75 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1*. Agus Munandar2* Program Studi Magister Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Esa Unggul munandar@esaunggul. ABSTRACT This study aims to systematically examine earnings management practices in Indonesia during the period 2020Ae2025 using the Systematic Literature Review (SLR) method. The findings indicate that earnings management in Indonesia remains significant and multidimensional, influenced by various external and internal factors. Externally, tax regulations, capital market pressures, and broader economic dynamics including the impact of the COVID-19 pandemic encourage companies to manipulate financial statements, particularly through revenue and expense recognition within the selfassessment tax system and earnings adjustments prior to quarterly reporting. IPOs, and other corporate Internally, earnings management is driven by performance target pressures, managerial incentives, as well as weak corporate governance and low audit quality, especially among small audit firms that exhibit economic dependence on their clients. Keywords: Earnings Management. Income Smoothing. Literatur Review. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk secara sistematis mengkaji praktik pengelolaan pendapatan di Indonesia selama periode 2020Ae2025 dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR). Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan laba di Indonesia tetap signifikan dan multidimensi, dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Secara eksternal, peraturan perpajakan, tekanan pasar modal, dan dinamika ekonomi yang lebih luas termasuk dampak pandemi COVID-19 mendorong perusahaan untuk memanipulasi laporan keuangan, terutama melalui pengakuan pendapatan dan beban dalam sistem pajak penilaian sendiri dan penyesuaian laba sebelum pelaporan triwulanan. IPO, dan aksi korporasi lainnya. Secara internal, manajemen laba didorong oleh tekanan target kinerja, insentif manajerial, serta tata kelola perusahaan yang lemah dan kualitas audit yang rendah, terutama di antara kantor audit kecil yang menunjukkan ketergantungan ekonomi pada kliennya. Kata kunci: Manajemen Pendapatan. Perhalusan Pendapatan. Tinjauan Literatur. PENDAHULUAN Manajemen laba adalah penggunaan kebijakan akuntansi untuk memengaruhi hasil laporan keuangan, terutama laba yang dilaporkan. Praktik ini sering dilakukan manajemen untuk mencapai tujuan tertentu, seperti mengurangi beban pajak, menjaga citra perusahaan, atau memenuhi ekspektasi pasar. Manajemen laba dapat dilakukan secara sah sesuai peraturan, tetapi juga bisa bersifat agresif dan merugikan pemangku kepentingan seperti investor dan regulator (Adyastuti & Khafid, 2. ISSN: 1412 - 3681 . ISSN: 2442 - 4617 . , https://journal. id/index. php/jakpi JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Praktik manajemen laba di Indonesia menjadi topik utama dalam studi akuntansi keuangan seiring meningkatnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas perusahaan publik. Untuk mengelola persepsi pemangku kepentingan, manajer sering melakukan manipulasi akrual atau aktivitas riil agar laba tampak stabil atau sesuai target. Kondisi ini mendorong berbagai penelitian yang menelaah determinan, dampak, dan model deteksi manajemen laba dalam konteks di Indonesia. Selama dekade terakhir, minat penelitian terhadap topik ini meningkat signifikan, terutama setelah adopsi Standar Akuntansi Keuangan (SAK) berbasis IFRS pada Fenomena ini menarik karena pasar modal Indonesia memiliki karakteristik unik, yaitu dominasi kepemilikan keluarga dan konglomerasi (Pratiwi et al. , 2. Di Indonesia, meskipun berbagai regulasi telah mengatur laporan keuangan dan pengelolaan pajak, praktik manajemen laba masih terjadi dengan beragam bentuk dan alasan. Pada periode 2020Ae2025, perkembangan teknologi, perubahan kebijakan fiskal dan perpajakan, serta dinamika pasar modal menjadi faktor penting yang memengaruhi pelaksanaannya. Selain itu, pandemi COVID-19 sejak 2020 turut memengaruhi cara perusahaan melaporkan kinerja keuangan, baik dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi maupun dalam memenuhi ekspektasi pasar yang meningkat (Saferiya & Darwis, 2. Pada periode ini, tekanan terhadap laba meningkat tajam, terutama di sektor penerbangan, ritel, dan