Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 134-142 Antibacterial Activity Test of Ethanolic and Decoction Extract of Crystal Guava Leaves (Psidium guajava L. Cultivar Krista. Against Bacillus cereus and Staphylococcus aureus Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dan Dekokta Daun Jambu Kristal (Psidium guajava L. Cultivar Krista. Terhadap Bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus Sheila Nur Izzati a. Rima Munawaroh a* a Department of pharmacy. Faculty of pharmacy. Muhammadiyah University of Surakarta. Surakarta. Indonesia. *Corresponding Authors: rm127@ums. Abstract Background: Diarrhea is often caused by bacterial infections, including Bacillus cereus and Staphylococcus The irrational use of antibiotics can lead to antimicrobial resistance, highlighting the need for alternative therapies derived from natural products. Crystal guava leaves (Psidium guajava L. cultivar Krista. are known to contain bioactive compounds with potential antibacterial properties. however, the effectiveness of their ethanolic extract and decoction has not been widely reported. Objective: This study aimed to evaluate and compare the antibacterial activity of ethanolic extract and decoction of crystal guava leaves against Bacillus cereus and Staphylococcus aureus, as well as to identify the major classes of compounds responsible for the observed activity. Methods: Extraction was carried out using maceration with 96% ethanol and decoction with Antibacterial activity was assessed using the well diffusion method at concentrations of 5%, 10%, 20%, and 40%. Identification of active compounds was performed through Thin Layer Chromatography (TLC) and TLC-bioautography analyses. Results: Both the ethanolic extract and the decoction exhibited antibacterial activity that increased with rising concentrations. The highest inhibition zones were observed at a concentration of 40%. The ethanolic extract demonstrated stronger antibacterial activity than the decoction, with the highest effectiveness against S. Bioautography analysis revealed that flavonoid compounds, strongly suspected to be quercetin derivatives, were the primary contributors to the antibacterial activity. Conclusion: Crystal guava leaf extract, particularly the ethanolic extract, shows significant antibacterial activity against B. cereus and S. aureus, with flavonoids identified as the key active compounds. These findings support the potential of crystal guava leaves as a natural source of antibacterial agents. Keywords: Diarrhea. Crystal Guava Leaves. Antibacterial. Bacillus cereus. Staphylococcus aureus. Abstrak Latar Belakang: Diare sering disebabkan oleh infeksi bakteri, termasuk Bacillus cereus dan Staphylococcus Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat memicu resistensi, sehingga diperlukan alternatif terapi dari bahan alam. Daun jambu kristal (Psidium guajava L. cultivar Krista. diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri, namun efektivitas ekstrak etanol dan dekoktanya belum banyak dilaporkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan dekokta daun jambu kristal terhadap Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus, serta mengidentifikasi golongan senyawa yang paling berperan dalam aktivitas tersebut. Metode: Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% dan dekoktasi menggunakan air. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran pada konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 40%. Identifikasi senyawa aktif dilakukan melalui analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan KLT-Bioautografi. Hasil: Baik Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. ekstrak etanol maupun dekokta menunjukkan aktivitas antibakteri yang meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi. Zona hambat tertinggi diperoleh pada konsentrasi 40%. Ekstrak etanol cenderung lebih aktif dibandingkan dekokta, dengan aktivitas tertinggi terhadap S. Analisis bioautografi mengungkap bahwa senyawa dari golongan flavonoid . iduga kuat turunan kuerseti. merupakan senyawa utama yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri. Kesimpulan: Ekstrak daun jambu kristal, terutama dalam bentuk ekstrak etanol, memiliki aktivitas antibakteri terhadap B. cereus dan S. aureus, dengan flavonoid sebagai senyawa kunci. Hasil ini mendukung potensi daun jambu kristal sebagai sumber senyawa antibakteri alami. Kata Kunci: Diare. Daun Jambu Kristal. Antibakteri. Bacillus cereus. Staphylococcus aureus. