MEDIA WISATA ISSN 16935969 - EISSN 26858436 Volume 23. Number 1, 2025 http://jurnal. id/index. php/MWS Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA. Yogyakarta. Indonesia PENGEMBANGAN MEDIA INTERPRETASI NON PERSONAL SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG WISATA EDUKASI DI OBYEK WISATA TAMAN BALEKAMBANG KOTA SURAKARTA *Puguh Andhi Setiawan1. Hera Oktadiana2. Heru Suheryadi3 1UPN Veteran Jawa Timur. Indonesia. Email: puguhandhisetiawan@gmail. 2Institut Pariwisara Trisakti. Indonesia 3Politeknik Sahid Jakarta. Indonesia *(Correspondence autho. ABSTRACT Non-personal interpretation is the delivery of information that uses audio, audio-visual, multimedia, painting, panels and displays. Article History sculptures so that visitors can understand directly. Balekambang Submitted: Park tourism object is located in the city of Surakarta. From year to 08 January 2025 year the number of tourist arrivals to the Balekambang Park has Reviewed: increased, but there are still some visitors who still do not care about 15 February 2025 the environment and messages delivered through the facility in the Accepted: form of non- personal interpretation media at Balekambang Park, so 04 March 2025 there are many violations and visitors do not know important Published: information that should be able to provide education. Balekambang 15 May 2025 Park has a variety of non-personal interpretation media in the form of maps of the area, information boards, direction boards and rules and prohibitions boards that can provide new experiences and information and educate visitors to maintain the preservation of tourism objects along with the attractions and facilities in them. The results of the data from the identification of non-personal interpretation media that already exist in Balekambang Park and the distribution of questionnaires are used as a reference to make the development of non-personal interpretation media interesting and can educate visitors. The development is in the form of developing forms, designs, messages, as well as placement and additions to existing and existing interpretation media. Interpretation media developed into educational facilities include regional maps, historical information boards, regulatory and ban boards, directions boards and the addition of labels for flora and fauna as attractions in Balekambang Park. Keywords: Non Personal Interpretation. Educational Tourism. Development of Non Personal Interpretation Media. Balekambang Park PENDAHULUAN Interpretasi merupakan proses komunikasi yang bertujuan untuk membuat orang menemukan makna dari suatu hal, tempat, orang-orang dan peristiwa yang di dalamnya juga memberikan penjelasan tentang suatu kawasan . lora, fauna, proses Article DOI: 10. 36276/mws. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 geologis dan sebagainy. serta sejarah dan budaya masyarakat kepada pengunjung yang datang ke kawasan tersebut, sehingga dapat memberikan kepuasan dan pengetahuan baru yang dapat menggugah pemikiran untuk mengetahui, menyadari dan menarik minat pengunjung untuk ikut menjaga, melestarikan serta mempelajari lebih lanjut mengenai suatu kawasan yang dilindungi. Berdasarkan metodenya, interpretasi dibagi menjadi dua, yaitu personal dan non-personal. Interpretasi personal membutuhkan seorang petugas interpretasi dalam prosesnya yang disebut dengan interpreter, sedangkan non-personal menggunakan media mati. Interpretasi non-personal adalah merupakan suatu bentuk teknik interpretasi yang menggunakan media sebagai alat utama untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan. Interpretasi non-personal sangat penting karena terkadang pemandu lupa atau melewatkan sesuatu yang penting untuk di informasikan saat menjelaskan sesuatu. Sehingga dengan adanya interpretasi non- personal berupa media dan sebagainya, cukup membantu pemandu dalam menjelaskan suatu informasi dengan lengkap dan mudah untuk dimengerti. Keberadaan media interpretasi non-personal juga berfungsi sebagai media komunikasi antara pengelola kepada wisatawan untuk menyampaikan pesan yang berupa pengetahuan, wawasan serta manfaat dari atraksi-atraksi yang ada di suatu Wisatawan yang mendapatkan pengalaman dan wawasan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran serta mampu mengapresiasi lingkungan. Pengetahuan, pemahaman serta kesadaran yang didapat oleh wisatawan setelah mengunjungi suatu obyek wisata termasuk ke dalam kegiatan wisata edukasi. Edukasi atau disebut juga dengan pendidikan merupakan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka mengalamami proses belajar dari tidak tahu menjadi Sedangkan wisata edukasi atau