manufaktur. Perusahaan dalam indeks LQ45 juga tidak terlepas dari insentif untuk mengelola laba, terutama melalui leverage tinggi dan kebijakan dividen tertentu (Permata Dewi & Nurhayati, 2. Beberapa penelitian merekomendasikan penerapan tata kelola perusahaan yang lebih ketat serta audit berbasis risiko untuk menekan praktik tersebut. Manajemen laba . arnings managemen. merupakan tindakan manajemen dalam memengaruhi angka laba pada laporan keuangan, baik melalui pendekatan akrual maupun aktivitas riil. Tujuannya beragam, seperti menjaga citra keuangan perusahaan, memenuhi target laba, menghindari beban pajak, atau meningkatkan nilai saham (Wisely & Karina, 2. Konteks Indonesia, isu manajemen laba menjadi perhatian utama karena perkembangan pasar modal yang pesat belum diimbangi dengan tata kelola perusahaan yang optimal. Tekanan pasar, struktur kepemilikan yang terkonsentrasi, variasi kualitas audit, dan tingginya tuntutan pelaporan membuat perusahaan rentan terhadap praktik manipulatif ini. Berbagai studi menunjukkan bahwa leverage, ukuran perusahaan, perencanaan pajak, dan kepemilikan institusional merupakan faktor penting yang memengaruhi praktik manajemen laba. Namun, pendekatan dan hasil penelitian bervariasi tergantung pada sektor, periode, dan metodologi yang digunakan (Wardana et al. , 2. Topik ini penting karena manajemen laba sering dilakukan untuk kepentingan pribadi sehingga menurunkan kualitas informasi akuntansi dan mendistorsi manfaat laporan keuangan. Menjaga kualitas laporan keuangan, praktik manajemen laba perlu dikendalikan dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Oleh karena itu, diperlukan telaah literatur sistematis untuk mengidentifikasi tren penelitian, pendekatan metodologis, fokus variabel, serta celah penelitian . esearch ga. terkait manajemen laba di Indonesia dalam lima tahun terakhir . 0Ae2. KAJIAN PUSTAKA Jensen & Meckling . mengemukakan teori keagenan . gency theor. adalah teori yang menjelaskan tentang hubungan keagenan antara agent dan principals Manajemen laba sering dijelaskan melalui berbagai teori yang menggambarkan perilaku manajer dalam mengelola laba Teori agensi menjelaskan adanya konflik kepentingan antara manajer sebagai agen dan pemegang saham sebagai prinsipal. Konflik tersebut mendorong manajer menggunakan IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. manajemen laba untuk mencapai tujuan pribadi, seperti memperoleh bonus atau meningkatkan citra perusahaan di mata investor. Konteks Indonesia, fenomena ini semakin relevan mengingat banyaknya perusahaan publik serta tekanan investor terhadap stabilitas dan pertumbuhan laba (Apriadi & Setijaningsih, 2. Teori sinyal yang diperkenalkan Spence . menjelaskan bahwa terdapat dua pihak yang terlibat, yaitu manajemen sebagai pemberi sinyal dan investor sebagai penerima sinyal. Selain teori agensi, teori sinyal (Signaling Theor. juga digunakan untuk menjelaskan praktik manajemen laba. Teori ini memandang laporan keuangan sebagai sarana perusahaan untuk memberikan sinyal positif kepada pasar. Konteks ini, manajemen laba menjadi salah satu cara perusahaan menampilkan kinerja yang tampak baik, meskipun kondisi sebenarnya mungkin berbeda(Wijaya & Triyani, 2. Menurut Ray Ball & Philip Brown . mengemukakan teori motivasi (Motivational Theor. menjelaskan bahwa manajer terkadang menggunakan manajemen laba untuk memenuhi target internal perusahaan, seperti pencapaian laba tertentu yang terkait dengan bonus atau insentif lainnya (Angel et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis penelitian terkait manajemen laba di Indonesia pada periode 2020Ae2025. Metode SLR dipilih karena mampu menyajikan gambaran komprehensif tentang perkembangan penelitian secara sistematis, transparan, dan dapat direplikasi, sehingga meningkatkan keandalan dan validitas temuan. Identifikasi awal melalui kata kunci . creening judul dan abstra. A Evaluasi kelayakan . ull-text revie. A Seleksi akhir menggunakan kriteria inklusi/eksklusi. A Dokumentasi literatur terpilih menggunakan reference manager Mendeley. Hasil Systematic Literature Review (SLR) akan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel sintesis yang menjawab pertanyaan penelitian, disertai analisis terhadap: A tren publikasi dan fokus penelitian. A celah penelitian . esearch ga. A serta implikasi