Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU MENGGOSOK GIGI PADA ANAK: LITERATUR REVIEW ANALYSIS OF FACTORS INFLUENCING TEETH BRUSHING BEHAVIOR INI CHILDREN :LITERATURE REVIEW Nofi Umairahmah1. Fika Indah Prasetya2 STIKes Bhakti Al-Qodiri. Jember. Jawa Timur. Indonesia Email Korespondensi : fikaindahp@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Untuk perilaku menyikat gigi yang benar menyebutkan bahwa baru 2,8% penduduk Indonesia yang sudah menyikat gigi dua kali sehari yakni pagi dan malam secara benar. Mayoritas orang tua kurang menyadari bahkan tidak menyadari bahwa dampak yang timbul dari permasalan gigi akan sangat besar bila anak tidak dibimbing untuk melakukan perawatan gigi sejak dini. Tujuan dari Iiterature review ini adalah menganalisis faktor yang memengaruhi perilaku menggosok gigi pada anak. Metode: Teknik pengambilan data menggunakan Direct. EBSCO dan Google Scholar dengan menggunakan metode PIOS (Participant. Intervention. Outcomes and Study Desig. dan istilah MeSH pada mesin pencarian. Kata kunci AuperilakuAy or AubehaviorAy and Aumenggosok gigiAy or Aubrushing teethAy and AupengetahuanAy or AuknowledgeAy. Data yang diambil adalah journal yang terbit tahun 2020-2024 berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia serta original article. Dari n= 3. 160 artikel yang di temukan, hanya n=10 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Beberapa faktor yang dinilai berpengaruh terhadap perilaku anak menggosok gigi, yaitu PHBS, pengetahuan, peran orang tua, sikap, perilaku kebiasaan menggsosok gigi, jenis kelamin, usia dan pola menyikat gigi. Kesimpulan: Perilaku anak yang kurang baik terhadap menggosok gigi merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan orang tua dalam menerapkan kebiasaan dan cara merawat gigi dengan baik. Kemampuan mengidentifikasi faktor tersebut sangat penting, guna kelanjutan intervensi keperawatan yang akan memperbaiki dan meningkatkan kualitas kesehatan gigi dan mulut pada anak. Kata kunci : Perilaku, pengetahuan, gosok gigi, anak ABSTRACT Background: One of the causes of dental and oral health problems in children is the behavioral factor or attitude of ignoring dental and oral hygiene. Regarding correct tooth brushing behavior, it is stated that only 2. 8% of the Indonesian population brushes their teeth twice a day, namely morning and night. The majority of parents are not aware or even aware that the impact of dental problems will be very large if their children are not guided to receive dental care from an early age. The aim of this literature review is to analyze the factors that influence children's tooth brushing behavior. Methods: Data collection techniques used Direct. EBSCO and Google Scholar using the PIOS (Participant. Intervention. Outcomes and Study Desig. method and MeSH terms in the search engine. Key words "behavior" and "brushing teeth" and "knowledge" or "knowledge". The data taken are journals published in 2020-2024 in English and Indonesian as well as original articles. Of the n= 3,160 articles found, only n=10 met the inclusion criteria. Results: The results of this literature review explain that there are several factors that are considered to influence children's tooth brushing behavior, namely PHBS, knowledge, role of parents, attitudes, behavior, tooth brushing habits, dental hygiene, type of food, tooth brushing patterns. Conclusion: The conclusion from this literature review is that children's poor behavior towards brushing their teeth is the result of parents' lack of knowledge in implementing habits and how to care for their teeth properly. The ability to identify these factors is very important, in order to continue nursing interventions that will improve and improve the quality of dental and oral health in children. Keywords : Behavior, knowlage, brushing teeth, children Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 