Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI Pengaruh Kematangan Beragama dan Perilaku Asertif terhadap Integritas Akademik Peserta Didik SMA-SMK pada Sekolah Berbasis Buddhis Prajna Dewi STABN Sriwijaya Tangerang Banten dewi@sekha. E-ISSN 2086-8391 P-ISSN 3026-2860 Kemanya Karbono STABN Sriwijaya Tangerang Banten kemanya@stabn-sriwijaya. Recieved: 2023-10-26 Revised: 2023-12-18 Sutadi Sutadi STABN Sriwijaya Tangerang Banten sutadisw21@gmail. Accepted: 2024-05-15 Doi Number Abstract Academic integrity is important for educational staff and academics to have and apply in order to achieve goalseducation. Academic integrity can be influenced by several factors. The purpose of this study was to examine the influence of religious maturity and assertive behavior which are significant simultaneously on the academic integrity of SMA-SMK students in Buddhist-based schools. This research is a quantitative research with a survey method using multiple linear regression analysis. Respondents to this study were 500 students from 5 school units, namely Ariya Metta Vocational High School. Atisa Dipamkara High School - Vocational High School, and Perguruan Budhi High School - Vocational High School. The results of the prerequisite test show that the data is normally distributed, the influence of the two independent variables on the dependent is linear, there is no autocorrelation, multicollinearity, and The results of multiple linear regression analysis show the value of F count = 143 with a significance probability = 0. The multiple linear regression equation obtained is Y = 20. 084X1 0,633X2. The support given by the variables of religious maturity and assertive behavior towards the academic integrity of SMA-SMK students in Buddhist-based schools is 43. Partially, religious maturity affects the academic integrity of SMA-SMK students in Buddhist-based schools if assertive behavior is controlled. Assertive behavior also affects the academic integrity of SMA-SMK students in Buddhist-based schools if religious maturity is controlled. Keywords/Katakunci: Religious Maturity. Assertive Behavior. Academic Integrity. High SchoolVocational High School Students. Buddhist Based Schools. Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index Abstrak Integritas akademik penting untuk dimiliki dan diterapkan oleh tenaga kependidikan serta akademisi agar dapat mencapai tujuan kependidikan. Integritas akademik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji pengaruh kematangan beragama dan perilaku asertif yang signifikan secara simultan terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei menggunakan analisis regresi linear berganda. Responden penelitian ini adalah 500 peserta didik dari 5 unit sekolah yaitu SMK Ariya Metta. SMA-SMK Atisa Dipamkara, dan SMA-SMK Perguruan Budhi. Hasil uji prasyarat menunjukkan bahwa data berdistribusi normal, pengaruh kedua variabel bebas terhadap terikat bersifat linier, tidak terjadi autokorelasi, multikolinearitas, serta heteroskedastisitas. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan nilai Fhitung = 191,143 dengan probabilitas signifikansi = 0,000. Adapun persamaan regresi linear berganda yang diperoleh yaitu Y= 20,555 0,084X1 0,633X2. Dukungan yang diberikan oleh variabel kematangan beragama dan perilaku asertif terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis sebesar 43,6%. Secara parsial, kematangan beragama berpengaruh terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis jika perilaku asertif dikendalikan. Perilaku asertif juga berpengaruh terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis jika kematangan beragama dikendalikan. Kata Kunci/Katakunci: Kematangan Beragama. Perilaku Asertif. Integritas Akademik. Peserta Didik SMA-SMK. Sekolah Berbasis Buddhis. Pendahuluan Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki banyak kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya agar berjalan dengan baik. Salah satu kebutuhan utama yang harus dipenuhi oleh manusia adalah pendidikan. Pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam mengarahkan individu menjadi lebih berakal dan memiliki