Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat Meiti Subardhini1*. Moch Zaenal Hakim1. Silvia Fatmah Nurusshobah1 Program Studi Rehabilitasi Sosial. Poliktenik Kesejahteraan Sosial Bandung. Jawa Barat. Indonesia * Korespondensi : meiti. subardhini@gmail. com Tel: 628122350710 Diterima: 6 Agustus 2024. Disetujui: 16 Maret 2025. Diterbitkan: 30 April 2025 Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan permasalahan psikososial yang dihadapi korban perdagangan orang di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Perdagangan orang merupakan kejahatan serius yang melibatkan eksploitasi manusia melalui berbagai bentuk pemaksaan dan penipuan, dan membutuhkan pemahaman mendalam tentang dampak psikologis dan sosial yang dialami oleh Dengan mengumpulkan data dari wawancara mendalam terhadap empat informan yang pernah menjadi korban perdagangan orang, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak psikososial seperti trauma, kecemasan, stigma, dan kesulitan sosial, serta mengevaluasi upaya-upaya yang telah dilakukan untuk Selain empat informan utama, penelitian ini juga menggunakan data tambahan dari sumber lain, seperti pengurus SBMI dan dokumen pendukung, yang memperkaya analisis dan memberikan konteks yang lebih luas terhadap temuan-temuan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para korban mengalami trauma berat, stigma sosial, dan kesulitan untuk beradaptasi kembali ke masyarakat. Upaya yang dilakukan meliputi layanan konseling, bantuan ekonomi, dan pelatihan keterampilan, namun masih membutuhkan dukungan lebih lanjut dan pendekatan yang komprehensif untuk pemulihan. Penelitian ini menunjukkan perlunya strategi integratif yang melibatkan dukungan psikologis, rehabilitasi sosial, dan perlindungan hukum untuk membantu para korban dan secara efektif mengatasi perdagangan orang. Kata kunci: Perdagangan Orang. Psikososial. Rehabilitasi Korban Abstract: This study describes the psychosocial problems faced by trafficking victims in Sukabumi and Indramayu. West Java, using a qualitative approach. Human trafficking is a serious crime involving human exploitation through various forms of coercion and deception, and requires an in-depth understanding of the psychological and social impacts experienced by victims. By collecting data from in-depth interviews with four informants who have been victims of trafficking, this study aims to identify psychosocial impacts such as trauma, anxiety, stigma, and social difficulties, and evaluate the efforts that have been made for their recovery. In addition to the four main informants, the study also used additional data from other sources, such as SBMI officials and supporting documents, which enriched the analysis and provided a broader context to the findings. The results showed that victims experienced severe trauma, social stigma, and difficulties in adapting back to society. Efforts made include counseling services, economic assistance, and skills training, but still require further support and a comprehensive approach to recovery. This research suggests the need for an integrative strategy involving psychological support, social rehabilitation, and legal protection to assist victims and effectively address trafficking. Keywords: human trafficking, psychosocial, victim rehabilitation Pendahuluan Perdagangan orang merupakan kejahatan kemanusiaan yang kompleks dan berdampak luas, tidak hanya dalam aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga dalam dimensi psikologis dan sosial para Korban perdagangan orang kerap mengalami eksploitasi berat seperti kerja paksa, prostitusi paksa, dan bentuk perbudakan modern lainnya (ILO, 2. Di balik angka-angka kasus yang terus meningkat, tersembunyi dampak psikososial mendalam yang menghancurkan kehidupan korban, baik secara mental maupun sosial. Oleh karena itu, pendekatan psikososial menjadi penting untuk memahami pengalaman korban secara utuh, termasuk trauma yang dialami, tekanan sosial, hingga hambatan dalam proses pemulihan. https://ejournal. id/index. php/jsk/article/view/3478 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 Para ahli di bidang hak asasi manusia, seperti Kevin Bales . , mengungkapkan bahwa perdagangan orang sering kali melibatkan jaringan kejahatan terorganisir yang beroperasi di berbagai negara dan lintas batas. Hal ini menciptakan tantangan besar bagi penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Bales menjelaskan bahwa perdagangan orang tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang, tetapi juga di negara maju, menunjukkan bahwa ini adalah masalah global yang memerlukan perhatian dan tindakan segera dari komunitas internasional. Menurut laporan dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC, 2. , perdagangan orang juga berkaitan erat dengan berbagai bentuk kejahatan transnasional lainnya, termasuk perdagangan narkotika dan pencucian uang. Jaringan kejahatan ini sering kali memanfaatkan kelemahan dalam sistem hukum dan penegakan hukum di berbagai negara untuk menjalankan operasi Oleh karena itu, penting bagi negara-negara untuk meningkatkan kerja sama internasional dan memperkuat kerangka hukum domestik mereka untuk memberantas perdagangan orang. Louise Shelley . , perdagangan orang juga merupakan isu ekonomi, menguraikan bagaimana permintaan akan tenaga kerja murah dan eksploitasi seksual di pasar global mendorong praktik perdagangan Ia juga menunjukkan bahwa kemiskinan, kurangnya kesempatan ekonomi, dan ketidakadilan gender adalah faktor-faktor yang sering memaksa individu untuk menjadi korban perdagangan orang. Perdagangan orang adalah kejahatan yang kompleks dan multidimensional yang memerlukan pendekatan holistik untuk pencegahan dan penanggulangannya. Para ahli sepakat bahwa pendekatan yang efektif harus mencakup upaya penegakan hukum yang kuat, peningkatan kesadaran publik, serta pemberian dukungan dan perlindungan yang komprehensif bagi korban. Hanya dengan kerja sama global dan komitmen yang kuat dari semua pihak, perdagangan orang dapat diberantas secara efektif. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, memiliki mobilitas penduduk yang tinggi dan keragaman sosial ekonomi yang luas. Kondisi ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan kasus perdagangan orang yang cukup signifikan. Setiap tahunnya, ribuan orang, terutama perempuan dan anak-anak, menjadi korban perdagangan orang baik untuk tujuan eksploitasi seksual, kerja paksa, maupun eksploitasi lainnya. Menurut data dari International Organization for Migration (IOM) . , 102 korban kasus perdagangan orang dilaporkan di Indonesia, dengan estimasi jumlah korban yang jauh lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak dilaporkan atau terungkap. Konteks ini sangat relevan dengan situasi di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat seperti Sukabumi dan Indramayu. Kedua daerah ini dikenal sebagai titik rawan perdagangan orang, dengan korban mayoritas berasal dari kelompok perempuan dan anak-anak yang rentan secara sosial ekonomi. Faktor kemiskinan, rendahnya akses pendidikan, dan minimnya peluang kerja menjadi penyebab utama yang mendorong migrasi tidak aman dan praktik perdagangan orang. Data Komisi Nasional Perempuan mencatat peningkatan kasus perdagangan orang di Sukabumi dan Indramayu setiap tahunnya, sementara laporan BP2MI . menunjukkan tingginya jumlah pekerja migran asal daerah ini yang berangkat tanpa dokumen resmi, meningkatkan risiko eksploitasi. Pada tahun 2018, misalnya, tercatat sekitar 150 kasus perdagangan orang di Sukabumi dan sekitar 120 kasus di Indramayu, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Faktor-faktor seperti kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, dan keterbatasan lapangan kerja serta rendahnya keterampilan kerja menjadi penyebab utama yang mendorong individu-individu rentan ke dalam perangkap perdagangan orang di Sukabumi dan Indramayu. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Sukabumi mencapai 12% pada tahun . , dan di Indramayu mencapai 10%, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Selain itu, angka partisipasi sekolah di Sukabumi dan Indramayu juga lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat, dengan banyak anak yang putus sekolah pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Berdasarkan laporan dari berbagai lembaga lokal dan nasional, seperti Lembaga Perlindungan Anak Sukabumi. Yayasan Pusaka Indonesia, dan Lembaga Perlindungan Anak Indramayu, kedua kota Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 tersebut mengalami peningkatan jumlah kasus perdagangan orang dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun . , tercatat sekitar 180 kasus baru di Sukabumi dan 160 kasus baru di Indramayu, meningkat dari tahun sebelumnya. Tren peningkatan ini menunjukkan perlunya perhatian khusus dan tindakan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat, untuk menangani masalah perdagangan orang di kedua kota ini secara efektif. Selain itu, keterbatasan lapangan kerja, khususnya di beberapa daerah di Jawa Barat, juga menjadi faktor pendorong signifikan. Banyak penduduk yang mencari pekerjaan ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri, yang sering kali menjadi target empuk bagi perekrut perdagangan orang. Berdasarkan data BP2MI tahun 2021, sekitar 224 orang pekerja migran dari Sukabumi dan 361 dari Indramayu tidak memiliki dokumen resmi, meningkatkan risiko mereka menjadi korban perdagangan orang. Perdagangan orang di Indonesia, dan khususnya di Jawa Barat, adalah masalah serius yang memerlukan pendekatan komprehensif untuk pencegahan dan penanganannya. Data pada 2022, data KemenpA mencatat 1. 201 kasus perdagangan orang di Indonesia, dengan Jawa Barat sebagai daerah asal signifikan. Faktor kemiskinan, pendidikan rendah, dan migrasi ilegal menjadi penyebab utama. Implementasi UU No. 21/2007 dan rehabilitasi korban dilakukan, namun tantangan tetap ada, memerlukan sinergi lintas pihak untuk penanganan menyeluruh dalam upaya berkelanjutan dari berbagai pihak untuk mengatasi faktor-faktor penyebab dan memberikan perlindungan serta dukungan yang memadai bagi korban. Pendekatan psikososial sangat penting dalam memahami kondisi korban perdagangan orang. Teori psikososial menekankan pentingnya interaksi antara faktor-faktor psikologis dan sosial dalam membentuk perilaku dan pengalaman individu. Menurut Erik Erikson. , seorang psikolog yang mengembangkan teori tahap perkembangan psikososial, pengalaman hidup dan hubungan sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Bagi korban perdagangan orang, gangguan pada tahap perkembangan ini dapat terjadi akibat pengalaman traumatis yang menghancurkan rasa aman dan kepercayaan diri hingga mengganggu kehidupan sehari hari. Dalam konteks perdagangan orang, pendekatan ini membantu mengidentifikasi dampak psikologis seperti trauma, depresi, dan kecemasan yang dialami oleh korban. Trauma adalah salah satu dampak psikologis utama yang sering dialami oleh korban perdagangan orang. Menurut Judith Herman . , seorang psikiater dan penulis terkemuka, yang dikenal atas kontribusinya dalam studi trauma dan kekerasan interpersonal, trauma yang dialami korban dapat menyebabkan gangguan stres pascatrauma (PTSD), yang ditandai dengan kilas balik, mimpi buruk, dan kecemasan yang berat, yang jika tidak ditangani dapat menghambat proses reintegrasi sosial. Herman menekankan bahwa pemulihan dari trauma memerlukan proses yang panjang dan dukungan yang berkelanjutan, baik dari aspek psikologis maupun sosial. Selain itu, faktor sosial seperti stigma, isolasi, dan dinamika keluarga juga berperan penting dalam proses pemulihan korban. Stigma sosial sering kali membuat korban merasa malu dan bersalah, yang dapat menghambat mereka untuk mencari bantuan dan dukungan. Isolasi sosial juga menjadi masalah serius, karena banyak korban yang dipisahkan dari keluarga dan komunitas mereka. Menurut Bronfenbrenner . , seorang psikolog dan teoritikus perkembangan terkenal yang menciptakan Teori Ekologi Perkembangan Manusia, dalam teorinya tentang ekologi perkembangan manusia, lingkungan sosial dan dukungan komunitas sangat penting dalam membentuk kesejahteraan individu. Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas dapat memberikan rasa aman dan membantu proses pemulihan. Bronfenbrenner . menekankan pentingnya dukungan lingkungan sosial dalam proses pemulihan individu, sehingga intervensi berbasis komunitas menjadi salah satu strategi kunci dalam rehabilitasi korban perdagangan orang Memahami faktor-faktor psikososial ini memungkinkan penyedia layanan, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah untuk merancang program rehabilitasi dan reintegrasi yang lebih efektif dan holistik. Sebagai contoh, program yang dirancang oleh Polaris Project di Amerika Serikat menggunakan pendekatan psikososial untuk membantu korban perdagangan orang. Program ini mencakup konseling psikologis, dukungan sosial, dan pelatihan keterampilan kerja, yang semuanya dirancang untuk memulihkan kesejahteraan mental dan sosial korban. Namun demikian, meski data Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 kuantitatif terkait jumlah kasus sangat penting, perhatian utama dalam studi ini difokuskan pada dinamika psikososial yang dialami para korban setelah mengalami eksploitasi. Isolasi sosial, stigma sebagai AukorbanAy, serta kerusakan hubungan keluarga menjadi tantangan berat dalam proses pemulihan mereka. Sebagaimana ditunjukkan oleh Polaris Project . , pendekatan holistik yang mengintegrasikan dukungan psikologis, sosial, dan keterampilan hidup terbukti efektif membantu korban membangun kembali kehidupannya. Hal serupa ditekankan oleh Lisa Goldblatt Grace . dalam pengalamannya menangani korban perdagangan orang, bahwa pemulihan tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memerlukan proses penyembuhan psikologis dan rekoneksi sosial yang berkelanjutan. Sebuah program di Boston yang menyediakan dukungan untuk korban perdagangan orang, pemulihan yang efektif harus mencakup pemulihan dari trauma, membangun kembali hubungan sosial, dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk kehidupan yang mandiri. Grace menekankan bahwa tanpa pendekatan holistik ini, korban perdagangan orang berisiko mengalami retraumatisasi dan kesulitan dalam reintegrasi ke dalam Pendekatan psikososial menjadi kunci dalam upaya pencegahan dan penanganan perdagangan orang secara komprehensif. Pendekatan ini memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran dan efektif, dengan mempertimbangkan semua aspek kehidupan korban, baik dari sisi psikologis maupun Para ahli sepakat bahwa pemulihan yang holistik dan dukungan berkelanjutan sangat penting untuk membantu korban perdagangan orang membangun kembali kehidupan mereka dan mencegah kejadian serupa di masa depan. Teori psikososial menekankan pentingnya interaksi antara faktorfaktor psikologis dan sosial dalam membentuk perilaku dan pengalaman individu. Dengan mengaplikasikan teori ini pada kasus perdagangan orang, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana korban dipengaruhi oleh trauma, stigma, dan dinamika sosial di sekitar mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah psikososial yang dihadapi oleh korban perdagangan orang di Sukabumi dan Indramayu serta mengevaluasi upaya-upaya penanganan yang telah diterapkan. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran mendalam mengenai pengalaman korban, tantangan dalam proses pemulihan, serta efektivitas intervensi yang sudah dilakukan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan program rehabilitasi berbasis psikososial yang lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus mendorong sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penanggulangan perdagangan orang secara lebih holistik Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus guna memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai masalah psikososial yang dialami oleh korban perdagangan orang di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang berfokus pada pengalaman subjektif dan kompleks para korban (Creswell, 2. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dengan empat korban perdagangan orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, berdasarkan kriteria seperti usia, jenis kelamin, pengalaman eksploitasi, serta kesiapan untuk berbagi pengalaman. Meskipun jumlah informan hanya empat orang, pemilihan dilakukan secara cermat untuk merepresentasikan variasi kasus yang ada di dua lokasi penelitian, dengan mempertimbangkan keterbatasan akses terhadap korban dan sensitivitas topik yang diteliti. Jumlah informan yang terbatas menjadi salah satu keterbatasan penelitian ini, namun pendekatan kualitatif tetap memungkinkan eksplorasi mendalam atas pengalaman masing-masing korban dalam konteks psikososial mereka. Selain data primer, penelitian ini juga mengumpulkan data sekunder dari pengurus Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) serta dokumen-dokumen pendukung lainnya, seperti laporan lembaga Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 pendamping korban dan data kasus perdagangan orang di tingkat lokal. Data sekunder ini digunakan untuk melengkapi dan memperkaya temuan dari wawancara primer, dengan memberikan konteks yang lebih luas mengenai dinamika kasus perdagangan orang di daerah penelitian, serta untuk validasi silang terhadap informasi yang diperoleh dari para korban. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan telaah dokumentasi, sebagaimana disarankan oleh Rubin dan Rubin . Wawancara dilakukan secara langsung di lokasi atau tempat tinggal para informan, sehingga dapat meminimalisasi pengaruh jawaban antar-informan. Adapun waktu pelaksanaan wawancara berlangsung secara bertahap, yaitu pada tanggal 12, 13, 23, dan 24 Juni 2023, dengan masing-masing informan diwawancarai dalam dua sesi untuk menggali informasi lebih Data dianalisis dengan pendekatan tematik sesuai panduan Braun dan Clarke . , melalui tahapan pengorganisasian, pengkodean, sintesis, hingga interpretasi data untuk menemukan tema-tema utama terkait dampak psikososial yang dialami korban serta strategi pemulihan yang Hasil Hasil penelitian akan menyajikan hasil wawancara mendalam terhadap lima orang informan yang akan diurai melalui pembahasan tentang karakteristik informan, masalah psikososial yang dialami/ dirasakan saat kejadian dan setelah mengalami perdagangan orang juga tentang upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut Informan 1 Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 1, maka diketahui bahwa Informan 1 merupakan ibu rumah tangga saat ini berusia 39 tahun. Pendidikan terakhir tamat SD, kurang lebih dua tahun yang lalu meenjadi korban perdagangan orang di Malyasia. Beliau bercerita bahwa dia ikut menjadi TKW secara illegal alias tidak sesuai prosedur yg seharusnya dilakukan. Masalah kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi beliau alami saat di penampungan TKW di Malaysia, di rumah penampungan tersebut tinggal ratusan orang TKW Indonesia . urang lebih 100 oran. yang sedang menunggu panggilan kerja dari majikan yang akan memperkerjakan mereka, padahal rumah penampungan itu mungkin idealnya hanya untuk sekitar 30 atau 40 orang saja, sehingga bisa dibayangkan untuk bisa tidur saja bergantian dan mereka tidak boleh keluar rumah penjagaan sangat Demikian juga halnya dengan jatah makan sangat terbatas, bisa makan sehari sekali dengan lauk seadanya saja sudah untung. Rata rata penghuni rumah penampungan itu juga sudah berbulan bulan tinggal bahkan ada yg sudah satu tahun karena tidak ada calon majikan yg dijanjikan datang menjemput, selanjutnya informan 1 menyampaikan terkait masalah yang dialaminya : AuSemua penghuni camp dipaksa untuk bekerja membereskan tempat, memasak dll dengan kondisi seadanya. Security semuanya galak dan sering marah marah, tidak boleh keluar camp, kalau ada yang melanggar dipukul, bahkan ada juga beberapa orang yg dilecehkan oleh Security. Semua security itu orang Indonesia tapi sikap mereka sangat kejam, mungkin mereka juga stress karena ketidak jelasan agen dan calon majikan yang tak kunjung datang mencari atau memninta kami para pekerjaApokoknya semua dalam tekananAy. Setelah hampr 2 bulan beliau tinggal ditempat penampungan dengan penyakit yg lebih parah, tiba tiba ada temannya yg secara sembunnyi memiliki HP . arena tidak boleh membawa alat komunikas. , selanjutnya informan 1 pinjam HP temannya dan membuat video yang mengisahkan bagaimana penyiksaan yang dia alami selama di camp penampungan. Video tersebut dikirim kekeluarganya di Indonesia dan ternyata viral, akhirnya R dijemput oleh petugas KBRI dan difasilitasi oleh keluarganya untuk pulang, sayangnya itu tidak berlaku pada teman-teman lainnya di camp Informan 1 juga menyampaikan bahwa sampai sekarang ( saat wawancara berlangsung ) masih sering merasa sedih mengingat hal itu, muncul ketakutan luar biasa, sering terbangun dimalam hari dan menangis tanpa sebab, bahkan beberapa bulan setelah kepulangan ke tanah air tidak berani keluar rumah bahkan selalu curiga pada orang yang datang. Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 Aokata sodara saya mengalami trauma yaa bu, karena saya masih sering teringat kejadian disana pokonya yang tidak mengenakan itu padahal itu sudah lama, terus badan dan pikiran saya kemana mana, seperti itu badan rasanya lemas, berkeringat mual dan pusing juga, pokoknya kayak orang stressAAy ( informan 1 , 12 Juni 2. Terkait dengan upaya untuk mengatasi masalah tersebut beberapa kali informan 1 mendapat undangan dari Kementerian Luar Negeri untuk dijadikan saksi terkait video viral yang dia buat namun informan 1 merasa beruntung karena pihak berwenang tahu kondisi traumatis informan 1 sehingga yang bersangkutan telah tiga kali menjalani pemeriksaan dan mendapatkan layanan konseling yang sangat dia butuhkan. 2 Informan 2 Merupakan seorang ibu rumah tangga berumur 32 tahun Pendidikan akhir tamat SD dan baru kurang lebih 6 bulan Kembali ke Indonesia setelah 8 bulan bekerja diluar negeri, mengalami kisah yang juga memilukan, lebih jauh informan 2 bertutur : AuKata orang kantornya saya bekerja untuk mengurus nenek nenek yang masih bisa memasak sendiri dan keliatan baik tetapi pada saat saya bekerja disana saya pernah dilempar centong terus kalau saya tidak mengerti bahasa sana ya sudah di siksa. Makan aja sehari cuman satu kali, kalau bikin mie aja tidak boleh pakai kompor tapiharus pakai air panas saja dan tidak boleh makan di dalam harus diluar. Lalu saya minta dipulangkan ke masko yaitu kantor tempat penampungan kemarin tetapi tidak boleh dan tidak lama majikan saya mengantarkan saya ke kantor disana saya di introgasi meminta bukti kalau saya di siksa dan saya tetap ingin pulang dan saya disuruh membuat surat pernyataan setelah ditanya ke 5 kali mau kerja lagi atau tidak akhirnya saya dapat ticket rombongan ada 8 orang yang pulang sama sayaAy Bersama ke delapan orang yang pulang kembali bersama sama ke Indonesia informan 2 tidak sadar kalau mereka korban trafficking, hanya saja pada saat mereka meminta kembali uang pembayaran dan gaji yang setengahnya dibayarkan melalui agen mereka mendapat kesulitan dan pihak sponsor tidak bertanggung jawab tentang hal itu dan tidak taat pada perjanjian sebelumnya. Ternyata penyalurannya benar tetapi PT atau sponsornya dinyatakan illegal. Sehubungan dengan masalah yang informan 2 alami, perasaan saat ini yang masih terasa selain rasa marah, kecewa dan takut jika melihat orang asing yang tidak dikenal, yang bersangkutan merasa malu dan merasa tidak punya muka jika berhadapan dengan lingkungan tetangga dan saudara, tuturnya seperti ini : AuNiat saya kesana pikiran kan mau nyenengin anak tau tau udah kesana kaya gitu. Saya juga dapat kekerasan disana. , dan tetangga juga sodara sekarang pada tahu kalau saya korban perdagangan orang saya tertipu A saya benar benar merasa malu dan tidakberani keluar rumahAy ( informan 2, 13 Juni 2. Adapun dalam mengatasi persoalan yang ada belum banyak yang dilakukan oleh informan 2, meskipun beliau sangat ingin segera dapat mengatasi masalah psikososial yang dihadapinya, terutama dalam rangka bergaul kembali dengan lingkungan sosial terdekat dan juga keluarganya. 3 Informan 3 Seorang laki laki berusia 42 tahun. Pendidikan terakhir tamat SD saat ini bekerja sebagai pedagang aneka minuman atas sumbangan dari program pemberdayaan International Migration Organitation (IOM). Beliau menjadi TKI secara legal ke negara Malaysia kurang lebih 1,5 tahun yang lalu, lebih jauh informan 3 bercerita : AuSaya diberi informasi oleh agen kalau gaji yang akan diterima sebesar 4,2 juta rupiah setiap bulan dan akan dikontrak selama 1 tahun. Kenyataannya jauh berbeda dengan janji yang pernah disampaikan, saya bekerja sebagai buruh pabrik milik orang Korea di sekitar hutan daerah Tihot Sinjang, kerja buruh yang cukup melelahkan di mulai dari jam 6. 00 pagi sampai dengan jam 18. 