Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 144 Ae 151 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. Penerapan Klinikal Pathway Rosier pada Pasien Stroke Akut Alde Afinturi Ajye 1. Al Afik 2. Cipto Wahyuning Utama3 1,2Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Indonesia 3Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota Magelang aldeafin01@gmail. com1 alf. 118jogja@gmail. com2 ciptowu123@gmail. ABSTRACT Acute stroke is a condition in which a patient experiences a disorder in the blood vessels of the brain that disrupts the flow of blood to the brain, and the disorder can be in the form of blockage or rupture of blood vessels. Stroke can occur due to several diseases, such as hypertension and unhealthy The tool to establish a stroke diagnosis is ROSIER, or Recognition of Stroke in the Emergency Room, which provides several elements, including clinical symptoms, namely loss of consciousness, seizure activity, asymmetrical face, weakness in the hands, weakness in the legs, experiencing speech disorders, and decreased vision. Method: This study is a case study of patients with acute stroke who came to the ER, patients were assessed using the ROSIER clinical pathway after triage with 7 ROSIER elements when the total score is >0 then the possibility of having a stroke is high but if O0 then the possibility of having a stroke is slight. Results: The patient's total score is 2, which means that the patient has had a stroke and is supported by supporting examinations, namely a CT scan of the head, which shows intracerebral hemorrhage. Conclusion: Enforcement using a stroke diagnosis has proven to be effective and fast, so that it can be applied in the ER. Keywords : Acute Stroke. ROSIER. ABSTRAK Stroke akut merupakan keadaan pasien yang mengalami gangguan pada pembuluh darah otak sehingga menggagu jalannya aliran darah ke otak, gangguan tersebut bisa berupa penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Stroke dapat terjadi karena beberapa penyakit misal seperti hipertensi dan pola hidup yang tidak sehat. Alat untuk menegakan diagnosa stroke adalah ROSIER atau Recognition of Stroke in the Emergency Room yang memberikan beberapa elemen yang meliputi gejala klinis yaitu hilangnya kesdaran, aktifitas kejang, wajah yang tidak simetris, kelemahan pada tangan, kelemahan pada kaki, mengalami gangguan bicara, dan menurunya penglihatan. Pada penelitian ini adalah studi kasus pasien dengan stroke akut yang datang ke IGD, asien dilakukan pengkajian menggunakan klinikal pathway ROSIER setelah dilakukan triase dengan 7 elemen ROSIER ketika skor total >0 maka kemungkinan tinggi mengalami stroke tetapi jika O0 maka kemungkinan kecil mengalami stroke. Skor total pasien adalah 2 yang diartikan bahwa pasien mengalami stroke dan didukung dengan pemeriksaan penunjang yaitu CT-scan kepala yang menunjukan perdarahan Kesimpulan: Penegakan menggunakan diagnosa stroke terbukti efektif dan cepat, sehingga bisa terapkan di IGD. Kata kunci : Stroke Akut. ROSIER. PENDAHULUAN Stroke adalah kondisi dimana terdapat gangguan pada sirkulasi darah pada otak yang disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah (Li et al. Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia, dengan lebih dari 12 juta kasus baru setiap tahunnya (Feigin et al. , 2. Stroke iskemik akut merupakan bentuk stroke yang paling umum, dan keterlambatan dalam 144 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 144 Ae 151 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. penanganannya dapat berdampak signifikan terhadap prognosis pasien. Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Laporan World Stroke Organization (WSO) 13,7 juta pasien yang terdiagnosa stroke dan 5,5 juta yang meninggal akibat stroke, riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 menunjukkan prevalensi stroke sebesar 10,9 per 1. 