keilmuan, berpengetahuan, berketerampilan, serta berakhlak mulia. Pendidikan memiliki peranan penting untuk meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia agar lebih berkualitas. Dengan menempuh pendidikan maka seseorang dapat membawa kemajuan bagi dirinya sendiri, orang lain, bangsa dan negara. Ada banyak aspek yang dapat dipelajari dalam menempuh dunia pendidikan, salah satunya yaitu aspek moralitas. Moralitas merupakan sesuatu yang penting untuk dimiliki oleh seseorang karena dapat membawa keharmonisan dan ketentraman antar umat manusia dalam menjalankan kehidupannya. Seseorang yang memiliki moral maka akan berpikir, berucap, dan bertindak dengan benar dan tidak menyakiti orang lain. Moral yang diterapkan dalam dunia pendidikan meliputi perilaku yang mencerminkan kejujuran, keadilan, keberanian, rasa hormat, tanggung jawab, dan Menurut Center for Academic Integrity perilaku tersebut merupakan nilai yang tercantum dalam integritas akademik. Integritas akademik penting untuk dimiliki dan diterapkan oleh tenaga kependidikan serta akademisi agar dapat mencapai tujuan dari diadakannya lembaga pendidikan yaitu mengubah perilaku seseorang menjadi Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index lebih baik dengan melakukan interaksi di lingkungan sekitar. Integritas akademik memiliki peranan penting untuk peserta didik dalam menjalankan kehidupan saat ini dan masa depannya karena integritas akademik dapat menanamkan sikap profesional serta kejujuran dalam diri peserta didik sehingga dapat mempengaruhi lingkungan pekerjaannya nanti. Jika integritas akademik tidak dilestarikan dengan baik maka dampak yang akan berlaku yaitu adanya sikap tidak disiplin dan terjadinya kecurangan akademik dalam lembaga pendidikan. Masalah kejujuran atau kecurangan akademik yang sering terjadi dalam dunia pendidikan yaitu menyontek dan plagiarisme. Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Peneliti Universitas Islam Bandung yang dilakukan selama setahun mulai Desember 2020 sampai Desember 2021 memperoleh hasil survei yang menunjukkan bahwa sebanyak 88,3 % peserta didik tingkat SMA di Kota Bandung melakukan kecurangan akademik berupa menyontek (Yulianto, 2. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Anies Baswedan, pernah mengatakan bahwa tingkat kecurangan akademik di Indonesia tergolong tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (Firmantyo & Asmadi, 2. Hal ini sejalan dengan survei yang dilakukan oleh Ifa Hanifah Misbach dalam mengamati pelaksanaan Ujian Nasional selama 10 tahun, terdeteksi sebanyak 75% peserta didik dari 25 provinsi di Indonesia melakukan kecurangan akademik dan tidak ada wadah untuk melaporkannya karena pihak sekolah bertindak seperti mendukung kecurangan tersebut (Isoplas dalam Aulia, 2. Peserta didik menyontek karena mengalami kesulitan dalam menghadapi tugas atau ujian yang diberikan oleh gurunya. Peserta didik rela melakukan apa saja agar bisa mencontek selama mengikuti ujian, misalnya seperti kasus yang ditemui di India pada Februari tahun 2022, seorang mahasiswa kedokteran Mahatma Gandhi Medical College melakukan operasi Bluetooth di telinganya karena merasa putus asa dan selalu gagal dalam mengikuti ujian akhir (Camelia, 2. Menyontek tidak hanya dilakukan oleh peserta didik saja, calon pendidik sebanyak tiga puluh lima orang juga turut melakukan tindakan menyontek saat mengikuti ujian masuk sekolah pada Agustus tahun 2020 untuk guru di negara Meksiko (Camelia, 2. Selain menyontek, plagiarisme juga merupakan masalah kecurangan akademik yang sering ditemui. Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, mendefinisikan plagiarisme sebagai sebuah perilaku yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja untuk memperoleh suatu karya orang lain tanpa mencantumkan sumber secara tepat. Plagiarisme merupakan sebuah tindakan meniru atau menjiplak hasil karya orang lain tanpa menuliskan sumber dan izin dari pemilik karya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti selama melaksanakan program Praktik Pengalaman Lapangan di SMA Atisa Dipamkara, plagiarisme yang sering terjadi saat proses pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Keagamaan Buddha yaitu menyalin tulisan atau materi dari buku pelajaran ataupun internet kedalam PowerPoint sebagai tugas Selain sebagai bahan presentasi, biasanya peserta didik menyalin tulisan dari buku pelajaran kedalam buku catatan tanpa melakukan perubahan bahasa tulisan. Penyebab utama terjadinya plagiarisme pada sekolah ini karena peserta didik yang tidak mengetahui bahwa plagiarisme merupakan salah satu bentuk kecurangan akademik sehingga mereka melakukan penyalinan tulisan dengan unsur ketidaksengajaan. Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index Pada perguruan tinggi sering juga ditemui permasalahan plagiarisme seperti mengakui tulisan orang lain sebagai miliknya, mengambil ide atau karya orang lain menggunakan bahasa sendiri. Kasus plagiarisme tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa, dari pihak dosen bahkan rektor juga melakukan plagiarisme. Menurut laporan dari dua mahasiswa, rektor diduga melakukan plagiarisme terhadap skripsi mahasiswa S1 di kampus Universitas Negeri Semarang untuk penyusunan disertasinya (Rachmawati. Selain itu, ada juga dosen dari Universitas Parahyangan yang melakukan plagiarisme terhadap berita mengenai hubungan internasional (Suharsono, 2. Menyontek dan plagiarisme dapat membuat peserta didik menjadi tidak berkembang dalam berpikir. Hal ini bertentangan dengan tujuan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan cara berpikir manusia. Integritas akademik juga menjadi menurun karena adanya kecurangan akademik yang terjadi dalam dunia pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Firmantyo & Asmadi . mengungkapkan penyebab rendahnya integritas akademik yaitu adanya kecemasan akademik yang ada didalam diri peserta didik. Kecemasan akademik akan berakibat pada menurunnya motivasi belajar pada peserta didik sehingga dapat berdampak pada prestasi belajarnya. Selain itu, tekanan dari pihak luar seperti orang tua dan guru dalam menuntut peserta didik untuk mendapatkan nilai yang bagus membuat peserta didik lebih berorientasi terhadap nilai bukan kepada proses atau ilmu yang dipelajari selama mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Hal tersebut yang menyebabkan peserta didik nekat untuk melakukan kecurangan akademik. Kecurangan akademik seperti menyontek dan plagiarisme yang dilakukan oleh peserta didik sudah menjadi sebuah kebiasaan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Tindakan kecurangan akademik yang dilakukan peserta didik dapat menjadi ancaman bagi pelajar karena akan dianggap sebagai generasi penerus dengan moral malas dan memiliki kebiasaan menyontek. Permasalahan kecurangan akademik atau rendahnya integritas akademik dalam dunia pendidikan perlu diatasi agar pendidik dan peserta didik dapat memiliki karakter akademik yang jujur, percaya, adil, menghormati, dan bertanggung jawab. Tinggi rendahnya integritas akademik peserta didik di sekolah biasanya dapat berkaitan dengan layanan pendidikan agama yang dikembangkan oleh pihak sekolah kepada peserta didik (Basri. Hannun, dan Murtadho, 2019: . Kurangnya pengetahuan agama yang dimiliki dan wadah untuk peserta didik berperilaku jujur dalam menanggapi kecurangan akademik yang terjadi membuat integritas akademik menjadi rendah. Pengetahuan agama yang kurang dapat menciptakan moral yang tidak baik bagi Indonesia merupakan negara demokratis yang membebaskan masyarakat untuk memilih agama yang ada. Setiap agama mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan. Melalui agama, peserta didik dapat mempelajari perbuatan baik dari dasar hingga paling tinggi. Pengetahuan dalam beragama sangat penting untuk dimiliki oleh peserta didik agar peserta didik dapat mengetahui dan memahami hal-hal yang baik dan buruk dalam norma masyarakat ataupun agama. Seseorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman agama maka dapat disebut sebagai orang yang telah memiliki kematangan Berdasarkan hasil observasi oleh peneliti selama masa PPL ditemukan bahwa peserta didik SMA Atisa memiliki kematangan beragama yang baik. Hal tersebut terbukti dari pembelajaran Pendidikan Keagamaan Buddha dimana peserta didik