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial purposes. ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. International (CC BY-NC-SA 4. License Article History: Received: 11/10/2025. Revised: 31/012/2025 Accepted: 04/01/2026. Available Online: 24/01/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Diare didefinisikan sebagai pengeluaran feses yang encer dan cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam Kondisi ini umumnya menandai adanya infeksi pada saluran pencernaan yang dipicu oleh berbagai jenis bakteri, virus, dan parasit. Secara global, diare menjadi penyebab kematian bayi terbesar kedua, dengan sekitar 1,7 miliar kasus infeksi diare pada anak-anak tercatat setiap tahunnya, dan diperkirakan menyebabkan 000 kematian pada balita . Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus termasuk patogen utama yang berasal dari makanan, yang mampu menghasilkan berbagai toksin dan memicu diare dan menimbulkan penyakit melalui produksi toksin di dalam saluran pencernaan setelah konsumsi makanan yang Selain itu. aureus telah terbukti dapat berevolusi dengan cepat dan mengembangkan resistensi terhadap hampir semua antibiotik yang digunakan untuk membasminya. Resistensi terhadap penisilin, antibiotik pertama yang terbukti efektif melawan S. aureus, dilaporkan muncul hanya satu tahun setelah obat tersebut diperkenalkan dalam praktik klinis . Antibiotik merupakan obat yang digunakan secara luas untuk mengatasi infeksi bakteri pada manusia berfungsi membunuh dan menghambat perkembangbiakan bakteri. Karena patogen tidak dapat diidentifikasi dalam lebih dari 90% kasus diare, sehingga terapi antibiotik empiris direkomendasikan. Namun, manfaat klinis dari terapi antibiotik empiris perlu dievaluasi terhadap risiko efek samping dan munculnya resistensi bakteri. Penggunaan antibiotik diperkirakan tidak tepat pada 20Ae50% kasus diare, yang berakibat pada peningkatan efek samping dan tingginya tingkat resistensi antibiotik (AMR) pada infeksi komunitas . Tanaman dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan mengurangi resistensi antibiotik. Salah satu tanaman yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber antibakteri alami untuk diare adalah jambu biji (Psidium guajava L. Daun jambu biji telah lama digunakan secara empiris dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi diare dan gangguan saluran pencernaan. Kultivar jambu kristal (Psidium guajava cultivar Krista. merupakan varietas unggul yang banyak dibudidayakan di Indonesia, namun pemanfaatan daunnya sebagai agen antibakteri masih relatif terbatas dan belum banyak dilaporkan secara ilmiah. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak daun jambu kristal mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. Secara fitokimia, daun ini diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder seperti seperti saponin, tanin, flavonoid, dan alkaloid . Ekstrak daun jambu biji mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, fenol, saponin, dan terpenoid. Senyawa-senyawa ini berperan sebagai antimikroba terhadap bakteri patogen, termasuk Staphylococcus aureus. Escherichia coli. Salmonella enteritidis, dan Bacillus cereus . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menguji dan membandingkan aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol dan dekokta daun jambu kristal terhadap Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus. Serta untuk mengetahui golongan senyawa pada ekstrak daun jambu kristal yang paling potensial bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri. Oleh karena itu untuk dapat mengetahuinya dilakukan uji daya hambat secara in vitro terhadap bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus. Metode Penelitian Alat dan bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini di antaranya cawan petri (OneMe. , rotary evaporator (Heidolph Laborata 4. , inkubator (Memmer. , autoclave (Hirayama HVE-. , oven (Memmer. , water bath (Memmer. , vacuum filtration (Rocke. , timbangan analitis (Sartorius TE 214 S. German. , mikropipet (Socore. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah daun tanaman jambu kristal yang didapatkan dari desa di kecamatan Mertoyudan Magelang, kultur bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus (Fakultas Farmasi UMS). Mueller Hinton Agar (OXOID), plat silika gel GF 254 (Merc. NaCl 0,9% steril (Otsuk. , pereaksi Dragendorff (Nitra Kimi. , perekasi Sitroborat (Nitra Kimi. , pereaksi FeCl31% (Permata Anugerah Chemistr. , akuades . ure lize. , alkohol 96% (Medik. dan DMSO (Merc. Penyiapan Simplisia Daun jambu kristal dipilih berdasarkan kesegaran daun dan kebersihan daun lalu dipisahkan dari bagian-bagian yang tidak diperlukan seperti batang dan tangkai daun dan dilakukan penyortiran. Kemudian dicuci bersih dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Sampel yang sudah kering kemudian diblender hingga diperoleh serbuk yang halus dan homogen, kemudian ditimbang beratnya . Pembuatan Ekstrak Etanol Serbuk simplisia daun jambu kristal dimaserasi dengan perbandingan bobot sampel dibanding pelarut adalah 1:10 b/v. Sebanyak 100 g serbuk simplisia dimasukkan ke dalam wadah lalu direndam dalam 1000 ml etanol 96% dan dimaserasi selama 3 x 24 jam sambil sesekali diaduk. Dilakukan penyaringan menggunakan vacuum filtration. Filtrat dari sampel dipekatkan dengan rotary evaporator disuhu 78AC lalu diuapkan dengan waterbath suhu 37AC hingga diperoleh ekstrak kental . Pembuatan Ekstrak Air (Dekokt. Pembuatan sediaan ekstrak air dilakukan dengan metode dekoktasi. Serbuk jambu kristal sebanyak 10,0 gram dimasukkan ke dalam panci infus kemudian dipanaskan dengan 150 ml akuades pada suhu 90AC dalam waktu 30 menit di atas kompor listrik sambil sesekali diaduk. Ampas diserkai dengan kain kasa, sari ditambah akuades panas sampai 150 ml hingga didapatkan hasil uji dekokta. Setelah itu hasil dekokta diuapkan dengan waterbath pada suhu 37AC hingga diperoleh ekstrak kering . Sterilisasi Alat dan Bahan Sterilisasi erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi dan alat-alat tahan pemanasan dilakukan menggunakan oven selama kurang lebih 1 jam pada temperatur 170AC. Untuk sterilisasi alat dan bahan yang rentan terhadap panas kering seperti bahan media Mueleer Hinton Agar (MHA) digunakan Autoclave dengan suhu 121AC selama kurang lebih 60 menit. Pembuatan Media Media MHA (Muller Hinton Aga. ditimbang sebanyak 9,5 gram lalu ditambahkan akuades 250 ml dalam erlenmeyer. Dipanaskan media di atas hot plate pada suhu 200AC kemudian dihomogenkan dengan menggunakan magnetic stirer hingga media berwarna kuning jernih. Sebanyak 20 ml media dituangkan dalam cawan petri dengan kedalaman 6 mm. Setelah itu, media didinginkan sampai konsistensi seperti agar atau memadat dalam suhu kamar. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pembuatan Suspensi bakteri Bacillus cereus Dibuat dengan diambil 1 ose bakteri dari hasil streak bakteri Bacillus cereus pada cawan, dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi 10 ml larutan NaCl 0,9% steril, dengan biakan murni di dalam tabung reaksi dan dihomogenkan, kemudian disamakan kekeruhannya dengan standar Mc Farland. Pembuatan Suspensi bakteri Staphylococcus aureus Dibuat dengan diambil 1 ose bakteri dari hasil streak bakteri Staphylococcus aureus pada cawan, dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi 10 ml larutan NaCl 0,9% steril, dengan biakan murni di dalam tabung reaksi dan diaduk sampai homogen, kemudian disamakan kekeruhannya dengan standar Mc Farland. Uji Sensitivitas Uji sensitivitas digunakan untuk menguji kepekaan bakteri terhadap suatu antibiotik. Digunakan metode difusi cakram dengan 4 cakram . akram 10 AA. antibiotik berupa Ampicilin. Kloramfenikol. Tetrasiklin, dan Ciprofloksasin yang dipilih karena mewakili kelas antibiotik berbeda untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai profil sensitivitas bakteri uji dan umum digunakan dalam terapi infeksi Ampisilin mewakili golongan -laktam yang menghambat sintesis dinding sel, kloramfenikol dan tetrasiklin mewakili penghambat sintesis protein, sedangkan ciprofloksasin mewakili golongan fluorokuinolon yang menghambat sintesis DNA bakteri. Diletakkan kertas disk antibiotik tersebut pada masing-masing biakan bakteri Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus yang ditambahkan ke media sebanyak 200 AAL. Media diinkubasi pada suhu 37AC selama 24 jam kemudian diukur zona hambat yang terbentuk disekitar cakram. Dilakukan uji sensitivitas sebanyak 2 kali replikasi. Pengujian Antibakteri Metode Difusi Sumuran Diambil sebanyak 200 AAL suspensi bakteri yang konsentrasinya telah disamakan dengan standar McFarland, diteteskan di media MHA lalu diratakan menggunakan speader glass dan ditunggu A10 menit. Setelah kering sumuran dibuat dengan menggunakan cork borer. Untuk bakteri Staphylococcus aureus digunakan kontrol positif (Ampisili. sedangkan untuk bakteri Bacillus cereus digunakan kontrol positif (Ciprofloksasi. Pada ekstrak etanol digunakan kontrol negatif (DMSO 10%) sedangkan untuk ekstrak akuades digunakan kontrol negatif . kuades steri. Ekstrak etanol dan dekokta daun jambu kristal dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 40% dimasukkan ke dalam sumuran sebanyak 30 AAL dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37AC. Diamati diameter zona hambat yang terbentuk, ditandai dengan adanya daerah jernih disekitar sumuran. Pengujian dilakukan dengan tiga replikasi biologis . , yang berarti menggunakan inokulum yang dipersiapkan dari koloni bakteri yang ditumbuhkan secara terpisah. Uji KLT Ekstrak etanol dan dekokta konsentrasi 40% daun jambu kristal ditotolkan pada fase diam silika gel GF 254 yang sudah diaktifkan dengan cara dioven pada suhu 110oC selama 10 menit. Totolan dibiarkan sampai kering kemudian dielusi dengan fase gerak Toluen : Etil asetat : Metanol . : 1 : . v/v/v. Setelah dielusi plat KLT dikeringkan dan kemudian disemprot pereaksi Sitroborat, yayceyayco3 , dan Dragendorff lalu diamati menggunakan sinar tampak. UV 254 nm, dan 366 nm. Uji Bioautografi Diletakkan kromatogram hasil pemisahan senyawa secara KLT di atas medium yang sudah diinokulasikan bakteri sebanyak 200 AAL yang memadat. Didiamkan selama 30 menit di suhu ruang, lempeng kromatogram diangkat dan dikeluarkan dari medium. Selanjutnya diinkubasi selama 1 x 24 jam pada suhu 37AC. Analisis Data Data hasil penelitian dilakukan uji normalitas yang berfungsi untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak dan uji homogenitas berfungsi untuk mengetahui apakah data yang dianalisis memiliki varian yang homogen atau tidak. Digunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Post Hoc Mann-Whitney untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok uji . Data KLT dianalisis menurut literatur Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil Dan Diskusi Hasil Ekstraksi Tabel 1. Hasil ekstraksi daun jambu kristal Sampel Ekstrak Etanol Ekstrak Akuades Bobot kering . Bobot Ekstrak 10,78 % Rendemen 10,78 15,00 Berdasarkan tabel hasil ekstraksi, pada ekstrak etanol diperoleh hasil sebesar 10,78% sedangkan % rendemen pada ekstrak akuades diperoleh hasil sebesar 15,0%. Dapat dikatakan bahwa % rendemen ekstrak akuades lebih besar jika dibandingkan