E-ISSN 2798-3846 Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 PELATIHAN LITERASI KEUANGAN DAN EKONOMI DIGITAL UNTUK PENGUATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU EKONOMI SE-KOTA MATARAM Dhiah Fitrayati1*. Eka Indah Nurlaili1. Jun Surjanti1. Norida Canda Sakti1. Yoyok Soesatyo1 Universitas Negeri Surabaya *dhiahfitrayati@unesa. id, ekanurlaili@unesa. id, junsurjanti@unesa. noridacanda@unesa. id, yoyoksoesatyo3@gmail. ABSTRAK Peningkatan kompetensi profesional guru ekonomi di bidang literasi keuangan dan ekonomi digital merupakan tujuan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kompetensi tersebut dibutuhkan untuk menumbuhkan melek keuangan di kalangan peserta didik sejak dini dan mencegah terjeratnya peserta didik pada kasus pinjaman online, investasi bodong dan Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah MA yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan NU MaAoarif Provinsi Nusa Tenggara Barat mengalami keterbatasan akses perkembangan materi tentang ekonomi digital dan literasi keuangan. Status guru honorer di sekolah swasta dengan tingkat pendapatan di bawah nilai UMR menjadi penyebab utama keterbatasan akses untuk mengikuti pelatihan dan perkembangan informasi tentang ekonomi digital dan literasi keuangan. Metode kegiatan pengabdian dikemas dalam bentuk pelatihan secara tatap muka. Hasil perbandingan pre test dan post test menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru ekonomi pada materi literasi keuangan dan ekoonomi digital mengalami peningkatan. Kata Kunci: Pelatihan. Literasi Keuangan. Ekonomi Digital. Kompetensi Profesional. Guru Ekonomi ABSTRACT This community service aims to improve the professionalism of economics teachers in the field of financial literacy and digital economy. These competencies are needed to foster financial literacy among students from an early age and prevent students from being entangled in cases of online loans, fraudulent investments and the like. Initial observations show that most MA schools under the NU Ma'arif Education Institute of West Nusa Tenggara Province have limited access to material development on digital economy and financial literacy. The status of honorary teachers in private schools with income levels below the UMR value is the main cause of limited access to training and development of information on digital economy and financial The method of service activities is packaged in the form of face-to-face training. The results of the pre-test and post-test comparison show that the professional competence of economics teachers on financial literacy and digital economy material has increased. Keywords: Training. Financial Literacy. Digital Economy. Professional Competence. Economics Teacher Tanggal Masuk: 23 April 2025 Tanggal Diterima: 26 Juni 2025 Halaman: 15-26 Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 PENDAHULUAN Seiring dengan kemajuan teknologi, para pelaku jasa keuangan mulai mengintegrasikan pemanfaatan teknologi pada sektor jasa keuangan. Pemanfaatan teknologi tersebut bertujuan untuk mempermudah transaksi dan jangkauan Kendatipun demikian, pemanfaatan teknologi tersebut juga menimbulkan risiko tindak kejahatan, misal penipuan berbasis investasi bodong dan mekanisme pinjaman online yang merugikan. Lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir tahun 2023 merilis data kredit macet di industri pinjaman online yang mengalami peningkatan (Otoritas Jasa Keuangan, 2. , dimana generasi Z dan milenial sebagai penyumbang utamanya (Fitriani, 2. Selain itu. OJK juga merilis adanya kerugian masyarakat sebesar Rp139,03 akibat investasi ilegal dalam kurun waktu 2017 sampai 2022 (Ridwan, 2. Memasuki era industri 4. 