dapat diketahui melalui pemikiran dan penalaran yang jelas dan tegas. Ia mencoba membangun fondasi pengetahuan yang pasti dan tidak diragukan dengan menggunakan metode skeptisisme metodeku . etode keragua. Descartes meragukan semua keyakinan yang dapat dipertanyakan dan mencari kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi. Descartes mencapai titik pijakan yang pasti ketika ia merumuskan aforisme "Cogito, ergo sum" (Saya berpikir, maka saya ad. Bagi Descartes, keyakinan akan keberadaan dirinya sebagai entitas berpikir adalah dasar yang tak Dalam pandangan Descartes, realitas terkait dengan pikiran dan kesadaran manusia, dan dia menganggap bahwa realitas terutama terletak dalam pikiran yang berpikir dan sadar. Meskipun begitu. Descartes juga memandang benda fisik sebagai objek eksternal yang dapat Menurutnya, benda fisik yang kita alami melalui indera dapat menjadi sumber pengetahuan, asalkan pengetahuan tersebut tidak melibatkan keraguan. Descartes menganggap benda fisik sebagai sesuatu yang dapat dipercaya berdasarkan keyakinan yang terpahat di dalam pikiran. Pandangan Descartes tentang realitas dan metode keraguan yang digunakannya memiliki pengaruh yang besar dalam sejarah filsafat (Dreher, 2. Immanuel Kant Kant adalah seorang filsuf Jerman yang memadukan rasionalisme dan empirisme. Dalam karyanya, "Kritik der reinen Vernunft" (Kritik Terhadap Kemampuan Berpikir Murn. Kant membahas tentang realitas dan pengalaman manusia. Dia berpendapat bahwa realitas yang kita alami dipengaruhi oleh struktur a priori pikiran kita. Realitas dalam dirinya sendiri . tidak dapat diketahui secara langsung, karena kita hanya memiliki akses kepada fenomena atau pengalaman yang dipengaruhi oleh cara kita memproses data indrawi. Menurut Kant, realitas yang kita alami dipengaruhi oleh struktur a priori pikiran kita. Ia membedakan antara dua domain yang saling terkait: engalaman yang kita alam. dan noumena . ealitas dalam dirinya sendir. Kant berpendapat bahwa noumena, yaitu realitas yang ada di luar pengalaman kita, tidak dapat diketahui secara langsung karena keterbatasan struktur pikiran kita (Reinhold, 2. Kant berpendapat bahwa pikiran manusia memiliki kategori-kategori dan struktur yang tidak dapat dihindari, seperti ruang dan waktu, penyatuan objek dalam kesatuan, dan sebab-akibat. Kategori-kategori ini membentuk kerangka pemahaman kita terhadap realitas dan mempengaruhi cara kita memproses data indrawi. Oleh karena itu, realitas yang kita alami . merupakan hasil dari interaksi antara objek yang ada di luar pikiran dengan struktur pikiran kita. Kant menekankan bahwa kita tidak dapat mengetahui realitas yang sebenarnya di luar pengalaman kita. Namun, meskipun kita tidak dapat mengakses noumena secara langsung, kita masih dapat mempelajari dan memahami fenomena dengan menggunakan kategori-kategori dan struktur pikiran yang ada. Pendekatan Kant terhadap realitas memiliki dampak besar dalam filsafat, terutama dalam epistemologi dan metafisika. Dia menekankan pentingnya peran pikiran dan kontribusi aktif manusia dalam memahami realitas (Reinhold, 2. Georg Wilhelm Friedrich Hegel Hegel adalah seorang filsuf Jerman yang mengembangkan pandangan idealisme yang disebut Hegelianisme. Menurut Hegel, realitas adalah proses yang berkelanjutan dan dinamis yang melibatkan konflik dan sintesis. Dia berpendapat bahwa realitas dapat dipahami melalui dialektika, yaitu melalui perdebatan, pertentangan, dan penyatuan antara konsep-konsep yang bertentangan. Hegel melihat sejarah, masyarakat, dan pikiran manusia sebagai ekspresi dari realitas yang Bagi Hegel, realitas adalah proses yang terus-menerus berkembang dan dinamis. melihat realitas sebagai proses yang melibatkan konflik antara konsep-konsep yang bertentangan dan sintesis baru yang timbul dari konflik tersebut. Hegel menggunakan pendekatan dialektika untuk menjelaskan pergerakan dan perkembangan realitas (Blackmore, 2. Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 726 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Dialektika Hegel terdiri dari tiga tahap: teza, antitesis, dan sintesis. Pertama, terdapat suatu teza atau konsep yang menjadi landasan atau pandangan awal. Kemudian, ada antitesis yang merupakan konsep yang bertentangan atau berlawanan dengan teza. Dari konflik antara teza dan antitesis, terjadi penyatuan atau sintesis baru yang mencakup elemen-elemen dari kedua konsep Sintesis ini kemudian menjadi teza baru dalam tahap berikutnya, dan proses ini terus Hegel melihat bahwa proses dialektika ini berlaku dalam berbagai aspek realitas, termasuk sejarah, masyarakat, dan pikiran manusia. Menurutnya, sejarah adalah perjalanan dialektika di mana ide-ide dan nilai-nilai bertentangan saling berbenturan dan menyatukan diri dalam sintesis yang lebih Begitu pula dalam masyarakat, konflik sosial dan perbedaan antara individu-individu membentuk sintesis sosial yang baru. Pikiran manusia