Halaqah Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol. No. 1, . E-ISSN: 3090-5567 https://jurnal. stik-kendal. id/index. php/halaqah/index DIALEKTIKA MORAL (ETIKA) BARAT DAN ISLAM PERSPEKTIF AHMAD AMIN Ikhbar Fiamrillah Zifamina, ikhbarfimarillahzifa@gmail. Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta Waluyo walwaluyo968@gmail. Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta Abstrak Etika Barat dan Islam . secara dikotomis memiliki titik tolak yang berbeda dalam membahas tentang tindakan manusia secara moral. Etika Islam yang berlandaskan pada Al-QurAoan dan hadits sering kali dikontraskan dengan etika Barat yang bersifat rasional-empiris. Ahmad Amin merupakan pemikir modern Islam dari Mesir yang merumuskan pemikiran etikanya dengan menunjukkan perpaduan antara corak etika Islam dengan etika Barat. Metode yang digunakan content analysis. Metode tersebut digunakan untuk menelaah secara kritis corak pemikiran etika dari Ahmad sehingga mengarah pada pengaruh etika Barat dan Islam dalam pemikirannya. Urgensi dari penelitian ini terletak pada tinjauan adanya dialektika antara etika Islam dan Barat dalam pemikiran modern Islam. Hasil temuan dari penelitian ini bahwa. Pertama, pemikiran etika Ahmad Amin yang disebut sebagai Aoilm al-akhlaq dipengaruhi kuat oleh sumber etika Islam, yakni Al-QurAoan dan etika Barat dari Plato. Aristoteles serta aliran etika deontologi. Kedua, corak pemikiran etika Ahmad Amin adalah eklektik-kritis, yakni memadukan etika Islam yang berbasis pada kitab suci dan etika Barat yang bercorak rasioanal-empiris secara kritis. Kata kunci: Ahmad Amin. Ilm al-Akhlaq. Kitab al-Akhlaq Abstract Western ethics and Islam . dichotomously have different starting points in discussing moral human actions. Islamic ethics based on the Qur'an and hadith are often contrasted with Western ethics that are rational-empirical in nature. Ahmad Amin is a modern Islamic thinker from Egypt who formulated his ethical thinking by showing the combination of Islamic ethics and Western ethics. The method used for content analysis. This method is used to critically examine Ahmad's ethical thinking patterns so that it leads to the influence of Western ethics and Islam in his thinking. The urgency of this research lies in the review of the existence of a dialectic between Islamic and Western ethics in modern Islamic thought. The findings of this study are that. First. Ahmad Amin's ethical thought referred to as 'ilm al-akhlaq is strongly M. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo influenced by the source of Islamic ethics, namely the Qur'an and Western ethics from Plato. Aristotle and the school of deontological ethics. Second. Ahmad Amin's ethical thinking style is eclectic-critical, which combines Islamic ethics based on the holy book and Western ethics that are critically rational-empirical in nature. Keywords: Ahmad Amin. Ilm al-Akhlaq. Kitab al-Akhlaq PENDAHULUAN Etika atau filsafat moral merupakan cabang atau bagian dari diskursus filsafat yang membahas mengenai perbuatan manusia, baik itu dalam filsafat Barat maupun Islam. Etika dalam filsafat Islam sering disebut juga sebagai akhlaq, bahkan para filsuf Islam seperti Ibn Miskawayh. Al-Ghazali. Haris Al Muhasibi. Al Mawardi, hingga Mohammed Abed Al-Jabiri, telah menggunakan istilah ini sebagai kerangka atau ide tentang etika dalam pemikiran mereka. 1 Dalam hal ini, etika dalam filsafat Barat maupun Islam memiliki keterkaitan dalam mendiskusikan tentang perbuatan manusia dalam ruang lingkup nilai dari perbuatan atau tindakan manusia. Corak etika Barat tentu memiliki perbedaan dengan corak etika Islam atau akhlaq. Etika Islam atau akhlaq sendiri sedikit banyak terinspirasi dari pemikiran etika Barat. Haidar Bagir berpendapat bahwa etika Islam meskipun bersumber utama pada Al-QurAoan dan Sunnah, semua filsuf Muslim yang mengajarkan tentang kebijaksanaan al-wasath . dipengaruhi oleh inti ajaran Aristoteles tersebut dalam Nichomachean Ethic. 2Sedangkan Shustery menyatakan bahwa Auetika merupakan satusatunya subyek dimana Timur tidak meniru BaratAy. 3 Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa pemikiran etika Islam masih sering diperdebatkan dalam hal keotentikan dan genealoginya yng terkait dengan etika Barat. Sehingga perlu adanya kajian kritis terkait dengan genealogi dalam etika Islam atau terhadap pemikiran etika dari para filsuf Muslim. Ahmad Amin merupakan salah satu pemikir modern, budayawan, sejarawan, sekaligus sastrawan Islam dari Mesir yang memiliki pemikiran dalam bidang etika. Pemikiran etika Ahmad Amin tertuang dalam beberapa karyanya. Salah satu karyanya Muhammad Syamil Basayif. AuNalar Etika Arab Dalam Perspektif Abid Al-Jabiri,Ay ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2, no. 12 (November 8, 2. : 5546Ae59, https://doi. org/10. 56799/jim. 2 Haidar Bagir. Buku Saku Filsafat Islam (Bandung : Mizan, 2. 3 Rusfian Efendi. AuETIKA DALAM ISLAM: TELAAH KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN IBN MISKAWAIH,Ay Refleksi Jurnal Filsafat Dan Pemikiran Islam 19, no. 1 (June 5, 2. : 77Ae102, https://doi. org/10. 14421/ref. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. tentang etika, yakni Kitab al-Akhlaq. Ahmad Amin dalam karyanya tersebut membahas etika dengan menggunakan istilah AuAoilm al-akhlaqAy atau AuakhlaqAy. 4 Istilah yang digunakan oleh Ahmad Amin tersebut mengisyaratkan adanya perpaduan antara corak etika Barat dan juga etika Islam dalam pemikiran Ahmad Amin. Namun dalam hal ini, pengistilahan ini agak problematis sehingga perlu ditinjau kembali karena sebagaimana telah dipahami bahwa ada perbedaan antara etika Barat dan etika Islam. Urgensi penelitian terhadap pemikiran etika Ahmad Amin ini membawa kepada dilektika antara etika Barat dan Islam dalam pemikiran seorang pemikir modern Islam. Pemikiran etika Ahmad Amin ini akan dianalisis untuk meninjau akar pemikiran etikanya apakah ia bercorak Barat atau Islam. Ahmad Amin dalam tulisan Samsudin5 menekankan pada pendidikan karakter harus menanamkan nilai-nilai akhlak terpuji serta pengendalian terhadap akhlak yang tercela, penekanan pada pendidikan karakter bukan etika moral dalam pandangan filsafat. Artikel yang ditulis oleh Yusaul Anwar6 membandingkan pemikiran Imam Ghazali dan Ahmad Amin dalam ESQ (Emosional. Spiritual Questio. tidak secara spesifik akhlaq . Bertolak dari penelitian sebelumnya fokus penelitian ini adalah menjawab bagaimana pemikiran etika Ahmad Amin dan apakah pemikiran etika dari Ahmad Amin bercorak etika Barat atau etika Islam ataukah perpaduan dari keduanya. Akar pemikiran dari AuakhlaqAy ini bersifat genealogis dalam artian untuk mencari dasar awal yang melatarbelakangi pemikiran etika dari Ahmad Amin, sehingga pada akhirnya dapat didentifikasi corak dari pemikiran etika tersebut. Penulis menggunakan metode analisis-kritis untuk memahami dan mengidentifikasi bagaimana corak dari pemikiran etika Ahmad Amin yang berdasarkan genealogi antara etika Barat maupun etika Islam. Genealogi pemikiran etika dari Ahmad Amin ditunjukkan dalam corak etika yang mempengaruhinya, baik etika Barat maupun Islam. Penulis akan lebih berfokus 4 Ahmad Amin. Kitab Al-Akhlaq (Kairo : Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa atsTsaqafah, 2. 