konseptual dan praktis bagi pengembangan akuntansi dalam mendukung kebijakan manajemen laba. Alur Penelitian Menentukan topik dan rumusan masalah dalam penelitian ini sbb: A Menyusun protokol SLR A Melakukan pencarian literatur A Seleksi dan evaluasi artikel A Ekstraksi dan sintesis data A Menyusun laporan hasil dan kesimpulan HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil sintesis pengumpulan artikel yang berkaitan dengan manajemen laba, berikut adalah ringkasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Tabel 1. Jurnal Sintesis Peneliti & Tahun Shaferiya . Hasil Penelitian Relevansi Temuan ini menunjukkan bahwa Hasil ini menjadi masukan untuk memiliki memperkuat IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Peneliti & Tahun Purnama . Angel . Nurhayati . Apriadi . Hasil Penelitian perencanaan pajak yang baik, profitabilitas tinggi, dan tata kelola yang baik cenderung lebih terlibat dalam manajemen laba. Namun, beban pajak yang kini tidak berpengaruh signifikan bisa jadi perpajakan yang lebih stabil atau penghindaran pajak yang sah. Hal ini menandakan bahwa meskipun perencanaan pajak tetap relevan, pengaruh langsung dari pajak terhadap manajemen laba menjadi lebih terbatas dalam konteks kebijakan pajak yang ada saat ini. Manajemen laba tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja Kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja Manajemen laba dilakukan dengan cara meningkatkan atau menurunkan laba, serta melakukan income smoothing, sesuai dengan tujuan dan kondisi perusahaan pada periode tertentu. Praktik ini memungkinkan perusahaan untuk mengatur laporan keuangan agar lebih sesuai dengan kebutuhan internal atau eksternal, seperti menjaga kestabilan laba atau memenuhi ekspektasi pasar. Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan yang lebih besar cenderung memiliki lebih banyak pengawasan dan mekanisme kontrol yang dapat mengurangi insentif untuk melakukan manipulasi laba. Temuan ini menunjukkan ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas, dan kepemilikan manajerial tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen Perusahaan besar mungkin lebih transparan dan terawasi, perusahaan dengan leverage tinggi cenderung lebih berhati-hati karena ada kewajiban kontraktual, dan perusahaan yang sangat Relevansi pengawasan praktik manajemen Manajemen laba yang dilakukan seorang manajer pada laporan keuangan organisasi tidak berdampak pada peningkatan ROA atau kekayaan investor. Manajemen laba terjadi saat manajer mengubah atau memanipulasi laporan keuangan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan kepada pemegang saham dan pihak terkait. Dalam kaitannya dengan teori agensi, manajemen dan pemegang saham memiliki kontrak kerja untuk mencapai tujuan yang diharapkan Hal ini dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan untuk memperketat kebijakan internal dalam pelaporan keuangan dan akuntansi, serta sebagai dasar pengembangan aturan untuk mencegah praktik manajemen laba. IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Peneliti & Tahun Wisely . Natasha . Wijaya . Hasil Penelitian menguntungkan atau dengan kepemilikan manajerial besar tidak selalu terdorong untuk melakukan manajemen laba. Temuan ini menunjukkan epemilikan keluarga dalam sebuah perusahaan bisa mempengaruhi manajemen laba karena keluarga yang memiliki kontrol atas perusahaan cenderung lebih fokus pada pengelolaan laba untuk tujuan jangka panjang, seperti menjaga reputasi dan kestabilan perusahaan. Namun, dalam beberapa kasus, keluarga juga bisa terdorong untuk melakukan manajemen laba untuk mencapai tujuan pribadi atau mempertahankan kekayaan Temuan ini menunjukkan bahwa kepemilikan institusional, yang merujuk pada investor besar seperti perusahaan investasi atau dana pensiun, juga dapat mendorong manajemen laba. Investor institusional sering kali menuntut laba yang stabil atau meningkat untuk melindungi investasi mereka, sehingga perusahaan mungkin merasa tertekan untuk mengelola laba agar memenuhi ekspektasi Begitu pula dengan blockholder, yaitu pemegang saham dengan proporsi saham yang besar, yang memiliki kekuatan lebih dalam mempengaruhi kebijakan perusahaan, termasuk kebijakan pelaporan keuangan. Mereka bisa saja mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba demi mencapai tujuan