P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 Jurnal Language education and literature PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGUBAH TEKS WAWANCARA MENJADI PARAGRAF NARASI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAM ACHEVEMENT DIVISION (STAD) PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI MUARA MEGANG Venti Yosepha SMP Negeri Muara Megang. Indonesia Email: ventiyosepha79@gmail. ABSTRAK Pembelajaran bahasa Indonesia mengarahkan pada keterampilan berfikir kritis. Pada kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang siswa dituntut memahami indikator pembelajaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dari pratindakan sampai dengan Siklus II. Pengumpulan data dengan teknik tes. Pada hasil pratindakan diketahui hasil rata-rata nilai adalah 68. 09 dengan ketuntasan klasikal 40,74%. Pada kegiatan siklus I diketahui rata-rata nilai adalah 72,77 Dengan ketuntasan klasikal 70,37%. Pada siklus II diketahui rata-rata nilai adalah 78,14 dengan ketuntasan klasikal 92,59%. Berdasarkan hasil rata-rata dikatahui peningkatan dari pratindakan ke siklus I adalah 4,26 sedangkan peningkatan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus I adalah 29,63%. Pada Siklus I ke siklus II diketahui peningkatan rata-rata nilai adalah 5,37 sedangkan ketuntasan mengalami peningkatan 22,22%. Selanjutnya peningkatan rata-rata nilai pratindakan ke siklus II adalah 9,63 Dengan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus II adalah 52,12%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran Student Team Achevement Division (STAD) kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang dapat Kata kunci : Model. STAD, teks wawancara, narasi. IMPROVING THE ABILITY TO CHANGE INTERVIEW TEXT INTO A NARRATIVE PARAGRAPH THROUGH THE STUDENT TEAM ACHEVEMENT DIVISION (STAD) LEARNING MODEL IN CLASS VII STUDENTS OF MUARA MEGANG STATE MIDDLE SCHOOL ABSTRACT Learning Indonesian leads to critical thinking skills. In the ability to change interview text into narrative paragraphs in class VII students at SMP Negeri Muara Megang, students are required to understand learning indicators. The aim of this research is to determine the increase in the ability to convert interview text into narrative paragraphs in class VII students at Muara Megang State Middle School. The research method used is Classroom Action Research from pre-action to Cycle II. Data collection using test techniques. In the pre-action results, it was found that the average score was 68. 09 with classical completeness of 40. In the first cycle of activities, it was found that the average score was 72. 77 with classical completeness of 70. In cycle II it was found that the average score was 78. 14 with classical completeness of 92. Based on the results, the average increase from pre-action to cycle I was 4. 26, while the increase in classical completion from pre-action to cycle I was 29. From Cycle I to Cycle II, it was found that the average increase in score was 5. 37, while completion increased by 22. Furthermore, the average increase in the pre-action score to cycle II was 9. With classical completeness from pre-action hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 to cycle II being 52. Thus, it can be concluded that through the Student Team Achevement Division (STAD) learning model, the ability to change interview text into narrative paragraphs for class VII students at SMP Negeri Muara Megang can increase. Keywords: Model. STAD, interview text, narrative. PENDAHULUAN Pembelajaran keterampilan bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dimana diarahkan pada keaktifan siswa, sehingga diperlukanya rancangan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Salah satu pembelajaran keterampilan bahasa Indonesia yang paling kompleks adalah keterampilan Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktik yang teratur. Menulis adalah kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, pengetahuan, ilmu dan pengalaman-pengalaman hidupnya dalam bahasa tulis yang runtun, enak dibaca, dan dipahami oleh orang lain. Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematis serta mengungkapkannya secara tertulis. Menulis merupakan salah satu kegiatan mengekspresikan ide, gagasan, dan informasi yang diperoleh dari proses menyimak dan membaca. Menulis sebagai proses melalui tiga tahap yakni tahap pramenulis, menulis, dan pasca menulis (Tarigan, 2001:. Jadi, semakin banyak seseorang menyimak atau membaca semakin banyak pula informasi yang diterimanya untuk diekspresikan secara tertulis. Adapun salah satu Kompetensi Dasar yang berkaitan dengan keterampilan menulis siswa kelas VII adalah materi mengubah teks wawancara menjadi bentuk narasi. Wawancara merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seorang informan atau seorang autoris. Menarasikan teks wawancara merupakan kegiatan mengubah teks wawancara menjadi karangan narasi. Hasil kegiatan menarasikan sering. Sukirman . menjelaskan menarasikan teks wawancara dianggap sebagai kegiatan yang membosankan bagi siswa karena penyanyian materi tentang menulis narasi kurang menarik dan terkesan monoton. Dari penjelasan tersebut menunjukan jika keterampilan menulis harus menumbuhkan motivasi belajar bagi peserta didiknya, terutama pada pokok bahasan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Pembelajaran yang dirancang inovatif akan meningkatkan motivasi pada peserta didiknya, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berdasarkan hasil ulangan harian di kelas VII SMP Negeri Muara Megang dikatahui jika ketuntasan klasikal 40,74% dengan rata-rata nilai 68,51. Hal ini menyebabkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang masih rendah. Rendahnya kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi di sebabkan belum sesuainya materi pembelajaran dengan model yang digunakan penulis, sehingga diperlukan model yang mampu menujang proses pembelajan bahasa Indonesia, salah satunya adalah model pembalajaran STAD. Guru tidak menggunakan teknik pembelajaran sehingga tidak dapat memotivasi dan membantu siswa dalam menulis narasi. Berdasarkan permasalahan yang ada maka dilakukan PTK (Penelitian Tindakan Kela. dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Winarni . salah satu tujuan PTK adalah peningkatan dan atau perbaikan praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan guru. Sementara Arikunto, dkk. , . salah hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 satu prinsip PTK adalah adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja di dalam kelasnya secara terus menerus sampai tujuan tercapai. Kemmis dan Tanggart (Riyanto, 2010:. salah satu karateristik PTK adalah partisipatori yaitu penelitian yang diterapkan oleh praktisi, terutama untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas mereka sendiri. Berdasarkan pendapat di atas jelas jika peningkatan hasil belajar dapat dilakukan melalui PTK, dengan harapan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dapat Kegiatan penelitian tindakan kelas ini penulis menggunakan model pembelajaran STAD terhadap kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Peneliti mengharapkan dengan adanya model pembelajaran ini dimungkinkan dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa, materi terhadap kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Slavin (Rusman 2016:. model STAD (Student Team Achevement Divion. merupakan variasi pembelajaran dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Nilainilai kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata-rata mereka sendiri yang diperoleh sebelumnya, dan nilai-nilai itu diberi hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang bisa mereka capai atau seberapa tinggi nilai itu melampaui nilai mereka sebelumnya. Penelitian tentang model STAD pernah diteliti oleh Saputri, dkk. , . hasil penelitian menunjukan penerapan model role playing dapat meningkatkan keterampilan menulis hasil wawancara siswa kelas IV SDN 7 Kebumen. Mardian dan Sutayno . hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write dalam penelitian tindakan kelas dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi. Hilmini . kemampuan mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara oleh siswa kelas VII. 6 SMP Negeri 1 Praya Tahun Pelajaran 2018/2019 tergolong kurang. Persamaannya adalah samasama pada materi teks wawancara dan paragraf narasi , sedangkan perbedaannya terletak pada model pembelajaran yang digunakan. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi yaitu penulis ingin menerapkan model STAD untuk mengetahui kemampuan dan efektifnya pada saat proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memahami materi tersebut dengan cepat dan tepat khususnya pada kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. METODE Metode yang digunakan adalah metode PTK . enelitian tindakan kela. Winarni . PTK adalah penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang diselengarakan secara profesional. OAoBrien (Mulyatiningsih, 2012:. penelitian tindakan dilakukan ketika sekelompok orang . diindentifikasi permasalahanya, kemudian peneliti . menetapkan suatu tindakan untuk mengatasinya. Penelitian Tindakan Kelas yang digunakan untuk memperoleh informasi yang dapat diperoleh dengan penelitian tindakan kelas melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi. Wardhani, . 