5 Samsudin. AuNILAI PENDIDIKAN DAN KARAKTER DI ERA KONTEMPORER DALAM PERSEPEKTIF AHMAD AMIN,Ay At-Tuhfah : Jurnal Studi Keislaman 9, no. 2 (January 6, 2. : 38Ae48. 6 Yusaul Anwar. AuENDIDIKAN KECERDASAN SPIRITUAL DAN EMOSIONAL DALAM MENINGKATKAN AKHLAQUL KARIMAH PERSPEKTIF AHMAD AMIN DAN AL-GHAZALI,Ay IHTIROM : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 1, no. 1 (September 19, 2. : 62Ae M. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo pada pemikiran etika Ahmad Amin dalam karya tersebut, yakni Kitab al-Akhlaq, namun juga menggunakan beberapa karya Ahmad Amin lainnya yang berhubungan dengan etika. Penelitian ini dapat menjadi sumbangan khazanah pemikiran etika dalam Islam dengan mengidentifikasi corak dari pemikiran etika salah satu pemikir modern Islam tersebut. METODE PENELITIAN Tulisan ini termasuk oenelitian studi pustaka, dimana data primernya dalah seluruh naskah Ahmad Amin, sebagai rujukan data sekunder buku yang mengoal masalah Ahmad Amin khusunya pada tataran etika. Pendekatan yang digunakan dalam tulisanini kualitatif dan dipaparkan secara deskriptif. Metode yang digunakan adalah analisis konten kualitatif yang secara kontekstual diinterpretasikan sebagai analisis deduktif/terarah . irected content analysi. yang bertujuan untuk memaknai secara komprehensif konten yang diteliti dengan titik fokus pada makna kunci atau esensial yang koheren dengan pertanyaan, tujuan dan kerangka konsep penelitian. Penjelasan etika dalam kitab Ahmad Amin di analisis menggunakan analisis isi (Content Alaysi. Nanalisi isi dengan melakukan interpretasi makna dengan menganalisis secara komprehensif. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Ahmad Amin Ahmad Amin lahir di Kairo pada tanggal 2 Muharram 1304 H atau bertepatan pada 1 Oktober 1886 M. Ia lahir di keluarga seorang hakim, sehingga ia belajar di fakultas hukum di Al-Azhar. Ahmad Amin lantas pindah dari sana, lalu berganti dengan melanjutkan studi di fakultas Adab di Universitas Kairo. 9 Ia bahkan sempat menjadi seorang hakim di lembaga pengadilan negeri, namun pada tahun 1932 M, ia beralih profesi menjadi staf pengajar di Universitas Kairo di bidang sastra Arab, hingga ia diangkat menjadi rektor di universitas tersebut dari tahun 1936 sampai 1949 Ahmad Amin termasuk juga pendiri lembaga penulisan, penerbitan, dan Zainuddin Muda Z Monggilo. AuANALISIS KONTEN KUALITATIF HOAKS DAN LITERASI DIGITAL DALAM @KOMIKFUNDAY,Ay Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi 9, no. (May 22, 2. : 1Ae18, https://doi. org/10. 14710/interaksi. 8 A. Kleinheksel et al. AuDemystifying Content Analysis,Ay American Journal of Pharmaceutical Education 84, no. 1 (January 2. : 7113, https://doi. org/10. 5688/ajpe7113. 9 Muhammad Syafiq Gharbal. Al-MausuAoah al-AoArabiyyah al-Muyassarah (Beirut : Maktabah al-AoAshriyyah, 2. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. penerjemahan di Mesir. Ia wafat pada tanggal 30 Ramadhan 1373 H atau 30 Mei 1954 10 Latar belakang pendidikannya yang dari ilmu hukum dan sastra Arab ini dapat dipastikan mempengaruhi pemikirannya dalam etika. Ahmad Amin sendiri mengakui lebih benyak memperoleh pendidikan dari ayahnya. Ibrahim Tabbakh, yang seorang guru di Al-Azhar dan imam di masjid Imam Asy-SyafiAoi. Ayanhnya yang memiliki kegemaran pada kitab-kitab klasik sperti fikih, tafsir, hadits, sejarah, sastra, nahwu, shorf, dan balaghah. Ahmad Amin pernah berkata: Ausekolah dimana aku belajar di dalamnya yang paling penting dalam pelajaran hidupku adalah rumahAy. Ia memperjelas kembali: Aurumah inilah sekolah terpenting yang membentuk setiap elemen dalam tubuh, akhlak, dan ruhkuAy. 11 Dalam hal ini. Ahmad Amin memperoleh pengajaran ilmu Islam tradisional. Para syaikh Al-Azhar selain mengajarkan ilmu tradsional, beberapa pengajar juga menguasai keilmuan modern dengan mengajar menggunakan bahasa Perancis dan Inggris. Salah satu pengajar ini adalah Muhammad Atif al-Barakat yang menjadi teman dan guru dari Ahmad Amin. Al-Barakat mengajar etika dengan buku-buku berbahasa Inggris seperti Manual of Ethics dari McKeenzie atau Utilitarianism dari John S. Mill. Ketika Ahmad Amin menjadi pengajar, ia diminta membantu Al-Barakat menyiapkan pelajaran etika, bahkan sampai ia mengajar sendiri etika disamping hukum dan sejarah Islam. 12 Dapat disimpulkan bahwa pengaruh ayahnya dan gurunya. Al-Barakat yang paling signifikan dalam pemikiran etika Ahmad Amin. Muhammad Syafiq Gharbal lantas menyebutkan bahwa Ahmad Amin memulai fokus dalam bidang kajian bahasa dan sastra dengan mempelajari filsafat dan menerjemahkan buku-buku tentang filsafat dan sejarah pemikiran Islam. 13 Ahmad Amin juga sering disebut sebagai salah satu pemikir liberal Mesir di tengah pergolakan sosial-politik di Mesir pada saat itu. 14 Ahmad Amin sendiri termasuk produktif dalam hal menulis. Karya-karya dari Ahmad Amin yang cukup penting antara lain : 10 Nurmahni Nurmahni. AuAHMAD AMIN: KRITIK DAN PEMIKIRANNYA TENTANG HADIS,Ay K H A T U L I S T I W A : Journal of Islamic Studies 1, no. 1 (March 2. : 79Ae87. 11 Ahmad Amin. Hayati. (Kairo: Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa ats-Tsaqafah, 2. 12 Veronica H Dyck. AuAhmad Amin : Creating an Islamic IdentityAy . 13 Muhammad Syafiq Gharbal. Al-MausuAoah al-AoArabiyyah al-Muyassarah. 14 Makoto Mizutani. AuThe Journey of Liberalism in Egytp in the Twentieth Century : From Ahmad Amin to Husain Ahmad AminAy (University of Utah, 2. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo MabadiAo al-Falsafah . , sebuah karya terjemah dari A. Rapoport yang berjudul A Primer of Philosophy. Kitab al-Akhlaq . , karya filsafatnya yang pertama tentang etika. Ahmad Amin menulis karya ini dengan niat agar karya ini menjadi pembimbing bagi para murid pada kehidupan yang bermoral, sehingg adapat menggerakkan diri mereka, atau menjelaskan pentingnya teori etika, serta meluaskan padangan mereka tentang apa yang haru dikerjakan dalam tindakan sehari-hari. Fajr al-Islam . , membahas tentang sejarah pemikiran Islam pada masa awal Islam hingga akhir dinasti Umayyah. 17 Karya ini paling kontroversial karena memuat kritik sejarah tentang hadits Nabi. Dhuha al-Islam . , lanjutan dari Fajr al-Islam tentang sejarah Islam. Karya ini berfokus pada konteks kehidupan sosial dan kultural pada masa dinasti Abbasiyyah. Qishah al-Falsafah al-Yunaniyyah . , karyanya bersama Zaki Najib Mahmud. Karya ini ditulis oleh Ahmad Amin bersama temannya tersebut dalam rangka memperkenalkan filsafat Yunani dengan merujuk sumber aslinya secara lebih ringkas. Qishah al-Falsafah al-Haditsah . , juga ditulis bersama Zaki Najib Mahmud. Karya ini melanjutkan karya sebelumnya dengan pembahasan mengenai filsafat Barat dari abad pertengahan hingga era modern. Zhuhr al-Islam . , melanjutkan dua karya sejarah Islam sebelumnya. Karya ini lebih banyak mengulas tentang kehudipan intelektual Islam baik dari segi pembagian ilmu-ilmu klasik maupun tentang firqah-firqah dalam Islam. 