Musica Journal of Music ISSN: 2807-1026 (Online - Elektroni. Available online at: https://journal. isi-padangpanjang. id/index. php/MSC Pertunjukan Solis Trombon dengan Repertoar AuSonata In F MinorAy. AuJoget Hitam ManisAy dan AuDancing QueenAy Muhammad Rheinhard Afana*1. Hafif HR2. Ibnu Sina3. Hadaci Sidik4. Ofa Yutri5 1,2,3,4,5 Program Studi Seni Musik Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Padangpanjang Jl. Bahder Johan. Guguk Malintang. Kec. Padang Panjang Tim. Kota Padang Panjang Email: aangafana@gmail. com1, hafif74hr@gmail. com2, rozalfa69@gmail. com3, hadacisidik@isipadangpanjang. id4, ofayutri@isi-padangpanjang5 * coresponden author Submitted : 16 Februari 2026 Revised : 17 April 2026 Accepted : 10 Mei 2026 ABSTRAK Pertunjukan solis trombon ini merupakan penelitian berbasis praktik yang bertujuan mengeksplorasi kemampuan interpretatif dan fleksibilitas trombon dalam konteks pertunjukan lintas genre melalui penyajian tiga repertoar, yaitu Sonata in F Minor karya Georg Philipp Telemann. Joget Hitam Manis dengan aransemen MelayuAetango, dan Dancing Queen karya ABBA. Penelitian ini menggunakan metode praktik pertunjukan yang meliputi tahap persiapan, proses latihan, pertunjukan, serta evaluasi pasca-pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap repertoar menuntut pendekatan teknik dan interpretasi yang berbeda, baik dari segi artikulasi, frasa, dinamika, maupun pemahaman gaya Sonata in F Minor menekankan penguasaan idiom Barok dan ornamentasi. Joget Hitam Manis menuntut kemampuan memadukan karakter musikal Melayu dan tango, sedangkan Dancing Queen menekankan adaptasi idiom vokal dan groove musik popAedisco ke dalam permainan trombon. Pertunjukan ini membuktikan bahwa trombon memiliki fleksibilitas interpretatif yang luas dan mampu berfungsi sebagai instrumen solis yang komunikatif dalam berbagai genre musik. Kata Kunci: Trombon. Pertunjukan Musik. Interpretasi. Repertoar. Lintas Genre ABSTRACT This solo trombone recital is a practice-based research aimed at exploring the interpretative capacity and flexibility of the trombone as a solo instrument through the performance of three selected repertoires: Sonata in F Minor by Georg Philipp Telemann. Joget Hitam Manis arranged in a MalayAe tango style, and Dancing Queen by ABBA. The research employs a performance-based methodology consisting of preparation, rehearsal process, performance, and post-performance evaluation. The results indicate that each repertoire requires a distinct technical and interpretative approach in terms of articulation, phrasing, dynamics, and stylistic understanding. Sonata in F Minor emphasizes the mastery of Baroque idioms and ornamentation. Joget Hitam Manis demands the ability to blend Malay musical characteristics with tango elements, while Dancing Queen requires adaptation of vocal idioms and popAe disco grooves into trombone performance. This recital demonstrates that the trombone possesses broad interpretative flexibility and is capable of functioning as a communicative solo instrument across diverse musical genres. Keywords: Trombone. Music Performance. Interpretation. Repertoire. Cross-Genre This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri PENDAHULUAN Musik sebagai salah satu bentuk seni yang universal memiliki kemampuan untuk menyampaikan emosi, cerita, dan budaya melalui medium bunyi yang terorganisir. Dalam perkembangan seni musik, instrumen tiup logam khususnya trombon telah menunjukkan versatilitas yang luar biasa dalam berbagai genre musik, mulai dari musik klasik Barok, jazz, hingga musik populer kontemporer (Suryana, 2. Keunikan trombon terletak pada kemampuannya menghasilkan warna suara yang hangat dan ekspresif melalui sistem slide yang memungkinkan produksi nada dengan nuansa yang sangat beragam, menjadikannya instrumen yang ideal untuk eksplorasi lintas-genre (Kristianto, 2. Dalam konteks pendidikan tinggi seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, pertunjukan musik diwajibkan bagi mahasiswa program studi seni musik khususnya minat pertunjukan sebagai salah satu syarat kelulusan melalui penyelenggaraan resital atau konser tugas akhir. Pratiwi dan Suharto . menyatakan bahwa pertunjukan musik dalam pendidikan tinggi berfungsi sebagai sintesis dari seluruh pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari mahasiswa selama masa studi. Namun, sebagian besar pertunjukan tugas akhir masih terbatas pada repertoar dari satu periode atau genre tertentu, sehingga belum optimal