PENDAHULUAN Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia saat ini tergolong cukup tinggi. Salah satu penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Untuk perilaku menyikat gigi yang benar menyebutkan bahwa baru 2,8% penduduk Indonesia yang sudah menyikat gigi dua kali sehari yakni pagi dan malam secara benar. Berbagai penyakit yang muncul dalam mulut disebabkan oleh berbagai faktor yaitu sikap atau perilaku yang mengabaikan kebersihan gigi dan mulut karena kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut, malas menyikat gigi, menyikat gigi dan mulut dengan cara yang salah dan tidak benar serta makan-makanan dan minuman yang 3 Masalah kesehatan gigi dan mulut dapat menyebabkan sakit gigi jika tidak ditangani, anak malas beraktivitas, anak tidak masuk sekolah, kehilangan nafsu makan, dan gangguan tumbuh kembang pada anak. Keadaan oral hygiene yang buruk seperti adanya kalkulus dan stain, banyak karies gigi, serta keadaan tidak bergigi atau ompong dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan seharihari. Hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018 menyebutkan bahwa 93 persen anak usia dini, yakni dalam rentang usia 5-6 tahun, mengalami gigi berlubang. 6 Menurut data dari Pengurus Besar PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesi. menyebutkan bahwa sedikitnya 89% penderita gigi berlubang adalah anak-anak usia sekolah di bawah 12 tahun sehingga anak usia sekolah dasar merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan terhadap penyakit gigi terutama karies dan radang gusi. 7 Hasil Riskesdas menunjukkan bahwa 57,6% Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. pada tahun 2018 masalah kesehatan gigi dan mulut mengalami peningkatan dua kali lipat lebih tinggi dari tahun 2013 yaitu 25,9% menjadi 57,6%. Prevalensi terjadinya karies gigi dan karies gigi akar pada usia sekolah yaitu sebanyak 92,6% dan karies gigi akar sebanyak 28,5%. Penelitian membuktikan sebagian besar taman kanak kanak sering mengkonsumsi makanan manis . %) dan memiliki kebiasaan gosok gigi yang buruk yaitu 51,1%. 9 Anakanak selalu menginginkan makanan yang menurut mereka menarik. Makanan yang paling disukai anak sekolah adalah makanan yang manis dan lengket seperti susu, roti dan coklat, yang juga dikenal sebagai makanan 4 Kurangnya perhatian dan pengetahuan orang tua terhadap perawatan gigi pada anak disebabkan karena adanya anggapan bahwa gigi anak akan digantikan dengan gigi Mayoritas orang tua kurang menyadari bahkan tidak menyadari bahwa dampak yang timbul dari permasalan gigi akan sangat besar bila anak tidak dibimbing untuk melakukan perawatan gigi sejak dini. Perilaku untuk menjaga kesehatan gigi adalah dengan cara menggosok gigi. Pengenalan waktu dan cara menggosok gigi yang baik dan benar perlu dipahami oleh anak. Kebiasaan menanamkan peduli kesehatan gigi dan mulut juga perlu mendapatkan dukungan dari orang tua. Pengeahuan ibu yang baik akan berdampak positif terhadap status kesehatan gigi dan mulut anak. 9 Perawatan dapat di mulai dari memperhatikan diet makanan, dan jangan terlalu banyak makanan yang mengandung gula dan makanan yang tidak lengket. Pembersihan plaks dan sisa makanan yang tersisa dengan menyikat gigi, teknik dan caranya jangan sampai merusak struktur gigi dan gusi. Pembersihan karang gigi dan penambalan gigi yang berlubang oleh dokter gigi, serta pencabutan gigi yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan merupakan fokal Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi perilaku menggosok gigi antara lain pengetahuan, peran orang tua, peran guru, peran petugas kesehatan, sikap, perilaku, kebiasaan menggosok gigi, jenis kelamin, usia, serta pola menyikat gigi. Adapun tujuan penulisan literature review ini adalah untuk menganalisis faktor faktor yang memengaruhi perilaku menggosok gigi pada anak. METODE Desain penelelitian ini adalah literature review dengan melakukan rangkuman dari beberapa kesimpulan artikel yang kemudian Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 akan dinarasikan. 