juga mengalami perjalanan dialektika dalam pengembangan pengetahuan dan pemahaman. Pendekatan Hegel terhadap realitas memberikan penekanan pada aspek perubahan, konflik, dan sintesis yang terjadi dalam proses sejarah dan perkembangan manusia (Ansah, 2. David Hume Hume memiliki pandangan empiris tentang realitas. Ia menekankan bahwa segala pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi, dan ia meragukan kemampuan manusia untuk mengetahui realitas yang sebenarnya di luar pengalaman tersebut. Baginya, realitas terbatas pada urutan pengalaman berulang yang diamati. Ia juga mengajukan argumen skeptisisme terhadap kausalitas, mengatakan bahwa kita hanya dapat mengamati korelasi antara peristiwa-peristiwa, tetapi tidak dapat secara pasti mengetahui hubungan sebab-akibat di dalam realitas. Menurut Hume, realitas terbatas pada urutan pengalaman berulang yang diamati. Ia berpendapat bahwa semua pengetahuan tentang dunia fisik didasarkan pada pengalaman indrawi. Kita hanya dapat mengamati serangkaian peristiwa yang terjadi berulang kali dan menyimpulkan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut memiliki hubungan kausal (Aryati, 2. Hume menyampaikan keraguan terhadap konsep kausalitas. Ia berpendapat bahwa kita hanya dapat mengamati korelasi antara peristiwa-peristiwa, tetapi tidak dapat dengan pasti mengetahui hubungan sebab-akibat yang mendasarinya di dalam realitas. Menurut Hume, kita tidak memiliki pengalaman langsung tentang kekuatan kausal yang mempengaruhi peristiwa-peristiwa. Hume mengajukan argumen skeptisisme terhadap kausalitas dengan mengatakan bahwa keyakinan kita tentang kausalitas sebenarnya hanya berdasarkan kebiasaan atau kepercayaan yang terbentuk dari pengalaman berulang. Ia menekankan bahwa kita tidak memiliki justifikasi rasional yang kuat untuk mengklaim adanya hubungan sebab-akibat yang objektif di dalam realitas. Pendekatan skeptisisme Hume terhadap realitas, khususnya terkait dengan kausalitas, memberikan sumbangan penting dalam sejarah filsafat (Purwi Tyas Utami, 2. John Locke Locke adalah seorang filsuf empiris yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia berasal dari pengalaman indrawi. Bagi Locke, realitas adalah benda-benda material yang kita alami melalui indera kita. Ia mengatakan bahwa kita tidak memiliki pengetahuan yang baku tentang sifat sejati realitas tersebut, tetapi hanya memiliki pengetahuan tentang apa yang kita amati dan rasakan. Locke juga mengemukakan teori "tabula rasa", yang menyatakan bahwa pikiran manusia pada awalnya adalah kosong dan semua pengetahuan didapatkan melalui pengalaman. Bagi Locke, realitas terletak pada benda-benda material yang kita alami melalui indera kita. Ia berpendapat bahwa sumber pengetahuan kita adalah pengalaman indrawi yang diperoleh melalui indera kita. Kita hanya dapat memiliki pengetahuan tentang apa yang kita amati dan rasakan secara langsung (Ariestika et al. Locke menyatakan bahwa kita tidak memiliki pengetahuan yang baku tentang sifat sejati Kita hanya memiliki pengetahuan tentang bagaimana objek-objek tersebut mempengaruhi indera kita. Menurutnya, kita tidak dapat mengetahui esensi atau substansi sejati dari benda-benda tersebut, melainkan hanya dapat mengamati kualitas dan relasi antara objek-objek tersebut. Selain itu. Locke mengemukakan teori "tabula rasa" yang menyatakan bahwa pikiran manusia pada awalnya adalah kosong dan tidak memiliki pengetahuan bawaan. Semua pengetahuan didapatkan melalui pengalaman dan persepsi yang diperoleh sepanjang hidup. Pendekatan empiris Locke terhadap realitas dan pengetahuan memberikan penekanan pada peran pengalaman dan persepsi indrawi dalam membangun pemahaman kita tentang dunia. Pendekatan ini memberikan dasar bagi pemikiran empiris yang berkembang dalam filsafat dan ilmu pengetahuan modern (Buckingham, 2. Martin Heidegger Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 727 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Heidegger adalah seorang filsuf fenomenologis yang menekankan pentingnya memahami pengalaman manusia dalam konteks keberadaan (Dasei. Baginya, realitas bukan hanya tentang objek-objek fisik yang diamati, tetapi juga melibatkan hubungan manusia dengan dunia dan makna yang terkandung di dalamnya. Heidegger mengajukan konsep "dunia" . yang mencakup konteks sosial, budaya, dan sejarah yang membentuk pengalaman kita tentang realitas. Bagi Heidegger, realitas tidak hanya terbatas pada objek-objek fisik yang diamati, tetapi juga melibatkan hubungan manusia dengan dunia yang lebih luas. Ia mengemukakan konsep "dunia" . yang mencakup konteks sosial, budaya, dan sejarah yang membentuk pengalaman kita tentang realitas (Glattfelder, 2. Menurut Heidegger, manusia tidak hanya menjadi pengamat pasif dalam dunia, tetapi juga aktif terlibat dalam menciptakan makna dan interpretasi tentang realitas. Manusia adalah makhluk yang terjebak dalam "dunia" dan terlibat dalam proses