Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Peran Basir Dalam Sistem Religius-Kosmologis Upacara Tiwah Pada Masyarakat Hindu Kaharingan Sri Kayun Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Indonesia kayunsri@gmail. Abstract Studies on the Tiwah ritual among adherents of Hindu Kaharingan have been widely conducted. however, research specifically examining the role of the Basir . eligious leade. in implementing the Tiwah ceremony remains limited. This study aims to analyze the forms, functions, meanings, and roles of the Basir in the execution of the Tiwah ritual. This research employs a qualitative, phenomenological approach, conducted in Palangka Raya City. Data were collected through interviews with six informants, consisting of Basir, customary leaders, and community figures, using a snowball sampling technique. Data analysis was carried out using the Miles. Huberman, and Saldana model and validated through source triangulation. The findings indicate that Tiwah constitutes a religio-cosmological system enacted through ritual stages that reflect the soul's journey toward Lewu Tatau. Functionally. Tiwah embodies religious, social, aesthetic, and didactic functions, integrated within a ceremony rich in spiritual and social The implementation of Tiwah conveys philosophical meanings that affirm the relationship between humans, ancestors, and Ranying Hatala. The Basir plays a crucial role as a ritual leader, sacred mediator, and custodian of cosmological knowledge, ensuring the ritual's continuity and sanctity. The role of the Basir remains recognized amid the currents of modernization, due to their position as active agents of cultural reproduction in sustaining the Hindu Kaharingan religious system. This study confirms that Tiwah is not merely a mortuary ritual but a comprehensive religious system that integrates theological, social, and cosmological dimensions within the life of the Hindu Kaharingan community. Keywords: Basir. Hindu Kaharingan. Cosmology. Religious Ritual. Tiwah Ceremony Abstrak Penelitian mengenai upacara Tiwah bagi umat Hindu Kaharingan sudah banyak dikaji sebelumnya, namun kajian terkait peran Basir atau pemuka agama dalam pelaksanaan upacara Tiwah belum ada ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mengenai bentuk, fungsi, makna, serta peran Basir dalam pelaksanaan Upacara Tiwah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yang dilaksanakan di Kota Palangka Raya. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap enam informan yang terdiri atas Basir, tokoh adat, dan tokoh masyarakat dengan teknik snowball sampling. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldana serta diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tiwah merupakan sistem religius-kosmologis yang dilaksanakan melalui tahapan ritual yang mencerminkan proses perjalanan roh menuju Lewu Tatau. Secara fungsional. Tiwah memiliki fungsi religius, sosial, estetika, dan didaktis yang terintegrasi dalam sebuah upacara yang sarat akan nilai spiritual dan sosial. Pelaksanaan Tiwah mengandung makna filosofis yang menegaskan hubungan antara manusia, leluhur, dan Ranying Hatala. Basir berperan sebagai pemimpin ritual, mediator https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sakral, dan penjaga pengetahuan kosmologis yang menjamin keberlangsungan dan kesakralan ritual. Peran Basir tetap diakui di tengah pusaran modernisasi karena kedudukannya sebagai sebagai agen reproduksi budaya yang aktif dalam menjaga keberlanjutan sistem religius Hindu Kaharingan. Penelitian ini menegaskan bahwa Tiwah bukan sekadar ritual kematian, tetapi merupakan sistem religius yang mengintegrasikan dimensi teologis, sosial, dan kosmologis dalam kehidupan masyarakat Hindu Kaharingan. Kata Kunci: Basir. Hindu Kaharingan. Kosmologi. Religius. Upacara Tiwah Pendahuluan Agama Hindu Kaharingan merupakan agama yang dianut oleh sebagian masyarakat dayak di Provinsi Kalimantan Tengah. Masyarakat dayak ini bertahan dengan segala adat istiadat dan kepercayaan termasuk pula menjaga kepercayaan yang dianutnya semenjak dahulu kala (Oktaviani & Kurnia, 2023. Widen, 2. Salah satu upacara ritual yang masih dilaksakan oleh masyarakat Dayak Kaharingan adalah Upacara Tiwah (Putri & Nasrudin, 2022. Schiller, 2. Upacara Tiwah digelar dan dilaksanakan oleh keluarga masyarakat Dayak yang masih hidup, terlepas dari agama yang dianut saat ini (Helim & Syahriana, 2019. Lestari et al. , 2. Namun upacara ini dilaksanakan khusus bagi anggota keluarga beragama Hindu Kaharingan yang telah meninggal dunia. Upacara ini merupakan tuntunan kewajiban suci, dan keharusan bagi pemeluk agama Kaharingan. Disamping kewajiban suci, kegiatan tersebut merupakan pelaksanaan keimanan berdasarkan ajaran agama (Putri & Nasrudin, 2. Upacara Tiwah ini merupakan implementasi Pitra Yadnya dalam ajaran Veda, khusus untuk masyarakat Hindu Kaharingan. Kitab Panaturan yang merupakan pedoman kehidupan umat Hindu Kaharingan memberikan tuntunan tentang pelaksanaan upacara Tiwah oleh umat Hindu Kaharingan. Panaturan mengajarkan bahwa umat Hindu Kaharingan untuk mengadakan upacara Tiwah sebagai jalan mengembalikan orang yang di Tiwah-kan kembali menyatu kepada Ranying Hatalla dan mensucikan sanak keluarga yang masih hidup akibat dari Pali yang timbul karena kematian. Tentang kewajiban melaksanakan upacara Tiwah dalam Panaturan pasal 33 ayat 2 dinyatakan sebagai berikut: Sahelu Bara Ranying Hatalla MaLaluhan Raja Bunu Ewen Hanak Nanturung Pantai Danum Kalunen. Hete IE Manyahuan Ewen Malalus Tiwah Suntu Intu Lewu