Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik (JIFFK) Suppl. No. Agustus 2024 Hal. ISSN: 1693-7899 e-ISSN: 2716-3814 PENGETAHUAN DAN RASIONALITAS PENGGUNAAN SWAMEDIKASI MASYARAKAT: KAJIAN PADA MASYARAKAT KECAMATAN SEKUPANG BATAM Khairunnisa Khairunnisa*). Silvana Indriani Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Jl. Tri Dharma. Kota Medan. Sumatera Utara *Email: khairunnisa7@usu. Received: 25-05-2023 Accepted:09-08-2024 Published: 20-08-2024 INTISARI Swamedikasi merupakan upaya mandiri masyarakat untuk mengatasi penyakit serta gejala penyakit yang dialami sebelum mendapatkan pelayanan tenaga medis. Masalah penggunaan obat tidak rasional sering muncul dalam pelaksanaannya karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai obat yang rasional. Tujuan penelitian ini untuk mengukur tingkat pengetahuan dan rasionalitas dalam swamedikasi di masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik menggunakan metode survey cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi yang diisi secara online. Kuesioner pengetahuan dan rasionalitas masing-masing terdiri dari 10 pertanyaan, setiap responden yang menjawab benar diberi nilai 2 dan menjawab salah atau tidak tahu diberi nilai Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode snowball sampling. Data dianalisis secara deskriptif untuk menilai karakteristik, pengetahuan dan rasionalitas, dilanjutkan analisis uji chi-square untuk menilai hubungan antara karakteristik dengan pengetahuan dan rasionalitas. Sebanyak 375 responden ikut serta dalam penelitian ini. Mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan tergolong sedang atau cukup baik . ,8%) dan 68,5% responden telah menggunakan obat swamedikasi secara rasional. Uji chi-square menunjukan bahwa pendidikan terakhir mempengaruhi pengetahuan dan rasionalitas penggunaan swamedikasi, faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan adalah pekerjaan. Pengetahuan ternyata tidak memberi pengaruh secara signifikan terhadap rasionalitas penggunaan swamedikasi. Pengetahuan mengenai swamedikasi perlu ditingkatkan untuk meningkatkan lagi rasionalitas penggunaan swamedikasi di kalangan Kata kunci: Pengetahuan. Penggunaan obat. Rasionalitas. Swamedikasi ABSTRACT Self-medication is the community's independent efforts to overcome diseases and symptoms before getting medical services. Irrational drug usage is common in its implementation due to the lack of public knowledge about rational medicine. This study aimed to measure the level of knowledge and rationality in self-medication in the community. This study was descriptive research using a crosectional survey method. Data was collected online using validated questionnaires. The knowledge and rationality questionnaires each had 10 questions, each respondent who answered correctly was scored 2 points, while those who answered incorrectly or did not know were scored 0. Data was collected using the snowball sampling method. Data were analyzed descriptively to assess characteristics, knowledge and rationality. The chi-square test was used to assess the relationship between characteristics with knowledge and rationality. A total of 375 respondents took part in the Most respondents had a moderate or fairly good level of knowledge . 8%) and 68. 