JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 7 Nomor 1. Januari 2024 RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) DALAM MENINGKATKAN TUMBUH KEMBANG ANAK DI KELURAHAN BENDUNGAN HILIR Arofa Anggun Pratiwi1*. Dayat Hidayat2. Sutarjo3 1,2,3 Pendidikan Masyarakat. Universitas Singeperbangsa Karawang. Jawa Barat. Indonesia 11910631040060@student. id, 2dayat. hidayat@fkip. sutarjo@staff. Received: Juli, 2023. Accepted: January, 2024 Abstract This study aims to describe and analyze about knowing the role of RPTRA as a learning environment in enhancing the growth and development of early childhood and knowing the growth and development of children in RPTRA Taman Raning. This research uses a qualitative approach with a case study method, conducted at RPTRA Taman Raning. Central Jakarta. The research subjects consisted of RPTRA coordinators. RPTRA managers, and parents. Research data obtained through observation techniques, interviews, and documentation studies. The results of the study show that the role of RPTRA as a learning environment in enhancing children's growth and development such as the facilities in RPTRA are not only child-friendly, but also disabled-friendly. The facilities at the RPTRA consist of play facilities, sports facilities, leisure facilities, and various supporting facilities. Children who spend a lot of time socializing outside the home usually have fewer social, emotional and behavioral problems than those who have fewer opportunities to socialize. socialization for children which is part of the stimulation of growth and development of children. Keywords: Role. Growth and Development. RPTRA Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang mengetahui peran RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Ana. sebagai lingkungan belajar dalam meningkatkan tumbuh kembang anak usia dini dan mengetahui tumbuh kembang anak di RPTRA Taman Raning. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dilakukan di RPTRA Taman Raning Jakarta Pusat. Subjek penelitian terdiri dari koordinator RPTRA, pengelola RPTRA, dan orang tua. Data penelitian diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran RPTRA sebagai lingkungan belajar dalam meningkatkan tumbuh kembang anak seperti fasilitas-fasilitas dalam RPTRA tidak hanya ramah anak, namun juga ramah penyandang Fasilitas yang ada di RPTRA ini terdiri dari fasilitas bermain, fasilitas olahraga, fasilitas bersantai, dan berbagai fasilitas penunjang. Anak-anak yang banyak menghabiskan waktu untuk bersosialisasi di luar rumah biasanya memiliki lebih sedikit masalah sosial, emosional dan perilaku daripada mereka yang memiliki lebih sedikit kesempatan untuk bersosialisasi. RPTRA didesain dan di program untuk melaksanakan ruang publik yang ramah bagi anak, untuk itulah kehadirannya mampu membawa fungsi sosialisasi bagi anak yang merupakan bagian dari stimulasi tumbuh dan kembang Kata Kunci: Peran. Tumbuh Kembang. RPTRA How to Cite: Pratiwi. Hidayat. & Sutarjo. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (Rptr. Dalam Meningkatkan Tumbuh Kembang Anak Di Kelurahan Bendungan Hilir. Comm-Edu (Community Education Journa. , 7 . , 60-67 Volume 7. No. Januari 2024 pp 60-67 PENDAHULUAN Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) merupakan ruang publik yang dapat digunakan oleh masyarakat umum, mulai dari anak-anak hingga lansia. RPTRA dibangun di kawasan pemukiman sehingga semua lapisan masyarakat dapat memanfaatkan ruang publik ini. Lingkungan merupakan salah satu elemen yang menjadi peran penting, dalam perkembangan anak, yang tetapi masih belum dimaksimalkan oleh negara, terutama di kawasan perkotaan dan salah satunya yaitu DKI Jakarta. Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan jumlah penduduk paling banyak. Hal itu membuat banyak permasalahan muncul di ibukota , salah satunya adalah kurangnya ruang terbuka hijau. Kawasan yang dahulunya menjadi tempat bermain anak, sekarang berubah menjadi bangunan-bangunan tinggi yang sangat tidak ramah dengan anak. Hal ini menjadikan suatu permasalahan, bahwa anak-anak tidak lagi memiliki area bermain yang cukup layak. Keterbatasan ruang terbuka hijau membuat anak-anak bermain di tempat-tempat yang tidak layak, seperti jalan raya hingga di pinggir sungai. Masalah tesebut muncul akibat pembangunan yang tidak mementingkan hak anak. Banyak anak-anak yang tidak dapat menikmati masa kanak-kanaknya karena keterbatasan ruang publik. Perkembangan kota yang semakin meningkat, tetapi sayangnya perubahan itu tidak diikuti oleh peningkatan ruang publik terbuka. Kebanyakan lebih mengarah kepada pembangunan jalan raya, bangunan tinggi, dan pusat perbelanjaan. Dilihat dari sisi hak anak, anak-anak di Jakarta mulai kehilangan ruang beraktifitas diluar rumah, tempat mereka bermain sambal dan bersosialisasi serta mengembangkan kemampuan dan bakat anak. Ruang publik ini ramah anak karena terdapat taman bermain dan lapangan olah raga yang khusus diperuntukkan sebagai tempat aman bagi anak-anak untuk bermain, serta fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, sehingga anak-anak RPTRA tidak hanya bisa bermain, tetapi juga belajar. Mengusung tema ramah anak. RPTRA juga menjadi ruang publik yang bebas dari asap rokok. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) juga suatu tempat atau wadah yang berintegrasi dari program Kota Layak Anak (KLA) dengan memadukan sebuah ruang terbuka dengan fasilitas yang tersedia untuk memadukan kegiatan masyarakat dan juga area bermain serta belajar anak. Setiap RPTRA yang sudah dibangun, memilki berbagai fasilitas yang sudah disediakan untuk menunjang tumbuh kembang anak (Suban 2. Menurut (Mahmur and Amany 2. tujuan RPTRA dibangun antara lain untuk menyediakan ruang terbuka untuk memenuhi hak anak agar anak dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, menyediakan prasarana dan sarana kemitraan antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam memenuhi hak anak dan menyediakan prasarana dan sarana kota sebagai Kota Layak Anak. Teori tumbuh kembang anak, seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, menekankan perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak melalui interaksi sosial dan pengalaman individu. Teori ini mengidentifikasi tahapan-tahapan perkembangan yang mencakup rentang usia dari bayi hingga dewasa, di mana setiap tahapan memiliki konflik yang harus diatasi dan akan mempengaruhi pembentukan karakter seseorang saat dewasa. Anak belajar melalui pengalaman langsung dan aktif, dan teori ini menekankan pentingnya peran orangtua, pengasuh, dan teman dalam membentuk anak. Belajar dipandang sebagai proses yang tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial, di mana interaksi antar individu dan kelompok menjadi bagian dari proses belajar seseorang. Lingkungan sosial individu dari awal hingga akhir hidupnya dipengaruhi oleh sejarah dan perkembangan hubungan sosial, masyarakat, dan Setiap individu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang terus berkembang melalui interaksi dengan orang-orang dan institusi di dalam budaya yang Erikson mencoba menemukan perkembangan psikososial melalui interaksi 62 Pratiwi. Hidayat & Sutarjo. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Dalam Meningkatkan Tumbuh Kembang Anak Di Kelurahan Bendungan Hilir dengan berbagai organisasi sosial dalam kelompok atau budaya tertentu. Ia mencoba menghubungkan fenomena psikologis, pendidikan, dan budaya masyarakat. Dalam penelitiannya. Erikson membuktikan bahwa masyarakat atau budaya, melalui praktik pengasuhan anak, struktur keluarga, kelompok sosial, dan institusi, membantu perkembangan anak dalam mengembangkan berbagai keterampilan yang diperlukan untuk mengambil peran dan tanggung jawab sosial. Kemudian John B. Watson. Skinner, serta Ivan Pavlov yang berfokus pada pengalaman individu sepanjang hidupnya dalam pembentukan sifat hingga dewasa. Pada perspektif teori ini, segala perilaku seseorang dapat diartikan melalui pengaruh lingkungan. Teori ini disebut juga teori behavioral yang juga memiliki fokus pada interaksi lingkungan yang memiliki pengaruh terhadap karakter seseorang atau pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan terjadi melalui rangsangan berdasarkan stimulus yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif . hukum-hukum mekanistik. Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan, bisa diramalkan, dan bisa ditentukan. Classic Conditioning . engkondisian atau persyaratan klasi. adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap hewan anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. menurut Watson pelopor yang datang sesudah Thorndike, stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati . Dengan kata lain. Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa tidak penting. Semua itu penting. Akan tetapi, faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum. Hanya dengan asumsi demikianlah, menurut Watson, dapat diramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada siswa. Menurut Skinner, deskripsi antara stimulus dan respons untuk menjelaskan parubahan tingkah laku . alam hubungannya dengan lingkunga. menurut versi Watson tersebut adalah deskripsi yang tidak lengkap. Respons yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasarnya setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini akhirnya mempengaruhi respons yang dihasilkan. Sedangkan respons yang diberikan juga menghasilkan berbagai konsekuensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku siswa. Oleh karena itu, untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas, diperlukan pemahaman terhadap respons itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut . el-Gredler, 1. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dalam meningkatkan tumbuh kembang anak usia dini, dengan fokus pada RPTRA Taman Raning. Penelitian ini akan mengumpulkan data mengenai faktor-faktor yang ada dalam lingkungan RPTRA, terutama area bermain dan fasilitas yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana RPTRA berperan dalam mendukung perkembangan anak usia dini. Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk mendeskripsikan lingkungan belajar di RPTRA Taman Raning, termasuk fasilitas dan aktivitas yang disediakan untuk anak-anak. Selain itu, penelitian ini juga akan mengumpulkan informasi mengenai tumbuh kembang anak di RPTRA tersebut, termasuk perkembangan fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Volume 7. No. Januari 2024 pp 60-67 METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian kualitatif memang cocok untuk digunakan dalam penelitian ini. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh pemahaman yang mendalam tentang peran RPTRA dalam meningkatkan tumbuh kembang anak di RPTRA Taman Raning. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk menjelajahi dan memahami pengalaman subjek penelitian, serta mendapatkan wawasan yang lebih komprehensif tentang faktor-faktor yang berperan dalam tumbuh kembang anak. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode deskriptif untuk mendeskripsikan peran RPTRA dalam meningkatkan tumbuh kembang anak berdasarkan teori tumbuh kembang anak yang relevan. Data akan dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen terkait dengan pelaksanaan program RPTRA di Taman Raning. Data yang terkumpul akan dianalisis secara mendalam untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang peran RPTRA dalam tumbuh kembang anak. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman kita tentang bagaimana RPTRA dapat menjadi lingkungan belajar yang efektif dalam meningkatkan tumbuh kembang anak usia dini. Hasil penelitian ini juga dapat memberikan rekomendasi dan saran yang berguna untuk pengembangan program RPTRA di masa depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejalan dengan teori yang di jelaskan oleh Erik Erickson, teori ini berfokus pada interaksi sosial serta pengalaman seseorang yang menjadi penentunya. Tahapan perkembangan anak yang ada pada teori ini juga digunakan untuk menjelaskan proses individu sejak bayi hingga meninggal Teori ini juga berpendapat bahwa orangtua, pengasuh, maupun teman menjadi faktor penting pada pembentukan seorang anak. Melalui teori ini juga ditekankan bahwa belajar merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial. Melalui interaksi antar individu maupun kelompok yang ada menjadi proses belajar bagi seseorang. Peran RPTRA sebagai lingkungan belajar dalam meningkatkan tumbuh kembang anak usia