15 Veronica H Dyck. AuAhmad Amin : Creating an Islamic Identity. Ay 16 Ahmad Amin. Hayati. 17 Ahmad Amin. Fajr Al-Islam (Kairo: Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa ats-Tsaqafah, 18 Nurmahni Nurmahni. AuAHMAD AMIN: KRITIK DAN PEMIKIRANNYA TENTANG HADIS. Ay 19 Dhuha al-Islam. Ahmad Amin (Kairo : Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa atsTsaqafah, 2. 20 Ahmad Amin and Zaki Najib Mahmud. Qishah Al-Falsafah al-Yunaniyyah (Kairo : Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa ats-Tsaqafah, 2. 21 Ahmad Amin and Zaki Najib Mahmud. Qishah Al-Falsafah al-Haditsah (Kairo: Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa ats-Tsaqafah, 2. 22 Ahmad Amin. Zhuhr Al-Islam (Kairo : Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa atsTsaqafah, n. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. Faydh al-Khathir . , delapan jilid yang berisi artikel dan kumpulan tulisannya di majalah Ar-Risalah dan ats-Tsaqafah. Hayati . , sebuah autobiografi. Dalam pembuka. Ahmad Amin mengutip ucapan Sokrates Auknow thyself atau aAorif nafsaka bi nafsikaAy yang mendasari penulisan karya ini. Ila waladi . , kumpulan tulisan berupa wejangan atau nasihat untuk anakanaknya. Terinspirasi dari kisah Al-QurAoan tentang nasihat Luqman al-Hakim pada anaknya dan kisah Persia tentang nasihat Javidan Khurd. Asy-Syarq wa al-Gharb . , karya ini dianggap mewakili titik puncak pemikiran komparatif dari Ahmad Amin tentang peradaban. Karya-karya dari Ahmad Amin tersebut yang secara eksplisit membahasa\ mengenai etika terdapat pada Kitab al-Akhlaq, selain itu ada pada Dzuhr al-Islam. MabadiAo al-Falsafah, ada juga di beberapa tulisan dalam jilid dari Faydh al-Khathir, dan Asy-Syarq wa al-Gharb, namun dalam hal ini, penulis lebih berfokus pada karya etikanya yang spesifik yakni Kitab al-Akhlaq. Pada intinya Ahmad Amin merupakan intelektual yang matang baik dalam bidang hukum, sastra, hingga filsafat. Anak-anak dari Ahmad Amin menyebut ayahnya tersebut, dengan pujian yang menggambarkan kehidupan Ahmad Amin : AuEngkau menjalani kehidupanmu untuk pemikiran murni, menghadapkan anak-anak umat pada ilmu dan kebaikan, maka engkau adalah Sang Pemikir Timur. ufakkir asy-syar. dan orang bijak Islam. akim al-Isla. Ay. 27 Sebelum menelaah pemikiran etika Ahmad Amin, perlu untuk diidentifikasi dahulu tentang corak yang membedakan antara etika Barat dengan etika Islam. Etika Barat dan Etika Islam Bertens menjelaskan bahwa pengertian etika secara etimologis, berasal dari kata ethos (Yunan. yang bermakna banyak seperti : tempat tinggal yang biasa. rumput, kandang, habitat. kebiasaan, adat. akhlak, watak. perasaan, sikap, cara 23 Ahmad Amin and Zaki Najib Mahmud. Qishah Al-Falsafah al-Haditsah. 24 Ahmad Amin and Zaki Najib Mahmud. 25 Ahmad Amin. Ila Waladi (Kairo : Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa ats-Tsaqafah, 26 Makoto Mizutani. AuThe Journey of Liberalism in Egytp in the Twentieth Century : From Ahmad Amin to Husain Ahmad Amin. Ay 27 Abdurrahman AoAzam. Ahmad Amin Bi Qalamihi Wa Ashdiqaihi (Kairo : Lajnah at-TaAolif wa at-Tarjamah wa an-Nasyr, 1. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo Aristoteles menggunakan istilah AuetikaAy yang bermakna Auadat kebiasaanAy untuk menjelaskan filsafat moral. Maka pengertian etika dalam hal ini bermakna ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. 28 Dalam hal ini, adat kebiasan menjadi obyek pembahasan etika dalam pengertian tersebut. Adapun etika sebagai filsafat moral adalah refleksi kritis, metodis dan sitematis tentang tingkah laku manusia, sejauh berkaitan dengan norma. Moralitas sendiri pada intinya menjadi ciri khas manusia sejauh menyangkut tingkah lakunya antara AubaikAy atau AuburukAy. Sedangkan norma lebih berkaitan dengan nilai-nilai yang mendasari tindakan manusia antara AuhakAy dan AukewajibanAy dari manusia. 29 Penjelasan dari K. Bertens ini dapat disimpulkan menjadi pengertian umum terkait dengan etika. Etika Barat Islam. Perkembangan filsafat di Baarat tampaknya juga mempengaruhi pemikiran etika dalam filsafat. Sehingga corak pemikiran etika Barat memiliki karakteristik sesuai Mulai dari filsafat era klasik, pertengahan, modern, hingga kontemporer pada intinya pemikiran etika terjadi dalam dialetika antara rasio dengan wahyu, yang melahirkan aliran-aliran pemikiran etika seperti : aliran Eudamonisme. Hedonisme. Utilitarianisme, dan Deontologi hingga Pragmatisme. Dalam hal ini, tampaknya rasio dan bukti empiris menjadi lebih dominan dalam corak pemikiran etika Barat dengan menggeser posisi wahyu yang sempat dominan dalam etika. 30 Kesimpulannya adalah corak etika Barat yang mendasarkan pemikiran etikanya pada rasional-empiris. Corak dasar rasional-empiris dari etika Barat sebagaimana filsafat Barat dikembangkan paling awal pada era klasik, yaitu filsafat Yunani. Filsafat Yunani yang memberikan konsep dan istilah kunci dari filsafat yang meliputi metafisika, epistemologi, dan logika, tak terkecuali juga pada problem dan isu dalam etika Barat. Etika Barat yang dinamis ini dapat disebut juga sebagai ethical relativism atau etika relatifistik karena dalam etika Barat mengandaikan bahwa tidak ada ide moral yang absolut pada problem dan isu etika yang berbeda dan berkembang terus-menerus, sehingga menuntut adanya perspektif dan teori yang relatif dalam menanggapinya 28 Bertens. Etika (Yogyakarta: Kanisius, 2. 29 Bertens. Yunita Kurniati. AuKarakteristik Etika Islam Dan Etika Barat,Ay Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy 2, no. 1 (July 20, 2. : 41Ae62. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. sebagaimana tercermin dalam filsafat sejak zaman klasik. 31 Corak etika Barat yang rasional-empiris bahkan relatifistik tersebut tentu memiliki perbedaan dengan corak dari etika Islam. Adapun etika Islam lebih dikenal sebagai akhlaq atau akhlak. Akhlak sendiri berasal dari bahasa Arab khalaqa atau bentuk jamak dari khalqun yang berarti budi pekerti, tingkah laku, atau tabiat. Pengertian ini berkonotasi pada hubungan antara makhluk dengan Khaliq atau Pencipta (Tuha. Sehingga dasar yang paling otoritatif dalam hal akhlak atau etika Islam adalah wahyu, yaitu Al-QurAoan dan Sunnah. Dalam sejarahnya, etika dalam Islam dirumuskan oleh para intelektual Islam, baik dari golongan ahli hukum. , teolog. , filsuf, hingga para sufi. Majid Fakhry dalam Ethical Theories in Islam, etika Islam memiliki empat tipologi yang mendasari corak etika dalam Islam, yakni berupa : Pertama, yakni scriptural morality , berupa nilai moralitas yang tampak dalam Al-QurAoan dan Sunnah serta pada pemikiran dan analisis dari para teolog dan filsuf Islam dalam metode dari setiap diskursus. Kedua, theological theories, yakni dasar utama etika Islam yang dikembangkan para teolog seperti Muktazilah dan AsyAoariyyah dengan komitmen pada konsep Al-QurAoan tentang Tuhan sebagai Ilahi Yang Maha Kuasa. Pencipta. Pemberi Hukum dan Sumber segala wujud dan kebaikan di dunia. Ketiga, philosophical theories, dasar etika Islam yang berasal dari karya-karya etika seperti Plato,Aristoteles. Phytagorean. Stoa hingga Neoplatonik. Keempat, religious theories, yakni perpaduan antara world-view Al-QurAoan, konsep-konsep teologis, kategorikategori filosofis, dan dalam beberapa kasus pada tasawuf, sehingga ini merupakan karakteristik dasar etika Islam yang paling kompleks. 