Peningkatan Mutu Pendidikan Muhammadiyah melalui Implementasi Kurikulum ISMUBA dan Profesionalisme Guru Yunita Firnanda1. Nabila Dwi Aqmalia2. Abdul Kholid Achmad3 yunitafirnanda05@gmail. com, nabilaaqmila56@gmail. com, abdkholidachmad@umg. *Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komprehensif dinamika, tantangan, dan strategi peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah, terutama di era disrupsi, melalui telaah kritis terhadap implementasi Kurikulum AlIslam. Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) serta faktor profesionalisme guru. Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam dan pendidikan sejak 1912, secara historis hadir sebagai upaya pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia, mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum untuk mencetak ulama-intelektual atau intelektual-ulama. Kajian ini menerapkan metode studi pustaka kualitatif dengan menganalisis 20 dokumen PDF, meliputi dokumen resmi Muhammadiyah dan jurnal ilmiah. Analisis diperkuat dengan teknik deskriptif korelasional untuk menguji data profesionalisme guru, dan disintesis menggunakan model Miles dan Huberman. Temuan menunjukkan bahwa pengalaman mengajar memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru, sementara jenjang pendidikan dan pelatihan belum menunjukkan pengaruh signifikan. Strategi revitalisasi mencakup penguatan jaringan, ekspansi global, pengembangan program berbasis teknologi . eperti Muhammadiyah Online Universit. , dan revitalisasi ISMUBA/AIK untuk menguatkan ideologi dan kaderisasi. Kesimpulannya, pendidikan Muhammadiyah berpotensi unggul di era disrupsi jika komitmen terhadap pembaharuan . diterapkan secara holistik pada kurikulum, metode pembelajaran, dan profesionalisme guru. Kata Kunci: Pendidikan Muhammadiyah. ISMUBA. Kurikulum. Profesionalisme Guru ABSTRACT This study aims to comprehensively analyze the dynamics, challenges, and strategies for improving the quality of Muhammadiyah education, especially in the era of disruption, through a critical review of the implementation of the Al-Islam. Muhammadiyah, and Arabic Language Curriculum (ISMUBA) and teacher professionalism factors. Muhammadiyah, as an Islamic and educational movement since 1912, has historically been present as an effort to renew Islamic education in Indonesia, integrating religious knowledge and general knowledge to produce ulamaintellectuals or intellectual-ulama. This study applies a qualitative literature study method by analyzing 20 PDF documents, including official Muhammadiyah documents and scientific journals. The analysis is strengthened by descriptive correlational techniques to test teacher professionalism data, and synthesized using the Miles and Huberman model. The findings indicate that teaching experience has a positive and significant influence on teacher professionalism, while education and training levels have not shown a significant influence. Revitalization strategies include strengthening networks, global expansion, developing technology-based programs . uch as Muhammadiyah Online Universit. , and revitalizing ISMUBA/AIK to strengthen ideology and cadre development. In conclusion. Muhammadiyah education has the potential to excel in the era of disruption if the commitment to renewal . is applied holistically to the curriculum, learning methods, and teacher professionalism. Keywords: Muhammadiyah Education. ISMUBA. Curriculum. Teacher Professionalism. 1 Ae JISM UMG Vol 1 No 1 . P ISSN || E ISSN || DOI: 10. 30587/jism. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun martabat dan peradaban manusia, serta menjadi penentu keberlangsungan hidup dan kemajuan suatu bangsa. Dalam konteks sejarah Indonesia. Persyarikatan Muhammadiyah Aiorganisasi Islam terbesar yang didirikan oleh K. Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M di Yogyakarta telah menempatkan pendidikan sebagai sarana strategis dalam mewujudkan tatanan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Lahirnya gerakan pendidikan Muhammadiyah didorong oleh dua faktor utama: Faktor Subjektif, yang berasal dari pendalaman K. Ahmad Dahlan terhadap Al-Qur'an, khususnya surah Ali 'Imran ayat 104 dan 110, yang menyeru untuk membentuk suatu perkumpulan yang teratur untuk melaksanakan misi dakwah amar maAoruf nahi mungkar , dan Faktor Objektif, mencakup kondisi dikotomi pendidikan, lemahnya sistem pendidikan Islam, serta praktik agama yang tercampur TBC . ahayul, bidAoah, khurafa. Sistem pendidikan kolonial melarang pelajaran agama, sementara pesantren tradisional hanya mengajarkan agama, menciptakan dikotomi yang Ahmad Dahlan merespons kondisi dikotomis ini dengan filosofi integrasi keilmuan, menolak pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Filosofi beliau bercorak progresif-religius, bertujuan melahirkan ulama-intelektual atau intelektual-ulama, yaitu insan yang menguasai ilmu keislaman mendalam sekaligus ilmu keduniaan luas, dan siap berjuang untuk kemajuan Inisiatif ini diwujudkan melalui pendirian Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah . sebuah model sekolah modern yang mengadopsi sistem Barat namun mengintegrasikan pelajaran agama. Model ini dikenal sebagai HIS met the Qur'an atau "sekolah umum plus", yang menjadi embrio bagi sekolah Islam modern di Indonesia. Saat ini, dengan ribuan amal usaha pendidikan yang tersebar luas. Muhammadiyah memasuki era Industri 4. 0 yang ditandai oleh disrupsi digital dan kebutuhan akan kompetensi Tantangan terbesar adalah memastikan kualitas pendidikan yang merata . idak hanya kuantita. dan menjaga identitas ideologis yang terwujud dalam Kurikulum ISMUBA/AIK (AlIslam. Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Ara. dari ancaman formalitas. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam: . Bagaimana dinamika konsep pendidikan Muhammadiyah, khususnya model pesantren dan kurikulum khas ISMUBA/AIK, beradaptasi dengan tuntutan zaman? . Apa saja tantangan utama yang dihadapi oleh pendidikan Muhammadiyah di era disrupsi, terutama yang berkaitan dengan profesionalisme guru? . Bagaimana strategi revitalisasi yang telah dan perlu diimplementasikan untuk meningkatkan mutu pendidikan Muhammadiyah di masa mendatang? METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi metode kualitatif dengan jenis pendekatan studi pustaka . ibrary researc. , yang secara khusus dirancang untuk melakukan telaah kritis dan analisis mendalam terhadap konsep, ideologi, dan strategi organisasi. Metode ini sangat relevan untuk mengkaji dinamika historis, tantangan implementasi, dan strategi revitalisasi pendidikan Muhammadiyah, 2 Ae JISM UMG Vol 1 No 1 . P ISSN || E ISSN || DOI: 10. 30587/jism. sesuai dengan tujuan penelitian yang berfokus pada kurikulum ISMUBA dan profesionalisme guru di era disrupsi. Fokus kajian diarahkan pada tiga dimensi utama: konteks historis dan sosiologis penggunaan konsep pendidikan Muhammadiyah, periodisasi perkembangan model pendidikan, serta kesinambungan filosofis antara pemikiran K. Ahmad Dahlan dan praktik kontemporer. Sumber data dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi dua jenis. Data primer mencakup dokumen resmi Persyarikatan Muhammadiyah yang bersifat foundational dan regulatif, seperti naskah kurikulum ISMUBA/AIK. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta Tanfidz Keputusan Muktamar atau Rapat Kerja Nasional (Rakerna. yang berkaitan dengan kebijakan pendidikan. Data sekunder diperoleh dari sintesis berbagai artikel jurnal ilmiah, bab buku, dan publikasi penelitian yang relevan, baik nasional maupun internasional, dengan total 20 dokumen PDF yang diinventarisasi sebagai bahan analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui inventarisasi dan dokumentasi sistematis terhadap seluruh sumber tertulis tersebut memastikan kelengkapan dan validitas data yang diperlukan untuk menjawab semua pertanyaan Teknik analisis data inti yang digunakan adalah model interaktif Miles dan Huberman, yang melibatkan empat alur kegiatan utama yang berlangsung secara simultan. Tahapan tersebut meliputi pengumpulan data yang masif dari berbagai sumber. reduksi data untuk memilah, menyederhanakan, dan memfokuskan data sesuai dengan tujuan kajian. penyajian data . ata displa. dalam bentuk narasi dan sintesis tabel. dan terakhir, penarikan kesimpulan atau verifikasi untuk menguji temuan terhadap konsistensi teori dan data. Di samping analisis kualitatif, untuk menganalisis temuan empiris terkait profesionalisme guru . ebagaimana terdapat pada bagian Temua. , diterapkan analisis deskriptif kuantitatif-korelasional khususnya analisis korelasi Pearson untuk menginterpretasikan secara statistik hubungan dan kontribusi antarvariabel, seperti pengalaman mengajar terhadap profesionalisme. Terakhir, aspek keabsahan data dipastikan melalui teknik konten check point. Teknik ini melibatkan proses verifikasi silang . untuk menguji konsistensi, akurasi, dan kebenaran setiap informasi dan argumen yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan, terutama dalam membandingkan data primer . ebijakan resm. dengan data sekunder . mplementasi lapangan dan hasil studi empiri. Prosedur ini krusial untuk menjaga validitas temuan, khususnya pada bagian yang menyangkut kesenjangan antara kebijakan ideal . urikulum ISMUBA) dengan praktik aktual di lapangan, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan 3 Ae JISM UMG Vol 1 No 1 . P ISSN || E ISSN || DOI: 10. 30587/jism. HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika Konsep dan Struktur Kelembagaan Temuan menunjukkan bahwa tujuan filosofis pendidikan Muhammadiyah telah mengalami adaptasi berkelanjutan, mencerminkan evolusi tantangan masyarakat. Tujuan yang dirumuskan pada tahun 1936 di Betawi bersifat komprehensif, mencakup aspek religius . erkobar semangatny. , fisik . adannya sehat, tegap bekerj. , dan kemandirian . idup tangannya mencari Pembaharuan tujuan ini terus dilakukan, mengarah pada pembentukan individu Muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya diri, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat dan negara. Dinamika ini menegaskan peran pendidikan Muhammadiyah sebagai gerakan yang responsif terhadap kebutuhan zaman, dari era kolonial hingga memasuki era disrupsi digital saat ini. Secara kelembagaan. Persyarikatan Muhammadiyah saat ini mengelola ribuan Amal Usaha (AUM) pendidikan yang tersebar luas di seluruh Indonesia, mulai dari jenjang prasekolah hingga perguruan tinggi. Data yang terkumpul menunjukkan skala kuantitas yang masif, termasuk 3. Taman Kanak-Kanak, 1. 134 Sekolah Dasar, 1. 181 SMP, 512 SMA, 250 SMK, hingga 172 Perguruan Tinggi. Skala ini merupakan bukti konkret dari komitmen organisasi dalam mewujudkan cita-cita mencerdaskan bangsa. Namun, kuantitas yang besar ini juga menimbulkan tantangan, yakni memastikan bahwa kualitas pendidikan dan identitas ideologis dapat merata di seluruh jaringan AUM tersebut. Evolusi kelembagaan yang paling menarik adalah adopsi dan pengembangan sistem Awalnya mengkritik pesantren tradisional. Muhammadiyah kemudian mendirikan Pesantren Muhammadiyah (PontrenM. sebagai bentuk autokritik terhadap sistem sekolah modernnya sendiri yang dikhawatirkan kehilangan identitas. Model PontrenMu saat ini sangat beragam, meliputi sistem integral . enggabungkan sekolah/madrasah dan asram. , sistem takhassus . pesialisasi Al-Qur'an atau Sain. , dan model boarding school. Diversifikasi ini menunjukkan upaya aktif Muhammadiyah dalam menyediakan model pendidikan