yang Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index Buddhis maupun non-Buddhis mampu menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan ajaran Buddha yang membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan keagamaan yang baik. Kecurangan akademik yang terjadi secara terus menerus dan menjadi sebuah kebiasaan membuat peserta didik untuk takut melaporkan kecurangan tersebut karena bisa dianggap sebagai seseorang Autukang mengaduAy oleh teman-temannya. Selain itu, peserta didik juga tidak ingin terlibat pada permasalahan yang terjadi dilingkungannya. Kurangnya wadah yang disediakan oleh pihak sekolah untuk menampung dan mengapresiasi laporan dan kejujuran dari peserta didik. Padahal untuk menerapkan integritas akademik yang baik, maka diperlukan wadah untuk perilaku jujur peserta didik tanpa menyakiti teman-temannya yang lain. Perilaku seperti itu dapat disebut sebagai perilaku asertif. Perilaku asertif dapat menciptakan adanya hubungan yang saling jujur dan terbuka satu sama lain. Dengan memiliki perilaku asertif seseorang akan bertindak atau berperilaku sesuai dengan perasaannya namun tetap memperhatikan orang lain. Perilaku asertif ini dapat diungkapkan melalui perkataan atau perbuatan seseorang. Dalam Majjhima Nikaya IV. MahArAhulovAda Sutta. Sang Buddha menjelaskan bentuk dari penerapan perilaku asertif melalui pikiran, ucapan, serta perilaku dengan Mempertimbangkan dengan cara memikirkan dampak yang akan terjadi terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Sehingga diharapkan bahwa tindakan yang dilakukan tidak akan melukai siapapun. Berdasarkan latar belakang di atas, maka diperkirakan terdapat kemungkinan pengaruh antara kematangan beragama dan perilaku asertif terhadap integritas akademik peserta didik di sekolah, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPengaruh Kematangan Beragama dan Perilaku Asertif terhadap Integritas Akademik Peserta Didik SMA-SMK pada Sekolah Berbasis BuddhisAy. Sekolah berbasis Buddhis dalam penelitian ini yaitu sekolah yang dikelola oleh Yayasan Buddhis dan menerapkan nilai-nilai ajaran Buddha dalam lingkungan sekolahnya. Nilai ajaran Buddha yang biasanya diterapkan yaitu melaksanakan Dhammaclass atau puja bakti, menerapkan kebiasaan beranjali, serta mempraktikkan sila keempat PancasycnIla Buddhis yaitu Aumelatih diri menghindari ucapan bohongAy dan berperilaku serta berucap secara jujur di dalam pelaksanaan proses pendidikannya sehingga dapat memunculkan perilaku asertif pada peserta didik. Puja bakti atau dhammaclass yang dilaksanakan dapat meningkatkan kematangan beragama didalam diri peserta didik. Penelitian ini difokuskan pada integritas akademik yang dipengaruhi oleh kematangan beragama dan perilaku asertif. Hipotesis pada penelitian ini yaitu terdapat pengaruh kematangan beragama dan perilaku asertif yang dignifikan secara simultan terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis. Adapun lanjutan pengujian hipotesis jika secara simultan teruji terdapat pengaruh, yaitu terdapat pengaruh kematangan beragama yang signifikan secara parsial terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis jika perilaku asertif Hipotesis yang terkahir yaitu terdapat pengaruh perilaku asertif yang signifikan secara parsial terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis jika kematangan beragama dikendalikan. Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index Kerangka Teori Kata integritas berasal dari bahasa latin yaitu AuintegerAy yang berarti Aukompleks serta menyeluruhAy. Secara umum integritas memiliki arti keselarasan, kelengkapan, serta Integritas biasanya lebih mengacu pada kejujuran. Jujur merupakan perwujudan perilaku yang apa adanya, tidak berbohong, melebihkan atau mengurangi, serta tidak menyembunyikan informasi (Ungusari, 2015: . Integritas merupakan kualitas diri seseorang yang diterapkan melalui ucapan dan tindakan jujur yang dapat dipercaya (Basri. Farida, dan Muhammad, 2019: . Integritas merupakan sebuah tindakan yang diwujudkan melalui perilaku serta ucapan jujur. Agama Buddha selalu memuji perilaku jujur yang dilakukan oleh siapapun, hal ini dapat