Bukit Batu Nindan Tarung Rundung Kereng Liung Bantuling Nyaring. Jetuh Kareh Manjadi Suntu Akan Panakan Raja Bunu. Jete Ampin Jalan Ewen Te Buli Haluli Manalih IE. Terjemahannya: Sebelum Ranying Hatalla menurunkan Raja Bunu sekeluarga menuju Pantai Danum Kalunen, disitu Ia menyuruh mereka melaksanakan Tiwah Suntu di Lewu Bukit Batu Nindan Tarung, sebab ini nanti yang menjadi caranya mereka itu kembali dan datang menyatu kepada-Nya (Sutama et al. , 2. Masyarakat etnik Dayak Ngaju memandang bahwa peristiwa kematian bukan berarti hilang lenyap, dengan pengertian karena tubuh itu mengalami kerusakan, terpaksa unsur jiwa dan roh keluar pindah ke ruas-ruas ruang akhirat, negeri luar yang disebut Lewu Pantai Danum Liau. Randung Tanjung Ambun Buang (Bidin, 2. Upacara Tiwah sendiri merupakan upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menunju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang. Rundung Raja Dia Kamalesu Uhat. Lewu Tatau Habaras Bulau. Habusung Hintan. Hakarangan Lamiang atau alam keabadian. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Upacara Tiwah adalah upacara sakral terbesar yang beresiko tinggi, maka pelaksanaan dan persiapan segala sesuatunya harus dilakukan dengan benar-benar cermat, karena kalau terjadi kekeliruan atau pelaksanaan tidak sempurna, para ahli waris yang ditinggalkan akan menanggung beban berat (Saputra & Sihombing, 2. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya harus ada hewan korban dan berbagai runtututan upacara termasuk adanya beberapa Balian yang harus dilaksanakan. Selama upacara Tiwah berlangsung, ulama atau dalam bahasa agama Hindu Kaharingan disebut Basir, memainkan peran utama. Pada saat puncak upacara misalnya, adalah pembacaan mantra-mantra oleh Basir (Saputra & Sihombing, 2. Bukan sembarang Basir yang memimpin, melainkan Basir utama atau yang disebut dengan Basir Duhung Handepang Telun yang memiliki kemampuan lebih dan dipercayalah dalam memimpin jalannya upacara yang duduk di atas sebuah gong. Selain mengantarkan para arwah yang diTiwahkan dengan mantra-mantranya menuju Lewu Tatau . lam keabadia. para Basir juga akan menceritakan proses awal kehidupan manusia. Berdasarkan penelitian terdahulu dari Agusvina et al. , . pelaksanaan upacara Tiwah agar berlangsung dengan baik harus melalui tahapan-tahapan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan/pelaksanaan, dan pengawasan. Hal lain diungkap penelitian Ningrum & Soebijantroro . jika pelaksanaan upacara Tiwah dilaksanakan secara bersama-sama untuk dapat mengurangi beban biaya. Selanjutnya Syifa & Ribawati . mengungkap beberapa tahapan pelaksanaan upacara Tiwah, dimulai dari penggalian makam, pemindahan sisa-sisa tulang, penyediaan sesaji, hingga penyembelihan binatang kurban yang disertai dengan musik dan tarian tradisional. Dari beberapa study terdahulu yang diakukan belum ada yang mengkaji secara mendalam berkaitan dengan posisi pemuka agama (Basi. dalam pelaksanaan upacara Tiwah, dan kajian inilah yang akan dibahas secara mendalam dalam penelitian saat ini. Berdasarkan fenomena gap dan juga reseach gap yang telah diuraikan, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melakukan analisis mengenai bentuk, fungsi, makna, serta peran Basir dalam pelaksanaan Upacara Tiwah bagi umat Hindu Kaharingan. Adapun permasalahan utama yang akan dibahas adalah mengenai bentuk, fungsi dan makna upacara Tiwah bagi umat Hindu Kaharingan, kedudukan Basir dalam pelaksanaan upacara Tiwah, serta peran Basir dalam pelaksanaan upacara Tiwah. Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis sebagai landasan untuk memahami makna pengalaman religius dalam upacara Tiwah pada masyarakat Hindu Kaharingan. Pendekatan fenomenologis dipilih dengan pertimbangan bahwa penelitian ini fokus pada pengkajian fenomena sosioreligius pada pelaksanaan upacara Tiwah bagi umat Hindu Kaharingan. Penelitian dilaksanakan di Kota Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Pengumpulan data difokuskan pada wawancara mendalam terhadap seluruh informan. Penentuan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling, sehingga diperoleh sebanyak enam informan. Para informan dipilih dari unsur Basir, tokoh umat Hindu Kaharingan, dan tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterlibatan langsung dalam pelaksanaan Tiwah, sehingga informasi yang diperoleh relevan dengan permasalahan serta tujuan penelitian. Analisis data menggunakan model interaktif dari Miles. Huberman, dan Saldana, yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi (Miles et al. , 2. Untuk menjamin keabsahan data, digunakan teknik triangulasi sumber dengan membandingkan informasi antar informan. Melalui proses tersbeut, data yang diperoleh memiliki tingkat kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, yang kemudian disajikan secara naratif dan analitis. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hasil dan Pembahasan Bentuk. Fungsi, dan Makna Upacara Tiwah Dalam Perspektif Hindu Kaharingan Bentuk Upacara Tiwah Pelaksanaan Tiwah melibatkan berbagai sarana ritual seperti Balai Nyahu. Sangkairaya . Sapundu, dan Sandung, serta dipimpin oleh otoritas religius seperti Basir dan Duhung Handepang Telun (Syifa & Ribawati, 2. Dalam perspektif Clifford Geertz . , simbol-simbol ritual tersebut dapat dipahami sebagai model of reality sekaligus model for reality, yakni tidak hanya merepresentasikan sistem keyakinan masyarakat, tetapi juga membentuk orientasi tindakan religius mereka (Bazancir, 2023. Zurvani & Zarei, 2. Dengan demikian, struktur Tiwah tidak bersifat netral, melainkan merupakan konstruksi simbolik yang mengarahkan cara masyarakat Hindu Kaharingan memahami kematian sebagai proses transformasi menuju kesempurnaan spiritual. Bentuk upacara Tiwah menunjukkan konfigurasi ritual yang menyerupai pola rites of passage, yaitu terdiri atas tahap pemisahan, transisi, dan reintegrasi. Tahap persiapan dan pengumpulan sarana ritual merepresentasikan fase pemisahan dari kondisi profan, sementara pelaksanaan inti seperti Manganjan. Hanteran, dan Balian mencerminkan fase liminal . di mana roh berada dalam proses transformasi. Adapun penempatan tulang dalam Sandung menandai fase reintegrasi ke dalam tatanan kosmis yang baru, yakni penyatuan dengan Ranying Hatala di Lewu Tatau (Syifa & Ribawati, 2. Dengan demikian, bentuk Tiwah tidak sekadar rangkaian tindakan, tetapi merupakan mekanisme simbolik yang mengatur transisi ontologis manusia dari dunia empiris menuju realitas sakral. Dipandang dari perspektif Mircea Eliade, struktur ritual Tiwah juga memperlihatkan proses sakralisasi ruang dan waktu (Beltramini, 2025. Eliade, 2. Ruang seperti Sangkairaya dan Balai Nyahu tidak lagi dipahami sebagai ruang biasa, tetapi berubah menjadi pusat kosmos . xis mund. tempat berlangsungnya komunikasi antara manusia dan kekuatan ilahi. Demikian pula waktu pelaksanaan Tiwah yang berlangsung dalam siklus tertentu hingga mencapai puncak Tabuh menunjukkan adanya diferensiasi antara waktu profan dan waktu sakral. Hal ini menegaskan bahwa bentuk ritual Tiwah berfungsi sebagai media untuk Aumenghadirkan kembaliAy realitas sakral dalam kehidupan manusia. Struktur ritual Tiwah mencerminkan sistem kepercayaan yang berakar pada ajaran Ranying Hatala, di mana kehidupan manusia dipandang sebagai siklus yang harus disempurnakan melalui proses ritual. Hal ini ditegaskan oleh Rabiadi selaku masyarakat Hindu Kaharingan yang menguraikan bahwa upacara Tiwah merupakan upacara yang wajib harus dilaksanakan untuk menyelamatkan leluhur dan mensucikan roh yang sudah meninggal dunia, serta membebaskan yang hidup dari kesialan (Wawancara, 12 Juli Pernyataan ini menunjukkan bahwa bentuk ritual tidak hanya bersifat simbolik, tetapi memiliki konsekuensi ontologis dalam kerangka kepercayaan masyarakat. Senada dengan pernyataan Rabiadi, menurut Kundit U. Djunas selaku Basir menyampaikan bahwa upacara Tiwah adalah upacara ritual tertinggi . dalam acara penyelesaian kematian sebagai penghormatan terakhir bagi arwah yang di tiwahkan (Wawancara, 1 Agustus 2. Pernyataan ini mempertegas bahwa bentuk upacara Tiwah tidak dapat dipisahkan dari dimensi normatif dan kewajiban religius, yang dalam konteks Hindu dapat dikaitkan dengan praktik Pitra Yajya sebagai bentuk bakti kepada Upacara Tiwah bukan sekadar prosedur ritual, melainkan suatu sistem simbolik dan performatif yang berfungsi untuk mentransformasikan kematian menjadi proses sakral, mengatur transisi ontologis manusia, serta memastikan keberlangsungan keteraturan kosmis dalam perspektif Hindu Kaharingan. Dalam konteks ini. Tiwah tidak hanya menjelaskan kematian, tetapi juga AumengelolaAy kematian dalam kerangka teologis, simbolik, dan kosmologis secara menyeluruh. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH b. Fungsi Upacara Tiwah . Fungsi Religius Secara religius. Tiwah berfungsi sebagai sarana penyempurnaan ontologis, yaitu proses yang mengubah kondisi roh dari keadaan belum terselesaikan menuju penyatuan dengan Ranying Hatala. Fungsi religius Tiwah bersifat soteriologis, karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan tujuan akhir eksistensi manusia (Putri & Nasrudin. Menurut Kundit U. Djunas selaku Basir bahwa upacara Tiwah untuk menghantarkan roh kembali kepada Ranying Hatala melalui proses yang telah ditentukan (Wawancara, 1 Agustus 2. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kematian secara biologis belum dianggap final sebelum melalui penyempurnaan ritual. Artinya. Tiwah bukan sekadar simbol penghormatan, tetapi merupakan syarat teologis bagi tercapainya keselamatan roh. Apabila dikaitkan dengan pemikiran Mircea Eliade, fungsi ini dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi yang sakral . , di mana ritual berperan sebagai medium untuk menghadirkan realitas ilahi ke dalam pengalaman manusia (Eliade, 2. Namun dalam konteks Tiwah, hierofani tidak hanya bersifat simbolik, melainkan operasional, yakni diyakini secara nyata mampu memindahkan status roh dari dunia transisional menuju dunia sakral (Indarwati et al. , 2. Dengan kata lain, ritual tidak sekadar AumelambangkanAy, tetapi menghasilkan perubahan status ontologis. Selain fungsi soteriologis. Tiwah juga memiliki fungsi purifikatif, yaitu menghapus kondisi Pali . yang muncul akibat kematian (Nugraha & Wardani, 2021. Sanang, 2. Menurut Bajik R. Simpei selaku tokoh masyarakat menguraikan bahwa Upacara Tiwah merupakan kewajiban mutlak untuk menghapus Pali yang timbul akibat kematian dalam keluarga (Wawancara, 12 Juni 2. Pali dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai larangan sosial, tetapi sebagai kondisi ketidakseimbangan religius yang mempengaruhi hubungan antara manusia, leluhur, dan kekuatan ilahi. Dikaji dari perspektif yOmile Durkheim, kondisi ini dapat dibaca sebagai bentuk disrupsi terhadap keteraturan moral kolektif (Malik & Malik. Kematian menciptakan situasi ambiguitas yang mengganggu keseimbangan sosial dan religius, sehingga diperlukan ritual untuk mengembalikan keteraturan tersebut. Dalam konteks Tiwah, penghapusan Pali melalui ritual menunjukkan bahwa fungsi religius tidak hanya bekerja pada level