Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Transformasi Karya Sastra Berbasis Kearifan Lokal di Era Vuca Hadi Riwayati Utami Universitas PGRI Semarang. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Dunia pendidikan mengalami perubahan drastis. Apa penyebab utamanya? Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa dan sastra harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity. Ambiguit. menuntut para pendidik untuk melakukan transformasi dalam proses belajar-mengajar. Sementara itu berbagai peristiwa yang melibatkan peserta didik menunjukkan rendahnya kadar pemahaman mereka terhadap tatanan nilai kehidupan. Kondisi ini semakin memperjelas perlunya penanaman nilai-nilai moral secara lebih massif, terstruktur dan sistematis di lingkungan pendidikan. Kearifan lokal harus menjadi dasar dalam mendesain pembelajaran bahasa dan sastra di era ini. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk pembelajaran, materi, serta teknik pembelajaran yang relevan dengan era VUCA, dengan mempertimbangkan hasil-hasil penelitian yang terkait dengan pembelajaran bahasa dan sastra. Bagaimana konsep Volatility. Uncertainty. Complexity, dan Ambiguity diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia akan dibahas secara Untuk mengupas persoalan ini secara komprehensif digunakan Metode Deskriptif Interpretatif, dan Analisis Deskriptif. Hasilnya akan berupa konsep design pembelajaran Bahasa dan sastra Indonesia berbasis kearifan local. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Era VUCA. Transformasi Pembelajaran. Kearifan Lokal. Bahasa. Sastra Indonesia This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Hadi Riwayati Utami Universitas PGRI Semarang Jl. Gajah Raya. Sambirejo. Kec. Gayamsari. Kota Semarang. Jawa Tengah 50162. Indonesia Email: hrutami@upgris. PENDAHULUAN Perkembangan dunia pendidikan saat ini berada di tengah arus perubahan yang cepat dan tak terduga, yang sering disebut sebagai era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity. Ambiguit. Era ini ditandai dengan ketidakpastian yang tinggi, peningkatan kompleksitas masalah, serta perubahan yang berlangsung secara cepat dan dinamis. Dalam konteks pendidikan bahasa dan sastra, perubahan ini menuntut adanya transformasi yang signifikan dalam metode, materi, dan pendekatan pembelajaran agar dapat menyesuaikan dengan tuntutan zaman dan kebutuhan peserta didik (Lisnawati et al. , 2023, 2. Alfikri . 3: . menyatakan bahwa tanggung jawab untuk menyiapkan generasi masa depan, khususnya generasi Gen Z, terletak pada komunitas pendidikan. Oleh karena itu, sangat penting bagi para pendidik untuk mendesain pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada pencapaian kognitif, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan lokal. Karya sastra, dalam bentuk apa pun seperti puisi, cerpen, atau novel, merupakan representasi estetis dari pengalaman hidup penulisnya. Setiap karya sastra mengandung nilai-nilai budaya dan etika moral yang merefleksikan pandangan hidup pengarangnya (Yudari, 2024: 23-. Hal ini sejalan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X dengan pandangan bahwa karya sastra memiliki fungsi mendidik, menghibur, serta menjadi wahana untuk mengenalkan berbagai nilai-nilai luhur. Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa dan sastra menjadi salah satu pendekatan yang penting untuk diimplementasikan. Kearifan lokal, yang mencakup nilai-nilai budaya, tradisi, dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun, memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan yang dihadirkan oleh era VUCA. Dengan memadukan kearifan lokal, pembelajaran bahasa dan sastra dapat lebih relevan dengan konteks sosial-budaya peserta didik, sekaligus lebih adaptif dalam menghadapi ketidakpastian dan kompleksitas yang ada (Mulyoto et al. , 2023. Wuryaningrum et al. , 2. Namun, proses mentransformasikan pembelajaran bahasa dan sastra berbasis kearifan lokal di era VUCA bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana konsep-konsep VUCA mempengaruhi proses belajar-mengajar, serta bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan secara efektif dalam kurikulum dan metode pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentukbentuk pembelajaran, materi, dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan tantangan era VUCA, serta bagaimana kearifan lokal dapat diimplementasikan sebagai fondasi dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (Habibah & Nurhidin, 2023. Hadar et al. , 2. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Interpretatif dan Analisis Deskriptif untuk mengungkap konsep desain pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang berbasis kearifan lokal. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan model pembelajaran yang tidak hanya relevan dengan perkembangan zaman, tetapi juga mampu membangun karakter peserta didik yang tangguh dan berwawasan kebangsaan. KERANGKA TEORITIS Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Sastra di Era VUCA Pada era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity. Ambiguit. , dunia pendidikan, termasuk dalam konteks pembelajaran bahasa dan sastra, menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan diri dengan dinamika perubahan yang cepat. Transformasi pembelajaran yang adaptif menjadi sebuah keharusan, terutama dalam menghadapi ketidakpastian dan kompleksitas yang ada. Karya sastra, sebagai salah satu media ekspresi budaya, memiliki potensi untuk menjadi wahana penanaman nilai-nilai moral dan kearifan lokal. Namun, upaya ini perlu didasarkan pada kerangka teoritis yang kuat agar dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien (Nudin et al. Pultoo & Oojorah, 2. Kerangka teoretis ini akan menguraikan landasan teori yang relevan untuk membahas transformasi karya sastra berbasis kearifan lokal di era VUCA. Fokus utamanya adalah bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran bahasa dan sastra untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan saat Secara rinci, kerangka teoretis ini akan disajikan melalui beberapa subjudul, yaitu: . Konsep Dasar Era VUCA dalam Pendidikan, . Pembelajaran Bahasa dan Sastra Berbasis Kearifan Lokal, . Transformasi Pendidikan dalam Konteks Era VUCA, . Pendekatan Desain Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal, dan . Strategi Implementasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra (Green et al. , 2. Konsep Dasar Era VUCA dalam Pendidikan Era VUCA, yang pertama kali diperkenalkan oleh para perwira militer AS untuk menggambarkan situasi dunia pasca-Perang Dingin, kini digunakan secara luas di berbagai bidang termasuk pendidikan. Volatility mengacu pada tingkat perubahan yang cepat dan sulit diprediksi. Uncertainty menggambarkan ketidakpastian yang membuat perencanaan menjadi semakin kompleks. Complexity menandakan adanya faktor-faktor yang saling terkait sehingga menyulitkan pengambilan keputusan, dan Ambiguity mencerminkan ketidakjelasan situasi yang sering menimbulkan kebingungan (Achsan et al. , 2021. Baron & Cruz, 2. Dalam konteks pendidikan, era VUCA menuntut transformasi yang signifikan dalam berbagai aspek, termasuk metode pengajaran, kurikulum, dan materi pembelajaran. Para pendidik harus mampu menyesuaikan strategi pembelajaran agar dapat merespons perubahan dan ketidakpastian yang ada. Di sinilah pentingnya pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif yang dapat membantu peserta didik untuk tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu mengatasi berbagai tantangan yang muncul (Millar et al. , 2. Di sisi lain, era VUCA juga menuntut adanya pendekatan yang lebih inklusif dan kontekstual dalam Kearifan lokal, yang mencakup nilai-nilai budaya, tradisi, dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun, memiliki peran penting dalam menjembatani pembelajaran dengan konteks sosial budaya yang Oleh karena itu, transformasi pendidikan dalam era VUCA perlu memperhatikan bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam kurikulum (Mukhlisah, 2. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Berbasis Kearifan Lokal Kearifan lokal, menurut Koentjaraningrat . , adalah semua bentuk pengetahuan yang berasal dari masyarakat tertentu, termasuk di dalamnya norma-norma, nilai-nilai, etika, dan tradisi yang berlaku. Dalam Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X konteks pendidikan bahasa dan sastra, kearifan lokal berperan penting sebagai sumber materi pembelajaran yang tidak hanya bersifat informatif tetapi juga memiliki makna edukatif. Nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal dapat menjadi media untuk mengajarkan moral, etika, serta karakter kepada peserta didik (Lisnawati et al. Pembelajaran bahasa dan sastra berbasis kearifan lokal menekankan pada pemahaman terhadap nilainilai budaya yang terkandung dalam karya sastra. Sastra