edutourism adalah suatu program dimana wisatawan berkunjung ke suatu lokasi wisata dengan tujuan utama untuk memperoleh pengalaman pembelajaran secara langsung di obyek wisata tersebut. Wisata edukasi menjadi tren baru saat ini, sehingga pelaksanaannya ada di berbagai daerah, tidak terkecuali di Kota Surakarta. Surakarta merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang dikenal sebagai kota Selain tradisinya yang kental. Surakarta juga memiliki ragam potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi dan mengedukasi. Salah satu potensi wisata unik yang wajib dikunjungi dan mengedukasi di Surakarta adalah Taman Balekambang. Taman Balekambang merupakan wisata hutan yang ada di tengah kota, kondisi ini jarang ditemui di kota lain, sehingga membuat Taman Balekambang memiliki nilai keunikan tersendiri. Taman Balekambang dibangun pada tahun 1921 oleh KGPAA Mangkunegara dan pada tahun 2007 Pemerintah Kota Surakarta mencoba merevitalisasi dan menjadikannya sebagai tempat wisata untuk masyarakat. Taman Balekambang memiliki luas sekitar lima hektar dan ditumbuhi oleh berbagai macam Selain itu. Taman Balekambang juga memiliki berbagai area yang di dalamnya terdapat berbagai atraksi berupa taman bermain dan hewan yaitu rusa, merak dan itik. Taman Balekambang tidak hanya tempat untuk berekreasi atau berwisata saja, namun juga tempat untuk menambah pemahaman, pengetahuan dan wawasan baru yang menyenangkan bagi setiap wisatawan. Tidak hanya wisatawan yang berstatus ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 pelajar saja, hal tersebut dapat didapatkan oleh seluruh wisatawan, karena fungsi daripada Taman Balekambang ini sendiri, selain sebagai tempat wisata juga dapat dijadikan sebagai tempat pendidikan. Pendidikan yang dimaksudkan lebih kepada sejarah yang berupa asal mula dibangunnya Taman Balekambang, serta pendidikan lingkungan yang memuat faktor biotik dan abiotik di dalamnya termasuk satwa dan Obyek wisata Taman Balekambang ramai dikunjungi oleh rombongan keluarga pada akhir pekan atau hari libur nasional. Dengan adanya kunjungan yang terjadi secara terus menerus dan dalam jumlah besar, tentunya terjadi penurunan kualitas fasilitas pelayanan yang salah satunya menjadikan kelestarian lingkungan Taman Balekambang menjadi menurun. Selain itu, kurangnya papan petunjuk arah serta peta dan papan informasi membuat pengunjung mengalami kebingungan dan seringkali melakukan suatu kegiatan yang berpotensi untuk merusak fasiltas atau sumberdaya wisata yang ada secara sadar maupun tidak serta secara langsung maupun tidak langsung. Pada kondisi ini, dibutuhkan interpretasi untuk mendukung kepedulian pengunjung terhadap kelestarian lingkungan dan sumberdaya wisata yang ada serta dapat memahami obyek wisata Taman Balekambang itu sendiri. Fasilitas interpretasi di Taman Balekambang belum disediakan secara maksimal, penempatan area yang belum terlalu jelas terkadang membuat wisatawan kesulitan untuk mengetahui area-area tertentu, terutama area satwa. Kondisi dari papan interpretasi berupa papan informasi dan larangan serta papan petunjuk arah juga penempatannya kurang tepat sehingga tidak terbaca oleh Wisatawan sebaiknya dapat mengeksplorasi lebih dalam mengenai informasi-informasi sejarah, satwa serta lingkungan yang ada di Taman Balekambang, sehingga dapat mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru yang menyenangkan setelah mengunjungi Taman Balekambang Penyampaian informasi tersebut juga harus dikemas semenarik mungkin agar wisatawan tertarik untuk membaca dan tidak merasa bosan sehingga membuat wisatawan ingin kembali mengunjungi obyek wisata tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan media interpretasi non personal untuk mendukung wisata edukasi agar tujuan tersebut tercapai dengan maksimal. METODE Penelitian ini dilaksanakan di Obyek Wisata Taman Balekambang yang berada di Jalan Balekambang No. Manahan. Banjarsari. Kota Surakarta. Provinsi Jawa Tengah. Waktu penelitian berlangsung selama 90 hari efektif atau 3 bulan dan dimulai pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2019. Tahapan penelitian yang digunakan berdasarkan pada teori Wells . mengenai Interpretation and Education Planning sebagai teori utama. Gambar 1. Focus Areas of Interpretive Planning (Wells, 2. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 Situation Bagian ini menjabarkan rasionalisasi pengembangan Purpose (Tujuan Pengembangan Progra. Bagian ini berisi alasan pengembangan media interpretasi non-personal sebagai upaya mendukung wisata edukasi di Taman Balekambang Kota Surakarta, tujuan pengembangan media interpretasi non- personal sebagai upaya mendukung wisata edukasi di Taman Balekambang Kota Surakarta, pertimbangan pengembangan media interpretasi non-personal sebagai upaya mendukung wisata edukasi di Taman Balekambang Kota Surakarta. Inventarisasi dan Analisis Supply Analysis Atraksi wisata di Taman Balekambang Kota Surakarta. Demand Analysis Karakteristik Wisatawan di Taman Balekambang Kota Surakarta dan Penilaian dan permintaan wisatawan terhadap media interpretasi non- personal . apan interpretas. sebagai upaya mendukung wisata edukasi di Taman Balekambang Kota Surakarta Opsi/Program Interpretasi di Taman Balekambang Kota Surakarta Bagian ini berisi tema keseluruhan media interpretasi nonpersonal . apan interpretas. di Taman Balekambang Kota Surakarta dan sketsa konsep media interpretasi non-personal . apan interpretas. di Taman Balekambang Kota Surakarta. Penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap options, sebab tahap action dalam teori Wells . berisi tentang budgeting, staffing dan hal yang bersifat perencanaan operasional dan implementasi lainnya. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data primer . bservasi lapangan, kuesioner, wawancara dan dokumentas. dan data sekunder . ata yang telah ada sebelumnya, studi literature dan interne. Populasi pada penelitian ini yaitu wisatawan yang berkunjung ke Taman Balekambang Kota Surakarta. Sampel diambil dengan menggunakan rumus Slovin dengan hasil 30 responden. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Model Miles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono . Aktifitas dalam analisis data terbagi menjadi tiga, yaitu: data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Data Reduction (Data Reduks. Pada penelitian ini tahapan pertama untuk analisis data yaitu reduksi data. Dalam tahap ini data akan disusun dan dikelompokan berdasarkan indikatornya. Data yang diperlukan pada penelitian ini adalah data nilai edukasi satwa aves, data karakteristik wisatawan dan data persepsi wisatawan akan media interpretasi nonpersonal . apan interpretas. Data Display (Penyajian Dat. Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mengdisplaykan data. Dalam penelitian ini penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel tabulasi data, grafik, serta uraian . ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 Conclusion drawing/verification Langkah terakhir pada penelitian ini adalah penarikan kesimpulan dari seluruh data yang diperoleh sehingga dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal serta dapat mengembangkan media interpretasi nonpersonal . apan interpretas. berisikan aspek edukasi atraksi di Taman Balekambang yang menarik dan sesuai bagi wisatawan serta sesuai dengan kondisi Taman Balekambang Kota Surakarta. HASIL DAN PEMBAHASAN Taman Balekambang pada awalnya bernama Partini Tuin dan Partinah Bosch yang dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro VII pada tanggal 26 Oktober 1921. Taman ini dibangun karena rasa sayang beliau kepada putri-putrinya yaitu GRAy Partini Husein Djayaningrat dan GRAy Partinah Sukanta, sehingga nama mereka diabadikan sebagai nama taman. KGPAA Mangkunegoro VII membangun Taman Balekambang dengan memadukan konsep Jawa dan Eropa, yang man ataman tersebut tidak hanya menciptakan unsur keindahan saja, namun juga memiliki beberapa fungsi utama. Dahulu Taman Balekambang dibagi menjadi dua area, yaitu area I yang dinamakan Partini Tuin atau Taman Air dan area II yang dinamakan Partinah Bosch atau Hutan Partinah. Taman Air difungsikan sebagai penampungan air untuk membersihkan atau menggelontor kotoran-kotoran dan sampah yang ada di dalam kota. Sedangkan Hutan Partinah difungsikan sebagai daerah resapan dan paru- paru kota dan merupakan tempat koleksi tanaman langka. Taman Balekambang memiliki luas 9. 8 Ha dan terletak di wilayah Kota Surakarta yang memiliki luas 4. 601 Ha, tepatnya di Jalan Balekambang No. Kecamatan Banjarsari. Taman Balekambang terletak di dataran rendah dengan ketinggian 95 mdpl, memiliki curah hujan 2200 mm/tahun, dengan suhu rata-rata 30AC, suhu udara tertinggi adalah 32. 5AC sedangkan suhu terendahnya adalah 21AC dengan rata-rata tekanan udara 1010. 