JURNAL MASYARAKAT MANDIRI DAN BERDAYA Volume i. Nomor 6. Tahun 2024 Available Online at : https://e-journal. id/index. php/mbm TRANSFER IPTEK PENGARUH INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP PENINGKATAN TEKANAN DARAH Darsini. Program Studi S-1 Ilmu Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Jombang. Email : darsiniwidyanto4@gmail. Eko Agus Cahyono. Program Studi Keperawatan. Akademi Keperawatan Dian Husada Mojokerto. Email : ekoagusdianhusada@gmail. Iil Dwi Lactona. Program Studi Ilmu Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto. Email : ilmayraqueen@gmail. Korespondensi : darsiniwidyanto4@gmail. ABSTRAK Kondisi indeks massa tubuh berlebih dengan terjadinya hipertensi, merupakan kejadian yang masih sering ditemui di lingkungan masyarakat. Prevalensi penderita obesitas yang disertai dengan penyakit hipertensi juga terus mengalami peningkatan. Menurut beberapa penelitian, obesitas dengan terjadinya hipertensi memiliki hubungan yang bermakna. Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya menjelaskan jika individu yang memiliki IMT dengan golongan obesitas akan memiliki risiko sebesar 1,64 kali untuk menderita hipertensi dibandingkan dengan IMT normal. Menurunkan indeks massa tubuh atau menurunkan berat badan merupakan upaya yang dapat dilakukan oleh penderita hipertensi untuk mengendalikan tekanan darah agar tetap berada dalam kondisi optimal dan sekaligus menurunkan risiko terjadinya penyakit lain. Kegiatan PKM ini dilakukan menggunakan metode edukasi. Materi disampaikan kepada peserta kegiatan melalui kegiatan ceramah dan tanya jawab. Evaluasi kegiatan dilakukan secara sumatif. Berdasarkan hasil pengumpulan data . retest Ae posttes. didapatkan bahwasanya tingkat pengetahuan baik tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula hanya 1 peserta . ,8%), naik sebanyak 3 peserta menjadi 4 peserta . ,4%), tingkat pengetahuan cukup tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula 9 peserta . ,6%) naik sebanyak 5 peserta menjadi 14 peserta . ,8%) dan tingkat pengetahuan kurang tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula 16 peserta . ,5%) turun sebanyak 8 peserta menjadi 8 peserta . ,8%). Hasil ini secara tidak langsung menunjukkan bahwasanya terjadi perubahan pengetahuan tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah pada peserta kegiatan pengabdian kepada Transfer IPTEKS dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk nyata kontribusi civitas akademika terhadap masyarakat. Sedapat mungkin kegiatan transfer IPTEKS dilakukan oleh civitas akademika secara rutin terutama yang berhubungan dengan pemandirian masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatan guna memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan dan sekaligus mampu mengupayakan peningkatan derajat kesehatan yang mereka miliki Kata Kunci : Pengetahuan. Indeks Massa Tubuh. Tekanan Darah Hal | 105 PENDAHULUAN Program pembangunan nasional di Indonesia yang diadopsi dari SDGs 2030 merupakan program pembangunan yang berkelanjutan dimana prinsip yang mendasari adalah no left behind (Mentari & Susilawati, 2. Prinsip pembangunan kesehatan ini secara tegas menyatakan bahwasanya setiap masyarakat yang ada di Indonesia akan dilibatkan baik secara langsung maupun tidak langsung dan merasakan dampak adanya pembangunan kesehatan tersebut. Beberapa dampak dari pembangunan yang dilakukan di Indonesia ini adalah kemudahan dalam penggunaan teknologi, pemanfaatan akses transportasi dan kemudahan untuk mengakses beragam jenis makanan (Ramadanisa & Triwahyuningtyas, 2. Namun dilain sisi, kemudahan yang didapatkan oleh masyarakat tersebut mengakibatkan masyarakat Indonesia enggan untuk melakukan aktivitas fisik serta lebih memilih mengkonsumsi makanan cepat saji menjadikan munculnya permasalahan baru yaitu peningkatan angka kejadian obesitas di Indonesia (Salim et al. , 2. Obesitas ditandai dengan terjadinya peningkatan indeks massa tubuh terutama pada bagian perut atau lebih dikenal dengan obesitas Obesitas menjadi masalah di berbagai belahan dunia dimana prevalensinya meningkat dengan cepat, baik di negara maju maupun negara berkembang. Terjadinya peningkatan obesitas di seluruh dunia memiliki dampak penting pada gangguan kesehatan dan penurunan kualitas hidup (Septiyanti & Seniwati, 2. Obesitas memiliki kontribusi penting terhadap kejadian penyakit hipertensi, hiperurisemua, diabetes mellitus tipe 2, kanker, osteoarthritis, dan sleep apnea di seluruh dunia (Seidell & Halberstadt, 2015. Kholifah et al. , 2. WHO (World Health Organizatio. melaporkan bahwa sebanyak 650 juta orang dewasa, 340 juta remaja, dan 39 juta anak-anak diseluruh dunia mengalami WHO memperkirakan pada tahun 2025, sekitar 167 juta orang dewasa dan anak-anak akan menjadi kurang sehat karena obesitas (WHO, 2. Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang melibatkan 599. 528 penduduk di seluruh Indonesia, dilaporkan jumlah penderita obesitas sentral . besitas abdomina. di Indonesia mencapai 36,8% dari jumlah masyarakat yang terlibat dalam kegiatan survey . % CI 36,6-37,. Untuk wilayah Jawa Timur, dilaporkan angka kejadian obesitas sentral sebesar 38,2% dari 94,457 masyarakat yang terlibat dalam kegiatan survey . % CI 37,5-39,. (BKPK Kemenkes RI, 2. Obesitas menjadi permasalahan yang membutuhkan perhatian serius mengingat obesitas yang dialami oleh seseorang akan memicu berbagai gangguan kesehatan lain seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan hiperurisemia (Yunus et al. , 2. Hasil pengumpulan data awal melalui kegiatan FGD didapatkan data bahwasanya masih banyak masyarakat di Desa Gayaman Kabupaten Mojokerto yang belum menyadari resiko IMT (Indeks Massa Tubu. diatas batas normal. Hasil wawancara yang dilakukan dengan penanggungjawab kesehatan di Desa Gayaman Kabupaten Mojokerto menyatakan bahwasanya masyarakat meskipun mengalami obesitas, mereka beranggapan bahwasanya kondisi kesehatan yang mereka miliki masih dalam batas normal. Hal ini dikarenakan mereka masih dapat beraktivitas secara normal dan jarang mengalami keluhan sakit Indeks massa tubuh diatas batas normal atau lebih dikenal dengan obesitas, merupakan kelainan kompleks pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi yang dikendalikan oleh faktor biologi spesifik. Faktor genetik sangat berpengaruh bagi perkembangan penyakit ini. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan. Obesitas diketahui sebagai Hal | 106 faktor utama dari berbagai macam penyakit seperti penyakit jantung koroner (PJK), stroke iskemik, hipertensi, hiperurisemia, dan diabetes mellitus tipe 2 (DMT. yang terjadi di negara maju maupun negara berkembang (Septiyanti & Seniwati, 2. Mekanisme yang menghubungkan obesitas dan hipertensi meliputi faktor diet, metabolik, disfungsi endotel dan vaskular, retensi natrium, hiperfiltrasi glomerulus, proteinuria, imun maladaptif dan respon inflamatoris. Jaringan lemak viseral mengakibatkan terjadinya resistensi terhadap insulin maupun leptin, juga merupakan tempat perubahan sekresi molekul dan hormon seperti adiponektin, leptin, resistin. TNF dan IL-6, yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya penyakit kardiovaskular. Mikroba usus juga berperan dalam modulasi mekanisme Selain itu asam urat, perubahan aktifitas inkretin dan DP-4 . ipeptidil peptidase-. juga berperan dalam terjadinya hipertensi pada obesitas (Tiara, 2. Pada fase awal obesitas, retensi natrium terjadi sebagai akibat dari peningkatan reabsorpsi tubular renal. Volume cairan ekstraselular bertambah sehingga aparatus cairan ginjal mengatur ulang tingkat hipertensi, konsisten dengan model hipertensi akibat volume cairan berlebih. Aktivitas renin plasma, nilai angiotensionogen, angiotensin II dan aldosteron plasma meningkat bermakna dengan kondisi obesitas. Resistensi insulin dan inflamasi mengubah profil fungsi vaskular dengan konsekuensi terjadi hipertensi. Leptin dan neuorpeptidase lain diduga merupakan rantai penghubung obesitas dan hipertensi (Kartika & Purwaningsih, 2. Kondisi indeks massa tubuh berlebih dengan terjadinya hipertensi, merupakan kejadian yang masih sering ditemui (Kholifah et al. , 2. Prevalensi penderita obesitas yang disertai dengan penyakit hipertensi juga terus mengalami Menurut beberapa penelitian, obesitas dengan terjadinya hipertensi memiliki hubungan yang bermakna. Dari penelitian Jullaman . Kartika & Purwaningsih, 2. menjelaskan jika penderita memiliki IMT dengan golongan obesitas akan memiliki risiko sebesar 1,64 kali untuk menderita hipertensi dibandingkan dengan IMT normal. Menurunkan indeks massa tubuh atau menurunkan berat badan merupakan upaya yang dapat dilakukan oleh penderita hipertensi, hiperurisemia dan diabetes mellitus tipe 2 dalam upaya untuk mengendalikan tekanan darah, kadar asam urat dalam darah dan kadar gula dalam darah agar tetap berada dalam kondisi optimal dan sekaligus menurunkan risiko terjadinya penyakit lain (Fitriani & Sanghati, 2. Kunci untuk mencegah obesitas adalah bertindak sejak dini, idealnya bahkan sebelum bayi dikandung. Bagi penderita obesitas, menerapkan pola hidup sehat, rajin melakukan aktivitas fisik, dan melakukan pembatasan jumlah asupan makanan yang dikonsumsi adalah kunci utama untuk mencegah terjadinya peningkatan berat badan METODE PELAKSANAAN Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan melalui metode edukasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat diawali dengan kegiatan FGD (Focus Group Discussio. dengan penanggungjawab kesehatan di Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar Kabupaten Mojokerto. Kegiatan FGD ini