merupakan cerminan kehidupan sosial dan budaya Oleh karena itu, integrasi kearifan lokal ke dalam pembelajaran sastra dapat memberikan wawasan yang lebih luas mengenai konteks budaya dan sosial yang mempengaruhi terciptanya karya tersebut. Ini akan membantu peserta didik untuk memahami karya sastra secara lebih komprehensif dan kontekstual (Rahim et al. Tiyasmala et al. , 2. Pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa dan sastra tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap karya sastra, tetapi juga untuk membangun identitas dan kesadaran budaya peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat berfungsi sebagai sarana untuk melestarikan budaya lokal, sekaligus menjadikannya sebagai fondasi dalam pengembangan karakter peserta didik yang berwawasan kebangsaan (Syarifah et al. , 2. Transformasi Pendidikan dalam Konteks Era VUCA Transformasi pendidikan dalam konteks era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity. Ambiguit. tidak hanya melibatkan perubahan metode atau pendekatan pembelajaran, tetapi juga bagaimana pendidikan dapat merespons secara adaptif terhadap tantangan-tantangan yang muncul. Di tengah ketidakstabilan . yang tinggi, pendidikan perlu mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan dinamis, agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kurikulum atau materi yang diperlukan dalam situasi yang tidak terduga. Untuk menghadapi ketidakpastian . , peserta didik perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah yang baik, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang tepat meskipun informasi yang tersedia tidak sepenuhnya jelas (Attalansyah & Anshori, 2023. Nowacka & Rzemieniak, 2. Selain itu, kompleksitas . dalam pendidikan mengharuskan peserta didik mampu menguraikan dan memahami berbagai perspektif dari masalah yang dihadapi. Pendekatan interdisipliner, seperti melibatkan aspek sejarah, sosiologi, dan antropologi dalam pembelajaran bahasa dan sastra, dapat membantu mereka melihat persoalan secara lebih holistik. Sedangkan untuk merespons ambiguitas . , pendidikan perlu memberikan pemahaman bahwa situasi yang tidak jelas sering kali membuka peluang untuk berpikir kreatif, dan terdapat lebih dari satu solusi yang mungkin untuk sebuah masalah. Pendekatan ini akan membuat peserta didik lebih adaptif dan mampu menavigasi tantangan di era VUCA dengan pemikiran yang terbuka dan responsif (Millar et al. , 2018. Mukhlisah, 2. Pendekatan Desain Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Pendekatan desain pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat diterapkan melalui berbagai strategi yang bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan tradisi ke dalam kurikulum pendidikan. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah dengan merancang kurikulum kontekstual, yakni kurikulum yang dirancang berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan peserta didik. Hal ini dapat dilakukan melalui pemilihan teks-teks sastra yang mengandung unsur budaya lokal atau dengan mengintegrasikan tematema kearifan lokal, seperti tradisi lisan, adat istiadat, dan cerita rakyat, ke dalam pembelajaran bahasa. Dengan demikian, peserta didik dapat mempelajari bahasa dan sastra Indonesia dalam konteks yang lebih dekat dengan lingkungan sosial-budaya mereka, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal (Cahya & Syafrizal, 2022. Syarifah et al. , 2. Selain itu, pemilihan materi pembelajaran yang relevan dengan kearifan lokal juga menjadi langkah penting dalam desain pembelajaran ini. Materi seperti cerita rakyat, legenda, atau prosa tradisional dari berbagai daerah dapat dijadikan bahan ajar untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia. Untuk mendukung keterlibatan peserta didik secara aktif, metode pembelajaran yang partisipatif, seperti diskusi kelompok, roleplaying, dan project-based learning, dapat diterapkan. Metode-metode ini memungkinkan peserta didik untuk mengeksplorasi kearifan lokal melalui analisis, diskusi, dan presentasi, yang pada akhirnya membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir analitis dan interpretatif. Evaluasi pembelajaran juga perlu dilakukan secara holistik, tidak hanya menilai pencapaian kognitif, tetapi juga memahami sejauh mana peserta didik dapat menginternalisasi nilai-nilai kearifan lokal yang diajarkan, misalnya melalui penilaian proyek, refleksi, atau portofolio yang mencakup analisis