PASTORALIA STIPAS Keuskupan Agung Kupang Jurnal Penelitian Dosen P-ISSN: 2579-9355 E-ISSN: 2797-2216 Volume 6 Nomor 1. Edisi juni 2025 KETERLIBATAN OMK DALAM MEMELIHARA KELESTARIAN LINGKUNGAN ALAM SEBAGAI PANGGILAN SPIRITUALITAS ENSIKLIK AuLAUDATO SIAy Alek Martin Pakpahan1*. Petrus Simarmata2 1 Pendidikan Keagamaan Katolik. STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan Pendidikan Keagamaan Katolik. STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan 1alekmartinpakpahan@gmail. com, 2simarmatapietro@gmail. Abstrak Penelitian ini menganalisis keterlibatan Orang Muda Katolik (OMK) dalam pelestarian lingkungan sebagai bentuk ekspresi iman yang didasarkan pada spiritualitas Laudato Si'. Melalui studi pustaka, penelitian ini menelaah aksi-aksi ekologis yang dilakukan oleh OMK serta motivasi spiritual yang melatarbelakanginya. Hasil kajian menunjukkan bahwa OMK aktif dalam kegiatan seperti kampanye kebersihan, reboisasi, dan edukasi lingkungan sebagai bentuk konkret dari implementasi ajaran Laudato Si'. Ajaran ini membentuk cara pandang yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, yang memadukan tindakan ekologis dengan panggilan iman mereka. Penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya dan dukungan komunitas, serta peluang dalam bentuk program pembinaan berbasis Laudato Si' dan kerja sama dengan berbagai organisasi. Pada akhirnya, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi ekologis OMK, sehingga dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kualitas hidup, sekaligus memberikan kontribusi akademis terhadap penerapan praktis Laudato Si' dalam komunitas OMK. Kata Kunci Ekologi. Krisis lingkungan. Laudato Si. OMK. Spiritualitas Abstract This research analyzes how Orang Muda Katolik (OMK) engages in environmental preservation as an expression of their faith, guided by the spirituality of Laudato Si'. Through a literature review, it examines OMK's environmental actions and their spiritual motivations, revealing their involvement in clean-up campaigns, reforestation, and environmental education as practical applications of Laudato Si' teachings. These teachings cultivate a sustainable and responsible mindset, integrating ecological action with their faith vocation. The study identifies challenges like limited resources and community support, alongside opportunities for Laudato Si' based formation programs and collaborations with various Ultimately, this research aims to increase OMK's environmental awareness and participation, contributing to environmental sustainability and quality of life, while providing academic insights into the practical implementation of Laudato Si' within the OMK community. Keywords Ecology. Environmental crisis. Laudato Si. OMK. Spirituality PENDAHULUAN Kerusakan lingkungan global merupakan isu yang sangat kompleks dan berdampak luas pada kehidupan manusia dan ekosistem (Zulfa et al. , 2. Dunia sedang menghadapi isu pemanasan global. Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 suatu bentuk AoketidakseimbanganAo daerah eksternal pada planet bumi yang dikarenakan naiknya suhu ratarata udara, laut, dan darat. Suhu rata-rata permukaan Bumi meningkat selama periode 100 tahun terahir sebesar 0,74 A 0,18 AC (Lim et al. , 2. Hal ini disebabkan salah satunya oleh penurunan jumlah lapisan ozon, yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena ia mampu menyerap radiasi sinar ultraviolet matahari dengan panjang gelombang sekitar 320 nm (Prodjosantoso, 2. Penipisan lapisan ozon, bukan hanya berdampak pada pemanasan global tetapi juga pada peningkatan resiko kanker kulit dan masalah kesehatan lainnya serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Pemanasan global, menyebabkan perubahan iklim ekstrem, pencairan es di kutub, dan naiknya permukaan air laut (Irma & Gusmira, 2. Dunia di berbagai wilayah juga menghadapi ancaman polusi air. Perubahan struktur air, di mana air tercemar oleh zat-zat atau bahan-bahan berbahaya sehingga tidak lagi layak untuk digunakan atau tidak layak lagi menjadi habitat mahkluk hidup (Kamalia & Sudarti, 2022. Umar & Tasduq, 2022. Agriculture. Ecosystems & Environment, 2. Selain polusi air, polusi udara juga cukup memprihatinkan. Pembakaran bahan bakar fosil . endaraan bermotor, pembangkit listri. , aktivitas industri, dan pembakaran sampah menjadu sumber polusi udara. Selain itu, penggundulan atau pengurangan hutan secara masif untuk pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, atau urbanisasi, memperburuk kualitas udara melalui beberapa mekanisme. Menurut laporan Global Forest Watch dan IPCC, deforestasi menyumbang sekitar 10-15% dari total emisi gas rumah kaca global setiap tahunnya. Polusi udara dari kendaraan bermotor dan pabrik merusak kualitas udara dan berakibat buruk bagi kesehatan manusia, serta memperkeruh dampak pemanasan global (Rizkiana, 2. Kerusakan ekosistem saat ini merupakan krisis global yang kompleks, didorong oleh berbagai faktor saling terkait. Jika tidak segera diatasi, kerusakan ekosistem akan mengancam kelangsungan hidup manusia (Umar & Tasduq, 2022. Global Footprint Network, 2023. Wahyuni & Suranto, 2021. Studies, 2022. Rizkiana, 2022. Environmental Science & Technology, 2. Jika tidak diatasi, masalah ini berdampak pada kesehatan, pertanian, dan ketahanan pangan. Peningkatan populasi dan perubahan iklim memperburuk tantangan penyediaan air bersih (Suryapuspita et al. , 2. Ekosistem yang baik sangat penting bagi kehidupan manusia karena manusia memiliki hubungan timbal balik