33 Dalam hal ini, corak etika Islam yang paling representatif adalah dasar etika Islam yang bersumber dari scriptural morality atau nilai moral kitab suci, yakni Al-QurAoan dan Sunnah, di samping adanya pengaruh dari etika Yunani klasik. Corak etika Barat dan etika Islam tampaknya memiliki kesamaan secara genealogis pada pemikiran etika Yunani klasik pada masing-masing etika tersebut. Brian Duignan. The History of Western Ethics (New York: Britannica Educational Publishing, 2. 32 Agustina Rusmini. AuETIKA PLATO DAN ARISTOTELES DAN RELEVANSINYA BAGI KONSEP KEBAHAGIAN DALAM ISLAM,Ay Living Islam: Journal of Islamic Discourses 6, 2 (August 25, 2. , https://doi. org/10. 14421/lijid. 33 Majid Fakhry. Ethical Theories in Islam (Leiden : E. Brill, 1. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo Namun, corak etika Barat yang relatif dan cenderung pada karakteristik yang rasionalempiris memiliki perbedaan yang mendasar dengan etika Islam yang meskipun mengadopsi etika Yunani tetap tidak meninggalkan Al-QurAoan sebagai sumber etika Islam. Dalam hal ini, pemikiran etika dari Ahmad Amin perlu kemudian dianalisis corak dan karakteristiknya yang tampaknya menempatkan kedua kakinya antara etika Barat dengan etika Islam. AoIlm al-Akhlaq sebagai Etika Karya dari Ahmad Amin yang paling penting tentang etika tentu adalah Kitab al-Akhlaq yang ditulis pada tahun 1922. Penulis merujuk pada dua versi dari kitab ini yakni Etika (Ilmu Akhla. yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof Farid MaAoruf pada tahun 197534 dan Kitab al-Akhlaq yang diterbitkan oleh Hindawi pada tahun 2012 dalam bahasa Arab. Kitab al-Akhlaq versi Hindawi secara keseluruhan lebih ringkas daripada buku Etika (Ilmu Akhla. Penulis lantas menggunakan keduanya untuk menganalisis pemikiran etika dari Ahmad Amin, karena kedua versi karya ini menjadi rujukan utama sebagai karya etika Ahmad Amin. Sebelum merujuk pada karya etika dari Ahmad Amin tersebut, sebagaimana yang telah dijelaskan, karya dari Ahmad Amin yang pertama merupakan karya terjemahan dari bukunya A. Rapoport yang berjudul A Primer of Philosophy. Ahmad Amin menerjemahkan karya Rapoport tersebut menjadi MabadiAo al-Falsafah. Salah satu bagian dalam buku tersebut yang berjudul AuEthicsAy. Rapoport menjelaskan bahwa ethics atau AuetikaAy berasal dari kata ethos(Yunan. yang berarti tabiat. Ahmad Latin Amin MabadiAo adat. al-Falsafah penjelasan ini dengan menggunakan istilah AuAoIlm al-AkhlaqAy untuk AuEthicsAy, lalu AualkhulqAy untuk AuethosAy dan AumorusAy serta Aual-AoadahAy dan "al-AourfAy untuk AucustomAy dan AuhabitAy. 36 Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa Ahmad Amin tidak membedakan antara menyebut al-Akhlaq sebagai AuetikaAy dan pada saat yang lain, istilah ini sepadan dengan AumoralAy. Istilah akhlak memang menjadi ciri khas dari dikursus etika dalam filsafat Islam. Dalam hal ini. Ahmad Amin lebih menggunakan istilah AuAoilm al-akhlaqAy untuk 34 Ahmad Amin. Ila Waladi. 35 Ahmad Amin. 36 A. S Rapoport. A Primer of Philosophy (London: John Murray, 1. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. menyebut etika secara umum, maka dalam hal ini pemikiran etika dari Ahmad Amin memiliki keotentikannya dengan istilah tersebut. Adapun al-akhlaq menurut Ahmad Amin merupakan AuAoadah al-iradahAy atau Aukebiasaan dari kehendakAy, yang tentu mengisyaratkan dominannya suatu keinginan secara langsung dan berturut-turut. Pengertian al-akhlaq dari Ahmad Amin tersebut memiliki kesaaman pada pemaknaan etika dari Aristoteles, namun dengan penekanan pada adanya iradah atau kehendak. Kehendak ini menjadi konsep kunci dalam pemikiran etika Ahmad Amin terutama dalam mengidentifikasi tindakan moral seseorang. Pengertian dan pokok pembahasan etika atau Aoilmu al-akhlaq dari Ahmad Amin tersebut mengarah kepada dasar dari tindakan manusia yakni iradah atau Ahmad Amin membedakan antara keinginan dengan kehendak. Keinginan manusia dapat berubah-ubah sesuai kondisinya, seperti keinginan untuk kenyang atau keinginan untuk menulis. Keinginan ini dapat saling berlawanan, namun hal ini secara alamiah dalam jiwa seseorang. Jika keinginan secara alamiah tersebut dominan, maka muncul niat hingga menjadi kehendak yang diikuti dengan perbuatan atau tindakan. Pemikiran etika dari Ahmad Amin berfokus pada pembasan dari AoIlm al-Akhlaq yang dijelaskan selanjutnya pada karyanya yang berjudul Kitab al-Akhlaq. Pengertian Aollm al-Akhlaq atau etika bagi Ahmad Amin dalam Kitab al-Akhlaq A O O EOAUA O OIO I OIO I EOI EON IIE EI NI AUAEI OO IOI EO O EA A O OIO EOE EIE I OIOAUAEO OIO I OCAN EI OA INEIA AuIlmu yang menjelaskan makna apa yang baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya ada dalam hubungan antar sesama manusia, menyatakan setiap tujuan yang seharusnya dituju oleh manusia dalam setiap tindakannya, serta menunjukkan jalan kepada tindakan yang semestinya. Ay 39 Dari pengertian tersebut. Ahmad Amin menjelaskan bahwa etika selalu berhubungan dengan moralitas . ang baik dan buru. dalam tindakan manusia. Hal ini dengan menggunakan istilah AuAoilmAy dengan Aual-akhlaqAy berkonotasi pada pengertian 37 A. S Rapoport. MabadiAo al-Falsafah. Terj. Ahmad Amin (Kairo: Muassasah Hindawi li at- TaAolim wa ats-Tsaqafah, 2. 38 Ahmad Amin. Kitab Al-Akhlaq. 39 Ahmad Amin. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo etika dalam konteks keilmuan yang membahas tentang moralitas dalam tindakan Etika dalam pengertian yang lebih luas memang berkonotasi pada keilmuan, sehingga pengistilahan etika sebagai Aoilm al-akhlaq oleh Ahmad Amin memiliki signifikansi dalam hal makna dan bahasa. Ahmad Amin sendiri lebih menggunakan istilah AuethicAy atau etika daripada Auilmu etikaAy dengan menyebutnya Auilm al-akhlaqAy. Ahmad Amin lantas menjelaskan bahwa yang menjadi pokok pembahasan dari etika atau Aoilm al-akhlaq adalah tindakan manusia yang dihukumi antara baik dan buruk berdasarkan kehendak . l-aAomal al-iradiyya. Tindakan yang tidak didasari oleh kehendak . l-aAomal ghair al-iradiyya. bukan menjadi pokok pembahasan etika, seperti: bernafas, atau berdetaknya jantung. Sedangkan tindakan yang didasari oleh kehendak . l-aAomal al-iradiyya. yang dihukumi baik atau buruk dan menutut adanya suatu tanggung jawab . asAouliyya. Maka inti pokok pembahasan etika atau Aoilm al-akhlaq dari Ahmad Amin adalah segala tindakan manusia yang dilakukan dengan kesengajaan dan pilihan, dimana si manusia itu mengetahui waktu tindakan sekaligus apa yang ia lakukan. Ahmad Amin lantas menambahkan bahwa ada dua macam tanggung jawab dalam tindakan manusia tersebut: Pertama, masAouliyyah qanuniyyah atau tanggung jawab hukum, dan Kedua, masAouliyyah akhlaqiyyah atau tanggung jawab moral. Tanggung jawab hukum lebih berhubungan dengan hukum atau aturan dari suatu negara atau wilayah dan mempertanggungjawabkan tindakan di hadapan hakim atau peradilan, sedangkan tanggung jawab moral berhubungan hukum atau perintah moral dengan pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan (Alla. dan di hadapan hati nuraninya . 