peserta didik terhadap karya sastra berbasis kearifan local (Mulyani et al. Strategi Implementasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Strategi implementasi kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa dan sastra dapat dimulai dengan tahap analisis kebutuhan. Pada tahap ini, pendidik perlu mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang akan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X diintegrasikan ke dalam pembelajaran. Langkah ini mencakup pemetaan budaya lokal yang relevan, seperti tradisi, adat istiadat, atau cerita rakyat yang memiliki nilai edukatif tinggi dan dapat disampaikan kepada peserta didik. Proses ini akan membantu memastikan bahwa materi pembelajaran yang dipilih tidak hanya sesuai dengan konteks budaya peserta didik, tetapi juga mampu memberikan wawasan baru tentang nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat sekitar (Albantani & Madkur, 2018. Mulyani et al. , 2. Setelah analisis kebutuhan dilakukan, tahap berikutnya adalah perencanaan pembelajaran. Pada tahap ini, pendidik merancang rencana pembelajaran yang mencakup tujuan, materi, metode, dan evaluasi yang sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal. Perencanaan ini perlu mempertimbangkan bagaimana konsep-konsep dalam era VUCA dapat diintegrasikan, sehingga pembelajaran tidak hanya menyampaikan pengetahuan budaya, tetapi juga melatih peserta didik untuk menghadapi ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas yang ada dalam kehidupan Pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan metode yang bervariasi, seperti diskusi, presentasi, dan penggunaan media pembelajaran digital yang memudahkan akses terhadap sumber-sumber kearifan lokal (Kusuma & Lililacs, 2. Tahap akhir dari strategi implementasi ini adalah evaluasi dan refleksi. Evaluasi tidak hanya berfokus pada pencapaian kognitif, tetapi juga mencakup pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang telah diajarkan. Refleksi dilakukan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, serta merumuskan strategi yang lebih baik untuk perbaikan di masa depan. Dengan demikian, proses pembelajaran dapat terus berkembang menjadi lebih efektif dan relevan, serta mampu memberikan dampak yang lebih besar terhadap pembentukan karakter dan pemahaman budaya peserta didik (Prayudha. S, 2. Integrasi Kearifan Lokal dalam Kurikulum Pembelajaran Bahasa dan Sastra Integrasi kearifan lokal dalam kurikulum pembelajaran bahasa dan sastra dapat diwujudkan melalui pemilihan bahan ajar yang memperkenalkan peserta didik pada kekayaan budaya dan tradisi lokal. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah dengan memasukkan karya sastra lokal seperti cerita rakyat, legenda, atau puisi tradisional sebagai bahan ajar. Karya-karya ini tidak hanya memperkaya pengetahuan peserta didik tentang keindahan bahasa, tetapi juga menyampaikan pesan moral serta nilai-nilai budaya yang dapat membantu dalam pembentukan karakter. Misalnya, cerita rakyat yang menceritakan tentang kepemimpinan atau kejujuran dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada peserta didik melalui diskusi dan refleksi (Nurdiana et , 2. Selain itu, tema-tema kearifan lokal seperti gotong royong, rasa hormat kepada orang tua, dan cinta tanah air dapat dijadikan konteks pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Dengan memasukkan tema-tema ini ke dalam materi pembelajaran, siswa tidak hanya belajar bahasa dan sastra dari segi kebahasaan, tetapi juga mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai budaya dan identitas mereka Misalnya, melalui pengembangan proyek pembelajaran yang berbasis eksplorasi kearifan lokal, peserta didik dapat ditugaskan untuk melakukan penelitian sederhana tentang tradisi atau kebiasaan lokal di lingkungan mereka, lalu menyajikannya dalam bentuk tulisan atau karya seni. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan keterlibatan siswa, tetapi juga membangun kesadaran budaya mereka (Giyatmi, 2. Untuk mendukung integrasi kearifan lokal lebih lanjut, teknologi dapat digunakan sebagai media Teknologi seperti pembuatan video dokumenter, aplikasi pembelajaran interaktif, atau penggunaan platform digital lainnya dapat memudahkan akses terhadap sumber-sumber kearifan lokal. Dengan bantuan teknologi, peserta didik dapat mendokumentasikan dan menyebarkan pengetahuan tentang budaya lokal mereka, sehingga memperkuat identitas budaya di tengah-tengah arus globalisasi. Ini akan menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, menarik, dan bermakna, yang selaras dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya local (Sarip et al. , 2. Dengan demikian, integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa dan sastra tidak hanya akan memperkaya pengetahuan peserta didik, tetapi juga akan membantu mereka untuk lebih menghargai dan melestarikan budaya lokal. Ini akan menjadi fondasi yang kuat bagi pembentukan karakter yang berwawasan kebangsaan, serta adaptif terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi di era VUCA (Green et al. , 2019. Holley et , 2. Kerangka teoretis ini menekankan pentingnya transformasi pembelajaran bahasa dan sastra berbasis kearifan lokal di era VUCA. Integrasi nilai-nilai kearifan lokal dapat memberikan kontribusi positif dalam pembentukan karakter peserta didik, serta menjadikan pembelajaran lebih relevan dengan konteks sosial budaya yang ada. Dengan strategi dan pendekatan yang tepat, kearifan lokal dapat menjadi sumber daya yang berharga dalam mengatasi tantangan yang dihadirkan oleh era VUCA, sekaligus membangun kesadaran budaya dan identitas bangsa yang kuat pada generasi muda (Judith & Francis, 2023. Pultoo & Oojorah, 2. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif Kualitatif untuk mengkaji transformasi karya sastra berbasis kearifan lokal di era VUCA. Pendekatan ini dipilih karena mampu menjelaskan secara rinci fenomena sosial budaya yang terkait dengan integrasi kearifan lokal ke dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Sebagaimana dinyatakan oleh Moleong . 6: . , pendekatan deskriptif kualitatif memungkinkan peneliti untuk menelisik objek kajian secara detail, fleksibel, dan luwes, sehingga dapat menggambarkan kondisi nyata di lapangan tanpa harus dibatasi oleh variabel-variabel kuantitatif. Penelitian ini memanfaatkan metode Interdisipliner yang berfokus pada Analisis Deskriptif dan Deskriptif Interpretatif. Metode ini dipandang tepat untuk memahami kompleksitas kearifan lokal yang direfleksikan dalam karya sastra, serta untuk mengeksplorasi bagaimana karya sastra tersebut dapat digunakan sebagai media pembelajaran di era VUCA. Analisis deskriptif diperlukan untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam karya sastra yang dipilih. Sedangkan, analisis deskriptif interpretatif bertujuan untuk menafsirkan makna-makna yang tersirat dan eksplisit dalam teksteks sastra tersebut. Proses penafsiran ini penting dalam memahami relevansi kearifan lokal yang termuat dalam karya sastra dengan konteks kehidupan masa kini. Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan melalui teknik studi pustaka dan analisis dokumen terhadap berbagai karya sastra yang mewakili genre-genre tertentu, seperti cerita rakyat, legenda, dan prosa tradisional. Pemilihan karya sastra didasarkan pada kandungan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun dan dianggap selaras dengan kondisi sosial di era VUCA. Selain itu, peneliti juga akan menggunakan studi etnografi dan antropologi budaya untuk mengeksplorasi bagaimana fenomena budaya yang diekspresikan dalam karya sastra dapat bertahan dan diterima oleh masyarakat di era yang penuh ketidakpastian Sebagai instrumen utama, peneliti terlibat langsung dalam proses pengumpulan dan analisis data, dengan berupaya menghubungkan nilai-nilai kearifan lokal yang ditemukan dengan dinamika pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah. Usia sekolah dipilih sebagai fokus populasi penelitian karena mereka merupakan generasi yang akan melanjutkan warisan budaya di masa depan. Dalam proses analisis, peneliti mengkombinasikan metode deskriptif interpretatif dan analisis deskriptif untuk mengupas makna kearifan lokal yang terkandung dalam karya sastra, serta merumuskan strategi transformasi pembelajaran yang relevan dan kontekstual untuk diterapkan di era VUCA. Metode ini sejalan dengan pernyataan Auerbach dan Silverstein . , yang menegaskan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menganalisis dan menafsirkan teks dan wawancara guna mendeskripsikan fenomena sesuai kajian yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Atmosfer pemberitaan di Indonesia saat ini diwarnai oleh situasi politik yang sangat kompleks, penuh ketidakpastian, serta cepatnya perubahan yang tidak terduga. Hal ini berdampak signifikan terhadap perkembangan mental generasi Z, yang sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa. Berita-berita terkait pemilihan pejabat pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, sering kali menyajikan tontonan yang tidak Mulai dari upaya perubahan undang-undang demi kepentingan tertentu, hingga saling sindir antar partai dan kelompok. Selain itu, kasus pemecatan hakim yang dianggap tidak menjalankan fungsi mereka dengan baik dan berita tentang korupsi yang merugikan negara hingga puluhan triliun rupiah juga menciptakan suasana yang Pemberitaan tentang peristiwa kriminal semakin memperburuk situasi. Kasus pembunuhan yang melibatkan keluarga, tindakan kekerasan, serta perundungan yang terjadi di lingkungan akademik hingga menyebabkan korban bunuh diri menciptakan rasa ketidakamanan yang tinggi. Fenomena ini bukan hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mendalam tentang kondisi psikologis dan sosial generasi muda saat ini. Perhatian masyarakat, orang tua, dan pendidik semakin meningkat terhadap fenomena ini, dan pemerintah juga dihadapkan pada tantangan untuk mencari solusi yang tepat. Dalam konteks pendidikan. Kurikulum Merdeka yang merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka memberikan kesempatan bagi dunia pendidikan formal untuk beradaptasi dan melakukan modifikasi pembelajaran yang relevan dengan kondisi saat ini. Melalui Profil Pelajar Pancasila, kurikulum ini berupaya membentuk pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dalam konteks ini, pendidikan karakter yang berakar pada budaya lokal dan kearifan lokal menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Dengan demikian, kearifan lokal harus dijadikan landasan dasar dalam pembelajaran yang terintegratif. VUCA, sebagai akronim dari Volatility. Uncertainty. Complexity, dan Ambiguity, menjadi penting dalam konteks pendidikan, terutama dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Peningkatan pesat teknologi pendidikan mempengaruhi baik jasmani maupun rohani peserta didik. Mereka tidak hanya belajar secara konvensional, tetapi juga memanfaatkan berbagai multimedia untuk mendukung proses belajar mereka. Hal ini Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X menunjukkan bahwa desain kurikulum harus selaras dengan perkembangan zaman dan mampu memberikan pengalaman belajar yang relevan dan bermanfaat bagi siswa. Pendidikan bahasa dan sastra tidak hanya sekadar materi kebahasaan, tetapi juga menjadi medium untuk menanamkan budi pekerti luhur. Dengan integrasi kearifan lokal dalam kurikulum, tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai dengan Kurikulum Merdeka, yang menekankan pada kompetensi global dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Melalui pembelajaran yang terintegrasi ini, diharapkan peserta didik tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan secara akademis, tetapi juga terbina berakhlak mulia. Fenomena perkembangan sosial politik yang carut marut di Indonesia sebenarnya telah dibahas oleh Ranggawarsito dalam Serat Kalatida, di mana ia menyatakan bahwa kita harus bijaksana dalam menghadapi situasi yang kacau. Menurut Laura Ellen Joice . alam Anoegrahjekti, dkk: 2024: xxii-xx. , seorang penulis memiliki hubungan yang mendalam dengan materi tulisannya, yang berimplikasi moral untuk mempengaruhi pembaca dengan nilai-nilai yang dapat membentuk kehidupan mereka. Hal ini ditunjukan pada Table 1 dan Table Table 1. Fenomena Sosial yang Mempengaruhi Generasi Z di Era VUCA Fenomena Dampak terhadap Generasi Solusi Pendidikan Situasi politik yang kompleks Meningkatkan ketidakpastian Pendidikan karakter yang kuat dan kebingungan tentang arah dan kritis. masa depan. Pemberitaan kriminal Menumbuhkan rasa takut dan Pembelajaran dalam kearifan lokal. lingkungan sosial. Perundungan di lingkungan Meningkatkan tingkat stres Program anti-bullying dan dan risiko bunuh diri. dukungan mental. Kekerasan perilaku Membentuk norma sosial Integrasi nilai moral dalam menyimpang di kalangan yang salah dan memperburuk pembelajaran. reputasi generasi muda. Keterlibatan pelajar dalam Menghasilkan pelajar yang Memfasilitasi dialog terbuka kritis, tetapi juga cenderung tentang nilai-nilai Pancasila. skeptis terhadap institusi. Table 2. Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Aspek Integrasi Kegiatan Pembelajaran Manfaat Karya Sastra Lokal Memasukkan cerita rakyat. Meningkatkan legenda, dan puisi tradisional tentang budaya lokal. dalam pembelajaran. Tema Kearifan Lokal Menggunakan tema seperti Memperkuat nilai-nilai moral gotong royong dan rasa dan sosial. Proyek Eksplorasi Kearifan Penelitian tentang tradisi lokal Menumbuhkan rasa cinta dan Lokal di lingkungan siswa yang kebanggaan terhadap budaya. Penggunaan Teknologi Pembuatan video dokumenter Mempermudah atau aplikasi yang berkaitan informasi dan meningkatkan dengan kearifan lokal. Penggambaran tatanan kehidupan yang rumit tidak hanya muncul dari ungkapan verbal tetapi juga dari perilaku para pemimpin partai, yang umumnya kebingungan dan tidak konsisten. Hal ini menjadi contoh nyata yang tidak baik bagi generasi muda. Situasi ini semakin diperburuk oleh berbagai peristiwa yang melibatkan kaum muda, intelektual, akademisi, dan bahkan anggota DPR yang terhormat, yang menunjukkan perlunya reformasi di dunia pendidikan. Melalui pembelajaran bahasa dan sastra yang terintegrasi dengan kearifan lokal, diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang lebih peka terhadap kondisi sosial dan budaya mereka, serta mampu menghadapi tantangan di era VUCA. Dengan demikian, dunia pendidikan harus segera berbenah dan merespons kondisi ini dengan baik agar generasi muda tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat (Achsan et al. , 2021. Baron & Cruz, 2023. Mukhlisah, 2. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam pendidikan, terutama dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Dengan menerapkan integrasi kearifan lokal, pendidikan dapat menjadi lebih relevan dan kontekstual, serta membantu peserta didik dalam memahami dan menginternalisasi nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat. Seiring dengan kemajuan teknologi dan tantangan yang muncul dalam era VUCA, pendidikan harus dapat beradaptasi dan berinovasi untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur bangsa (Green et al. , 2019. Mulyoto et al. , 2023. Nowacka & Rzemieniak, 2. KESIMPULAN Dari hasil dan pembahasan yang telah disampaikan, jelas bahwa situasi politik dan sosial yang kompleks di Indonesia saat ini sangat mempengaruhi perkembangan mental dan karakter generasi Z. Fenomena ketidakpastian dan perubahan yang cepat, diwarnai oleh berbagai berita negatif dan peristiwa kriminal, menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap pendidikan karakter. Keterlibatan generasi muda dalam berbagai isu sosial dan politik, baik secara langsung maupun tidak langsung, menjadi tantangan bagi pendidik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif dan mendukung perkembangan karakter mereka (Nudin et al. Rahim et al. , 2. Dalam konteks ini, penerapan Kurikulum Merdeka yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila dan penguatan karakter peserta didik menjadi sangat relevan. Dengan integrasi kearifan lokal ke dalam pembelajaran bahasa dan sastra, pendidik dapat membantu siswa memahami dan menginternalisasi nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat. Karya sastra lokal, tema-tema kearifan, dan proyek eksplorasi budaya tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga membentuk rasa cinta dan kebanggaan terhadap budaya bangsa. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya fokus pada pencapaian akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter yang baik (Cahya & Syafrizal, 2022. Syarifah et al. , 2. Lebih jauh lagi, dalam menghadapi tantangan era VUCA, pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran menjadi penting untuk menjangkau peserta didik dengan cara yang lebih menarik dan relevan. Proses pembelajaran yang aktif dan kolaboratif, yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal, akan memungkinkan siswa untuk lebih peka terhadap situasi di sekitarnya dan mampu mengambil keputusan yang bijaksana dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada (Lisnawati et al. , 2023. Nudin et al. , 2023. Wuryaningrum et al. , 2. Akhirnya, keberhasilan transformasi pendidikan dalam konteks ini tidak hanya bergantung pada kebijakan kurikulum yang baik, tetapi juga pada komitmen bersama antara pendidik, orang tua, dan masyarakat. Dengan bersinergi dalam upaya menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga berkarakter, kita dapat berharap untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik, berlandaskan pada kearifan lokal dan nilai-nilai luhur yang telah ada sejak zaman nenek moyang (Kristiana & Yuliana, 2022. Kusuma & Lililacs, 2022. Prayudha. S, 2. DAFTAR PUSTAKA