11 Eligibility criteria meliputi kriteria Inklusi dan ekslusi. Kriteria inklusi pada literatue review ini antara lain: . artikel berbahasa Inggris dan Indonesia, . dipublikasi tahun 2020-2024, . penelitian asli . riginal researc. , . rumusan masalah yang dibahas yaitu faktor yang mempengaruhi perilaku menggosok gigi. Kriteria ekslusi artikel yang Tidak menggambarkan tujuan dari penulisan literature review, . artikel yang dipublikasi tidak lengkap . bstract onl. , . studi meta analisis/ review. Literature review ini dimulai dari bulan januari-februari menggunakan database elektronik: pencarian artikel yang terbit dari tahun 2020-2024 pada database: PubMed. Ebsco. ScienceDirect. dan Google Scholar. Study menggunakan diagram alur PRISMA dari jumlah artikel awal yaitu 3160 artikel yang di ambil dari database PubMed= 3 artikel. Ebsco = 11 artikel. ScienceDirect= 56 artikel. Google Scholar = 3090 artikel. Tahap berikutnya yaitu melakukan skrining dan di eksklusi sebanyak 3000 artikel karena tidak relevan dengan tujuan literature review. Pada tahap tiga dilakukan skrining abstrak artikel yang tidak memenuhi kriteria inklusi yaitu 160 Tahap melihat kelayakan dengan mebaca full-text journal sebanyak 20 artikel di dapatkan hanya 10 artikel yang memenuhi kriteria penulisan literature review ini yang selanjutnya di telaah. HASIL Penulis (Tahu. Tita Kartika Dewi. Fanny Nurramdhani Syaefuddin Rita Darmayanti. Erna Irawan. Nurul Iklima. Putri Anggriani. Nining Handayani . Metode Hasil Database D: cross sectional Hasil penelitian menunjukkan Google Scolar bahwa pada pengetahuan S: 42 sampel menggosok gigi p value 0,000 V: perilaku hidup bersih < 0,05 yang menunjukkan sehat, hubungan antara Perilaku pengetahuan, perilaku Hidup Bersih dan Sehat menggosok gigi. menggosok gigi. Sedangkan pada perilaku menggosok gigi I : kuesioner di dapatkan nilai p value 0,002 A : uji statistik spearrman < 0,05 hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Perilaku menggosok gigi. D: Cross sectional S: siswa kelas V di SDN 045 Pasir Kaliki Bandung yang berjumlah 56 siswa V: Hubungan. Menggosok Gigi. Karies Gigi. Anak. Sekolah Dasar Perilaku menggosok gigi dan kejadian karies gigi memiliki hubungan yang kuat dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,731 dan bermakna dengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Perilaku menggosok gigi dan kejadian karies gigi memiliki korelasi negatif yang berarti semakin baik perilaku Google Scolar Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 I: Kuesioner menggosok gigi maka semakin rendah kejadian karies gigi. A: korelasi rank pearman Afifatus Sholikhah. Iil Dwi Lactona D: Cross sectional . V: Pengetahuan. Orang Tua. Perilaku. Anak Usia Sekolah. Gosok Gigi S: 36 responden I: Kuesioner A: spearman rho Agustinus Talindong. Jumain. Sepriyanti Lapato D : Deskriptif S: 43 siswa perilaku, menyikat gigi, anak I: kuesioner A: univariat Tuti Aprilianti. Luqman Effendi D: cross-sectional survey Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan perilaku gosok gigi anak usia Semakin pengetahuan orang tua maka menggosok gigi juga akan baik, begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu diharapkan para orang tua untuk lebih memperhatikan kesehatan gigi anak dengan cara mencari informasi penting tentang perawatan gigi secara baik dan Google Scolar Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku responden dengan kategori perlu Google Scolar responden . ,2%), kategori cukup sebanyak 14 responden . ,6%), kategori baik berjumlah 4 responden . ,3%), kategori sangat baik sebanyak 3 responden . ,0%). Hasil bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat S: 116 siswa antara Peran tenaga kesehatan . value = 0,. dengan