4142 Dalam hal ini. Aoilm akhlaq dari Ahmad Amin juga merupakan etika yang berkonotasi pada filsafat moral atau etika dalam segi teoritis. Apabila berpijak pada apa yang disebut dengan tanggung jawab moral. Ahmad Amin menghubungkan hal tersebut dengan hati nurani atau dhamir. Hati nurani atau suara hati atau conscience disebut oleh Ahmad Amin sebagai Dhamir. Baginya, hati nurani atau dhamir ini merupakan potensi di kedalaman diri manusia untuk memperingatkannya dari suatu perbuatan buruk yang muncul dan mencegahnya dari melakukan hal tersebut. Dhamir ini yang membuat manusia menyesal ketika 40 Ahmad Amin. 41 Ahmad Amin. 42 Ahmad Amin. Zhuhr Al-Islam. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. melakukan perbuatan buruk, namun dapat memberikan rasa senang dan lapang dada ketika melakukan kewajiban. Ahmad Amin menyimpulkan bahwa hati nurani atau dhamir ini berupa Aual-quwwah al-amirah an-nahiyyahAy atau potensi atau kekuatan yang AumemerintahAy sekaligus AumelarangAy. 43 Dalam hal ini. Aoilm al-akhlaq atau pemikiran etika Ahmad Amin mendasarkan pada hati nurani atau conscience yang ia sebut Namun hati nurani tidak selamanya memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan, karena bagi setiap kondisi sosial suatu bangsa atau satu individu , hati nurani memiliki perbedaan dari zaman ke zaman. Ahmad Amin menegaskan bahwa Aumeskipun hati nurani berbeda dari setiap bangsa dan era, dan bahkan kadang-kadang salah, maka setiap manusia wajib untuk taat pada hati nuraninya, karena ia memerintahkan apa yang manusia yakini sebagai kebenaran, bukan pada apa yang benar sebagai kenyataan. Ay4445 Ahmad Amin lantas menyarankan bahwa dalam menaati hati nurani bertujuan agar manusia wajib untuk Aumenyinari jalan di hadapan hati nurani dengan meluaskan akal budinya, menguatkan pikirannya, serta mencari kebenaranAy. Dalam hal ini, tindakan manusia secara etika atau Aoilm al-akhlaq dikembalikan kepada apa yang disebutnya hukm al-akhlaqi . ukum mora. Jika sebelumnya telah diterangkan bahwa tindakan yang dihukumi secara moral antara baik atau buruk adalah yang berdasarkan pada kehendak, maka hukum moral atau hukm al-akhlaqi berangkat dari apakah ia bertolak dari sisi niat atau sisi hasil dari tindakan manusia. Ahmad Amin mengatakan : " AO IE EI EEI EECO O EO IA EIE II IEN IE O EI I IA EEI EO OA A O CO ECI EOAUA uI uNIAUAE uE EO IAI O EO II ICC NI II INEIA A E O I IO O IA N INAUA Au OI II uII IE AE IE EEI EONAUA"NIA AuOleh karena itu hukm al-akhlaqi tergantung pada pengetahuan atas niat dari si pelaku dalam tindakannya, maka kita tidak boleh untuk memvonis hukum tentang yang baik atau buruk kecuali terhadap diri kita sendiri atau terhadap orang yang kita ketahui niatnya dalam tindakannya, baik itu informasi darinya atau tanda-tanda yang menunjukkan niatnya, sehingga jika kita melihat pada seorang manusia suatu 43 Dhuha al-Islam. Ahmad Amin. 44 Ahmad Amin. Kitab Al-Akhlaq. 45 Ahmad Amin. Fajr Al-Islam. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo tindakan, maka jangan kita tergesa-gesa dalam menghukuminya, akan tetapi wajib kita untuk teliti sampai kita mengetahui niatnya. Ay46 Dasar dari hukm al-akhlaqi atau hukum moral dijelaskan oleh Ahmad Amin dengan adanya ukuran yang meningkat dari bawah ke atas. Ukuran ini dimulai dari al-Aourf atau adat kebiasan, lalu ar-raAoy asy-syakhshiy atau pendapat personal, kemudian pada al-wijdan atau suara batin, hingga pada al-Aoaql wa al-istidlal atau akal budi dan spekulasi dalil-dalil rasional. 47 Dasar-dasar yang diajukan oleh Ahmad Amin ini berkonotasi pada dialektika hukum moral dari adat kebiasan yang umum menuju pada akal budi atau nalar spekulatif-rasional. Ahmad Amin kemudian melanjutkan pemikiran etikanya tentang Hak dan Kewajiban . l-Huquq wa al-Wajiba. Ahmad Amin mendefinisikan bahwa hak adalah Auma li al-InsanAy atau apa Auyang harus untukAy manusia, sedangkan kewajiban sebagai AumaAoalayhiAy atau apa Auyang harus atasAy manusia, sehingga setiap individu pasti memiliki hak sekaligus kewajiban. 48 Dalam hal ini, hak dan kewajiban dari manusia yang berimplikasi pada tindakan moral dari manusia tersebut. Hak-hak yang disebut oleh Ahmad Amin yakni : . Haqq al-hayah atau Hak kehidupan, . Haqq al-hurriyyah atau Hak kebebasan, . Haqq al-milk atau Hak kepemilikan, serta . Haqq at-tarbiyy atau Hak pendidikan. Adapun kewajiban bagi Ahmad Amin teradapat kewajiban yang terpenting, hal ini terbagi menjadi lima : . alWajibat Aoala al-insan li Allah atau Kewajiban-kewajiban atas manusia kepada Allah, . Wajib al-insan nahwa nafsihi atau Kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri, . Wajib al-insan nahwa usratihi atau Kewajiban manusia terhadap keluarganya, . Wajib al-insan nahwa wathanihi . l-wathaniyya. atau Kewajiban manusia terhadap tanah airnya (Nasionalism. , serta . Wajib al-insan nahwa al-insaniyyah Aoammah atau Kewajiban manusia terhadap kemanusiaan secara umum. 49 Sebagaimana yang telah dijelaskan, pemikiran etika dari Ahmad Amin atau Aoilm al-akhlaq pada intinya bahwa etika mengarah kepada setiap tindakan yang dilandasi oleh hati nurani atau dhamir sehingga berujung kepada melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab moral dengan pertimbangan hukum moral atau hukm al-akhlaqi. 46 Ahmad Amin. Kitab Al-Akhlaq. 47 Ahmad Amin. Ahmad Amin. Ahmad Amin. Etika(Ilmu Akhla. Terj. Farid MaAoruf (Jakarta: Bulan Bintang, 1. 49 Ahmad Amin. Kitab Al-Akhlaq. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. Penjelasan tersebut dalam hal ini cukup representatif dalam memahami pemikiran etika Ahmad Amin. Namun dalam Kitab al-Akhlaq. Ahmad Amin juga menjelaskan beberapa pemikiran etika Barat dengan mengutip banyak filsuf Barat yang memiliki pandangan tentang etika. Penulis lantas mencoba melihat bagaimana pemikiran etika Barat tersebut untuk kemudian dapat ditinjau corak pemikiran etika Ahmad Amin dalam genealoginya antara Barat atau Islam. Etika Barat dalam Pemikiran Etika Ahmad Amin Rapoport yang karyanya tentang filsafat Barat diterjemahkan oleh Ahmad Amin, menjelaskan bahwa etika berhubungan dengan Auquestions of how he ought to be, how he should act, how shape and form his lifeAy. 