0, pembekalan kompetensi literasi keuangan dan ekonomi digital penting untuk dilakukan (Andriana & Rahmawati, 2. Pembekalan sejak dini tersebut dapat dilakukan melalui jenjang pendidikan formal dengan melibatkan guru sebagai ujung tombak dalam kegiatan pembelajaran. Bukti empiris menunjukkan bahwa perilaku pengelolaan keuangan berkorelasi positif dengan literasi keuangan (Hamdani, 2010. Rachmawati & Nuryana, 2020. Rohmanto & Susanti, 2021. Setiawan & Indriani, 2022. Sudrajat & Setiyawan, 2. Gayung bersambut dengan fenomena yang terjadi di masyarakat dan hasil penelitian. Pemerintah meluncurkan kurikulum merdeka pada jenjang pendidikan menengah dengan memasukkan bahan kajian tentang ekonomi digital dan literasi keuangan (SK BSKAP 032/H/KR/2024 Tentang Capaian Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini. Jenjang Pendidikan Dasar. Dan Jenjang Pendidikan Menengah Pada Kurikulum Merdeka, 2. Penambahan kedua materi tersebut dalam capaian pembelajaran merupakan bentuk respons pemerintah terhadap fenomena di masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penambahan kedua materi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru, khususnya dalam hal penguasaan kompetensi tersebut. Materi literasi keuangan terdapat di kelas X dan materi ekonomi digital terdapat di kelas XI. Kedua materi tersebut termasuk materi baru dan relatif cepat berkembang. Adapun sumber belajar yang relevan Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 dengan perkembangan keilmuan untuk pokok bahasan tersebut adalah buku teks ekonomi lembaga keuangan, peraturan pemerintah tentang lembaga keuangan, dan situs website lembaga keuangan. Lembaga Pendidikan NU MaAoarif (LP MaAoarif NU) Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan perangkat organisasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang membawahi bidang pendidikan di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lembaga ini menjadi wadah bagi lembaga pendidikan formal dan non-formal, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pengurus LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat, lembaga MA di wilayahnya berstatus lembaga pendidikan swasta dengan status guru honorer. Adapun tingkat pendapatan guru honorer tersebut berada di bawah nilai UMR. Kondisi inilah yang juga berkontribusi terhadap rendahnya akses informasi dan pengetahuan, khususnya informasi dan pengetahuan yang hanya dapat diakses melalui jaringan internet atau lembaga penyedia pelatihan yang kredibel khususnya pada materi literasi keuangan dan ekonomi digital. Oleh karenanya penyelenggaraan pelatihan literasi keuangan dan ekonomi digital merupakan salah satu upaya untuk membantu guru ekonomi MA di selingkung LP MaAoarif NU menghadapi tantangan penguasaan kompetensi khususnya pada pokok bahasan literasi keuangan dan ekonomi digital. METODE Metode pelaksanaan yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami guru ekonomi di bawah lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah kegiatan pelatihan dalam bentuk workshop. Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada bulan Agustus 2024. Kegiatan pelatihan tersebut terbagi dalam empat tahapan kegiatan, yaitu tahap perencanaan, tahap sosialisasi, tahap pelatihan, dan tahap pendampingan dan Tahap pertama adalah perencanaan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah koordinasi dengan LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dan jenis pelatihan yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan dan jenis pelatihan yang dibutuhkan. Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 ditawarkan solusi atas permasalahan yang telah teridentifikasi dan penyusunan materi pelatihan yang dibutuhkan. Tahap kedua, tahap sosialisasi. Tim PKM melakukan sosialisasi bentuk kegiatan PKM yang akan dilaksanakan kepada mitra pengabdian, yaitu guru ekonomi MA di bawah lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan sosialisasi dilakukan melalui pertemuan online via zoom dengan pengurus lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat dan penyebaran poster kegiatan melalui media whatsapp Poster kegiatan tersebut berisi informasi tentang tema, waktu dan lokasi pelaksanaan kegiatan pelatihan. Tahap ketiga adalah pelaksanaan pelatihan. Peserta kegiatan pelatihan adalah mitra pengabdian, yaitu guru ekonomi MA di bawah lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara luring. Tahap terakhir, tahap keempat yaitu tahap