7:1. PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Komponen PTK terbagi dalam empat tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Metode ini digunakan untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran STAD dalam meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap dari pratindakan, siklus I dan siklus II. Analisa data dilakukan setiap pertemuan dan siklus, sehingga tindakan perbaikan yang dilakukan pada siklus berikutnya dapat menghasilkan perubahan yang signifikan dan pencapaian maksimal. Untuk melihat peningkatan kemampua siswa secara individu penulis mengunakan penskoran hasil tes kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Keberhasilan dalam kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang berpedoman pada nilai KKM yang ada di SMP Negeri Muara Megang yaitu siswa dinyatakan berhasil jika siswa memperoleh nilai 70 dan pembelajaran berhasil jika lebih dari 75%, siswa mencapai nilai KKM. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dengan menggunakan model pembelajran STAD ini telah dilakukan di kelas VII SMP Negeri Muara Megang pada Semester Ganjil Tahun Ajaran 2022/2023 dengan materi kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Penelitian ini dimulai dari tanggal 29 Agustus 2022, pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal yang berlaku disekolah. Penulis mengajar di kelas VII. 2 dimana subjek penelitian adalah siswa yang mengalami masalah secara klasikal di kelasnya. Jumlah siswa di kelas VII. 2 adalah 27 orang dan pelaksanaannya penulis bertindak sebagai pengajar . Tes yang diberikan kepada subjek penelitian, berupa tes esai yang bertujuan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran STAD terhadap kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Tes diberikan dalam bentuk uraian dengan satu soal yaitu mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan indikator yang sudah ditetapkan agar dapat sesuai dengan tujuan Deskripsi Data tes Hasil Tes Pratindakan Pengambilan data pratindakan dilakukan pada hari Senin, tanggal 29 Agustus 2022 di kelas VII. 2 SMP Negeri Muara Megang. Untuk memperoleh suatu data, penulis mengambil data ulangan harian sebagai data pratindakan. Dari hasil pengamatan dan penelitian terhadap kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII. SMP Negeri Muara Megang berdasarkan hasil nilai pratindakan, siswa yang mendapatkan nilai lebih dari 70 sesuai dengan KKM dalam pratindakan sebanyak 11 siswa . ,74%) dan yang belum tuntas sebanyak 16 siswa . ,26%). Nilai tertinggi adalah 80 dan yang terendah Rata-rata nilai keseluruhan sebesar 68,51. Secara deskriptif dapat dikatakan bahwa kemampuan awal/pratindakan siswa belum dalam kategori tuntas secara klasikal, karena rata-rata nilai < 70 dan belum mencapai ketuntasan secara klasikal 75%. Rendahnya nilai pratindakan disebabkan baberapa faktor, antara lain kurangnya pemahaman siswa terhadap unsur teks narasi, dan faktor utama adalah kurang tepatnya hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 materi pembelajaran dengan model yang digunakan. Model pembelajaran harusnya mampu memberikan langkah mudah siswa dalam memahami suatu materi. Model pembelajaran harusnya memberikan motivasi penuh pada materi tertentu khususnya pada materi kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Oleh sebab itu diperlukan model pembelajaran yang sesuai salah satu yang dicobakan penulis adalah model pembelajaran STAD. Hasil Siklus I Siklus 1 adalah proses perbaikan pembelajaran dari kegiatan pratindakan. Adapun siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan . y40 meni. pada pertemuan pertama tanggal 5 September 2022 dan pertemuan ke-dua tanggal 12 September 2022 di SMP Negeri Muara Megang Kabupaten Musi Rawas. Tahap Perencanaan Pada tindakan pertama dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran STAD. Pada pertemuan pertama pembelajaran membahas materi teks wawancara dan paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Pada tahap perencanaan penulis sebagai pelaksana tindakan mempersiapkan tahap pembelajaran pada perencanaan ini. Perencanaan pembelajaran, lembar observasi dan sejumlah keperluan mengajar lainnya. Pelaksanaan Pelaksanaan siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 05 September 2022. Pada tahap ini penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajara. yang telah disusun sebelumnya. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan model yang digunakan Hasil Observasi Pada tahap ini pelaksanaan pembelajaran, diamati oleh Kepala SMP dan guru atau teman sejawat SMP Negeri Muara Megang. Pengamatan ini dilakukan penulis dan observer menggunakan lembar observasi yang sudah berisi indikator yang diperlukan dalam menjawab permasalahan proses pembelajaran yang berlangsung. Hasil observasi menunjukkan pada siklus I pertemuan pertama sebagian besar siswa kurang aktif dalam kegiatan proses belajar berlangsung. Berdasarkan hasil dari observer secara umum pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik, walaupun dalam proses yang dilakukan oleh penulis masih memiliki kelemahan, terutama terhadap penggunaan media Dalam pemanfaatan media kurang efisien karena ketika proses memahami materi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang media kurang beroprasi dengan baik, dikarenakan jaringan listrik, sehingga materi pembelajaran tidak tersampaikan dengan Selain itu juga, pada saat kegiatan proses pembelajaran guru kurang memberikan simulasi pengerjaan latihan dan pembimbingan yang intensif. Hasil Siklus I Pertemuan 2 Tahap Perencanaan Penulis memulai pelaksanaan siklus I pertemuan kedua dengan perencanaan. Pada tahap ini penulis menyiapkan semua hal yang diperlukan pada pelaksanaan tindakan. Halhal yang perlu disiapkan antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lembar Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan siklus pertama pertemuan ke-dua dilaksanakan pada hari Senin tanggal hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 12 September 2022. Pada tahap ini penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran yang penulis laksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan . Kegiatan akhir pelaksanaan siklus I pertemuan ke-dua, maka pelaksanaan siklus I telah selesai dilaksanakan. Oleh karena itu untuk mengetahui peningkatan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang, penulis memberikan latihan kepada siswa. Tes yang diberikan berupa penugasan kepada siswa untuk mengerjakan soal berkaitan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Pelaksanaan tes dikuti oleh seluruh subyek penelitian yaitu seluruh siswa kelas VII. 2 SMP Negeri Muara Megang, yang berjumlah 27 siswa. Hasil Pelaksanaan Tindakan Hasil pelaksanaan siklus I akan memberikan gambaran perlunya dilaksanakan siklus II atau tidak. Berdasarkan hasil pembelajaran siklus I belum menunjukan keaktifan siswa sebagaimana yang diharapkan. Dari hasil tes kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang menunjukan siswa masih belum mencapai nilai ketuntasan. Berdasarkan dari hasil tes siklus I diketahui bahwa siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 19 siswa atau 70,37%, dan 8 siswa atau 29,62% dinyatakan belum tuntas. Ratarata nilai adalah 72,77, secara deskriptif dapat dikatakan bahwa siklus I secara klasikal belum tuntas, karena masih di bawah ketuntasan klasikal yaitu sebesar 75%. Pada kegiatan siklus 1 terjadi peningkatan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang dari pratindakan dengan rata-rata 68,51 sedangkan pada siklus I rata-rata nilai adalah 72,77, sehingga terjadi peningkatan rata-rata sebesar 4,26. Selain itu dari hasil siklus 1 diperoleh data peningkatan ketuntasan klasikal dari ketuntasan pratindakan 40,74% sedangkan silkus I sebesar 70,37%. Peningkatan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus I sebesar 29,63%. Hasil Observasi Pelaksanaan observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan guru matapelajaran bahasa Indonesia mengamati pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan dan mengisi lembar observasi yang telah disiapkan dan kemudian memberikan saran dan kritik terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan. Saran dan kritikan yang diberikan oleh pengamat pada pelaksanaan siklus 1 pertemuan kedua adalah sebagai berikut: Hasil observasi menunjukkan pada siklus I pertemuan ke dua sebagian besar siswa merasa lebih aktif dan termotivasi mengerjakan latihan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang dengan diterapkanya model pembelajaran STAD. Berdasarkan pengamatan antara guru, penulis dan kolaborator siswa terlihat lebih aktif, ada kompetitif antar kelompok. Refleksi Setelah dilaksanakan siklus I pertemuan pertama dan pertemuan kedua, penulis mendapatkan saran-saran atau tangapan