yang fleksibel, tetapi tetap berakar kuat pada integrasi ilmu dan amal. Pendidikan Muhammadiyah, sejak kelahirannya, adalah gerakan pembaruan . yang secara fundamental berupaya mewujudkan pendidikan yang integratif-holistik. Filosofi ini lahir sebagai respons kritis terhadap dikotomi pendidikan di era kolonial, yang menciptakan fragmentasi sosial dan intelektual. Ahmad Dahlan merespons kondisi ini dengan konsep HIS met the Qur'an, yang merupakan penolakan terhadap pemisahan ilmu agama dan ilmu umum, dengan tujuan akhir mencetak ulama-intelektual atau intelektual-ulama individu yang memiliki kedalaman ilmu keislaman sekaligus kompetensi duniawi. Dalam perkembangan kontemporer, visi integratif ini diperkuat melalui pengembangan Pesantren Muhammadiyah (PontrenM. PontrenMu muncul sebagai autokritik internal Muhammadiyah terhadap sistem sekolah formalnya yang dikhawatirkan terlalu sekuler atau kehilangan identitas ideologis. Dengan mengintegrasikan pendidikan formal . dengan pengasuhan asrama dan penguatan ideologi intensif. PontrenMu berperan sebagai solusi 4 Ae JISM UMG Vol 1 No 1 . P ISSN || E ISSN || DOI: 10. 30587/jism. revitalisasi untuk menjamin lahirnya kader yang memiliki kedalaman spiritual dan komitmen ideologi yang kuat. Model ini membuktikan bahwa Muhammadiyah terus mencari bentuk pendidikan yang paling efektif dan berakar pada tajdid. Inti dari paradigma integrasi progresif ini adalah memastikan lulusan memiliki kekuatan karakter dan landasan spiritual yang tidak tergoyahkan oleh modernisasi dan disrupsi. Konsep ini menolak pandangan bahwa kemajuan teknologi harus mengorbankan nilai agama. Sebaliknya, ilmu pengetahuan dan teknologi (Ipte. diposisikan sebagai alat . untuk mencapai tujuan Islam dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dengan demikian. PontrenMu dan filosofi integrasi menjadi kunci untuk menjaga konsistensi ideologi di tengah tantangan globalisasi dan disrupsi Implementasi Kurikulum ISMUBA dan Pembentukan Karakter Kurikulum ISMUBA (Al-Islam. Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Ara. teridentifikasi sebagai ciri khas utama dan keunggulan kompetitif lembaga pendidikan Muhammadiyah. Kurikulum ini didesain sebagai benteng ideologi dan moral, bertujuan untuk membangun karakter kuat dan etika baik pada siswa. Tujuan substansial dari ISMUBA adalah menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan komitmen terhadap tajdid . dan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar. Kehadiran kurikulum khas ini menjadi pembeda esensial AUM pendidikan dari lembaga pendidikan umum lainnya. Implementasi kurikulum ini menekankan integrasi holistik antara Iman dan Takwa (Imta. dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ipte. Materi Al-Islam difokuskan pada pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang murni, sementara Kemuhammadiyahan bertujuan menanamkan pemahaman ideologi dan mendorong partisipasi aktif siswa dalam gerakan Pendidikan karakter sendiri tidak hanya terbatas pada kelas agama, melainkan diimplementasikan melalui berbagai saluran, seperti kegiatan ekstrakurikuler (Tapak Suci. Hizbul Watha. dan pembiasaan harian . eperti sholat Dhuha dan Dzuhur berjamaa. Efektivitas implementasi kurikulum juga didukung oleh metode pembelajaran yang inovatif. Studi kasus empiris menunjukkan bahwa penggunaan strategi pembelajaran modern. Misalnya penerapan media PowerPoint di SDIT Muhammadiyah Sinar Fajar Cawas, mampu meningkatkan motivasi dan prestasi siswa. Selain itu, temuan di SMP Muhammadiyah 10 Matesih membuktikan bahwa integrasi pendidikan karakter dalam aktivitas sekolah, seperti penguatan etika peduli lingkungan, dapat menumbuhkan tanggung jawab sosial siswa. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya inovasi pedagogis untuk menghindari pengajaran ISMUBA yang bersifat kaku atau formalitas belaka. Temuan mengenai minimnya pengaruh pelatihan formal terhadap profesionalisme guru, berbanding terbalik dengan signifikan kontribusi pengalaman mengajar, merupakan alarm kritis bagi sistem pengembangan SDM di AUM. Hasil analisis korelasional ini menyiratkan bahwa komitmen pribadi dan refleksi praktik . earning by doin. jauh lebih efektif daripada desain pelatihan yang ada saat ini. Kegagalan pelatihan menunjukkan bahwa program yang ditawarkan 5 Ae JISM UMG Vol 1 No 1 . P ISSN || E ISSN || DOI: 10. 30587/jism. seringkali bersifat one-size-fits-all, terlalu teoritis, atau tidak relevan dengan kebutuhan praktis guru di lapangan. Kesenjangan profesionalisme ini menjadi hambatan utama dalam merespons Era 4. Guru yang gaptek atau tertinggal dalam penguasaan teknologi akan kesulitan mengimplementasikan pembelajaran inovatif, apalagi mengintegrasikan nilai ISMUBA/AIK ke dalam konten digital. Oleh karena itu, solusi mendesak adalah revitalisasi total desain pelatihan. Pelatihan harus dirancang secara adaptif, berkelanjutan, dan berbasis kompetensi digital yang spesifik, seperti manajemen kelas online, penggunaan Learning Management System (LMS), dan pengembangan konten berbasis TIK. Lebih dari sekadar teknis, revitalisasi harus berfokus pada ideologisasi kualitatif terhadap guru. Pelatihan harus mampu mentransformasi guru dari sekadar pengajar mata pelajaran menjadi kader dan driver organisasi yang memiliki kesadaran penuh terhadap visi-misi Muhammadiyah. Dengan demikian, pelatihan yang efektif tidak hanya meningkatkan keterampilan profesional teknis, tetapi juga memperkuat komitmen ideologis dan mengubah pola pikir, sehingga guru mampu mengintegrasikan AIK/ISMUBA secara kontekstual, bukan sekadar administrasi formalitas. Tantangan Profesionalisme Guru dan Kesiapan Era 4. Hasil analisis deskriptif kuantitatif-korelasional mengenai profesionalisme guru menunjukkan temuan yang signifikan dan paradoksal. Data dari SMA Muhammadiyah Kebumen memperlihatkan bahwa Pengalaman Mengajar memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru, menyumbang sebesar 12,2%. Artinya, komitmen pribadi dan refleksi praktik di lapangan jauh lebih dominan dalam membentuk kompetensi guru. Kontrasnya, variabel Jenjang Pendidikan dan Pelatihan formal . ecara individu maupun bersama-sama dengan pengalaman mengaja. ditemukan memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap Temuan empiris ini didukung oleh tantangan kualitatif yang dihadapi para guru di AUM. Hambatan utama mencakup kurangnya fasilitas berbasis komputer, keterbatasan waktu persiapan media pembelajaran, dan minimnya kebiasaan guru dalam memanfaatkan media modern. Secara ideologis, tantangan terbesarnya adalah formalisasi AIK/ISMUBA, di mana materi ideologi hanya diajarkan sebatas teori tanpa menjadi ruh yang menjiwai etos kerja. Kondisi ini diperparah oleh kesenjangan teknologi yang menciptakan guru yang gaptek, sebuah masalah krusial di tengah tuntutan Revolusi Industri 4. Secara makro, tantangan di era disrupsi digital meliputi stagnasi kualitas dan mutu AUM secara umum, meskipun jumlahnya sangat banyak. Kualitas yang belum mampu bersaing secara nasional atau internasional menjadi isu serius. Oleh karena itu, kesiapan AUM memasuki era 4. terhambat oleh faktor sumber daya manusia . yang kurang adaptif terhadap teknologi digital dan kurangnya pelatihan yang relevan. Ini menjadi indikasi penting bahwa perbaikan kualitas harus dimulai dari revitalisasi total sistem pelatihan guru dan penyediaan infrastruktur digital yang 6 Ae JISM UMG Vol 1 No 1 . P ISSN || E ISSN || DOI: 10. 30587/jism. Strategi Muhammadiyah dalam menghadapi disrupsi 4. 