individu . oh yang meningga. , tetapi juga pada level kolektif . eluarga dan komunita. Tiwah menjadi mekanisme untuk memulihkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial secara simultan. Fungsi religius Tiwah dapat dipahami dalam tiga dimensi utama. Pertama, sebagai fungsi soteriologis, yaitu menghantarkan roh menuju keselamatan di Lewu Tatau. Kedua, sebagai fungsi purifikatif, yaitu menghapus Pali dan menyucikan kondisi spiritual Ketiga, sebagai fungsi kosmologis, yaitu memulihkan keseimbangan antara manusia, leluhur, dan Ranying Hatala. Ketiga dimensi ini menunjukkan bahwa Tiwah bukan sekadar ritual kematian, tetapi merupakan sistem religius yang mengelola relasi antara kehidupan, kematian, dan keteraturan kosmis dalam masyarakat Hindu Kaharingan. Fungsi Sosial Berkaitan dengan fungsi sosial Tiwah. Juli Numan selaku tokoh adat menguraikan bahwa pelaksanaan Tiwah mempertemukan seluruh keluarga besar dan mempererat hubungan kekerabatan melalui kerja sama, baik tenaga maupun biaya (Wawancara, 17 Juli 2. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Tiwah bukan hanya ritual penghantaran roh, tetapi juga menjadi sarana aktualisasi nilai gotong royong. Kerja sama dalam bentuk tenaga, biaya, dan pembagian peran menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton ritual, melainkan sebagai bagian dari tubuh sosial yang ikut memikul https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tanggung jawab bersama. Durkheim memandang praktik ini dapat dipahami sebagai bentuk penguatan solidaritas mekanik, yaitu solidaritas yang dibangun atas dasar kesamaan keyakinan, nilai, dan kesadaran kolektif (Donny & Drajati, 2025. Khairulyadi et al. , 2. Melalui Tiwah, masyarakat Hindu Kaharingan mengalami kembali kesadaran bersama tentang pentingnya leluhur, kewajiban keluarga, dan keteraturan adat. Ritual menjadi arena sosial tempat individu melebur ke dalam identitas kolektif. Dengan kata lain. Tiwah tidak hanya menghubungkan manusia dengan yang sakral, tetapi juga menghubungkan manusia dengan komunitasnya. Keterlibatan masyarakat lintas agama dalam prosesi tertentu, seperti penyembelihan hewan korban agar dapat dikonsumsi oleh masyarakat Muslim, menunjukkan bahwa Tiwah juga berfungsi sebagai ruang integrasi sosial yang inklusif (Helim & Syahriana, 2019. Lestari et al. , 2. Praktik ini memperlihatkan bahwa sakralitas ritual tidak menutup diri dari realitas pluralitas sosial. Sebaliknya. Tiwah membuka ruang partisipasi yang memungkinkan masyarakat berbeda agama tetap terlibat secara harmonis tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi sosial Tiwah tidak hanya bekerja ke dalam komunitas Hindu Kaharingan, tetapi juga ke luar, yaitu membangun relasi sosial yang toleran dengan masyarakat sekitar. Apabila dikaitkan dengan filosofi Tri Hita Karana, fungsi sosial ini dapat dikaitkan dengan aspek pawongan, yaitu keharmonisan hubungan antarmanusia (Affandi et al. , 2. Namun, dalam konteks Hindu Kaharingan, prinsip pawongan hadir dalam bentuk lokal melalui gotong royong, keterbukaan sosial, penghormatan terhadap perbedaan, dan tanggung jawab bersama terhadap keluarga yang berduka. Dengan demikian. Tiwah dapat dipahami sebagai ekspresi lokal dari harmoni sosial, di mana hubungan manusia dengan sesama dijaga melalui tindakan konkret, bukan sekadar prinsip Temuan ini sejalan dengan pandangan Durkheim bahwa ritual keagamaan memiliki fungsi penting dalam memperkuat ikatan sosial dan meneguhkan kesadaran kolektif (Nurhamidin et al. , 2026. Rimy & Pyez, 2. Akan tetapi, dalam konteks Hindu Kaharingan, fungsi sosial Tiwah memperlihatkan karakter yang lebih khas karena solidaritas tidak hanya dibangun di antara sesama penganut, tetapi juga melibatkan masyarakat lintas agama. Hal ini menunjukkan bahwa Tiwah tidak hanya menghasilkan solidaritas internal, tetapi juga membangun solidaritas eksternal dalam masyarakat . Fungsi Estetika Dimensi estetika dalam upacara Tiwah tidak dapat dipahami sekadar sebagai unsur dekoratif atau pelengkap ritual, melainkan sebagai bagian integral dari sistem simbolik yang membentuk pengalaman religius masyarakat Hindu Kaharingan. Ekspresi estetika tersebut tampak melalui berbagai bentuk seni ritual seperti tarian sakral Manganjan, bunyi gong dan katambung, lantunan mantra oleh Basir, serta seni ukir pada Sandung dan Sapundu (Paramarta et al. , 2024. Qalyubi, 2023. Saputra & Sihombing. Syifa & Ribawati, 2. Keseluruhan unsur ini bekerja secara simultan dalam menciptakan suasana sakral yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan secara mendalam oleh pelaku ritual. Dikaji dari pemikiran Clifford Geertz . ekspresi estetika dalam ritual keagamaan merupakan bagian dari sistem simbol yang berfungsi untuk AumenghidupkanAy makna religius (Zurvani & Zarei, 2. Simbol tidak hanya menyampaikan makna secara konseptual, tetapi juga menggerakkan emosi dan pengalaman indrawi, sehingga keyakinan menjadi sesuatu yang dialami secara eksistensial. Dalam konteks Tiwah, tarian, bunyi, dan visualitas ukiran tidak sekadar merepresentasikan nilai religius, tetapi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH juga menciptakan kondisi psikologis dan spiritual yang memungkinkan masyarakat merasakan kehadiran yang sacral (Kojaing et al. , 2023. Lence & Kasim, 2. Nilai estetika dalam Tiwah berfungsi sebagai medium yang menjembatani antara pemahaman kognitif dan pengalaman afektif dalam praktik keagamaan. Menurut Juli Numan selaku tokoh adat menguraikan bahwa seni ukir pada Sandung dan Sapundu menggambarkan kehidupan orang yang meninggal dan memiliki