RITORNERA: JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA Vol 05. No 02. Agustus 2025. Hal: 213-226 ISSN (Online: 2797-717X) (Print:2797-7. Available at: pspindonesia. Integrasi Teologi Penginjilan dan Misi Digital dalam Kepemimpinan Gereja Era Teknologi Soewieto Djajadi Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia. Semarang Soewitodjajadi@gmail. Aji Suseno Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia. Semarang. Indonesia ajisuseno@stbi. Yohana Fajar Rahayu Sekolah Tinggi Teologi Nusantara. Salatiga yohanafajarrahayu@gmail. ABSTRACT The development of digital technology has changed the way people live. As a community of faith, the church faces the challenge of remaining relevant in reaching the digital generation that lives in a virtual culture. However, traditional evangelism approaches, which still dominate, often fail to adapt to the rapid changes of the times. The phenomenon of increasing digital activity among the younger generation, while the church lags behind in the use of digital media for evangelism, highlights a gap between ministry strategies and real-world needs. This study aims to examine how the integration of evangelistic theology and digital mission can be strategically applied in contemporary church leadership. Using qualitative methods, it can be concluded that the essence of evangelism theology is deeply rooted in biblical foundations, which serve as the primary basis for designing contextual mission strategies in the digital age. The concepts and practices of digital mission represent an actual expansion of the Great Commission, now carried out through media and virtual spaces. Church leadership in the technological era is required to be adaptive, innovative, and theological in order to guide the congregation in mission service. Therefore, the integration of evangelical theology and digital mission has become an urgent need, not only to address the challenges of the times but also to shape a strategic pattern of digital evangelical leadership for the future of the church. This approach will encourage the church to remain faithful to the Gospel call while being responsive to the changes of the times. Keywords: evangelistic theology, digital mission, church leadership, technological era, homo ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola hidup manusia. Gereja sebagai komunitas iman menghadapi tantangan untuk tetap relevan dalam menjangkau generasi digital yang hidup dalam budaya virtual. Namun, pendekatan penginjilan tradisional yang masih mendominasi CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia seringkali tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang cepat. Fenomena meningkatnya aktivitas digital generasi muda, sementara gereja masih tertinggal dalam pemanfaatan media digital untuk penginjilan, menunjukkan adanya kesenjangan antara strategi pelayanan dan kebutuhan nyata di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana integrasi antara teologi penginjilan dan misi digital dapat diterapkan secara strategis dalam kepemimpinan gereja masa kini. Menggunkan metode kualitatif, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat teologi penginjilan berakar kuat pada dasar biblis yang menjadi fondasi utama dalam merancang strategi misi yang kontekstual di era digital. Konsep dan praktik misi digital menjadi perluasan aktual dari mandat Amanat Agung, yang kini dijalankan melalui media dan ruang Kepemimpinan gereja di era teknologi dituntut untuk adaptif, inovatif, dan teologis agar mampu mengarahkan jemaat dalam pelayanan misi. Oleh karena itu, integrasi antara teologi penginjilan dan misi digital menjadi kebutuhan mendesak, bukan hanya untuk menjawab tantangan zaman, tetapi juga untuk membentuk pola kepemimpinan penginjilan digital yang strategis bagi masa depan gereja. Pendekatan ini akan mendorong gereja untuk tetap setia pada panggilan Injil, sekaligus tanggap terhadap perubahan zaman. Kata Kunci: teologi penginjilan, misi digital, kepemimpinan gereja, era teknologi, homo digitalis. PENDAHULUAN Revolusi digital telah membawa perubahan besar dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara manusia berelasi, berkomunikasi, dan mengakses informasi. Gereja sebagai komunitas iman tidak lagi beroperasi dalam ruang fisik semata, tetapi juga ditantang untuk hadir secara aktif di ruang digital. Maka itu gereja telah memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk mendorong dialog dan membangun komunitas, menjadikan ruang digital sebagai wadah bagi koneksi spiritual dan pelayanan penjangkauan. Melalui berbagai konten yang berlandaskan iman, gereja berupaya menghadirkan pesan positif guna merespons maraknya polarisasi dan dampak negatif di dunia maya. 1 Peralihan ke layanan digital cenderung lebih diterima oleh jemaat yang lebih muda dan berpendidikan, sedangkan anggota jemaat yang lebih tua masih menunjukkan kecenderungan untuk tetap memilih pola ibadah tradisional. 