evaluasi. Setelah tahap pelatihan terlaksana. Tim PKM melakukan evaluasi bagi guru ekonomi MA di bawah lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan pelatihan, yaitu pengukuran atas kompetensi profesional peserta dengan membandingkan nilai pre test dan post test dan pengukuran keberhasilan pelaksanaan pelatihan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap Persiapan Pada tahap persiapan. Tim PKM terlebih dahulu berdiskusi dengan pengurus LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk mengidentifikasi permasalahan umum yang dihadapi oleh para guru ekonomi MA. Hasil diskusi menunjukkan bahwasanya guru ekonomi MA mengalami kesulitan untuk update materi literasi keuangan dan ekonomi digital sebagi akibat rendahnya akses informasi dan pengetahuan yang berkaitan dengan kedua materi tersebut. Selanjutnya, berdasarkan hasil diskusi tersebut. Tim PKM menyebarkan kuesioner untuk mengetahui tentang kurikulum yang berlaku di sekolah, konten materi literasi keuangan dan ekonomi digital yang telah dikuasai, belum dikuasi, dan ingin dipelajari lebih lanjut oleh peserta pelatihan. Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 Hasil sebaran kuisioner menunjukkan bahwa seluruh sekolah di bawah naungan lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat telah menerapkan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2024/2025. Awal mula tahun ajaran penerapan Kurikulum Merdeka antar sekolah berbeda. Sekitar 75% sekolah telah memasuki tahun kedua penerapan Kurikulum Merdeka, sedangkan sisanya 25% sekolah baru menerapkan Kurikulum Merdeka di tahun ajaran 2024/2025, artinya tahun pertama. Selain itu juga diperoleh informasi bahwa sebagian besar guru ekonomi telah memahami bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran. Namun permasalahan yang terjadi adalah sebagian besar guru belum menguasai dua substansi baru dalam capaian pembelajaran ekonomi, yaitu literasi keuangan dan ekonomi digital. Pada dasarnya Pemerintah telah menyiapkan sumber belajar yang dapat diakses oleh guru secara online melalui Platform Merdeka Mengajar. Namun untuk mengakses platform pembelajaran tersebut, guru harus memiliki akun belajar. Sementara guru ekonomi yang berada di bawah lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak memiliki akun belajar. Hal ini dikarenakan akun tersebut tersedia untuk guru yang secara administratif terdaftar dalam sistem Dapodik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan guru ekonomi yang berada di bawah lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat secara administratif terdaftar dalam Simpatika Kementerian Agama. Oleh karenanya guru ekonomi di bawah lembaga LP MaAoarif NU Provinsi Nusa Tenggara Barat mengalami keterbatasan akses informasi pembaruan keilmuan bidang studi. Selain itu, para guru juga kesulitan untuk mengakses pelatihan yang diselenggarakan oleh instansi lain karena keterbatasan pendanaan, mengingat sebagian besar merupakan guru honorer di sekolah swasta. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan di atas, solusi yang dapat ditawarkan adalah memberikan pelatihan literasi keuangan dan ekonomi digital. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh mitra, yaitu keterbatasan akses informasi. Selain mengidentifikasi kebutuhan peserta pelatihan. Tim PKM juga melakukan penyusunan materi pelatihan. Materi pelatihan mencakup tentang Pemaparan konsep literasi keuangan dan ekonomi digital dan penyusunan bahan ajar pada materi literasi keuangan dan ekonomi digital. Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 Tahap Sosialisasi Tahap sosialisasi bertujuan untuk mensosialisasikan kegiatan pelatihan yang akan diselenggarakan kepada peserta pelatihan. Kegiatan sosialisasi dilakukan dengan menyebarkan poster kegiatan melalui media whatsapp. Poster kegiatan tersaji pada Gambar 1. Poster Pelatihan Tahap Pelaksanaan Pelatihan Tim PKM telah melaksanakan pelatihan dengan skema luring di MI Nurul Islam. Sekarbela. Kota Mataram pada tanggal 24 Agustus. Adapun jumlah peserta yang hadir adalah 23 peserta, yang terdiri dari 13 peserta berjenis kelamin laki-laki dan 10 peserta berjenis kelamin perempuan. Kegiatan pelatihan Literasi Keuangan dan Ekonomi Digital dibuka oleh Ketua LP MaAoarif NU Wilayah Nusa Tenggara Barat, yaitu Bapak Dr. Lukman Hakim. Pd. Kegiatan pelatihan berlangsung dalam dua sesi, yaitu sesi 1 adalah sesi pemaparan konsep literasi keuangan dan ekonomi digital, serta sesi 2 yaitu penyusunan perangkat pembelajaran pada materi literasi keuangan dan ekonomi digital. Sesi 1. Pemaparan konsep literasi keuangan dan ekonomi digital. Sebelum pemaparan materi dilakukan terlebih dahulu dilakukan pre test untuk mengukur kemampuan awal peserta pelatihan. Pemaparan materi dilakukan oleh tim PKM. Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 Adapun materi yang disampaikan adalah pengenalan konsep atau istilah di bidang keuangan, pengelolaan keuangan, dan ekonomi digital. Metode penyampaian materi yang digunakan antara lain ceramah dan diskusi kelompok. Metode ceramah digunakan untuk memaparkan materi yang bersifat konseptual, yaitu konsep literasi keuangan, pengelolaan keuangan dan ekonomi digital dengan menggunakan pendekatan Gambar 2. Dokumentasi Penyampaian Materi Metode diskusi kelompok digunakan untuk membantu peserta pelatihan memahami materi tentang istilah dibidang keuangan dengan menggunakan pendekatan berbasis permainan. Dalam hal ini peserta terbagi dalam 5 kelompok untuk menerapkan permainan Note It. Permainan Note It merupakan permainan eksplorasi pengetahuan peserta tentang istilah-istilah di bidang keuangan dan ekonomi digital. Gambar 3. Dokumentasi Diskusi Kelompok dengan Permainan Note It Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 Permainan Note It diawali dengan pembagian post it kepada setiap kelompok. Selanjutnya masing-masing anggota kelompok ditugaskan untuk menuliskan istilah di bidang literasi keuangan dan ekonomi digital yang diketahui dalam waktu 5 menit. Setelah 5 menit berlalu. Tim PKM menghentikan aktivitas menulis istilah dan memberikan arahan kepada anggota kelompok untuk berkolaborasi dengan cara berbagai ke anggota kelompok istilah-istilah literasi keuangan dan ekonomi digital yang telah ditulis. Selanjutnya dilakukan rekapitulasi jumlah istilah yang diperoleh dan ditempel pada kertas karton sebagai wujud display hasil kerja kelompok. Tahapan terakhir dari permainan ini adalah seluruh anggota kelompok mengunjungi display kelompok lain untuk memperoleh istilah baru yang belum mereka peroleh. Sesi 2, penyusunan perangkat pembelajaran pada materi literasi keuangan dan ekonomi digital. Aktivitas pada sesi 2 mencakup kegiatan pendampingan penyusunan bahan ajar pada materi literasi keuangan dan ekonomi digital. Kegiatan pendampingan penyusunan bahan ajar diawali dengan kegiatan mengidentifikasi kompetensi dan konten yang terdapat dalam capaian pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi. Selanjutnya para peserta dipandu untuk menyusun tujuan pembelajaran yang relevan dengan kompetensi dan konten yang telah diidentifikasi dari capaian pembelajaran. Perumusan tujuan pembelajaran tersebut ditulis pada lembar post it yang telah Penggunaan post it dimaksudkan untuk memudahkan dalam penyusunan alur tujuan pembelajaran (ATP). Gambar 4. Dokumentasi Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 Setelah seluruh tujuan pembelajaran berhasil dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pendampingan penyusunan ATP. Penyusunan ATP dilakukan dengan mengurutkan post it yang bertuliskan tujuan pembelajaran sesuai dengan jalur belajar dan karakteristik materi. Setelah seluruh post it tersusun sesuai jalur belajar dan karakteristik materi, maka langkah selanjutnya adalah mengembangkan materi ajar. Kegiatan pendampingan penyusunan bahan ajar diakhiri dengan presentasi perangkat pembelajaran yang telah disusun oleh peserta untuk memperoleh saran dari Tim PKM dan peserta lain. Tahap Evaluasi Evaluasi pelatihan dilakukan secara bertahap, diawali dari sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan pelatihan. Evaluasi sebelum pelaksanaan pelatihan dilakukan dengan membagikan