dengan % rendemen ekstrak etanol. Metode ekstraksi dapat mempengaruhi rendemen ekstrak. Semakin tinggi nilai rendemen yang dihasilkan artinya nilai ekstrak yang dihasilkan semakin banyak. Uji Sensitivitas Hasil uji sensitivitas menggunakan metode difusi cakram yang dilakukan pada 4 antibiotik pada masingmasing bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus yaitu Ampisilin. Kloramfenikol. Tetrasiklin, dan Ciprofloksasin. Rata-rata hasil diameter zona hambat terhadap bakteri B. cereus pada Ampisilin. Kloramfenikol. Tetrasiklin, dan Ciprofloksasin berturut-turut yaitu 8,75 mm, 26,75 mm, 24,75 mm, dan 29,25 mm. Sedangkan pada rata-rata diameter zona hambat terhadap bakteri S. aureus pada Ampisilin. Kloramfenikol. Tetrasiklin, dan Ciprofloksasin berturut-turut yaitu 35,5 mm, 26,0 mm, 31,0 mm, dan 28,0 mm. Dari hasil yang didapatkan untuk perlakuan kontrol positif terhadap bakteri B. cereus digunakan Ciprofloksasin dan untuk bakteri S. digunakan Ampisilin. Uji Daya Hambat Bakteri Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun jambu kristal (Psidium guajava L. Cultivar Krista. terhadap bakteri Bacillus cereus dan bakteri Staphylococcus aureus dilakukan dalam 3 kali replikasi agar didapatkan data yang lebih akurat. Pada perlakuan terhadap bakteri B. cereus digunakan pembanding Ciprofloksasin sebagai kontrol positif dan pada S. aureus digunakan Ampisilin. Untuk ekstrak etanol digunakan DMSO 10% sebagai kontrol negatif sedangkan pada kontrol negatif ekstrak akuades digunakan akuades steril. Kekuatan zona hambat dikatakan lemah apabila memiliki diameter < 5 mm, diameter 5 Ae 10 mm dikatakan sedang, 10 Ae 20 mm dikatakan kuat, dan diameter > 20 mm termasuk sangat kuat . Tabel 2. Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Ekstrak Etanol Kontrol positif Kontrol negatif Diameter Zona Hambat . Replikasi 31,75 Replikasi Replikasi 31,15 Rata-rata ASD 14,83A0,764 12,50A0,50 11,33A1,040 9,83A1,155 31,13A0,625 *6A0 Replikasi Replikasi Replikasi 41,25 Rata-rata ASD 17,00A2,000 15,33A2,516 14,17A2,081 12,33A1,258 38,42A3,166 *6A0 Keterangan: - Kontrol positif B. cereus (Ciprofloksasi. - Kontrol positif S. aureus (Ampisili. - Kontrol negatif (DMSO 10%) *diameter sumuran Hasil penelitian ekstrak menunjukkan aktivitas antibakteri yang cukup baik . dengan zona hambat yang jelas dan konsisten, walaupun masih jauh lebih rendah dibandingkan antibiotik standar (A10Ae 19 m. Namun, aktivitas ekstrak etanol secara konsisten lebih tinggi dibandingkan dekokta, terutama terhadap S. aureus, meskipun rendemen dekokta lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa rendemen ekstrak tidak secara langsung merefleksikan potensi antibakteri, melainkan dipengaruhi oleh selektivitas pelarut terhadap senyawa aktif. Etanol sebagai pelarut semi-polar mampu mengekstraksi senyawa flavonoid aglikon, khususnya turunan kuersetin, secara lebih efektif dibandingkan akuades. Senyawa ini bersifat kurang polar Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. dan diketahui memiliki aktivitas antibakteri tinggi melalui mekanisme perusakan membran sel, penghambatan sintesis protein, serta pembentukan kompleks dengan protein dinding sel bakteri. Sebaliknya, dekokta cenderung mengekstraksi senyawa sangat polar dan non-aktif secara antibakteri, serta berpotensi menyebabkan degradasi senyawa aktif akibat pemanasan, sehingga aktivitasnya relatif lebih rendah. Meskipun kedua bakteri uji termasuk Gram-positif, aktivitas antibakteri terhadap S. aureus lebih besar dibandingkan B. Perbedaan ini kemungkinan berkaitan dengan karakteristik biologis B. cereus sebagai bakteri pembentuk spora dengan struktur dinding sel lebih kompleks dan sistem pertahanan tambahan, sehingga lebih resisten terhadap senyawa antibakteri alami. Sebaliknya, dinding sel S. aureus relatif lebih mudah ditembus oleh senyawa fenolik dan flavonoid. Jika dibandingkan dengan antibiotik kontrol yang menghasilkan zona hambat A30Ae40 mm, aktivitas