2 Oleh sebab itu di era digital menuntut gereja-gereja untuk mengemas misi mereka secara kreatif guna mendorong pertumbuhan dan keterlibatan spiritual jemaat. Hal ini mencakup pemanfaatan berbagai alat digital sebagai sarana untuk membangun kehidupan spiritual serta mewujudkan misi Kristen secara relevan di ruang 3 Terlebih adanya kehadiran generasi Homo Digitalis, yakni generasi yang lahir dan hidup di tengah perkembangan teknologi digital ini menuntut gereja untuk mereformulasi strategi penginjilannya agar tetap relevan, kontekstual, dan efektif dalam menjangkau jiwa-jiwa. Dalam Dieter Becker. AuTugas Dan Tanggung Jawab Misiologis Gereja Di Era Digital,Ay Jurnal Teologi Vocatio Dei 6, no. 1 (November 28, 2. : 16Ae23, https://doi. org/10. 62926/jtvd. Binsar J. Pakpahan. Puji H. Aritonang, and Agus Hendratmo. AuCongregation MembersAo Response to Worship and Fellowship in the Digital Space during the COVID-19 Pandemic,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 80, no. , https://doi. org/10. 4102/hts. Yonatan Alex Arifianto. Jirmia Dofi Suharijono, and Adi Sujaka. AuEksplorasi Rohani Sebagai Pertumbuhan Spiritualitas Dalam Ruang Virtual: Misi Kekristenan Di Era Digital,Ay Teleios 4, no. : 64Ae72, https://doi. org/10. 53674/teleios. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia konteks ini, misi digital tidak hanya menjadi sarana baru, melainkan juga panggilan zaman yang tidak bisa diabaikan oleh gereja dan para pemimpinnya. Realitas saat ini menunjukkan bahwa banyak gereja masih terpaku pada model penginjilan tradisional yang bersandar pada tatap muka fisik. Sementara itu, generasi muda lebih banyak menghabiskan waktunya dalam dunia maya. Gereja harus mengambil peran yang aktif dalam menjawab tantangan zaman dengan terus mengupayakan pelaksanaan misi secara relevan dan Untuk itu, dibutuhkan kreativitas dalam menyampaikan pesan iman agar dapat menjangkau berbagai kalangan tanpa kehilangan esensi spiritualnya. 4 Tentunya adanya misi digital evangelisasi lebih menguntungkan dan dianggap sebagai akses yang mudah bagi masyarakat luas. 5 Sehingga ini dapat menjadi landasan bahwa sejatinya gereja perlu hadir secara aktif di internet sebagai wujud kehadiran misiologisnya dalam menjangkau umat di era digital. Karena di ruang digital membuka peluang baru bagi keterlibatan gereja, dalam membangun spiritual, agar esensi iman tetap terjaga. Dalam menghadapi transformasi digital ini, gereja dituntut untuk mampu menyeimbangkan antara inovasi dan pelestarian nilai-nilai spiritual tradisional demi pelayanan yang efektif bagi jemaat, bahkan demi menjangkau generasi digital saat ini. Sebab banyak generasi saat ini terhubung melalui media sosial, konten video, podcast, atau bahkan game Fenomena ini memunculkan ketimpangan antara metode penginjilan gereja dan pola hidup digital generasi yang menjadi target pelayanan. Akibatnya, bukan hanya terjadi keterasingan antara gereja dan generasi muda, tetapi juga terjadi krisis relevansi penginjilan dalam konteks era Kepemimpinan gereja menjadi faktor kunci dalam menjawab tantangan ini. Pemimpin yang memiliki kesadaran digital . igital awarenes. dan spiritualitas kontekstual akan mampu membawa gereja untuk mentransformasi misinya secara kreatif dan teologis. Memang tidak dipungkiri bahwa gereja harus mampu menuju masa depan yang lebih kokoh dan berlandaskan etika di tengah tantangan dan perubahan zaman yang begitu cepat. 7 Maka itu penginjilan tidak lagi hanya dipahami sebagai pewartaan di mimbar gereja, melainkan sebagai bentuk kesaksian iman yang mampu menjangkau orang-orang di ruang digital dengan bahasa, media, dan budaya yang mereka kenal. Dasar ini harusnya menuntut para misionaris untuk memiliki kemampuan berinovasi dalam aktivitas misi melalui teknologi digital. Yang mana ada nilai yang urgent bagi misi dalam pelayanan misi di media sangat berguna untuk menjangkau setiap masyarakat yang Remelia Dalensang and Melky Molle. AuPeran Gereja Dalam Pengembangan Pendidikan Kristen Bagi Anak Muda Pada Era Teknologi Digital,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 5, no. : 255Ae71, https://doi. org/10. 37368/ja. Agrindo Zandro. AuPeran Gereja Partikular Dalam Konteks Misi Evangelisasi Di Era Digital,Ay SAPA Jurnal Kateketik Dan Pastoral 8, no. : 10Ae24, https://doi. org/10. 53544/sapa. Desti Samarenna. AuGereja Menyikapi Arus Globalisasi Digital,Ay Jurnal EFATA: Jurnal Teologi Dan Pelayanan, 2021, https://doi. org/10. 47543/efata. Eko Sulistyo. Talizaro Tafonao, and Septerianus Waruwu. AuMemahami Peran Generasi Dalam Tonggak Kepemimpinan: Menavigasi Tantangan Dan Peluang Gereja Di Era Digital Sebagai Bagian Dari Relevansi Pelayanan,Ay Jurnal Ilmiah Multidisiplin 1, no. 2 (February 1, 2. : 87Ae105, https://doi. org/10. 62282/juilmu. Paulus Purwoto et al. AuAktualisasi Amanat Agung Di Era Masyarakat 5. 0,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 2021, https://doi. org/10. 