dalam mengeksplorasi kemampuan adaptasi interpretatif pemain terhadap berbagai gaya musikal yang berbeda. Penelitian ini mengkaji kemampuan interpretasi lintas gaya melalui tiga repertoar yang secara fundamental berbeda: Sonata in F Minor karya Georg Philipp Telemann . usik Barok abad ke-. Joget Hitam Manis . usion tradisional MelayuAetang. , dan Dancing Queen karya ABBA . usik popAe disco era 1970-a. Interpretasi dalam konteks pertunjukan musik dipahami sebagai proses penafsiran musikal yang dilakukan oleh pemain untuk menerjemahkan gagasan komposer ke dalam bentuk ekspresi yang hidup, mencakup pengambilan keputusan estetik terkait dinamika, artikulasi, frasering, warna bunyi, karakter emosi, serta pemahaman gaya khas dari setiap periode dan genre musik (Schechner, 2. Setiap repertoar menghadirkan tantangan teknis dan interpretatif yang beragam: Sonata in F Minor menuntut penguasaan ornamentasi dan retorika musikal Barok (Schulenberg, 2019. Donington, 2. Joget Hitam Manis menghadirkan tantangan dalam memadukan ornamentasi melodi Melayu dengan ketepatan ritmis tango (Matusky & Tan, adapun Dancing Queen menuntut pemahaman terhadap groove, sinkopasi, dan energi ritmis dalam musik pop-disco (Moore. Pemilihan ketiga repertoar ini bertujuan untuk menguji sejauh mana trombon sebagai instrumen solis dapat mengadaptasi gaya permainan, teknik, dan ekspresi dari masing-masing genre yang memiliki idiom musikal sangat berbeda. Penelitian terdahulu mengenai adaptasi repertoar lintas-genre untuk instrumen tiup logam telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Gordon . dalam World Music Fusion for Trombone: Techniques for Stylistic Adaptation menunjukkan bahwa trombon memiliki kapabilitas teknis untuk mengadaptasi berbagai tradisi musik melalui penguasaan teknik glissando, mute, dan variasi tone Sweeney . menekankan pentingnya keseimbangan antara mempertahankan melodi original dengan mengeksplorasi karakteristik unik instrumen dalam adaptasi musik populer untuk brass performance. Namun, penelitian-penelitian umumnya dilakukan dalam konteks musik Musica Vol 6. No. Januari-Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri Barat dan belum banyak yang mengeksplorasi adaptasi musik tradisional Nusantara dalam format fusion, khususnya untuk instrumen trombon. Rahayu . dalam studinya tentang hibridisasi musik tradisional dan modern di Indonesia menunjukkan bahwa proses adaptasi lintas budaya memerlukan pemahaman mendalam terhadap idiom musikal dari masing-masing tradisi, namun penelitian tersebut lebih berfokus pada aspek komposisi dan aransemen, bukan pada praktik performatif instrumen spesifik. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya penelitian berbasis bagaimana proses adaptasi teknis dan interpretatif dilakukan secara sistematis untuk instrumen trombon dalam konteks musik lintas-genre. Tujuan penelitian ini adalah: . untuk menginterpretasikan tiga repertoar yang memiliki perbedaan zaman, gaya, genre, dan karakter melalui instrumen trombon dengan iringan ensemble string dan combo band. untuk mengaplikasikan teknik-teknik khusus secara optimal untuk menghadirkan karakter musikal yang berbeda pada setiap Kontribusi penelitian ini terletak pada beberapa aspek. Pertama, penelitian ini memperkaya khazanah penelitian musik di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan instrumen tiup logam dan praktik pertunjukan lintas budaya. Kedua, dokumentasi dan analisis terhadap proses interpretasi dan adaptasi repertoar yang beragam dapat memberikan referensi metodologis bagi penelitian serupa di masa mendatang serta mendukung pengembangan kurikulum pendidikan musik yang lebih komprehensif dan relevan dengan perkembangan zaman (Handayani, 2. Ketiga, penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan crossover musical dalam pertunjukan musik kontemporer bukan hanya memerlukan penguasaan teknis yang tinggi, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap konteks historis, budaya, dan estetika dari setiap genre yang dibawakan (Dermawan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan repertoar lintas-genre untuk instrumen trombon dan instrumen tiup logam lainnya, serta memberikan perspektif baru tentang kemungkinan interpretasi dalam praktik musik kontemporer Indonesia yang mengintegrasikan aspek teknis, musikal, dan kontekstual dalam satu kesatuan pertunjukan yang utuh dan bermakna. METODE Penelitian pendekatan penelitian berbasis praktik . ractice-based menempatkan proses pertunjukan sebagai bentuk penelitian artistik yang menghasilkan pengetahuan performatif baru (Candy, 2. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi interpretasi musikal melalui tindakan langsung dalam tentang hubungan antara teknik, gaya, dan ekspresi pada permainan trombon lintasgenre. Tahapan penelitian meliputi: . persiapan repertoar, dimulai dengan pemilihan tiga karya yang berbeda periode dan genre (Sonata in F Minor. Joget Hitam Manis, dan Dancing Quee. serta konsultasi . analisis deskriptif terhadap setiap repertoar untuk mengidentifikasi karakteristik musikal, tantangan teknis, dan kebutuhan interpretatif spesifik dari masingMusica Vol 6. No. Januari Ae Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri masing karya. proses latihan yang mencakup latihan individu untuk penguasaan teknik dasar . onguing, legato, staccato, glissando, mute, call-and-respons. , latihan dengan pengiring untuk penyesuaian tempo dan dinamika, serta latihan gabungan untuk penyelarasan musikal. pelaksanaan gladi resik dan pertunjukan utama di Gedung Hoeridjah Adam ISI Padangpanjang pada tanggal 5 Januari 2026. dokumentasi dan refleksi performatif melalui rekaman audio-visual serta catatan evaluasi untuk mengidentifikasi strategi adaptasi teknik dan gaya yang diterapkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Interpretasi Repertoar Sonata in F Minor Karya Georg Philipp Telemann Interpretasi Sonata in F Minor karya Georg Philipp Telemann menghadirkan tantangan utama dalam mengadaptasi idiom musik Barok untuk instrumen trombon modern. Karya ini, yang secara historis ditulis untuk recorder atau flute dengan basso continuo, menuntut pemahaman mendalam terhadap prinsip retorika musikal Barok dan ornamentasi yang stylistically appropriate (Schulenberg, 2. Hasil analisis terhadap empat movement sonata menunjukkan bahwa setiap bagian memiliki karakteristik teknis dan ekspresif yang berbeda: Movement I (Triste - Andante cantabil. menekankan karakter melankolis dengan penggunaan legato dan kontras dinamika forte-piano. Movement (Allegr. menuntut kecepatan artikulasi dengan teknik double tonguing pada notasi 1/16. Movement i (Andant. menghadirkan karakter reflektif dengan phrasing yang cantabile. Movement IV (Vivac. menonjolkan virtuositas melalui teknik arpeggio dan pergerakan cepat. Donington . menegaskan bahwa interpretasi musik Barok memerlukan kejernihan artikulasi yang speech-like dan ornamentasi yang tidak berlebihan, prinsip yang menjadi landasan dalam pendekatan interpretatif penelitian ini. Adaptasi teknis yang dilakukan untuk menghadirkan karakter Barok pada trombon meliputi beberapa strategi. Pertama, ornamentasi seperti mordent dan appoggiatura yang pada instrumen asli dimainkan dengan teknik jari . inger ornamen. , ditransformasikan menjadi lip trill dan alternate positions pada trombon untuk mempertahankan efek musikal yang sama. Kedua, penggunaan terraced dynamics . inamika bertingka. diterapkan secara konsisten untuk menciptakan kontras yang jelas antar frasa, menghindari crescendo-decrescendo gradual yang merupakan karakteristik era Romantik. Ketiga, vibrato digunakan secara minimal dan selektif, hanya pada nada panjang tertentu untuk menambah warna bunyi tanpa mengganggu kejernihan melodi. Rifkin . menjelaskan bahwa dalam mengadaptasi karya Barok untuk instrumen modern, pemain harus memahami konteks original sambil membuat keputusan informed tentang bagaimana mengekspresikan makna musikal ke dalam medium baru. Pendekatan ini sejalan dengan temuan penelitian bahwa keberhasilan interpretasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi oleh sejauh mana penyaji mampu menginternalisasi prinsip-prinsip Barok dan menerjemahkannya ke dalam keputusan musikal yang konsisten di setiap Musica Vol 6. No. Januari-Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri Gambar 1. Pertunjukan Sonata In F Minor (Sumber: Rizki Wahyudi, 2. Tantangan khusus muncul pada bagian-bagian yang menggunakan motif alternating ostinato, di mana sebuah pola pendek diulang dengan variasi ritme atau nada. Pada Movement II bar 46 dan Movement II bar 75, frase panjang dengan tempo cepat menuntut kombinasi antara breath control yang stabil, artikulasi tonguing yang presisi, dan pemahaman terhadap struktur frasa agar tidak terdengar mekanis. Hasil latihan menunjukkan bahwa penggunaan circular breathing pada bagian-bagian tertentu tidak diperlukan jika perencanaan breathing points dilakukan dengan mempertimbangkan logical phrase breaks, sesuai dengan