ekstrak masih lebih rendah. Hal ini wajar mengingat antibiotik merupakan senyawa murni dengan mekanisme spesifik, sedangkan ekstrak merupakan campuran kompleks dengan konsentrasi senyawa aktif Namun demikian, zona hambat yang tergolong kuat menunjukkan potensi ekstrak daun jambu kristal sebagai sumber antibakteri alami, khususnya sebagai kandidat agen pendukung atau alternatif dalam upaya mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Secara keseluruhan data diameter zona hambat kemudian dianalisis dengan uji normalitas dan homogenitas terlebih dahulu sebagai syarat pengujian one-way Anova dimana data harus terdistribusi normal dan homogen. Pada uji normalitas bakteri B. cereus dan S. aureus secara keseluruhan diperoleh nilai dengan signifikansi normal. Sedangkan pada uji homogenitas diperoleh nilai signifikansi 0,001 . <0,. yang artinya data terdistribusi normal namun data tidak homogen. Dilakukan uji KruskalAeWallis yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna diameter zona hambat antar konsentrasi ekstrak etanol terhadap Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus . < 0,. Oleh karena itu, dilakukan uji lanjutan menggunakan Dunn test dengan koreksi Bonferroni melalui uji MannAeWhitney U antar pasangan konsentrasi. Jumlah kelompok perlakuan adalah empat . %, 10%, 20%, dan 40%), sehingga dilakukan enam perbandingan pasangan dengan nilai signifikansi disesuaikan menjadi = 0,0083 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antar pasangan Tabel 3. Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat Ekstrak Aquadest (Dekokt. Ekstrak Akuades Kontrol positif Kontrol negatif Diameter Zona Hambat . Replikasi Replikasi Replikasi 30,25 Rata-rata ASD 14,00A1,323 11,67A0,577 11,17A0,577 9,67A0,577 30,25A0,75 *6A0 Replikasi 36,75 Replikasi Replikasi 44,75 25,75 Rata-rata ASD 13,33A1,528 12,33A1,443 12,00A1,232 11,17A1,155 35,75A9,539 *6A0 Keterangan: - Kontrol positif B. cereus (Ciprofloksasi. - Kontrol positif S. aureus (Ampisili. - Kontrol negatif (Akuades steri. *diameter sumuran Kontrol positif menunjukkan variasi diameter zona hambat yang cukup besar, khususnya pada Staphylococcus aureus . ,75. 36,75. dan 44,75 mm pada Tabel . , yang menghasilkan nilai simpangan baku (SD) Secara ideal, kontrol positif seharusnya memberikan hasil yang konsisten karena berfungsi sebagai acuan keandalan metode uji. Hal tersebut disebabkan karena ketidakkonsistenan dalam proses inokulasi, seperti perbedaan kepadatan suspensi bakteri dan penyebaran inokulum yang tidak merata. Adanya aktivitas penghambatan pertumbuhan bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus oleh ekstrak etanol dan akuades daun jambu kristal dapat terjadi dikarenakan adanya pengaruh metabolit sekunder yang terkandung dalam tanaman tersebut. Uji KLT Pengujian dengan Kromatografi lapis tipis diujikan dengan fase normal dengan tujuan untuk melihat pola kromatogram komponen senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak daun jambu Kristal. Dari hasil uji KLT pada ekstrak etanol dan dekokta didapatkan nilai Rf yang sama yaitu sebesar 0,81 dan 0,83. Setelah bercak/noda totolan hasil KLT disemprotkan dengan pereaksi Dragendorff didapatkan hasil berupa bercak noda berwarna coklat jingga, yang menandakan bahwa ekstrak etanol dan aquadest daun jambu kristal positif mengandung Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid. Hal ini disebabkan karena adanya pertukaran ligan dimana nitrogen yang memiliki pasangan elektron bebas pada alkaloid menciptakan ikatan kovalen koordinat dengan ion K dari kalium tetraiodobismutat sehingga menghasilkan kompleks kalium-alkaoid berwarna coklat . Selanjutnya bercak/noda totolan hasil KLT disemprot dengan pereaksi FeCl3 , dihitung nilai Rf pada ekstrak etanol dan dekokta berturut-turut yaitu 0,81 dan 0,74 serta didapatkan hasil berupa bercak berwana hitam kehijauan setelah dipanaskan dalam oven selama 5 menit. Uji tanin pada ekstrak daun