Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Analisis Kemampuan Numerasi Siswa Kelas IV Sekolah Dasar setelah Implementasi Asesmen Diagnostik Lilis Setiawati Universitas Islam Nusantara Al-Azhaar. Program Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah Email. lilissetiawati@uin-al-azhaar. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan numerasi siswa kelas IV sekolah dasar setelah implementasi asesmen diagnostik sebagai instrumen pemetaan awal dalam proses pembelajaran. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya asesmen diagnostik dalam mendukung pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada kebutuhan siswa, khususnya dalam konteks Kurikulum Merdeka. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dan analisis dokumen asesmen. Subjek penelitian terdiri dari guru kelas IV dan siswa di salah satu sekolah dasar negeri di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asesmen diagnostik mampu memberikan gambaran awal tentang kompetensi numerasi siswa, termasuk penguasaan operasi hitung, logika matematika, dan kemampuan pemecahan masalah. Berdasarkan hasil asesmen, guru mampu menyusun strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok siswa. Kemampuan numerasi siswa menunjukkan peningkatan baik secara kuantitatif maupun Selain itu, asesmen diagnostik juga meningkatkan kemampuan reflektif guru dalam merancang dan mengevaluasi pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa asesmen diagnostik merupakan komponen penting dalam mendukung pembelajaran numerasi yang adaptif, efektif, dan transformatif. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya pelatihan berkelanjutan bagi guru dalam merancang dan memanfaatkan asesmen diagnostik sebagai bagian dari pembelajaran yang holistik dan berpihak pada murid. Kata kunci: kemampuan numerasi, asesmen diagnostik, pembelajaran berdiferensiasi, sekolah dasar. Kurikulum Merdeka ABSTRACT This study aims to analyze the numeracy skills of fourth-grade elementary school students after the implementation of diagnostic assessment as an initial mapping tool in the learning The research is motivated by the importance of diagnostic assessment in supporting differentiated learning tailored to students' needs, especially within the context of the Merdeka Curriculum. This study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and analysis of assessment documents. The subjects consisted of a fourth-grade teacher and students at a public elementary school in West Java. Indonesia. The findings reveal that diagnostic assessment effectively provides a comprehensive overview of students' numeracy competencies, including mastery of basic arithmetic operations, mathematical logic, and problem-solving skills. Based on the assessment results, teachers were able to develop Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 83 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. targeted learning strategies tailored to the diverse needs of student groups. StudentsAo numeracy abilities showed improvement both quantitatively and qualitatively. Furthermore, diagnostic assessment enhanced teachers' reflective capacity in planning and evaluating The study concludes that diagnostic assessment plays a crucial role in fostering adaptive, effective, and transformative numeracy learning. The study recommends ongoing professional development for teachers in designing and utilizing diagnostic assessments as part of a holistic and student-centered learning approach. Keywords: numeracy skills, diagnostic assessment, differentiated learning, elementary school. Merdeka Curriculum PENDAHULUAN Perubahan paradigma pendidikan di abad ke-21 menuntut penguasaan literasi dasar yang mencakup literasi membaca, numerasi, dan sains sebagai fondasi utama dalam pengembangan kompetensi siswa. Di antara ketiganya, kemampuan numerasi berperan penting dalam membekali siswa dengan keterampilan berpikir logis, bernalar matematis, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Numerasi menjadi dasar dalam kehidupan seharihari, mulai dari memahami harga, waktu, pengukuran, hingga membaca informasi kuantitatif dalam grafik dan tabel (OECD, 2. Oleh karena itu, penguasaan numerasi sejak dini, terutama di jenjang sekolah dasar, menjadi penentu keberhasilan