jangka pendek atau meningkatkan nilai Temuan ini menunjukkan kepemilikan manajerial dan profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen Manajer yang memiliki saham cenderung melakukan manajemen laba untuk meningkatkan kinerja Relevansi Perusahaan besar memiliki lebih banyak aset yang berisiko tidak dikelola dengan baik, sehingga manajemen laba lebih mungkin terjadi akibat kesalahan Komite audit yang memiliki keahlian berpengaruh dalam membatasi tindakan manajemen laba perusahaan. Kepemilikan manajerial dan profitabilitas terbukti berpengaruh positif terhadap manajemen laba, oleh karena itu investor perlu berhati-hati pada perusahaan dengan kedua karakteristik ini, karena IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Peneliti & Tahun Ani . Pratiwi . Hasil Penelitian yang dilaporkan, sementara perusahaan yang lebih menguntungkan memiliki insentif lebih besar untuk mengelola laba agar memenuhi ekspektasi pasar atau tujuan internal. Temuan ini menunjukkan kepemilikan manajerial, leverage, dan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap manajemen laba dalam penelitian ini. Kepemilikan manajerial, meskipun dapat memberikan insentif bagi manajer untuk mengelola laba demi tujuan jangka pendek atau kompensasi berbasis kinerja, tidak terbukti signifikan dalam mendorong manajemen laba. Begitu juga dengan leverage dan profitabilitas, yang meskipun mempengaruhi tekanan finansial atau pencapaian target, tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan praktik manajemen laba dalam konteks penelitian ini. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun perusahaan mungkin terlibat dalam praktik manajemen laba untuk memanipulasi atau menstabilkan laporan keuangan mereka, upaya tersebut tidak secara langsung meningkatkan atau merubah persepsi pasar terhadap nilai perusahaan. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan manajemen laba dalam memberikan gambaran yang akurat tentang kinerja jangka panjang perusahaan, yang lebih dihargai oleh investor dan pasar. Alih-alih, pasar mungkin lebih memperhatikan faktor-faktor fundamental seperti prospek bisnis, manajemen yang baik, dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Relevansi kemungkinan perusahaan tersebut melakukan praktik manajemen laba. Tindakan manajemen laba dilakukan oleh manajemen perusahaan tanpa bergantung pada ukuran perusahaan. Manajemen laba tidak mempengaruhi tingginya atau rendahnya nilai perusahaan, dan praktik manajemen laba tidak berpengaruh terhadap perubahan nilai perusahaan. Berdasarkan hasil studi literatur, praktik manajemen laba di Indonesia pada periode 2020Ae2025 dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor utama adalah regulasi Banyak perusahaan di Indonesia memanfaatkan manajemen laba untuk mengoptimalkan kewajiban pajak, misalnya dengan mengatur pengakuan pendapatan atau biaya guna menurunkan laba yang dilaporkan sehingga beban pajak berkurang. Hal ini menjadi IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. relevan karena kebijakan perpajakan di Indonesia sering berubah dan adanya insentif pajak yang dapat memengaruhi keputusan akuntansi. Tekanan ini muncul dari ekspektasi investor terhadap stabilitas dan pertumbuhan laba. Akibatnya, manajer cenderung menggunakan manajemen laba untuk menampilkan kinerja yang tampak lebih baik, terutama saat menghadapi kondisi ekonomi yang sulit atau ketidakpastian pasar. Konteks ini, manajemen laba tidak hanya digunakan sebagai strategi penghematan pajak, tetapi juga sebagai upaya menjaga stabilitas harga saham (Tambuati Subing & Purnama Sari, 2. Pandemi COVID-19 turut memengaruhi praktik ini. Banyak perusahaan menggunakan manajemen laba untuk mengurangi dampak finansial akibat pandemi, misalnya dengan menunda pengakuan kerugian atau mempercepat pengakuan pendapatan. Praktik tersebut memang dapat membantu perusahaan dalam jangka pendek, tetapi berpotensi menurunkan transparansi laporan keuangan dan meningkatkan ketidakpastian bagi investor (Susanto et al. Dari sisi regulasi, meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan transparansi pelaporan keuangan, pengawasan terhadap praktik manajemen laba masih perlu diperkuat. Peraturan yang ada belum sepenuhnya efektif membatasi praktik manajemen laba yang bersifat agresif. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa meskipun perusahaan wajib mengikuti Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), masih terdapat ruang interpretasi yang memungkinkan manajer melakukan manajemen laba dalam batas yang diizinkan oleh peraturan. Dinamika Manajemen Laba di Indonesia . 0Ae2. Periode 2020Ae2022: Dampak Pandemi COVID-19 dan Pelonggaran Kebijakan Pandemi COVID-19 membawa guncangan besar bagi ekonomi Indonesia, termasuk kinerja perusahaan publik. Beberapa dampak terhadap praktik manajemen laba antara lain: A Income Smoothing: Banyak perusahaan berupaya menstabilkan laba agar terlihat konsisten meskipun kondisi ekonomi memburuk. Praktik ini dilakukan untuk menjaga persepsi investor dan kreditur, mengingat ketidakpastian pasar dan fluktuasi permintaan selama pandemi (Yovianti & Dermawan, 2. A Big Bath Accounting: Pada tahun 2020, sejumlah perusahaan mengambil strategi big bath, yaitu mengakui seluruh kerugian sekaligus pada periode krisis. Strategi ini dilakukan agar tahun-tahun berikutnya tampak lebih menguntungkan. Fenomena ini biasanya muncul ketika perusahaan ingin AumembersihkanAy neraca sekaligus memanfaatkan kerugian untuk kepentingan fiscal (Chandra & Huang, 2. A Peran Stimulus Pemerintah: Perusahaan yang menerima stimulus fiskal, seperti PPnBM ditanggung pemerintah, cenderung memiliki ruang manajemen laba yang lebih kecil. Hal ini disebabkan adanya transparansi dan pengawasan terkait penggunaan stimulus, sehingga mengurangi insentif untuk manipulasi laba (Wisely & Karina, 2. Periode 2023Ae2025: Digitalisasi dan Peningkatan Transparansi Periode ini ditandai oleh adopsi teknologi digital dan penguatan regulasi, yang mengubah lanskap praktik manajemen laba di Indonesia: A Digitalisasi Pelaporan Keuangan: Sistem elektronik OJK. SILK, memungkinkan laporan keuangan perusahaan diunggah dan diawasi secara real-time. Digitalisasi ini meningkatkan akurasi, keterlacakan, dan transparansi laporan keuangan, sekaligus mempersulit praktik manipulatif (Ani, 2. IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Standar Akuntansi yang Lebih Ketat: Penerapan PSAK 72 (Pendapata. dan PSAK 73 (Sew. membatasi fleksibilitas perusahaan dalam mengakui pendapatan. Dengan batasan ini, ruang bagi manajer untuk melakukan rekayasa laba melalui pengakuan pendapatan agresif semakin sempit (Wisely & Karina, 2. Penggunaan AI dan Big Data: Auditor mulai memanfaatkan AI dan Big Data Analytics untuk mendeteksi pola abnormal dalam arus kas, pendapatan, dan pengeluaran. Hal ini mempermudah identifikasi praktik manajemen laba, terutama yang bersifat akrual maupun manipulasi data riil (Susanto et al. , 2. Pembahasan Manajemen laba . arnings managemen. adalah strategi manipulasi laporan keuangan yang dilakukan manajer untuk memengaruhi informasi yang dikomunikasikan kepada pemangku Tujuannya adalah mencapai target tertentu baik target internal untuk menjaga posisi dan kompensasi manajemen, maupun target eksternal yang diharapkan investor, analis, atau regulator. Praktik ini biasanya dilakukan dalam ruang abu-abu standar akuntansi, melalui pemilihan metode akuntansi dan estimasi tertentu yang masih berada dalam koridor aturan, sehingga sulit dinilai apakah tindakan tersebut beretika atau manipulatif. Dalam perspektif teori keagenan, manajemen laba merupakan implikasi dari konflik kepentingan antara prinsipal dan agen, yang diperparah oleh ketidakseimbangan informasi sehingga manajer memiliki peluang memoles kinerja untuk kepentingan pribadi (Wijaya & Triyani, 2. Di Indonesia, isu manajemen laba semakin penting pasca reformasi sektor keuangan, peningkatan transparansi pelaporan, dan pengawasan regulator seperti OJK dan BEI. Meskipun pembaruan regulasi dan penegakan standar audit telah dilakukan, praktik manipulasi laporan keuangan tetap berlangsung, baik yang terungkap melalui skandal maupun yang tersirat melalui temuan empiris. Dinamika bisnis periode 2020Ae2025 turut meningkatkan kompleksitas praktik manajemen laba. Penerapan PSAK terbaru seperti PSAK 72 dan PSAK 73 mengurangi fleksibilitas pengakuan pendapatan dan sewa, sehingga manajer beradaptasi dengan mencari cara baru untuk mengelola laba yang tetap sesuai aturan namun mampu mencapai target yang diharapkan (Yovianti & Dermawan, 2. Perusahaan di Indonesia terbukti menggunakan dua mekanisme utama, yaitu manipulasi akrual dan manipulasi