jambu kristal menunjukkan hasil positif. Adanya kemunculan gugus fenolik dibuktikan dengan warna kehitaman setelah ditambahkan dengan FeCl3 . Sehingga uji fitokimia dengan FeCl3 memberikan hasil positif, kemungkinan tanin dalam sampel mengandung senyawa fenolik yang berikatan dengan FeCl3 membentuk warna kehitaman hijau kompleks . Dilakukan pula uji flavonoid dengan menyemprotkan pereaksi sitroborat pada bercak/noda totolan hasil KLT dan didapatkan hasil ekstrak daun jambu kristal positif mengandung senyawa metabolit sekunder flavonoid. Hal itu ditandai dengan adanya warna noda berflourensi biru terang pada saat dilihat di bawah sinar ultraviolet (UV) 366 nm . Dihitung nilai Rf pada ekstrak etanol dan dekokta berturut-turut sebesar 0,85 dan 0,86. Uji KLT-Bioautografi Pada hasil uji KLT-Bioautografi dengan metode kontak langsung dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Hasil uji KLT-Bioautografi metode kontak ekstrak daun jambu Kristal . Hasil Bioautografi metode kontak ekstrak etanol, . Kromatogram lapis tipis ekstrak etanol daun jambu Kristal disemprot Sitroborat, . Hasil Bioautografi metode kontak dekokta, . Kromatogram lapis tipis ekstrak dekokta daun jambu Kristal disemprot Sitroborat. Pada Gambar 1 menunjukkan hasil pengujian KLT-bioautografi dengan adanya zona bening pada titik penotolan yang telah terelusi. Pada ekstrak etanol didapatkan nillai Rf sebesar 0,85 dan pada ekstrak akuades didapatkan nilai Rf sebesar 0,86. Hasil nilai Rf yang didapatkan dari kedua bercak termasuk baik, karena masuk dalam rentang Rf yang baik yaitu 0,2-0,8 . Hasil uji KLTAebioautografi metode kontak menunjukkan adanya satu bercak pada ekstrak etanol maupun dekokta daun jambu kristal yang berasosiasi dengan zona hambat pertumbuhan bakteri, yang berkorespondensi dengan bercak fluoresen berwarna biru terang setelah penyemprotan pereaksi sitroborat dan diindikasikan sebagai golongan flavonoid. Meskipun hasil skrining fitokimia dan KLT menunjukkan keberadaan senyawa alkaloid dan tanin, kedua golongan senyawa tersebut tidak menunjukkan aktivitas antibakteri yang terdeteksi pada uji bioautografi dalam kondisi pengujian ini. Hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan aktivitas antibakteri yang relatif lebih rendah dan keterbatasan kemampuan difusi senyawa tertentu khususnya tanin yang bersifat sangat polar dan bermolekul besar ke dalam medium agar pada metode kontak langsung. Berdasarkan nilai Rf dan warna fluoresensi biru terang di bawah UV 366 nm setelah disemprot sitroborat, senyawa aktif ini memiliki karakteristik yang mirip dengan turunan kuersetin seperti yang dilaporkan dalam penelitian . Namun, identifikasi pasti memerlukan analisis lebih Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Kesimpulan Ekstrak etanol dan dekokta daun jambu kristal (Psidium guajava L. cultivar Krista. menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus, dengan peningkatan diameter zona hambat seiring peningkatan konsentrasi ekstrak. Aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus secara umum lebih tinggi dibandingkan Bacillus cereus. Berdasarkan tren data, ekstrak etanol cenderung memiliki aktivitas antibakteri yang lebih baik dibandingkan dekokta pada konsentrasi yang sama, meskipun dekokta menghasilkan rendemen yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, ekstrak daun jambu kristal berpotensi sebagai sumber senyawa antibakteri alami, terutama dari golongan flavonoid. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk melakukan isolasi senyawa murni dari bercak aktif, menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (MIC), serta menguji toksisitasnya untuk melihat potensi pengembangan lebih lanjut. Conflict of Interest Para penulis menyatakan tidak memiliki konflik kepentingan finansial, personal, maupun institusional yang dapat memengaruhi penelitian ini. Seluruh proses penelitian dilakukan secara independen tanpa intervensi pihak luar. Referensi