00 sore dengan waktu istirahat hanya 15 Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 menit untuk makan. Penjagaan cukup ketat dengan security yang selalu mengawasi, tidak boleh istirahat sedikitpun bahkan tidak boleh menjalankan ibadah sholat 5 waktu karena dianggap akan mengganggu Jika peraturan itu dilanggar maka akan kena sanksi yang cukup berat teramsuk disekap di sel. Ay Semua pekerja kurang lebih 50 orang yang sebagian besar orang Indonesia ditempatkan dalam satu perumahan sekitar pabrik yang jauh dari kata layak, tidur berdempetan, air bersih kurang dan diberi makan dua kali saat siang . menit waktu kerj. dan makan malam. Menu makan juga jauhdari kata layak, bahkan informan 3 menyampaikan: Ausaya aja di Indonesia kalau ngasih makan binatang lebih bagus daripada menu makan disanaAy. Akibatnya banyak pekerja yang tidak mau makan dan akhirnya jatuh sakit. Jika ada pegawai yang sakit dipersilahkan untuk berobat dengan jaminan kartu asuransi yang dibagikan pihak perusahaan, akan tetapi pernah satu orang karyawannya sakit ternyata kartu itu tidak berfungsi alias tidak bisa Yang lebih menyakitkan lagi ternyata setiap bulan hanya diberi gaji sebesar 800. 00 rupiah dan gaji tersebut jika melakukan pelanggaran atau kesalahan akan dipotong juga. Semua pekerja awalnya protes akan tetapi pihak perusahaan tidak merasa menjanjikan gaji besar, sehingga protes mereka tidak diterima bahkan jika ngeyel gajinya akan kena potongan. Karena penjagaan cukup ketat baik siang maupun malam sehingga tidak ada yang berani atau bisa kabur. Kesempatan pulang tatkala mengantar salah seorang temannya yang sakit keras, karena kecelakaan kerja kakinya harus diamputasi, tapi pihak perusahaan tidak bersedia menangani, akhirnya informan 3 nekad membawa kabur temannya sambal digendong melewati hutan dan pulang ke Indonesia lewat jalur darat, beruntung tiap perkampungan selalu saja ada orang yang menolong. Terkait dengan perasaan saat itu , informan 3 menyampaikan : AuSaya benar benar merasa tertipu, dan ini diluar perkiraan saya, karena saya merasa berangkat Melalui agen resmi dan bayarnnya juga bukan sedikit, jadi rasa marah, kecewa selalui menghantui belum lagi rasa salah kepada keluarga, berniat mencari nafkah untuk menghidupi anak isteri ternyata kena tipu, saya selama kurang lebih 10 bulan disana tidak bisa tidur, makan juga tidak enak badan saya menyusut dan sering sakitsakitan. Sampai sekarang meskipun sudah setahun lebih Kembali dirumah saya selalu mencoba mencari orang yang dulu memberangkatkan saya, sayangnya agen itu sudah tutup dan tidak ada seorangpun yang tahu mereka ada dimanaA. Saya akan bikin perhitungan dengan mereka. Ay Sehubungan dengan upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah psikososial yang dihadapi akibat kasus perdagangan orang yang informan 3 alami, beliau menuturkan : Au jujur bu saya merasa kesulitan untuk mengatasi perasaan marah dan kecewa sampai sekarang bahkan kadang keluarga menjadi sasaran, nampaknya saya belum puas kalau belum ketemu agen yang memberangkatkan saya dulu, namun alhamdulilah sekarang berkat IOM Melalui SBMI setempat saya mendapat bantuan usaha, jadi ada sedikit hiburan dan kesibukan yang mudah2an akan menjadi ladang pekerjaan saya kedepannyaA ( informan 3 , 23 Juni 2. 4 Informan 4 Seorang janda berusia 39 tahun. Pendidikan terakhir SMA ( tidak tama. saat ini sedang tidak bekerja, sehubungan dengan pengalaman yang bersangkutan menjadi korban perdagangan orang dengan kisah yang cukup memilukan. Informan 4 bekerja sebagai penjaga lansia semacam suster dari orang Cina, lansia perempuan yang sudah tidak berdaya diurusnya secara telaten dan penuh kasih sayang, bahkan si nenek sering memberi bonus berupa uang untuk pada informan 4 ini tanpa sepengetahuan keluarganya: Ausebetulnya saya betah bu bekerja disana akan tetapi saya dapat perlakuan yang tidak baik dari suaminya nenek / lansia yang saya urus dan juga dari supirnya. Setiap malam saya tidak bisa tidur karena kamar saya tidak dikunci dan secara sengaja kuncinya diambil oleh kakeknya, tiap malam kakek itu datang kekamar saya untuk melakukan hal tidak senonoh dan saya selalu berusaha melawan, pernah saya laporkan hal itu kepada salah seorang anaknya tapi seperti tidak ditanggapi dan bahkan seperti saya harus memakluminya. Saking tidak kuatnya akhirnya saya bilang pada supirnya dan meminta tolong dia untuk membuat kunci baru. Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 Namun supir tersebut bukannya menolong malah berniat melakukan hal yang sama seperti si kakek, lebih parah supir itu sampai mengancam jika lapor pada majikan. Saya betul betul ketakutan dengan situasi itu, setiap hari kerja tidak fokus, sering melamun bahkan menangis dan tidak bisa tidur. Akhirnya saya memberanikan diri lapor pada agen dan meminta untuk pindah pekerjaan. Setelah 7 bulan bekerja menjadi suster lansia dan upaya saya untuk pindah pekerjaan tidak dapat dipenuhi oleh agen, maka saya memutuskan pulang ke Indonesia karena khawatir juga jika mendapat majikan yang lebih buruk lagi dari yang sudah dialami, namun ternyata agen saya tidak resmi sehingga saat saya mengadu tentang masalah yang saya alami bukannya dibantu malah saya harus membayar kekurangan waktu karen tidak sesuai dengan perjanjian, sekarang saya sudah Kembali kerumah namun saya diwajibkan membayar denda pada agen. Informan 4 ini sedang mencari perlindungan pada SBMI setempat untuk bisa diusahakan agar terbebas dari denda yang dibebankan padanya. Peneliti mencoba menggali perasaan yang dia alami baik saat masih bekerja maupun sekarang, informan 4 menuturkan sebagai berikut : Aosetiap malam saya ketakutan bahkan kadang sampai tidak tidur karena khawatir tiba tiba ada yg masuk kamar saya, seperti yang pernah saya alamiAsampai sekarang peristiwa itu selalu membekas saya bahkan sering terbangun di malam hari sambal menangis, saya pun tidak berani menerima pekerjaan apapun yang mengharuskan saya tinggal diluar rumah ( informan 4, 24 Juni 2. Adapun upaya yang sedang dilakukan untuk mengatasi hal itu informan 4 meminta bantuan SBMI setempat selain untuk membebaskan dia dari denda yang harus dia bayar, juga agar dapat bantuan Latihan keterampilan kerja dan permodalan dari Lembaga terkait supaya memiliki pekerjaan tanpa harus meninggalkan rumah. Pembahasan Karakteristik Informan dan Dampak Psikososial Dalam penelitian mengenai perdagangan orang, pemahaman mendalam tentang karakteristik dan pengalaman para korban sangat penting untuk menilai dampak psikososial dan sosial-ekonomi yang mereka alami. Analisis ini penting untuk menggambarkan perbedaan mekanisme psikososial antara korban yang mengalami eksploitasi seksual dan korban kerja paksa, karena masing-masing kelompok dapat mengalami dampak psikologis yang berbeda, seperti tingkat trauma, bentuk coping, serta kebutuhan dukungan sosial yang khas. Informan 1, seorang ibu rumah tangga berusia 39 tahun dengan pendidikan terakhir tamatan SD, menjadi korban perdagangan orang di Malaysia melalui jalur ilegal sekitar dua tahun lalu. Dalam situasi ini. Informan 1 mengalami kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi di penampungan TKW, tempat yang semestinya hanya menampung 30-40 orang tetapi ternyata menampung lebih dari 100 Pengalaman ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam perlindungan pekerja migran. Menurut Farrell et al. , latar belakang ekonomi dan pendidikan yang rendah membuat individu lebih rentan terhadap eksploitasi. Informan 1 tidak hanya menghadapi kekerasan fisik tetapi juga perlakuan yang merendahkan martabatnya. Teori Trauma Bonding yang dijelaskan oleh Dutton & Painter . menunjukkan bahwa korban dapat membentuk ikatan emosional dengan pelaku sebagai mekanisme bertahan hidup, yang sering terjadi dalam situasi kekerasan yang berkepanjangan. Kondisi ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk perlindungan hukum dan intervensi yang lebih baik untuk pekerja migran. Informan 1 mengalami kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi di penampungan TKW, mencerminkan kegagalan sistemik dalam perlindungan pekerja migran. Menurut Farrell et al. , latar belakang ekonomi dan pendidikan yang rendah membuat individu lebih rentan terhadap Dalam konteks ini. Teori Trauma Herman . memberikan gambaran lebih dalam mengenai dampak psikologis jangka panjang yang dialami oleh Informan 1, khususnya terkait Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 gangguan stres pasca-trauma (PTSD), yang dapat memperparah ketidakmampuan korban dalam beradaptasi sosial. Informan 2, seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun dengan pendidikan tamat SD, mengalami kekerasan dan perlakuan tidak layak dari majikan selama 8 bulan bekerja di luar negeri. Setelah kembali ke Indonesia. Informan 2 baru menyadari bahwa ia adalah korban perdagangan orang. Rasa malu dan ketidakmampuan