praktik performance Barok di mana musisi mengambil napas pada titik-titik artikulasi natural (Donington. Perbandingan dengan rekaman Christian Lindberg yang memainkan adaptasi sonata Telemann untuk trombon menunjukkan kesamaan pendekatan dalam hal tone color yang warm namun tetap artikulatif, serta penggunaan dynamics untuk memperjelas struktur musikal. Interpretasi Repertoar Joget Hitam Manis dalam Format Fusion Melayu-Tango Joget Hitam Manis menghadirkan kompleksitas interpretatif yang unik karena memadukan dua tradisi musikal yang berbeda: ornamentasi vokal Melayu dan ketegasan ritmis tango Argentina. Matusky dan Tan . menjelaskan bahwa musik tradisional Melayu menekankan ornamen melodi seperti grenek . elismatic figure. dan fleksibilitas ritme yang halus, menciptakan kualitas yang santai dan mengalir. Sementara itu, tango menekankan ketepatan ritme, artikulasi dramatis, dan ekspresi penuh gairah (Turino, 2. Hasil analisis aransemen menunjukkan bahwa karya ini dirancang dengan pembagian yang jelas antara bagian-bagian yang menonjolkan karakter joget Melayu . enggunakan legato, ornamen halus, artikulasi ringa. dan bagian-bagian yang menekankan elemen tango . enggunakan aksen dramatis, glissando, frase inten. Penelitian ini menemukan bahwa keberhasilan interpretasi fusion terletak pada kemampuan pemain untuk mengidentifikasi dan mengeksekusi transisi halus antar gaya, memastikan penampilan keseluruhan terasa menyatu alih-alih terputus-putus. Pendekatan teknis yang diterapkan dalam menginterpretasikan repertoar ini meliputi beberapa aspek. Pertama, pada bagian kadenza di awal lagu, penyaji diberikan menggunakan pola ornamentasi Melayu, di mana notasi hanya berfungsi sebagai guideline. Strategi yang digunakan adalah mempelajari karakteristik vokal Melayu melalui referensi rekaman asli Joget Hitam Manis untuk menginternalisasi logika ornamentasi, kemudian mengadaptasinya ke dalam teknik trombon menggunakan glissando untuk meniru portamento vokal dan variasi tonguing untuk menciptakan artikulasi yang menyerupai syllabic singing. Kedua, pada bagian tango, penggunaan staccato pendek dan aksen marcato diterapkan secara konsisten untuk menghasilkan karakter ritmis yang Born dan Hesmondhalgh . menegaskan bahwa fusion yang sukses membutuhkan pemahaman mendalam dari kedua tradisi sumber, memungkinkan penampil membuat pilihan artistik yang informed tentang kapan dan seberapa kuat menekankan setiap pengaruh. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian bahwa interpretasi Joget Hitam Manis memerlukan tidak hanya penguasaan teknis, tetapi juga sensitivitas estetik Musica Vol 6. No. Januari Ae Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri untuk menegosiasikan dua karakter yang hampir berlawanan. Gambar 2. Pertunjukan Joget Hitam Manis (Sumber: Rizki Wahyudi, 2. Tantangan khusus muncul dalam mempertahankan groove yang stabil pada bagian dengan penggunaan tangga nada minor harmonic yang menciptakan banyak alterasi . erubahan nada setengah langka. Pada bar 34-40, kombinasi antara ornamentasi appoggiatura, penggunaan legato, dan staccato aksen menuntut kontrol embouchure yang presisi untuk memastikan intonasi tetap akurat meskipun terdapat perubahan nada yang Hasil latihan dengan pengiring menunjukkan bahwa komunikasi visual antara solis dan rhythm section . iano, bass, dru. sangat penting untuk menjaga sinkronisasi, terutama pada bagian poco accel . ar E) di mana tempo dipercepat secara bertahap. Perbandingan dengan penelitian Gordon . tentang world music fusion untuk trombon menunjukkan kesamaan pendekatan dalam hal penggunaan glissando ekspresif dan mute technique untuk variasi tone color, meskipun penelitian ini mengeksplorasi konteks fusion Melayu-tango yang belum banyak didokumentasikan dalam literatur Interpretasi Repertoar Dancing Queen Karya ABBA Interpretasi Dancing Queen menghadirkan tantangan yang berbeda dari dua repertoar sebelumnya, yaitu mengadaptasi lagu vokal pop-disco dengan full band arrangement menjadi showcase instrumental untuk trombon solo dengan mini orkestra. Moore . menjelaskan bahwa musik pop yang efektif menyeimbangkan daya ingat . dengan variasi yang cukup untuk mempertahankan ketertarikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa karya ini memiliki struktur verse-chorus standar dengan progresi akor yang elegant dalam A major, didukung disco groove yang stabil dan energik. Tantangan utama dalam interpretasi ini terletak pada capaian nada register tinggi pada bagian chorus yang