PENELITIAN ASLI HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN BURNOUT SYNDROME PADA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT X Rindy Ayu Safitri1. Nugrahadi Dwi Pasca Budiono1 Prodi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur, 61111. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Penelitian yang dilakukan di Rumah Tanggal Dikirim: 01 Juni 2025 Sakit yang sama pada tahun 2024 mengenai burnout Tanggal Diterima: 05 Juli 2025 syndrome pada perawat menunjukkan bahwa Tanggal Dipublish: 07 Juli 2025 sebanyak 50% perawat dengan kategori tinggi, 36% perawat dengan kategori sedang, dan 14% perawat dengan kategori rendah. Kata kunci: Beban Kerja. Burnout Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Syndrome. Perawat. Rawat Inap apakah terdapat hubungan antara tingkat beban kerja dengan burnout syndrome pada perawat yang bekerja di ruang rawat inap Rumah Sakit X. Metode: Penelitian dilakukan dengan pendekatan Penulis Korespondensi: kuantitatif dan desain cross-sectional. Jumlah sampel Rindy Ayu Safitri sebanyak 81 perawat yang dipilih menggunakan Email: rindyayusafitri127@gmail. teknik total sampling. Instrumen berupa kuesioner berskala ordinal digunakan untuk mengukur variabel. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Hasil: Sebanyak 58% perawat yang mengalami beban kerja tinggi, sementara 55,6% perawat yang mengalami burnout syndrome dalam kategori tinggi. Uji spearman menunjukkan hasil p = 0,000 (<0,. dan r = 0,756, yang berarti terdapat hubungan kuat dan searah antara beban kerja dan burnout. Simpulan: Semakin berat beban kerja yang diterima oleh perawat, semakin tinggi pula risiko mengalami burnout. Oleh karena itu, rumah sakit perlu memberikan dukungan seperti konseling, pelatihan, dan penguatan psikologis untuk mencegah burnout dan menjaga kualitas kerja Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat e-ISSN: 2527-8185 Vol. 10 No. 1 Juni 2025 (Hal 34-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMKM DOI: https://doi. org/10. 51544/jmkm. How To Cite: Safitri. Rindy Ayu, and Nugrahadi Dwi Pasca Budiono. AuHubungan Beban Kerja Dengan Burnout Syndrome Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit X. Ay Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat 10 . : 34Ae42. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jmkm. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Rumah sakit menjadi salah satu institusi yangbbergerak dibidang layanan kesehatan individu secara menyeluruh, mencakup tindakan medis, diagnostik, dan rehabilitasi medis, serta fasilitas rawat inap, rawat jalan, dan instalasi gawat darurat (IGD) . Tujuan utama rumah sakit adalah mencapai kesembuhan pasien, sehingga peran sumber daya manusia (SDM), khususnya perawat, menjadi sangat krusial dalam memberikan perawatan dan pelayanan kesehatan . Tugas utama perawat meliputi penanganan pasien dengan mengutamakan ketepatan, kecepatan, serta kesiagaan, yang dilakukan melalui sistem kerja bergilir . di rumah sakit . Sebagai tenaga kesehatan yang paling sering berhadapan langsung dengan pasien dalam secara intens, perawat memiliki peluang untuk mengalami kelelahan kerja atau burnout dua kali lebih besar dibandingkan profesi lainnya di bidang kesehatan . Burnout Syndrome adalah salah satu kondisi yang kerap dialami oleh perawat selama bekerja, yang terkait dengan aspek fisik, mental, emosional, tanggung jawab, serta beban kerja yang harus mereka tanggung . Burnout menggambarkan keadaan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang muncul akibat tekanan emosional yang berlangsung lama, sehingga dapat memicu perubahan dalam sikap dan perilaku, seperti kecenderungan menarik diri secara psikologis dari pekerjaan . Kondisi ini umumnya terjadi karena perawat kesulitan beradaptasi dengan tuntutan dan tekanan pekerjaan yang berkepanjangan . Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hanya menyoroti tingkat burnout secara umum, studi ini berfokus pada keterkaitan spesifik antara tingginya tingkat hunian pasien (BOR) dan beban kerja perawat dengan kejadian burnout di ruang rawat inap. Berdasarkan rekapitulasi data absensi perawat Rumah Sakit X tahun 2024 menunjukkan mayoritas absensi perawat pada tahun 2024 disebabkan oleh ketidakhadiran . mencapai 15,95% . dengan jumlah 89 Absensi juga disebabkan oleh sakit mencapai 28,03% . dengan jumlah 72 perawat. Cuti tercatat mencapai 56,00% . 000 ketidakhadira. dengan jumlah 233 perawat. Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit yang sama pada tahun 2024 mengenai burnout syndrome pada perawat menunjukkan bahwa sebanyak 50% perawat dengan kategori tinggi, 36% perawat dengan kategori sedang, dan 14% perawat dengan kategori rendah . Data yang diperoleh menunjukkan sebagian besar perawat mengalami burnout syndrome tinggi, hal tersebut dapat terjadi karena sering mengalami tuntutan tinggi, seperti menangani banyak pasien dengan kebutuhan kompleks secara bersamaan. Tuntutan perawat apabila tidak ditangani dengan baik dapat menurunkan hasil kerja dan komplain pasien . Burnout dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk beban kerja, konflik antar rekan kerja, usia, jenis kelamin, dan masa kerja . Beban kerja merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan burnout pada perawat, terutama dalam interaksi mereka dengan pasien, keluarga pasien, rekan kerja, dan tenaga kesehatan lainnya . Beban kerja yang berat dapat mengurangi kinerja perawat, sehingga berdampak pada kualitas pelayanan yang diberikan. Selain itu, jumlah pasien yang harus ditangani juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap beban kerja, karena perawat perlu memberikan perawatan secara langsung maupun tidak langsung . Perawat dengan persepsi yang buruk terhadap dirinya sendiri seperti perasaan ketidakmampuan profesional dan ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah, serta memiliki semangat kerja yang rendah menjadi salah satu faktor burnout yang Perawat di Rumah Sakit X kerap menghadapi beban kerja yang tinggi. Selain memberikan pelayanan keperawatan intensif kepada sejumlah pasien, mereka juga dibebani berbagai tugas tambahan, seperti mengantar dan menjemput pasien ke ruang operasi, mengirim sampel ke laboratorium, serta mengambil obat di instalasi Tingginya beban kerja ini berpotensi menyebabkan kelelahan fisik, yang ditunjukkan oleh keluhan seperti pegal linu dan sakit pinggang pada beberapa Data mengenai kelelahan fisik yang diakibatkan oleh beban kerja di Rumah Sakit X ini sebanyak 71,2% dengan kategori rendah dan 28,8% dengan kategori sedang, meskipun data mengenai kelelahan perawat yang sebagian besar rendah tetapi burnout syndrome pada RS X yang diteliti pada 198 perawat di tahun 2024 dinyatakan sebanyak kurang lebih 50% perawat mengalami burnout syndrom dengan kategori tinggi. Burnout syndrome dapat memengaruhi kinerja seseorang, di mana individu cenderung menarik diri dari tanggung jawab pekerjaan. Dampak ini dapat terlihat melalui meningkatnya frekuensi ketidakhadiran, munculnya keinginan kuat untuk mengundurkan diri, serta tingginya angka pergantian tenaga kerja . Data Turnover perawat Rumah Sakit X disebabkan oleh perpindahan/mengundurkan diri yang tercatat terdapat 10 perawat pada tahun 2021 yang mengundurkan diri, serta sudah terdapat sebanyak 7 perawat yang mengundurkan diri per 15 Mei 2024. Penelitian oleh Sabarina . pada perawat di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh menunjukkan bahwa sebanyak 47 responden . ,5%) mengalami burnout syndrome, 45 responden . ,0%) mengalami burnout personal, 47 responden . ,5%) mengalami burnout terkait pekerjaan . ork-relate. , dan 49 responden . ,0%) mengalami burnout terkait pasien . atient-relate. Penelitian serupa dilakukan oleh . pada perawat di ruang rawat inap RSUD dr. Pirngadi. Kota