000 penduduk, dan diperkirakan angka ini terus meningkat dan stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia (Sundaram et al. Data menurut RSUD Tidar Kota Magelang dari bulan Januari hingga Maret terdapat 6,0% pasien yang terkena stroke dari total kunjungan. Peningkatan faktor resiko stroke disebabkan pola hidup yang tidak sehat sehingga meningkat populasi pasien yang mengalami stroke, oleh sebab itu penangan pasien dengan gejala klinis stroke harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Penanganan stroke akut memerlukan identifikasi dan intervensi yang cepat untuk meminimalkan kerusakan otak dan meningkatkan prognosis pasien. Salah satu alat yang digunakan untuk membantu diagnosis cepat di unit gawat darurat adalah skala ROSIER (Recognition of Stroke in the Emergency Roo. Skala ini dirancang untuk membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi pasien dengan gejala stroke secara cepat dan akurat. Studi menunjukkan bahwa penggunaan skala ROSIER di unit gawat darurat meningkatkan akurasi diagnosis stroke dan mempercepat waktu penanganan. Penerapan Clinical Pathway ROSIER telah terbukti efektif dalam meningkatkan kecepatan dan ketepatan diagnosis stroke akut, yang berujung pada perbaikan luaran klinis pasien (Han et al. , 2. Penggunaan ROSIER secara sistematis dapat meningkatkan sensitivitas deteksi stroke hingga 92%, terutama pada tahap pra-hospital dan awal masuk unit gawat darurat. Namun demikian, tingkat penerapan pathway ini di berbagai rumah sakit, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia, masih tergolong rendah (Zangi et , 2. Sebuah studi oleh Widodo et al. di salah satu rumah sakit pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa hanya 54% perawat yang secara konsisten menerapkan protokol ROSIER dalam praktik sehari-hari (Rophi & Muspitha, 2. Hal ini memperlihatkan adanya gap antara evidence-based practice dengan implementasi nyata di Dibandingkan dengan alat skrining lainnya seperti Cincinnati Prehospital Stroke Scale (CPSS) dan Face Arm Speech Test (FAST), skala ROSIER menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam hal sensitivitas. ROSIER memiliki sensitivitas tertinggi sebesar 90,5% dibandingkan dengan alat lainnya (Blek & Szarpak, 2. Meskipun spesifisitasnya sedikit lebih rendah, keunggulan dalam sensitivitas menjadikan ROSIER sebagai pilihan yang baik untuk skrining awal di IGD. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penempatan dan efektivitas pathway klinik ROSIER pada pasien stroke akut di unit gawat darurat di wilayah Magelang. Dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini akan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi pathway, serta dampaknya terhadap waktu penanganan dan hasil klinis pasien. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk peningkatan pelayanan stroke akut di wilayah ini dan daerah lainnya dengan beban penyakit serupa. 145 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 144 Ae 151 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. TIJAUAN LITERATUR Stroke Akut Stroke akut adalah kondisi neurologis yang terjadi secara tiba-tiba akibat gangguan aliran darah ke otak, baik karena sumbatan . maupun pecahnya pembuluh darah . (Li et al. , 2. Stroke merupakan episode akut dari disfungsi neurologis fokal yang berlangsung lebih dari 24 jam akibat gangguan vaskular serebral (Mardiana et al. Stroke merupakan penyebab utama kecacatan jangka panjang dan penyebab kematian kedua di dunia. Faktor risiko stroke meliputi hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, merokok, obesitas, dan fibrilasi atrium dan untuk hipertensi merupakan faktor risiko utama yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, meningkatkan kemungkinan terjadinya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah (Utama & Nainggolan, 2. Selain itu, gaya hidup tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik dan konsumsi alkohol berlebihan juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko stroke. Stroke dalam sudut pandang kegawatdaruratan medis membutuhkan penanganan segera untuk mengurangi dari dampak yang diberikan oleh penyakit stroken tersebut dan setiap keterlambatan penangan pasien stroke akan memperburuk kondisi pasien. Konsep time is brain menyebutkan bahwa setiap menit keterlambatan dalam penanganan dapat menyebabkan kerusakan neuron yang signifikan (Asri et al. , 2. Oleh karena itu, identifikasi cepat dan penanganan yang cepat dan tepat di IGD diperlukan untuk meningkatkan prognosis pasien stroke. Recognition of Stroke in the Emergency Room (ROSIER) Skala ROSIER (Recognition of Stroke in the Emergency Roo. adalah alat penilaian klinis yang dirancang untuk membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi pasien dengan gejala stroke secara cepat dan akurat di unit gawat darurat (UGD). Skala ini terdiri dari tujuh elemen yang mencakup gejala klinis seperti kehilangan kesadaran, aktivitas kejang, kelemahan wajah atau wajah yang asimetris, kelemahan pada tangan, kelemahan pada kaki, gangguan bicara, dan berkurangnya penglihatan. Setiap item diberi skor, dan total skor digunakan untuk menentukan kemungkinan stroke. Skor total berkisar dari -2 hingga 5, dengan skor Ou1 menunjukkan kemungkinan besar adanya stroke atau transient ischemic attack (TIA) (Han et al. , 2. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah studi kasus yang menggambarkan seorang pasien yang dilakukan pengkajian stroke akut menggunakan klinikal pathway ROSIER (Recognition of Stroke in the Emergency Roo. dengan pasien stroke akut di Instalasi Gawat Darurat RSUD Tidar Kota Magelang selama 5-10 menit dengan memberikan 7 pertanyaan seperti kehilangan kesadaran, aktivitas kejang, kelemahan wajah atau wajah yang asimetris, kelemahan pada tangan, kelemahan pada kaki, gangguan bicara, dan berkurangnya penglihatan untuk mengetahui mengevaluasi penempatan klinikal pathway ROSIER. 146 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 144 Ae 151 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. HASIL DAN PEMBAHASAN Pasien dengan jenis kelamin laki-laki, memiliki usia 65 tahun datang ke IGD RSUD Tidar magelang pukul 10. 35 dengan keluhan kelemahan sebelah kiri atau hemiparase sinistra sejak jam 9 pagi. Pasien mengatakan sempat jatuh tetapi tidak sampi pingsan dan pasien mengatakan sering kesemutan bagian ekstremitas kiri selama 2 minggu terakhir. Pasien mengatakan bahwa tidak memiliki riwayat penyakit dan pasien mengatakan bahwa baru pertama kali pasien merasakan kelemahan bagian ekstremitas sebelah kiri. Keluarga pasien mengtakan pasien tidak memiliki riwayat penyakit dan hari sebelum kondisi pasien sangat baik bisa melakukan aktivitas dengan normal. Pasien mengatakan tidak pernak cek kesehatan di puskesmas karenan merasa sehat. Kondisi umum pasien pasien tampak mengalami kelemahan ekstremitas sebelah kiri. Keluarga pasien mengatakan tidak memiliki alergi obat atau makanan, pasien masih sadar serta dapat di ajak komunikasi. Lidah pasien miring ke kiri, kekuatan otot pasien ektremitas atas sebelah kiri hasilnya 0 atau tidak bisa menggerakan tangan dan tidak ada kontraksi otot, ekstremitas sebelah kiri bagian bawah hasinya 4 atau bisa mengangkat dan menahan tekanan tetapi lebih lemah dari ekstremitas kanan bawah. Tabel 1 Hasil pengkajian ROSIER Apakah mengalami hilang kesadaran atau pingsan? Tidak 0 (-. Apakah mengalami kejang? Tidak 0 (-. Apakah ada onset baru yang muncul . tau ketika bangun tidu. Kelemahan wajah atau wajah asimetris Tidak 0 ( . Kelemahan pada tangan 1 Tidak ( . Kelemahan pada kaki 1 Tidak ( . Gangguan berbicara Tidak 0 ( . Penurunan