menuntut ketahanan dan kekuatan embouchure, serta kemampuan mempertahankan energi ritmis yang konsisten sepanjang pertunjukan. Sweeney . menekankan bahwa pemain brass yang membawakan musik pop harus mengembangkan rasa internal pulse yang kuat dan kemampuan "locking in" dengan rhythm section untuk mempertahankan tempo yang stabil. Strategi adaptasi yang diterapkan meliputi beberapa aspek teknis dan musikal. Pertama, vocal phrasing original dari vokalis ABBA (Agnetha Fyltskog dan Anni-Frid Lyngsta. dipelajari secara mendetail untuk memahami bagaimana melodi dibentuk dengan natural dan komunikatif, kemudian ditransfer ke idiom instrumental trombon dengan menempatkan breathing points pada lokasi yang sama dengan phrasing vokal untuk menciptakan kesan alur musik yang Kedua, penggunaan teknik glissando slide pada bar 30 ketukan 4 . eskipun tidak tertulis dalam partitu. ditambahkan sebagai Musica Vol 6. No. Januari-Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri interpretasi personal untuk menambah sentuhan ekspresif dan memanfaatkan karakteristik unik trombon. Ketiga, pada bagian chorus dengan capaian high note, strategi yang digunakan adalah membangun stamina melalui latihan long tone pada register tinggi dan warm-up yang fokus pada flexibility exercises untuk mempersiapkan embouchure. Hasil pertunjukan menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dalam mempertahankan kualitas tone dan intonasi pada register tinggi meskipun dimainkan dalam durasi yang relatif panjang. Gambar 3. Pertunjukan Sonata In F Minor (Sumber: Rizki Wahyudi, 2. Aspek ritmis dan groove menjadi fokus utama dalam interpretasi repertoar ini. Karakteristik disco yang mengandalkan fouron-the-floor pattern . etukan kuat pada setiap bea. dan penekanan backbeat . etukan 2 dan . menuntut pemain untuk menginternalisasi pulse dengan kuat agar dapat bermain dengan groove yang tepat. Hasil latihan Teknik Tonguing Legato Staccato dengan mini orkestra menunjukkan bahwa interaksi antara solis trombon dengan rhythm section . rums, bass, piano, gitar elektri. dan section orchestra . trings, brass, woodwin. memerlukan kesadaran akan balance dan blend. Pada bagian tutti . emua pemain masuk bersamaa. , solis harus mampu memproyeksikan suara dengan sufficient volume dan brightness tanpa forcing tone, sementara pada bagian verse yang lebih intim, dynamic range diturunkan untuk menciptakan kontras yang efektif. Perbandingan dengan aransemen Swedish Brass Quintet yang memainkan lagu-lagu ABBA menunjukkan bahwa keberhasilan adaptasi pop untuk brass terletak pada kemampuan mempertahankan essence original sambil memberikan warna instrumental yang fresh, prinsip yang menjadi landasan dalam interpretasi penelitian ini. Aplikasi Teknik-Teknik Khusus Trombon dalam Interpretasi Lintas-Genre Penelitian ini mengidentifikasi bahwa aplikasi teknik-teknik khusus trombonAi tonguing, legato, staccato, glissando, mute, dan call-and-responseAibervariasi secara signifikan tergantung pada karakteristik musikal setiap repertoar. Tabel 1 merangkum penggunaan teknik-teknik tersebut pada ketiga repertoar: Tabel 1. Aplikasi Teknik-Teknik Khusus Trombon pada Tiga Repertoar Sonata in F Minor Joget Hitam Manis Dancing Queen Double tonguing pada Move- Tonguing halus pada ornaConsistent tonguing unment II & IV untuk artikulasi mentasi Melayu. tuk menjaga groove. single tonguing tonguing pada aksen tango aksen pada syncopation dengan variasi aksen pada bagian lambat Ekstensif pada Movement I Legato mengalir pada melodi Legato pada vocal line & i untuk karakter cantaMelayu. kontras dengan stacuntuk smoothness. breathing pada logical cato pada bagian tango asi dengan staccato unphrase breaks tuk rhythmic interest Staccato detachy pada baStaccato pendek dengan aksen Staccato ringan pada bagian Allegro. durasi pendek kuat pada ritme tango gian verse. namun tidak terputus Musica Vol 6. No. Januari Ae Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri Glissando Minimal. hanya pada ornamentasi tertentu sesuai praktik Barok Mute Tidak digunakan . esuai praktik Barok autenti. Call-andResponse Dialog musikal antara trombon dan piano pada cadenza Ekstensif untuk meniru portamento vokal Melayu. glissando ekspresif pada transisi Digunakan pada bagian tertentu untuk variasi tone color dan menciptakan atmosfer intimacy Intensif dengan brass section dan rhythm section. fundamental dalam struktur tango Hasil analisis menunjukkan bahwa tonguing merupakan teknik fundamental yang diterapkan pada semua