pemahaman dan interpretasi terhadap realitas Heidegger menekankan pentingnya memahami konteks sosial, budaya, dan sejarah dalam memahami realitas. Ia berpendapat bahwa realitas tidak dapat dipahami secara terisolasi, tetapi harus dipahami dalam konteks pengalaman manusia yang unik dan terikat pada dunia yang lebih luas. Pendekatan Heidegger terhadap realitas memberikan penekanan pada pentingnya konteks dan makna dalam pengalaman manusia. Ia mengajak kita untuk melihat realitas sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar objek fisik, melainkan sebagai entitas yang kompleks yang melibatkan hubungan manusia dengan dunia dan konteks sosialnya (Mubin, 2. Mempelajari aliran-aliran filsafat Ada berbagai aliran filsafat yang berbeda dalam memandang realitas, seperti idealisme, materialisme, rasionalisme, empirisme, fenomenologi, eksistensialisme, dan lain-lain. Mempelajari aliran-aliran ini dan pemikiran para filosof yang terkait dapat membantu memperluas pemahaman tentang realitas. Filsafat idealisme adalah aliran filsafat yang memandang bahwa realitas yang sejati adalah ide atau pikiran, bukan materi atau benda-benda fisik. Dalam pandangan idealisme, dunia yang nyata adalah dunia ide atau pikiran yang tak terlihat, dan dunia fisik yang terlihat hanyalah refleksi dari dunia ide tersebut. Dalam pandangan idealisme, realitas tidak hanya terdiri dari objek-objek fisik, tetapi juga termasuk ide dan konsep yang dipikirkan oleh manusia. Dalam pandangan ini, ide dan konsep bukan hanya produk dari pikiran manusia, tetapi juga sebagai dasar atau prinsip dasar dari realitas yang kita alami (Sudarman, 2. Filsafat idealisme memiliki beberapa varian, di antaranya: Idealisme metafisik: pandangan bahwa realitas yang sejati adalah substansi spiritual atau mental, dan bahwa benda-benda fisik hanya merupakan penampakan dari substansi tersebut. Idealisme subjektif: pandangan bahwa realitas hanya dapat dipahami melalui pengalaman subjektif seseorang, dan bahwa realitas itu sendiri hanya merupakan refleksi dari pengalaman subjektif tersebut. Idealisme objektif: pandangan bahwa realitas yang sejati adalah ide-ide atau konsep yang universal dan independen, yang ada di luar manusia dan dapat dipahami melalui rasionalitas manusia. Dalam pandangan idealisme, manusia memiliki peran penting dalam menciptakan dan memahami realitas, karena manusia mampu menghasilkan ide-ide dan konsep-konsep yang dapat membentuk realitas yang kita alami. Oleh karena itu, idealisme menganggap manusia sebagai subjek yang aktif dalam menciptakan realitasnya sendiri, bukan hanya sebagai objek yang pasif yang terombangambing oleh kekuatan luar. Filsafat materialisme adalah aliran filsafat yang memandang bahwa realitas yang sejati terletak pada materi atau benda-benda fisik. Menurut pandangan materialisme, dunia fisik yang dapat diamati dan diukur adalah satu-satunya bentuk realitas yang ada, sedangkan aspek spiritual, pikiran, atau ide dianggap sebagai hasil dari aktivitas otak yang berbasis materi. Pandangan materialisme, segala fenomena dan kejadian dalam dunia dapat dijelaskan melalui hukum-hukum alam dan mekanisme yang berlaku dalam materi. Segala hal, termasuk pikiran, emosi, dan kesadaran, dianggap sebagai produk dari interaksi fisik dan kimia di dalam otak manusia (Blackmore, 2. Materialisme memiliki beberapa varian, termasuk: Materialisme reduktif: pandangan bahwa semua fenomena dapat dijelaskan dan dijelaskan melalui pengetahuan tentang partikel-partikel dasar atau entitas fisik yang lebih sederhana. Misalnya, pemahaman tentang sifat-sifat kimiawi dan reaksi kimia dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena biologis. Materialisme dialektik: aliran filsafat yang dikembangkan oleh Karl Marx, yang mengaitkan materialisme dengan teori sosial dan ekonomi. Dalam materialisme dialektik, realitas sosial dan perubahan sosial dijelaskan melalui pertentangan antara kelas-kelas sosial dalam produksi materi. Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 728 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Dalam pandangan materialisme, manusia adalah bagian dari dunia fisik dan mengalami realitas melalui pengalaman indra dan penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah dan metode empiris dianggap sebagai cara terbaik untuk memahami dan menjelaskan realitas. Perlu dicatat bahwa pandangan materialisme tidak menolak keberadaan pikiran, emosi, atau pengalaman manusia, tetapi menganggapnya sebagai fenomena yang dapat dijelaskan melalui mekanisme fisik dan kimia yang ada dalam otak. Materialisme juga menekankan pentingnya penyelidikan empiris dan bukti yang dapat diamati dalam membangun pengetahuan tentang realitas. Filsafat rasionalisme adalah aliran filsafat yang memandang bahwa realitas yang sejati dapat dipahami melalui penggunaan akal budi atau rasionalitas manusia. Rasionalisme menekankan pentingnya nalar dan pemikiran logis dalam