pendidikan jangka panjang. Dalam konteks pendidikan Indonesia, penguatan numerasi telah menjadi bagian integral dari kebijakan strategis nasional, salah satunya melalui implementasi Asesmen Nasional yang menggantikan Ujian Nasional sejak tahun 2021. Asesmen Nasional dirancang tidak hanya untuk mengukur capaian hasil belajar siswa, tetapi juga untuk memetakan mutu pendidikan pada satuan pendidikan. Salah satu dimensi penting dalam asesmen ini adalah kemampuan numerasi, yang dievaluasi melalui instrumen literasi matematika kontekstual (Kemendikbudristek, 2. Hasil asesmen ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa sekolah dasar, khususnya kelas IV ke atas, yang belum mencapai kategori "mahir" dalam Kondisi ini menandakan adanya kesenjangan signifikan dalam proses pembelajaran matematika dan penguasaan konsep dasar oleh siswa (Kemendikbudristek, 2. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, asesmen diagnostik diperkenalkan sebagai bagian dari strategi Kurikulum Merdeka untuk membantu guru mengidentifikasi capaian awal siswa sebelum pembelajaran dimulai. Asesmen diagnostik bersifat non-skor, fleksibel, dan ditujukan untuk mendiagnosis kemampuan awal dan miskonsepsi siswa (Puspitasari & Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 84 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Maulida, 2. Data hasil asesmen ini seharusnya dimanfaatkan untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi, yaitu pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, kesiapan, dan gaya belajar siswa. Dalam konteks pembelajaran numerasi, asesmen diagnostik sangat potensial untuk mengarahkan guru memberikan intervensi dini secara tepat. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan asesmen diagnostik belum optimal. Banyak guru yang masih memandang asesmen ini sebagai formalitas administratif, bukan sebagai instrumen pedagogis strategis. Guru juga kerap mengalami kesulitan dalam menginterpretasikan hasil asesmen dan mengintegrasikannya ke dalam perencanaan pembelajaran numerasi (Nurhalimah & Sukirman, 2. Selain itu, keterbatasan pelatihan, kurangnya pendampingan, serta beban administrasi yang tinggi turut menjadi faktor penghambat (Santoso & Lestari, 2. Akibatnya, potensi asesmen diagnostik sebagai alat untuk meningkatkan hasil belajar numerasi siswa belum terwujud secara maksimal. Khusus pada siswa kelas IV SD, tantangan numerasi lebih kompleks karena transisi dari pembelajaran dasar menuju abstraksi konsep matematika yang lebih tinggi. Siswa mulai diperkenalkan pada operasi bilangan besar, pecahan, pengukuran satuan, dan representasi Tanpa pemahaman dasar yang kuat di kelas-kelas sebelumnya, siswa akan mengalami kesulitan dalam menguasai materi tersebut (Putri & Hasanah, 2. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas asesmen diagnostik dalam mengukur dan meningkatkan kemampuan numerasi siswa pada level ini. Secara internasional, pendekatan berbasis asesmen formatif dan diagnostik telah terbukti meningkatkan hasil belajar ketika diterapkan dengan tepat. Studi yang dilakukan oleh Black & Wiliam . menunjukkan bahwa asesmen formatif yang berbasis pada data kemampuan awal siswa mampu meningkatkan hasil belajar secara signifikan, terutama pada siswa dengan capaian rendah. Dalam konteks Indonesia, potensi ini masih perlu diuji melalui penelitian yang fokus pada implementasi praktis asesmen diagnostik di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan numerasi siswa kelas IV sekolah dasar setelah implementasi asesmen diagnostik. Penelitian juga berfokus pada bagaimana guru menindaklanjuti hasil asesmen dalam proses pembelajaran, sejauh mana hasil asesmen memengaruhi capaian numerasi, serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan asesmen. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi pengambil kebijakan pendidikan, serta model praktik terbaik bagi guru-guru di lapangan dalam menyusun dan memanfaatkan asesmen diagnostik untuk mendukung capaian numerasi siswa. Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 85 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan fenomena pendidikan secara mendalam, khususnya dalam konteks pelaksanaan asesmen diagnostik dan hubungannya dengan kemampuan numerasi siswa kelas IV Sekolah Dasar. Kualitatif deskriptif memungkinkan peneliti mengeksplorasi secara komprehensif bagaimana pelaksanaan asesmen diagnostik dilakukan oleh guru, bagaimana hasilnya digunakan dalam proses pembelajaran, serta bagaimana kondisi numerasi siswa setelah asesmen diterapkan. Sebagaimana dijelaskan oleh Creswell dan Poth . , pendekatan kualitatif bertujuan untuk memahami makna yang diberikan individu terhadap suatu masalah sosial atau manusia dan melibatkan proses interpretatif yang berlangsung di Lokasi penelitian ini adalah sebuah Sekolah Dasar Negeri di Indonesia yang telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan melaksanakan asesmen diagnostik pada awal tahun pelajaran. Sekolah dipilih secara purposive dengan kriteria tertentu, yaitu . telah menerapkan Kurikulum Merdeka minimal satu tahun terakhir, . guru telah melaksanakan asesmen diagnostik numerasi sesuai dengan panduan Kemendikbudristek, dan . terdapat dokumentasi lengkap berupa data hasil asesmen, rencana pembelajaran, dan hasil kerja siswa. Pemilihan sekolah ini didasarkan pada prinsip keterjangkauan informasi yang mendalam . ata rich case. , yang penting dalam penelitian kualitatif (Moleong, 2. Subjek penelitian terdiri dari tiga kelompok utama: . guru kelas IV, sebagai pelaksana asesmen diagnostik dan pengelola proses pembelajaran. siswa kelas IV, sebagai peserta asesmen dan objek kajian numerasi. dokumen pembelajaran, seperti instrumen asesmen diagnostik, hasil kerja siswa, lembar penilaian, serta rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Fokus penelitian bukan hanya pada hasil asesmen siswa, tetapi juga pada proses implementasi, tantangan yang dihadapi guru, strategi pembelajaran diferensiasi yang diambil, serta respons siswa terhadap pendekatan pembelajaran pasca-asesmen. Metode pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap guru kelas IV untuk menggali informasi mengenai strategi perencanaan dan pelaksanaan asesmen diagnostik, analisis hasil asesmen, serta bentuk intervensi pembelajaran yang dilakukan berdasarkan hasil Wawancara juga dilakukan terhadap kepala sekolah untuk mengetahui dukungan kelembagaan dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Observasi dilakukan secara Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 86 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. partisipatif terhadap kegiatan pembelajaran matematika di kelas IV untuk melihat secara langsung bagaimana guru menyesuaikan metode dan materi pembelajaran berdasarkan temuan asesmen. Studi dokumentasi digunakan untuk menganalisis data kuantitatif dan kualitatif dari hasil asesmen diagnostik, hasil kerja siswa, dan bentuk tindak lanjut pembelajaran numerasi. Ketiga teknik ini digunakan secara triangulatif untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas data penelitian (Patton, 2. Instrumen penelitian terdiri dari pedoman wawancara, lembar observasi, dan format analisis dokumen yang dikembangkan secara sistematis berdasarkan teori asesmen formatif, panduan dari Kemendikbudristek . , dan indikator numerasi kelas IV yang meliputi pemahaman bilangan, operasi hitung, pengukuran, dan penyajian data. Peneliti berperan sebagai instrumen utama . uman instrumen. yang melakukan interpretasi langsung terhadap Oleh karena itu, peneliti telah membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai asesmen diagnostik, numerasi, dan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi. Prosedur analisis data dilakukan melalui teknik analisis tematik . hematic analysi. , yang mencakup enam langkah utama sebagaimana dijelaskan oleh Braun dan Clarke . familiarisasi dengan data, yaitu membaca dan memahami semua data mentah secara . koding data, yaitu memberi kode pada bagian-bagian data yang relevan dengan pertanyaan penelitian. pencarian tema, yaitu mengelompokkan kode menjadi tema-tema sementara. peninjauan tema, yaitu menguji ulang dan merevisi tema yang telah . pendefinisian dan penamaan tema, serta . penulisan laporan temuan. Tema utama yang diidentifikasi mencakup: . profil kemampuan numerasi siswa berdasarkan hasil asesmen diagnostik, . strategi pembelajaran diferensiasi berbasis hasil asesmen, dan . tantangan dan keberhasilan pelaksanaan asesmen diagnostik di kelas IV. Selain itu, untuk menjaga keabsahan data, peneliti menerapkan empat kriteria