Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Original Article Pain Management With A Combination Of Back Massage Therapy And Slow Breath Exercise In Pain For Elderly Rheumatoid Arthritis Patients Manajemen Nyeri Dengan Kombinasi Terapi Back Massage Dan Slow Breath Exercise Pada Nyeri Pasien Lansia Rheumatoid Arthritis Lisdahayati1. Gunardi Pome2. Saprianto3. Umar Hasan Martadinata4. Adam Emha Adyatma5 1,2,3,4,5 Program Studi D-i Keperawatan Baturaja. Poltekkes Kemenkes Palembang *Corresponding Author: Lisdahayati Program Studi D-i Keperawatan Baturaja. Poltekkes Kemenkes Palembang Email: lisdahayati@poltekkespalembang. Keyword: Back Massage. Elderly. Pain Management. Rheumatoid Arthritis. Slow Breath Kata Kunci: Back Massage. Lansia. Manajemen Nyeri. Rheumatoid Arthritis. Slow Breath. A The Author. 2025 Abstract Pain in the elderly with Rheumatoid Arthritis is a significant health problem, affecting physical, psychological and social quality of life. Non-pharmacological therapies such as back massage and slow breath exercise are considered effective in reducing pain and increasing patient comfort. This study aims to evaluate the effectiveness of a combination of back massage therapy and slow breath exercise in pain management in elderly with Rheumatoid Arthritis. This study used a case study design with two elderly Rheumatoid Arthritis patients who experienced moderate pain. The intervention was carried out for three consecutive days, with a duration of 10-15 minutes per session. Data were collected through interviews, observations, and pain scale measurements using MNEMONIC PQRST. Data analysis was done descriptively. The results showed a significant decrease in the pain scale after the intervention. Client I experienced a decrease in pain from scale 5 . to scale 1 . , while Client II from scale 5 to scale 2 . This combination of therapies proved effective in reducing pain and increasing patient comfort. The combination of back massage therapy and slow breath exercise is effective in reducing pain in the elderly with Rheumatoid Arthritis. This therapy can be recommended as a non-pharmacological intervention that is safe and easy to implement. Family support is needed in the application of this therapy to increase its effectiveness. Further research with a larger sample and longer duration of intervention is needed to corroborate these Abstrak Article Info: Received : March 11, 2025 Revised : April 8, 2025 Accepted : April 10, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Nyeri pada lansia dengan Rheumatoid Arthritis merupakan masalah kesehatan yang signifikan, memengaruhi kualitas hidup secara fisik, psikologis, dan sosial. Terapi nonfarmakologis seperti back massage dan slow breath exercise dianggap efektif dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise dalam manajemen nyeri pada lansia dengan Rheumatoid Arthritis. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan dua pasien lansia Rheumatoid Arthritis yang mengalami nyeri Intervensi dilakukan selama tiga hari berturut-turut, dengan durasi 10-15 menit per sesi. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pengukuran skala nyeri menggunakan MNEMONIC PQRST. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan pada skala nyeri setelah intervensi. Klien I mengalami penurunan nyeri dari skala 5 . menjadi skala 1 . , sedangkan Klien II dari skala 5 menjadi skala 2 . Kombinasi terapi ini terbukti efektif dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien. Kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise efektif dalam mengurangi nyeri pada lansia dengan Rheumatoid Arthritis. Terapi ini dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis yang aman dan mudah diterapkan. Perlu adanya dukungan keluarga dalam penerapan terapi ini untuk meningkatkan efektivitasnya. Penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan durasi intervensi yang lebih panjang diperlukan untuk menguatkan temuan ini. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 PENDAHULUAN Nyeri pada lansia biasanya disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM)1, salah satu contohnya adalah Rheumatoid Arthritis. Word Health Organization menyebutkan angka penderita Rheumatoid Arthritis di dunia yaitu sebanyak 18 juta jiwa dan jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun 20252. Badan Pusat Statistik . prevalensi penderita Rheumatoid Arthritis Indonesia mencapai angka 26,27% atau sebanyak 000 jiwa dengan perbandingan penderita dengan jenis kelamin wanita tiga kali lebih banyak dibandingkan laki-laki3. Badan Pusat Statistik Indonesia Rheumatoid Arthritis yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 27,22%3. Sedangkan, menurut data Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2021 jumlah dominasi penyakit tidak menular 80% lebih besar dibandingkan dengan penyakit menular yaitu dengan prevalensi Rheumatoid Arthritis sebesar 11,4%4. Berdasarkan survey data di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukaraya didapatkan Rheumatoid Arthritis berjumlah 22 pasien pada tahun 2021, pada tahun 2022 berjumlah 15 pasien, dan pada tahun 2023 berjumlah 24 pasien 4. Rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun kronis yang menyebabkan peradangan pada sendi, disertai dengan gejala nyeri, kekakuan, dan pembengkakan5. Penyakit ini sering dialami oleh lansia dan dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup mereka 6, 7. Nyeri yang dialami oleh pasien rheumatoid arthritis tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis, sosial, dan fungsional mereka 8. Oleh karena itu, manajemen nyeri yang efektif menjadi komponen penting dalam perawatan pasien rheumatoid arthritis9. Manajemen nyeri pada lansia dengan pendekatan holistik yang tidak hanya mengandalkan terapi farmakologis, tetapi juga non-farmakologis10. Terapi non- farmakologis seperti back massage . ijat punggun. dan slow breathing exercise . atihan menunjukkan potensi dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan Back massage dapat membantu 12, 13 memberikan efek relaksasi Sementara itu, slow breathing exercise dapat membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan, yang sering kali memperburuk persepsi nyeri 14. Kombinasi kedua terapi ini diharapkan dapat memberikan efek sinergis dalam mengelola nyeri pada pasien lansia dengan rheumatoid arthritis. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi terapi ini dalam konteks asuhan keperawatan. Studi mengeksplorasi penerapan kombinasi terapi back massage dan slow breathing exercise dalam manajemen nyeri pada pasien lansia dengan rheumatoid arthritis, serta memberikan rekomendasi untuk praktik keperawatan yang lebih efektif. Studi kasus ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien melalui pendekatan manajemen nyeri yang holistik dan non-invasif. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk keperawatan yang lebih komprehensif dalam menangani nyeri pada pasien lansia dengan rheumatoid arthritis. METODE Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan fokus pada Manajemen Nyeri dengan kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise pada pasien lansia rheumatoid arthritis. Studi kasus dipilih karena memungkinkan pengkajian intensif terhadap satu unit penelitian, dalam hal ini pasien lansia dengan Rheumatoid Arthritis yang mengalami masalah nyeri. Subjek penelitian terdiri dari dua pasien. Kriteria inklusi meliputi pasien lansia https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 berusia 55 tahun ke atas yang didiagnosis Rheumatoid Arthritis dan mengalami masalah nyeri yang bersedia menjadi responden, sedangkan kriteria eksklusi mencakup pasien yang tidak didiagnosis Rheumatoid Arthritis atau tidak mengalami Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukaraya. Kecamatan Baturaja Timur, pada Maret 2024, dengan durasi penelitian sekitar satu Instrumen pengumpulan data yang digunakan meliputi Lembar Pengkajian Keperawatan. Pengukuran Skala Nyeri MNEMONIC PQRST (Provocation. Quality. Region. Severity. Tim. Lembar Observasi Nyeri. Standar Operasional Prosedur (SOP), dan Satuan Acara Penyuluhan (SAP) beserta leaflet. Metode pengumpulan data utama adalah Analisis data dilakukan secara berkelanjutan sejak pengumpulan data hingga semua data terkumpul, meliputi pengolahan data, penyajian data dalam bentuk gambar, bagan, atau teks naratif, membandingkan hasil penelitian terdahulu dan teori perilaku kesehatan. Aspek etika penelitian dijaga dengan memberikan informed consent kepada responden, menjamin kerahasiaan identitas . , dan menjaga kerahasiaan informasi . Responden yang menolak berpartisipasi tidak dipaksa, dan hak-hak mereka dihormati sepenuhnya. Penelitian ini telah memperoleh lolos kaji etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang dengan nomor 0405/KEPK/Adm2/i/2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengkajian Keperawatan Hasil pengkajian dari kedua responden didapatkan data skala nyeri yang sama yaitu pada angka 5 atau skala nyeri sedang. Pengkajian didapatkan hasil yang sama yaitu skala nyeri pada interval nyeri sedang, namun terdapat perbedaan nyeri yang dirasakan pada kedua responden yang mana pada klien I nyeri dirasakan pada persendian atau lutut sebelah kanan, sedikit bengkak, dan kemerahan, sedangkan pada klien II nyeri dirasakan pada lutut sebelah kiri dan lebih sering dirasakan waktu pagi hari serta ada kemerahan. Dari pengkajian yang dilakukan pada kedua klien maka kondisi medis pada kedua klien nyeri diakibatkan oleh rheumatoid arthritis hal ini sesuai dengan Sezgin and Bektas 15 yang menjelaskan bahwa rheumatoid arthritis adalah suatu keadaan peradangan yang menyebabkan nyeri pada bagian persendian ditandai dengan adanya bengkak dan kemerahan. Diagnosis Keperawatan Diagnosa keperawatan pada kedua klien yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis, hal ini dikarenakan pada pengkajian keperawatan data diagnosa subjektif kedua klien mengatakan nyeri pada persendian serta data objektif klien tampak meringis. Perumusan diagnosa keperawatan ini sesuai dengan buku Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia ditujukan berdasarkan penyebab, gejala, tanda mayor dan minor 16. Intervensi Keperawatan Rencana tindakan keperawatan pada kedua klien sesuai dengan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI, 2. yaitu Manajemen Nyeri dengan kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise untuk mengurangi nyeri yang dirasakan pada kedua klien 17. Implementasi Keperawatan Implementasi Manajemen nyeri dengan kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise ini dilakukan pada kedua klien dengan lama waktu sekitar 10 Ae 15 menit dengan mengukur skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan penerapan serta dilakukan selama 3 kali berturut Ae Back Massage adalah pemijatan pada bagian punggung yang dilakukan dengan usapan secara perlahan yang bermanfaat untuk menurunkan nyeri14. Hal ini dikarenakan punggung merupakan bagian https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 dari sistem saraf pusat sehingga jika diberikan penerapan Back Massage atau pemijatan dapat memberikan relaksasi atau menstimulasi aktivitas pada otot dan dengan dilakukannya pemijatan pada bagian punggung maka akan membuat pembuluh darah melebar atau vasodilatsi sehingga melancarkan pasokan aliran darah dan intensitas nyeri yang dirasakan Menurut Wulansari and Yamin 19 didalam penelitiannya menjelaskan bahwa terapi back massage adalah suatu pemijatan yang dilakukan secara perlahan yang dapat mempengaruhi aktivitas sistem saraf otonom dan memberikan kenyamanan Sedangkan merupakan sebuah latihan relaksasi yang dilakukan dengan menarik napas secara dalam dan di ekspirasi secara perlahan20. latihan ini dapat meredakan stress dan menurunkan instensitas nyeri serta mengurangi ketegangan karena fisiologis dari pelaksanaannya akan menstimulasi sistem saraf parasimpatis dan terjadi vasodilatasi pembuluh darah otak sehingga memungkinkan suplai oksigen ke otak lebih banyak dan perfusi jaringan otak lebih adekuat serta nyeri yang dirasakan dapat berkurang. Evaluasi Keperawatan Evaluasi hasil yang didapatkan setelah dilakukan Implementasi Manajemen Nyeri dengan Kombinasi Terapi Back Massage dan Slow Breath Exercise pada kedua klien terjadi penurunan skala nyeri, klien I dari skala 5 menjadi skala 1 dan pada klien II dari skala 5 menjadi skala 2 yang artinya skala nyeri pada kedua klien berada pada interval nyeri ringan. Terdapat perbedaan antara nyeri yang dirasakan oleh klien I dan klien II, perbedaan hasil yang terjadi pada kedua klien bisa disebabkan oleh respon persepsi terhadap nyeri, usia klien, dan faktor lingkungan tempat tinggal kedua klien, yang mana pada klien I lingkungan rumahnya tenang serta sedikit berjarak dengan rumah tetangga. sedangkan, pada klien II jarak rumah dari tetangga cukup berdekatan sehingga terkadang sedikit Faktor lain yang menjadi penyebab perbedaan antara nyeri klien I dengan klien II adalah karena perbedaan usia pada kedua responden yang mana pada klien I berusia 65 tahun dan klien II berusia 69 Hasil Venetsanopoulou. Alamanos. Voulgari and Drosos mempengaruhi