5% of respondents had used self-medication rationally. The chi-square test showed that the last education Journal homepage:http:/w. id/publikasiilmiah/index. php/ilmufarmasidanfarmasiklinik ISSN: 1693-7899 affected knowledge and rationality of using self-medication, another factor that affected knowledge was a job. Knowledge did not significantly affect self-medication rationality. Knowledge about selfmedication must be improved to increase public self-medication rationality. Keywords: Knowledge. Drug Use. Rationality. Self-medication Corresponding author: Nama : Khairunnisa Institusi : Universitas Sumatera Utara Alamat institusi : Jl. Tridarma no 5. Kampus USU. Medan E-mail : khairunnisa7@usu. PENDAHULUAN Swamedikasi merupakan proses pengobatan atau pencarian pengobatan yang dilakukan sendiri oleh seseorang mulai dari pengenalan keluhan atau gejala sampai pada pemilihan dan penggunaan obat. Gejala penyakit yang dapat dikenali sendiri oleh orang awam merupakan penyakit ringan atau minor illnesses, obat yang dapat digunakan untuk swamedikasi adalah obatobat yang dapat dibeli tanpa resep dokter termasuk obat herbal atau tradisional (Aswad dkk. Widayati, 2. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat, seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, maag, cacingan, diare, penyakit kulit dan lain-lain (Departemen Kesehatan RI, 2. Pelaksanaannya swamedikasi dapat menjadi sumber kesalahan pengobatan . edication erro. karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Apoteker dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat, sehingga terhindar dari penyalahgunaan obat . rug abus. dan kesalahan penggunaan obat . rug misus. Masyarakat cenderung hanya tahu merk dagang obat tanpa tahu zat berkhasiatnya (Departemen Kesehatan RI, 2. Swamedikasi menjadi upaya pertama yang dilakukan masyarakat sebelum pergi ke pusat pelayanan masyarakat. Beberapa alasan masyarakat memilih melakukan swamedikasi antara lain tidak ada waktu untuk pergi ke pusat pelayanan kesehatan . okter, rumah sakit atau puskesma. , cepat dan praktis, jarak antara tempat tinggal dengan pusat layanan kesehatan masyarakat dan biaya praktek dokter yang mahal, sehingga swamedikasi menjadi pilihan untuk menghemat biaya (Rusli Widayati, 2. Swamedikasi harus digunakan sesuai dengan keluhan penyakit yang Penggunaan obat harus memenuhi kriteria pengobatan yang rasional untuk mencegah terjadinya kesalahan pengobatan swamedikasi. Kriteria obat rasional meliputi ketepatan pemilihan obat, ketepatan dosis obat, tidak ada efek samping, tidak ada kontra indikasi, tidak ada interaksi obat dan tidak ada polifarmasi (Muharni dkk. , 2. Penelitian terdahulu mengenai pengetahuan dan rasionalitas penggunaan obat swamedikasi masyarakat telah banyak dilakukan di Indonesia maupun di luar negeri (Harahap dkk. Widayati, 2013. Octavia, 2019. Aswad dkk. Aziz et al. , 2018. Almalki et al. , 2022. Alves , 2. Salah satu penelitian yang dilakukan di kota Panyabungan menunjukkan bahwa persentase penggunaan obat swamedikasi masih perlu ditingkatkan karena tidak lebih dari 60 % saja yang menggunakan obat swamedikasi secara rasional, manakala hanya 20 % responden yang mempunyai pengetahuan yang baik (Harahap dkk. Sedangkan penelitian yang dilakukan di di kota Punjab Pakistan oleh Aziz . , tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan obat tergolong buruk sehingga prevalensi rasionalitas swamedikasi juga tergolong buruk. Kedua penelitian tersebut menunjukkan tingkat pengetahuan, data demografi dan kurangnya jangkauan ke fasilitas kesehatan berhubungan dengan rasionalitas swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan rasionalitas swamedikasi masyarakat di Kelurahan Sei Harapan Kecamatan Sekupang kota Batam, mengetahui pengaruh faktor sosiodemografi terhadap pengetahuan dan rasionalitas swamedikasi serta mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan rasionalitas swamedikasi. Pengetahuan dan RasionalitasA(Khairunnisa dan. ISSN: 1693-7899 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan jumlah sampel yang diambil secara snowball sampling. Penelitian ini telah mendapatkan izin etik dari Komisi Etik Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dengan nomor persetujuan etik 44/KEP/USU/2021. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat di kelurahan Sei Harapan kecamatan Sekupang kota Batam. Sampel yang digunakan sebanyak 375 responden. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah masyarakat di Kelurahan Sei Harapan Kecamatan Sekupang Kota Batam yang pernah melakukan swamedikasi dengan rentang usia 18-60 tahun dan dapat berkomunikasi dengan baik. Responden yang tidak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini menjadi kriteria Pengambilan Data Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuisioner yang telah divalidasi secara online melalui google form. Kuesioner ini terdiri dari 4 bagian yaitu: data demografi, pendahuluan, pengetahuan swamedikasi dan rasionalitas swamedikasi. Data demografi terdiri dari 7 pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari responden. Pendahuluan terdiri dari 4 pertanyaan bertujuan untuk mengetahui apakah responden pernah melakukan swamedikasi, cara mendapatkan obat swamedikasi dan alasannya. Kuesioner pengetahuan terdiri dari 10 pertanyaan bertujuan untuk mengetahui pengetahuan responden mengenai swamedikasi, pertanyaan meliputi definisi, penandaan obat, kontra indikasi, dosis, interaksi obat, efek samping obat dan cara penyimpanan obat. Kuesioner rasionalitas terdiri dari 10 pertanyaan bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan obat swamedikasi yang pernah dilakukan oleh responden, pertanyaan meliputi penyakit/ keluhan yang menjadi alasan melakukan swamedikasi, obat yang digunakan, indikasi obat, cara menggunakan, lama menggunakan, kondisi khusus pasien ketika menggunakan obat, kombinasi obat . ika ad. , efek samping yang dirasakan, hasil terapi dan tindakan apa yang dilakukan jika sembuh. Analisis Data Pada kuesioner pengetahuan diberi penilaian berupa skor, setiap responden yang menjawab benar diberi nilai 2 dan menjawab salah atau tidak tahu diberi nilai 0. Tingkat pengetahuan dibagi menjadi 3 kategori yaitu kategori buruk dengan skor <12 (<60%), kategori sedang dengan skor 1216 . %-80%) dan kategori baik dengan skor >16 (>80%) (Harahap dkk. , 2. Penilaian rasionalitas dilakukan dengan menilai ketepatan pemilihan obat dan penggunaannya berdasarkan keluhan/penyakit yang menjadi alasan dalam penggunaan swamedikasi. Rasionalitas dikategorikan menjadi 2 yaitu rasional jika memenuhi enam kriteria ketepatan pengobatan sendiri dan tidak rasional jika tidak memenuhi enam kriteria ketepatan pengobatan sendiri . etepatan pemilihan obat, ketepatan dosis obat, tidak ada efek samping, tidak ada kontra indikasi, tidak ada interaksi obat dan tidak ada polifarmas. (Harahap dkk. , 2. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS. Analisis data dilakukan melalui 2 tahap, yaitu analisis univariat digunakan untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi karakteristik demografi dan variabel lain. Analisis bivariate digunakan untuk mengetahui hubungan sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan swamedikasi dan rasionalitas swamedikasi serta mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap rasionalitas swamedikasi menggunakan uji chi-square. HASIL DAN PEMBAHASAN Data Demografi Responden Sebanyak 375 responden terlibat dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ini responden didominasi oleh perempuan . ,5%) dengan rentang usia 18-39 tahun . ,8%) dan mayoritas pendidikan terakhir adalah SMA/SMK/MA . ,6%) dengan kategori pekerjaan yang paling banyak adalah karyawan . ,5%). Berdasarkan karakteristik usia, responden berusia 18-39 tahun merupakan responden yang paling banyak melakukan swamedikasi, karena pada usia