dengan organisme dan lingkungannya (Effendi et al. , 2. Krisis ekologis merupakan salah satu keprihatian dan persoalan moral yang dihadapi manusia saat ini, sehingga semua orang yang berkepentingan seperti pemerintah, ekolog, teolog, ilmuwan, termasuk orang muda Katolik perlu terlibat secara aktif dalam mencegah kerusakan ekologis . he ecological damage. yang menghancurkan dunia. Bumi menghadapi krisis lingkungan yang sangat serius . he planet is facing an environmental crisi. (Prasetyo, 2. Keprihatinan yang sama diungkapkan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si: AuSaudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita adalah tuan dan penguasanya yang berhak Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, di dalam air, di udara dan pada semua bentuk Oleh karena itu, bumi terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling kita abaikan dan lecehkan. Ia "mengeluh dalam rasa sakit bersalinAy (Roma 8:. Kita telah melupakan bahwa kita sendiri berasal dari debu tanah (Kejadian 2: . tubuh kita sendiri tersusun dari unsur-unsur yang sama dari bumi, dan udaranya memberi kita nafas serta airnya menghidupkan dan menyegarkan kitaAy (Laudato Si, . Dalam pernyataannya Paus Fransiskus mengatakan bahwa dunia, yang disebutnya AusaudariAy tidak lahir dari kekacauan atau kebetulan, tetapi dari keputusan Tuhan yang membuatnya karena kasih dalam Selanjutnya Paus Fransiskus menekankan bahwa orang Kristen harus menghormati pekerjaan Allah. Manusia mempertanggungjawabkan pengelolaan alam dan tidak boleh menganggap dirinya sebagai pemilik alam, melainkan sebagai administrator yang harus menjaga keseimbangan alam (Nuraini et al. , 2. Kerusakan ekologis seringkali diakibatkan ketamakan manusia. Tragisnya, manusia tidak hanya merusak alam tetapi sesama manusia juga saling menjatuhkan demi kepentingan pribadi serta semakin serakah dan menganggap paling berkuasa (Maru et al. , 2. Tanggung jawab umat Kristiani dalam memelihara lingkungan memerlukan spiritualitas ekologis (Banawiratma, 1. Penelitian ini mengeksplorasi peran Orang Muda Katolik (OMK) dalam melestarikan Sebagai anugerah Ilahi, partisipasi OMK membawa semangat baru bagi Gereja seperti terlihat dalam berbagai kegiatan kaum muda dalam melestarikan alam, menjaga kebersihan dan mengurangi polusi lainnya (Surat Gembala Keuskupan Bogor 2. Paus Fransiskus dalam Laudato Si . menekankan tuntutan kaum muda akan perubahan dan kepedulian terhadap krisis lingkungan. OMK diharapkan antusias merumuskan solusi nyata dan membangun kehidupan yang berkualitas dengan mengikuti Kristus, mengasihi sesama, dan berlaku adil terhadap alam. Peran signifikan Orang Muda Katolik (OMK) dalam pelestarian lingkungan, termasuk mewujudkan relasi harmonis manusia-alam, didukung oleh implementasi ensiklik Laudato Si. Penelitian Fatmawati & Sinta . menunjukkan keterlibatan aktif dan sukarela OMK Gereja St. Markus Pateng dalam kegiatan pelestarian lingkungan gereja sebagai bagian dari perkembangan iman. Ajisuksmo et al. mengidentifikasi OMK sebagai agen perubahan ekologis di Sungai Utik. Kalbar, yang menginternalisasi gaya hidup berkelanjutan berdasarkan tujuh dimensi Laudato Si. Studi Widjanarko & Marliana . di Pegunungan Muria mengungkapkan kesadaran dan tanggung jawab ekologis tinggi di kalangan OMK melalui tindakan nyata seperti pengelolaan sampah, reboisasi, dan pencegahan perburuan liar, didukung oleh pengetahuan ekologis. Penelitian Trianah & Sahertian . juga menegaskan urgensi peran OMK dalam pelestarian lingkungan. Penelitian-penelitian terdahulu secara konsisten mengidentifikasi bahwa tindakan pro-lingkungan OMK dipengaruhi oleh pendidikan dan dukungan komunitas, menegaskan potensi mereka sebagai pemimpin Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 gerakan lingkungan melalui pembekalan yang tepat. Berdasarkan tinjauan ini, penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam keterlibatan OMK dalam pelestarian lingkungan alam sebagai manifestasi iman yang selaras dengan spiritualitas Laudato Si. Pertanyaan sentral yang dieksplorasi adalah: bagaimana OMK mengaktualisasikan peran aktif dalam menjaga lingkungan, dan mengapa tindakan ini merefleksikan esensi iman? Kebaruan studi ini terletak pada fokus spesifiknya terhadap keterlibatan OMK dalam pelestarian lingkungan sebagai ekspresi iman dan implementasi spiritualitas Laudato Si melalui metodologi studi Penelitian ini akan mengelaborasi bagaimana spiritualitas Laudato Si memotivasi partisipasi aktif OMK dalam upaya pelestarian lingkungan. Artikel ini terstruktur dalam pendahuluan, metode, hasil dan pembahasan, serta menyertakan sitasi relevan. Kesimpulan akan merangkum pengaruh spiritualitas Laudato Si terhadap keterlibatan OMK dalam pelestarian lingkungan, disertai rekomendasi untuk praktik lanjutan dan kebijakan yang memperkuat keterlibatan OMK sesuai prinsip-prinsip ensiklik tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka untuk mengeksplorasi keterlibatan Orang Muda Katolik (OMK) dalam memelihara kelestarian lingkungan alam sebagai cerminan iman, dengan fokus pada spiritualitas yang disampaikan dalam ensiklik Laudato Si. Penelitian ini diawali dari kajian terhadap ensiklik Laudato Si dan dokumen-dokumen gerejawi lainnya yang relevan. Dengan menelaah teks utama ini, diperoleh pemahaman prinsip-prinsip spiritualitas yang ditekankan oleh Paus Fransiskus lewat dokumen tersebut dalam konteks tanggung jawab ekologis dan peran manusia dalam menjaga bumi. Selanjutnya, diperluas pencarian sumber data dengan mengakses