validitas kualitatif dari Lincoln dan Guba . , yaitu credibility . elalui triangulasi dan member chec. , transferability . eskripsi kontekstual rinc. , dependability . udit trai. , dan confirmability . efleksi dan objektivitas penelit. Semua prosedur dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar hasil penelitian tidak bias dan memiliki kontribusi empiris terhadap pengembangan praktik pembelajaran numerasi di Sekolah Dasar. Melalui metode penelitian yang sistematis ini, diharapkan penelitian dapat mengungkap secara mendalam bagaimana implementasi asesmen diagnostik numerasi berdampak terhadap penguasaan konsep matematika dasar siswa kelas IV. Temuan ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan pendidikan, khususnya dalam Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 87 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. konteks asesmen formatif, literasi numerasi, dan perancangan pembelajaran berbasis data yang sesuai dengan pendekatan Kurikulum Merdeka. Table 1 Instrumen Wawancara No Fokus Wawancara Indikator yang Digali Pertanyaan Wawancara Pelaksanaan asesmen - Pemahaman guru terhadap Bagaimana Anda diagnostik numerasi asesmen diagnostik- Strategi melaksanakan asesmen diagnostik numerasi di awal Tujuan dan fungsi - Tujuan guru melakukan Apa tujuan Anda melakukan asesmen diagnostik asesmen- Manfaat asesmen asesmen diagnostik sebelum bagi proses pembelajaran mengajar materi matematika? Hasil asesmen - Jenis informasi yang Apa saja informasi yang Anda diperoleh- Profil peroleh dari hasil asesmen kemampuan siswa diagnostik tersebut? Tindak lanjut - Strategi diferensiasi Bagaimana Anda berdasarkan hasil asesmen- menyesuaikan pembelajaran Penyesuaian materi dan berdasarkan hasil asesmen Kendala dan tantangan - Hambatan teknis atau Apa tantangan yang Anda dalam asesmen pedagogis- Solusi yang hadapi dalam pelaksanaan asesmen diagnostik numerasi Dampak asesmen - Perubahan capaian belajar Apakah terdapat perubahan terhadap kemampuan siswa- Peningkatan motivasi dalam kemampuan numerasi numerasi siswa dan pemahaman numerasi siswa setelah asesmen Table 2 Instrumen Observasi Penelitian No Aspek yang Indikator yang Diamati Diobservasi Teknik Skala Observasi Penilaian* Aktivitas guru - Menggunakan hasil asesmen Observasi 1Ae4 (Tidak dalam proses untuk diferensiasi- langsung di Menyebutkan strategi Sanga. Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 88 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Strategi - Mengelompokkan siswa Observasi berdasarkan hasil asesmen- berbasis asesmen Variasi metode Respons siswa - Siswa aktif bertanya- Siswa dalam pembelajaran memahami instruksi numerasi Observasi 1Ae4 1Ae4 interaksi kelas Penggunaan media - Guru menggunakan alat Observasi dan alat bantu bantu konkret/visualisasi- visual dan Media sesuai kebutuhan siswa Penilaian formatif - Guru melakukan evaluasi Observasi lanjutan- Memberikan umpan balik numerasi 1Ae4 1Ae4 HASIL dan PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini menghasilkan temuan penting terkait bagaimana asesmen diagnostik berperan dalam menggambarkan dan membentuk proses pembelajaran numerasi siswa kelas IV Sekolah Dasar. Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan guru kelas IV, observasi kegiatan pembelajaran, serta dokumentasi hasil asesmen dan catatan guru, diketahui bahwa asesmen diagnostik bukan hanya sekadar alat ukur kemampuan awal, melainkan juga menjadi fondasi dalam mendesain strategi pembelajaran yang bersifat diferensiatif dan adaptif terhadap kebutuhan belajar siswa. Guru secara umum telah memahami esensi asesmen diagnostik, meskipun masih terdapat variasi dalam pelaksanaannya. Beberapa guru menyusun sendiri instrumen asesmen diagnostik berdasarkan capaian pembelajaran pada Kurikulum Merdeka, sementara sebagian lainnya menggunakan soal dari platform digital yang disediakan oleh Kemendikbudristek. Asesmen dilakukan sebelum pembelajaran berlangsung, dan guru mencatat hasilnya dalam bentuk peta profil kemampuan siswa yang memuat rincian penguasaan konsep numerasi dasar, seperti operasi bilangan bulat, pengukuran waktu, panjang, dan volume, serta kemampuan membaca dan menafsirkan data sederhana. Sebagaimana dinyatakan oleh salah satu guru. AuAsesmen ini sangat membantu saya memahami siapa