repertoar, namun dengan pendekatan yang berbeda. Pada Sonata in F Minor, double tonguing digunakan untuk mencapai kecepatan artikulasi yang diperlukan pada Movement II dan IV, sementara pada bagian lambat, single tonguing dengan variasi aksen diterapkan untuk menciptakan speech-like articulation yang menjadi ciri musik Barok (Donington. Pada Joget Hitam Manis, kombinasi tonguing halus untuk ornamentasi Melayu dan marcato tonguing untuk aksen tango menunjukkan kemampuan adaptasi teknik untuk menghadirkan dua karakter yang kontras. Adapun pada Dancing Queen, consistent tonguing diperlukan untuk menjaga groove yang stabil, dengan penambahan aksen pada syncopation untuk menghasilkan rhythmic drive yang karakteristik dalam musik disco. Penggunaan legato dan staccato juga menunjukkan variasi yang signifikan. Pada repertoar Barok, legato diterapkan secara ekstensif pada movement lambat untuk menciptakan karakter cantabile, dengan breathing points yang direncanakan pada logical phrase breaks sesuai dengan struktur retoris musik (Schulenberg, 2. Kontras yang jelas antara legato dan staccato pada bagian Allegro sparingly untuk tidak mengganggu groove Glissando slide pada bar digunakan selektif untuk efek ekspresif Tidak digunakan untuk mempertahankan brightness karakteristik discopop Dialog dengan orchestra section pada instrumental breaks. trading figures dengan brass menciptakan variasi artikulasi yang essential dalam memperjelas struktur musikal. Pada Joget Hitam Manis, legato mengalir pada melodi Melayu dikontraskan dengan staccato pendek pada bagian tango, menciptakan dialog antara dua estetika yang berbeda. Sementara pada Dancing Queen, legato pada vocal line memberikan smoothness yang diperlukan untuk mempertahankan melodi yang singable, divariasikan dengan staccato ringan untuk menambah rhythmic interest tanpa mengganggu groove fundamental. Glissando menunjukkan penggunaan yang paling bervariasi di antara ketiga repertoar. Pada Sonata in F Minor, glissando digunakan secara minimal dan hanya pada ornamentasi tertentu untuk tetap sesuai dengan praktik performance Barok yang menekankan kejernihan nada (Rifkin, 2. Sebaliknya, pada Joget Hitam Manis, glissando menjadi teknik sentral untuk meniru portamento vokal Melayu dan menciptakan transisi ekspresif yang menjadi karakteristik Gordon . menjelaskan bahwa glissando pada trombon memiliki kapabilitas unik untuk meniru infleksi vokal dalam berbagai tradisi musik, temuan yang dikonfirmasi dalam penelitian ini. Pada Dancing Queen, glissando slide digunakan secara selektif untuk menambah efek ekspresif pada bagian-bagian tertentu tanpa mengganggu Musica Vol 6. No. Januari-Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri clarity melodi pop yang menjadi kekuatan karya original. Teknik mute dan call-and-response menunjukkan aplikasi yang kontekstual. Mute tidak digunakan pada Sonata in F Minor untuk tetap sesuai dengan praktik Barok autentik yang mengutamakan natural tone color instrumen (Donington, 2. , namun diterapkan pada Joget Hitam Manis untuk menciptakan variasi warna bunyi dan atmosfer intimacy pada bagian-bagian tertentu. Pada Dancing Queen, mute tidak digunakan untuk mempertahankan brightness dan projection yang diperlukan dalam musik discopop. Adapun call-and-response diterapkan dengan intensitas berbeda: dialog musikal antara trombon dan piano pada Sonata in F Minor terjadi pada cadenza points, intensif dengan brass section pada Joget Hitam Manis sebagai struktur fundamental tango, dan sebagai trading figures dengan orchestra section pada Dancing Queen untuk menciptakan dynamic interplay. Strategi Penataan Ruang dan Interaksi Musikal dalam Pertunjukan Penataan ruang pertunjukan memiliki dampak signifikan terhadap keseimbangan akustik dan interaksi musikal antara solis trombon dengan pengiring. Hasil implementasi menunjukkan bahwa setiap repertoar memerlukan konfigurasi panggung yang berbeda untuk mengoptimalkan proyeksi suara dan komunikasi visual antar musisi. Pada Sonata in F Minor dengan format trombon solo dan piano, posisi solis di tengah depan panggung dengan piano di sisi kiri belakang . erspektif penonto. memungkinkan eye contact dan non-verbal cues yang essential dalam chamber music ensemble playing. Konfigurasi ini juga memastikan bahwa suara trombon yang memiliki directional projection melalui bell dapat terdengar jelas oleh penonton tanpa mengalahkan piano accompaniment. Setiawan . menjelaskan bahwa komunikasi estetis dalam pertunjukan musik sangat