dini RPTRA terbuka untuk umum dan dibangun di tengah permukiman warga, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh warga sekitar. Fasilitas-fasilitas dalam RPTRA tidak hanya ramah anak, namun juga ramah penyandang disabilitas. Fasilitas yang ada di RPTRA ini terdiri dari fasilitas bermain, fasilitas olahraga, fasilitas bersantai, dan berbagai fasilitas penunjang. Fasilitas bermain yaitu berbagai jenis peralatan bermain untuk anak-anak diantaranya adalah perosotan, jungkat jungkit, alat panjat mini, dan ayunan. Semua peralatan di pastikan aman dan kokoh karna memiliki pegangan yang bertekstur halus. Perosotan dan jungkat jungkit terbuat dari material plastik, sedangkan ayunan merupakan metal yang juga memiliki permukaan yang Material lantai dasar di sekitar peralatan bermain adalah pasir tanah. Ketebalannya pun cukup dalam sehingga dapat membantu meredam anak jika terjatuh saat bermain. Kemudian berbagai fasilitas penunjang yaitu berupa bangunan yang di dalamnya terdapat beberapa kemudahan seperti ruang laktasi, perpustakaan mini, ruang pengelola, groosmart, pantry dan aula serbaguna berupa teras luas yang biasa digunakan untuk bernagai kegiatan. Selain itu. RPTRA juga dilengkapi dengan pengawasan CCTV yang membuat area ini memiliki sistem keamanan yang baik, juga terdapat pengelola RPTRA yang berjumlah 6 orang termask koordinator yang bertugas mengawasi anak-anak ketika berada di RPTRA sehingga orangtua 64 Pratiwi. Hidayat & Sutarjo. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Dalam Meningkatkan Tumbuh Kembang Anak Di Kelurahan Bendungan Hilir tidak perlu khawatir terhadap keamanan anaknya ketika bermain dan belajar. Dalam belajar anak seharusnya dibimbing untuk aktif bergerak, mencari, mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpulkan dengan pemikirannya sendiri degan bantuan orang dewasa lainnya berdasarkan pengalaman belajarnya. Gambar 1. RPTRA sebagai wadah pelaksanaakan posyandu dan belajar BKB Paud (Sumber: Dokumen pribadi, 2. RPTRA juga sebagai wadah untuk menstimulasi dan mengedukasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak di sekitar wilayah RPTRA. Stimulasi adalah upaya orang tua atau keluarga untuk mengajak anak bermain dalam suasana penuh gembira dan kasih sayang. Aktivitas bermain dan suasana gembira ini penting guna merangsang seluruh sistem indera, melatih kemampuan motorik halus dan kasar, kemampuan berkomunikasi serta perasaan dan pikiran anak. Rangsangan atau stimulasi sejak dini adalah salah satu faktor eksternal yang sangat penting dalam menentukan kecerdasan anak. (Soedjatmiko,2. menambahkan selain stimulasi, ada faktor eksternal lain yang ikut mempengaruhi kecerdasan seorang anak yakni kualitas asupan gizi, pola pengasuhan yang tepat dan kasih sayang terhadap anak. Sesuai dengan teori Behavioristik, yaitu teori yang mempelajari perilaku manusia. Perspektif behavioral berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan terjadi melalui rangsangan berdasarkan . yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif . Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan, bisa diramalkan, dan bisa ditentukan. Menurut teori ini, seseorang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya, melalui pengalaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah. Dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara dengan mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Tumbuh kembang anak di RPRTA Taman Raning Pada masa tumbuh dan kembangnya anak membutuhkan stimulasi yang tepat, sumber belajar anak dibentuk dari lingkungannya yang memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam proses belajarnya. Kehadiran ruang publik terpadu ramah anak merupakan salah satu wujud komitmen dan upaya pemerintah dalam memfasilitasi kegiatan sosialisasi bagi warga masyarakat terutama bagi anak karena fasilitas dan program yang dihadirkan memberikan dukungan bagi anak dalam masa tumbuh dan kembangnya. Oleh karena itu, ruang publik merupakan salah satu sarana bagi anak dalam hal pemenuhan kebutuhan akan sosialisasinya hal ini menjadi salah satu urgensi dalam terciptanya ruang ruang publik yang ramah anak . udek, 2. Berdasarkan