dibuktikan dalam poin ketiga pada jalan mulia berunsur delapan yaitu ucapan benar dan sila keempat PancasycnIla Buddhis yang berbunyi Ausaya bertekad melatih diri dari ucapan bohongAy. Dalam syair Dhammapada. Bab XVII Kodha Vagga syair 232-234 (Widjaja, 2. Sang Buddha mengingatkan kepada muridnya untuk dapat mengembangkan perbuatan baiknya melalui ucapan seseorang hendaknya selalu mengendalikan pikiran serta perkataannya dalam keadaan yang baik serta meninggalkan keadaan yang buruk. Dengan melakukan hal tersebut maka orang tersebut akan dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan sempurna. Hal ini juga dapat membuat seseorang menanamkan serta mengembangkan integritas akademik di dalam dirinya karena mengetahui bahwa integritas akademik merupakan hal wajib yang perlu Kematangan merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang sejak lahir, muncul, dan berbaur dengan pembawaannya serta ikut menata pola perkembangan kepribadian seseorang (Sunarsih, 2008: . Kematangan berawal dari hasil perkembangan atau perubahan yang ada didalam diri seseorang, misal adanya kematangan seseorang dalam cara berpikir. Kematangan dalam berpikir didapatkan dari banyaknya proses atau pengalaman yang dialami sendiri oleh orang tersebut. Kematangan beragama berarti memahami ajaran agama yang telah diyakininya dan menjalankan nilai-nilai agama tersebut ke dalam kehidupan sehari-harinya. Peserta didik yang memiliki kematangan beragama maka akan memiliki moralitas baik sehingga peserta didik tersebut memahami bahwa kecurangan akademik merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama yang dipelajarinya, misalnya yang tercantum dalam MusAvAda Sutta. Anguttara Nikaya 4. 82 yaitu tentang empat kualitas seseorang akan terlahir di alam neraka yaitu ketika dia berbohong, berucap yang dapat memecah belah, berkata kasar, dan bergosip. Kematangan beragama dapat membuat peserta didik lebih bisa mengendalikan diri dalam situasi apapun. Oleh karena itu, diduga kematangan beragama mampu membuat peserta didik memiliki integritas akademik dalam menjalankan pendidikannya di sekolah. Selain kematangan beragama, memberikan wadah kepada peserta didik untuk berperilaku jujur juga dapat membuat integritas akademik menjadi terjaga. Perilaku asertif adalah sebuah perilaku yang menunjukkan adanya kesetaraan dalam hubungan manusia sehingga memungkinkan seseorang melakukan tindakan berdasarkan kepentingan dirinya sendiri tanpa merasa cemas namun tidak melanggar hak-hak orang lain (Alberti dan Emmons, 2002: . Hal ini sejalan dengan pendapat Corey . 7: . mengenai definisi perilaku asertif yaitu ekspresi langsung, jujur, serta pada tempatnya yang berasal dari pikiran, perasaan, kebutuhan, dan hak-hak seseorang Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index tanpa merasa cemas yang beralasan. Perilaku asertif merupakan sebuah perilaku yang mampu mengungkapkan perasaan, perbuatan, dan pandangannya tanpa menyinggung perasaan orang lain. Peserta didik memiliki perilaku asertif akan berani mengungkapkan kecurangan akademik yang diketahuinya karena menganggap bahwa kecurangan dilakukan dapat merugikan diri sendiri. Peserta yang menerapkan perilaku asertif juga dapat memotivasi teman-temannya yang lain untuk dapat berperilaku jujur dan mengembangkan integritas akademik di sekolah. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei menggunakan regresi linear berganda. Penelitian dilaksanakan dari bulan April hingga Juni 2023 di SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis, yaitu SMA-SMK Atisa Dipamkara. SMA-SMK Perguruan Buddhi, dan SMK Ariya Metta dengan jumlah populasi sebanyak 764 peserta didik kelas X dan XI semua jurusan pada tahun ajaran 2022/2023. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 500 peserta didik dengan teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan rumus slovin dan metode cluster proportionate random sampling. Terdapat tiga jenis data yang dikumpulkan di dalam penelitian ini, yaitu integritas akademik, kematangan beragama, dan perilaku asertif. Data mengenai integritas akademik akan dikumpulkan menggunakan instrumen integritas akademik. Data mengenai kematangan beragama akan dikumpulkan menggunakan instrumen kematangan beragama. Data mengenai perilaku asertif akan dikumpulkan menggunakan instrumen perilaku asertif. Ketiga jenis data tersebut akan diukur menggunakan instrumen dengan skala likert termodifikasi. Instrumen tersebut dikembangkan melalui kuesioner yang berisikan butir-butir pernyataan dengan setiap butir dilengkapi empat alternatif pilihan, yaitu Sangat Tidak Setuju (STS). Tidak Setuju (TS). Setuju (S), dan Sangat Setuju (SS). Pemilihan skala Likert termodifikasi dengan empat alternatif pilihan dimaksudkan untuk menghindari midpoint. Adapun Teknik penskoran terhadap setiap butir dilakukan dengan memperhatikan jenis butir pernyataan tersebut. Setiap butir pernyataan positif memiliki bobot penskoran yang bergerak dari 1, 2, 3, dan 4, sementara setiap butir pernyataan negatif memiliki bobot penskoran yang bergerak dari 4, 3, 2, dan 1. Hasil dan Diskusi Data penelitian diperoleh melalui penyebaran angket kepada 500 peserta didik di sekolah berbasis Buddhis yaitu SMA-SMK Atisa Dipamkara. SMA-SMK Perguruan Budhi, dan SMK Ariya Metta. Variabel bebas pada penelitian ini yaitu kematangan beragama (X. dan perilaku asertif (X. sedangkan variabel terikatnya adalah integritas akademik (Y). Pada saat melakukan pengelolaan data, ternyata ditemukan beberapa data yang menyimpang jauh dari kelompoknya . Data outlier menyebabkan hasil uji statistik menjadi tidak signifikan sehingga data tersebut perlu untuk dihapus. Data outlier yang dihapus dalam penelitian ini yaitu pada responden nomor 96, 172, dan 325. Alasan ketiga data tersebut yang dipilih untuk dihapus karena telah muncul pada dua bahkan tiga variabel. Data responden nomor 96 dan 325 muncul pada variabel integritas akademik dan perilaku asertif, data nomor 172 muncul pada variabel integritas akademik, kematangan beragama, serta perilaku asertif. Dengan demikian, data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 497 responden dari peserta didik. Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index Berdasarkan data integritas akademik, kematangan beragama, dan perilaku asertif diperoleh rentang . yaitu selisih antara nilai tertinggi dan nilai terendah, nilai terendah . yaitu nilai terkecil dari sejumlah data, nilai tertinggi . yaitu nilai terbesar dari sebuah data, rerata . yaitu nilai rata-rata dari sebuah data, median yaitu nilai yang membagi dua bagian data sama banyak, jumlah keseluruhan adalah total nilai dari keseluruhan untuk setiap variabel penelitian, modus yaitu nilai yang paling banyak muncul dalam suatu pengukuran, variansi . dan simpangan baku . tandart deviatio. yaitu salah satu teknik statistik yang digunakan untuk menjelaskan homogenitas kelompok. Variansi merupakan jumlah kuadrat semua deviasi nilai-nilai individuak terhadap rata-rata kelompok, sedangkan akar dari variansi disebut dengan deviasi standar atau simpangan baku. Hasil analisis statistika deskriptif ditunjukkan dalam Tabel 4. Tabel 4. 1 Statistika Deskriptif Integritas Kematangan No. Statistik Akademik Beragama Rentang 39,00 39,00 Nilai terendah 30,00 13,00 Nilai tertinggi 69,00 52,00 Rerata 58,61 40,19 Simpangan Baku 5,57 6,81 Median 59,00 41,00 Modus 55,00 39,00 Variansi 31,07 46,45 Jumlah 844,25 774,45 Keseluruhan Perilaku Asertif 32,00 37,00 69,00 54,80 5,34 55,00 51,00 28,62 829,76 Deskripsi data variabel bebas dan terikat dihitung menggunakan statistika hipotetik dengan mengelompokkan data menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan Variabel integritas akademik memperoleh nilai sebesar 77,26% tinggi, 22,545 kategori sedang, dan 0,20% kategori rendah. Variabel kematangan beragama memperoleh nilai sebesar 63,99% tinggi, 33% sedang, dan 3,01% rendah. Variabel perilaku asertif memperoleh nilai, yaitu 57,95% tinggi, 42,05% sedang, dan 0% rendah. Variabel integritas akademik, kematangan beragama, dan perilaku asertif terbukti memperoleh nilai yang berada pada kategori tinggi dengan responden sebanyak 497 peserta didik. Data yang dikumpulkan sebelum dianalisis menggunakan regresi berganda harus memenuhi uji prasyarat analisis terlebih dahulu. Hasil uji prasyarat