bergantung pada aspek visual dan spatial arrangement, temuan yang sejalan dengan hasil penelitian ini. Pada Joget Hitam Manis dengan format fusion ensemble yang mencakup string section, brass, woodwind, combo band, dan percussion, penataan ruang men jadi lebih kompleks. Hasil gladi resik menunjukkan bahwa penempatan solis di bagian depan tengah dengan jarak yang cukup dari ensemble memungkinkan proyeksi suara yang optimal, sementara pengelompokan section berdasarkan fungsi . rass bersama, rhythm section berdekatan, strings terpisa. memudahkan koordinasi internal setiap kelompok. Tantangan yang muncul adalah mencapai balance antara solis dan ensemble, terutama pada bagian tutti di mana full ensemble bermain bersama. Strategi yang diterapkan adalah pengaturan dynamic level setiap section melalui rehearsal bertahap, di mana conductor memberikan cue untuk balance adjustment berdasarkan feedback akustik dari berbagai posisi di auditorium. Turino . menegaskan bahwa dalam musik ensemble besar, spatial configuration dan volume balance merupakan faktor krusial yang musikal, prinsip yang terbukti dalam implementasi penelitian ini. Pada Dancing Queen dengan mini orchestra yang mencakup section lengkap . trings, woodwind, brass, percussion, dan rhythm sectio. , penataan mengikuti konfigurasi semi-orchestra dengan modifikasi untuk mengakomodasi rhythm section. Penempatan strings di bagian depan kiri-tengah, brass di bagian belakang kiri, woodwind di Musica Vol 6. No. Januari Ae Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri bagian tengah-belakang, dan rhythm section di bagian kanan belakang menciptakan layering sound yang karakteristik dalam musik pop-orchestra. Hasil sound check menunjukkan bahwa penggunaan amplifikasi untuk rhythm section . lectric guitar, electric bass, keyboar. perlu diseimbangkan dengan acoustic projection dari orchestra section untuk mempertahankan blend yang natural. Sweeney . menjelaskan bahwa dalam adaptasi musik populer untuk brass dan orchestra, teknologi sound reinforcement harus digunakan secara hati-hati untuk tidak mendominasi acoustic instruments, temuan yang menjadi pertimbangan dalam mixing final Interaksi musikal antara solis dan pengiring pada ketiga repertoar menunjukkan dinamika yang berbeda. Pada Sonata in F Minor, hubungan antara trombon dan piano bersifat equal partnership di mana piano tidak hanya berfungsi sebagai accompaniment tetapi juga sebagai dialogue partner yang merespons dan mengantisipasi gestur musikal solis. Hasil latihan bersama menunjukkan bahwa pengembangan musical chemistry memerlukan waktu dan repeated rehearsal untuk mencapai synchronization yang natural, terutama pada bagian rubato di mana flexibility tempo diperlukan. Pada Joget Hitam Manis, interaksi bersifat lebih hierarkis dengan solis sebagai lead voice dan ensemble sebagai supporting framework, namun dengan moments of call-and-response di mana brass section merespons frasa solis secara antiphonal. Pada Dancing Queen, interaksi bersifat integrated di mana solis menjadi bagian dari texture orchestra overall, dengan moments of solo spotlight yang dibalance dengan tutti sections. Schechner . menjelaskan bahwa performance studies harus mempertimbangkan aspek relational dan spatial dalam praktik pertunjukan, perspektif yang memperkaya pemahaman terhadap kompleksitas interaksi musikal dalam penelitian ini. Refleksi Performatif dan Kontribusi terhadap Praktik Pertunjukan Trombon Proses penelitian berbasis praktik ini menghasilkan beberapa temuan performatif yang berkontribusi terhadap pemahaman tentang interpretasi lintas-genre pada instrumen Pertama, penelitian ini membuktikan bahwa trombon memiliki fleksibilitas interpretatif yang luas dan mampu menghadirkan karakter musikal yang sangat berbeda melalui variasi aplikasi teknik dasar. Candy . menjelaskan bahwa practicebased research menghasilkan performative knowledge yang tidak dapat diperoleh melalui penelitian teoretis semata, temuan yang dikonfirmasi melalui pengalaman langsung menginterpretasikan tiga repertoar dengan idiom yang kontras. Kedua, keberhasilan interpretasi lintas-genre tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknis, tetapi lebih fundamental oleh kemampuan menginternalisasi aesthetic principles dari setiap tradisi musikal dan membuat informed artistic decisions yang konsisten dengan konteks stilistik Perbandingan dengan penelitian sebelumnya menunjukkan beberapa persamaan dan perbedaan. Gordon . dalam studinya tentang world music fusion