Medan. Hasilnya menunjukkan bahwa 28 perawat . ,8%) memiliki beban kerja ringan, 24 perawat . ,2%) memiliki beban kerja berat. Selain itu, 35 responden . ,3%) mengalami burnout ringan, sementara 17 responden . ,7%) mengalami burnout berat. Pelayanan kesehatan yang berkualitas memerlukan dukungan fasilitas rawat inap yang memadai, termasuk ketersediaan tempat tidur. Efisiensi penggunaan tempat tidur menjadi salah satu indikator utama dalam menilai kualitas pelayanan rawat inap di rumah sakit. Indikator seperti Bed Occupancy Rate (BOR), atau tingkat hunian tempat tidur, digunakan untuk mengukur sejauh mana fasilitas rumah sakit BOR juga berperan penting dalam menilai kinerja rumah sakit serta membantu perencanaan dan pengelolaan sumber daya secara lebih efektif . Persentase pencapaian BOR menjadi salah satu indikator utama dalam mengukur efisiensi pelayanan rawat inap. Menurut Barber Johnson, indikator ini digunakan untuk mengevaluasi apakah tingkat pemanfaatan tempat tidur di unit rawat inap suatu rumah sakit telah mencapai tingkat efisiensi yang diharapkan. Berdasarkan data nilai Bed Occupancy Rate (BOR) Rumah Sakit X pada tahun 2024, ruang Ixia mencapai BOR tertinggi yaitu sebesar 95,76%, ruang Mawar 94,76%, ruang Wijaya Kusuma 90,54%, ruang Edelweis 89,77%, dan ruang Cempaka 89,27%. Menurut (Depkes RI, 2. standar nilai BOR yang ideal antara 60%Oe85%. Selain itu, standar internasional yang disarankan oleh Barber Johnson untuk BOR berada di kisaran 75%Oe85%. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya BOR dapat meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit dan pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal, selama dikelola secara tepat dan disesuaikan dengan kapasitas layanan . Menurut . adanya peningkatan BOR tentunya menyebabkan beban kerja perawat meningkat, yang mengakibatkan kelelahan fisik dan mental, serta dapat memicu terjadinya burnout. Selain itu, semakin tinggi BOR, semakin banyak pasien yang dilayani, yang akan meningkatkan beban kerja tim medis. Akibatnya, pelayanan kepada pasien menjadi kurang optimal akibat keterbatasan waktu dan sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu, sangat penting untuk mencapai tingkat BOR yang ideal agar pelayanan kesehatan tetap optimal tanpa mengorbankan mutu pelayanan . Permasalahan utama yang ingin diangkat di penelitian ini adalah: "Apakah terdapat hubungan antara beban kerja dengan burnout pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit X?" Rumusan masalah ini dianggap penting mengingat belum adanya kajian spesifik yang mengaitkan antara tingginya BOR dan beban kerja perawat dengan kejadian burnout di rumah sakit tersebut. Dengan merumuskan masalah secara eksplisit, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara akademis maupun praktis dalam upaya penanggulangan burnout di kalangan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara beban kerja dan burnout pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit X. Metode Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi pendekatan crosectional. Lokasi penelitian berada di Rumah Sakit X dan dilaksanakan mulai bulan April 2025 Oe selesai. Populasi yang diteliti mencakup seluruh perawat yang bekerja di ruang rawat inap (Ixia. Edelweis. Mawar. Cempaka, dan Wijaya Kusum. dengan total 81 perawat. Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah total sampling, sehingga jumlah sampel yang digunakan adalah 81 perawat. Ruang rawat inap ini dipilih karena memiliki nilai BOR yang melebihi batas ideal, yang mencerminkan tingginya beban kerja perawat serta rendahnya kualitas pelayanan di ruangan Variabel dependen dalam penelitian ini adalah burnout syndrome, sedangkan variabel independennya adalah beban kerja. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dari penelitian . untuk mengukur beban kerja pada perawat dan kuesioner MBI (Maslach Burnout Inventor. untuk mengukur burnout syndrome pada perawat yang diadopsi dari penelitian Izza . Uji statistik yang digunakan adalah rho spearman dengan kedua variabel memiliki skala data ordinal. Hasil 1 Analisis Data Univariat Tabel 1. Distribusi Data Karakteristik Responden Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia < 30 Tahun Ou 30 Tahun Masa Kerja < 10 Tahun > 10 Tahun Pendidikan D3 Keperawatan D4 Keperawatan S1 Keperawatan Profesi Ners Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan Tabel 1, mayoritas perawat berjenis kelamin perempuan sebanyak 59 orang . ,8%), sedangkan laki-laki berjumlah 22 orang . ,2%). Dilihat dari kelompok usia, sebagian besar perawat berusia Ou 30 tahun sebanyak 50 orang . ,7%), dan hanya 31 orang . ,3%) yang berusia di bawah 30 tahun. Berdasarkan masa kerja, sebanyak 42 perawat . ,9%) memiliki masa kerja kurang dari 10 tahun, sedangkan 39 orang . ,1%) telah bekerja selama 10 tahun atau lebih. Dalam hal tingkat pendidikan, sebagian besar merupakan lulusan D3 Keperawatan sebanyak 49 orang . ,5%), diikuti oleh lulusan S1 Keperawatan sebanyak 12 orang . ,8%), dan D4 Keperawatan sebanyak 1 orang . ,2%). Sementara itu, sebanyak 19 perawat . ,5%) telah menyandang gelar profesi Ners. Beban Kerja Ringan Sedang Berat Total Tabel 2. Distribusi Data Beban Kerja Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 2. Sebesar 47 perawat . %) di ruang rawat inap Rumah Sakit X mengalami beban kerja yang berat, disusul dengan perawat yang memiliki beban kerja sedang berjumlah 23 responden . ,4%) dan terdapat 11 perawat . ,6%) yang mengalami beban kerja ringan. Tabel 3. Distribusi Data Burnout Syndrome Burnout Syndrome Frekuensi Persentase . (%) Rendah Sedang Tinggi Total Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan Tabel 3, diketahuibbahwa sebanyak 45 perawat . ,6%) di ruang rawat inap Rumah Sakit X mengalami burnout syndrome pada tingkat tinggi. Sementara itu, 26 perawat . ,1%) mengalami burnout pada tingkat sedang, dan 10 perawat . ,3%) tercatat mengalami burnout pada tingkat rendah. 2 Analisis Data Bivariat Tabel 4. Tabulasi Silang Beban Kerja dengan Burnout Syndrome pada Perawat di Rumah Sakit X Burnout Syndrome Variabel Total Rendah Sedang Tinggi Beban Kerja Ringan 70,0% 11,5% 2,2% 11 13,6% Sedang 20,0% 69,2% 6,7% 23 28,4% Berat 10,0% 91,1% 47 58,0% Total p-value Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, 2025 Berdasarkan Tabel 4, perawat dengan beban kerja ringan sebagian besar mengalami burnout syndrome tingkat rendah . %), dan hanya 2,2% yang mengalami burnout tinggi. Pada beban kerja sedang, sebagian besar perawat mengalami burnout sedang . ,2%), sementara 6,7% berada pada tingkat burnout Sementara itu, pada kelompok dengan beban kerja berat, mayoritas perawat . ,1%) mengalami burnout pada tingkat tinggi. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman, ditemukan terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara variabel beban kerja dengan burnout syndrome dengan nilai p = 0,000 (<0,. dan nilai korelasi r = 0,756. Nilai korelasi yang positif ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi beban kerja yang diberikan, maka semakin tinggi pula tingkat burnout syndrome yang dialami perawat. Pembahasan Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman mengenai hubungan antara beban kerja dan burnout syndrome pada perawat di RS X diperoleh nilai p = 0,000 (< 0,. dan koefisien korelasi r = 0,756. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya . yang juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara beban kerja dan burnout pada perawat di RS Bhayangkara Tingkat i Manado dengan p-value = 0,000 dan r = 0,594. Hasil serupa juga ditunjukkan dalam penelitian lain, yaitu penelitian . dengan p-value 0,01 . =0,. serta penelitian . dengan p-value 0,049 . =0,. menyatakan terdapat hubungan beban kerja dengan burnout syndrome secara positif, dimana ketika beban kerja pada perawat tinggi, maka burnout syndrome yang dialami perawat juga akan meningkat. Menurut teori yang dikemukakan oleh Gillies . , beban kerja perawat dipengaruhi oleh beberapa komponen, yaitu jumlah pasien yang dirawat dalam satu unit perawatan per hari, per bulan, dan per tahun, kondisi atau tingkat ketergantungan pasien dalam unit tersebut, rata-rata jumlah pasien yang menginap setiap hari, jenis tindakan keperawatan yang diberikan, frekuensi dari masing-masing tindakan, serta waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tindakan keperawatan . Produktivitas yang optimal dapat dicapai apabila beban kerja berada pada tingkat yang sesuai. Namun, apabila beban kerja terlalu ringan maupun terlalu berat, hal ini justru dapat berdampak pada penurunan produktivitas . Peningkatan beban kerja sering kali disebabkan oleh penugasan yang melampaui tanggung jawab utama dan fungsi pekerjaan, serta kekurangan tenaga kerja yang berlangsung dalam jangka waktu panjang dan berkesinambungan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terjadinya burnout syndrome . Burnout adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan prestasi diri. Ketika individu dihadapkan pada beban kerja yang melebihi kapasitas mereka, ini dapat menimbulkan stres kronis yang pada akhirnya berujung pada burnout . Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya . yang menunjukkan bahwa berdasarkan uji bivariat menggunakan chi square, terdapat hubungan signifikan antara tingkat burnout pada tenaga kesehatan dengan beban kerja . value = 0,028. r = 2,. Tenaga kesehatan yang memiliki beban kerja tinggi berisiko 2,563 kali lebih besar mengalami burnout dibandingkan mereka yang beban kerjanya tidak tinggi. Burnout sendiri dipengaruhi oleh dua kelompok faktor, yakni eksternal dan internal. Faktor eksternal mencakup kurangnya motivasi, ketidakjelasan peran, konflik peran, minimnya dukungan, serta beban kerja yang berlebihan. Sementara itu, faktor internal meliputi karakteristik demografis seperti usia, jenis kelamin, dan lama masa kerja . Salah satu dampak paling nyata dari burnout syndrome adalah menurunnya performa kerja dan kualitas pelayanan perawat. Perawat yang mengalami burnout umumnya merasa bahwa pekerjaan mereka tidak lagi menyenangkan, sebagai akibat dari respon emosional, fisik, dan mental yang terus-menerus terkuras . Beban kerja yang tinggi dapat menyebabkan kelelahan fisik dan emosional, berkurangnya konsentrasi, serta rasa jenuh yang mendalam. Meskipun dalam penelitian ini mayoritas responden dengan beban kerja berat mengalami burnout pada tingkat rendah, kondisi ini tetap perlu diwaspadai. Jika tidak ditangani, dalam jangka panjang hal tersebut berpotensi berkembang menjadi burnout syndrome yang lebih berat. Simpulan Sebanyak 58% perawat yang mengalami beban kerja tinggi, sementara 55,6% perawat yang mengalami burnout syndrome dalam kategori tinggi. Berdasarkan uji korelasi spearman didapati p-value 0,000 (<0,. dan r = 0,756 yang artinya terdapat hubungan beban kerja dengan burnout syndrome dengan korelasi kuat searah, semakin tinggi beban kerja yang diterima oleh perawat maka semakin tinggi pula burnout syndrome yang dialami oleh perawat. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji lebih lanjut faktor-faktor lain yang turut memengaruhi burnout syndrome seperti dukungan sosial, lingkungan kerja, dan keseimbangan kehidupan kerja. Selain itu, pendekatan kualitatif juga dapat dilakukan guna menggali pengalaman subjektif perawat dalam menghadapi tekanan kerja dan dampaknya terhadap kondisi psikologis mereka. Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih ditujukan kepada dosen pembimbing yang telah membimbing, memberikan arahan dan masukan selama proses penyusunan artikel ini, kepada kedua orang tua, serta rekan-rekan sejawat yang telah memberi dukungan dan membantu penulis dalam proses penyusunan naskah ini. Referensi