30648/dun. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia sulit untuk dijangkau. 9 Dengan demikian, kepemimpinan gereja yang visioner dan adaptif menjadi kunci untuk memastikan bahwa misi penginjilan tetap relevan, berdampak, dan menjangkau hingga ke pelosok dunia digital. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji peran gereja dalam merespons perkembangan teknologi digital, khususnya dalam hal pemanfaatan media sosial, yaitu podcast berperan sebagai media strategis dalam penginjilan digital, memungkinkan gereja menjangkau jemaat dan masyarakat luas secara fleksibel dan kontekstual di tengah era disrupsi. Melalui konten berbasis firman dan refleksi teologis, podcast menjadi sarana pembentukan etis dan spiritual yang memperkuat misi gereja di ruang digital. 10 Penelitian tersebut dinyatakan oleh Aji Suseno dkk, yang juga menekankan pelaksanaan misi dalam era digital harus berpijak pada Amanat Agung, di mana penggunaan teknologi seperti media sosial dan podcast menjadi sarana strategis untuk menyebarkan Injil secara luas, relevan, dan kontekstual. Oleh karena itu, gereja perlu membekali jemaat dengan etika digital yang berlandaskan firman Tuhan, agar misi digital tidak hanya efektif, tetapi juga tetap mencerminkan nilai-nilai Kristiani dan memuliakan Tuhan di tengah tantangan 11 Beberapa studi juga telah menyoroti pentingnya bermisi dalam basis digital merupakan bentuk transformasi misi Kristen yang menyesuaikan diri dengan dinamika era Revolusi Industri 0, di mana teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Melalui pendekatan ini, gereja ditantang untuk memberitakan Injil secara kreatif dan kontekstual dengan memanfaatkan platform digital guna menjangkau generasi yang hidup dalam budaya teknologi. Penelitian tersebut dalam pembahasannya menekankan bahwa transformasi misi Kristen dalam era Revolusi Industri 4. 0 menuntut gereja untuk mengadopsi pendekatan digital sebagai respons terhadap perubahan peradaban dan budaya komunikasi manusia. Misi yang berbasis digital bukanlah pengurangan dari esensi iman, melainkan bentuk pewartaan Injil yang kontekstual, relevan, dan menjangkau lebih luas melalui media yang akrab dengan generasi masa kini. Oleh karena itu, bermisi di era digital menjadi upaya strategis gereja untuk mewujudkan karya keselamatan Allah secara transformatif tanpa meninggalkan dasar teologis yang alkitabiah. Berdasarkan dari latar belakang masalah dan penelitian sebelumnya maka masih ada celah yang belum diteliti dan di sinilah letak kesenjangan penelitian . esearch ga. yang ingin dijawab melalui kajian ini, yaitu perlunya sebuah pendekatan yang mengintegrasikan antara teologi penginjilan yang mendalam dengan praktik misi digital dalam konteks kepemimpinan gereja. Penelitian ini tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi dalam pelayanan, tetapi juga menekankan pentingnya landasan teologis yang kuat agar setiap bentuk inovasi digital tetap setia Yosua Feliciano Camerling. Mershy Ch. Lauled, and Sarah Citra Eunike. AuGereja Bermisi Melalui Media Digital Di Era Revolusi Industri 4. 0,Ay Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen 2, no. : 1Ae22, https://doi. org/10. 35909/visiodei. Aji Suseno. Yonatan Alex Arifianto, and Yohana Fajar Rahayu. AuPeran Podcast Dalam Penginjilan Digital. Upaya Gereja Terhadap Misi Dan Pembentukan Etis Teologis Jemaat Di Era Disrupsi,Ay Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia 5, no. : 30Ae42, https://doi. org/10. 54403/rjtpi. Suseno. Arifianto, and Rahayu. Delpi Novianti and Alon Mandimpu Nainggolan. AuBermisi Dalam Basis Digital Sebagai Transformasi Misi Kristen Di Era Revolusi Industri 4. 0,Ay Tepian: Jurnal Misiologi Dan Komunikasi Kristen 2, no. : 29Ae Novianti and Nainggolan. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia pada misi utama gereja, yakni memberitakan Injil dengan cara yang relevan dan kontekstual di era METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif,14 dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. , untuk menganalisis secara mendalam integrasi antara teologi penginjilan dan misi digital dalam konteks kepemimpinan gereja di era teknologi. Sumber penelitian terdiri dari literatur teologi, buku-buku akademik, artikel jurnal ilmiah sinta maupun ingternasional bereputasi, dan dokumen gerejawi. Langkah-langkah dalam penelitian ini, yaitu langkah pertama, mengkaji hakikat teologi penginjilan sebagai dasar biblis dan relevansinya di era digital. Selanjutnya, menganalisis konsep dan praktik misi digital dalam konteks pelayanan gereja. Lalu, mengeksplorasi kepemimpinan gereja di era teknologi dan responsnya terhadap perubahan digital. Berikutnya, mengintegrasikan teologi penginjilan dengan misi digital secara teologis dan praktis. Dan pada akhirnya, merumuskan model kepemimpinan penginjilan digital bagi gereja masa depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hakikat Teologi Penginjilan: Dasar Biblis dan Relevansinya di Era Digital Penginjilan merupakan inti dari misi Allah . issio De. yang dinyatakan kepada umat manusia melalui Yesus Kristus. Dalam konteks biblis, penginjilan bukan sekadar aktivitas tambahan gereja, melainkan mandat ilahi yang berakar kuat dalam keseluruhan narasi Alkitab. Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 menjadi dasar eksplisit dari teologi penginjilan, di mana Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk "pergi, jadikanlah semua bangsa murid-Ku," yang mencakup tiga tindakan utama: memberitakan Injil, membaptis, dan mengajar. Ini adalah panggilan universal dan kekal yang menunjukkan bahwa penginjilan adalah tindakan penyataan kasih Allah kepada dunia yang berdosa, dan merupakan tugas utama gereja di sepanjang zaman. Menurut Harianto, hakikat misi merupakan tindakan penyelamatan Allah yang berlangsung secara dinamis untuk menyelamatkan manusia yang berdosa di seluruh dunia, sekaligus mewujudkan karya Allah di tengah kehidupan manusia. 15 Begitu juga dengan Yakob Tomatala mendefinisikan misi sebagai rencana pengutusan Allah yang bersifat kekal (Missio De. , dengan tujuan utama membawa damai sejahtera . bagi umat manusia dan seluruh ciptaan-Nya, demi kemuliaan dan kejayaan Kerajaan Allah. 16 jadi teologi penginjilan berakar pada karakter Allah sendiri. Allah yang aktif menjumpai manusia. Dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana Allah mengutus para nabi untuk menyampaikan firman-Nya kepada bangsa Israel dan kepada bangsa-bangsa lain (Yes 49:. Dalam Perjanjian Baru, puncak pengutusan itu terlihat dalam inkarnasi Yesus Kristus. Sang Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:. , sebagai perwujudan misi penyelamatan Allah bagi dunia. Lukas 19:10 menegaskan bahwa AuAnak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang,Ay yang menjadi dasar motivasi misi penginjilan gereja. Sugiyono, metode penelitian kuantitatif, kualitatif,dan R&D. Alfabeta, cv. 233, 90 . Harianto. Pengantar Misiologi (Yogyakarta: Anggota Ikapi, 2. , 89. Yakob Tomatala. Teologi Misi-Pengantar Misiologi: Suatu Dogmatika Alkitabiah Tentang Misi. Penginjilan Dan Pertumbuhan Gereja (Jakarta: YT Leadership Foundation, 2. , 67. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Dalam kitab Kisah Para Rasul memberikan gambaran konkret tentang bagaimana gereja mula-mula memahami dan mengimplementasikan Amanat Agung. Rasul Paulus, misalnya, menunjukkan bahwa penginjilan tidak dibatasi oleh lokasi atau budaya tertentu, tetapi harus disampaikan kepada semua orang (Rom 1:16. 1 Kor 9:22-. Ini menegaskan bahwa penginjilan dan gereja menjalankan misi bukan demi kepentingannya sendiri, melainkan demi membawa kabar keselamatan bagi dunia. 17 yang berdasarkan pada nilai biblical dan inti Injil yaitu, kematian dan kebangkitan Kristus sebagai jalan keselamatan . Kor 15:3-. Terlebih adanya peran kasih Allah yang dinyatakan dalam penyelamatan orang berdosa, sebagaimana tertulis dalam Roma 5:811, menjadi motivasi utama bagi gereja masa kini untuk melaksanakan penginjilan sebagai bentuk ketaatan terhadap Amanat Agung Yesus Kristus. 18 Dari dasar biblical tersebut sejatinya mengarah pada keutamaan Yesus Kristus yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan bagi seluruh umat Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penginjilan tetap menjadi tugas yang relevan dan wajib dilakukan oleh setiap pengikut Kristus secara bijaksana dan tulus, agar setiap orang memiliki kesempatan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta memperoleh Keselamatan tersebut bersifat pribadi, sehingga setiap individu harus memberikan respons pribadi terhadap pemberitaan Injil. 19 Dengan demikian, dasar biblis yang kuat tentang kasih Allah, kematian dan kebangkitan Kristus, serta keteladanan gereja mula-mula menjadi fondasi utama yang menegaskan bahwa penginjilan adalah panggilan universal yang harus dijalankan secara kontekstual, bijaksana, dan pribadi oleh setiap pengikut Kristus demi keselamatan dunia. Di era digital, relevansi teologi penginjilan tetap kuat, namun cara penyampaiannya perlu Dunia digital telah menciptakan Auruang misi baruAy di mana miliaran orang terhubung setiap harinya. Dan era digital membuka peluang sekaligus tantangan bagi penginjilan. Di satu sisi, teknologi memungkinkan jangkauan dan keterlibatan yang lebih luas. namun di sisi lain, gereja perlu mempertimbangkan secara saksama perubahan budaya yang ditimbulkan oleh kemajuan digital. Oleh karena itu, strategi penginjilan harus disesuaikan agar tetap relevan dan efektif dalam konteks yang terus berkembang ini. 20 Sebab nilai penginjilan digital disorot sebagai sarana untuk terlibat dengan khalayak yang lebih luas dan mempertahankan relevansi Gereja di era digital. 