tersebut swamedikasi menjadi pilihan di sela padatnya aktivitas pekerjaan yang dilakukan untuk mengatasi penyakit ringan yang dialami. Berdasarkan karakteristik jenis pekerjaan, responden yang JIFFK Suppl. No. Agustus 2024 Hal. ISSN: 1693-7899 bekerja sebagai karyawan paling banyak melakukan swamedikasi, karyawan memiliki jam kerja yang lebih padat dan beban kerja yang lebih tinggi dan dapat mengganggu kesehatan, kerja yang padat pengobatan swamedikasi menjadi pilihan bagi mereka. Hasil penelitian yang diperoleh tidak berbeda dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya (Gupta and Chakraborty, 2022. Harahap , 2. Karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel I. Tabel I. Frekuensi Karakteristik Responden Variabel Usia 18-39 Tahun 40-60 Tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah . Persentase (%) Pendidikan Terakhir SMP/MTs SMA/SMK/MA Perguruan Tinggi Pekerjaan Tidak/belum bekerja Karyawan Guru/ tenaga pendidik Mahasiswa Tenaga kesehatan Lainnya Total Alasan Melakukan Swamedikasi Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa alasan responden melakukan swamedikasi dikarenakan gejala penyakit yang tergolong ringan . %), penggunaan swamedikasi cepat dan praktis . %), dan mempunyai pengalaman sembuh dengan obat yang sama . %). Data lengkap dapat dilihat pada Gambar 1. Gejala Penyakit Ringan Cepat dan Praktis Tidak suka pergi ke dokter Lebih murah Pengalaman sembuh dengan obat yang sama Lainnya Gambar 1. Distribusi Alasan Melakukan Swamedikasi Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu, penelitian tersebut mendapati bahwa alasan masyarakat melakukan swamedikasi karena mempunyai persepsi bahwa penyakit yang mereka derita ringan, cepat dan praktis, mempunyai pengalaman sembuh dengan obat sebelumnya Pengetahuan dan RasionalitasA(Khairunnisa dan. ISSN: 1693-7899 serta lebih murah (Widayati, 2013. Harahap dkk. , 2017. Babatunde et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengatasi keluhan ringan yang dapat diatasi sendiri . menggunakan obat-obatan bebas (Widayati, 2. Sumber Informasi dan Tempat Memperoleh Obat Swamedikasi Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa responden memperoleh informasi terkait obat swamedikasi yang akan digunakan dari teman dan keluarga . %), apotek . %) dan resep sebelumnya . %). Sumber informasi lainnya berasal dari dokter, iklan, internet dan pengalaman belajar (Gambar . Hasil yang diperoleh pada penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Panyabungan. Penelitian tersebut menyatakan bahwa teman dan keluarga merupakan sumber informasi yang paling banyak menjadi rujukan penggunaan obat swamedikasi. Teman dan keluarga adalah orang terdekat untuk mendapatkan informasi (Harahap dkk, 2. Sumber informasi lain diperoleh responden dari tenaga kefarmasian yang berada di apotek. Berdasarkan sebuah penelitian, pemberian informasi oleh tenaga kefarmasian di apotek sudah cukup baik, walaupun masih bersifat pasif. Informasi yang diperoleh responden selain jenis obat yang akan digunakan, informasi yang paling sering diberikan adalah cara penggunaan obat (Muharni dkk. Apoteker mempunyai kewajiban dalam pemberian informasi yang benar terkait penggunaan obat swamedikasi yang diberikan tanpa resep dokter (Candradewi dan Kristina, 2. Iklan Dokter Apotek Teman dan Keluarga Resep Sebelumnya Internet Buku dan Pengalaman Belajar Gambar 2. Sumber Informasi terkait Obat Swamedikasi Tempat responden memperoleh obat swamedikasi paling banyak berasal dari apotek . %), supermarket . %), toko obat . %) dan warung kelontong . %). Data lengkap dapat dilihat pada Gambar 3. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilaksanakan di Panyabungan, mayoritas masyarakat di daerah tersebut memperoleh obat swamedikasi di warung (Harahap dkk. , 2. Hasil ini menunjukan kesadaran masyarakat di daerah Sekupang Batam sudah cukup baik, mereka menyadari bahwa tempat yang paling tepat untuk memperoleh obat adalah apotek. Apotek Warung Kelontong Toko Obat Supermarket Gambar 3. Tempat Memperoleh Obat Swamedikasi JIFFK Suppl. No. Agustus 2024 Hal. ISSN: 1693-7899 Keluhan Penyakit Berdasarkan hasil penelitian ini, keluhan yang paling banyak dialami responden adalah nyeri . ,6%). Keluhan nyeri yang dialami responden pada umumnya berupa sakit kepala, sakit gigi, nyeri haid, nyeri sendi, nyeri pinggang dan pegal. Data lengkap dapat dilihat pada Tabel II. Data penelitian ini menunjukan fenomena yang sama di daerah lain, keluhan penyakit yang paling banyak diobati secara swamedikasi adalah nyeri (Harahap dkk. Medisa et al. , 2. Hasil yang sama juga digambarkan oleh penelitian di Arab Saudi (Almalki et al. , 2022. Aziz et al. Nyeri merupakan penyakit yang paling sering diobati menggunakan swamedikasi, keluhan nyeri yang diatasi merupakan nyeri ringan sampai sedang antara lain sakit kepala, sakit gigi, nyeri sendi dan nyeri otot (Halim dkk. Tabel II. Keluhan Penyakit Yang Dialami Responden Keluhan Penyakit Nyeri Demam Batuk & pilek Gastritis Flu Diare Jerawat Gatal-gatal Mual Luka Iritasi mata Sembelit/ konstipasi Wasir Lainnya Total Frekuensi . Persentase (%) Pilihan Obat Yang Digunakan Jenis obat yang paling banyak digunakan masyarakat Kelurahan Sei-Harapan Kecamatan Sekupang Kota Batam untuk pengobatan swamedikasi adalah obat golongan analgetik-antipiretik . ,2 %). Data lengkap dapat dilihat pada Tabel i. Sejalan dengan keluhan penyakit yang paling banyak diobati menggunakan swamedikasi. Sebuah penelitian di Jawa timur menunjukan bahwa obat golongan analgesik yang sering digunakan sebagai swamedikasi adalah parasetamol, asam mefenamat dan kalium diklofenak (Halim dkk. , 2. Obat lain yang banyak digunakan merupakan obat untuk mengatasi keluhan batuk dan flu, obat antasida dan antidiare. Penelitian lain terkait penggunaan obat swamedikasi, obat yang sering digunakan adalah untuk mengatasi keluhan tukak peptik seperti obat antasida (Untari dkk. , 2. Tabel i. Golongan Farmakologi Obat Yang Sering Digunakan Jenis Obat Analgetik - antipiretik- antiinflamasi Frekuensi Persentase (%) Kombinasi obat batuk flu Antasida Antidiare Antibiotik Antihistamin Laksatif Lainnya Total Pengetahuan dan RasionalitasA(Khairunnisa dan. ISSN: 1693-7899 Hasil Terapi Swamedikasi Hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar masyarakat melakukan swamedikasi telah mencapai hasil terapi yang diinginkan, sebanyak 370 responden . %) sembuh dari keluhan penyakit yang dialami. Responden yang tidak mencapai hasil terapi memilih untuk berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan yang ada di fasilitas kesehatan. Hasil penelitian ini tidak berbeda dengan penelitian di Yogyakarta, jika dalam pengobatan swamedikasi tidak mencapai hasil terapi yang diinginkan maka responden akan langsung periksa ke dokter atau pergi ke pelayanan kesehatan lainnya seperti puskesmas dan rumah sakit (Widayati, 2. Tingkat Pengetahuan Responden Mengenai Swamedikasi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas tingkat pengetahuan masyarakat di kelurahan Sei Harapan mengenai swamedikasi tergolong sedang . ,8%). Berdasarkan jawaban seluruh responden disimpulkan bahwa sebagian besar pertanyaan yang diberikan dapat dijawab dengan benar oleh responden. Mayoritas responden menjawab dengan baik mengenai pemahaman tanggal kadaluarsa obat . ,3%), efek samping obat . ,5%) dan interaksi obat . %). Responden tidak menjawab dengan baik mengenai dosis obat-obatan tanpa resep