hasil penelitian dikemukakan bahwa anak-anak yang banyak Volume 7. No. Januari 2024 pp 60-67 menghabiskan waktu untuk bersosialisasi di luar rumah biasanya memiliki lebih sedikit masalah sosial, emosional dan perilaku daripada mereka yang memiliki lebih sedikit kesempatan untuk bersosialisasi RPTRA didesain dan di program untuk melaksanakan ruang publik yang ramah bagi anak, untuk itulah kehadirannya mampu membawa fungsi sosialisasi bagi anak yang merupakan bagian dari stimulasi tumbuh dan kembang anak. Melalui interaksi sosial yang dilakukan, anak dapat membawa pada pemerolehan pengetahuan dan pengalaman belajar langsung yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa RPTRA Taman Raning di Kelurahan Bendungan Hilir. Jakarta Pusat, memiliki fasilitas dan program yang mendukung tumbuh kembang anak. Fasilitas yang disediakan, seperti lapangan olahraga, playground, perpustakaan mini, aula kegiatan, toilet, dan grossmart, memberikan kenyamanan dan mendukung aktivitas anak dalam belajar dan bermain. Selain itu, program-program yang ditujukan khusus untuk anak-anak, seperti kegiatan menari, mendongeng, kompetisi kecil-kecilan, dan Posyandu, juga memiliki dampak positif terhadap tumbuh kembang anak. Program-program ini membantu anak mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya, seperti mengenal orang sekitar, memahami pertemanan, dan belajar mengatur emosi melalui bermain bergantian dan berbagi dengan anak lain. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, berikut adalah beberapa saran yang dapat disampaikan kepada pengurus dan pengelola RPTRA Taman Raning serta kepada masyarakat: Bagi Pengurus dan Pengelola RPTRA Taman Raning: Mengadakan lebih banyak program bervariasi yang dapat mendukung tumbuh kembang anak, termasuk program-program yang mengedepankan norma dan Hal ini dapat dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan seperti pembelajaran agama, kegiatan berbasis norma dan etika, dan kegiatan yang membantu pengenalan nilai-nilai moral kepada anak. Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk meningkatkan kemampuan anak di sekitar RW. Hal ini dapat berupa penambahan fasilitas pendukung seperti permainan edukatif, peralatan untuk aktivitas seni dan kreativitas anak, serta penambahan buku dan bahan bacaan di perpustakaan mini. Menjaga konsistensi dalam melaksanakan program-program di RPTRA untuk anakanak. Konsistensi ini penting untuk menghindari kebosanan anak dan memastikan bahwa program-program tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan dalam tumbuh kembang anak. Bagi Masyarakat: Saling mendukung antara masyarakat dan pengelola RPTRA dalam melaksanakan program-program yang ditujukan untuk anak-anak. Dukungan dari masyarakat akan membantu kesuksesan program-program yang telah diselenggarakan di RPTRA, sehingga anak-anak dapat merasakan manfaat yang maksimal. Masyarakat juga dapat berperan dalam menjaga kerapihan dan kebersihan lingkungan RPTRA. Dengan menjaga kebersihan dan kerapihan, lingkungan RPTRA akan tetap nyaman dan aman bagi anak-anak untuk beraktivitas. Mendorong anak-anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan positif di RPTRA. Masyarakat dapat memberikan dorongan kepada anak-anak untuk aktif mengikuti 66 Pratiwi. Hidayat & Sutarjo. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Dalam Meningkatkan Tumbuh Kembang Anak Di Kelurahan Bendungan Hilir program-program yang tersedia di RPTRA, seperti kegiatan seni, olahraga, dan Hal ini akan membantu anak-anak mengembangkan potensi mereka secara lebih baik. Dengan menerapkan saran-saran ini, diharapkan RPTRA Taman Raning dapat lebih efektif dalam memberikan kontribusi positif dalam tumbuh kembang anak-anak di sekitar wilayah RW. Selain itu, partisipasi aktif dari masyarakat juga akan memperkuat keberhasilan RPTRA dalam memberikan layanan yang berkualitas bagi anak-anak. Masyarakat Kelurahan Bendungan Hilir merespons positif kehadiran RPTRA di wilayah mereka karena mereka dapat melihat dampak nyata yang dirasakan oleh anak-anak dalam hal tumbuh kembang mereka. RPTRA memberikan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan berkembang secara optimal. DAFTAR PUSTAKA