21 Hal itu juga dinyatakan oleh rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:22 berkata. AuBagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Ay Prinsip ini menjadi dasar untuk merespons budaya digital masa kini. Camerling. Lauled, and Eunike. AuGereja Bermisi Melalui Media Digital Di Era Revolusi Industri 4. Ay Budi Kartika and Kalis Stevanus. AuMenggagas Kasih Allah Sebagai Dasar Penginjilan Gereja Masa Kini Menurut Roma 5:8-11,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 2023, https://doi. org/10. 34081/fidei. Kalis Stevanus. AuKarya Kristus Sebagai Dasar Penginjilan Di Dunia Non-Kristen,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 3, no. : 1Ae19, https://doi. org/10. 34081/fidei. Lucio Adriyn Ruiz. AuNew Evangelization. New Technologies. Evangelization in the Digital Age,Ay Trypodos 35, no. : 75Ae91, http://w. com/index. php/Facultat_Comunicacio_Blanquerna/article/view/194/227. Yonatan Alex Arifianto. Jirmia Dofi Suharijono, and Kariyanto Kariyanto. AuDinamika Misiologi Di Era Digital: Mengaktualisasikan Kekristenan Dalam Penginjilan Online,Ay Boskos Daskalios: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. : 1Ae12. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia bukan dengan mengkompromikan Injil, tetapi dengan menyampaikannya melalui cara dan media yang dapat dipahami generasi digital. Sebab upaya penginjilan, dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk mengkomunikasikan pesan-pesan Kristen secara efektif. 22 Maka itu penggunaan teknologi seperti media sosial, podcast, video digital, dan platform daring lainnya dapat menjadi alat yang efektif dalam memberitakan Injil, selama tetap menjaga kemurnian pesan nilai alkitabiah dan dasar teologi misi serta integritas etis. Namun, penting untuk diingat bahwa keberhasilan penginjilan tidak semata ditentukan oleh teknologi, melainkan oleh kehadiran Roh Kudus yang bekerja melalui pemberitaan Injil yang setia (Kis 1:. Yang mana Roh Kudus berperan secara aktif dalam pelayanan misi dengan memenuhi dan memberdayakan murid-murid, memilih utusan-utusan tertentu, memimpin pelayanan, berkarya dalam jemaat, menguatkan kesaksian mereka dengan keteguhan dan pengorbanan, serta menunjukkan kesetaraan keselamatan dengan juga memenuhi orang-orang non-Yahudi. 23 Oleh karena itu, penginjilan digital bukanlah pengganti penginjilan konvensional, tetapi bentuk aktualisasi baru dari ketaatan terhadap Amanat Agung. Dengan demikian, hakikat teologi penginjilan tetap sama yaitu menyampaikan kabar keselamatan kepada dunia yang terhilang, berakar pada kasih Allah dan dilaksanakan oleh umat Di era digital ini, gereja dipanggil untuk setia pada panggilannya, sambil bijak dan kreatif menggunakan media yang tersedia untuk menjangkau jiwa-jiwa demi kemuliaan nama Tuhan. Konsep dan Praktik Misi Digital Misi digital adalah bentuk kontekstual dari misi Kristen yang merespons perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital. Era digital telah merevolusi cara kepemimpinan dan misi dijalankan, sehingga dibutuhkan penyesuaian dalam hal keterampilan teknologi, pengelolaan, dan komunikasi agar pelayanan misi dapat berlangsung secara efektif di tengah konteks digital. 24 Dan hal itu dapat mengupayakan gereja dan orang percaya untuk menyampaikan Injil serta menghadirkan kehadiran Kristus melalui media digital, seperti media sosial, situs web, podcast, video streaming, dan berbagai platform komunikasi online lainnya. Konsep misi digital tidak hanya sekadar mentransfer pesan-pesan iman ke ranah virtual, tetapi juga menyesuaikan pendekatan penginjilan dengan budaya digital yang berkembang di tengah masyarakat global. Sehingga dasar ini membangun misi digital yang menekankan pentingnya kehadiran gereja di dunia maya, yang sering menjadi tempat pertama seseorang mencari jawaban tentang kehidupan, iman, dan spiritualitas. Ini mendorong gereja demi generasi Kristen dalam membawa semangat dan juga memiliki pengaruh pelayanan bagi gereja di era digitalisasi. 25 Sebab kehadiran ini bukan Margareta Margareta and Romi Lie. AuPelayanan Misi Kontekstual Di Era Masyarakat Digital,Ay Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 44, https://doi. org/10. 25278/jitpk. Randy Frank Rouw. AuTugas Roh Kudus Dalam Misi Berdasarkan Kitab Kisah Para Rasul,Ay Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH), 2019, https://doi. org/10. 37364/jireh. Rajiman Andrianus Sirait. Alon Mandimpu Nainggolan, and Delpi Novianti. AuChurch and Science: Developing Missionary Leadership in The Digitalization Era,Ay KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen Dan Pemberdayaan Jemaat 4, no. : 95Ae109, https://doi. org/10. 34307/kinaa. Renny Tade Bengu. AuStrategi Mengembangkan Pelayanan Misi Dengan Pendekatan Connecting Sebagai Role Model Pelayanan Penginjilan Bagi Remaja Di Era Digital,Ay Excelsis Deo: Jurnal Teologi. Misiologi. Dan Pendidikan 7, no. , https://doi. org/10. 51730/ed. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia hanya formal atau institusional, tetapi juga bersifat relasional dan partisipatif, di mana gereja hadir sebagai komunitas yang hidup dan aktif membagikan kasih Allah melalui dialog, konten yang membangun demi menyelamtakana jiwa-jiwa. Dengan demikian, misi digital menjadi sarana strategis dan kontekstual bagi gereja untuk menjangkau dunia dengan Injil melalui kehadiran yang relevan, relasional, dan transformatif di ruang digital. Praktik misi digital mencakup berbagai bentuk dan strategi. Salah satunya adalah penggunaan media sosial sebagai sarana untuk membangun relasi, membagikan renungan, menyelenggarakan ibadah daring, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis yang muncul di tengah masyarakat digital. Media sosial menjadi sarana strategis untuk penginjilan daring, memungkinkan komunitas keagamaan menjangkau individu di ranah digital. Pendekatan ini dianggap penting guna memastikan pesan iman hadir di dunia fisik maupun virtual. 26 Platform digital seperti Instagram. YouTube. TikTok, dan Facebook, gereja dapat menjangkau generasi muda yang hidup dalam ekosistem digital dan menyampaikan kabar baik dengan cara yang kreatif, ringkas, dan komunikatif. Konten seperti video pendek, podcast rohani, artikel reflektif, hingga ruang diskusi daring menjadi cara-cara baru dalam memberitakan Injil. Pendekatan ini bertujuan untuk memuliakan Tuhan dan memperluas kerajaan-Nya melalui komunikasi horizontal dengan orang-orang di seluruh dunia. 27 Selain itu, praktik misi digital juga menuntut adanya transformasi pola pikir gereja terhadap pelayanan. Gereja tidak lagi bisa berpikir bahwa penginjilan hanya terjadi di mimbar atau ruang gereja fisik, tetapi juga harus mengakui bahwa ruang digital adalah "lahan misi" yang sah dan mendesak. Untuk itu, para pelayan dan pemimpin gereja perlu diperlengkapi dengan literasi digital dan kesadaran kontekstual agar mampu merancang pelayanan yang relevan dan teologis di era teknologi ini. Maka itu praktik misi digital menuntut gereja untuk hadir secara aktif, kreatif, dan kontekstual di ruang digital sebagai lahan misi yang sah, dengan memanfaatkan media teknologi informasi untuk memberitakan Injil keselamatan. Misi digital tidak hanya tentang penyampaian pesan, tetapi juga membangun komunitas dan membentuk spiritualitas digital. Komunitas daring dapat menjadi ruang pertumbuhan iman, pembinaan rohani, dan pemuridan. Melalui interaksi yang berkelanjutan, diskusi yang terbuka, dan kesaksian yang otentik, orang-orang percaya dapat menjadi terang dan garam di ruang virtual. Ini menegaskan bahwa misi digital bukanlah sekadar program tambahan, melainkan bagian integral dari panggilan gereja masa kini dalam melaksanakan Amanat Agung secara kontekstual. Oleh karena itu gereja tidak lagi hanya menekankan aturan-aturan liturgis yang kaku, tetapi juga perlu memperhatikan penerapan teologi yang relevan dengan konteks digital saat ini. Sebagai komunitas umat percaya, gereja memiliki tanggung jawab penting dalam menjalankan misi Kristus, yaitu memberitakan keselamatan bagi semua orang. Namun, pewartaan di era digital menghadirkan Artur Banaszak. AuEvangelization Through Social Media Ae Opportunities and Threats to the Religious Life of an Individual and Community,Ay KouciyC i Prawo 11, no. : 45Ae62, https://doi. org/10. 18290/kip22112. Martin J. Lazenby and Cornelius J. Niemandt. AuMissionale Kerkwees En Die Elektroniese Sosiale Media,Ay In Die Skriflig/In Luce Verbi 48, no. : 6, https://doi. org/10. 4102/ids. Manintiro Uling. Yatmini Yatmini, and Leniwan Darmawati Gea. AuPendekatan Kotekstualisasi Misi Bagi Kaum Milenial,Ay Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual 1, no. : 92Ae110, https://doi. org/10. 52157/mak. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia tantangan tersendiri yang harus menjadi perhatian bersama dalam kehidupan bergereja. 29 Tentunya misi digital bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga berperan penting dalam membangun komunitas dan membentuk kehidupan rohani di dunia digital. Penggunaan teknologi dalam praktik iman telah mengubah cara orang percaya berinteraksi dengan iman mereka dan dengan sesama. Perubahan ini sangat terlihat pada generasi digital yang sejak kecil sudah akrab dengan teknologi sebagai bagian dari hidup sehari-hari. Dengan demikian, misi digital adalah bentuk keberlanjutan dari misi Allah (Missio De. dalam menjangkau manusia di segala zaman, termasuk era digital. Ia menuntut gereja untuk hadir secara aktif, adaptif, dan tetap setia pada Injil di tengah perubahan zaman, demi kemuliaan Kristus dan keselamatan dunia. Kepemimpinan Gereja Era Teknologi Perkembangan teknologi digital telah memberikan dampak yang besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ranah kepemimpinan gereja. Gereja kini tidak lagi terbatas pada ruang fisik semata, melainkan juga hadir secara aktif di ruang digital yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan umat. Pemimpin gereja memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi era disrupsi seperti saat ini. Diperlukan kesiapan dari para pemimpin gereja di Indonesia untuk mendorong efektivitas dan pertumbuhan jemaat di tengah tantangan disrupsi Fenomena ini memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan dan dinamika pelayanan gereja. Oleh karena itu, pemimpin gereja dituntut untuk menghadirkan inovasi dan langkah-langkah strategis guna menjawab berbagai tantangan di era di mana banyak hal yang bersifat konvensional mulai tergantikan. 