9 MBS serta kelembaban udara mencapai 75% dengan kecepatan angin 4 knot dan arah angin 240A serta memiliki topografi yang relatif datar dengan jenis batuan alluvial. Taman Balekambang memiliki keanekaragaman biotik yang cukup beragam. Kondisi biotik tersebut dapat berupa keanekaragaman flora dan fauna. Jenis flora dan fauna yang terdapat di Taman Balekambang memiliki keunikan dan ciri khas yang berbeda-beda. Keanekaragaman flora dan fauna yang terdapat di Taman Balekambang yaitu 78 jenis flora dan 10 jenis fauna. Fasilitas yang terdapat di Taman Balekambang yaitu tempat parkir, toilet, mushola, bangku taman, tempat sampah, lampu taman, jalan setapak dan papan Aksebilitas menuju Taman Balekambang dapat ditempuh menggunakan transportasi umum online maupun kendaraan pribadi. Apabila berangkat dari arah Yogyakarta atau Semarang maka lebih mudah karena dapat mengikuti jalur bus dan Taman Balekambang terletak di kanan jalan. Namun apabila berangkat dari arah ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 Surabaya, maka dapat mengikuti jalur bus menuju Terminal Tirtonadi, kemudian dari terminal jalan lurus sekitar 400 meter dan Taman Balekambang dapat ditemui di kiri jalan. Atraksi wisata yang ada di obyek wisata Taman Balekambang yaitu Partini Tuin. Partini Bosch. Gedung Kesenian. Bale Apung. Bale Tirtayasa. Kolam Keceh. Koleksi Tanaman Langka. Satwa Bebas. Wahana Permainan Anak. Taman Kelinci. Area Outbound. Open Stage. Tempat Pemancingan. Bebek Air dan Eventevent yang diselenggarakan secara rutin di obyek wisata Taman Balekambang. Media interpretasi yang terdapat di obyek wisata Taman Balekambang yaitu Peta Kawasan. Papan Informasi. Papan Petunjuk Arah dan Papan Larangan. Pengelolaan media interpretasi non personal tidak dibentuk secara khusus, namun semua pegawai UPTD Taman Balekambang berperan aktif dalam pengelolaan ini. Pegawai UPTD Taman Balekambang terdiri dari 5 pengelola yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), 1 orang PKPK dan 21 orang sebagai tenaga Pengelolaan media interpretasi non personal di obyek wisata Taman Balekambang tentunya sesuai dengan teori manajemen yaitu POACE. Planning. Organizing. Actuating. Controlling dan Evaluating. Perencanaan yang dilakukan pada UPTD Kawasan Wisata Taman Balekambang dimulai dari penentuan rencana pelayanan yang prima dalam segala hal, peningkatan keterampilan dan kreatifitas dalam membuat dan menambahkan media interpretasi personal yang baru, peningkatan kepekaan dan inovatif dalam setiap adanya pembaharuan bidang media interpretasi non personal, meningkatkan peran serta stakeholder dan pengunjung dalam setiap kegiatannya. Perencanaanperencanaan tersebut dilaksanakan oleh seluruh anggota yang ada pada UPTD Kawasan Wisata Taman Balekambang. Masalah yang sering dihadapi dalam melakukan perencanaan ini adalah pada bagian peningkatan kepekaan dan inovatif dalam setiap adanya pembaharuan bidang media interpretasi non personal. Isi pesan dan penempatan media interpretasi non personal sangat mempengaruhi berfungsi atau tidaknya media tersebut . Untuk perencanaan lain tidak ada masalah, hanya pada capaian target yang belum sesuai dengan harapan. Pengorganisasian yang dilakukan pada UPTD Kawasan Wisata Taman Balekambang sudah sesuai dengan yang diatur dalam Peraturan Walikota Surakarta Nomor 48 Tahun 2012 tentang Pedoman Uraian Tugas Jabatan Struktural Unit Pelaksana Teknis Pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. UPTD Kawasan Wisata Taman Balekambang bertugas sebagai pelaksana kegiatan teknis operasional dan teknis kegiatan penunjang. Kepala UPTD Kawasan Wisata Taman Balekambang merupakan Kepala UPTD Kawasan Wisata di Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta. Struktur organisasi pada UPTD Taman Balekambang terdiri dari orang-orang yang berkompeten dalam pelaksanaan program kerja untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Berikut merupakan struktur organisasi UPTD Kawasan Wisata Taman Balekambang beserta tugasnya. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 Gambar 2. Struktur Organisasi UPTD Taman Balekambang Sumber : Struktur Organisasi UPTD Taman Balekambang Pelaksanaan kegiatan perihal pengurusan sarana dan prasarana media interpretasi non personal dalam rangka mendukung wisata eduaksi untuk para pengunjung sudah dilakukan oleh masing- masing bagian unit yang ada pada UPTD Kawasan Wisata Taman Balekambang. Untuk peningkatan edukasi pengunjung terdapat media interpretasi non personal berupa peta kawasan, sejarah Taman Balekambang, papan peraturan dan larangan, papan petunjuk arah serta papan lainnya yang diletakkan di setiap sudut area Taman Balekambang. Media interpretasi non personal tersebut dikelola oleh seluruh staff yang ada di Taman Balekambang beserta para stakeholder dan untuk kelancarannya, masing-masing staff UPT Kawasan Wisata Taman Balekambang memiliki kewajiban untuk menjalankan pengelolaan tersebut. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan atau implementasi media interpretasi non personal sebagai upaya untuk mengedukasi pengunjung adalah masih banyaknya pelanggaran yang terjadi yang tidak sesuai dengan papan informasi dan larangan yang sudah ditempatkan di setiap sudut di area Taman Balekambang. Selain itu perbedaan keinginan dari masyarakat dan pengunjung terkait fungsi Taman Balekambang sebagai obyek wisata saja atau diadakan banyak pertunjukan kesenian di dalamnya juga menjadi kendala bagi pengelola sehingga dalam pelaksanaanya kurang adanya motivasi untuk mengerjakan pekerjaan sesuai dengan target. Kegiatan pengontrolan yang dilakukan oleh UPTD Taman Balekambang dilakukan setiap waktu oleh semua pengelola, khususnya yang sedang berada di Satpam serta petugas kebersihan bertugas di lapang sebagai pengontrol apabila terjadi suatu pelanggaran yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan sudah terpasang di papan larrangan. Satpam berkeliling area Taman Balekambang setiap satu jam sekali. Sedangkan petugas kebersihan akan melakukan sanksi secara tidak langsung dengan cara menyapu sekeliling jika ada pelanggaran berupa pasangan yang berpacaran secara berlebihan di area Taman Balekambang. Evaluasi pengelolaan di Taman Balekambang dilakukan dalam banyak cara, yaitu harian, mingguan dan bulanan. Untuk evaluasi harian pengelola, dilakukan setiap hari ketika apel sore yaitu pukul 15. 00 WIB oleh pengelola UPTD Taman Balekambang dan para stakeholder. Untuk evaluasi mingguan oleh pengelola UPTD taman Balekambang dilakukan setiap seminggu sekali. Sedangkan evaluasi secara bulanan dilakukan setiap dua minggu sekali sampai satu bulan sekali pada rapat ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 umum yang melibatkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Surakarta. UPT Taman Balekambang dan para stakeholder yang ada di obyek wisata Taman Balekambang. Rapat umum juga bisa dilakukan sewaktu-waktu ketika ada ulasan, teguran ataupun komentar negatif dari masyarakat atau pengunjung melalui media sosial atau media Karakteristik pengunjung yang mengunjungi Taman Balekambang didominasi oleh pengunjung dengan jenis kelamin perempuan, berusia di atas 30 tahun, berasal dari Kota Surakarta, dengan pendidikan terakhir SMA dan bekerja sebagai ibu rumah tangga dengan dengan pendapatan sebesar Rp. 000 Ae Rp. Sumber informasi yang efektif dan efisien serta mampu membuat banyak pengunjung datang berkunjung ke Taman Balekambang adalah berasal dari cerita orang dan mereka telah mengunjungi Taman Balekambang lebih dari 4 kali. Waktu kunjungan yang dihabiskan oleh pengunjung di Taman Balekambang adalah kurang dari 12 jam. Daya tarik di Taman Balekambang beragam, namun yang paling mendominasi adalah penilaian pengunjung terhadap daya tarik berupa satwa bebas yang menyukai kegiatan berfoto. Motivasi pengunjung yang mendominasi di Taman Balekambang adalah melihat satwa bebas. Responden pengunjung obyek wisata Taman Balekambang sebagian besar telah mengerti tentang interpretasi yang di dalamnya juga memuat kegiatan pemanduan yang berarti peran serta interpreter dan guide diperlukan di dalamnya, akan tetapi hal tersebut masih kurang tepat dalam pengertian interpretasi. Responden ingin mengenai lebih lanjut mengenai interpretasi. Salah satu yang ini pengunjung ketahui menganai adalah pesan yang dapat disampaikan melalui interpretasi. Setelah berada di obyek wisata Taman Balembang, pengunjung ingin mengetahui lebih dalam mengenai satwa bebas. Sebagian besar pengunjung menyatakan tidak mengetahui tentang media interpretasi non personal. Pengunjung di Taman Balekambang menginginkan adanya interpretasi dan peta untuk memudahkan berbagai kegiatan pengunjung yang dilakukan di obyek wisata Taman Balekambang. Pengunjung membutuhkan adanya tempat parkir serta toilet dan mushola yang memadai, keberadaan informasi kawasan, informasi sejarah kawasan dan informasi kegiatan ada di Taman Balekambang. Keberadaan buku panduan, pemandu dan kegiatan pemanduan dirasa responden tidak terlalu dibutuhkan di Taman Balekambang. Kegiatan wisata yang diharapkan ada oleh responden adalah pengenalan dan pengamatan flora dan fauna yang ada di Taman Balekambang. Harapan pengunjung terhadap pengelolaan dan pelayanan di obyek wisata Taman Balekambang yang utama adalah keramahtamahan pengelola dan keanyamanan selama kunjungan. Kunjungan wisatawan mancanegara mengalami penurunan di setiap tahunnya. Hal ini berkaitan dengan banyak faktor yaitu kebijakan daerah, harga tiket pesawat yang mahal, metode pengelolaan wisata yang belum maksimal, pengakuan dan keunikan masyarakat, serta kekuatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan wisata. Selain itu. Surakarta juga merupakan kota kecil dan jauh tertinggal ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 dari Jogja dan Bali dalam hal wisata. Surakarta juga kurang dikenal oleh