dilakukan pada bulan September 2024. Dari hasil FGD yang dilakukan didapatkan 2 permasalahan kesehatan utama yaitu obesitas dan hipertensi. Selanjutnya tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat melakukan penyusunan kegiatan sosialisasi yang akan dilakukan kepada masyarakat. Tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat selanjutnya juga melakukan penyusunan materi kegiatan sosialisasi termasuk mempersiapkan lembar evaluasi yang akan digunakan sebagai instrument pengumpulan data. Tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat Hal | 107 bersama dengan mahasiswa ilmu keperawatan tingkat 2, selanjutnya mempersiapkan kebutuhan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pada bulan Oktober 2024. Adapun jumlah peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang hadir sebanyak 26 peserta HASIL Usia peserta PKM Tabel 1. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan usia Keterangan Jumlah Prosentase (%) 21-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun Jumlah Sumber : Data primer PKM, 2024 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan lebih dari separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berusia 31-40 tahun yaitu sebanyak 14 peserta . ,8%) Jenis kelamin peserta PKM Tabel 2. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan jenis kelamin Keterangan Jumlah Prosentase (%) Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber : Data primer PKM, 2024 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah perempuan yaitu sebanyak 16 peserta . ,5%) Aktivitas pekerjaan peserta PKM Tabel 3. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan aktivitas pekerjaan Keterangan Jumlah Prosentase (%) Aktif bekerja Tidak bekerja / IRT Jumlah Sumber : Data primer PKM, 2024 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan lebih dari separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat aktif bekerja yaitu sebanyak 14 peserta . ,8%) Latar belakang pendidikan peserta PKM Tabel 4. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan latar belakang pendidikan Keterangan Jumlah Prosentase (%) Lulus SD Lulus SMP Hal | 108 Lulus SMA Jumlah Sumber : Data primer PKM, 2024 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki latar belakang pendidikan lulus SMA yaitu sebanyak 20 peserta . ,9%) IMT peserta PKM Tabel 5. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan IMT (Indeks Massa Tubu. Keterangan Jumlah Prosentase (%) Kelebihan BB tingkat berat . Kelebihan BB ringan . BB normal Jumlah Sumber : Data primer PKM, 2024 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki IMT (Indeks Massa Tubu. dalam kategori kelebihan berat badan ringan . yaitu sebanyak 13 peserta . ,0%) Tekanan darah peserta PKM Tabel 6. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan IMT (Indeks Massa Tubu. Keterangan Jumlah Prosentase (%) Hipertensi tingkat 2 Hipertensi tingkat 1 Pra-hipertensi Normal Jumlah Sumber : Data primer PKM, 2024 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan lebih dari separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki tekanan darah dalam kategori normal yaitu sebanyak 14 peserta . ,8%) Pengetahuan peserta PKM tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah sebelum kegiatan PKM dilakukan Tabel 7. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pengetahuan tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah sebelum kegiatan PKM Keterangan Jumlah Prosentase (%) Pengetahuan baik Pengetahuan cukup Pengetahuan kurang Jumlah Sumber : Data primer PKM, 2024 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat . engumpulan data pretes. didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan kurang tentang korelasi Hal | 109 antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yaitu sebanyak 16 peserta . ,5%) Pengetahuan peserta PKM tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah setelah kegiatan PKM dilakukan Tabel 8. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pengetahuan tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah setelah kegiatan PKM Keterangan Jumlah Prosentase (%) Pengetahuan baik Pengetahuan cukup Pengetahuan kurang Jumlah Sumber : Data primer PKM, 2024 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat . engumpulan data posttes. didapatkan lebih dari separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan cukup tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yaitu sebanyak 14 peserta . ,8%) PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengumpulan data didapatkan bahwasanya tingkat pengetahuan baik tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula hanya 1 peserta . ,8%), naik sebanyak 3 peserta menjadi 4 peserta . ,4%), tingkat pengetahuan cukup tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula 9 peserta . ,6%) naik sebanyak 5 peserta menjadi 14 peserta . ,8%) dan tingkat pengetahuan kurang tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula 16 peserta . ,5%) turun sebanyak 8 peserta menjadi 8 peserta . ,8%). Hasil ini secara tidak langsung menunjukkan bahwasanya terjadi perubahan pengetahuan tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah pada peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan adalah hasil kegiatan ingin tahu manusia tentang apa saja melalui cara-cara dan dengan alat-alat tertentu. Pengetahuan ini bermacam-macam jenis dan sifatnya, ada yang langsung dan ada yang tak langsung, ada yang bersifat tidak tetap . erubah-uba. , subyektif, dan khusus, dan ada pula yang bersifat tetap, obyektif dan umum. Jenis dan sifat pengetahuan ini pengetahuan ini tergantung kepada sumbernya dan dengan cara dan alat apa pengetahuan itu diperoleh, serta ada pengetahuan yang benar dan ada pengetahuan yang salah. Tentu saja yang dikehendaki adalah pengetahuan yang benar (Suhartono, 2007. Suwanti dan Aprilin, 2. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003. Suwanti dan Aprilin, 2. Peningkatan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dimungkinkan untuk terjadi mengingat adanya kegiatan Hal | 110 transfer IPTEKS yang dilakukan oleh tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat atau lebih dikenal dengan sebuat health education. Health education atau pendidikan kesehatan adalah proses belajar mengajar yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu dalam mengadopsi gaya hidup sehat. Pendidikan kesehatan dapat dilakukan pada tingkat individu, komunitas, atau populasi. Pendidikan kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diantaranya : . Membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit kronis dan kesehatan mental, . Memengaruhi kebijakan dan hasil ekonomi, dan . Meningkatkan pengetahuan dan praktik sehat di semua kelompok umur. Pendidikan kesehatan merupakan proses yang dinamis, bukan hanya transfer materi atau teori dari seseorang ke orang lain. Perubahan yang terjadi dalam pendidikan kesehatan didasarkan pada kesadaran individu, kelompok, atau masyarakat. Ketika kelompok masyarakat atau individu mendapatkan informasi atau terpapar sebuah ilmu baru, maka dalam diri individu tersebut akan terjadi proses adopsi informasi, terutama jika informasi ini dirasakan penting oleh individu. Proses adopsi informasi ini tidak terlepas dari beragam faktor dan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing individu dimana salah satu faktor yang berpengaruh adalah latar belakang pendidikan. Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki latar belakang pendidikan lulus SMA yaitu sebanyak 20 peserta . ,9%) Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap positif terhadap objek Menurut teori WHO (World Health Organizatio. , salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri (Wawan, 2010. Fatim dan Suwanti, 2. Pengetahuan merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan hasil pengalaman seseorang tentang Dalam tindakan mengetahui selalu kita temukan dua unsur utama yaitu subjek yang mengetahui (S) dan sesuatu yang diketahui atau objek pengetahuan (O). Keduanya secara fenomenologis tidak mungkin dipisahkan satu dari yang lain. Karena itu pengetahuan dapat kita katakan sebagai hasil tahu manusia tentang sesuatu atau perbuatan manusia untuk memahami objek yang sedang dihadapi (Kebung, 2. KESIMPULAN Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat . engumpulan data pretes. didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan kurang tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yaitu sebanyak 16 peserta . ,5%) Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat . engumpulan data posttes. didapatkan lebih dari separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan cukup tentang korelasi antara IMT (Indeks Hal | 111 Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yaitu sebanyak 14 peserta . ,8%) Berdasarkan hasil pengumpulan data . retest Ae posttes. didapatkan bahwasanya tingkat pengetahuan baik tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula hanya 1 peserta . ,8%), naik sebanyak 3 peserta menjadi 4 peserta . ,4%), tingkat pengetahuan cukup tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula 9 peserta . ,6%) naik sebanyak 5 peserta menjadi 14 peserta . ,8%) dan tingkat pengetahuan kurang tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah yang semula 16 peserta . ,5%) turun sebanyak 8 peserta menjadi 8 peserta . ,8%). Hasil ini secara tidak langsung menunjukkan bahwasanya terjadi perubahan pengetahuan tentang korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubu. dengan peningkatan tekanan darah pada peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat. SARAN