untuk bergaul kembali dengan lingkungan sosial mencerminkan dampak psikososial yang mendalam. Menurut Barker & Gill . , ketidakpahaman korban mengenai status mereka sebagai korban trafficking sering mengakibatkan kesulitan dalam mengakses perlindungan dan dukungan. Rasa malu dan isolasi sosial yang dialami oleh Informan 2 sesuai dengan teori Stigma yang dikemukakan oleh Goffman . , yang mengidentifikasi bagaimana stigma sosial memperburuk dampak psikososial dan menyebabkan korban semakin terisolasi dalam masyarakat Ini menunjukkan perlunya dukungan psikologis dan sosial yang lebih intensif untuk membantu korban berintegrasi kembali ke dalam masyarakat. Informan 2 menghadapi rasa malu dan isolasi sosial setelah kembali ke Indonesia, yang sesuai dengan Teori Stigma dari Goffman . Selain itu, keterbatasan akses sosial yang dialami oleh Informan 2 dapat dipahami melalui perspektif psikososial bahwa isolasi memperburuk proses penyembuhan trauma (Herman, 1. , sehingga intervensi berbasis komunitas menjadi penting. Informan 3, seorang pedagang minuman berusia 42 tahun dengan pendidikan tamat SD, mengalami perlakuan buruk dan pelanggaran kontrak di pabrik di Malaysia meskipun berangkat secara legal. Informan ini pulang ke Indonesia dengan membawa teman yang sakit, menunjukkan adanya kekurangan perlindungan dan pelanggaran hak-hak pekerja migran. Informan 3 mengalami penipuan agen dan kondisi kerja tidak manusiawi, dengan dampak psikologis berupa stres berat. Hal ini sejalan dengan Teori Stres Lazarus dan Folkman . yang menunjukkan bagaimana tekanan berkepanjangan tanpa coping yang memadai dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik dan Penelitian oleh Scholte . menekankan pentingnya pengawasan terhadap agen penyalur tenaga kerja untuk memastikan hak-hak pekerja terlindungi. Rasa marah dan kecewa yang dialami Informan 3 berhubungan dengan Teori Stres oleh Lazarus & Folkman . , yang menunjukkan bahwa penilaian negatif terhadap situasi dapat menyebabkan stres berkepanjangan. Pengalaman Informan 3 menggambarkan betapa pentingnya reformasi dalam sistem penyaluran tenaga kerja dan perlunya upaya yang lebih besar dalam memastikan hak-hak pekerja. Informan 4, seorang janda berusia 39 tahun dengan pendidikan tidak tamat SMA, mengalami kekerasan seksual dari majikan dan supir saat bekerja sebagai suster lansia di luar negeri. Pengalaman ini menyebabkan trauma berat, ketakutan, dan kesulitan tidur, serta ketidakmampuan untuk menerima pekerjaan lain setelah kembali ke Indonesia. Teori Trauma yang dikemukakan oleh Herman . menunjukkan bahwa kekerasan seksual dapat menyebabkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) yang mendalam, mempengaruhi kemampuan korban untuk berfungsi secara normal. Gejala seperti ketakutan, gangguan tidur, dan trauma yang berkepanjangan mencerminkan dampak serius dari kekerasan seksual. Informan 4 sedang mencari perlindungan dan bantuan dari lembaga terkait, menunjukkan perlunya dukungan yang komprehensif untuk korban kekerasan seksual. Informan 4 mengalami kekerasan seksual dan tekanan psikologis berat. Menurut Herman . , trauma seksual memiliki efek jangka panjang yang lebih kompleks dibandingkan trauma non-seksual, yang dalam hal ini memperkuat kebutuhan intervensi psikologis khusus seperti terapi trauma intensif. Karakteristik dan pengalaman para informan dalam penelitian ini menunjukkan dampak yang signifikan dari perdagangan orang terhadap kesehatan psikososial dan kesejahteraan mereka. Dari kekerasan fisik dan psikologis hingga trauma jangka panjang, dampak yang dialami mencerminkan perlunya reformasi sistemik dan dukungan yang lebih baik bagi korban. Pendekatan multidimensional yang mencakup perlindungan hukum, dukungan psikologis, dan rehabilitasi sosial sangat penting dalam proses pemulihan korban perdagangan orang. Bahwa terdapat variasi pengalaman psikososial antara korban kerja paksa dan korban kekerasan seksual, di mana korban kekerasan seksual cenderung Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 mengalami trauma yang lebih kompleks, sedangkan korban kerja paksa lebih dominan mengalami stres berkepanjangan dan frustrasi akibat ketidakadilan sosial dan ekonomi. 2 Masalah Psikososial Yang Di Alami Analisis ini memperkuat hubungan antara dampak psikososial yang dialami korban dengan kerangka teori psikososial yang telah diuraikan sebelumnya, sehingga interpretasi data menjadi lebih 1 Masalah Psikososial Informan 1: Trauma Berat dan Kecemasan Informan 1, seorang ibu rumah tangga berusia 39 tahun, menghadapi dampak psikososial yang signifikan setelah mengalami perdagangan orang di Malaysia. Dalam narasi ini, kita akan menjelaskan secara mendalam masalah trauma berat dan kecemasan yang dialami oleh Informan 1, serta dukungan teoritis dari literatur terkait. Informan 1 melaporkan sejumlah gejala yang konsisten dengan dampak trauma berat. Ia mengalami ketakutan mendalam yang secara jelas mempengaruhi kualitas hidupnya sehari-hari. Gangguan tidur menjadi salah satu gejala utama yang muncul, di mana Informan 1 sering terbangun di malam hari, terjaga oleh mimpi buruk dan kecemasan yang terus-menerus. Selain itu, ia mengalami reaksi fisik seperti lemas, mual, dan pusing gejala yang sering terkait dengan stres dan trauma yang mendalam. Menurut Judith Herman . dalam bukunya Trauma and Recovery: The Aftermath of Violence - From Domestic Abuse to Political Terror, trauma berat dapat mengakibatkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Herman menjelaskan bahwa PTSD ditandai oleh gejala seperti gangguan tidur, ketakutan yang mendalam, dan reaksi fisik yang intens. Gangguan ini adalah bagian dari respon tubuh terhadap pengalaman trauma yang ekstrem, yang dalam hal ini diakibatkan oleh kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi yang dialami Informan 1. Herman juga menjelaskan bahwa PTSD sering melibatkan gangguan dalam cara seseorang memproses pengalaman traumatik, yang mempengaruhi kesejahteraan emosional dan fisik mereka. Trauma tersebut sering kali menyebabkan penderitaan berkepanjangan, yang dapat mengganggu fungsi sehari-hari dan relasi sosial. Pengalaman Informan 1 mengonfirmasi pandangan Herman . mengenai fase-fase trauma yang berkepanjangan, di mana fase keselamatan dan stabilisasi menjadi tantangan awal yang masih sulit dicapai oleh korban. Foa et al. menggarisbawahi bahwa korban PTSD sering mengalami gangguan tidur, kecemasan, dan kesulitan beradaptasi secara sosial. Gejala-gejala ini mengindikasikan adanya gangguan dalam pemrosesan emosional yang diperlukan untuk pemulihan. Buku ini menyarankan pendekatan terapi berbasis pemrosesan emosional untuk membantu korban mengatasi trauma dan mengurangi gejala PTSD. Pengalaman Informan 1 menunjukkan perlunya intervensi psikologis yang komprehensif untuk membantu korban pulih dari trauma. Terapi berbasis pemrosesan emosional, seperti yang dijelaskan oleh Foa et al. , dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam membantu Informan 1 menghadapi dan mengatasi gejala PTSD. Pendekatan ini bertujuan untuk membantu individu memproses dan mengintegrasikan pengalaman traumatik mereka, sehingga mengurangi dampak negatif pada kesehatan mental dan emosional mereka. Selain itu. Herman . menekankan pentingnya dukungan sosial dan pemulihan jangka panjang dalam proses penyembuhan. Intervensi yang mencakup konseling, dukungan kelompok, dan terapi individu dapat memberikan lingkungan yang aman bagi korban untuk berbicara tentang pengalaman mereka dan belajar mengatasi gejala trauma. Dalam kasus Informan 1, pengalaman perdagangan orang dan perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya mengakibatkan dampak psikososial yang mendalam, termasuk trauma berat dan Gejala yang dialaminya seperti ketakutan mendalam, gangguan tidur, dan reaksi fisikAi menggambarkan respon tubuh dan pikiran terhadap pengalaman trauma ekstrem. Literatur teoretis dari Herman . dan Foa et al. memberikan landasan yang kuat untuk memahami dan Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 menangani masalah ini, serta menyoroti perlunya intervensi psikologis yang komprehensif untuk mendukung pemulihan Informan 1. 