normalitas galat taksir regresi dilakukan secara simultan dengan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,55 yang lebih besar dari 0,05 sehingga berpengaruh data galat taksiran integritas akademik atas kematangan beragama dan perilaku asertif berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Uji prasyarat linearitas dan heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan scatter plot dikarenakan pengujian secara parsial tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index Gambar 1 Scatter Plot Linearitas dan Heteroskedastisitas Variabel Bebas terhadap Variabel Terikat secara Simultan Uji linearitas dapat terpenuhi jika sebaran nilai-nilai pada plot membentuk suatu pola acak. Begitu pula dengan uji heteroskedastisitas dapat dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas jika menunjukkan bahwa titik-titik data penelitian tersebar ke atas dan bawah atau di sekitar angka 0, tersebar di sebelah kanan dan kiri angka 0, serta tidak membentuk sebuah pola. Berdasarkan Gambar 1 dapat membuktikan bahwa penelitian ini terjadi linearitas, namun tidak terjadi heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil analisis uji autokorelasi yang sudah dilakukan maka diperoleh nilai Durbin-Waton (DW) untuk persamaan regresi integritas akademik atas kematangan beragama dan perilaku asertif sebesar 1,959. Dalam penelitian ini terlihat bahwa DWU < Durbin Watson (DW) < . DWL) yaitu 1,8572 < 1,959<2,1509. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa tidak terjadi autokorelasi dalam persamaan regresi integritas akademik atas kematangan beragama dan perilaku asertif. Uji Multikolinearitas teruji melalui nilai VIF (Variance Inflation Facto. dengan hasil variabel kematangan beragama serta perilaku asertif memperlihatkan angka 1,261 yang berarti kurang dari 10,00. Nilai toleransi memperlihatkan angka 0,793 yang berarti lebih dari dari 0,10. Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel bebas tidak terjadi multikolinearitas dalam model regresi yang dihasilkan. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda nilai Fhitung sebesar 191,143 dan probabilitas signifikansi sebesar 0,000. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai probabilitas signifikansi kurang dari yaitu 0,000 < 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan teruji, artinya terdapat pengaruh kematangan beragama dan perilaku asertif secara simultan terhadap integritas akademik peserta didik SMASMK pada sekolah berbasis Buddhis. Hasil penelitian ini sesuai dengan observasi dan fenomena yang terjadi di lapangan yang menunjukkan bahwa peserta didik yang mampu berperilaku asertif atau bersikap jujur terhadap diri sendiri dan orang lain serta memiliki kematangan beragama yang baik dengan mengetahui dan memahami nilainilai ajaran Buddha, maka dapat meningkatkan integritas akademik peserta didik SMASMK pada sekolah berbasis Buddhis. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Jiang. Emmerton, dan MCKauge . bahwa ada sembilan faktor yang memengaruhi Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index integritas akademik yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, kebijakan sekolah, kesadaran integritas akademik, moral dan keyakinan individu, budaya, teknologi, serta tekanan. Dalam Anguttara Nikaya. Pattakamma Sutta. Buddha menjelaskan tentang orang yang lebih tinggi daripada orang yang baik dengan mempraktikkan PancasycnIla Buddhis, seseorang yang menjadikan PancasycnIla Buddhis sebagai pedoman hidupnya akan menjaga kelima sila tersebut, salah satunya yaitu menjauhkan diri dari berbicara salah (Jotidhammo dan Limiadi, 2003b: . Peserta didik yang memiliki perilaku asertif memiliki kemampuan untuk berucap dan bersikap secara jujur kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kematangan beragama dan perilaku asertif memiliki pengaruh untuk mengembangkan nilai kejujuran yang ada didalam diri peserta didik sesuai dengan salah satu nilai integritas akademik yang disajikan oleh The International Center for Academic Integrity . 