nilai keindahan sekaligus kekuatan magis (Wawancara, 17 Juli 2. Pernyataan ini menunjukkan bahwa estetika dalam Tiwah memiliki dimensi representasional sekaligus Ukiran tidak hanya berfungsi sebagai ornamen visual, tetapi juga sebagai simbol yang mengandung narasi kehidupan sekaligus kekuatan magis yang dipercaya memiliki hubungan dengan dunia roh. Dengan demikian, estetika dalam Tiwah berfungsi sebagai media simbolik yang menghubungkan dunia empiris dengan dunia spiritual. Selain itu, dimensi estetika juga berperan dalam proses internalisasi nilai-nilai Melalui keterlibatan langsung dalam tarian, musik, dan visual ritual, individu tidak hanya memahami makna Tiwah secara rasional, tetapi juga menghayatinya secara Proses ini memperkuat keterikatan individu terhadap nilai-nilai keagamaan dan adat, sekaligus memastikan keberlanjutan tradisi dari generasi ke generasi. Dalam konteks ini, estetika berfungsi sebagai sarana pendidikan kultural yang bersifat implisit, di mana nilai-nilai religius ditransmisikan melalui pengalaman, bukan sekadar ajaran . Fungsi Didaktis Upacara Tiwah tidak hanya berfungsi sebagai ritus keagamaan dan sosial, tetapi juga memiliki dimensi didaktis yang kuat sebagai sarana pendidikan moral, etika, dan kedisiplinan dalam masyarakat Hindu Kaharingan (Agusvina et al. , 2025. Sesa & Muhammadiah, 2. Dilihat dari perspektif yOmile Durkheim, norma-norma yang terkandung dalam Pali dapat dipahami sebagai representasi dari moral kolektif . ollective conscienc. , yaitu seperangkat nilai dan aturan yang mengikat individu dalam suatu Masyarakat (Donny & Drajati, 2. Melalui Tiwah, moral kolektif ini tidak hanya dinyatakan, tetapi juga diinternalisasikan melalui praktik ritual yang bersifat langsung dan partisipatif. Dengan kata lain. Tiwah berfungsi sebagai medium di mana individu belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial yang berlaku, bukan melalui instruksi formal, tetapi melalui pengalaman langsung dalam ruang ritual. Menurut Lewis Iman selaku tokoh masyarakat menguraikan bahwa dalam upacara Tiwah terdapat berbagai pantangan yang mengatur perilaku agar tetap menjaga etika dan keharmonisan selama pelaksanaan ritual (Wawancara, 24 Juli 2. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Tiwah berfungsi sebagai mekanisme pembentukan etika sosial, di mana individu dilatih untuk mengendalikan diri, menjaga sikap, serta menghormati norma-norma yang berlaku. Dalam konteks ini, kepatuhan terhadap Pali bukan hanya bentuk ketaatan terhadap aturan, tetapi juga merupakan indikator kedewasaan moral dalam masyarakat. Secara pedagogis, fungsi didaktis Tiwah bekerja melalui proses pembelajaran implisit . mplicit learnin. , di mana nilai-nilai moral tidak diajarkan secara verbal atau formal, tetapi diserap melalui keterlibatan dalam praktik ritual (Collins et al. , 2. Individu yang terlibat dalam Tiwah secara tidak langsung belajar tentang pentingnya harmoni, pengendalian diri, solidaritas, serta penghormatan terhadap leluhur dan komunitas. Proses ini menjadikan Tiwah sebagai institusi pendidikan kultural yang efektif dalam mentransmisikan nilai-nilai dari generasi ke generasi. Makna Upacara Tiwah Makna upacara Tiwah dalam tradisi Hindu Kaharingan tidak berhenti pada pemahaman sebagai ritus kematian, melainkan mengandung dimensi filosofis yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH berkaitan dengan asal-usul, tujuan, dan hakikat keberadaan manusia. Tiwah merepresentasikan pemahaman bahwa kehidupan manusia berada dalam suatu siklus kosmis yang tidak terputus, di mana kematian merupakan fase transisi menuju realitas yang lebih tinggi, bukan akhir dari eksistensi (Putri & Nasrudin, 2022. Syifa & Ribawati. Dalam kerangka ini. Tiwah mengandung makna tentang kembalinya manusia kepada asal ilahinya, yaitu Ranying Hatala. Dipandang dari perspektif Mircea Eliade, makna tersebut dapat dipahami sebagai bentuk peralihan ontologis dari dunia profan menuju dunia sacral (Eliade, 2. Namun dalam konteks Tiwah, peralihan ini tidak bersifat abstrak, melainkan diwujudkan melalui tindakan simbolik yang diyakini memiliki konsekuensi nyata terhadap status roh. Dengan demikian, makna Tiwah terletak pada kemampuannya untuk menjembatani dua realitas sekaligus: dunia empiris dan dunia transenden. Menurut Saluman Jungan selaku tokoh masyarakat bahwa makna Tiwah adalah keselamatan leluhur, keberkahan bagi keturunan, dan ketaatan terhadap ajaran Ranying Hatala (Wawancara, 2 Juli 2. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa makna Tiwah tidak bersifat individual, melainkan relasional. Kehidupan manusia dipahami berada dalam jaringan hubungan antara leluhur, keturunan, dan Tuhan. Dalam kerangka ini, keberadaan manusia tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu terkait dalam suatu kesinambungan generasional yang bersifat spiritual. Makna tersebut menunjukkan adanya prinsip timbal balik antara leluhur dan keturunan. Leluhur yang telah mencapai kesempurnaan spiritual diyakini memberikan keberkahan kepada keturunannya, sementara keturunan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan penyempurnaan perjalanan leluhur (Pramana & Santika. Dalam konteks ini. Tiwah mengandung makna etis tentang kewajiban manusia terhadap asal-usulnya, yang dalam tradisi Hindu dapat dipahami sebagai bentuk konkret dari Pitra Yajya, tetapi dengan ekspresi kosmologis khas Kaharingan. Tiwah mengandung makna kosmologis yang mendalam, yaitu menjaga keseimbangan antara dunia manusia, dunia roh, dan kekuatan ilahi. Ketidaksempurnaan dalam proses kematian dipandang