artikel jurnal, buku, laporan penelitian, dan publikasi lainnya yang membahas keterlibatan OMK dalam pelestarian lingkungan. Ini melibatkan pencarian di basis data akademik melalui artikel yang dipublikasikan pada Google Scholar dan sejenisnya. Proses analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis konten, yakni mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dalam Laudato Si yang berkaitan dengan spiritualitas dan tanggung jawab ekologis. Temuan ini kemudian dikaitkan dengan praktik pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh OMK. Selain itu, sintesis literatur dilakukan untuk menyusun ringkasan dari berbagai studi tentang keterlibatan OMK dalam pelestarian lingkungan dan menghubungkannya dengan ajaran spiritualitas dalam Laudato Si. HASIL DAN PEMBAHASAN Sekilas tentang Orang Muda Katolik OMK adalah organisasi yang secara organik terhubung dengan Gereja, namun memiliki otonomi dalam menjalankan kegiatannya. Hubungan ini bersifat hierarkis sekaligus partisipatif, di mana OMK memiliki peran yang saling melengkapi dalam mewujudkan misi Gereja. Konsili Vatikan II menegaskan pentingnya keterlibatan kaum awam, termasuk OMK, dalam misi evangelizasi (Lumen Gentium, 33. Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 Apostolicam Actuositatem, . Oleh karena itu. OMK sebagai perkumpulan orang muda Katolik memiliki misi yang terintegrasi dengan misi Gereja. Menurut Komisi Kepemudaan KWI. Orang Muda Katolik (OMK) adalah pemuda Katolik yang tinggal di daerah tertentu dengan rentang usia 13 sampai 35 tahun. Rentang usia tersebut dikelompokkan menjadi usia remaja . -15 tahu. , usia taruna . -19 tahu. , usia madya . -24 tahu. , dan usia karya . -25 tahu. WI, 1. Orang Muda Katolik juga bisa dijumpai di lingkungan kampus, kalangan mahasiswa, yang komunitasnya lebih dikenal dengan nama Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK). Untuk memperkuat kerohanian. KMK biasanya mengadakan berbagai kegiatan seperti retret dan doa bersama serta kegiatan karitatif lainnya. Secara struktural. Orang Muda Katolik berada di bawah naungan Komisi Kepemudaan, perangkat Gereja yang ditugaskan secara khusus untuk memberikan pembinaan dan pendampingan pada kaum muda (Heli & Firmanto, 2. Gereja tidak hanya memandang orang muda Katolik sebagai pilar dan sebagai masa depan Gereja yang menjanjikan tetapi juga sebagai pelaksana tugas perutusan dan pelayanan Gereja (Sari & Supriyadi. Seturut statusnya sebagai kader Gereja masa depan. OMK memiliki andil yang sangat penting bagi kemajuan Gereja di masa kini dan yang akan datang. Peran penting itu meliputi segala aspek kehidupan Gereja seperti aspek spiritual, sosial, ekonomi, politik, dan aspek lainnya, termasuk aspek ekologis (Pratama dkk, 2. OMK juga dapat menjadi kader Gereja untuk mengatasi persoalan ekologi yang mengancam kelangsungan hidup seluruh keluarga manusia dan makhluk lainnya di saat ini (Deni Santesa et al. , 2. Seputar Ensiklik Laudato Si Ensiklik Laudato SiAo, yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015, merupakan seruan moral dan spiritual untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Judulnya, yang berarti AuTerpujilah Engkau,Ay terinspirasi dari nyanyian Santo Fransiskus dari Assisi yang memuliakan keindahan dan keharmonisan ciptaan Tuhan (Christie, 2017. Platovnjak, 2. Ensiklik ini menekankan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan saudari yang berbagi kehidupan dengan kita dan ibu yang merawat kita. Dengan menyoroti krisis ekologi yang semakin parahAiseperti perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan kehancuran keanekaragaman hayatiAiPaus menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya isu ilmiah atau politik, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Ia mengajak umat beriman untuk melihat kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari iman Kristiani, karena dunia adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Krisis ini, menurutnya, tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga memperdalam ketidakadilan sosial, di mana kaum miskin dan rentan menjadi pihak yang paling terdampak. Ensiklik ini terdiri dari enam bab yang menyajikan pendekatan holistik terhadap isu ekologi. Bab pertama menggambarkan kondisi lingkungan dunia saat ini, menyoroti bagaimana eksploitasi sumber daya secara berlebihan telah merusak keseimbangan alam. Bab kedua menyoroti perspektif Kitab Suci yang menunjukkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam, melainkan penjaga yang bertanggung Bab ketiga mengkritik paradigma ekonomi dan teknologi modern yang hanya berorientasi pada Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 keuntungan Dalam Paus memperkenalkan konsep ekologi integral, yang menekankan bahwa segala sesuatu di dunia saling terhubung, sehingga isu lingkungan tidak bisa dipisahkan dari persoalan sosial, ekonomi, dan budaya. Bab kelima berisi seruan untuk bertindak, mulai dari dialog internasional hingga kebijakan yang mendukung keberlanjutan Bab keenam menekankan pentingnya pendidikan dan spiritualitas ekologis, mengajak umat untuk menjalani pertobatan ekologis dengan gaya hidup yang lebih sederhana dan penuh rasa syukur atas ciptaan Tuhan. Di akhir ensiklik. Paus Fransiskus menutup dengan doa bagi bumi dan harapan agar umat manusia semakin bertanggung jawab dalam merawat lingkungan, demi kesejahteraan bersama dan generasi Spiritualitas Ekologis Ensiklik Laudato Si Salah satu aspek yang menonjol dalam Laudato Si adalah penekanan pada spiritualitas