memperoleh pengetahuan yang objektif dan universal. Menurut pandangan rasionalisme, realitas yang sejati tidak hanya dapat dipahami melalui pengalaman indra semata, tetapi juga melalui deduksi logis, analisis konsep, dan penggunaan prinsip-prinsip rasional. Pandangan ini menekankan bahwa pengetahuan yang berasal dari akal budi memiliki kekuatan dan keabsahan yang lebih tinggi daripada pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris semata (Hasan & Pananrangi, 2. Menurut pandangan rasionalisme, pikiran manusia memiliki kemampuan a priori, yaitu kemampuan untuk mencapai pengetahuan yang tidak tergantung pada pengalaman atau observasi. Rasionalisme menganggap bahwa ada ide-ide dasar atau prinsip-prinsip yang melekat pada akal budi manusia, seperti prinsip-prinsip logika, matematika, dan etika, yang dapat digunakan untuk memahami realitas yang lebih dalam. Salah satu tokoh utama dalam rasionalisme adalah Reny Descartes, yang mengemukakan metode ragu sistematis dan berpendirian "aku berpikir, maka aku ada" . ogito ergo su. Descartes berpendapat bahwa akal budi manusia adalah sumber pengetahuan yang paling dapat diandalkan dan bahwa melalui pemikiran yang jernih dan metode deduktif, manusia dapat mencapai pengetahuan yang pasti. Pendekatan rasionalis dalam memandang realitas juga ditekankan dalam bidang epistemologi, yaitu studi tentang sumber, batasan, dan validitas pengetahuan. Rasionalisme menekankan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui nalar dan deduksi memiliki kekuatan rasional yang lebih kuat daripada pengetahuan yang hanya berdasarkan pada pengalaman empiris semata. Namun, penting untuk dicatat bahwa rasionalisme juga dihadapkan pada kritik dan tantangan, termasuk pertanyaan tentang batasan rasionalitas manusia dan pentingnya pengalaman empiris dalam memahami realitas secara lengkap. Rasionalisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang memandang bahwa pengetahuan yang sah didapatkan melalui pemikiran rasional atau akal. Dalam memandang realitas, aliran filsafat rasionalisme menganggap bahwa realitas dapat dipahami melalui akal budi dan rasio manusia (Purwi Tyas Utami, 2. Menurut pandangan rasionalisme, realitas tidak hanya bisa diamati secara empiris atau melalui pengalaman indera semata. Kita juga dapat memahami realitas melalui pemikiran dan akal budi yang terorganisir dengan baik. Oleh karena itu, rasionalisme cenderung menolak pandangan empirisme yang hanya memandang pengalaman indera sebagai sumber pengetahuan yang sah. Dalam pandangan rasionalisme, akal budi dan rasio manusia memiliki kemampuan untuk menemukan prinsip-prinsip dasar yang membentuk realitas, seperti prinsip-prinsip logika dan matematika. Kemampuan akal budi juga dapat digunakan untuk mengembangkan konsep-konsep abstrak yang tidak terlihat secara langsung dalam pengalaman indera, seperti keadilan, kebenaran, dan kebaikan. Namun, dalam memandang realitas, aliran filsafat rasionalisme juga mengakui bahwa akal budi manusia memiliki keterbatasan dan batas-batasnya. Oleh karena itu, pengetahuan yang dihasilkan oleh akal budi manusia selalu terbuka untuk revisi dan perbaikan. Dalam ringkasan, aliran filsafat rasionalisme memandang realitas sebagai sesuatu yang dapat dipahami melalui pemikiran rasional dan akal budi manusia, meskipun kemampuan akal budi manusia memiliki keterbatasan dan batas-batasnya (Jalil, 2. Aliran filsafat fenomenologi memandang realitas dari perspektif pengalaman langsung dan kesadaran subjektif. Fenomenologi menekankan pentingnya memahami realitas sebagaimana yang dialami oleh individu, dengan memusatkan perhatian pada pengamatan langsung terhadap fenomenaphenomena yang muncul dalam kesadaran. Menurut fenomenologi, realitas tidak dapat dipahami secara objektif dan netral melalui penyaringan konsep atau teori sebelumnya. Sebaliknya, realitas harus dipahami melalui "deskripsi fenomenologis" yang menggambarkan pengalaman langsung dari subjek yang mengalaminya. Pendekatan ini mencoba untuk menjelaskan makna dan struktur pengalaman manusia, bukan mencoba untuk memahami realitas dalam arti objektif yang terlepas dari pengalaman subjektif (Buckingham, 2. Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 729 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Fenomenologi juga menekankan pentingnya memahami konteks sosial, budaya, dan sejarah yang membentuk pengalaman manusia. Realitas tidak dipandang sebagai entitas yang terpisah dari manusia, tetapi sebagai konstruksi yang terbentuk melalui interaksi antara subjek dan dunia sekitarnya. Selain itu, fenomenologi mengakui peran penting kesadaran dalam memahami realitas. Kesadaran manusia dipandang sebagai inti yang mengalami fenomena-phenomena dan memberikan arti terhadapnya. Dalam konteks ini, fenomenologi berusaha untuk memahami struktur kesadaran, seperti kesadaran temporal . esadaran wakt. , kesadaran spasial . esadaran ruan. , dan kesadaran