50 Sebagaimana yang telah dijelaskan. Ahmad Amin ketika mendefinisikan Aoilm al-akhlaq sebagai etika secara eksplisit menggunakan pengertian dan penjelasan dari Rapoport tersebut. Termasuk juga ketika Rapoport menambahkan bahwa etika membahas tujuan dan tindakan manusia yang berdasarkan kehendaknya, tinjauan ini digunakan Ahmad Amin dalam pemikiran etikanya. Rapoport dengan tegas menyatakan bahwa etika. Authe study that inquiries into the sources, motives, aim, an laws, of our actionsAy,51 sedangkan Ahmad Amin menggunakan pengertian ini lalu menambahkannya dengan konotasi bagaimana studi etika tersebut menjadikan manusia pada hukum yang tersahih . shahhu hukma. dan pandangan yang terpercaya . shadaqu nadzra. Dalam hal ini. Ahmad Amin mengisyaratkan bahwa etika atau Aoilm al-akhlaq tersebut merupakan filsafat moral. AoIlm al-akhlaq ini tak sekedar pada panduan untuk menjadi manusia yang baik, namun lebih kepada refleksi atau studi kritsis tentang bagaimana tindakan manusia dapat dihukumi dalam kriteria moral antara baik dan Teori-teori etika atau aliran-aliran etika Barat lantas disajikan oleh Ahmad Amin dalam rangka Aoilm akhlaq yang perlu meluaskan pandangan dan menerapkannya dalam kehidupan, namun teori-teori tersebut tetap perlu untuk dikritisi secara Kriteria al-akhlaq mempertimbangkan baik dan buruk. Implementasi dari miqyas al-akhlaq oleh Ahmad Amin dijelaskan dalam teori etik dari beberapa aliran etika. Ahmad Amin 50 Ahmad Amin. 51 A. S Rapoport. A Primer of Philosophy. 52 A. S Rapoport. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo mengidentifikasi aliran-aliran beserta teorinya tersebut diambil dari aliran atau sistem etika Barat antara lain : Madzhab as-SaAoadah atau Aliran Hedonisme Aliran etika ini berpendapat bahwa ukuran baik atau buruk ada pada assaAoadah atau kebahagiaan. Ahmad Amin mengutip ucapan dari aliran ini yang berkata: AuSesungguhnya kebahagiaan adalah tujuan akhir dari kehidupanAy. Kutipan ini lebih merujuk kepada konsep Aristoteles tentang kebagiaan dengan istilah Eudamonia atau happiness. 54 Namun Ahmad Amin tidak menyandarkan secara langsung kutipan ini pada Aristoteles dari Nicomachean Ethics. Ahmad Amin kemudian menambahkan bahwa kata as-saAoadah dalam aliran ini dapat juga bermakna Autahshil al-ladzdzah wa tajannub al-alam atau menghasilkan kelezatan dan menjauhkan diri dari kesakitanAy. 55 Hal ini senada dengan konsep kebahagiaan . dari Epikuros dengan istilah hedone atau pleasure. Ahmad Amin tampaknya tidak membedakan antara eudamonia dari Aristoteles dengan hedone dari Epikuros ketika mengindetifikasi aliran atau teori kebahagian . s-saAoada. dalam etika. Namun dari aliran ini. Ahmad mengkritisi tentang pemikiran etika kebahagian ini dengan mempertanyakan kebahagian yang merupakan tujuan dan hasil dari tindakan manusia, tentu menjadi pertanyaan kepada siapa kebahagian ini ditujukan. Ahmad Amin membagi lagi aliran ini menjadi dua: Madzhab as-SaAoadah asy-Syakhshiyyah atau Hedonisme Egois Tokoh terbesar dari aliran ini adalah Epikuros. Pada intinya aliran hedonisme Epikuros lebih kepada kenikmatan rohani yang rasional . adzdzah alAoaqliyya. daripada kenikmatan jasmani, sehingga baginya Aukhayr al-ladzaidz huduww al-bal wa thumaAoninah an-nafsAy sebaik-baiknya kenikmatan adalah keheningan pikiran dan ketenangan jiw. Ay. Hal ini yang sering tidak dipahami dalam memahami pemikiran etika Epikuros atau aliran Epikurean. Ahmad Amin juga menambahkan filsuf hedonisme modern, yakni Thomas Hobbes, yang berpendapat bahwa Aumanusia pada secara natural mencintai dirinya sendiri, bertindak untuk kebahagiannya, sehingga dasar dari setiap tindakannya adalah 53 Ahmad Amin. Kitab Al-Akhlaq. 54 Ahmad Amin. 55 Aristoteles. The Nicomachean Ethics,Terj. David Ross (New York : Oxford University Press, n. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. Ay Bagi Ahmad Amin, pemikiran etik dari aliran hedonisme egoisme memiliki cacat karena setiap tindakan manusia hanya ditinjau berdasarkan kepentingan dirinya sendiri. 56 Pemikiran etika Barat ini bagi Ahmad Amin akan menjadi kontraproduktif ketika berhubungan dengan aturan atau moralitas secara sosial-kemasyarakatan. Madzhab as-SaAoadah al-AoAmmah atau Madzhab al-ManfaAoah atau Hedonisme Universal atau Utilitarianisme, tokoh yang disebut oleh Ahmad Amin adalah John Stuart Mill dan Jeremy Bentham. Inti dari aliran ini adalah berpandangan bahwa. Auukuran baik dan buruk adalah kebahagiaan terbesar bagi jumlah mayoritas terbanyakAy sehingga kebahagian setiap orang, bahkan setiap makhluk yang memiliki inderawi lebih utama daripada satu individu saja. Bagi Ahmad Amin kelamahan dari aliran etika ini terletak dari kesulutan untuk mengukur kriteria kebahagian bagi setiap orang termasuk binatang yang harusnya menghasilkan kebahagiaan dalam menentukan tindakan manusia dan tidak ada ukuran moral yng tetap karena pendapat dari masyarakat banyak yang justru menimbulkan perselisihan. Kritik dari Ahmad Amin dari kedua aliran ini lebih merujuk pada hasil atau tujuan yang ingin dicapai dalam tindakan menusia. Baik atau buruk ketika ditentukan oleh hasil atau tujuan bagi Ahmad Amin menjadi problematis karena relatifitas dari setiap pandangan dalam menentukan miqyas al-akhalaqi tersebut. Dalam hal ini pemikiran etika Barat yang beraliran hedonisme tampaknya tidak sesuai atau cocok dengan pemikiran etika dari Ahmad Amin. Madzhab al-Laqaniyyah . l-Bashira. atau Aliran Intuisi Aliran Intuisi ini merupakan antitesis dari madzhab as-saAoadah atau Madzhab al-Laqaniyyah berpandangan bahwa tindakan perbuatan tidak ditinjau berdasarkan hasil atau tujuan dari tindakan tersebut, melainkan kepada sifat dasar yang esensial dari tindakan itu sendiri. Seperti kejujuran itu baik pada dirinya sendiri, sebaliknya kebohongan itu buruk pada dirinya sendiri. Sehingga aliran ini memandang bahwa setiap manusia memiliki potensi atau kekuatan naluriah yang sifatnya batin, yang dengannya manusia dapat 56 Epicurus. The Art of Happines. Terj. George K Strodach (New York : Penguin Books. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo membedakan anatara yang baik dan buruk secara obyektif. 57 Ahmad Amin menggambarkan bahwa pontesi nalurah batin ini serupa pancaindera yng digunakan untuk mempersepsi atau merasakan, inilah yang disebut dengan allaqanah atau intuisi. Apabila aliran hedonisme dikritik oleh Ahmad Amin karena tidak adanya aturan baku atau hukum yang menentukan hasil dari tindakan manusia, maka madzhab al-laqaniyyah mendasarkan tindakan pada kebaikan sebagai kewajiban yang berdasarkan intuisi. Ahmad Amin bahkan mengilustrasikan bahwa pertimbangan tindakan yang hanya pada hasil kenikmatan atau kesakitan, sejatinya merupakan tindakan jual-beli. Ahmad Amin menegaskan : A OOI IE o uEON IIAUA OAO EAO IONAUAI EECO AO I OEOI A II EEA A ON NO I OAN O ON OA IO IEI OEOC NAUAOI O IONA AuAdapun orang yang bermoral wajib untuk lebih mulia dari . indakan jual-bel. tersebut, yakni dengan condong kepada suara hati nuraninya, mendengarkan aapa yng terilhamkan kepadanya dalam bentuk perintah atau larangan, dan inilah yang memuliakan dan mengangkat kedudukannya pada posisi yang terhormat. Ay58 Tokoh yang disebut oleh Ahmad Amin dalam aliran Intuisi ini merujuk pada filsafat Helenistik, yakni Stoa atau ar-Rawaqiyyin. Mulai dari Zeno hingga Epictetus, mereka berpendapat bahwa kenikmatan bukan tujuan dari manusia, akan tetapi untuk memperoleh keutamaan . l-fadhila. karena ia utama. Manusia dipuji bukan berdasarkan mahkota yang dikenakan sebagai raja atau pakaian compang-camping dari si fakir, akan tetapi ia terpuji dari caranya bertindak baik sebagai raja maupun sebagai fakir. Senada dengan hal ini. Epicetetus mengatakan: AuIngatlah bahwa engkau adalah aktor dalam sebuah drama, seperti yang diinginkan penulis naskah: pendek jika ia ingin pendek, panjang jika ia menginginkan panjang. Ay Ada juga filsuf modern yang dalam aliran Intuisi ini, yakni Immanuel Kant. Kant menegaskan bahwa suara batin atau hati nurani ini adalah akal budi yang menujukkan kepada kewajiban moral sehingga tindakan manusia terarah 57 Ahmad Amin. Kitab Al-Akhlaq. 