ekologis. Spiritualitas dalam Laudato Si tidak hanya bersifat reflektif, tetapi juga mendorong umat Katolik untuk mengambil tindakan konkret dalam merawat bumi, mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam gaya hidup mereka, serta berpartisipasi dalam upaya pelestarian lingkungan. Paus Fransiskus melihat krisis lingkungan bukan hanya sebagai masalah teknis atau ekonomi, tetapi juga sebagai krisis moral dan spiritual. Beliau mengajak umat manusia untuk melihat kembali akar-akar spiritual dari krisis ini, yaitu hilangnya rasa hormat terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan dan hilangnya kesadaran akan keterhubungan kita dengan seluruh makhluk hidup (Platovnjak, 2. Paus Fransiskus tidak hanya menyoroti krisis ekologi global, tetapi juga memperkenalkan gagasan spiritualitas ekologis sebagai bagian dari iman Kristen. Spiritualitas ini menekankan hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan dalam konteks ekosistem yang saling terhubung. Secara lebih terperinci, unsur-unsur Spiritualitas Ekologis dalam Laudato Si dapat dijabarkan sebagai berikut: Kasih terhadap Ciptaan Alam merupakan manifestasi kekuatan dan kebijaksanaan Allah. Tulisan-tulisan suci seringkali menggambarkan betapa ciptaan menggambarkan keagungan Sang Pencipta. Contohnya Mazmur 19:1 yang menyebutkan "Langit menceritakan kebesaran Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Alam menjadi media untuk memuji kehebatan Allah dan memahami bahwa ciptaan-Nya merefleksikan sifatNya. Keberagaman alam menggambarkan keindahan dan kreativitas Tuhan yang patut dihargai dan Setiap mahluk adalah ciptaan Allah yang bernilai. Paus Fransiskus menekankan pentingnya menumbuhkan kasih terhadap seluruh ciptaan, bukan hanya manusia. Kita dipanggil untuk merawat bumi sebagai rumah bersama kita dan sebagai karunia dari Sang Pencipta. Keadilan Ekologis Keadilan ekologis merupakan dimensi penting dari spiritualitas ekologis. Setiap pribadi harus memperhatikan dampak tindakannya terhadap generasi mendatang dan terhadap mereka yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti masyarakat miskin dan komunitas adat. Dalam ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus menekankan pentingnya menjaga rumah bersama kita dan mengingatkan setiap orang Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 tentang tanggung jawab ekologisnya. Setiap orang diundang untuk memperjuangkan dan berseru-seru seperti nabi demi kebaikan lingkungan. Di sini dibutuhkan spiritualitas kenabian, dimana orang tidak tinggal diam memandang kerusakan lingkungan yang terjadi (D. Christie, 2017. Platovnjak, 2. Lingkungan sehat dan berkelanjutan adalah cara untuk memenuhi panggilan Tuhan menjadi pengelola bumi yang bijak. Kesatuan Seluruh Ciptaan Dalam ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus menggaris bawahi pentingnya memahami keterhubungan antara manusia dan alam sebagai bagian dari spiritualitas Katolik. Beliau menekankan bahwa alam bukan hanya sumber daya, tetapi juga manifestasi dari ciptaan Tuhan yang harus dihargai dan dirawat (Laudato Si Ensiklik ini memperkenalkan konsep ekologi integral, yang mencakup dimensi sosial dan ekonomi, menunjukkan bagaimana masalah lingkungan terkait erat dengan ketidakadilan sosial dan ketidaksetaraan (Laudato Si . Paus Fransiskus menyatakan bahwa ciptaan bukan hanya sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan sebuah "rumah bersama" . ommon hom. yang harus dijaga. Mengutip Kidung Saudara Matahari dari Santo Fransiskus dari Assisi, yang menggambarkan alam semesta sebagai "saudara" dan "saudari", dia menekankan pentingnya rasa hormat dan perlindungan terhadap alam (Laudato SiAo, . Hal ini mendasari pandangan spiritualitas ekologis yang mendorong umat manusia untuk memandang dunia sebagai bagian integral dari relasi dengan Sang Pencipta. Paus Fransiskus mengajak setiap orang untuk melihat alam semesta bukan sebagai kumpulan objek yang terpisah-pisah, melainkan sebagai sebuah jaringan kehidupan yang saling terkait. Setiap makhluk, baik itu manusia, hewan, tumbuhan, atau bahkan benda mati, memiliki peran dan nilai intrinsik dalam tatanan kosmik ini. Semua makhluk hidup saling bergantung satu sama lain. Tindakan manusia terhadap satu bagian dari alam akan berdampak pada bagian lainnya. Alam semesta adalah sebuah kesatuan yang utuh (John & Bhaduri, 2. Maka, manusia tidak dapat memisahkan diri dari alam tanpa merusak keseimbangannya. Tujuan akhir dari spiritualitas ekologis adalah mencapai harmoni dengan seluruh ciptaan. Setiap orang dipanggil untuk hidup selaras dengan ritme alam dan menghargai keindahan ciptaan Tuhan. Alam sering menjadi sumber inspirasi spiritual dan refleksi bagi kaum beriman. Kesunyian dan keindahan alam dapat membantu seseorang berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Banyak mistikus Katolik seperti Santo Fransiskus dari Assisi menemukan kedekatan dengan Tuhan melalui pengalaman mereka di alam. Pertobatan Ekologis Paus Fransiskus mengajak setiap orang untuk melakukan pertobatan ekologis . cological conversio. , yaitu pertobatan yang melibatkan perubahan mendala dalam hati dan pola pikir manusia, agar mampu menghormati lingkungan dengan tindakan konkret (Laudato SiAo, no. Pertobatan ini melibatkan perubahan gaya hidup, konsumsi, dan produksi yang lebih berkelanjutan. Hal ini tentu menuntut pengakuan bahwa tindakan kita telah merusak alam dan komitmen untuk mengubah cara hidup kita agar lebih harmoni dengan ciptaan (Steffen, 2. Krisis lingkungan yang terjadi adalah hasil