4: 18-. Pengujian hipotesis dilanjutkan secara parsial karena secara simultan telah menunjukkan adanya pengaruh. Variabel kematangan beragama (X. memperoleh nilai thitung sebesar 2,705 dan probabilitas signifikansi sebesar 0,007. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa nilai probabilitas signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,007<0,05. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan kematangan beragama (X. terhadap integritas akademik peserta didik (Y) jika perilaku asertif (X. Hasil penelitian ini sejalan dengan fenomena yang terjadi di lapangan. Peserta didik yang memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap nilai-nilai agama khususnya nilai ajaran Buddha seperti yang tercantum dalam Dhammapada BAB XIV Buddha Vagga Syair 183 diterapkan dalam lingkungan sekolah Buddhis yaitu dengan tidak melakukan segala bentuk kejahatan. Hal tersebut dapat meningkatkan integritas atau kejujuran akademik dalam diri peserta didik tersebut karena memiliki pemahaman mengenai nilai baik dan buruk serta hal yang boleh atau tidak boleh untuk dilakukan sehingga akan menghindari ketidakjujuran akademik. Dengan demikian, peserta didik telah mempraktikkan Dhamma atau ajaran Buddha seperti pesan Sang Buddha sebelum beliau mencapai Mahaparinibbana tercantum pada Mahaparinibbana Sutta. Digha Nikaya. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian skripsi yang dilakukan oleh Suha Yumma . 9: . mengenai AuPengaruh Self Efficacy. Religiusitas, dan Kode Etik terhadap Integritas AkademikAy. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa organizational religiosity atau keterlibatan seseorang dalam kegiatan keagamaan berpengaruh secarah signifikan terhadap integritas akademik dengan arah pengaruh yang positif. Hal tersebut berarti bahwa semakin tinggi keterlibatan seseorang dalam kegiatan keagamaan maka integritas akademik yang dimilikinya akan semakin tinggi juga. Tonasa. Christina, dan Dewi . 1: . dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa religiusitas tinggi yang dimiliki oleh seseorang akan membuat orang tersebut takut kepada Tuhannya sehingga memiliki kebiasaan untuk meningkatkan kejujuran dan mencegah untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran agamanya, salah satunya adalah kecurangan Pengujian hipotesis selanjutnya adalah variabel X2 terhadap variabel Y. Variabel perilaku asertif (X. memperoleh nilai t hitung sebesar 16,013 dan probabilitas signifikansi sebesar 0,000. Nilai probabilitas signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,000<0,05. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan Volume 14. Issue 2. Mei 2024 https://w. stabn-sriwijaya. id/SATI/index perilaku asertif (X. terhadap integritas akademik peserta didik (Y) jika kematangan beragama (X. Peserta didik telah menerapkan perilaku asertif sesuai dengan yang tercantum dalam Maharahulovada Sutta. Majjhima Nikaya IV yaitu memikirkan terlebih dahulu tindakan yang akan mereka lakukan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian milik Dety Anugrah dengan judul AuTeknik Konseling Assertive Training untuk Meningkatkan Tanggung Jawab Pribadi SiswaAy. Penelitian tersebut menemukan bahwa konseling assertive training terbukti efektif untuk meningkatkan tanggung jawab siswa kepada dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Tanggung jawab ini merupakan salah satu nilai yang tercantum didalam integritas akademik. Dengan adanya tanggung jawab, maka peserta didik menyadari tugas dan kewajibannya sebagai seorang murid yaitu menaati peraturan sekolah serta belajar dengan bersungguh-sungguh. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan dalam penelitian ini, yaitu terdapat pengaruh kematangan beragama dan perilaku asertif yang signifikan secara simultan terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis, terdapat pengaruh kematangan beragama yang signifikan secara parsial terhadap integritas akademik jika perilaku asertif dikendalikan, dan terdapat pengaruh perilaku asertif yang signifikan secara parsial terhadap integritas akademik peserta didik SMA-SMK pada sekolah berbasis Buddhis jika kematangan beragama dikendalikan. Persamaan regresi linear berganda yang diperoleh yaitu Y= 20,555 0,084 X1 0,633 X2. Referensi