58 Ahmad Amin. Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. pada tindakan yang bermoral jika berdasarkan arahan dari akal budi. Pemikiran etika dari Kant ini disebut juga dengan Deontologi. Kritik dari Ahmad Amin pada aliran Intuisi hanya kepada perbedaan antara hati nurani dari setiap manusia karena masih ada perselisihan dalam hukum moral padahal untuk hal yang sudah jelas. Pemikiran etika Barat yang telah disebutkan oleh Ahmad Amin tersebut dapat disimpulkan merujuk kepada pemikiran etika dari filsafat Yunani klasik dan filsafat Barat modern. Namun tampaknya Ahmad Amin menyajikannya dengan lebih sederhana, meskipun tidak mencantumkan sumber-sumber atau karya dari para filsuf tersebut. Sehingga dalam hal ini Ahmad Amin secara tidak langsung mengarahkan atau memperkenalkan pembaca karyanya tersebut pada sumber asli dari pemikiran etika Barat setiap aliran, namun ia lebih tampak berusaha memperkenalkan inti dari setiap aliran etika Barat tersebut dengan tidak menegasikannya tetapi dengan mengkritisinya. Kritik dari Ahmad Amin lebih berupa refleksinya ketika teori dari aliranaliran tersebut menjadi patokan moral atau miqyas al-akhlaqi, masih terdapat celah karena jika meninjau konteks sejarah dan sosial masyarakat yang masih terjadi ketimpangan antara teori dengan praktik. Namun dalam kedua aliran ini. Ahmad Amin lebih tampak menaruh simpati pada aliran Intuisi daripada aliran Hedonisme karena tampak pada penjelasan Ahmad Amin tentang hati nurani dan kewajiban sebelumnya. Pemikiran etika Barat terakhir yang disajikan oleh Ahmad Amin dalam Kitab al-Akhlaq adalah pembahasan tentang keutamaan atau al-fadhilah. Bab terakhir dalam Kitab al-Akhlaq tersebut dijelaskan secara panjang lebar termasuk berbagai bentuk keutamaan-keutaman dalam pemikiran etika. Rujukan utama dari Ahmad Amin dalam membahas al-fadhilah ini lebih kepada pemikiran etika dari Plato dan Aristoteles serta beberapa kutipan dari Al-QurAoan di beberapa bagian. Penulis menyimpulkan bahwa karya etika dari Ahmad Amin yakni merupakan karya tentang filsafat moral yang utuh dan lengkap karena menyajikan teori dan pandangan moral secara sistematis sekaligus kritis. Corak pemikiran etika Barat terutama filsafat Yunani tampaknya lebih dominan 59 Epictetus. Encheiridion. Terj. Irma Agrayanti (Yogyakarta: Penerbit Circa, 2. 60 Bertens. Etika. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo daripada corak etika Islam dalam karya ini. Namun perlu digaribawahi bahwa Aoilm al-akhlaq atau etika bagi Ahmad Amin tak lain agar setiap manusia memiliki pandangan atas tindakannya sendiri dalam konteks moral atau akhlaq. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh kuat pemikiran etika dari Ahmad Amin dapat dipahami memiliki pijakan Barat dan Islam sekaligus. Etika Islam dalam Pemikiran Etika Ahmad Amin Etika Islam yang digunakan oleh Ahmad Amin dalam Kitab al-Akhlaq lebih tampak pada rujukan Al-QurAoan dalam mendasari suatu penjelasan. Ahmad Amin menjelaskan bahwa setiap peradaban atau bangsa memiliki konsep etikanya masingmasing, mulai dari zaman Yunani klasik. Kristen Abad Pertengahan, hingga Barat Modern, ia juga menjelaskan etika dari bangsa Arab Jahiliyyah. Islam, dan filsafat Islam. Dalam hal ini, analisis sejarah Ahmad Amin terhadap etika lebih tampak dalam meninjau setiap pemikiran etika dari setiap perdaban dan bangsa sepanjang sejarah. Dalam penjelasan Ahmad Amin, bangsa Arab pada zaman jahiliyah tidak memiliki para filsuf yang memiliki pemikiran etika seperti Plato. Aristoteles. Epikuros, atau Zeno. Namun bangsa Arab jahiliyah memiliki ahli-ahli hikmah dan ahli-ahli syair yang memiliki pemikiran etika berupa perintah akan kebaikan dan mencegah kemungkaran, seperti hikmah Aktsam bin Shoifi, atau syair Zuhair bin Abi Sulma. Namun tampaknya Ahmad Amin tidak merinci pemikiran etika Arab Jahiliyyah tersebut sebagaimana ia merinci pemikiran Yunani Klasik. Hal ini mengisyaratkan bahwa terdapat permikiran etika dari bangsa Arab sebelum Islam datang walaupun masih dalam bentuk hikmah atau syair. Ketika Islam datang. Ahmad Amin menjelaskan bahwa Allah membawa syariAoat dan menetapkan keutamaan yang harus dilaksanakan seperti adil dan berbuat kebajikan, sehingga dengan keutamaan tersebut manusia memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Ahmad Amin mengatakan bahwa: AuAllah memerintahkan apa yang menjamin kebaikan dunia dan ketertibannya dan melarang apa yang menybabakan kerusakannyaAy. Dia lantas mengutip ayat Al-QurAoan tentang keadilan: a Aua acI acEE aOI aEA A a aOIEI aE a aOE aOo Oa aEI Ea aEac aEIA AE aO auEA a A aI aOuaOa aO O E aC a aOOa aINO a aI E a a aa a a Aa a acE aO aIA Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. AuSesungguhnya Allah menyuruh . berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil Ay(Q. An-Nahl: . Tampaknya telaah sejarah pemikiran etika dari Ahmad Amin pada masa Islam tersebut menujukkan bahwa syariat memiliki visi akhlaq atau moral dalam arti ia tidak hanya sekedar hukum. Sebelumnya Ahmad Amin membedakan antara tanggung jawab moral dengan tanggung jawab hukum, maka Ahmad menjelaskan bahwa pemikiran etika dalam bentuk syariat ini juga mengandung tanggung jawab moral di hadapan Tuhan karena adanya kewajiban atau perintah dari Allah. Ahmad Amin mengidentifikasikan bahwa pemikiran etika yang berdasarkan agama atau syariat tersebut berbeda dengan pemikiran etika yang berdasarkan penyelidikan ilmiah. Bagi Ahmad Amin, pemikiran etika berdasarkan penyelidikan ilmiah ini diwakili oleh para filsuf Islam, yakni Al-Farabi. Ikhwan as-Shafa. Ibn Sina, hingga Ibn Miskawayh dengan Tahdhib al-Akhlaq yang memadukan filsafat Plato. Aristoteles, dan Galen dengan Islam. Dalam hal ini, para filsuf Islam tersebut dipandang oleh Ahmad Amin telah melakukan usaha ilmiah tentang etika yakni dengan memadukan unsur-unsur filsafat Yunani klasik dengan Islam. Ahmad Amin lantas menyayangkan bahwa tidak banyak ulama bangsa Arab yang melakukan penyelidikan ilmiah sebagaimana para filsuf. Kritik dari Ahmad Amin diakhirinya dengan saran ketika mengatakan: AuAlangkah baiknya bila mereka memperluas teori-teorinya, menghasilkan apa yang tertinggal, dan menempatkan apa yang telah tetap kebenarannya dari pengetahuan baru di tempat yang tampak kesalahannya dari pengetahuan lama. Ay Dari kritik tersebut. Ahmad Amin mengikuti para filsuf Islam dengan memadukan unsur filsafat Yunani klasik dan Barat modern dalam pemikiran etikanya. Corak eklektik-dialektis dari pemikiran Ahmad Amin yang memadukan antara etika Islam dan etika Barat salah satunya ketika menjelaskan tentang al-fadhilah atau keutamaan yang berbentuk asy-syajaAoah al-adabiyyah atau keberanian yang beradab. Ahmad