2 Masalah Psikososial Informan 2: Rasa Marah dan Malu Informan 2, seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun, menghadapi dampak psikososial yang mendalam setelah kembali ke Indonesia setelah mengalami perdagangan orang. Rasa marah, kecewa, dan malu yang dirasakannya mengungkapkan dampak serius dari pengalaman tersebut, dan menunjukkan bagaimana stigma sosial dapat mempengaruhi kesejahteraan individu. Dalam narasi ini, kita akan mendalami secara mendalam masalah yang dialami Informan 2, serta dukungan teoritis yang menjelaskan pengalaman tersebut. Setelah kembali ke Indonesia. Informan 2 mengalami kesulitan yang signifikan dalam bergaul dengan lingkungan sosialnya. Ia merasa malu dan terasing, dan ketidakmampuan untuk keluar rumah menggambarkan dampak psikososial yang berat. Rasa marah dan kecewa muncul karena ketidakadilan yang dialaminya, ditambah dengan perasaan malu yang mendalam terkait dengan statusnya sebagai korban perdagangan orang. Goffman . menawarkan pemahaman mendalam mengenai dampak stigma sosial. Goffman menjelaskan bahwa individu yang mengalami stigma sosial sering menghadapi rasa malu yang mendalam dan isolasi. Stigma dapat mengakibatkan perasaan tertekan dan terasing dari masyarakat, yang sesuai dengan pengalaman Informan 2. Perasaan malu yang dialaminya mungkin berasal dari adanya anggapan negatif yang dialamatkan kepada korban perdagangan orang, serta kesulitan dalam mengatasi penilaian masyarakat. Goffman juga menguraikan bagaimana individu dengan stigma sosial seringkali menghadapi tantangan dalam berintegrasi kembali ke dalam masyarakat. Mereka mungkin merasa tidak diterima dan kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial yang sebelumnya dikenal. Hal ini dapat memperburuk dampak psikososial dan memperparah perasaan isolasi dan malu. Pengalaman Informan 2 semakin menegaskan dampak sosial stigma sebagaimana dijelaskan Goffman . , di mana korban merasa identitas sosialnya tercemar sehingga memicu penghindaran sosial yang memperlambat pemulihan. Link dan Phelan . dalam artikel mereka Conceptualizing Stigma memperluas pemahaman mengenai stigma sosial dengan menekankan bahwa stigma yang berkaitan dengan kekerasan atau eksploitasi sering memperburuk dampak psikososial. Mereka menjelaskan bahwa stigma ini dapat memperdalam rasa malu dan mengintensifkan isolasi sosial yang dialami korban. Link dan Phelan menunjukkan bahwa stigma yang melekat pada individu yang mengalami kekerasan atau eksploitasi tidak hanya mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap mereka, tetapi juga bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Ini sesuai dengan keadaan Informan 2 yang merasa malu dan tertekan setelah mengalami perdagangan orang. Pengalaman Informan 2 menunjukkan pentingnya dukungan sosial dalam membantu individu mengatasi dampak stigma. Menyediakan lingkungan yang mendukung dan bebas dari penilaian dapat membantu mengurangi rasa malu dan memfasilitasi proses pemulihan. Dukungan dari keluarga, teman, dan lembaga sosial dapat memainkan peran kunci dalam membantu Informan 2 beradaptasi kembali ke lingkungan sosialnya dan mengatasi rasa malu yang dialaminya. Goffman . dan Link & Phelan . menyoroti perlunya pendekatan yang sensitif terhadap stigma dan eksklusi sosial dalam proses pemulihan. Program rehabilitasi yang menekankan pemulihan identitas sosial dan dukungan komunitas dapat membantu individu yang mengalami stigma sosial untuk merasa diterima dan berfungsi secara optimal dalam masyarakat. Pengalaman Informan 2 mengungkapkan dampak mendalam dari rasa marah, kecewa, dan malu yang dialaminya setelah kembali ke Indonesia. Melalui pandangan teoretis dari Goffman . dan Link & Phelan . , kita dapat memahami bagaimana stigma sosial berperan dalam memperburuk dampak psikososial dan mempengaruhi kemampuan individu untuk berintegrasi kembali ke Dukungan sosial yang efektif dan pendekatan sensitif terhadap stigma dapat membantu korban perdagangan orang seperti Informan 2 untuk mengatasi perasaan malu dan berfungsi dengan lebih baik dalam lingkungan sosial mereka. Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 3 Masalah Psikososial Informan 3: Rasa Marah dan Stres Berat Informan 3, seorang pedagang minuman berusia 42 tahun, mengalami dampak psikososial yang mendalam akibat pengalaman negatifnya sebagai tenaga kerja di Malaysia. Meskipun ia berangkat dengan niat baik untuk mencari nafkah. Informan 3 dihadapkan pada penipuan agen dan perlakuan buruk di tempat kerja yang menyebabkan rasa marah, kecewa, dan stres berat. Gejala seperti gangguan tidur, penurunan berat badan, dan sering sakit-sakitan menunjukkan dampak psikologis yang signifikan dari pengalaman tersebut. Untuk memahami lebih dalam tentang kondisi Informan 3, penting untuk melihat teori-teori yang menjelaskan dampak stres dan penilaian negatif terhadap Setelah mengalami penipuan agen dan perlakuan buruk di pabrik. Informan 3 merasakan gejala yang jelas dari stres berat. Rasa marah dan kecewa yang mendalam, disertai dengan gangguan tidur, penurunan berat badan, dan sering sakit-sakitan, mencerminkan dampak psikologis dan fisik dari pengalaman tersebut. Gejala-gejala ini tidak hanya menggambarkan ketidaknyamanan emosional tetapi juga menunjukkan bagaimana stres dapat mempengaruhi kesehatan fisik secara signifikan. Menurut Lazarus dan Folkman . , penilaian negatif terhadap situasi dapat menyebabkan stres Teori ini menyatakan bahwa cara individu mengevaluasi situasi dan kemampuannya untuk mengatasi stres berperan penting dalam intensitas dan durasi stres yang dialaminya. Dalam kasus Informan 3, penipuan agen dan perlakuan buruk di pabrik menimbulkan penilaian negatif yang kuat, menyebabkan stres berkepanjangan. Penilaian situasi yang buruk dan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah tersebut memperparah dampak stres pada kesejahteraan emosional dan fisik Informan 3. Dampak stres berkepanjangan yang dialami Informan 3 memperjelas bagaimana ketidakadilan struktural dalam sistem migrasi dapat memperparah stres kronis sesuai teori Lazarus dan Folkman . , mengakibatkan kelelahan fisik dan psikologis. Selye . dalam teori General Adaptation Syndrome menjelaskan bahwa stres berat dapat menyebabkan reaksi fisik yang mencakup penurunan berat badan dan sering sakit. Menurut teori ini, tubuh merespons stres dengan tiga tahap: alarm, resistensi, dan kelelahan. Jika stres berlanjut tanpa penanganan yang efektif, individu dapat memasuki tahap kelelahan, di mana kesehatan fisik mulai Informan 3 mengalami penurunan berat badan dan sering sakit, yang mencerminkan dampak dari stres berat yang tidak diatasi dengan baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan kesehatan fisik yang signifikan, seperti yang diuraikan oleh Selye. Pengalaman Informan 3 menunjukkan pentingnya dukungan psikologis dan medis dalam mengatasi dampak stres yang berkepanjangan. Intervensi yang efektif harus mencakup dukungan emosional untuk mengatasi rasa marah dan kecewa, serta penanganan medis untuk mengatasi gejala fisik seperti penurunan berat badan dan sakit-sakitan. Program rehabilitasi yang menyeluruh yang mencakup konseling psikologis dan dukungan kesehatan fisik dapat membantu individu seperti Informan 3 untuk pulih dari dampak stres yang berkepanjangan. Lazarus dan Folkman . serta Selye . menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam menangani stres, yang mencakup penilaian situasi, dukungan emosional, dan perawatan medis. Dengan pendekatan yang tepat, individu yang mengalami stres berat dapat memperoleh bantuan yang diperlukan untuk memulihkan kesejahteraan emosional dan fisik mereka. Pengalaman Informan 3 mengungkapkan dampak mendalam dari stres berat yang diakibatkan oleh penipuan agen dan perlakuan buruk di tempat kerja. Melalui pandangan teoretis dari Lazarus dan Folkman . serta Selye . , kita dapat memahami bagaimana penilaian negatif terhadap situasi dan stres berkepanjangan mempengaruhi kesehatan fisik dan emosional. Dukungan psikologis dan Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 medis yang efektif sangat penting dalam membantu individu untuk mengatasi dampak stres dan memulihkan kesehatan mereka. 