siswa yang butuh bimbingan lebih dalam, dan siapa yang bisa diberi tantangan tambahan. Ay Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 89 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih berada pada kategori kemampuan numerasi dasar. Dalam satu sekolah, dari total 30 siswa, sebanyak 40% berada pada kategori rendah, 43% sedang, dan hanya 17% yang tergolong tinggi. Setelah dilakukan pembelajaran berbasis data hasil asesmen tersebut, terjadi peningkatan signifikan. Guru melaksanakan pembelajaran numerasi berbasis kelompok kebutuhan, dengan pendekatan pembelajaran kontekstual, penggunaan alat bantu konkret seperti blok matematika, garis bilangan, dan lembar kerja adaptif. Observasi menunjukkan bahwa siswa lebih terlibat aktif, menunjukkan antusiasme lebih tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas numerasi, serta menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap konsep. Selama pengamatan pembelajaran berlangsung, tampak bahwa guru mampu menyesuaikan metode mengajar berdasarkan hasil asesmen, seperti memberikan bimbingan tambahan secara individu, menyederhanakan soal bagi siswa dengan kemampuan rendah, dan memberi proyek mini bagi siswa dengan kemampuan tinggi. Kegiatan pembelajaran tidak lagi bersifat seragam, tetapi disesuaikan dengan profil masing-masing siswa. Hal ini tampak dari dokumentasi yang menunjukkan penggunaan catatan formatif per siswa yang menggambarkan perkembangan numerasi dari pekan ke pekan. Guru juga menyusun jurnal refleksi harian untuk mencatat perubahan sikap siswa terhadap matematika, termasuk bagaimana rasa percaya diri mereka meningkat setelah diberikan pembelajaran sesuai Lebih lanjut, data hasil asesmen lanjutan . yang dilakukan setelah 6 minggu pembelajaran menunjukkan bahwa terjadi peningkatan sebesar 25% dalam capaian numerasi siswa secara keseluruhan. Siswa yang semula berada di kategori rendah berkurang dari 12 orang menjadi 5 orang, dan siswa yang berada pada kategori tinggi meningkat menjadi 9 Peningkatan ini tidak hanya terlihat dari hasil tes, tetapi juga dari kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal berbasis konteks kehidupan sehari-hari, seperti menghitung waktu tiba, menghitung jumlah uang kembalian, serta membaca grafik batang sederhana. Data dari observasi kelas memperkuat kesimpulan ini. Guru menjadi lebih reflektif dan responsif terhadap kebutuhan belajar siswa. Pembelajaran tidak lagi berfokus pada kejar target materi, melainkan berfokus pada pemahaman konsep dan penyesuaian proses belajar dengan kesiapan siswa. Salah satu guru menyatakan bahwa AuAsesmen diagnostik membuat saya menyadari bahwa setiap anak punya starting point yang berbeda, dan tugas saya adalah menjembatani mereka. Ay Selain itu, siswa menjadi lebih percaya diri, lebih aktif bertanya, dan tidak lagi merasa takut terhadap pelajaran matematika. Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 90 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Pratiwi & Fadillah . yang menunjukkan bahwa asesmen diagnostik membantu guru memahami kesenjangan pemahaman numerasi dan mendesain pembelajaran yang sesuai. Demikian pula, riset oleh Yuliani . menyebutkan bahwa pendekatan diferensiasi pembelajaran berbasis asesmen berdampak positif terhadap motivasi dan hasil belajar numerasi siswa sekolah dasar. Laporan Kemendikbudristek . juga mendukung temuan ini dengan menyatakan bahwa asesmen diagnostik merupakan salah satu prinsip penting dalam implementasi Kurikulum Merdeka, karena mampu mendorong pembelajaran yang berpihak pada murid dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Penelitian ini mengungkap tiga temuan utama terkait implementasi asesmen diagnostik dalam pembelajaran numerasi siswa kelas IV sekolah dasar. Pertama, asesmen diagnostik telah dilaksanakan secara rutin oleh guru pada awal semester atau sebelum pembelajaran topik baru dimulai. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, asesmen ini digunakan untuk memetakan kemampuan awal siswa dalam aspek numerasi dasar seperti operasi hitung bilangan, pengukuran, dan pemahaman data. Temuan ini menunjukkan bahwa guru mulai menyadari pentingnya asesmen sebagai alat untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa, meskipun belum semua guru mengembangkan instrumen asesmen secara mandiri dan mendalam. Kedua, hasil asesmen diagnostik mampu mengidentifikasi keberagaman capaian numerasi siswa. Berdasarkan dokumentasi dan catatan guru, siswa terbagi ke dalam tiga kelompok kemampuan: tinggi, sedang, dan rendah. Misalnya, sebagian siswa mampu menyelesaikan soal perbandingan dan grafik batang dengan benar, sementara kelompok siswa lain masih kesulitan dalam memahami nilai tempat atau satuan ukuran panjang. Dari hasil observasi pembelajaran, guru menyesuaikan strategi mengajarnya dengan memberikan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi, seperti memberikan latihan tambahan untuk kelompok rendah dan soal berbasis proyek untuk kelompok tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa asesmen diagnostik berperan dalam membentuk rancangan pembelajaran yang lebih Ketiga, implementasi asesmen diagnostik memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan numerasi siswa. Catatan perkembangan formatif menunjukkan bahwa setelah enam minggu pelaksanaan pembelajaran yang berbasis hasil asesmen, terjadi peningkatan rata-rata skor numerasi siswa sebesar 20Ae25%. Peningkatan ini tidak hanya terlihat pada hasil tes, tetapi juga dalam partisipasi siswa dalam diskusi kelas, penyelesaian soal kontekstual, dan sikap positif terhadap pelajaran matematika. Guru mencatat bahwa Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 91 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. siswa lebih percaya diri dan lebih mampu menjelaskan langkah-langkah penyelesaian soal secara logis. Beberapa guru juga menyebutkan bahwa mereka lebih mudah melakukan remidial karena telah mengetahui secara tepat kelemahan masing-masing siswa berdasarkan data asesmen awal. Selain itu, temuan ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan asesmen diagnostik mendorong guru menjadi lebih reflektif dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Guru tidak lagi mengajar secara seragam, melainkan mempertimbangkan hasil asesmen sebagai dasar untuk menyesuaikan tujuan, materi, dan metode pembelajaran. Dengan demikian, asesmen diagnostik menjadi instrumen penting yang mendorong pembelajaran yang berpihak pada murid. Hal ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pentingnya pemetaan kompetensi awal siswa dan penyusunan pembelajaran berbasis kebutuhan aktual peserta didik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa asesmen diagnostik numerasi bukan hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan antara kebutuhan belajar siswa dengan strategi pembelajaran yang tepat. Keberhasilan implementasi asesmen ini sangat bergantung pada kesiapan guru dalam menganalisis hasil dan meresponsnya secara pedagogis melalui pembelajaran yang fleksibel dan berpusat pada Pembahasan Penelitian Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis dampak implementasi asesmen diagnostik terhadap kemampuan numerasi siswa kelas IV di sekolah dasar. Temuan penelitian menunjukkan bahwa asesmen diagnostik tidak hanya berfungsi sebagai alat pengukuran awal, tetapi juga sebagai dasar untuk merancang pembelajaran yang adaptif, responsif, dan berdiferensiasi. Asesmen Diagnostik sebagai Alat Pemetaan Awal yang Efektif Asesmen diagnostik terbukti mampu mengidentifikasi secara rinci kemampuan numerasi siswa pada berbagai indikator, seperti operasi hitung, pemecahan masalah kontekstual, dan pemahaman satuan ukuran. Hasil asesmen tersebut memberikan gambaran konkret kepada guru tentang posisi awal siswa. Guru tidak lagi bersandar pada asumsi, tetapi memiliki data objektif yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam merancang pembelajaran. Penelitian oleh Setiawan dan Permatasari . mendukung temuan ini, yang menyatakan bahwa asesmen diagnostik memungkinkan guru mengelompokkan siswa Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 92 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. berdasarkan tingkat penguasaan materi numerasi. Lebih lanjut, asesmen ini menjadi pintu masuk dalam pembelajaran berdiferensiasi yang mendorong keadilan belajar. Asesmen Mendorong Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Dengan data dari asesmen diagnostik, guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Misalnya, kelompok siswa dengan kemampuan rendah diberikan pendampingan intensif dan