dari cara manusia memandang dan memperlakukan alam. Kita sering kali melihat alam semesta sebagai sumber daya yang tak terbatas untuk Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 dieksploitasi demi keuntungan diri sendiri. Pertobatan ekologis mengajak manusia untuk meninggalkan pandangan antroposentris ini dan mengadopsi perspektif yang lebih holistik, di mana manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta. Pertobatan ekologis dimulai dengan pengakuan bahwa kita telah berbuat dosa terhadap alam. Kita telah mencemari udara, air, dan tanah. Kita telah menyebabkan kepunahan banyak spesies. Kita telah mengabaikan tanggung jawab kita untuk merawat ciptaan Tuhan. Kita perlu mengubah cara kita berpikir tentang alam. Kita perlu melihat alam sebagai saudara kita, bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Pertobatan ekologis menuntut perubahan nyata dalam tindakan kita. Kita perlu mengubah gaya hidup kita, mengurangi konsumsi, dan mendukung praktik-praktik yang berkelanjutan (Maru et al. , 2. Paus Fransiskus menekankan pentingnya kehidupan sederhana, rasa syukur, dan solidaritas terhadap yang lemah sebagai bagian dari tanggapan iman. Beliau mengajak umat Kristen untuk mengintegrasikan perawatan lingkungan dalam kehidupan doa, liturgi, dan gaya hidup sehari-hari. Relevansi Spiritualitas Ensiklik Laudato Si dalam Diri OMK Misi utama OMK adalah membentuk generasi muda Katolik yang matang dalam iman, aktif dalam komunitas, dan mampu menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Sebagai organisasi formatif. OMK berperan penting dalam mendidik dan membina anggotanya agar menjadi umat Kristiani yang dewasa, yang mampu mengintegrasikan iman mereka dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk budaya. Selain itu. OMK juga didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar (Lubowicki, 2. Spiritualitas ekologis yang diajarkan dalam Laudato Si memiliki implikasi yang luas bagi kehidupan sehari-hari OMK. Berpartisipasi dalam Aksi Lingkungan Spiritualitas Laudato Si secara krusial memotivasi OMK untuk mengadopsi paradigma proaktif dan berkomitmen mendalam terhadap pelestarian lingkungan. Penelitian (Hamu & Danum, 2. menunjukkan ajaran Paus Fransiskus tentang tanggung jawab moral-spiritual terhadap bumi secara signifikan menginspirasi keterlibatan OMK dalam aktivitas lingkungan yang intensif dan terstruktur. Premis teologisnya adalah keyakinan internal bahwa merawat creatio Dei adalah integral dari panggilan iman . ocatio fide. , mentransformasikan tindakan ekologis dari respons pragmatis menjadi ekspresi nyata nilai iman dalam praksis. Spiritualitas Laudato Si memberdayakan OMK melampaui tindakan simbolis, menginternalisasi pelestarian lingkungan sebagai imperatif etis-spiritual mendasar. Selaras dengan motivasi spiritual yang diajarkan oleh Laudato Si keterlibatan praktis Orang Muda Katolik (OMK) dalam kampanye lingkungan terwujud dalam berbagai aksi nyata. Sebagai contoh, dalam konteks kampanye kebersihan. OMK secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan yang terfokus pada reduksi polusi dan peningkatan kesadaran publik akan vitalitas kebersihan lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati . mendokumentasikan partisipasi aktif OMK dalam inisiatif seperti pembersihan pantai, taman kota, dan ruang publik lainnya. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya berkontribusi secara tangible terhadap pengurangan limbah dan polusi visual, tetapi juga berfungsi sebagai wahana edukasi Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 yang efektif bagi masyarakat luas mengenai urgensi menjaga kebersihan lingkungan sekitar sebagai tanggung jawab kolektif. Keterlibatan ini merefleksikan manifestasi proaktif OMK dalam pelestarian lingkungan, sekaligus mendemonstrasikan pemahaman mereka yang mendalam mengenai korelasi positif antara kebersihan lingkungan dan peningkatan kualitas hidup komunitas. Lebih lanjut, inisiatif reboisasi dan penanaman pohon merupakan dimensi signifikan lain dari kontribusi OMK terhadap pelestarian lingkungan, yang secara langsung mengimplementasikan seruan Laudato Si untuk merawat "rumah bersama". Berdasarkan temuan kajian oleh Fatmawati . , kegiatan penanaman pohon yang diorganisir dan dikelola oleh OMK secara substansial berkontribusi pada peningkatan tutupan vegetasi. Peningkatan ini memiliki implikasi krusial dalam konteks mitigasi perubahan iklim global. Mengingat peran esensial pohon dalam ekosistem sebagai penyerap karbondioksida atmosfer dan produsen oksigen vital, inisiatif reboisasi ini mengindikasikan pemahaman yang mendalam di kalangan OMK mengenai signifikansi keberadaan pohon dalam mereduksi dampak perubahan iklim yang semakin Dengan demikian, tindakan konkret ini tidak hanya mencerminkan kesadaran ekologis, tetapi juga merupakan implementasi praktis dari panggilan iman untuk menjadi steward atau pengelola yang bertanggung jawab atas ciptaan Tuhan, sebagaimana diamanatkan dalam Laudato Si. Temuan ini secara konsisten berkorespondensi dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati . , yang mengobservasi partisipasi aktif dan antusias OMK di Paroki St. Markus Pateng. Manggarai Barat, dalam berbagai kegiatan gerejawi yang secara eksplisit terkait dengan pelestarian Keterlibatan yang penuh semangat ini mengindikasikan bahwa bagi OMK, tanggung jawab terhadap lingkungan tidak semata-mata dipandang sebagai imperatif sosial, melainkan juga sebagai artikulasi konkret dari internalisasi nilai-nilai iman mereka. Partisipasi mereka dalam kegiatan-kegiatan praktis seperti kampanye pembersihan dan inisiatif penanaman pohon secara jelas mengilustrasikan bagaimana Laudato Si menginspirasi tindakan nyata dan berdampak positif dalam konteks komunitas mereka. Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Soge et al. (Soge et al. , 2. memperkuat perspektif ini dengan menyoroti bagaimana ajaran-ajaran yang terkandung dalam Laudato Si secara fundamental mentransformasi pola pikir OMK, menggeser orientasi dari mentalitas konsumtif yang seringkali merusak lingkungan menuju adopsi pola pikir yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Studi kasus OMK di Sungai Utik. Kalimantan Barat, menunjukkan bagaimana Laudato Si secara efektif membentuk sikap dan praktik mereka terhadap lingkungan dengan cara yang konstruktif dan memberdayakan, mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologis ke dalam gaya hidup sehari-hari mereka. Dengan demikian, sinergi kolaboratif yang dipadukan dengan internalisasi nilai-nilai Laudato Si terbukti menjadi motor penggerak keterlibatan OMK yang efektif dan berkelanjutan dalam upaya pelestarian lingkungan. Mengubah Gaya Hidup Internalisasi nilai-nilai moralitas Katolik yang bersinergi dengan prinsip-prinsip ekologis memegang peranan fundamental dalam memediasi tindakan-tindakan pelestarian lingkungan yang diinisiasi oleh Orang Muda Katolik (OMK). Sebagai ilustrasi, proyek "Youth Environment" yang diprakarsai oleh Catholic Youth Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 Association di Polandia, sebagaimana didokumentasikan oleh Lubowicki . , secara empiris membuktikan bahwa ajaran-ajaran yang termaktub dalam Laudato Si dapat secara efektif ditranslasikan menjadi program-program terstruktur yang tidak hanya bersifat edukatif, melainkan juga formatif dalam menanamkan kebiasaan-kebiasaan positif di kalangan OMK. Inisiatif ini melampaui sekadar penyediaan informasi mengenai isu-isu lingkungan kontemporer, dan secara inheren menginspirasi adopsi perilaku yang mendukung keberlanjutan ekologis, sehingga secara eksplisit mendemonstrasikan bahwa antara keyakinan iman dan tindakan ekologis yang bertanggung jawab dapat terjalin koeksistensi yang harmonis dan saling Lebih lanjut, doktrin Laudato Si yang menekankan imperatif tanggung jawab kolektif secara signifikan memperkuat kontribusi OMK dalam upaya pelestarian lingkungan. Studi yang dilakukan oleh Marliana & Widjanarko . mengungkap bahwa kaum muda di wilayah Pegunungan Muria memperlihatkan tingkat kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan, yang diwujudkan melalui tindakan-tindakan konkret seperti implementasi program reboisasi dan upaya pencegahan perburuan liar. Temuan ini secara empiris menegaskan bahwa OMK secara aktif mengaplikasikan prinsip tanggung jawab kolektif yang diadvokasi oleh Laudato Si dalam praktik kehidupan sehari-hari mereka, sehingga membangun dan memelihara rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama dalam merawat dan melestarikan planet bumi. Kampanye "Go Green" yang dianalisis secara komprehensif oleh Hanum & Danum . memberikan ilustrasi lebih lanjut mengenai bagaimana prinsip-prinsip ajaran Katolik dapat secara efektif diintegrasikan dengan inisiatif-inisiatif lingkungan untuk menghasilkan dampak positif yang meluas dan Kampanye ini tidak hanya berhasil meningkatkan tingkat kesadaran di kalangan OMK mengenai isu-isu lingkungan yang krusial, tetapi juga secara aktif mendorong inovasi dalam pengembangan solusi-solusi ekologis yang adaptif dan efektif, yang secara signifikan sejalan dengan temuan-temuan penelitian yang dipublikasikan oleh Soge et al. dan Lubowicki . Kesadaran yang tinggi dan partisipasi aktif OMK dalam upaya-upaya kolektif ini secara konklusif membuktikan bahwa Laudato Si secara efektif memotivasi mereka untuk memberikan pengaruh yang signifikan dalam komunitas yang lebih luas, sehingga memperkuat upaya pelestarian lingkungan dengan semangat dedikasi dan komitmen yang Integrasi nilai moral Katolik dan ekologis mendorong OMK memelihara alam sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta, menyatukan keyakinan religius dan kesadaran ekologis (Gottlieb. Spiritualitas ini menyadarkan OMK bahwa kerusakan lingkungan, terutama krisis iklim, merugikan manusia, khususnya kaum miskin dan rentan (Agusalim & Karim, 2. Adopsi gaya hidup berkelanjutan, seperti konsumsi bijak, pengurangan plastik, daur ulang, dan penggunaan sumber daya alam secara bertanggung jawab (I. Christie et al. , 2. , menjadi kunci. Dengan demikian, keterlibatan OMK dalam pelestarian lingkungan mencerminkan implementasi ajaran Gereja Katolik dalam tindakan nyata. Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 membuktikan bahwa iman memotivasi mereka menjadi agen perubahan positif dalam menjaga ciptaan Tuhan. Berdoa untuk Bumi Ensiklik Laudato Si, yang dipromulgasikan oleh Paus Fransiskus, merupakan seruan komprehensif kepada seluruh umat manusia untuk melakukan refleksi mendalam terhadap relasi ontologis antara eksistensi manusia dan alam semesta. Dalam dokumen ensiklik ini. Sri Paus tidak hanya mengeksplorasi permasalahan lingkungan dari perspektif ilmiah dan sosiologis yang mapan, melainkan juga mengintegrasikan dimensi Beliau merekonseptualisasikan krisis ekologis kontemporer sebagai sebuah kairos, sebuah momen panggilan ilahi untuk memperdalam koneksi spiritual dengan Sang Pencipta dan dengan keseluruhan entitas ciptaan-Nya yang beragam. Salah satu anjuran fundamental Laudato Si adalah praktik berdoa untuk