4 Masalah Psikososial Informan 4: Trauma Berat dan Ketakutan Informan 4, seorang janda berusia 39 tahun, mengalami trauma berat akibat kekerasan seksual yang dialaminya dari majikan dan supir selama bekerja di luar negeri. Pengalaman tersebut menyebabkan ketakutan yang mendalam, gangguan tidur, dan trauma berkelanjutan yang menunjukkan dampak psikologis yang serius. Untuk memahami kondisi psikososial Informan 4, penting untuk mengeksplorasi teori-teori terkait trauma seksual dan dampaknya terhadap kesehatan mental serta fungsionalitas individu. Setelah mengalami kekerasan seksual dari majikan dan supir. Informan 4 mengalami gangguan tidur yang parah dan ketakutan ekstrem, terutama saat malam hari. Trauma berkelanjutan ini tidak hanya mempengaruhi kesejahteraan emosionalnya tetapi juga mengganggu kemampuan sehari-hari, seperti berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari dan menerima pekerjaan baru. Gejalagejala ini mencerminkan dampak psikologis yang mendalam dari kekerasan seksual dan perlunya dukungan yang tepat untuk membantu pemulihan. Menurut Herman . , trauma seksual dapat menyebabkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), yang ditandai dengan gejala seperti ketakutan ekstrem, gangguan tidur, dan kesulitan dalam berfungsi secara normal. Herman menjelaskan bahwa trauma berat dari kekerasan seksual mempengaruhi berbagai aspek kehidupan korban, menyebabkan gangguan mendalam pada kesehatan mental dan emosional. Gejala PTSD, termasuk ketakutan dan gangguan tidur, yang dialami oleh Informan 4, adalah hasil dari pengalaman trauma yang ekstrem dan berkelanjutan. Resick dan Schnicke . menambahkan bahwa trauma seksual sering mengakibatkan kesulitan dalam beradaptasi dan mengatasi tantangan baru. Dalam kasus Informan 4, trauma berkelanjutan dan ketidakmampuan untuk berfungsi secara normal, termasuk kesulitan menerima pekerjaan baru, mencerminkan dampak psikologis yang serius dari kekerasan seksual. Penelitian ini menunjukkan bahwa trauma seksual dapat menyebabkan gangguan jangka panjang dalam beradaptasi dengan situasi baru dan mengatasi stres kehidupan sehari-hari. Trauma dapat terjadi dan dialami melalui beberapa periode dari mulai periode pendek mingguan, bulanan sampai tahunan dari kejadian yang dialaminya (Subardhini, 2. Kasus Informan 4 menjadi contoh nyata dari konsekuensi trauma seksual berat sebagaimana dikaji oleh Resick dan Schnicke . , di mana korban membutuhkan pemulihan yang bukan hanya psikologis, tetapi juga sosial dan ekonomi secara terpadu Pengalaman Informan 4 menyoroti perlunya dukungan khusus untuk korban kekerasan seksual. Dukungan ini harus mencakup intervensi psikologis yang terfokus pada pemulihan dari PTSD, perlindungan dari situasi yang dapat memperburuk trauma, dan bantuan dalam mengatasi kesulitan berfungsi secara normal. Terapi yang dirancang khusus untuk menangani trauma seksual dan dampaknya sangat penting untuk membantu korban pulih dan melanjutkan kehidupan dengan lebih Pengalaman Informan 4 dengan trauma berat dan ketakutan ekstrem menggambarkan dampak mendalam dari kekerasan seksual pada kesehatan mental dan emosional. Melalui teori-teori dari Herman . dan Resick & Schnicke . , kita dapat memahami bagaimana trauma seksual menyebabkan gangguan stres pasca-trauma dan kesulitan beradaptasi. Bagi korban yang mengalami kekerasan seksual selain traumatis yang akan dialminya juga Kesehatan mentalnya akan terganggu, sejalan dengan hal itu beberapa penelitian telah menunjukkan hal itu, diantaranya Kartika. Subardhini. , & Sundayani. Dukungan khusus yang mencakup terapi untuk PTSD dan perlindungan dari kondisi yang memperburuk trauma sangat penting untuk membantu individu seperti Informan 4 dalam proses pemulihan dan pemulihan fungsional. Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 3 Upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah 1 Layanan Konseling dan Dukungan Keluarga Informan 1, seorang ibu rumah tangga berusia 39 tahun yang mengalami trauma berat akibat perdagangan orang di Malaysia, telah menerima layanan konseling dari Kementerian Luar Negeri serta beberapa sesi konseling tambahan. Selain itu, dukungan dari keluarga memainkan peran penting dalam proses pemulihannya. Konseling yang diterima membantu Informan 1 dalam memahami dan mengatasi dampak psikologis dari pengalaman traumatis yang dialaminya. Upaya pemulihan Informan 1 sejalan dengan model pemulihan trauma Herman . , yang mengutamakan stabilisasi emosi melalui dukungan sosial dan intervensi profesional Upaya yang dilakukan, termasuk layanan konseling profesional dan dukungan keluarga, menunjukkan adanya penanganan trauma yang signifikan dan berkontribusi pada proses penyembuhan emosional. Herman . menjelaskan bahwa konseling merupakan komponen kunci dalam pemulihan korban trauma. Konseling dapat membantu individu dalam memahami pengalaman traumatis mereka dan mengelola dampak psikologis yang timbul. Layanan ini juga membantu korban untuk mengembangkan keterampilan koping yang efektif. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Subardhini. , & Sakroni. bahwa konseling efektif untuk mengatasi masalah psikososial Dukungan keluarga, sebagaimana dijelaskan oleh Herman, juga berperan penting dalam proses Keluarga menyediakan jaringan sosial yang mendukung dan dapat membantu korban merasa lebih aman dan diterima dalam lingkungan mereka. Kombinasi dari kedua upaya iniAi konseling profesional dan dukungan keluargaAimenunjukkan bahwa intervensi yang terstruktur, serta dukungan sosial, adalah esensial dalam mengatasi trauma. Proses penyembuhan emosional Informan 1 menunjukkan bahwa upaya yang terintegrasi dan dukungan yang konsisten dapat mempercepat pemulihan dari trauma. 2 Keterbatasan Tindakan Konkrit Informan 2, seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun yang juga mengalami dampak psikososial dari perdagangan orang, belum banyak mengambil tindakan konkret untuk mengatasi masalahnya. Saat ini. Informan 2 lebih memilih untuk mencari dcxukungan dalam beradaptasi kembali dengan lingkungan sosialnya. Informan 2 memerlukan bantuan lebih lanjut untuk rehabilitasi sosial dan Goffman . menjelaskan bahwa individu yang mengalami stigma dan isolasi sosial sering kali menghadapi kesulitan besar dalam mengatasi dampak psikososial dari pengalaman mereka. Stigma dapat mengakibatkan rasa malu dan isolasi yang mendalam, memperburuk kondisi psikologis Informan 2, yang merasakan kesulitan dalam bergaul dengan lingkungan sosial dan merasa tertekan, menunjukkan perlunya pendekatan rehabilitasi yang lebih komprehensif. Turner ( 1. mengatakan bahwa yg harus dirubah dari orang orang yang mengalami psikososial adalah aspek : kognitif, emotif, perialku, lingkungan dan mengurangi penderitaan. Dukungan psikologis dan sosial sangat penting dalam membantu individu untuk memulihkan kesejahteraan emosional mereka dan berfungsi kembali secara efektif dalam masyarakat. Dengan memberikan dukungan tambahan dan strategi rehabilitasi yang lebih spesifik. Informan 2 dapat mulai mengatasi stigma yang dirasakannya dan memperbaiki hubungan sosialnya. Dalam kasus ini, pendekatan rehabilitasi sosial berbasis komunitas menjadi penting sebagaimana dijelaskan Turner . , agar proses pemulihan mencakup dimensi kognitif, emotif, perilaku, hingga perubahan lingkungan sosial. Upaya yang dilakukan oleh Informan 1 dan Informan 2 dalam mengatasi masalah psikososial mereka menunjukkan berbagai pendekatan dalam penanganan trauma dan dampak psikologis dari perdagangan orang. Informan 1 mendapatkan manfaat signifikan dari layanan konseling profesional Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 dan dukungan keluarga, sementara Informan 2 masih memerlukan bantuan tambahan untuk rehabilitasi sosial dan psikologis. Penjelasan ini menekankan pentingnya dukungan yang terstruktur, baik dalam bentuk konseling maupun dukungan sosial, serta perlunya pendekatan rehabilitasi yang komprehensif untuk mengatasi dampak psikososial secara efektif. 