30 Para pemimpin Gereja dihimbau untuk memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai sarana memperluas jangkauan serta meningkatkan efektivitas Hal ini mencakup penggunaan berbagai platform digital untuk kegiatan ibadah, penginjilan, dan penguatan komunitas iman. 31 Situasi ini juga menuntut kepemimpinan gereja untuk beradaptasi dan menghadirkan pelayanan yang relevan sesuai dengan tuntutan zaman Oleh karena itu, seorang pemimpin gereja tidak hanya perlu memiliki kapasitas teologis dan kedewasaan spiritual, tetapi juga dituntut untuk memahami dinamika teknologi serta mampu memanfaatkannya secara bijaksana demi mendukung dan mengembangkan pelayanan gereja secara efektif. Kepemimpinan gereja di era ini mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk memperluas jangkauan pelayanan, demi menguatkan iman umat. Selain itu, pemimpin gereja perlu memiliki literasi digital agar dapat membimbing jemaat, khususnya generasi muda, dalam menghadapi tantangan moral dan spiritual di dunia maya. Hal ini mencakup pemahaman terhadap Stepanus Angga and Antonius Denny Firmanto. AuDigital Ecclesia Sebagai Gereja Sinodal Yang Mendengarkan,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 8, no. : 170Ae83, https://doi. org/10. 30648/dun. Sugiono Sugiono and Mesirawati Waruwu. AuPeran Pemimpin Gereja Dalam Membangun Evektifitas Pelayanan Dan Pertumbuhan Gereja Di Tengah Fenomena Era Disrupsi,Ay Didasko: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. : 111Ae22. Heryanto et al. AuThe Challenge of Church Leaders with the Decline of Youth Spirituality during the Period of the Society 5. 0 Revolution,Ay Pharos Journal of Theology 106, no. : 1Ae23, https://doi. org/10. 46222/PHAROSJOT. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia isu-isu seperti penyebaran hoaks, pornografi digital, hingga gaya hidup individualistis yang dapat melemahkan kehidupan rohani. Maka itu kepemimpinan Kristen perlu memiliki sifat yang kreatif dan mampu beradaptasi secara optimal agar dapat menghadapi tantangan dan dinamika zaman di tengah era disrupsi digital. 32 Namun di tengah tantangan tersebut, kepemimpinan gereja tetap harus berpegang pada prinsip-prinsip iman yang alkitabiah. Teknologi tidak boleh menggantikan esensi ibadah dan relasi dengan Allah, tetapi menjadi sarana untuk memperkuat dan Kepemimpinan yang efektif di era digital pemimpin juga harus mampu menciptakan komunitas daring yang sehat dengan membangun diri berkualitas Ilahi menjadi kunci pokok para pemimpin gereja di masa kini. 33 Dengan demikian, pemimpin gereja berperan sebagai gembala yang tidak hanya menggembalakan di padang yang nyata, tetapi juga di padang digital, demi menjangkau jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran dan pengharapan. Integrasi Teologi Penginjilan dan Misi Digital dalam Kepemimpinan Penginjilan Digital bagi Gereja Masa Depan Dunia yang semakin terhubung melalui internet dan media sosial telah menciptakan suatu ruang baru yang juga menjadi medan misi. Dalam konteks ini, integrasi antara teologi penginjilan dan misi digital menjadi sangat penting, khususnya dalam membentuk pola kepemimpinan gereja yang relevan dan efektif di era digital. Mengintegrasikan misi digital dengan teologi penginjilan memerlukan landasan teologis yang matang, yang tetap menghargai eklesiologi tradisional sekaligus menyesuaikan diri dengan realitas dunia digital. 34 Kepemimpinan penginjilan digital bukan hanya soal penggunaan teknologi, tetapi lebih dalam lagi, yaitu bagaimana memadukan dasar teologis yang kuat dengan strategi misi yang kontekstual dalam menyampaikan Injil kepada generasi masa depan. Bila melihat tokoh Perjanjian Baru yaitu rasul Paulus, bahwa dalam kepemimpinan misi Paulus mencerminkan integritas melalui doa dan keterlibatan langsung dalam pengabaran Injil. Ia juga membentuk pemimpin lokal dengan mendidik jemaat, menetapkan standar misionaris, serta mempersiapkan dan mendukung mereka melalui doa dan solusi atas tantangan yang dihadapi. Di atas semua itu, seluruh strategi Paulus selalu berakar pada ketergantungan penuh kepada Allah sebagai sumber utama misi. 35 Dan tentunya dalam membangun teologi penginjilan tetap berpijak pada mandat Amanat Agung Yesus Kristus, yakni memberitakan Injil kepada segala bangsa. Teologi ini menekankan bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus dan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk bersaksi dan membawa kabar baik kepada dunia. Akdel Parhusip. AuModel Kepemimpinan Kristen Inovatif-Efektif: Sebuah Tawaran Dalam Merespons Tantangan Di Era Disruptif,Ay JURNAL TERUNA BHAKTI 5, no. : 302Ae11. Yonatan Alex Arifianto. Carolina Etnasari Anjaya, and Andreas Joswanto. AuKajian Teologis Atas Konsep Otoritas Dalam Matius 25:14-30 Dan Refleksinya Bagi Kepemimpinan Gereja Era Digital,Ay CHARISTHEO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 2, no. : 167Ae80, https://doi. org/10. 