0 berfokus pada dua pilar utama: Ekspansi Digital dan Global serta Ideologisasi Kualitas yang mendalam. Ekspansi Digital diwujudkan melalui inisiatif modern seperti Muhammadiyah Online University (MOU) dan modernisasi infrastruktur teknologi di AUM. Langkah ini menunjukkan kesiapan organisasi untuk memanfaatkan teknologi dalam memperluas akses dan jangkauan pendidikan, sekaligus mendukung visi ekspansi global. Ekspansi ini adalah bukti nyata dari semangat tajdid yang tidak pernah berhenti. Namun, tantangan terbesar adalah mengatasi stagnasi kualitas yang tidak merata dan memerangi formalisasi AIK/ISMUBA. Untuk itu, strategi fundamental adalah Revitalisasi Ideologi agar AIK/ISMUBA dihidupkan sebagai etos kerja dan ruh gerakan yang menjiwai seluruh aktivitas sekolah. Revitalisasi ini menuntut penanaman kesadaran visi-misi yang mendalam pada seluruh sivitas akademika, mengubah pola pikir dari mental passenger . anya menumpang hidup di AUM) menjadi mental driver . enggerak dan kade. Pilar ketiga adalah penguatan kualitas SDM dan kelembagaan. Penguatan PontrenMu menjadi sangat penting dalam mencetak kader ulama-intelektual dengan komitmen ideologi yang Selain itu, diperlukan mekanisme penjaminan mutu yang ketat di seluruh AUM untuk memastikan standar kualitas nasional dan internasional tercapai. Dengan mengombinasikan ekspansi digital, revitalisasi ideologi yang substantif, dan peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan yang adaptif. Muhammadiyah dapat memastikan pendidikannya tetap unggul, relevan, dan berkarakter di era disrupsi. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah memiliki landasan filosofis yang konsisten sebagai gerakan pembaruan . yang menekankan integrasi ilmu agama dan ilmu umum. Prinsip tersebut terbukti adaptif terhadap perubahan sosial, termasuk dalam menghadapi tantangan era disrupsi digital. Kajian terhadap dinamika kelembagaan memperlihatkan bahwa perkembangan kuantitatif amal usaha pendidikan Muhammadiyah belum sepenuhnya diimbangi dengan pemerataan kualitas, khususnya terkait profesionalisme guru dan konsistensi implementasi kurikulum ISMUBA/AIK. Analisis terhadap implementasi Kurikulum ISMUBA mengonfirmasi bahwa kurikulum ini berperan sebagai instrumen ideologis dan pembentukan karakter peserta didik. Namun efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh kapasitas pedagogis guru dan kesiapan lembaga dalam menghindari praktik pembelajaran yang bersifat formalistik. Temuan empiris menunjukkan bahwa pengalaman mengajar memberikan pengaruh signifikan terhadap profesionalisme guru, sementara jenjang pendidikan dan pelatihan formal belum menunjukkan kontribusi yang berarti. Ketidaksesuaian ini mengindikasikan perlunya desain pelatihan yang lebih adaptif, berbasis kebutuhan kompetensi digital, serta penguatan pemahaman ideologis sebagai bagian dari identitas pendidikan Muhammadiyah. Di tengah penetrasi teknologi dan dinamika global, strategi revitalisasi pendidikan Muhammadiyah perlu diarahkan pada tiga fokus utama: . penguatan kapasitas sumber daya 7 Ae JISM UMG Vol 1 No 1 . P ISSN || E ISSN || DOI: 10. 30587/jism. manusia melalui pelatihan berkelanjutan yang relevan dengan tuntutan era 4. 0, . optimalisasi pemanfaatan teknologi melalui pengembangan platform pembelajaran digital dan ekspansi jaringan global, serta . penguatan ideologi kelembagaan agar nilai-nilai ISMUBA/AIK tidak sekadar menjadi mata pelajaran, tetapi menjadi kultur dan etos gerakan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Muhammadiyah memiliki potensi strategis untuk tetap kompetitif dan berkelanjutan pada era disrupsi, apabila pembaruan . diimplementasikan secara holistik pada ranah kurikulum, metode pembelajaran, dan pengembangan profesionalisme guru. Upaya revitalisasi yang komprehensif dan terukur diperlukan untuk memastikan peningkatan mutu pendidikan yang setara di seluruh amal usaha Muhammadiyah serta menjaga relevansi dan keunggulan identitasnya di tingkat nasional maupun internasional. DAFTAR PUSTAKA