3 Bantuan Usaha dan Pencarian Agen Informan 3, seorang pedagang minuman berusia 42 tahun, telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi dampak psikososial dari penipuan agen dan perlakuan buruk di tempat kerja. Informan 3 mencari agen yang terlibat dalam penipuan dan menerima bantuan usaha dari International Migration Organisation (IOM). Bantuan ini mencakup peningkatan keterampilan dan peluang ekonomi, yang bertujuan untuk membantu korban dalam mengatasi dampak dari pengalaman traumatis dan penipuan. Bantuan usaha dari IOM mencerminkan dukungan yang diberikan untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang ekonomi bagi Informan 3. Lazarus dan Folkman . dalam teori stres mereka menekankan bahwa dukungan sosial dan bantuan ekonomi dapat mengurangi dampak negatif dari stres. Dukungan ekonomi yang diberikan oleh IOM berfungsi sebagai elemen penting dalam proses pemulihan, membantu Informan 3 untuk mendapatkan stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, meskipun bantuan ekonomi berkontribusi pada pemulihan praktis. Informan 3 masih merasakan perasaan marah dan Hal ini menunjukkan bahwa meskipun aspek ekonomi dari pemulihan mulai tertangani, aspek psikologis dari trauma memerlukan perhatian lebih lanjut. Stres berkepanjangan akibat penipuan dan perlakuan buruk yang dialami Informan 3 membutuhkan dukungan psikologis tambahan untuk mencapai pemulihan penuh. Pendekatan penguatan ekonomi seperti yang dilakukan IOM merupakan bentuk coping aktif untuk mengurangi dampak stres berat sebagaimana dijelaskan Lazarus dan Folkman . , namun tetap perlu diimbangi dengan dukungan psikologis 4 Perlindungan dan Bantuan dari SBMI Informan 4, seorang janda berusia 39 tahun yang mengalami trauma berat akibat kekerasan seksual, mencari perlindungan dan bantuan dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) setempat. Upaya ini melibatkan pengajuan perlindungan untuk mengatasi denda dan mendapatkan latihan keterampilan kerja serta permodalan. Bantuan ini dirancang untuk membantu Informan 4 dalam mengatasi tantangan praktis dan emosional yang dihadapinya. Proses pencarian solusi melalui SBMI menunjukkan bahwa Informan 4 masih berada dalam tahap Resick dan Schnicke . menyatakan bahwa bantuan yang dirancang untuk mengatasi trauma seksual serta masalah ekonomi dapat mendukung proses pemulihan. Bantuan dari lembaga terkait memberikan dukungan penting dalam mengatasi masalah praktis dan emosional. Namun, proses penyembuhan dari trauma seksual sering kali memerlukan waktu dan upaya yang Bantuan yang diterima, termasuk latihan keterampilan kerja dan permodalan, membantu Informan 4 dalam aspek praktis pemulihan, tetapi penyembuhan dari trauma seksual memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Dukungan berkelanjutan dan perlindungan dari lembaga terkait sangat penting dalam membantu Informan 4 mengatasi dampak trauma dan beradaptasi kembali dengan kehidupan sehari-hari. Upaya yang dilakukan oleh masing-masing informan menunjukkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah psikososial akibat perdagangan orang. Informan 1 mendapatkan manfaat dari layanan konseling profesional dan dukungan keluarga. Informan 2 menunjukkan kebutuhan rehabilitasi sosial yang lebih mendalam. Informan 3 menerima dukungan dalam bentuk bantuan usaha dari IOM, dan Informan 4 mencari perlindungan serta pelatihan keterampilan dari SBMI. Semua upaya ini menekankan bahwa dukungan yang komprehensif dan terkoordinasi sangat penting dalam proses pemulihan. Dukungan psikologis dan sosial yang terintegrasi, bersama dengan bantuan praktis seperti pelatihan keterampilan dan bantuan ekonomi, merupakan kunci untuk mengatasi dampak psikososial dan membantu korban dalam proses pemulihan mereka. Pendekatan Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 yang menyeluruh dan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan bahwa semua aspek dari trauma dapat ditangani secara efektif dan mendukung korban dalam mencapai pemulihan yang lebih baik. Resick dan Schnicke . menekankan bahwa dukungan praktis seperti pelatihan kerja perlu dipadukan dengan terapi trauma, sehingga pemulihan korban lebih komprehensif dan berkelanjutan. Kesimpulan Penelitian ini menekankan dampak psikososial yang dialami oleh korban perdagangan orang. Temuan utama menunjukkan bahwa korban menghadapi sejumlah masalah psikologis serius sebagai akibat dari pengalaman mereka. Masalah-masalah ini termasuk trauma berat, kecemasan, rasa marah, malu, dan stres, yang mempengaruhi kesejahteraan mental dan emosional mereka. upaya penanganan dan hasil: mengatasi masalah informan 1, ia menerima layanan konseling dari Kementerian Luar Negeri dan mendapatkan dukungan dari keluarganya. Proses ini menunjukkan bahwa penanganan trauma secara profesional dan dukungan keluarga berperan penting dalam penyembuhan emosional. Meskipun konseling dan dukungan ini sangat membantu, proses penyembuhan dari trauma berat masih memerlukan waktu dan perhatian berkelanjutan. Informan 2, seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun, menghadapi rasa marah, kecewa, dan malu setelah kembali ke Indonesia. Belum ada tindakan konkret yang diambil untuk mengatasi masalah psikososialnya, dan ia lebih memilih dukungan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Temuan ini menyoroti perlunya dukungan rehabilitasi sosial dan psikologis yang komprehensif untuk membantu korban mengatasi dampak stigma dan isolasi sosial yang mereka alami. Informan 3, seorang pedagang minuman berusia 42 tahun, mengalami rasa marah dan stres berat akibat penipuan agen dan perlakuan buruk di pabrik. Ia telah mencari agen yang menipu dan menerima bantuan usaha dari International Migration Organisation (IOM). Meskipun bantuan usaha ini mendukung pemulihan praktis dan peningkatan keterampilan ekonomi. Informan 3 masih merasakan perasaan marah dan ketidakpuasan, yang menunjukkan bahwa dukungan psikologis juga penting dalam mengatasi dampak stres berkepanjangan. Informan 4, seorang janda berusia 39 tahun, mengalami trauma berat akibat kekerasan seksual dari majikan dan supir. Ia mencari perlindungan dan bantuan dari SBMI setempat untuk mengatasi denda dan mendapatkan pelatihan keterampilan serta permodalan. Proses pencarian solusi untuk masalah trauma dan ekonomi menunjukkan bahwa pemulihan memerlukan dukungan berkelanjutan dan pendekatan yang komprehensif. Bantuan dari lembaga terkait membantu dalam mengatasi masalah praktis dan emosional, namun penyembuhan dari trauma seksual memerlukan perhatian yang mendalam dan berkelanjutan. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa pemulihan dari pengalaman perdagangan orang memerlukan pendekatan yang terintegrasi, melibatkan dukungan psikologis, sosial, dan ekonomi. Dukungan yang komprehensif dan terkoordinasi sangat penting untuk mengatasi dampak psikososial yang mendalam dan membantu korban dalam proses pemulihan mereka. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan konteks lokal di Sukabumi dan Indramayu dalam penerapan strategi pemulihan, karena kedua daerah ini memiliki tantangan khas seperti keterbatasan layanan psikologis, stigma sosial yang tinggi, dan minimnya akses pekerjaan alternatif yang aman bagi korban. Saran Untuk memperbaiki dukungan dan pemulihan bagi korban perdagangan orang, sangat penting untuk meningkatkan layanan psikologis yang mencakup konseling trauma khusus dan pelatihan untuk profesional. Selain itu, harus ada program rehabilitasi sosial yang mengurangi stigma dan membantu korban beradaptasi kembali ke masyarakat, disertai dengan bantuan ekonomi dan pelatihan keterampilan untuk membangun kembali kehidupan mereka. Perlindungan hukum yang kuat dan tindakan tegas terhadap pelanggar harus dipastikan, bersama dengan koordinasi yang efektif antara Meiti Subardhini. Moch Zaenal Hakim & Silvia Fatmah Nurusshobah Masalah Psikososial Korban Perdagangan Orang: Studi Kualitatif di Sukabumi dan Indramayu. Jawa Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 151-168 lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan komunitas lokal untuk memberikan dukungan terintegrasi dan menyeluruh. Agar rekomendasi ini dapat berjalan efektif di Sukabumi dan Indramayu, diperlukan kerja sama aktif antara pemerintah daerah. SBMI, dan lembaga layanan sosial dalam mengidentifikasi kebutuhan korban secara spesifik serta memastikan keberlanjutan program Pendekatan psikososial dalam program rehabilitasi bisa diterapkan melalui penyediaan rumah aman yang dilengkapi layanan konseling trauma berbasis komunitas, pelatihan keterampilan kerja seperti usaha kecil rumahan bagi korban perempuan, serta pembentukan kelompok dukungan sebaya untuk membantu proses reintegrasi sosial. Tantangan nyata dalam penerapan rekomendasi ini termasuk keterbatasan dana operasional, minimnya tenaga profesional terlatih di daerah, serta adanya budaya lokal yang masih memandang negatif korban perdagangan orang, sehingga dibutuhkan edukasi masyarakat secara intensif. Ucapan Terima Kasih : Terima kasih kepada para korban yang telah bersedia berbagi pengalaman, pengurus Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) di Sukabumi dan Indramayu atas dukungannya, serta para ahli dan mentor atas panduan mereka. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada keluarga dan teman-teman atas dukungan moral dan motivasinya. Penelitian ini tidak akan berhasil tanpa bantuan dari semua pihak. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi penanganan masalah perdagangan orang. Daftar Pustaka