54592/jct. Daekyung Jung. AuChurch in the Digital Age: From Online Church to Church-Online,Ay Theology and Science 21, no. 4 (October 2, 2. : 781Ae805, https://doi. org/10. 1080/14746700. Yonatan Alex Arifianto. AuPeran Kepemimpinan Misi Paulus Dan Implikasinya Bagi Pemimpin Misi Masa Kini,Ay Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3. 4, no. : 67Ae88, https://doi. org/10. 54345/jta. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Misi digital adalah bentuk kontekstual dari pelaksanaan Amanat Agung dalam dunia yang telah berubah oleh teknologi. Artinya, misi digital bukan sekadar memindahkan aktivitas gereja ke ranah online, tetapi mencerminkan upaya strategis dan bijaksana dalam menjawab kebutuhan spiritual manusia modern yang hidup di dunia maya. Dalam kepemimpinan penginjilan digital, integrasi antara teologi penginjilan dan misi digital menuntut adanya pemimpin-pemimpin gereja yang tidak hanya menguasai isi teologis, tetapi juga memahami cara berkomunikasi yang efektif di dunia digital. Sebab dalam dimensi ilahi. Alkitab menunjukkan bahwa Allah yang berdaulat mempersiapkan seorang pemimpin dengan melibatkan manusia sebagai alat-Nya untuk membina, membimbing, dan melatih individu yang akan melanjutkan visi serta misi Allah bagi suatu gereja atau lembaga pelayanan. 36 Dan tentunya para pemimpin ini mampu memanfaatkan platform seperti media sosial, podcast, live streaming, hingga artificial intelligence, bukan hanya sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi sebagai alat untuk membangun hubungan, berdialog, dan pemberitaan Injil sampai pada peran kekristenan dalam memuridkan. Kepemimpinan semacam ini bersifat visioner dan partisipatif, di mana gereja tidak hanya menjadi penyiar pesan, tetapi juga hadir sebagai komunitas digital yang hidup, hangat, dan relevan bagi masyarakat modern. Gereja masa depan harus dipimpin oleh pemimpin yang mampu membaca tanda-tanda zaman dan menjawab tantangan era digital dengan iman yang kokoh dan kreativitas yang tinggi. Di mana para pemimpin ini diharapkan mampu menginspirasi para pengikutnya dengan mentransfer nilai-nilai positif melalui keteladanan dalam sikap dan tindakan mereka. 37 Maka itu mereka tidak boleh mengorbankan kebenaran Injil demi popularitas atau tren digital, tetapi justru harus menghidupi Injil dalam bentuk yang dapat dipahami dan diterima oleh generasi digital. Oleh karena itu, pelatihan kepemimpinan yang mengintegrasikan pemahaman teologis dan keterampilan digital menjadi keharusan dalam menyiapkan gereja yang mampu bertumbuh dan bermisi di masa dengan dmeikian dalam integrasi teologi penginjilan dan misi digital merupakan fondasi penting bagi kepemimpinan penginjilan digital yang efektif. Gereja masa depan akan sangat ditentukan oleh sejauh mana pemimpinnya mampu menjembatani iman tradisional dengan konteks digital, demi menjangkau jiwa-jiwa dan menyatakan kasih Kristus di era yang terus berubah. KESIMPULAN Para pemimpin dalam komunitas iman tidak hanya berfungsi sebagai pengambil keputusan atau pengarah visi, tetapi juga sebagai teladan yang hidup. Mereka diharapkan menjadi pribadi yang mampu menyentuh hati para pengikutnya dengan menunjukkan integritas, kasih, dan keteladanan dalam setiap tindakan dan perkataan. Kepemimpinan seperti ini tidak hanya bersifat instruksional, tetapi juga transformatif, karena nilai-nilai yang ditanamkan melalui tindakan nyata jauh lebih berpengaruh dibandingkan sekadar perintah atau ajaran verbal Karlitu Dias Markes. AuSuksesi Kepemimpinan Musa Kepada Yosua Sebagai Model Regenerasi Kepemimpinan Kristen Masa Kini,Ay Bonafide: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 214Ae36. Daniel Runtuwene. AuMemimpin Dengan Nilai-Nilai Pengajaran Yesus Dalam Khotbah Di Bukit: Sebuah Studi Implementasi Pada Pemimpin Gereja Di Indonesia,Ay Jurnal Apokalupsis 12, no. : 212Ae31, https://doi. org/10. 52849/apokalupsis. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Dengan demikian, pemimpin yang baik adalah mereka yang dapat mengimpartasikan nilai-nilai positif melalui kehidupan sehari-hari yang konsisten dan penuh integritas. Ketika seorang pemimpin menunjukkan perilaku yang mencerminkan kasih Kristus, kerendahan hati, keadilan, dan kesetiaan, maka para pengikut pun akan terdorong untuk meneladani nilai-nilai tersebut. Transformasi karakter dan spiritualitas jemaat tidak hanya terjadi melalui pengajaran, tetapi juga melalui pengalaman nyata melihat pemimpinnya hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan. DAFTAR PUSTAKA