dokter dan tanda golongan Hasil penelitian ini menunjukan kurangnya pemahaman tentang obat-obatan dan resiko dari pengobatan yang tidak tepat sehingga menganggap informasi tentang obat tidak begitu penting (Harahap dkk. , 2. Distribusi tingkat pengetahuan responden mengenai swamedikasi dapat dilihat pada Tabel IV dan Tabel V. Tabel IV. Hasil Pengetahuan Responden Mengenai Swamedikasi Kriteria Frekuensi Persentase (%) Buruk Sedang Baik Total Tabel V. Distribusi Pengetahuan Responden Mengenai Swamedikasi Pernyataan Definisi swamedikasi Tanda golongan obat Dosis obat-obatan tanpa resep Aturan pakai obat Pengertian indikasi obat Pengertian kontraindikasi obat Pengertian efek samping obat Pengertian interaksi obat Pengertian tanggal kadaluarsa Aturan penyimpanan obat Benar (%) Jawaban Salah (%) 155 . Tidak Tahu (%) 106 . 111 ( 29,. Rasionalitas Penggunaan Obat dalam Swamedikasi Berdasarkan hasil penilaian rasionalitas penggunaan obat, diperoleh bahwa mayoritas responden yang melakukan swamedikasi di Kelurahan Sei Harapan Kecamatan Sekupang Kota Batam sudah menggunakan obat swamedikasi secara rasional . ,5%). Penentuan rasionalitas penggunaan obat dilakukan berdasarkan kriteria dari WHO (World Health Organizatio. Menurut WHO penggunaan obat yang rasional merujuk pada penggunaan obat yang benar, sesuai dan tepat. Kriteria yang digunakan dalam penggunaan obat yang rasional yaitu ketepatan pemilihan obat, ketepatan dosis, tidak ada efek samping, tidak kontraindikasi, tidak ada interaksi obat dan tidak JIFFK Suppl. No. Agustus 2024 Hal. ISSN: 1693-7899 ada polifarmasi (WHO, 2. Penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi seluruh kriteria tersebut. Berdasarkan hasil penelitian pada setiap kriteria rasionalitas, tidak rasional penggunaan obat paling banyak disebabkan oleh adanya efek samping . ,1%). Terjadinya efek samping pada responden dikarenakan responden salah dalam pemilihan waktu untuk mengkonsumsi obat tersebut. Obat analgetik dan obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) dikonsumsi sebelum makan dapat menyebabkan nyeri lambung bahkan muntah. Efek samping lain yang sering dirasakan responden adalah jantung berdebar-debar. Efek samping tersebut terjadi jika mengkonsumsi obat analgesik dengan kandungan kafein dan obat-obat yang mengandung pseudoefedrin HCL. Meskipun begitu, banyak dari responden tidak menyadari bahwa reaksi yang dirasakan merupakan suatu efek samping. Pengguna swamedikasi seharusnya mengetahui efek samping obat yang digunakan, sehingga dapat memperkirakan apakah suatu keluhan yang timbul merupakan suatu penyakit baru atau efek samping obat. Efek samping yang terjadi akan dapat segera diatasi jika merugikan diri pasien (Kurniawansyah, 2. Ketidaktepatan pemilihan obat yang dilakukan responden dalam penelitian ini yaitu ketidaksesuaian indikasi obat dengan keluhan penyakit seperti antibiotik untuk keluhan nyeri gigi, flu, dan lambung. Penyakit flu (Influenz. adalah infeksi saluran pernafasan atas yang disebabkan oleh virus yang tidak dapat disembuhkan oleh antibiotik (Gitawati, 2. Ketidaktepatan dosis obat dalam penelitian ini meliputi ketidaktepatan jumlah dosis dan cara penggunaan obat. Ketidaktepatan ini terjadi akibat responden fokus pada pengalaman pribadi/keluarga dan tidak mengikuti informasi tentang pengobatan yang benar. Kasus lain, responden menggunakan antibiotik tidak sampai habis, kejadian ini menimbulkan masalah obat tidak efektif, resistensi dan terjadi infeksi lain . (Aslam et al. , 2. Kontraindikasi obat dalam penelitian ini terjadi karena penggunaan obat dekongestan pada responden dengan penyakit atau kondisi lain seperti hipertensi dan hamil/menyusui. Dekongestan oral harus dihindari pada wanita