dapat menimbulkan gangguan dalam tatanan kosmis Sarira . Yuningsih et al. , . sehingga penyempurnaan melalui Tiwah menjadi bagian dari upaya menjaga harmoni semesta. Hal ini sejalan dengan prinsip Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Namun dalam konteks Kaharingan, prinsip ini tidak hanya bersifat normatif, tetapi terwujud dalam tindakan ritual yang konkret. Secara filosofis, makna Tiwah dapat dipahami dalam tiga dimensi utama. Pertama, sebagai makna ontologis, yaitu penegasan tentang asal dan tujuan akhir manusia sebagai makhluk yang berasal dari dan kembali kepada Ranying Hatala. Kedua, sebagai makna relasional, yaitu pengakuan terhadap keterikatan antara manusia, leluhur, dan keturunan dalam suatu jaringan spiritual yang berkelanjutan. Ketiga, sebagai makna kosmologis, yaitu upaya menjaga keseimbangan dan keteraturan antara berbagai dimensi kehidupan. Kedudukan Basir Dalam Pelaksanaan Upacara Tiwah Kewajiban Basir Dalam Pelaksanaan Upacara Tiwah Kewajiban Basir dalam upacara Tiwah tidak dapat dipahami sekadar sebagai pelaksanaan teknis ritual, tetapi sebagai tanggung jawab spiritual, teologis, dan sosial yang menentukan keberhasilan keseluruhan proses upacara. Dalam tradisi Hindu Kaharingan. Basir memegang peran sebagai mediator antara manusia, leluhur, dan Ranying Hatala, sehingga setiap tindakan yang dilakukan memiliki konsekuensi religius yang mendalam (Saputra & Sihombing, 2. Menurut Saluman Jungan selaku tokoh masyarakat bahwa pelaksanaan upacara Tiwah harus dipimpin oleh Basir yang memiliki https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kemampuan dan kapasitas khusus, karena Tiwah merupakan upacara kematian terbesar dalam tradisi Hindu Kaharingan (Wawancara, 12 Juli 2. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban Basir tidak hanya didasarkan pada fungsi ritual, tetapi juga pada legitimasi pengetahuan dan kemampuan spiritual yang dimilikinya. Kewajiban utama Basir terletak pada pelaksanaan inti ritual, yaitu Balian, yang mencakup pembacaan mantra-mantra suci dalam bahasa Sangiang serta proses penyucian roh. Basir bertanggung jawab dalam menghantarkan roh menuju Lewu Tatau melalui rangkaian simbolik dan verbal yang memiliki makna teologis. Dalam konteks ini. Basir berfungsi sebagai ritual specialist yang mengoperasikan sistem simbol dan bahasa sakral untuk memastikan bahwa proses transformasi roh berjalan sesuai ajaran Kaharingan. Menurut Kundit U. Djunas selaku Basir Duhung Handepang Telun bahwa Basir harus menguasai tata cara upacara, peralatan, serta struktur ritual sesuai tingkatan upacara (Wawancara, 1 Agustus 2. Pernyataan ini menegaskan bahwa kewajiban Basir bersifat epistemik, yaitu terkait dengan penguasaan pengetahuan sakral. Tanpa pengetahuan tersebut, ritual tidak dapat dilaksanakan secara sah. Dipandang dari perspektif Durkheim, kewajiban ini menunjukkan bahwa Basir tidak hanya berperan dalam dimensi religius, tetapi juga menjaga keteraturan sosial dan kosmologis. Ritual menjadi sarana untuk mempertahankan keseimbangan kolektif, dan Basir adalah aktor utama yang memastikan keseimbangan tersebut tetap terjaga (Donny & Drajati, 2025. Khairulyadi et al. , 2. Kewajiban Basir juga berkaitan dengan pembagian kerja ritual berdasarkan struktur kosmologi Kaharingan. Dalam Tiwah, terdapat pembagian tugas antara Basir dan Handepang Telun dalam menyucikan berbagai aspek roh. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban Basir tidak bersifat umum, tetapi spesifik dan terstruktur sesuai dengan sistem kepercayaan tentang roh manusia. Dengan demikian, kewajiban Basir mencerminkan keterkaitan erat antara praktik ritual dan Kewajiban Basir ini dapat dipahami dalam tiga dimensi utama. Pertama, sebagai kewajiban ritual, yaitu melaksanakan dan memimpin prosesi keagamaan. Kedua, sebagai kewajiban epistemik, yaitu menguasai dan mentransmisikan pengetahuan sakral. Ketiga, sebagai kewajiban kosmologis, yaitu menjaga keseimbangan antara dunia manusia, roh, dan kekuatan ilahi. Ketiga dimensi ini menunjukkan bahwa Basir bukan sekadar pelaku ritual, tetapi penjaga keteraturan religius dan kosmis dalam masyarakat Hindu Kaharingan. Hak-Hak Basir Dalam Pelaksanaan Upacara Tiwah Selain memiliki kewajiban yang besar. Basir juga memiliki hak-hak yang diakui secara sosial dan kultural dalam pelaksanaan upacara Tiwah. Hak ini tidak hanya bersifat material, tetapi juga simbolik, yang mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap kedudukan Basir sebagai otoritas religius. Hak utama Basir dikenal dengan istilah Laluh, yaitu upah atau bentuk penghargaan yang diberikan kepada Basir atas perannya dalam memimpin upacara. Menurut Kundit U. Djunas selaku Basir Duhung Handepang Telun, penentuan Laluh dilakukan melalui musyawarah pada tahap awal pelaksanaan upacara, yaitu saat Minjam Basir oleh pihak penyelenggara (Wawancara, 17 Juli 2. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian Laluh didasarkan pada prinsip kesepakatan bersama, bukan paksaan sepihak. Laluh tidak hanya berupa uang, tetapi juga dapat berupa sarana upacara seperti emas, kain, serta bentuk pelayanan lainnya. Basir juga berhak mendapatkan pelayanan dari pihak penyelenggara dalam hal makanan, kesehatan, dan kenyamanan selama memimpin upacara (Yanti et al. , 2. Hal ini penting karena kondisi Basir secara fisik dan spiritual sangat mempengaruhi jalannya Laluh tidak dapat dipahami sebagai transaksi ekonomi semata. Dalam perspektif antropologi, pemberian Laluh merupakan bentuk reciprocity atau hubungan timbal balik https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH antara masyarakat dan pemimpin ritual. Masyarakat memperoleh bimbingan spiritual dan jaminan keberhasilan ritual, sementara Basir memperoleh penghargaan atas pengetahuan dan tanggung jawab yang diembannya. Hak Basir lainnya adalah berkaitan dengan pengakuan sosial. Kedudukan Basir sebagai rohaniawan yang disucikan menjadikannya figur yang dihormati dalam masyarakat. Penghormatan ini tidak hanya ditunjukkan melalui pemberian Laluh, tetapi juga melalui perlakuan khusus selama pelaksanaan Dengan demikian, hak Basir memiliki dimensi simbolik yang memperkuat legitimasi sosialnya. Akan tetapi, di sisi lain pelaksanaan hak Basir juga mengandung Kesalahan dalam pelaksanaan ritual dapat berdampak negatif, bahkan membahayakan Basir maupun keluarga penyelenggara. Oleh karena itu, hak yang diterima Basir tidak terlepas dari tanggung jawab besar yang dipikulnya. Dalam hal ini, hubungan antara hak dan kewajiban bersifat seimbang dan saling melengkapi. Peran Basir Dalam Upacara Tiwah Peran Basir Sebagai Pemimpin Dalam Upacara Tiwah Peran Basir dalam upacara Tiwah tidak hanya terbatas sebagai pelaksana ritual, tetapi sebagai pemimpin religius yang mengarahkan keseluruhan proses sakral, baik pada tingkat simbolik, teologis, maupun organisatoris. Dalam tradisi Hindu Kaharingan, kepemimpinan Basir bersifat menyeluruh karena mencakup pengaturan jalannya ritual, pengendalian makna simbolik, serta penjamin keterhubungan antara manusia dan Ranying Hatala (Josela, 2025. Putri & Nasrudin, 2. Menurut Juli Numan selaku tokoh adat menguraikan bahwa Basir berperan sebagai pemimpin upacara sekaligus perantara antara umat Hindu Kaharingan dengan Ranying Hatala melalui penggunaan bahasa Sangiang (Wawancara, 17 Juli 2. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Basir tidak bersifat administratif, melainkan bersifat sakral dan komunikatif, karena ia menjadi satu-satunya aktor yang memiliki otoritas untuk AumembukaAy komunikasi dengan dunia ilahi. Dikaji dari perspektif antropologi agama, peran ini dapat dipahami sebagai bentuk ritual authority, yaitu otoritas yang berasal dari penguasaan pengetahuan sakral, legitimasi adat, serta kemampuan spiritual (Kustermans et al. , 2. Basir tidak hanya memimpin secara teknis, tetapi juga menentukan validitas ritual. Tanpa kepemimpinannya, ritual kehilangan arah, struktur, dan legitimasi religius. Menurut Basir Duhung Handepang Telun Kundit U. Djunas kepemimpinan Basir mencakup beberapa dimensi penting, yaitu: Mengatur urutan dan struktur kegiatan ritual . Menentukan kebutuhan sarana dan prasarana . Melaksanakan prosesi ritual sesuai peran . Mengoordinasikan seluruh anggota Tiwah . Menjaga keseimbangan alam secara supranatural (Wawancara, 1 Agustus 2. Kelima aspek ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Basir bersifat multidimensional, mencakup dimensi teknis, simbolik, sosial, dan kosmologis. Dalam perspektif Durkheim, peran ini memperlihatkan bahwa pemimpin ritual tidak hanya menjaga jalannya upacara, tetapi juga menjaga keteraturan sosial dan keseimbangan Selain itu, kepemimpinan Basir juga bersifat hierarkis dan berbasis kompetensi. Basir berfungsi sesuai dengan tingkat kemampuannya, di mana Basir Upu. Pengapit, dan Pendamping berperan dalam pelaksanaan Balian, sedangkan Basir Duhung Handepang Telun (Piso. memiliki otoritas khusus dalam prosesi Pahanteran Liau. Hal ini menunjukkan adanya diferensiasi kepemimpinan dalam struktur ritual, yang menandakan bahwa Tiwah merupakan sistem religius yang terorganisasi secara kompleks. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Peran Basir Duhung Handepang Telun sebagai Tukang Hanteran memiliki kedudukan paling tinggi dalam konteks penghantaran roh. Ia tidak hanya memimpin ritual, tetapi juga merepresentasikan figur sakral melalui atribut simbolik seperti pakaian Dalam perspektif simbolik (Geert. , atribut tersebut tidak sekadar hiasan, tetapi merupakan simbol legitimasi dan otoritas religius yang menguatkan posisi Basir sebagai pemimpin sacral (Bazancir, 2. Peran Basir sebagai pemimpin dapat dipahami dalam tiga dimensi utama. Pertama, sebagai pemimpin ritual, yang mengatur dan melaksanakan jalannya upacara. Kedua, sebagai pemimpin simbolik, yang menginterpretasikan dan mengaktifkan makna religius dalam ritual. Ketiga, sebagai pemimpin kosmologis, yang menjaga keterhubungan antara manusia, leluhur, dan Ranying Hatala. Ketiga dimensi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Basir tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga bersifat eksistensial dalam kehidupan religius masyarakat Hindu Kaharingan. Peran Basir Sebagai Perantara Dalam Upacara Tiwah Selain sebagai pemimpin. Basir juga memiliki peran fundamental sebagai perantara . antara dunia manusia dan dunia roh. Peran ini merupakan inti dari praktik keagamaan Hindu Kaharingan, karena Tiwah tidak hanya melibatkan aktivitas manusia, tetapi juga interaksi dengan entitas spiritual (Indarwati et al. , 2025. Pamaru & Zulfadli, 2. Menurut Juli Numan, pelaksanaan Tiwah tetap dapat berlangsung tanpa Basir Duhung Handepang Telun dengan menggunakan Basir Munduk, namun fungsi perantara tetap harus dijalankan dalam bentuk yang berbeda (Wawancara, 17 Juli 2. Hal ini menunjukkan bahwa peran mediasi bersifat esensial dalam ritual, sehingga harus tetap hadir dalam bentuk apa pun. Peran perantara ini tampak dalam proses penghantaran berbagai aspek roh, seperti Liau Balawang Panjang dan Liau Karahang Tulang, yang dilakukan melalui tahapan ritual tertentu seperti Tabuh kedua dan ketiga. Proses ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi diyakini sebagai tindakan nyata yang menentukan perjalanan roh menuju Lewu Tatau. Dalam perspektif Eliade, hal ini dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi yang sakral, di mana ritual menjadi sarana untuk melintasi batas antara dunia profan dan dunia sacral (Eliade, 2. Peran mediasi Basir juga ditunjukkan melalui penggunaan bahasa Sangiang, yang berfungsi sebagai bahasa sakral dalam komunikasi dengan dunia roh. Bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi merupakan medium simbolik yang memiliki kekuatan Dalam perspektif Geertz, bahasa Sangiang dapat dipahami sebagai simbol yang tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga menciptakan realitas religius (Dana. Namun, peran sebagai perantara juga mengandung risiko yang besar. Menurut Kundit U. Djunas, kelalaian dalam pelaksanaan ritual dapat menimbulkan konsekuensi serius, baik bagi anggota Tiwah maupun bagi Basir sendiri (Wawancara, 1 Agustus 2. Jika kesalahan terjadi pada anggota Tiwah, maka akan muncul gangguan dalam kehidupan keluarga. Namun jika kesalahan dilakukan oleh Basir, dampaknya dapat lebih berat, bahkan membahayakan dirinya dan keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa peran mediasi Basir tidak bersifat netral, tetapi mengandung tanggung jawab spiritual yang tinggi. Dalam perspektif antropologi, posisi ini dapat dipahami sebagai liminal specialist, yaitu individu yang berada di antara dua dunia dan memiliki kemampuan untuk menjembatani keduanya, tetapi sekaligus rentan terhadap risiko dari kedua sisi. Oleh karena itu. Basir tidak hanya menjalankan fungsi ritual, tetapi juga berperan aktif dalam membimbing anggota Tiwah untuk mempersiapkan sarana dan menjalankan aturan dengan benar. Bimbingan ini menunjukkan bahwa mediasi tidak hanya terjadi dalam ritual, tetapi juga dalam proses persiapan sosial dan moral. Berkaitan dengan peran Basir yang begitu penting dalam pelaksanaan upacara Tiwah, perlu juga dipandang dari konteks modern. Adanya modernisasi dan perubahan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sosial masyarakat Dayak, otoritas religius Basir juga terus mengalami proses reproduksi dan adaptasi. Secara teoretis, posisi Basir dapat dipahami dalam kerangka traditional authority yang bersumber dari legitimasi adat dan kepercayaan (McLean & Nix, 2. Namun, dalam masyarakat yang semakin rasional dan terpapar sistem pendidikan formal serta agama-agama dunia, otoritas tersebut tidak mengalami disrupsi total, melainkan bertransformasi melalui integrasi nilai-nilai tradisional dengan praktik sosial yang lebih Dalam perspektif Pierre Bourdieu, otoritas Basir juga dapat dilihat sebagai bentuk modal simbolik yang diperoleh melalui penguasaan bahasa Sangiang, pengetahuan ritual, serta pengakuan sosial komunitas, yang terus direproduksi melalui praktik Tiwah sebagai arena legitimasi kultural (Hossain & Fatema, 2022. Olesen, 2. Bertahannya otoritas ini tampak pada tetap sentralnya peran Basir dalam pelaksanaan Tiwah, meskipun masyarakat telah mengalami transformasi sosial, termasuk meningkatnya akses pendidikan, mobilitas sosial, dan interaksi dengan sistem keagamaan formal (Josela, 2025. Putri & Nasrudin, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa peran Basir tidak sekadar sebagai pemimpin ritual dan mediator sakral, tetapi juga sebagai agen reproduksi budaya yang aktif dalam menjaga keberlanjutan sistem religius Hindu Kaharingan di tengah arus modernisasi. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan menempatkan Basir sebagai aktor religius yang dinamis, yang mampu mempertahankan legitimasi melalui mekanisme adaptasi, reproduksi simbolik, dan interaksi dengan perubahan sosial, sehingga memperkaya kajian antropologi agama, khususnya dalam memahami transformasi otoritas religius lokal dalam masyarakat kontemporer. Kesimpulan Pemahaman akan bentuk, fungsi dan makna upacara Tiwah menjadi hal penting bagi masyarakat Hindu Kaharingan. Melalui pemahaman ini, upacara tidak akan dipandang sebagai bentuk ritual belaka, melainkan sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai religius, sosial dan budaya dengan menghubungkan dimensi teologis, sosial, estetis, dan didaktis dalam satu kesatuan praksis keagamaan yang utuh. Menyoroti peran Basir dalam pelaksanaan upacara Tiwah juga memberikan pehamaman bahwa Basir memiliki kedudukan sentral sebagai otoritas religius yang tidak hanya memimpin ritual, tetapi juga berperan sebagai mediator sakral, penjaga pengetahuan simbolik dan kosmologis, serta pengelola keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial. Otoritas yang tetap terjaga di tengah derasnya arus modernisasi menunjukkan bahwa Basir diterima oleh masyarakat modern dengan mengikuti adaptasi sosial tanpa mengesampingkan kewajiban utamanya. Penelitian ini berimplikasi bagi pengembangan pemahaman serta pengetahuan Hindu Nusantara terkait upacara kematian selain Pitra Yajya bagi umat Hindu Bali. Penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi kajian antropologi agama dengan menegaskan bahwa ritual tidak hanya merepresentasikan keyakinan, tetapi juga memproduksi realitas sosial dan kosmologis. Selain itu, penelitian ini memiliki implikasi praktis bagi upaya pelestarian budaya lokal, penguatan pendidikan nilai berbasis kearifan lokal, serta pengembangan dialog antaragama, karena Tiwah menunjukkan model harmoni sosial yang inklusif dan berbasis pada penghormatan terhadap leluhur, solidaritas kolektif, dan keseimbangan kosmis yang relevan dalam masyarakat multikultural. Daftar Pustaka