intensional . esadaran tentang Dalam ringkasan, aliran filsafat fenomenologi memandang realitas melalui pengalaman langsung dan kesadaran subjektif, dengan penekanan pada deskripsi fenomenologis, konteks sosialbudaya, dan peran kesadaran dalam memahami realitas (Suaedi, 2. Aliran filsafat eksistensialisme memandang realitas sebagai sesuatu yang kompleks, individual, dan subjektif. Eksistensialisme menekankan pada pengalaman individu dalam menghadapi keberadaan dan makna hidup. Menurut eksistensialisme, realitas tidak dapat dijelaskan secara objektif atau dengan menggunakan konsep-konsep universal. Setiap individu memiliki pengalaman unik dalam menghadapi realitas dan bertanggung jawab atas pembentukan makna hidup mereka sendiri. Eksistensialisme menolak pemikiran deterministik yang memandang manusia sebagai objek yang terikat pada hukum alam atau nasib yang tak terelakkan. Dalam pandangan eksistensialisme, individu harus menghadapi keberadaan mereka sendiri dengan kesadaran penuh akan kebebasan dan tanggung jawab pribadi. Manusia bebas untuk membuat pilihan dan menghadapi konsekuensi dari pilihan tersebut. Realitas dipahami melalui pengalaman subjektif dan eksistensial manusia dalam konteks kebebasan dan tanggung Selain itu, eksistensialisme menekankan pentingnya kesadaran akan kematian dan ketidakpastian Kesadaran akan kematian mendorong individu untuk menghadapi realitas dengan urgensi dan memberikan makna hidup mereka sendiri. Eksistensialisme juga menekankan pentingnya pilihan individu dan eksistensi yang otonom. Dalam ringkasan, aliran filsafat eksistensialisme memandang realitas sebagai pengalaman individual yang kompleks, subjektif, dan dipahami melalui kebebasan dan tanggung jawab individu. Eksistensialisme menekankan pentingnya pilihan individu, kesadaran akan kematian, dan pembentukan makna hidup secara otonom (Nawawi & Mubarok, 2. Membaca teks-teks filsafat yang klasik dan kontemporer Membaca teks-teks filsafat yang penting adalah langkah penting dalam memahami realitas. Teks klasik seperti "Dialog-dialog" Plato, "Meditasi-Meditasi Metafisika" Descartes, "Fenomenologi Kesadaran Diri" Husserl, dan "Sein und Zeit" Heidegger, dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang realitas. Plato adalah seorang filsuf klasik yang dikenal karena karyanya yang monumental, "Dialog-dialog", yang terdiri dari serangkaian percakapan antara karakter-karakter yang di dalamnya Plato mengeksplorasi gagasan-gagasan filosofisnya. Dialog-dialog ini memang memberikan pemahaman yang mendalam tentang realitas, namun perlu dicatat bahwa realitas yang dipahami Plato sangat berbeda dengan realitas yang kita pahami hari ini. Bagi Plato, realitas yang sebenarnya adalah dunia ide atau bentuk-bentuk universal yang eksis di luar dunia materi. Dunia ini hanya dapat dipahami melalui akal budi dan refleksi, dan merupakan sumber kebenaran dan kebijaksanaan yang sejati. Di sisi lain, dunia materi, yang kita alami melalui indera kita, dianggap sebagai dunia yang tidak dapat diandalkan dan sering menyesatkan (Nietlong & Kato, 2. Dalam "Dialog-dialog"nya. Plato mengeksplorasi banyak topik, termasuk etika, politik, metafisika, epistemologi, dan banyak lagi. Melalui karakter-karakter dalam dialognya. Plato mencoba mengajak pembaca untuk mempertanyakan keyakinan mereka dan membuka pikiran mereka untuk pemikiranpemikiran baru. Namun, kita perlu diingat bahwa pemahaman tentang realitas telah berkembang sejak zaman Plato, dan bahwa realitas yang kita pahami hari ini sangat berbeda dari realitas yang dipahami oleh Plato. Selain itu, interpretasi terhadap "Dialog-dialog" Plato sendiri masih menjadi topik yang kontroversial di kalangan akademisi. Oleh karena itu, sementara "Dialog-dialog" Plato dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang realitas, penting untuk melihatnya dalam konteks sejarah dan sebagai bagian dari warisan intelektual yang terus berkembang (Najmuddin & Syarkawi, "Meditasi-Meditasi Metafisika" oleh Reny Descartes adalah salah satu karya filosofis yang sangat penting dalam sejarah pemikiran Barat. Dalam karyanya ini. Descartes mencoba membangun fondasi filosofis yang kokoh dengan meragukan semua keyakinan yang ada untuk mencapai pengetahuan yang pasti dan tak tergoyahkan. Dia melakukan ini melalui metode skeptisisme radikal yang terkenal, yaitu metode keraguan. Descartes memulai meditasi dengan meragukan segala hal yang dapat diragukan, termasuk indera, pengalaman, dan bahkan pemikiran itu sendiri. Namun, ada satu hal yang tidak dapat Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 730 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . diragukan menurut Descartes, yaitu bahwa ia meragukan. Dari sini. Descartes sampai pada keyakinan yang paling mendasar dan pasti, yaitu "Cogito, ergo sum" atau "Saya berpikir, maka saya ada. " Melalui meditasi-metafisikanya. Descartes mencapai kesimpulan bahwa realitas yang sejati dan