Obat dekongestan memiliki efek kardiovaskular berupa peningkatan tekanan darah karena menyebabkan vasokonstriksi dikontraindikasikan bagi penderita hipertensi (Gitawati, 2. Kejadian polifarmasi dialami responden penelitian yang mengkombinasikan obat yang tidak sesuai dalam penanganan kondisi klinis yang sama seperti penggunaan Panadol dengan Sanmol yang memiliki kandungan serupa yaitu parasetamol. Kejadian ini menunjukan kesadaran masyarakat untuk membaca label pada kemasan obat rendah, sehingga informasi zat berkhasiat di dalam suatu produk obat tidak diketahui. Hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan resiko kesehatan yang tidak diinginkan karena penggunaan obat yang berlebihan (Supardi dkk. , 2. Data lengkap mengenai frekuensi dan distribusi rasionalitas swamedikasi dapat dilihat pada Tabel VI dan Tabel VII. Tabel VI. Frekuensi Rasionalitas Penggunaan Obat Swamedikasi Kategori Rasional Tidak rasional Total Frekuensi Persentase (%) Tabel VII. Distribusi Status Penilaian Untuk Setiap Kriteria Rasionalitas Kriteria Ketepatan pemilihan obat Ketepatan dosis obat Efek samping obat Kontraindikasi Interaksi obat Polifarmasi Kategori Tepat Tidak Tepat Tepat Tidak Tepat Tidak Ada Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada Ada Jumlah Persentase (%) Pengetahuan dan RasionalitasA(Khairunnisa dan. ISSN: 1693-7899 Pengaruh Faktor Sosiodemografi Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Rasionalitas Penggunaan Obat Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tingkat pengetahuan mengenai swamedikasi pada responden dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan . <0,. , tetapi tidak dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin . >0,. Rasionalitas penggunaan obat swamedikasi hanya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan . <0,. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi dan banyak pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan yang rendah akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai baru yang diperkenalkan. Tingkat pendidikan memiliki peran untuk pasien lebih selektif dalam menggunakan obat swamedikasi (Jajuli dan Sinuraya, 2. Hasil penelitian ini memberikan hasil yang sama bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan rasionalitas penggunaan swamedikasi (Medisa et al. , 2020. Jajuli and Sinuraya, 2. Lingkungan pekerjaan menjadi wadah seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan secara langsung maupun tidak langsung. Seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Lingkungan seseorang akan mempengaruhi cara berpikir seseorang. Hubungan Tingkat Pengetahuan Swamedikasi Terhadap Rasionalitas Penggunaan Obat Swamedikasi Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, tingkat pengetahuan mengenai swamedikasi tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap rasionalitas penggunaan obat swamedikasi . >0,. Hal ini dikarenakan responden mayoritas telah melakukan swamedikasi secara rasional. Swamedikasi yang rasional harus dilakukan berdasarkan atas kesadaran dan kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan. Faktor lingkungan seperti saran keluarga dan pengalaman pribadi menyebabkan seseorang mengesampingkan informasi yang diperoleh tentang pengobatan dan mempengaruhi rasionalitas penggunaan obat dalam melakukan swamedikasi (Dania and Ihsan, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan dan rasionalitas penggunaan swamedikasi pada masyarakat di kelurahan Sei Harapan kecamatan Sekupang kota Batam sudah tergolong baik tetapi masih perlu ditingkatkan. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan lagi hal tersebut untuk mendukung kesehatan masyarakat di daerah tersebut. DAFTAR PUSTAKA