dari para observer. Saran-saran tersebut ditindak lanjuti dengan memperbaki langkah RPP yang akan diterapkan pada siklus II sesuai dengan saran-saran atau hasil pengamatan dari para observer dalam siklus I, selain itu perlunya mengoptimalkan contoh dan latihan yang mendukung. hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 Hasil Siklus II Siklus II dilaksanakan dalam 2 x pertemuan . x 40 meni. pada tanggal 19 September 2022 (Pertemuan . sampai dengan 26 September 2022 (Pertemuan . di kelas VII. 2 SMP Negeri Muara Megang. Pertemuan pertama pada siklus II menjelaskan menulis paragraf Pada pertemuan ke dua siklus II membahas mengubah tek wawancara menjadi paragraf narasi. Perencanaan Tindakan Tahap perencanan pada siklus II adalah refleksi dari siklus I. Masukan dari tahap refleksi kegiatan siklus 1 hal yang menjadi perbaikan adalah, apersepsi pembelajaran disiapkan semenarik mungkin, tujuan pembelajaran lebih terperinci, mengkondisikan setiap kelompok belajar, menguatkan dan mengapresiasi kerja siswa dan pengoptimalan media pembelajaran pada proses belajar mengajar. Selain itu diperlukan latihan-latihan yang membuat siswa lebih termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. Tahap Pelaksanaan Sesuai dengan masukan dan saran yang diperoleh dari siklus I. Selanjutnya langkahlangkah yang perlu ditempuh pada pelaksanaan siklus II. Langkah yang dipersiapkan dimulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup, sehingga lebih mengoptimalkan media pembelajaranya. Pelaksanaan siklus II bertujuan untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus I. Berdasarkan kritik dan saran dari observer, maka penulis melakukan perbaikan meningkatkan kualitas bentuk latihan dengan mengoptimalkan langkah model pembelajaran yang tepat agar lebih efektif. Perbaikan pada pembagian alokasi waktu untuk mengkondisikan kelompok belajar. Untuk mengetahui peningkatan siklus II, diadakan latihan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa yang dikerjakan secara individu. Berdasarkan hasil tes tersebut terlihat peningkatan nilai siswa pada siklus II. Berdasarkan hasil siklus II bahwa siswa yang mendapatkan nilai > 70 ketegori tuntas sebanyak 25 siswa . ,59%). Siswa yang nilainya kurang dari < 70 adalah 2 siswa . ,40%). Nilai tertinggi adalah 85 dan yang terendah 65 rata-rata keseluruhan sebesar 78,14. Pada siklus II kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang telah tuntas dengan rata-rata 78,14. Secara deskripsi pembelajaran pada siklus II dikatakan tuntas secara klasikal, karena siswa tuntas lebih dari 75% yang mendapatkan nilai > 70. Berdasarkan hasil tersebut model pembelajaran STAD mampu meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Hasil Observasi Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD mampu meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Dapat dilihat dari hasil tes dan kegiatan pembelajaran siswa dalam menerima pelajaran serta memberikan respon yang baik yang diajarkan oleh guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Hasil observasi menunjukkan pada siklus II sebagian besar siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan latihan-latihan. Pada tahap ini menunjukkan bahwa model pembelajaran STAD yang digunakan dalam pembelajaran meningkatkan motivasi dan hasil belajar bahasa Indonesia. Sebagian siswa juga menyatakan bahwa pembelajaran dengan model STAD ini sangat efektif digunakan karena memberikan peluang kepada siswa berfikir kritis. hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 Refleksi Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar melalui model pembelajaran STAD pada siklus II mengalami peningkatan dari sebelumnya, di antaranya siswa termotivasi dalam mengerjakan latihan materi mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi jika dibandingkan dengan pelaksanaan siklus I. Melihat proses pembelajaran yang aktif, dapat disimpulkkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang meningkat. Dapat dilihat dari hasil pratindakan dengan nilai rata-rata 68,51, siswa yang belum tuntas 11 atau 40,74%. Sedangkan rata-rata siklus I sebesar 72,77 dengan jumlah siswa tidak tuntas sebesar 19 siswa atau 70,37% dan siswa belum tuntas sebanyak 8 siswa atau 29,62%. Terjadi peningkatan ketuntasan dari pratindakan ke siklus I yaitu 4,26 atau 29,63%. Pada siklus II rata-rata hasil tes sebesar 78,14 dibandingkan dengan nilai rata-rata siklus I sebesar 72,77. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus II sebanyak 25 siswa . ,59%). Sedangkan siklus I sebanyak 19 siswa . ,37%) dengan demikian, terdapat peningkatan siswa yang tuntas sebanyak 6 orang atau 22,22%. Dapat dilihat dari hasil nilai pratindakan ke siklus II terjadi peningkatan dengan jumlah siswa 14 atau 52,12%. Oleh sebab itu, tindakan pada siklus berikutnya tidak perlu dilaksanakan, karena kriteria ketuntasan secara klasikal sudah mencapai klasikal atau 75% pada siklus II dan siswa yang memperoleh nilai >70. Peningkatan secara signifikan ketuntasan belajar bahasa Indonesia yang dapat dicapai dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan pada proses siklus I dan penerapan hasil dari koordinasi dengan kepala sekolah dan teman sejawat dalam proses penelitian berlangsung sehingga nilai yang dicapai oleh siswa memperoleh nilai ketuntasan yang baik secara individu maupun keseluruhan. Pembahasan Analisis Peningkatan Kemampuan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi melalui Model Pembelajaran STAD. Kegiatan Pratindakan Pada tahap pratindakan dilakukan untuk mengatahui hasil kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang sebagai data awal. Data diperoleh melalui hasil ulangan harian pada materi mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Selanjutnya data akan diolah untuk melihat persentase ketuntasan dan belum tuntas pada siswa. Hasil siswa pada pratindakan digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada baik dari siswa, guru dan proses pembelajaranya. Hasil ulangan harian digunakan sebagai data pratindakan dan oleh sehingga didapatkan bahwa siswa yang mendapatkan nilai > 70 kategori tuntas terdapat 11 siswa atau 40,74%. Hasil pratindakan dengan nilai rata-rata 68,51, sedangkan siswa yang belum tuntas 16 atau 59,26%. Berdasarkan hasil pratindakan dapat dikatakan bahwa kemampuan awal siswa dalam kategori belum tuntas secara klasikal. Rendahnya hasil dari pratindakan dapat disebabkan dengan penggunaan model pembelajaran yang belum sesuai dengan materi yang Model pembelajaran harus sesuai dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. Motivasi belajar siswa terhadap materi belum maksimal sehingga diperlukan model yang sesuai. Model yang sesuai dengan materi pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan mengoptimalkan pembelajaran yang kreatif dan hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 Berdasarkan faktor-faktor penghambat peningkatan pembalajaran bahasa Indonesia, tersebut penulis menyimpulkan bahwa untuk mencapai hasil belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, maka perlu dicarikan solusi pemecahan Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan siswa, penulis menggunakan model pembelajaran STAD dalam kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Pembahasan Siklus I Kegiatan siklus I dilakukan untuk memperbaiki kondisi awal hasil belajar siswa, untuk itu pada proses pembelajaran diterapkan model STAD. Pada proses kegiatan pembelajaran pada siklus I siswa masih dalam kategori belum tuntas secara klasikal terhadap kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Pada siklus I digunakan model pembelajaran STAD untuk meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Pada siklus I ini penelitian dilakukan dengan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran STAD penulis bertindak sebagai guru. Pembelajaran yang dilakukan secara klasikal difokuskan pada proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dan hasil belajar siswa. Dalam pelaksanaan tindakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Pada awal pembelajaran, setelah memberikan salam dan menyapa siswa guru mengabsen siswa serta menjelaskan dan memberikan motivasi kepada siswa. Kemudian guru menginformasikan dengan jelas tentang model pembelajaran STAD. Informasi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Siklus 1 digunakan sebagai alat ukur untuk menggetahui keberhasilan tindakan pertama, maka digunakan 1 soal dalam meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Berdasarkan hasil tes nilai yang diperoleh pada siklus I menunjukan rata-rata siklus I sebesar 72,77. Diketahui jumlah siswa tidak tuntas sebesar 19 siswa atau 70,37%. Dalam hal ini berarti tujuan dari pembelajaran secara klasikal 75% belum tercapai. Perlu adanya perbaikan yang dilaksanakan pada siklus II, walaupun setelah dilaksanakan pembelajaran pada siklus I terlihat banyak perubahan dan peningkatan nilai terjadi pada kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Pembahasan pada Siklus II Pada kegiatan siklus II penelitian dilakukan dengan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran STAD, penulis bertindak sebagai guru. Pembelajaran yang dilakukan difokuskan pada proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dan hasil belajar siswa. Pelaksanaan tindakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Menggetahui keberhasilan tindakan siklus II digunakan satu soal dalam meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Adapun pengunaan teori dalam materi mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi didasarkan pada hasil latihan yang diberikan. Hasil tes siklus II dilaksanakan menunjukkan bahwa siswa yang dinyatakan tuntas P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 Jurnal Language education and literature sebanyak 25 siswa 92,59%, dan 2 siswa atau 7,40% yang dinyatakan belum tuntas. Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 85 nilai terendah adalah 70 dan nilai rata-rata pada siklus II adalah 78,14. Dari hasil tersebut diketahui adanya ketuntasan secara klasikal karena lebih dari 75%, maka dapat disimpulkan jika model pembelajaran STAD dapat meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. Analisis Hasil Belajar Hasil belajar siswa kelas VII. 2 SMP Negeri Muara Megang memahami materi mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi melalui model pembelajaran STAD dapat diketahui adanya peningkatan. Peningkatan dari pratindakan, siklus I dan siklus II. Peningkatan siswa yang tuntas belajar, nilai rata-rata hasil tes, dan rekapitulasi dapat dilihat di bawah: Tabel 1. 1 Rekapitulasi Pratindakan. Siklus 1 dan Siklus 2 Pratindakan Siklus I Siklus II Nilai Prekuensi Persen Prekuensi Persen Prekuensi Persen > 70 11 siswa 40,74% 19 siswa 70,37% 25 siswa 92,59% < 70 16 siswa 59,26% 8 siswa 29,62% 2 siswa 7,40% Jumlah Rata-rata 68,51 72,77 78,14 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat nilai rata-rata hasil pratindakan sebesar 68,51 sedangkan tes pada siklus I yaitu 72,77. Jika dibandingkan dengan pratindakan mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 4,26. Sedangkan siswa dinyatakan tuntas pada saat pratindakan sebanyak 11 siswa . ,74%) dan siklus I meningkat menjadi 19 siswa . ,37%). Peningkatan siswa tuntas pada pratindakan ke siklus I sebanyak 8 siswa . ,63%). Nilai rata-rata pada tes siklus II jika dibandingkan dengan siklus I juga mengalami Pada siklus 1 siswa yang tuntas 19 siswa . ,37%), pada siklus II meningkat menjadi 25 siswa . ,59%) pada siklus II, berarti meningkat sebanyak 6 siswa . ,22%). Peningkatan pratindakan ke siklus II yaitu: ycI2OeycI1 X 100% ycI1 Dengan: R1: Rata-rata pratindakan = 68,51 R2: Rata-rata siklus I = 72,77 R2: Rata-rata siklus II = 78,14 78,14Oe72,77 X = 68,51 x 100% 5,37 68,51 x 100% = 0,0784 x 100% = 7,84% Siswa yang tuntas pada saat pratindakan berjumlah 11 siswa . ,74%) setelah dilakukan siklus II menjadi 25 siswa . ,59%), berarti telah terjadi peningkatan dari hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education and literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 3 No. 2, 2023 Page:174-185 pratindakan sampai siklus II sebanyak 14 siswa . ,12%). Peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia juga diperkuat dari nilai rata-rata kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi mengalami perubahan, dari rata-rata pratindakan sebesar 68,51 pada siklus I menjadi 72,77 dan mengalami peningkatan disiklus II sebesar 78,14. Nilai rata-rata pratindakan 68,51 dan pada siklus II menjadi 78,14. Peningkatan hasil belajar dari pratindakan ke siklus II dengan rata-rata sebesar 9,63. Dari hasil per-siklus mengalami peningkatan secara klasikal. Dengan demikian pembelajaran melalui model pembelajaran STAD mampu meningkatkan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: Secara umum kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri Muara Megang dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran STAD. Berdasarkan hasil tes nilai yang diperoleh pada pratindakan mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 68,51. Sedangkan siswa dinyatakan tuntas pada saat pratindakan sebanyak 11 siswa . ,74%) dan siklus I meningkat menjadi 19 siswa . ,37%). Peningkatan siswa tuntas pada pratindakan ke siklus I sebanyak 8 siswa . ,63%). Nilai rata-rata pada pratindakan sampai siklus II sebanyak 14 siswa . ,12%). Peningkatan hasil belajar juga diperkuat dari nilai rata-rata, pratindakan sebesar 68,51 pada siklus I menjadi 72,77 dan mengalami peningkatan disiklus II sebesar 78,14. Dari pratindakan ke siklus II mengalami peningkatan rata-rata sebesar 9,63 . ,12%). DAFTAR PUSTAKA