penglihatan Tidak 0 ( . Total skor (-2 sampai . Setelah dilakukan pengkajian rosier dengan skor total 2 dari gejala klinis kelemahan pada tangan dan kelemahan pada kaki sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien terkena stroke. Hasil dari CT scan kepala menunjukana ICH (Perdarahan Pada penelitian ini membahas seorang pasien stroke akut yang dilakukan pengkajian menggunakan klinikal pathway ROSIER untuk mengetahui pasien tersebut terkena stroke atau terkena mimic stroke. Gejala penyakit stroke sangat beragama mulai dari kelemahan pada area ekstremitas atas dan bawah, sulit untuk berbicara, wajah menjadi asimetris, dan tekanan darah meningkat. Dari gejala stroke yang muncul perawat segera 147 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 144 Ae 151 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. melakukan pengkajian untuk menentukan tidakan yang tepat sesuai dengan kondisi pasien dan salah satu pengkajian pada stroke akut di IGD adalah menggunakan klinikal pathway ROSIER. Klinikal pathway ROSIER dalam pengkajian pada pasien stroke akut sangat efektif karena perawat hanya menanyakan 7 pertanyaan seperti kehilangan kesadaran, aktivitas kejang, kelemahan wajah atau wajah yang asimetris, kelemahan pada tangan, kelemahan pada kaki, gangguan bicara, dan berkurangnya penglihatan serta melihat gejala klinis seperti wajah yang tidak simetris, kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah, gangguan bicara dan penglihatan yang menurun. Dari pengkajian menggunakan ROSIER pasien tampak mengalami kelemahan ekstremitas kiri, kemudian memberikan pertanyaan pada pasien terkait 7 elemen pertanyaan ROSIER. Pada elemen pertama pasien diberi pertanyaan terkait mengalami kehilangan kesadaran atau pingsan. Pada penelitian pasien tidak mengalami kelilangan kesadaran atau pingsan sebelum datang ke rumah sakit. Gejala kehilangan kesadaran atau pingsan dapat menjadi gejala mimic stroke, menurut penelitian . e Rooij et al. , 2. mengatakan bahwa gejala keliangan kesadaran atau pingsan lebih condong gejala mimic stroke daripada stroke Pada elemen kedua pasien diberi pertanyaan terkait mengalami aktivitas kejang. Hasil observasi menunjukan bahwa pasien tidak mengalami kejang. Kejang pada stroke sejati bisa terjadi pada stroke hemoragik dan stroke infark dengan kemungkinan kecil sekitar 3-6% tetapi ketika kejang terjadi berulang dan lebih sering bisa disimpulkan bahwa gejala tersebut merupakan mimic stroke (Chua et al. , 2. Kejang yang berulang tidak bisa menjadi gejala dari stroke akut. Elemen ketiga yaitu gejala wajah yang tidak simetris dan hasil obsevasi wajah pasien terlihat simetris. Wajah yang tidak simetris merupakan gejala dari stroke yang mengakibatkan terjadi kelemahan otot wajah. Salah satu tanda dari stroke akut adalah wajah yang tidak simetris, penyebab adalah saraf kranial ke 7 yaitu nervus fasialis yang berfungsi mengatur gerakan otot wajah (Dewi & Fitraneti, 2. Pada elemen keempat yaitu kelemahan pada tangan, hasil dari penelitian menunjukan pasien mengalamin kelemahan tangan kiri sehingga pasien pada elemen kelemahan tangan mendapakat skor 1. Kelemahan pada tangan merupakan salah satu penanda pasien menderita stroke akut karena kerusakan pada trakus kortikospinal yang disebabkan oleh stroke iskemik dan stroke hemoragik (Fitriyani & Irawan, 2. Pada elemen kelima adalah kelemahan pada kaki, dari hasil penelitian ini pasien mengalami kelemahan kaki kiri sehingga pasien mendapatkan skor 1. Kelemahan kaki menunjukan ada kelemahan pada sistem saraf pusat bagian pengontrol motorik yang menjadi gejala awal dari stroke yang akan berkelanjutan menjadi stroke iskemik atau hemoragik (Damansyah et al. , 2. Elemen keenam adalah gangguan berbicara, untuk hasil dari penelitian ini pasien tidak mengalami gangguan berbicara. Pasien yang mengalami gangguan