pre test untuk mengukur kompetensi profesional awal peserta. Evaluasi selama pelaksanaan pelatihan dilakukan melalui metode observasi dan penyebaran keusioner di akhir pelatihan. Sementara evaluasi setelah pelaksanaan pelatihan ditujukan untuk mengukur kompetensi profesional peserta melalui post test yang terdiri dari 15 butir Perbandingan skor pre test dan post test menunjukkan kenaikan hasil belajar peserta pelatihan. Adapun persentase kenaikan tertinggi sebesar 58,82%, persentase kenaikan terendah sebesar 15,71%, dan persentase rata-rata sebesar 37,08%. Materi literasi keuangan memiliki peningkatan skor lebih tinggi dari pada materi ekonomi Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa telah terjadi peningkatan kompetensi profesional peserta pelatihan setelah mengikuti pelatihan literasi keuangan dan ekonomi digital. Selanjutnya untuk memastikan adanya perbedaan hasil pre test dan post test dilakukan analisis uji beda dengan bantuan aplikasi SPSS sebagaimana tersaji pada Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pretest dan post test. Pelatihan literasi keuangan dan ekonomi digital telah berdampak pada peningkatan kompetensi profesional guru ekonomi. Hasil ini sejalan dengan kegiatan pengabdian yang telah dilakukan oleh (Hikmah, 2. yang menunjukkan Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 bahwa kegiatan pelatihan literasi keuangan dapat meningkatkan pemahaman peserta Tabel 1. Hasil Uji Beda Pretest dan Posttest Evaluasi pelaksanaan pelatihan diukur dengan menggunakan kuesioner yang mencakup aspek kecukupan alokasi waktu, kelayakan materi, penyajian materi, dan kebermanfaatan materi. Alokasi waktu yang dirancang telah memadai untuk memahami materi dan penyusunan perangkat pembelajaran. Hal ini berdasarkan persentase respons peserta yang menunjukkan sebesar 78,4% menyatakan sangat memadai, dan sisanya 22,6% menyatakan cukup memadai. Ditinjau dari aspek kelayakan materi yang disajikan, sebesar 82,2% menyatakan bahwa materi yang disajikan relevan dengan kebutuhan peserta. Sebesar 85,3% menyatakan bahwa materi yang disajikan sangat bermanfaat untuk pembelajaran di kelas sebagai bekal untuk menyampaikan materi tersebut kepada siswa. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan literasi keuangan dan ekonomi digital sangat dibutuhkan oleh peserta sebagai upaya peningkatan kompetensi profesional peserta. Ditinjau dari aspek penyajian materi, kegiatan pelatihan dapat dinyatakan Hal ini dikarenakan sebesar 73,4% peserta menyatakan bahwa metode penyampaian materi materi mudah dipahami. Sementara sebesar 78,2% menyatakan bahwa metode pelatihan menyenangkan. Peserta juga merespon positif penampilan pemateri yang komunikatif dan sigap selama kegiatan pendampingan penyusunan perangkat pembelajaran. Hasil survei kuesioner juga menunjukkan bahwa peserta mengharapkan adanya pelatihan yang berkesinambungan, mengingat perkembangan materi literasi keuangan dan ekonomi digital yang cukup pesat di era industri 4. Dengan demikian kompetensi profesional guru ekonomi MA dapat terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Fitrayati. Nurlaili. Surjanti. Sakti, dan Soesatyo Volume 5 Nomor 1 Juni 2025 SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pelatihan literasi keuangan dan ekonomi digital ini bermanfaat dan berdampak pada peningkatan kompetensi profesional peserta yang ditunjukkan melalui peningkatan hasil post test. Dengan adanya peningkatan kompetensi profesional tersebut, diharapkan guru dapat melaksanakan pembelajaran secara tepat dan tidak terjadi miskonsep pada materi literasi keuangan dan ekonomi digital. Selain itu diharapkan juga mampu berdampak pada upaya menumbuhkan melek keuangan di kalangan peserta didik sejak dini untuk mencegah terjeratnya peserta didik pada kasus pinjaman online, investasi bodong dan Kegiatan pelatihan literasi keuangan dan ekonomi digital sebaiknya ditindaklanjuti dengan kegiatan praktik baik penerapan bahan ajar yang telah dirancang di kelas. Dengan demikian efek multiplier atas dampak tersebut juga dapat berimbas ke guru yang DAFTAR PUSTAKA