nyeri yaitu jenis kelamin, infeksi, keturunan, usia, persepsi, dan Hasil dari evaluasi ini juga sejalan pada penelitian yang dilakukan oleh Abdillah and Suwandi 22 menjelaskan bahwa meskipun klien menerima implementasi yang sama namun penilaian kognitif nyeri mempengaruhi persepsi tingkat nyeri responden yang dipengaruhi juga oleh usia sehingga menghasilkan hasil skala nyeri yang bervariasi. Dari hasil yang didapatkan pada klien I dan klien II menunjukkan bahwa terapi back massage dan slow breath exercise mempunyai efektifitas dalam menurunkan nyeri, hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya karena pada pelaksanaannya terapi Back Massage dapat membuat vasodilatasi pembuluh darah sehingga terjadilah peningkatan aktivitas sel pada tubuh23 Selain dari itu, penelitian yang dilakukan oleh Felyanti. Azmi and Alpiah 24 menyimpulkan hasil bahwa ada pengaruh dari terapi back massage yang mana pada hasil penelitiannya di dapatkan penurunan skala nyeri. Penurunan skala nyeri pada kedua klien ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aryandani and Hermawati 25 yang menyatakan bahwa adanya perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise. Selain dampak yang signifikan pada terapi back massage untuk mengurangi rasa nyeri, latihan slow breath exercise juga berkontribusi pada pengurangan intensitas nyeri 26, 27. hal ini sejalan dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kusuma. Dewi and Ludiana 28 yang mengungkapkan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 bahwa responden mengalami penurunan nyeri dari tingkat nyeri sedang ke tingkat ringan setelah penerapan. Penelitian terdahulu juga dilakukan oleh 29 bahwa terdapat penurunan nyeri yang signifikan menerapkan slow breath exercise atau latihan pernapasan lambat. Dari hasil studi kasus yang dilakukan pada kedua responden maka dapat disimpulkan bahwa kombinasi terapi Back Massage dan Slow Breath Exercise dapat menurunkan intensitas nyeri pada klien dengan Rheumatoid Arthritis hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Tafandas 30 menyimpulkan bahwa terapi back massage mempunyai efektifitas dalam menurunkan nyeri pada klien dengan Rheumatoid Arthritis. Penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa terapi Slow Breath Exercise mempunyai pengaruh dalam penurunan intensitas nyeri hal ini dibuktikan pada penelitian yang dilakukan oleh Fatikasari. Noorratri and Natsir 31 yang menyimpulkan bahwa latihan napas lambat atau Slow Breath Exercise dapat menurunkan intensitas nyeri hal ini karena pada pelaksanaannya terjadi peningkatan sistem saraf parasimpatis dan memberikan Hasil maksimal yang didapatkan dari pengukuran skala nyeri pada kedua klien menggunakan Numeric Rating Scale setelah dilakukan implementasi manajemen nyeri terapi pemijatan . ack massag. dengan kombinasi slow breath exercise berangsur mengalami penurunan intensitas. Hal ini manajemen nyeri dengan kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise efektif untuk mengatasi masalah nyeri pada lansia rheumatoid arthritis. Sebagai terapi komplementer yang aman dan mudah diterapkan back massage memberikan sensasi relaksasi yang memberikan rasa nyaman, merelaksasikan otot, dan membuat vasodilatasi pembuluh darah yang berkontribusi pada penurunan skala nyeri. Terapi ini dapat dilakukan dengan lama waktu 10 Ae 15 menit selama 3 hari berturut Ae turut dan dapat memberikan rasa nyaman sehingga membuat pembuluh darah melebar dan aktivitas sel meningkat. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan studi kasus yang dilakukan pada dua klien lansia dengan masalah nyeri, peneliti mengimplementasikan kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise sebagai upaya manajemen nyeri. Hasil studi menunjukkan bahwa skala nyeri yang awalnya berada pada tingkat sedang . mengalami penurunan signifikan setelah intervensi, yaitu menjadi skala 1 pada klien I dan skala 2 pada klien II. Hal ini mengindikasikan bahwa kombinasi terapi back massage dan slow breath exercise efektif dalam mengurangi nyeri pada lansia dengan Rheumatoid Arthritis. SARAN Peneliti keluarga sebagai sistem pendukung juga membantu klien menerapkan terapi ini. Dengan demikian, kombinasi terapi ini dapat direkomendasikan sebagai salah satu terapi non-farmakologis untuk mengatasi nyeri pada lansia dengan Rheumatoid Arthritis, terutama dengan dukungan keluarga yang aktif. DAFTAR PUSTAKA