V: Perilaku Menggosok Gigi. Siswa, perilaku menggosok gigi. Sedangkan variabel yang tidak Pengetahuan memiliki hubungan yang bermakna yaitu Jenis kelamin. I: kuesioner peran guru, peran orang tua. A: chi square teman sebaya Google Scolar Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 Jahirin. Guntur D: cross-sectional S: 36 responden V: kesehatan gigi, karies I: kuesioner A: Chi Square. Rusnoto. Ckancer Bela Romantis. Muhammad Purnomo. Muhamad Jauhar. D: cross-sectional S: 98 responden V: karies gigi, makanan kariogenik, menyikat I: kuesioner A: Chi square Mulidan. Yuniati. Dian Kasih Putri Halawa D: cross-sectional . V: Pengetahuan. Sikap. Perilaku. Pencegahan Kesehatan gigi Google Scolar dengan kejadian karies gigi. Hal ini menunjukan hubungan antara perilaku menggsosok gigi dengan kejadian karies gigi kuat. Hasil menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara kejadian karies gigi dan perilaku menyikat gigi, dengan nilai p=0,011 . , konsumsi makanan kariogenik yang memicu karies gigi, dengan nilai p=0,030 . Google Scolar Hasil penelitian berdasarkan dengan uji chi-square pada Google Scolar S: 250 orang I: Kuesioner A: chi square Hanis Arum Aqidatunisa. Sri Hidayati. Siti Fitria Ulfah Hasil penelitian yaitu terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara perilaku perilaku menggosok gigi D: cross-sectional Hubungan perilaku kesehatan gigi dan mulut terhadap pengetahuan tinggi dengan pvalue = 0,004, kategori sikap positif dengan p-value = 0,003, dan kategori Tindakan dengan p-value = 0,004. Pola menyikat gigi dalam kategori kurang baik yaitu 89 S: 110 siswa ,9%), Menyikat Gigi, kebersihan gigi dan mulut Kebersihan Gigi dan dalam kategori buruk yaitu 51 Google Scolar Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 Mulut. Anak Sekolah responden . ,4%). Hasil uji Dasar Chi-square yaitu P value 0,002. I: kuesioner A: Chi Square Bella Adinda Fransiska. Basri Aramico. Riza Septiani . D: cross sectional Hasil penelitian menunjukkan S: 84 siswa pengetahuan (P value=0,. V: anak usia sekolah, gigi sikap (P value= 0,. , peran guru (P value= 0,. , peran dan mulut, perilaku orang tua (P value= 0,. , menyikat gigi dan peran petugas kesehatan (P value= 0,. dengan I: kuesioner perilaku menyikat gigi pada A: deskriptif dan Chi anak usia sekolah di Gampong Square Lampulo Tahun 2023. Terdapat beberapa faktor hasil dari artikel yang di-review yang berpengaruh pada perilaku cara menggosok gigi pada anak yaitu pengetahuan, peran orang tua, peran guru, peran petugas kesehatan, sikap, perilaku kebiasaan menggosok gigi, jenis kelamin, usia, serta pola menyikat gigi. PEMBAHASAN Literature review ini menguraikan beragam faktor yang berpengaruh pada perilaku menggosok gigi seperti pengetahuan, peran orang tua, peran guru, peran petugas kesehatan, sikap, perilaku kebiasaan menggosok gigi, jenis kelamin, usia, serta pola menyikat gigi. Pengetahuan Salah satu faktor pengetahuan yang penting adalah pengetahuan tentang kesehatan anak sendiri. Kesehatan anak menjadi penting karena pada fase ini anak akan lebih mudah terserang penyakit. Salah satu yang harus dilakukan oleh orang tua adalah mengajarkan anak untuk selalu menggosok gigi agar gigi anak tetap sehat meskipun anak sering mengkonsumsi coklat dan permen gula. Apabila orang tua berperan maka anak akan mengerti dan mengamati kemudian anak dapat Google Scolar meniru apa yang dilakukan atau diajarkan oleh orang tua mereka. Orang tua harus mengetahui cara merawat gigi anaknya dan orang tua juga harus mengajari anaknya cara merawat gigi yang baik. 12 Persepsi orang tua yang salah yang beranggapan perawatan gigi susu anak tidak terlalu penting karena kelak akan diganti oleh gigi permanen, dapat memberi pengaruh yang buruk terhadap pengetahuan dan sikap anak. Pengetahuan adalah salah satu hal yang penting terutama untuk kesehatan. Tingkat pengetahuan menentukan sebaik