berbicara terjadi karena bagian otak yang mengatur berbicara mengalami kerusakan. Menurut penelitian beberapa area otak ketika mengalami kerusakan akan akan mengakibatkan gangguan berbicara seperti area borca yang terletak berada di lobus frontal sebelah kiri, area wernicke yang terletak di lobus temporal sebelah kiri, koerteks insular yang berada di dalam lobus temporal dan nukleus kaudatus yang merupakan bagian dari struktur subkortikal (Oktaviani Djabar et al. , 2. Elemen ketujuh merupakan penurunan penglihatan dan 148 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 144 Ae 151 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pasien tidak mengalami penurunan Visual pandang yang menurun terjadi diakibatkan oleh terganggunya aliran darah sehingga saraf optik mengalami kerusakan. Saraf optik atau nervous opticus ketika mangalami kerusakan akan mengakibatkan penurunan penglihatan karena saraf optik penghubung retina dengan lobus oksipital yang ada di otak berfungsi mengelola penglihatan, penyebab kerusakan saraf optik pasien stroke dikarenakan gangguan aliran darah (Khairunnisa, 2. Elemen yang ada pada klinikal pathway ROSIER bertujuan untuk membedakan pasiendengan stroke akut dan mimic stroke serta mempercepat dalam mendiagnosa pasien stroke di IGD. Pengkajian menggunakan klinikal pathway ROSIER terbukti efektif sesuai dengan penelitian (Blek & Szarpak, 2. menyatakan bahwa perawat yang melakukan pengkajian menggunakan ROSIER dan menegakan diagnosa di IGD lebih cepat dan tepat serta kepekaan perawat dalam mengenali gejala klinis stroke. Dalam sisi kegawatdarurat ROSIER sangat membantu perawat dalam menegakkan diagnosa stroke secara efektif karena klinikal pathway ROSIER memiliki sensitivitas yang tinggi untuk mengetahui pasien terkena stroke atau non stroke seperti mimic stroke. Penelitian lain mengungkapkan bahwa ROSIER merupakan alat ukur untuk menegakan diagnosa stroke yang cepat dengan nilai kepekaan 85,4% dan niliai spesifisitas 65,8% dengan batas nilai skor Ou1 untuk mendiagnosa pasien stroke di IGD dapat disimpulkan bahwa penggunaan ROSIER di IGD membuat perawat menjadi cepat ketika menegakan diagnosa stroke pada pasien (Zangi et al. , 2. Penggunaan ROSIER dalam menegakkan diagnosa stroke yang cepat dan tepat akan membuat perawat lebih cepat menentukan tindakan yang nantinya akan diberikan kepada pasien, ketika semakin cepat dan tepat pada penegakan diagnosa stroke maka akan mempengaruhi tindakan penyembuhan pada pasien kedepannya karena semakin cepat mendiagnosa maka akan tepat tindakan yang dilakukan. KESIMPULAN DAN SARAN Stroke akut merupakan keadaan pasien yang mengalami gangguan pada pembuluh darah otak sehingga menggagu jalannya aliran darah ke otak, gangguan tersebut bisa berupa penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Instrumen yang digunakan untuk menegakan diagnosa stroke di IGD dengan menggunakan klinikal pathway ROSIER, dengan memberikan 7 elemen yang meliputi gejala klinis terkait hilangnya kesadaran, aktivitas kejang, wajah yang tidak simetris, kelemhan pada tangan, kelemahan pada kaki, gangguan berbicara, dan penglihatan mulai menurun. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat efektivitas dalam penggunaan klinikal pathway ROSIER pada mendiagnosa stroke di ruang IGD secara tepat dan di dukung dengan hasil dari CT-scan kepala menunjukan terdapat perdarahan intracerebral. Semoga klinikal pathway ROSIER dapat diterapkan di IGD RSUD Tidar Kota Magelang karena mudah diterapkan dan cepat untuk menegakan diagnosa stroke. Untuk penelitian selanjutnya bisa menambah responden, merubah metode, dan menambah variabel karena penelitian terkait klinikal pathway ROSIER di Indonesia semakin 149 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 144 Ae 151 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. DAFTAR PUSTAKA