Amin mendefinisikan asy-syajaAoah al-adabiyyh, yaitu Auketika seorang manusia dapat melahirkan pendapatnya dan apa yang diyakininya benar, meskipun ia 61 Soenarjo. AuAl QurAoan Dan TermahnyaAy (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo menjadi pembicaraan orang-orang hingga menimbulkan murka penguasa. Ia tidak takut menanggung petaka yang akan menimpanya dalam mengatakan kebenaran atau pendirian dalam menyebarkannya yang terpenting. Ay Salah satu contoh ini kemudian dilanjutkan oleh Ahmad Amin dengan memberikan contoh figur-figur yang memiliki keutamaan ini, seperti Nabi Muhammad Saw. Sokrates. Ibn Ruysd. Ibn Taymiyyah. Galileo Galilei, hingga Charles Darwin. Ketika Abu Thalib menemui Nabi Muhammad Saw. untuk menasehatinya agar tidak lagi berdakwah, lantas Nabi Saw. menjawab: AuWahai paman, demi Allah, jikalau mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini sehingga Allah menampakkannya atau aku hancur, niscaya aku tidak akan meninggalkannya. Ay Keberanian yang beradab Nabi Muhammad Saw. tersebut terdapat pula pada sosok Sokrates yang dihukum mati karena dituduh menyesatkan kaum muda Yunani. Begitu pula Ibn Rusyd dan Ibn Taymiyyah yang dihukum penjara atau Galileo dan Darwin yang dicemooh karena pendapat ilmu pengetahuan mereka yng baru tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan pada zamannya. Etika Islam dalam pemikiran Ahmad Amin dapat dipastikan lebih merujuk pada dasar-dasar Al-QurAoan sebagaimana yang ia kutip dan jelaskan. Namun Ahmad Amin lebih banyak mengutip pemikiran etika khususnya Plato dan Aristoteles. Dalam hal ini, dapat dipastikan bahwa Ahmad Amin berusaha membangun pemikiran etika Islam dengan tidak mengesampingkan pemikiran etika sebelumnya yaitu filsafat Yunani. Sekali lagi argumen yang dibangun lebih berdasar pada analisis sejarah. Ahmad Amin sendiri dapat dipastikan melakukan proyek yang sama dengan para filsuf Islam sebelumnya seperti Al-Farabi atau Ibn Miskawayh yang memadukan unsur filsafat Hellenis dengan Islam. Hanya saja Ahmad Amin tampak kurang tegas dalam menyatakan pemikiran etikanya antara Islam atau Barat. Hal ini dapat memberikan konotasi bahwa yang diinginkan oleh Ahmad Amin adalah konteks etika yang universal dan holistik. Corak Pemikiran Etika Ahmad Amin: Antara Barat dan Islam Dalam bukunya yang berjudul Hayati. Ahmad Amin mengatakan bahwa: Autiadalah aku ini kecuali merupakan hasil yang pasti dari setiap hal yang berlangsung pada diriku sendiri dan pada para pendahuluku dari segala yang terjadiAy. Dalam hal ini, karena pemikiran Ahmad Amin yang cenderung pada sejarah pemikiran, ia Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. mengisyaratkan dirinya sendiri dalam pengaruh para pemikir sebelumnya, begitu pula dalam hal etika. Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa kritik etika dari Ahmad Amin lebih merujuk pada sejarah begitu pula ketika ia membangun pemikiran etikanya juga berdasarkan telaah atas sejarah pemikiran etika. Dalam karyanya yang lain yakni Zhuhr al-Islam. Ahmad Amin menjelaskan bahwa pemikiran etika dalam sejarah Islam dibangun dengan memadukan banyak unsur-unsur baik dari Islam sendiri maupun dari luar, seperti Yunani atau Persia. Pemikiran etika dalam Islam singkatnya merupakan dialeketika antara agama dan nalar, antara individu dan sosial, bahkan politik dan ekonomi, sebagaimana tercermin dalam pemikiran para filsuf Islam. Maka dapat disimpulkan corak pemikiran etika Islam yang dialektis dan eklektis tersebut tampaknya juga terdapat dalam pemikiran etika Ahmad Amin. Jika meninjau kembali pemikiran etika dari Ahmad Amin yang tercermin dalam Kitab al-Akhlaq, maka corak eklektis dan kritis dari Ahmad Amin dalam memadukan etika Barat dan Islam tampak pada kecenderungan dari Ahmad Amin pada etika deontologi yang mendasarkan tindakan manusia pada hati nurani . dan kewajiban pada hukum moral. Hal ini tampak juga dalam kritiknya pada aliran hedonisme daan utilitarianime yang hanya mendasarkan tindakan manusia pada tujuan atau hasil tindakan. Adapun corak etika Barat yang lebih tampak ketika ia membahas tentang al-fadhilah dan keadilan dengan rujukan dari Plato. Aristoteles, dan Al-QurAoan. Pemikiran etika Ahmad Amin yang ia sebut Aoilm al-akhlaq pada intinya menemukan akar pemikiran etika Barat yang dibahasakan lebih mudah dan sesuai dengan ciri Islam yang universal. Corak etika Barat yang rasional-empiris dan etika Islam yang lebih religius dengan tidak meninggalkan sumber kitab suci keduanya ada dalam pemikiran etika Ahmad Amin. Jika dapat dikategorikan aliran etika dari Ahmad Amin, maka ia lebih dekat dengan aliran deontologi dari etika Barat, dan philosophical theories dalam tipologi etika Islam dari Majid Fakhry. Penulis sendiri menilai bahwa Ahmad Amin berusaha membangun pemikiran etika yang lebih universal dan utuh dengan M. Ikhbar Fiamrillah Zifamina. Waluyo memadukan etika Barat dan etika Islam agar luasnya teori berimplikasi pada praktek yang lebih luas juga. Ahmad Amin dalam Asy-Syarq wa al-Gharb berkata:62 A E O I IN COAUAO IIOE I EEC E OEAO AON I EOI CO CEO EI OO EA AOO EI OO ECA AuDan dari apa yang telah dijabarkan bahwasanya Akhlak itu tidak cukup jika hanya dengan kaidah-kaidah rasional sebagaimana tampak di Barat, akan tetapi wajib untuk diperkuat dengan pontensi ruhani sebagaimana tampak di TimurAy. SIMPULAN Pemikiran etika dari Ahmad Amin dalam karyanya yang berjudul Kitab alAkhlaq sampai kepada kesimpulan bahwa corak etika Barat yang rasional-empiris tampak dalam rumusan dari Ahmad Amin tentang etika. AoIlm al-Akhlaq sebagai etika yang sebelumnya tampak dalam terjemahan karya filsafat Barat dapat dipahami sebagai keotentikan dari Ahmad Amin dalam memaparkan diskursus etika sebagai filsafat moral. Karya Ahmad Amin tersebut memang lebih memiliki akar pemikiran etikanya di Barat, namun corak etika Islam sendiri yang memadukan antara filsafat moral Barat dan sumber Al-QurAoan juga dihadirkan oleh Ahmad Amin. Oleh karena itu, pemikiran etika Ahmad Amin yang disebutnya dengan Aoilm al-akhlaq dipengaruhi kuat oleh etika Islam sekaligus etika Barat. Etika Islam yang berbasis pada kitab suci dan etika Barat, khususnya Aristoteles dan aliran deontologi. Corak eklektik dan kritis tampaknya lebih reprensetatif dalam menggambarkan corak keseluruhan dari pemikiran etika dari Ahmad Amin karena etika Barat sekaligus etika Islam mendapatkan tempat yang setara dalam pemikiran etika dari pemikir Islam modern tersebut. Etika Islam dan Barat dipadukan oleh Ahmad Amin secara kritis dalam pemikiran etikanya. Teori-teori Barat yang disajikan oleh Ahmad Amin berimplikasi pada perlu adanya pemahaman yang luas akan pemikiran etika, yang tidak hanya dari Islam, namun ditemukan pula dalam filsafat Barat baik Yunani maupun modern. Impikasi dari pemikiran etika Ahmad Amin tentu lebih kepada penerapan teori ini dalam praktik keseharian yang mengarah kepada kehidupan bermoral sekaligus berkeutamaan. 62 Ahmad Tsaqafah, 2. Amin. Asy-Syarq Wa al-Gharb (Kairo: Muassasah Hindawi li at-TaAolim wa ats- Dialektika Moral Etika Barat dan IslamA. DAFTAR PUSTAKA