wisatawan mancanegara karena kegiatan promosi wisata pun juga dinilai masih kurang. Gambar 3. Grafik Kunjungan Wisatawan Mancanegara di Obyek Wisata Taman Balekambang. Sumber : Data Pengunjung UPTD Taman BalekambangTahun 2015 Ae 2018 Lain halnya dengan kunjungan wisatawan mancanegara yang terus menurun setiap tahunnya, kunjungan wisatawan nusantara justru meningkat di setiap tahunnya dengan angka yang cukup tinggi. Faktor yang mempengaruhi meningkatnya kunjungan wisatawan nusantara di Taman Balekambang adalah masyarakat lokal memang cenderung menyukai obyek wisata seperti Taman Balekambang. Selain itu, tidak ada biaya tiket masuk ke obyek wisata Taman Balekambang juga menjadi faktor utama meningkatnya kunjungan wisatawan nusantara setiap tahunnya. Gambar 4. Grafik Kunjungan Wisatawan Mancanegara di Obyek Wisata Taman Balekambang Sumber : Data Pengunjung UPTD Taman BalekambangTahun 2015 Ae 2018 Media interpretasi non personal berupa peta kawasan dikembangkan menjadi lebih menarik dari sebelumnya. Warna pada peta dibuat lebih mencolok agar dapat menarik pengunjung untuk melihatnya. Bentuk juga di desain lebih menarik dan semirip mungkin agar pengunjung dapat dengan mudah memahami maksud peta dan letak setiap atraksi yang ada di Taman Balekambang. Arah mata angin juga diperkecil agar tidak terlalu mendominasi keseluruhan peta. Legenda peta dibuat lebih simetris agar terlihat lebih rapi dari peta Taman Balekambang sebelum ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 dikembangkan ke dalam desain yang baru. Agar tetap terlihat kesan tradisionalnya, peta kawasan Taman Balekambang yang telah dikembangkan diberi overlay yang memiliki motif batik. Gambar 5. Pengembangan Desain Peta Kawasan Obyek Wisata Taman Balekambang Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2019 Desain dari papan informasi sejarah Taman Balekambang dikembangkan menjadi lebih menarik dari segi warna, bentu, font dan ditambahkan visualisasi Taman Balekambang dalam bentuk horizontal agar ketika membaca pengunjung juga dapat membayangkan atraksi apa saja yang ada di Taman Balekambang. Penulisan bahasa yang termuat dalam papan informasi sejarah ini masih sama dengan papan informasi sejarah yang lama, yaitu secara bilingual atau menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesisa dan bahasa Inggris agar ketika ada wisatawan mancanegara yang mengunjungi Taman Balekambang juga dapat mengetahui sejarah dari obyek wisata tersebut. Pemilihan warna yang mencolok juga dinilai dapat menarik perhatian lebih dari pengunjung, terutama anak-anak. Visualisasi Taman Balekambang dalam bentuk horizontal dan diletakkan di bawah papan infomasi juga dimaksudkan agar menarik perhatian anak-anak. Gambar 6. Pengembangan Desain Papan Informasi Sejarah di Obyek Wisata TamanBalekambang Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2019 Pengembangan media interpretasi non personal berupa papan peraturan yang ada di Taman Balekambang terletak pada desain dan letaknya. Desain papan peraturan setalah pengembangan menjadi lebih menarik. Pemilihan warna pada ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 pengembangan papan peraturan ini juga selaras sehingga tulisan dapat terbaca dengan mudah dari jarak jauh sekalipun. Pemilihan warna juga tetap mencolok agar papan peraturan dapat ditemukan dengan mudah. Selain tulisan, papan peraturan ini juga dilengkapi dengan gambar yang sesuai dengan peraturan yang dituliskan. Selain pengembangan terhadap desain papan, pengembangan juga dilakukan pada penempatan papan peraturan. Penempatan papan peraturan ini pada awalnya hanya terletak di satu titik saja, sehingga tidak semua pengunjung dapat membaca dan menaati peraturan tersebut. Setelah pengembanagn letak papan peraturan tersebut ditempatkan di berbagai sudut di area Taman Balekambang agar lebih menjangkau persebaran pengunjung dan mengurangi tingkat pelanggaran. Berikut merupakan gambaran desain pengembangan media interpretasi non personal berupa papan peraturan serta visualisasi secara nyata ketika ditempatkan di Taman Balekambang. Gambar 7. Pengembangan Desain Papan Peraturan di Obyek Wisata Taman Balekambang Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2019 Pengembangan media interpretasi non personal berupa papan peringatan di Taman Balekambang meliputi pengembangan desain papan dan penempatan Desain papan peringatan dikembangkan menjadi papan dengan warna yang lebih mencolok, agar peringatan terbaca dengan jelas dan tertangkap secara otomatis oleh mata pengunjung. Selain itu pemilihan font yang mudah terbaca serta warna yang mencolok pada tulisan AuperingatanAy dan Aujaga jarak amanAy dipilih agar lebih