aktivitas riil, dengan pemilihan metode bergantung pada motivasi, kondisi keuangan, dan karakteristik sektor perusahaan (Apriadi & Setijaningsih, 2. Pada kondisi tekanan tinggi, seperti menjelang penerbitan laporan keuangan. IPO, atau masa pemulihan pasca-pandemi, perusahaan cenderung menggeser fokus pada manajemen laba berbasis aktivitas riil, karena lebih sulit terdeteksi auditor dan regulator. Namun, strategi ini membawa konsekuensi jangka panjang berupa penurunan daya saing akibat pemotongan biaya strategis atau distorsi aktivitas operasional. Faktor pendorong praktik manajemen laba di Indonesia sangat beragam. Tekanan pasar modal menuntut perusahaan menjaga pertumbuhan laba secara stabil . mooth earning. Sistem perpajakan berbasis self-assessment memberi peluang bagi perusahaan untuk menurunkan laba kena pajak secara agresif. Tata kelola yang lemah minimnya independensi dewan, kepemilikan yang terkonsentrasi, serta komite audit yang tidak efektif memperbesar ruang manipulasi. Selain itu, era pelaporan ESG dan digitalisasi proses keuangan mempersempit ruang rekayasa laporan keuangan karena transparansi meningkat dan pengawasan publik lebih ketat (Saferiya & Darwis, 2. Seiring berkembangnya riset pada periode 2020Ae2025, para akademisi mulai menyadari bahwa praktik manajemen laba tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan struktural, tetapi juga IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. oleh aspek perilaku. Riset mutakhir menunjukkan bahwa bias psikologis manajer, tingkat tekanan etis, dan budaya organisasi memainkan peran penting dalam mendorong manipulasi laporan keuangan. Budaya kerja yang menoleransi short-cut behavior menjadikan manajemen laba dianggap sebagai Austrategi bisnisAy, bukan pelanggaran etika. Dengan kata lain, pendekatan perilaku memberikan penjelasan mengapa praktik ini tetap terjadi meskipun pengawasan formal semakin ketat (N. Sari & Khafid, 2. Selain itu, keterkaitan antara manajemen laba dan keberlanjutan perusahaan mulai banyak Ketika perusahaan terlalu fokus pada laba jangka pendek, keputusan operasional yang sebenarnya penting bagi masa depan seperti belanja riset, pemeliharaan aset, atau pengembangan inovasi sering dikorbankan demi memperbaiki angka laba untuk laporan tahun Fenomena ini sangat relevan dalam konteks pemulihan ekonomi pasca-pandemi, ketika perusahaan berjuang memperoleh dukungan investor namun berisiko melemahkan pondasi bisnis jangka panjangnya (Apriadi & Setijaningsih, 2. Digitalisasi akuntansi dan audit berbasis data membawa perubahan signifikan terhadap peluang manajemen laba. Teknologi seperti ERP, big data analytics, dan continuous auditing meningkatkan visibilitas transaksi dan mempersulit manipulasi akrual. Namun, pada saat bersamaan, muncul bentuk manipulasi baru yang berbasis operasional digital, seperti rekayasa data penjualan online atau pengaturan algoritma untuk memaksimalkan pendapatan jangka Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat menjadi pisau bermata dua: memperkuat pengawasan sekaligus menyediakan celah manipulasi baru (Tambuati Subing & Purnama Sari, 2. Di sisi lain, integrasi pelaporan keberlanjutan dan ESG menciptakan dinamika tambahan dalam tata kelola perusahaan di Indonesia. Transparansi non-keuangan dipandang sebagai mekanisme pelengkap untuk menilai integritas perusahaan, sehingga manajer lebih berhati-hati dalam melakukan manipulasi yang berpotensi terungkap melalui pengawasan pemangku kepentingan. Namun, praktik manipulasi informasi juga berkembang ke ranah non-keuangan melalui greenwashing, yaitu upaya menampilkan citra keberlanjutan yang tidak sesuai kenyataan. Dengan demikian, tantangan pengawasan tidak lagi sebatas memastikan kualitas laba, tetapi juga memastikan kualitas pengungkapan keberlanjutan yang semakin terintegrasi dalam laporan perusahaan (Adyastuti & Khafid, 2. Secara keseluruhan, dinamika 2020Ae2025 menunjukkan bahwa manajemen laba di Indonesia merupakan fenomena multidimensional yang melibatkan aspek regulasi, pasar, tata kelola, teknologi, serta perilaku manusia. Meskipun pengawasan semakin ketat, praktik ini terus berevolusi seiring perubahan lingkungan bisnis, sehingga memerlukan perhatian berkelanjutan dari regulator, auditor, investor, dan juga peneliti untuk menemukan pendekatan mitigasi yang lebih komprehensif dan