apa kita menjaga kebersihan diri termasuk kebersihan mulut dan gigi. Kesimpulan yang sama dari hasil penelitian Afiatus, dkk. menyebutkan hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan perilaku gosok gigi anak usia Semakin baik pengetahuan orang tua maka perilaku anak dalam menggosok gigi juga akan baik, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu diharapkan para orang tua untuk lebih memperhatikan kesehatan gigi anak dengan cara mencari informasi penting tentang perawatan gigi secara baik dan benar. Peran orang tua Peran orang tua menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku anak dalam Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 menggosok gigi. hasil uji menunjukkan bahwa siswa yang kurang baik dalam perilaku menggosok giginya lebih banyak pada mereka yang peran orang tuanya baik yaitu 62,7% dibandingkan dengan yang peran orang tuanya yang kurang baik yaitu 55,1%. 13 orang tua yang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah dapat mempengaruhi perilaku gosok gigi anak dan dapat beresiko pada masalah kesehatan gigi seperti karang gigi, gangvitis dan gigi Peran orang tua pada anak sangatlah Pada masa ini anak-anak menganggap orang tua sebagai orang dewasa yang tahu Orang tua memiliki peran dalam memberikan informasi dan pengetahuan kepada anak di rumah. Peran orang tua dan pola asuh terhadap responden sejak dini, baik itu berupa bimbingan dan pengawasan akan dapat memotivasi anak (Laraswati, 2. 14 Apabila orang tua berperan maka anak akan mengerti dan mengamati kemudiananak dapat meniru apa yang dilakukanatau diajarkan oleh orang tua mereka. Peran guru Berdasarkan hasil penelitian Tuti, dkk. 13, menunjukan bahwa siswa yang berperilaku menggosok gigi kurang baik lebih banyak yang peran gurunya kurang baik yaitu 42,3% dibandingkan dengan yang peran gurunya baik sebanyak yaitu 34,2%. Analisis lebih lanjut menunjukan bahwa tidakada hubungan yang bermakna antara peran guru dengan perilaku menggosok gigi pada siswakelas IV. V dan VI di SD Negeri Gadog dengan nilai p-value 0,526. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Bella, dkk. 14, menyertakan sumber teori yang sejalan dengan penelitian nya, yaitu guru adalah orang yang membantu orang lain belajar dengan melatih, menerangkan, memberi ceramah, atau mengevaluasi kemampuan Guru dapat berperan sebagai konselor, pemberi intruksi, motivator dan manajer dalam menunjukkan sesuatu yang baik misalnya dalam perawatan gigi. Guru sekolah memiliki pengaruh yang cenderung relatif sama dengan orang tua namun relatif dominan pada kegiatan UKGS dibandingkan sebagian besar orang tua murid (Riolina dan Oktaviani, 2. Petugas kesehatan Hasil uji dalam penelitian menunjukkan bahwa siswa yang perilaku menggosok giginya kurang baik lebih banyak pada mereka yang peran tenaga kesehatannya baik. Pelayanan kesehatan di sekolah dasar diutamakan pada upaya peningkatan kesehatan . , pencegahan penyakit . , serta penyembuhan dan pemulihan . uratif dan Promosi kesehatan bukan hanya kegiatan penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan tetapi juga merupakan upaya-upaya dalam memfasilitasi perubahan perilaku kesehatan yang diinginkan. Informasi yang diberikan bukan hanya melakukan perubahan perilaku saja melainkan juga upaya perubahan lingkungan, sosial budaya, politik dan ekonomi (Agustini, 2. Promosi kesehatan juga merupakan suatu proses yang mempunyai masukan . dan keluaran . Suatu proses pemberian informasi kesehatan yang bertujuan tercapainya tujuan pendidikan yaitu perubahan perilaku (Riyadi, 2. Sikap dan perilaku kebiasaan menggosok gigi (PHBS) Perilaku adalah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap perilaku menggosok Tita, dkk. Rita, dkk. menyebutkan faktor perilaku memiliki korelasi kuat dengan faktor yang memengaruhi anak dalam menggosok gigi. Jika anak memiliki sikap dan perilaku kebiasaan menggosok gigi yang