latihan dasar, sementara siswa dengan kemampuan tinggi diberikan tantangan numerasi yang lebih kompleks. Hal ini membuktikan bahwa asesmen diagnostik telah mengarahkan guru untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Lestari dan Sutarto . dalam penelitiannya mengemukakan bahwa asesmen diagnostik berperan penting dalam personalisasi pembelajaran, yang berdampak pada peningkatan rasa percaya diri dan keaktifan siswa dalam kelas. Strategi ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pentingnya fleksibilitas pendekatan belajar. Peningkatan Kemampuan Numerasi secara Kuantitatif dan Kualitatif Secara kuantitatif, hasil asesmen sumatif menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor numerasi sebesar 20Ae25%. Peningkatan ini mencerminkan bahwa pembelajaran yang didasarkan pada data asesmen awal lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan Secara kualitatif, siswa menunjukkan peningkatan dalam menyelesaikan soalsoal berpikir tingkat tinggi, berargumentasi logis, serta aktif dalam diskusi. Studi oleh Nugraha et al. menyebutkan bahwa penggunaan asesmen diagnostik secara sistematis berdampak langsung pada pencapaian hasil belajar numerasi, khususnya dalam dimensi berpikir kritis dan pemecahan masalah. Peningkatan Kompetensi Reflektif Guru Selain berdampak pada siswa, asesmen diagnostik juga meningkatkan kompetensi profesional guru, khususnya dalam dimensi refleksi dan perencanaan. Guru lebih sadar terhadap pentingnya data sebagai dasar pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran. Perubahan ini menunjukkan pergeseran paradigma dari pengajaran berbasis kurikulum menuju pembelajaran berbasis kebutuhan siswa . tudent-centered learnin. Menurut Rachmawati dan Hidayat . , guru yang secara konsisten menggunakan asesmen diagnostik menjadi lebih terampil dalam merancang aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan peserta didik. Relevansi dengan Kurikulum Merdeka Implementasi asesmen diagnostik selaras dengan arah kebijakan Kurikulum Merdeka yang menekankan pentingnya asesmen formatif sebagai alat pengumpul informasi dan bukan Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 93 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. semata-mata alat penilaian. Kurikulum Merdeka memberikan ruang luas bagi guru untuk melakukan asesmen di awal pembelajaran guna merancang strategi yang adaptif dan berdiferensiasi sesuai dengan kebutuhan murid (Kemendikbudristek, 2. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memperkuat gagasan bahwa asesmen diagnostik adalah kunci dalam menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa implementasi asesmen diagnostik memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan numerasi siswa kelas IV sekolah dasar. Asesmen diagnostik terbukti efektif sebagai alat pemetaan awal kemampuan siswa, memungkinkan guru memahami secara rinci kondisi aktual peserta didik sebelum proses pembelajaran dimulai. Melalui pemanfaatan hasil asesmen ini, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih terarah, berdiferensiasi, dan responsif terhadap kebutuhan siswa, sehingga tercipta proses belajar yang lebih inklusif dan Kemampuan numerasi siswa mengalami peningkatan baik dari segi pemahaman konsep dasar matematika maupun dalam penerapan logika pemecahan masalah kontekstual. Selain itu, penggunaan asesmen diagnostik mendorong peningkatan kualitas refleksi dan perencanaan pembelajaran oleh guru, yang menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari pengajaran berorientasi kurikulum menuju pembelajaran yang berpihak pada murid. Dengan demikian, asesmen diagnostik bukan hanya berfungsi sebagai instrumen evaluatif semata, tetapi juga menjadi komponen strategis dalam mewujudkan pembelajaran yang transformatif sebagaimana yang diamanatkan dalam Kurikulum Merdeka. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa asesmen diagnostik merupakan pendekatan yang relevan dan efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran numerasi di sekolah dasar, serta perlu diintegrasikan secara sistematis dalam praktik pendidikan agar kebermanfaatannya dapat dirasakan secara luas oleh guru dan peserta didik. Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 94 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. REFERENSI