adaptif terhadap berbagai bentuk manipulasi yang berkembang (H. Sari, 2. Implikasi Penelitian Manajemen Laba Penelitian mengenai manajemen laba memiliki implikasi yang luas, baik dari sisi akademis, praktis, maupun regulatori. Secara akademis, kajian literatur tentang praktik manajemen laba memberikan pemahaman lebih mendalam terkait faktor-faktor yang mendorong manipulasi laba, mekanisme yang digunakan . ccrual-based maupun real earnings managemen. , serta sektor dan karakteristik perusahaan yang lebih rentan. Penelitian ini juga menegaskan relevansi teori-teori akuntansi seperti Agency Theory. Signaling Theory, dan Positive Accounting Theory dalam menjelaskan motif dan perilaku manajer dalam mengelola laba. Selain itu, temuan ini membuka peluang pengembangan metodologi penelitian lebih inovatif, misalnya dengan IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. penerapan machine learning, big data analytics, atau studi berbasis digital reporting dan ESG, untuk mendeteksi praktik manipulasi laba secara lebih akurat. Sisi praktis, penelitian ini memberikan panduan bagi manajemen perusahaan, auditor, dan dewan komisaris terkait praktik terbaik dalam tata kelola perusahaan. Temuan bahwa perusahaan dengan good corporate governance dan auditor independen (Big Fou. cenderung memiliki praktik manajemen laba lebih rendah, menekankan pentingnya penguatan pengawasan internal dan profesionalisme auditor. Selain itu, perusahaan dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan transparansi laporan keuangan dan membangun kepercayaan investor, terutama di tengah tekanan pasar dan ekspektasi laba yang tinggi. Secara regulatori, implikasi penelitian ini bagi otoritas seperti OJK. BEI, dan IAI adalah perlunya penguatan regulasi dan pengawasan, termasuk penerapan standar akuntansi terbaru (PSAK 72 dan . , digitalisasi sistem pelaporan, serta penggunaan teknologi analisis data untuk mendeteksi anomali laporan keuangan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 dan tekanan pasar memengaruhi praktik manipulasi laba, sehingga regulasi dan pengawasan harus adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan risiko sistemik. Secara keseluruhan, penelitian tentang manajemen laba memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas laporan keuangan, perlindungan investor, serta pengembangan praktik tata kelola dan audit yang lebih efektif, sambil membuka peluang penelitian lanjutan yang kontekstual dan inovatif. SIMPULAN Berdasarkan kajian literatur sistematis, praktik manajemen laba di Indonesia selama periode 2020Ae2025 tetap berlangsung secara signifikan dan menunjukkan dinamika yang kompleks, dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang mendorong praktik ini antara lain regulasi perpajakan dan tekanan pasar modal. Dalam sistem perpajakan berbasis self-assessment, perusahaan memiliki fleksibilitas untuk mengatur pengakuan pendapatan dan biaya sehingga dapat menekan kewajiban pajak (Pratiwi et al. , 2. Selain itu, investor dan analis menuntut pertumbuhan laba yang stabil dan konsisten, terutama menjelang publikasi laporan triwulanan. IPO, atau aksi korporasi, sehingga menimbulkan tekanan bagi perusahaan untuk melakukan manipulasi laba, baik melalui income smoothing maupun real earnings management. Pandemi COVID-19 pada 2020Ae2022 turut memengaruhi praktik manajemen laba, di mana sejumlah perusahaan melakukan big bath accounting untuk mengakui kerugian sekaligus di tahun krisis, sementara perusahaan penerima stimulus pemerintah cenderung menunjukkan tingkat manajemen laba yang lebih rendah (Angel et al. Faktor internal juga memainkan peran penting dalam praktik manajemen laba. Target laba internal, insentif berbasis kinerja, dan kepentingan pribadi manajer mendorong manipulasi laba melalui kebijakan akrual maupun aktivitas riil (Saferiya & Darwis, 2. Selain itu, kualitas tata kelola perusahaan sangat menentukan tingkat praktik ini. perusahaan dengan dewan komisaris independen yang rendah, komite audit lemah, atau kepemilikan terkonsentrasi lebih rentan terhadap manipulasi laba, sedangkan perusahaan dengan good corporate governance menunjukkan praktik manajemen laba yang lebih rendah. Kualitas audit berpengaruh, di mana perusahaan yang diaudit oleh auditor besar (Big Fou. cenderung memiliki praktik manajemen laba yang lebih