untuk trombon menekankan pentingnya penguasaan teknik glissando dan mute untuk adaptasi berbagai tradisi musik, temuan yang sejalan dengan hasil penelitian ini pada repertoar Joget Hitam Manis. Namun, penelitian ini memperluas perspektif dengan mengeksplorasi tidak hanya fusion music, tetapi juga musik Barok dan pop dalam satu framework interpretatif, menciptakan comparative understanding yang lebih komprehensif. Musica Vol 6. No. Januari-Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri Sweeney . dalam penelitiannya tentang adaptasi musik populer untuk brass performance menekankan balance antara recognizability dan exploration, prinsip yang diterapkan dalam interpretasi Dancing Queen, namun penelitian ini menambahkan dimensi cross-cultural dengan memasukkan repertoar Melayu yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur brass performance. Kontribusi penelitian ini terhadap praktik pertunjukan trombon di Indonesia terletak pada beberapa aspek. Pertama, dokumentasi dan analisis terhadap proses adaptasi teknik untuk repertoar lintas-genre memberikan referensi metodologis yang dapat direplikasi oleh mahasiswa dan musisi trombon lainnya. Kedua, penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan crossover musical dalam pertunjukan tugas akhir tidak hanya memperluas repertoar, tetapi juga mengembangkan kapabilitas interpretatif yang lebih Handayani . menegaskan bahwa kurikulum pendidikan musik berbasis lintas budaya di perguruan tinggi seni Indonesia perlu diperkuat untuk mempersiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan berbagai konteks musikal, rekomendasi yang didukung oleh temuan penelitian ini. Ketiga, penelitian ini mengonfirmasi bahwa trombon, yang secara historis lebih banyak diasosiasikan dengan musik brass band dan jazz, memiliki potensi besar sebagai instrumen solis yang fleksibel dalam musik klasik, tradisional, dan populer, membuka kemungkinan untuk eksplorasi repertoar lebih lanjut. Refleksi terhadap proses latihan dan pertunjukan mengungkapkan beberapa insight penting. Pertama, time management dan prioritization dalam mempersiapkan tiga repertoar dengan karakteristik berbeda memerlukan perencanaan yang matang, di mana setiap repertoar mendapat alokasi waktu latihan yang seimbang dengan tingkat kesulitan dan kebutuhan interpretasinya. Kedua, kolaborasi dengan pengiring yang berbeda-beda . ianis untuk Barok, fusion ensemble untuk Melayu-tango, mini orchestra untuk po. menuntut kemampuan komunikasi dan adaptasi yang tinggi, di mana penyaji harus mampu mengartikulasikan visi interpretasi sambil tetap terbuka terhadap input musikal dari collaborators. Ketiga, manajemen stamina fisik dan mental menjadi faktor krusial, terutama dalam mempertahankan kualitas embouchure dan breath support sepanjang pertunjukan yang menampilkan tiga repertoar berturut-turut. Pratiwi dan Suharto . menjelaskan bahwa pertunjukan musik sebagai evaluasi kompetensi mahasiswa harus mengukur tidak hanya technical proficiency tetapi juga performance maturity, aspek yang teruji melalui proses penelitian KESIMPULAN Penelitian berbasis praktik ini membuktikan bahwa trombon memiliki fleksibilitas interpretatif yang luas dalam menghadirkan karakter musikal dari tiga repertoar lintas-genre: Sonata in F Minor . usik Baro. Joget Hitam Manis . usion Melayutang. , dan Dancing Queen . usik popdisc. Keberhasilan interpretasi tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknis seperti tonguing, legato, staccato, glissando, mute, dan call-and-response, tetapi lebih fundamental oleh kemampuan menginternalisasi prinsip estetik dari setiap tradisi musikal dan membuat keputusan artistik yang konsisten dengan konteks stilistik karya. Pada repertoar Barok, penerapan retorika musikal dan ornamentasi appropriate menjadi kunci. pada fusion Melayu-tango, kemampuan menegosiasikan dua estetika kontras menghasilkan sintesis koheren. sementara pada pop-disco. Musica Vol 6. No. Januari Ae Juni . ISSN 2807-1026 Muhammad rheinard Afana. Hafif HR. Ibnu Sina. Hadaci Sidik. Ofa Yutri pemahaman terhadap groove dan vocal phrasing memungkinkan adaptasi instrumental yang komunikatif. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan praktik pertunjukan trombon di Indonesia dengan menyediakan dokumentasi metodologis yang dapat menjadi referensi bagi mahasiswa dan musisi, sekaligus memperkaya perspektif performatif dalam pendidikan musik kontemporer yang mengintegrasikan aspek teknis, musikal, dan kontekstual secara holistik. KEPUSTAKAAN