terbaca dan dipahami oleh pengunjung. Visualisasi rusa bertanduk dibuat berukuran besar dan berwarna hitam putih agar terlihat lebih menarik. Ukuran pada papan peringatan juga diperbesar. Bahan dari papan peringatan tersebut juga dikembangkan menjadi bahan yang lebih keras dan diletakkan di tempat yang dapat terlihat dan dijangkau oleh pengunjung, khususnya di area-area yang dekat dengan area satwa bebas. Pengembangan tersebut diharapkan dapat membantu pengunjung untuk lebih waspada pada keberadan rusa bertanduk serta meningkatkan keamanan dan keselamatan pengunjung. Berikutmerupakan pengembangan desain dari papan peringatan di Taman Balekambang beserta visualisasi secara nyata pengaplikasiannya di Taman Balekambang. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 Gambar 8. Pengembangan Desain Papan Larangan di Obyek Wisata Taman Balekambang Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2019 Pengembangan bentuk dan desain yang dijadikan satu rangkaian dalam satu tiang ini bertuan agar pengunjung dapat mengetahui lebih mudah atraksi apa saja yang ingin dikunjungi lebih dahulu di Taman Balekambang, serta kemana arah yang akan pengunjung lalui untuk menuju ke atraksi yang dimaksudkan. Selain ditempatkan di depan gerbang masuk Taman Balekambang, papan petunjuk arah juga ditempatkan di setiap atraksi-atraksi yang ada di Taman Balekambang untuk memudahkan pengunjung ketika ingin berpindah dari atraksi satu ke atraksi yang Berikut merupakan pengembanagan desain dari papan petunjuk arah yang ada di Taman Balekambang. Gambar 9. Pengembangan Desain Papan Petunjuk Arah di Obyek Wisata Taman Balekambang Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2019 Pengembangan media interpretasi non personal ini menciptakan label untuk flora dan fauna yang ada di Taman Balekambang sebagai sarana edukasi bagi pengunjung yang datang mengunjungi obyek wisata Taman Balekambang. Terdapat dua desain label sebagai media interpretasi non personal di Taman Balekambang, yaitu desain label untuk tanaman dan desain label untuk satwa. Desain label pada satwa bebas yang ada di Taman Balekambang memuat informasi mengenai nama satwa beserta nama latinnya dan penjelasan singkat mengenai satwa tersebut. Dikarenakan satwa bebas keberadaannya menyebar di seluruh area Taman Balekambang, maka di dalam desain label disertakan foto dari satwa yang dimaksudkan agar mempermudah pengunjung dalam memahami maksud dari label tersebut ditujukan ke satwa yang mana. Di dalam label tersebut juga termuat ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 barcode yang dimaksudkan kepada yang pengunjung yang ingin mengetahui lebih banyak informasi terkait satwa tersebut. Barcode tersebut sudah tersambung ke website obyek wisata Taman Balekambang yang apabila barcode tersebut di-scan maka informasi lengkap mengenai satwa tersebut termuat dan dapat dibaca langsung oleh pengunjung. Label satwa diletakkan di tempat yang didominasi oleh satwa tersebut agar mempermudah pengunjung dalam menemukan label dan mengetahui informasi menganai satwa yang paling dekat dengan label tersebut. Berikut merupakan visualisasi desain label satwa bebas dengan contoh satwa Rusa Timor yang ada di Taman Balekambang. Gambar 10. Pengembangan Desain Label Fauna di Obyek Wisata Taman Balekambang Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2019 Label tanaman tidak berbeda jauh dengan label satwa yang ada di Taman Balekambang, label ini memuat infomasi nama tanaman beserta nama latinnya serta penjelasan singkat mengenai tanaman tersebut serta barcode. Hal yang membedakan label tanaman dengan label satwa adalah tidak adanya gambar tanaman yang dimuat di label, dikarenakan penempatan label yang memang menempel atau berdekatan dengan tanaman yang sedang diinterpretasikan oleh label tersebut. Untuk fungsi daripada keberadaan barcode pada label juga masih sama dengan label satwa, yaitu dapat menampilkan informasi yang lebih rinci dan lengkap mengenai tanaman yang dimaksudkan di dalam label. Informasi yang dimaksudkan juga termasuk kapan tanaman tersebut dibawa ke Taman Balekambang, dari mana asal tanaman tersebut dan berapa jumlah tanaman tersebut di obyek wisata Taman Balekambang. Berikut merupakan desain label beserta visualisasinya secara langsung di Taman Balekambang yang dicontohkan pada tanaman Asam Jawa. Gambar 11. Pengembangan Desain Label Flora di Obyek Wisata Taman Balekambang ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2019 UPTD Taman Balekambang menyadari bahwa potensi wisata edukasi yang ada di Taman Balekambang membpunyai peluang besar untuk dikembangkan dan menjadi salah satu pendapatan daerah. Potensi wisata