bumi. Dalam konteks ini, doa tidak dipandang sebagai sekadar ritualitas keagamaan yang bersifat seremonial, melainkan sebagai manifestasi iman yang mendalam dan sekaligus sebagai tindakan praksis yang berorientasi pada pemeliharaan ciptaan. Melalui laku doa, umat beriman mengakui secara ontologis bahwa segala entitas yang berwujud, termasuk planet bumi beserta seluruh elemen biotik dan abiotiknya, merupakan anugerah ilahi yang inheren. Kesadaran ini menumbuhkan pemahaman bahwa eksistensi manusia hanyalah fragmen kecil dari tatanan ciptaan yang jauh lebih agung dan kompleks. Doa memfasilitasi konstruksi relasi yang lebih intim dan empatik dengan alam semesta, membuka ruang bagi apresiasi terhadap keindahan dan keajaiban yang termanifestasi dalam ciptaan Tuhan. Dalam dimensi kontemplatif doa, umat beriman memohon kebijaksanaan dan bimbingan ilahi dalam menghadapi tantangan-tantangan lingkungan yang bersifat multidimensional dan kompleks. Pengakuan akan keterbatasan kapasitas manusia untuk mengatasi krisis ini secara soliter mendorong ketergantungan pada kekuatan transenden Yang Maha Kuasa. Lebih lanjut, doa memiliki potensi transformatif untuk menyatukan umat manusia dalam sebuah gerakan kolektif yang bertujuan untuk melindungi dan melestarikan bumi. Melalui praktik doa bersama, terjalin rasa persaudaraan yang mendalam dan dukungan mutual di antara Esensi terdalam dari doa dalam konteks ekologis ini adalah penegasan akan tanggung jawab manusia sebagai steward atau pengelola bumi yang beretika. Panggilan untuk merawat bumi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini, melainkan juga sebagai amanah untuk mewariskan lingkungan yang lestari kepada generasi yang akan datang. Pendidikan Ekologis Keterlibatan OMK dalam melestarikan lingkungan sebagai wujud iman didasari pendidikan ekologis komprehensif sesuai Laudato Si . , . Pendidikan ini membentuk kesadaran bahwa bumi adalah "rumah bersama" yang dipercayakan Tuhan, sehingga merawatnya adalah panggilan iman . Melampaui wawasan teknis, pendidikan ini membentuk pola pikir dan tindakan menghormati ciptaan melalui praktik sederhana . Dengan spirit Laudato Si. OMK berpotensi menjadi role model aksi kolektif mengatasi krisis ekologis Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 dan memperjuangkan keadilan lingkungan. Edukasi lingkungan melalui seminar dan lokakarya adalah wujud spiritualitas OMK, menyebarkan kesadaran dan mengajak menjaga ciptaan, merealisasikan ajaran Laudato Si dalam praktik sehari-hari untuk perubahan positif. Lebih lanjut. OMK mengimplementasikan edukasi lingkungan sebagai strategi untuk membangun kesadaran masyarakat yang lebih luas mengenai signifikansi lingkungan melalui penyelenggaraan seminar, lokakarya, program pendidikan di sekolah, serta inisiatif pembelajaran komunitas. Upaya ini secara inheren terkait dengan aspirasi mereka untuk merealisasikan prinsip-prinsip yang ACEAkan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si ke dalam tataran praksis. Melalui program-program edukasi yang terstruktur. OMK berkontribusi secara signifikan dalam membangun pemahaman masyarakat yang lebih komprehensif mengenai isu-isu lingkungan yang kompleks dan beragam, sehingga memberdayakan masyarakat untuk menjadi lebih sadar akan implikasi tindakan mereka terhadap lingkungan dan secara teoretis mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, meskipun OMK secara fundamental berpegang pada prinsip-prinsip ajaran spiritual mereka, mereka secara aktif terlibat dalam gerakan yang lebih holistik dan inklusif untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dalam skala yang lebih luas. Inisiatif "Membina Budaya Peduli Lingkungan di Kalangan OMK" menekankan urgensi aksi nyata berbasis ajaran Gereja untuk pelestarian alam, signifikan meningkatkan kesadaran dan partisipasi OMK dalam isu lingkungan, serta mendorong inovasi solusi berkelanjutan. Serupa, proyek "Pembinaan Lingkungan bagi OMK" (Lubowicki 2. oleh Catholic Youth Association Polandia menyoroti pentingnya pendidikan ekologis OMK berlandaskan Laudato Si, mendorong aksi apostolik ekologis. Proyek ini empiris menunjukkan efektivitas pendidikan dan komunikasi terstruktur dalam mengatasi masalah ekologi melalui internalisasi kebiasaan positif dan integrasi iman-aksi. Pelatihan ekologi komprehensif memberdayakan OMK menjadi agen perubahan proaktif dalam pelestarian lingkungan, meningkatkan pengetahuanketerampilan, dan menginspirasi keterlibatan aktif. Komitmen OMK terhadap keberlanjutan terwujud dalam inisiatif konkret seperti pusat ekologi regional, proyek lingkungan solutif, dan advokasi kebijakan publik (Esomar & Sadubun, 2. Tantangan dan Peluang dalam Keterlibatan OMK Dalam diskursus kontemporer, setiap inisiatif yang berasal dari anggota Gereja dewasa dan terinternalisasi, yang secara aktif mempromosikan partisipasi mereka dalam dinamika komunitas dan misi Gereja, memiliki nilai intrinsik dan mendesak untuk diimplementasikan. Orang Muda Katolik (OMK), sebagai entitas kategorial dalam struktur Gereja, memiliki kapasitas yang signifikan untuk dilibatkan dalam organisasi-organisasi yang mengemban inisiatif serupa, serta memainkan peran substansial dalam kegiatankegiatan apostolik yang bersifat formatif, baik dalam lingkup internal maupun eksternal Gereja (Lubowicki. Namun, dalam konteks upaya pelestarian lingkungan. OMK dihadapkan pada sejumlah tantangan yang signifikan. Salah satu kendala primer adalah keterbatasan alokasi sumber daya, di mana banyak kegiatan lingkungan yang diorganisir oleh