baik, maka perilaku anak dalam menggosok gigi akan baik pula. Perilaku menggosok gigi dan kejadian karies gigi memiliki hubungan kuat dan bermakna. Dengan koefisien korelasi bernilai negatif, berhubungan tidak searah, yang berarti jika terjadi peningkatan perilaku menggosok gigi maka akan terjadi penurunan kejadian karies Berlaku juga sebaliknya, jika terjadi penurunan perilaku menggosok gigi maka akan terjadi peningkatan kejadian karies gigi. Beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu memelihara kebersihan gigi dan mulut dengan menggosok gigi secara rutin Setidaknya dua kali per hari, sesudah makan dan sebelum tidur malam, sebaiknya menyikat gigi. Ini berfungsi sebagai kebersihan mulut yang Menyikat gigi biasanya 2-4 kali sehari Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 untuk menjaga kebersihan mulut dan mencegah karies gigi (Fauzi, 2. Dianjurkan untuk berkumur setelah makan, tunggu 30 hingga 60 menit hingga mulut menjadi netral kembali akibat sifat astringen air liur, lalu gosok gigi. Sangat disarankan untuk menyikat gigi sebelum tidur karena produksi air liur berkurang saat tidur. Pola menyikat gigi Pola menyikat termasuk faktor yang memengaruhi perilaku menggosok gigi. Kesimpulan yang sama dari hasil penelitian Hanis, dkk. 18, menyebutkan pola menyikat gigi pada anak sekolah dasar dalam kategori kurang baik, dan tidak sesuai seperti yang dianjurkan. Siswa masih belum mengetahui teknik menyikat gigi yang baik dan benar, terutama pada bagian palatal dengan gerakan mencungkil. Pada bagian tersebut semua siswa tidak melakukannya sama sekali, sedangkan pada bagian lingual hanya sebagian kecil responden yang teknik menyikat giginya Terdapat beberapa penelitian yang menyebutkan faktor jenis kelamin dan usia juga menjadi faktor yang memengaruhi perilaku menggosok gigi, tapi terdapat beberapa yang menyebutkan bahwa jenis kelamin tidak ada menggosok gigi pada anak. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Agustinus, dkk. Menurut asumsi peneliti jenis kelamin dapat memengaruhi perilaku seseorang terutama dalam memperhatikan kebersihan hal tersebut dikarenakan menurut asumsi peneliti mayoritas perempuan lebih terampil untuk merawat diri dan lebih memperhatikan personal hygiene dibandingkan laki-laki, sesuai hasil yang di temukan oleh peneliti dari mayoritas responden, responden perempuan yang lebih banyak memperhatikan kebersihan khususnya kebersihan gigi. Menurut asumsi peneliti tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat membuat semakin luas wawasan seseorang, hal tersebut dapat memengaruhi seseorang akan lebih menerapkan perilaku hidup sehat untuk mencegah terjadinya penyakit, semakin luas wawasan seseorang maka seseorang akan lebih pandai mengatur pola hidup sehat salah satunya tentang personal hygiene kebersihan gigi dan mulut. Hasil peneitian ini sejalan dengan pernyataan Marliani . yang mengatakan pengetahuan seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat atau jenjang pendidikannya, karena semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka wawasan yang didapatkan juga lebih banyak, karena mindset seseorang dari tidak tahu menjadi tahu di proses pada saat seseorang mengikuti jenjang KESIMPULAN Dari studi literature review pada 10 jurnal kesimpulan dari studi literature review mempengaruhi perilaku menggosok gigi pada anak yaitu faktor pengetahuan dan peran orang tua, perilaku kebiasaan menggoso gigi, jenis kelamin, usia serta pola menyikat gigi. Faktor yang dominan yakni faktor perilaku. Yang mana faktor perilaku anak yang kurang baik terhadap menggosok gigi merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan orang tua dalam menerapkan kebiasaan dan cara merawat gigi dengan baik. Kemampuan mengidentifikasi faktor tersebut sangat penting, guna kelanjutan intervensi keperawatan yang akan memperbaiki kualitas kesehatan gigi dan mulut pada anak. DAFTAR PUSTAKA