edukasi ini juga harus didukung dengan fasilitas yang memadai berupa media interpretasi non personal yang juga harus dikembangkan dari Taman Balekambang. Adanya penelitian di obyek wisata Taman Balekambang ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan kepada pengelola untuk mengembangkan media interpretasi non personal agar menjadi lebih menarik sehingga tidak diabaikan keberadaannya dan dapat menambah pengalaman serta pengetahuan baru bagi pengunjung yang mengunjungi obyek wisata Taman Balekambang. Dalam setiap upaya pengembangan media interpretasi non personal yang bertujuan untuk mendukung wisata edukasi akan senantiasa memberikan dampak bagi banyak pihak, baik bagi pengelola maupun pengunjung yang ada di Taman Balekambang. Dampak yang ditimbulkan setelah adanya pengembangan media interpretasi non personal di Taman Balekambang adalah dampak yang positif yaitu memberikan pengalaman dan pengetahuan yang baru bagi para pengunjung sehingga pengunjung dapat berperilaku positif, memiliki kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan di suatu obyek wisata dan mengurangi dampak negatif berupa pelanggaran-pelanggaran yang terjadi seperti membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas taman, berpacaran secara berlebihan di area taman dan lain sebagainya. SIMPULAN Atraksi wisata yang ada di obyek wisata Taman Balekambang yaitu Partini Tuin. Partini Bosch. Gedung Kesenian. Bale Apung. Bale Tirtayasa. Kolam Keceh. Koleksi Tanaman Langka. Satwa Bebas. Wahana Permainan Anak. Taman Kelinci. Area Outbound. Open Stage. Tempat Pemancingan. Bebek Air dan Event-event yang diselenggarakan secara rutin di obyek wisata Taman Balekambang. Media interpretasi yang terdapat di obyek wisata Taman Balekambang yaitu Peta Kawasan. Papan Informasi. Papan Petunjuk Arah dan Papan Larangan. Pengelolaan media interpretasi non personal tidak dibentuk secara khusus, namun semua pegawai UPTD Taman Balekambang berperan aktif dalam pengelolaan ini. Pegawai UPTD Taman Balekambang terdiri dari 5 pengelola yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), 1 orang PKPK dan 21 orang sebagai tenaga outsourching. Pengelolaan media interpretasi non personal di obyek wisata Taman Balekambang tentunya sesuai dengan teori manajemen yaitu POACE. Planning. Organizing. Actuating. Controlling dan Evaluating. Kunjungan wisatawan di obyek wisata Taman Balekambang ada dua yaitu wisatawan mancanegara yang terus mengalami penurunan dan wisatawan nusantara yang terus mengalami kenaikan di setiap tahunnya. Pengembangan media interpretasi non personal di obyek wisata Taman Balekambang diimplementasikan pada peta kawsan, papan informasi, papan peraturan dan larangan, papan petunjuk arah serta penambahan label pada tanaman dan satwa. Pengembangan yang dimaksudkan meliputi pengembangan desain, bentuk, isi pesan dan penempatan serta sedikit penambahan media yang memang belum ada di obyek wisata Taman Balekambang. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 1. May 2025 EISSN 26858436 Setelah melakukan penelitian dan pembahasan, penulis akan memberikan saran perbaikan yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan. Saran bagi Pengelola Saran yang dapat diberikan penulis kepada pengelola UPTD Taman Balekambang yaitu : Media interpretasi non personal yang sudah ada perlu dievaluasi secara teratur dalam kurun waktu tertentu secara periodik yaitu setiap satu bulan sekali. Media interpretasi yang telah dikembangkan hendaknya segera direalisasikan dan diaplikasikan secara nyata sehingga dapat bermanfaat bagi pengunjung dan pengelola obyek wisata Taman Balekambang yang tentunya juga didanai oleh Pemerintah. Perlunya diagendakan controlling dari pihak pengelola khususnya koordinator lapang untuk mentertibkan pelanggaran yang terjadi karena tidak memperhatikan pesan yang ada pada media interpretasi non personal Sanksi tegas, seperti membayar denda perlu diberlakukan apabila pengunjung melanggar peraturan yang berlaku secara terus-menerus dan merusak kelestarian obyek wisata. Perlunya peningkatan keamanan pengunjung pada atraksi wisata air dengan menambahkan pelampung dalam setiap kegiatan wisatanya. Saran bagi Peneliti Selanjutnya Bagi pihak-pihak lain yang tertarik untuk meneliti topik ini secara lebih mendalam, maka penulis akan menyarankan beberapa hal berikut : Penelitian selanjutnya diharapkan lebih mengevaluasi pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kuesioner dan wawancara agar dapat mewakili secara tepat variable yang hendak diukur Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mencari indikator lain sebagai alat pengukur dari variabel yang akan diteliti REFERENSI