terbatas, sementara auditor kecil rentan terhadap konflik kepentingan akibat ketergantungan ekonomi pada klien (Alrob, 2. Praktik manajemen laba dilakukan melalui dua mekanisme utama, yaitu accual-based earnings management dan real earnings management. Manipulasi akrual dilakukan dengan mengatur IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. pengakuan pendapatan dan biaya untuk memengaruhi laba bersih, sedangkan manipulasi aktivitas riil dilakukan dengan mengubah keputusan operasional seperti penundaan pengeluaran, percepatan pengakuan pendapatan, atau penyesuaian produksi. Sektor dengan fluktuasi pendapatan tinggi, seperti manufaktur, properti, infrastruktur, dan F&B, lebih rentan terhadap praktik ini karena fleksibilitas pengakuan pendapatan dan penilaian aset tetap. Dampak praktik manajemen laba cukup signifikan, terutama terhadap transparansi laporan keuangan dan kepercayaan investor. Manipulasi laba dapat menyesatkan pemangku kepentingan, mengurangi kualitas informasi akuntansi, dan meningkatkan risiko sistemik di pasar modal. Meskipun praktik ini mungkin membantu perusahaan mencapai target laba atau menjaga harga saham dalam jangka pendek, praktik yang agresif dapat merusak reputasi dan stabilitas keuangan dalam jangka panjang. Perkembangan terbaru pada periode 2023Ae2025 menunjukkan pengaruh digitalisasi dan transparansi yang meningkat melalui sistem elektronik OJK (SILK), serta penerapan PSAK 72 (Pendapata. dan PSAK 73 (Sew. , yang membatasi fleksibilitas pengakuan pendapatan dan mengurangi ruang untuk manipulasi. Selain itu, penggunaan AI dan big data analytics oleh auditor memungkinkan deteksi pola abnormal dalam laporan keuangan, sementara perusahaan yang mengadopsi pelaporan ESG dan transparansi digital cenderung memiliki praktik manajemen laba lebih rendah karena pengawasan publik dan pemangku kepentingan yang lebih Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, ruang lingkup kajian literatur hanya mencakup penelitian yang dipublikasikan pada periode 2020Ae2025 sehingga temuan yang diperoleh mungkin belum sepenuhnya merepresentasikan dinamika jangka panjang praktik manajemen laba di Indonesia. Kedua, sumber literatur yang dianalisis terbatas pada artikel dan laporan akademik yang tersedia secara daring, sehingga terdapat kemungkinan bahwa penelitian relevan lainnya tidak teridentifikasi karena keterbatasan akses Ketiga, pendekatan Systematic Literature Review yang digunakan berfokus pada sintesis naratif tanpa menggunakan teknik kuantifikasi seperti bibliometric analysis, sehingga kedalaman analisis terhadap pola publikasi dan hubungan antarvariabel masih terbatas. Selain itu, sebagian besar literatur yang dianalisis masih menggunakan metode penelitian konvensional dan belum banyak mengadopsi pendekatan berbasis teknologi, sehingga pemahaman mengenai praktik manajemen laba berbasis data digital atau otomatisasi belum tergali secara komprehensif. Berdasarkan keterbatasan tersebut, beberapa rekomendasi dapat dipertimbangkan untuk penelitian berikutnya. Pertama, peneliti selanjutnya disarankan memperluas rentang waktu kajian serta menggunakan lebih banyak sumber database internasional agar cakupan literatur yang dianalisis menjadi lebih representatif dan komprehensif. Kedua, pendekatan analitis dapat diperluas dengan menggabungkan Systematic Literature Review dengan metode kuantitatif seperti bibliometric analysis atau meta-analysis untuk memperoleh gambaran yang lebih kuat mengenai tren penelitian dan hubungan empiris antarvariabel. Ketiga, penelitian selanjutnya perlu mengeksplorasi pendekatan yang lebih inovatif, terutama penerapan machine learning, analisis teks, big data, serta penggunaan data alternatif seperti media sosial atau data digital perusahaan untuk memahami praktik manajemen laba secara lebih kontekstual di era digital. Selain itu, penelitian lanjutan dapat mengkaji pengaruh faktor-faktor baru seperti digitalisasi, risiko sistemik, serta penerapan ESG secara lebih mendalam agar mampu memberikan kontribusi yang relevan terhadap tantangan akuntansi modern dan kebutuhan pengambilan keputusan di masa depan. IMPLEMENTASI PENELITIAN PERILAKU DALAM AKUNTANSI PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Aliya Dimarizkya1. Agus Munandar2* JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. DAFTAR PUSTAKA