OMK mengalami restriksi terkait pendanaan, ketersediaan peralatan, dan Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 dukungan tenaga kerja. Defisit sumber daya ini berpotensi menghambat efektivitas implementasi kegiatan dan pencapaian hasil yang optimal (Hanum & Danum, 2. Selain itu, insufisiensi dukungan yang berasal dari komunitas lokal atau pemangku kepentingan terkait dapat pula menjadi faktor penghambat bagi efektivitas program-program lingkungan yang diinisiasi oleh OMK. Dukungan multidimensional dari berbagai pihak merupakan prasyarat esensial bagi keberhasilan inisiatif lingkungan. Tanpa dukungan yang adekuat. OMK akan mengalami kesulitan dalam menjalankan dan memperluas kegiatan pelestarian lingkungan secara efektif dan berkelanjutan (Ajisuksmo et al. , 2. Kendati demikian, terdapat pula peluang-peluang signifikan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan derajat keterlibatan OMK dalam pelestarian lingkungan. Salah satu peluang krusial adalah pengembangan program pelatihan yang lebih terstruktur, komprehensif, dan secara eksplisit berbasis pada ajaran-ajaran yang ACEAkan dalam ensiklik Laudato Si. Program pelatihan ini dapat mencakup modul-modul pelatihan praktis, analisis studi kasus yang relevan, serta forum diskusi kelompok yang terfasilitasi, yang secara kolektif berpotensi memberdayakan OMK untuk memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip ekologis dengan tingkat pemahaman dan efektivitas yang lebih tinggi (Lubowicki, 2. Kolaborasi strategis dengan organisasi lingkungan yang established, lembaga-lembaga pemerintah terkait, serta sektor swasta juga merepresentasikan peluang yang signifikan. Peningkatan sinergi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dapat menyediakan sumber daya tambahan yang krusial dan dukungan yang berkelanjutan untuk inisiatif lingkungan OMK, sekaligus memperluas jangkauan geografis dan dampak positif dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan (Combs, 2. Dengan memanfaatkan peluang-peluang ini secara strategis. OMK memiliki potensi untuk secara substansial meningkatkan efektivitas dan dampak dari upaya pelestarian lingkungan yang mereka lakukan. Ensiklik Laudato Si berfungsi sebagai pedoman normatif yang krusial bagi Orang Muda Katolik, menginspirasi generasi muda untuk secara aktif memelihara lingkungan, mengintegrasikan dimensi iman dengan kesadaran ekologis, serta mendorong adopsi gaya hidup yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan (Gobai, 2. Pesan-pesan fundamental yang terkandung di dalamnya memotivasi OMK untuk memainkan peran proaktif dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan melalui aksi-aksi nyata yang selaras dengan tanggung jawab kolektif untuk merawat planet bumi. Prinsip saling ketergantungan antar seluruh makhluk hidup dijunjung tinggi, yang secara inheren menuntut adanya keadilan lingkungan serta semangat kolaboratif untuk berpartisipasi dalam berbagai tindakan, mulai dari skala makro hingga mikro, sebagai manifestasi konkret dari internalisasi iman. Dengan demikian, mempertahankan kelestarian bumi diakui sebagai panggilan iman yang harus direspons secara bertanggung jawab dan berkelanjutan (Combs. KESIMPULAN Penelitian ini secara konklusif mengidentifikasi bahwa keterlibatan Orang Muda Katolik (OMK) dalam pelestarian lingkungan merupakan artikulasi praksis dari spiritualitas ekologis yang ditawarakan dalam ensiklik Laudato Si. Sebagai integral dari vocatio fidei mereka. OMK secara aktif berpartisipasi dalam Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 spektrum inisiatif lingkungan, termasuk kampanye pembersihan terstruktur, program reboisasi yang berdampak, dan diseminasi edukasi ekologis yang komprehensif. Tindakan-tindakan ini melampaui aktivitas sosial semata, merepresentasikan ekspresi iman yang mendalamsebuah internalisasi kesadaran bahwa pemeliharaan bumi adalah imperatif tanggung jawab moral dan spiritual terhadap creatio Dei. Laudato Si secara imperatif mendorong OMK untuk mentransformasikan pola pikir dari konsumsi eksploitatif menuju keberlanjutan holistik, mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologis dalam tataran praksis kehidupan seharihari, serta memperkuat aksi kolektif dalam rangka elevasi kesadaran dan partisipasi komunal. Meskipun dihadapkan pada tantangan signifikan seperti keterbatasan alokasi sumber daya dan defisit dukungan komunal yang adekuat. OMK memiliki potensi substansial untuk mengakselerasi peran mereka melalui implementasi program pelatihan yang berbasis pada spiritualitas ekologis yang terinternalisasi serta kolaborasi strategis dengan organisasi lingkungan yang established dan sektor swasta yang bertanggung Melalui integrasi yang sinergis antara iman dan aksi ekologis. OMK tidak hanya berfungsi sebagai agen transformatif perubahan, melainkan juga sebagai pewarta dan role model dalam merawat bumi sebagai oikos bersama . ur common hom. Komitmen ini merefleksikan panggilan inheren Gereja untuk memperjuangkan keadilan ekologis dan merespons krisis lingkungan yang multidimensional dengan semangat solidaritas yang mendalam serta kasih yang tanpa batas terhadap seluruh entitas ciptaan. Apabila tantangan-tantangan yang teridentifikasi dapat diatasi secara efektif dan peluang-peluang yang ada dimanfaatkan secara optimal. OMK akan semakin berdaya untuk menghasilkan dampak nyata yang signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan dan mewujudkan spiritualitas ekologis dalam spektrum kehidupan sehari-hari mereka DAFTAR PUSTAKA