pasti adalah keberadaan pikiran yang sadar (Sutisna, 2. Descartes berargumen bahwa pikiran dan kesadaran adalah hakikat yang tak terbantahkan dan merupakan landasan dari segala pengetahuan yang kita miliki. Namun, penting untuk diingat bahwa pemahaman tentang realitas telah berkembang sejak Descartes, dan bahwa interpretasi terhadap "Meditasi-Meditasi Metafisika" juga masih menjadi bahan diskusi dan penelitian di kalangan akademisi. Pemikiran Descartes juga sering dikritik, terutama dalam hal dualisme substansial antara pikiran dan Meskipun demikian, "Meditasi-Meditasi Metafisika" tetap merupakan karya yang penting dan berpengaruh dalam sejarah filsafat. Karya ini mengilhami pemikiran-pemikiran baru dan menjadi fondasi bagi berbagai aliran pemikiran, serta mengajak kita untuk merenungkan sifat realitas dan hakikat eksistensi manusia (Dreher, 2. "Fenomenologi Kesadaran Diri" atau "Cartesian Meditations" oleh Edmund Husserl adalah salah satu karya yang penting dalam sejarah filsafat fenomenologi. Dalam karyanya. Husserl mencoba untuk menjelaskan bagaimana kesadaran manusia dapat memperoleh pemahaman tentang realitas yang sebenarnya melalui pengalaman langsung. Husserl berargumen bahwa kesadaran manusia tidak bisa dipahami hanya melalui pengamatan objektif atau ilmiah, karena pengalaman manusia dipengaruhi oleh interpretasi subjektif. Oleh karena itu. Husserl mengajak kita untuk mempelajari pengalaman subjektif dan kesadaran diri untuk memahami realitas yang sebenarnya. Dalam "Fenomenologi Kesadaran Diri". Husserl membahas konsep-konsep seperti "intentionality" atau kemampuan kesadaran untuk mengarahkan dirinya pada objek-objek di luar dirinya. Dia juga membahas konsep "epokhe" atau penundaan keputusan apapun tentang objek sampai ada pengalaman langsung yang mengkonfirmasinya (Hasan & Pananrangi, 2. Melalui pemahaman ini. Husserl berpendapat bahwa kita dapat memahami realitas yang sebenarnya dengan cara menghilangkan semua interpretasi atau pengalaman yang tidak langsung dan fokus pada pengalaman subjektif yang paling mendasar. Dalam hal ini. Husserl menganggap kesadaran manusia sebagai objek yang harus dipelajari, karena ia merupakan kunci untuk memahami realitas yang Sein und Zeit" (Being and Tim. adalah karya besar yang ditulis oleh filsuf Jerman Martin Heidegger. Buku ini diterbitkan pada tahun 1927 dan telah menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam filsafat kontinental abad ke-20. Meskipun "Sein und Zeit" adalah karya yang sangat kompleks dan rumit, buku ini dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang realitas. Heidegger mengeksplorasi konsep das Sein . eberadaan atau "being") dalam bukunya. Dia menyelidiki pertanyaan mendasar tentang apa artinya untuk menjadi manusia dan bagaimana manusia berhubungan dengan realitas di sekitarnya (Blackmore, 2. Heidegger mengkritik tradisi filsafat Barat sebelumnya yang dianggapnya terjebak dalam pemikiran ontologis yang abstrak dan melupakan pengalaman konkret manusia dalam dunia. Heidegger menggunakan metode fenomenologi, yang mengarahkan perhatian pada pengalaman langsung subjek dalam interaksi dengan dunia. Dia menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang ada dalam dunia, dan pengalaman manusia tentang realitas tidak dapat dipisahkan dari keberadaannya di dunia ini. Dia menggambarkan manusia sebagai "Dasein," sebuah istilah Jerman yang berarti "keberadaan di sini" atau "keberadaan di dunia. " Dalam "Sein und Zeit," Heidegger membahas topik-topik seperti waktu, kematian, kekhawatiran . , keadaan tak terbuka . , dan peran bahasa dalam konstruksi realitas. Ia mengajukan bahwa realitas sebenarnya . uthentic realit. terletak pada pemahaman yang lebih dalam tentang keberadaan manusia dan kesadaran akan kematian sebagai bagian tak terelakkan dari keberadaan kita (Blackmore, 2. Pemahaman realitas menurut Heidegger tidak terbatas pada sekadar pengetahuan konseptual, tetapi melibatkan keterlibatan kita secara emosional, praktis, dan eksistensial dalam dunia ini. menekankan pentingnya mencari pemahaman yang mendalam tentang keberadaan kita sebagai manusia yang ada dalam dunia, dan bagaimana pemahaman tersebut mempengaruhi cara kita berhubungan dengan realitas di sekitar kita. Namun, penting untuk dicatat bahwa "Sein und Zeit" adalah karya yang sangat kompleks dan terkadang sulit untuk dipahami. Buku ini telah menjadi subjek banyak interpretasi dan kontroversi dalam studi filosofi, dan pendekatan Heidegger dalam memahami realitas tidak sepenuhnya diterima oleh semua filsuf. Oleh karena itu, sementara "Sein und Zeit" dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang realitas, interpretasi dan penerapannya terhadap kehidupan seharihari tetap menjadi persoalan individu dan subjektif (Aryati, 2. Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 731 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Melibatkan diri dalam diskusi dan debat: Diskusi dengan orang lain yang tertarik pada filsafat dan realitas dapat membantu mengasah pemikiran dan memperluas wawasan. Diskusi ini dapat berlangsung di lingkungan akademik, kelompok studi, atau bahkan daring melalui forum atau komunitas filsafat. Dalam diskusi semacam ini, kita dapat mempertukarkan ide, pandangan, dan perspektif yang berbeda dengan orang lain yang memiliki pengalaman, latar belakang, dan sudut pandang yang berbeda dari kita. Dalam diskusi, kita dapat mengajukan pertanyaan, menantang argumen, dan membahas konsep yang mungkin belum kita pahami Diskusi semacam ini dapat membantu kita untuk memperdalam pemahaman kita tentang konsep-konsep filosofis dan realitas, serta memperluas perspektif kita terhadap ilmu pengetahuan dan dunia di sekitar kita (Ansah, 2. Selain itu, diskusi dengan orang lain juga dapat membantu kita untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan logis kita. Ketika kita berdiskusi dengan orang lain, kita harus dapat menyusun argumen yang terstruktur dan logis, serta dapat menyampaikan gagasan kita dengan jelas dan efektif. Dalam diskusi semacam ini, kita juga dapat belajar bagaimana mengevaluasi argumen orang lain dengan tepat, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis kita. Hal ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah dan membuat keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diskusi dengan orang lain yang tertarik pada filsafat dan realitas dapat menjadi pengalaman yang sangat bermanfaat dan berharga untuk memperluas pemahaman dan mengasah kemampuan berpikir kita (Ansah, 2. Berpikir kritis dan menganalisis argumen Filsafat melibatkan berpikir kritis yang mendalam dan analisis argumen. Latihan dalam mengevaluasi argumen-argumen yang kompleks dan merumuskan argumen sendiri akan membantu mengembangkan keterampilan pemikiran logis yang diperlukan untuk memahami realitas. Mengevaluasi argumen-argumen kompleks melibatkan kemampuan untuk menganalisis, mengidentifikasi asumsi yang mendasarinya, mengecek konsistensi dan kekuatan logisnya, serta menilai bukti atau alasannya. Dengan melakukan latihan ini, kita dapat melatih kemampuan kritis kita dan memperoleh keahlian dalam mengidentifikasi argumen yang valid dan argumen yang kurang kuat. Selain itu, merumuskan argumen sendiri memerlukan pemikiran logis yang cermat. Ini melibatkan kemampuan untuk memetakan pemikiran kita ke dalam struktur argumen yang koheren dan rasional, menyusun premis-premis yang mendukung kesimpulan, dan menyusun penalaran yang dapat dipahami oleh orang lain. Dengan berlatih merumuskan argumen sendiri, kita dapat meningkatkan kemampuan kita dalam menyampaikan gagasan dan mempertahankan pandangan kita dengan lebih efektif (Nawawi & Mubarok, 2. Keterampilan pemikiran logis yang dikembangkan melalui latihan ini akan membantu kita dalam memahami realitas dalam filsafat. Filsafat sering melibatkan pemikiran analitis yang mendalam, dan pemahaman yang akurat tentang argumen dan penalaran logis adalah penting dalam memahami dan menafsirkan konsep-konsep filosofis yang kompleks. Selain itu, kemampuan untuk mempertimbangkan argumen-argumen berbagai pandangan dan secara kritis mengevaluasi klaim-klaim yang dibuat oleh filsuf lain juga akan membantu kita dalam memperluas pemahaman kita tentang realitas dan memperdalam pemikiran kita sendiri. Jadi, melalui latihan yang terus-menerus dalam mengevaluasi argumen dan merumuskan argumen sendiri, kita dapat mengembangkan keterampilan pemikiran logis yang sangat penting untuk memahami realitas dalam filsafat dan memperluas pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita (Purwi Tyas Utami, 2. Mengkaji disiplin ilmu terkait Filsafat realitas seringkali terkait erat dengan disiplin ilmu lainnya, seperti fisika, neurosains, ilmu kognitif, dan ontologi. Memperoleh pemahaman tentang perkembangan dan penemuan terbaru dalam disiplin-disiplin ini dapat membantu memperluas perspektif tentang realitas. Filsafat memainkan peran penting dalam membantu memahami aspek-aspek ontologis, epistemologis, dan metafisik dari realitas yang dapat dikaji dalam kerangka ilmu pengetahuan yang lebih spesifik (Aryati, 2. Fisika menyelidiki prinsip-prinsip fundamental dan hukum-hukum alam yang mengatur realitas fisik. Filsafat realitas dapat membahas pertanyaan-pertanyaan filosofis yang muncul dari fisika, seperti konsepsi tentang ruang, waktu, materi, dan kausalitas. Filsuf-filsuf juga dapat berkontribusi dalam mempertimbangkan interpretasi filosofis dari teori-teori fisika modern, seperti teori kuantum dan relativitas (Sudarman, 2. Neurosains dan ilmu kognitif mempelajari dasar biologis dan proses kognitif yang mendasari pemahaman kita tentang realitas. Filsafat realitas dapat berkontribusi dengan mempertimbangkan aspekaspek filosofis seperti hubungan antara pikiran dan materi, sifat kesadaran, peran persepsi dan pengetahuan dalam membangun pemahaman kita tentang realitas, dan pertanyaan-pertanyaan etika yang Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 732 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . terkait dengan penelitian otak dan kecerdasan buatan. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempertanyakan hakikat keberadaan dan realitas itu sendiri. Filsafat realitas sering berhubungan dengan ontologi, yang mempelajari jenis-jenis entitas yang ada, sifat-sifatnya, hubungan antara entitas, dan kategorisasi realitas. Dalam filsafat realitas, pertanyaan-pertanyaan ontologis dapat dibahas, seperti apakah realitas terdiri dari substansi-substansi yang nyata atau terdiri dari hubungan-hubungan antara entitas, atau apakah terdapat realitas yang objektif dan independen dari pengamatan kita (Liu & Liu. Mengajukan pertanyaan dan tetap terbuka Perjalanan menuju pemahaman mendalam tentang filsafat realitas melibatkan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam dan tetap terbuka terhadap kemungkinan jawaban yang mendalam. Ketika seseorang mempelajari disiplin tertentu seperti sains, teknologi, atau humaniora, mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang cara kerja dunia dan segala sesuatu di Mereka dapat mempelajari tentang perkembangan terbaru dalam teknologi, ilmu pengetahuan, dan berbagai disiplin lainnya. Misalnya, dalam sains, para peneliti terus melakukan penemuan baru tentang cara kerja alam semesta. Mereka menemukan planet baru, partikel subatom, dan membuat kemajuan besar dalam bidang genetika dan bioteknologi. Memperoleh pemahaman tentang perkembangan ini dapat membantu seseorang memahami dunia di sekitar mereka dan bagaimana segala sesuatu bekerja bersama-sama (Buckingham, 2. Di bidang teknologi, para ahli terus mengembangkan perangkat lunak dan perangkat keras baru, serta menciptakan solusi untuk masalah sosial dan lingkungan. Misalnya, teknologi pembelajaran mesin dapat membantu seseorang memahami bagaimana komputer dapat belajar dan mengembangkan keterampilan baru seperti pengenalan suara dan pengenalan wajah. Di humaniora, kita dapat belajar tentang perkembangan terbaru dalam bidang psikologi, antropologi, dan sejarah yang membantu memperluas pemahaman kita tentang manusia dan masyarakat. Dalam bidang ini, para peneliti menemukan pola dan tren dalam perilaku manusia, cara manusia berinteraksi satu sama lain, dan bagaimana sejarah membentuk budaya kita. Dengan demikian, memperoleh pemahaman tentang perkembangan dan penemuan terbaru dalam berbagai disiplin dapat membantu seseorang memperluas perspektif mereka tentang realitas, membuka pikiran mereka untuk gagasan-gagasan baru, dan membantu mereka mengatasi tantangan yang kompleks di dunia modern (Glattfelder, 2. KESIMPULAN Esensi dari studi filsafat adalah untuk secara kritis merenungkan dan mengeksplorasi sifat realitas, serta menguji teori-teori yang ada. Melalui refleksi kritis, seorang filsuf mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang realitas. Mereka tidak mengambil begitu saja apa yang diberikan atau dipahami secara umum, tetapi merenungkan secara mendalam dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari realitas tersebut. Ini melibatkan pemikiran yang analitis, logis, dan sistematis untuk mencoba memahami realitas dengan lebih baik. Selain itu, eksplorasi konsep-konsep filosofis merupakan bagian integral dari studi filsafat. Para filsuf mengembangkan kerangka konseptual yang mendalam untuk memahami aspekaspek fundamental realitas, seperti waktu, ruang, kebenaran, keadilan, dan eksistensi. Mereka mempertanyakan konsep-konsep ini, menganalisis implikasi filosofisnya, dan membangun argumenargumen yang rasional dan kohesif. Pengujian teori-teori yang ada juga merupakan bagian penting dalam studi filsafat tentang realitas. Para filsuf tidak hanya berhenti pada konsep-konsep filosofis yang abstrak, tetapi juga menguji teori-teori tersebut dengan logika dan rasionalitas. Mereka mempertimbangkan bukti empiris, membandingkan teori-teori yang berbeda, dan mencoba menemukan penjelasan yang paling konsisten dan komprehensif tentang realitas. Dalam perjalanan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas, filsafat juga berfungsi untuk memeriksa dan merangsang pertanyaan-pertanyaan yang Dengan merangsang pikiran kritis dan refleksi filosofis, studi filsafat membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas dan mendorong kita untuk terus menggali kebenaran yang lebih dalam. Dengan demikian, studi filsafat tentang sifat realitas melibatkan refleksi kritis, eksplorasi konsep-konsep filosofis, dan pengujian teori-teori yang ada. Ini memungkinkan kita untuk melakukan perjalanan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas dan memperluas perspektif kita tentang dunia di sekitar kita. Perjalanan Menuju Pemahaman Yang Mendalam Mengenai Ilmu Pengetahuan A. - 733 Basuki et. al / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . DAFTAR PUSTAKA