Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) Universitas Widya Kartika Surabaya INTRINSIC ELEMENTS OF EKA KURNIAWAN BEAUTY IS A WOUND Donny Tanwijaya1. Yohanes Kurniawan Winardi2. Eka Fadilah3. 1Universitas Widya Kartika 2Universitas Widya Kartika 3Universitas Widya Kartika Email: 1. donnytanwijaya36@gmail. com, 2. yohaneswin@gmail. ekafadilah@widyakartika. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa unsur intrinsik dalam novel Cantik Itu Luka, karya Eka Kurniawan. Studi ini berfokus pada karakter Dewi Ayu, dengan meneliti emosi yang dialaminya, seperti kemarahan, cinta, kesedihan, dan rasa jijik. Dengan menggunakan teori unsur intrinsik, penelitian ini menggali karakterisasi, pengembangan plot, dan konflik dalam novel untuk mengungkap bagaimana unsur-unsur ini membentuk kepribadian kompleks Dewi Ayu dan perjalanannya sepanjang narasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana penulis menggambarkan perjuangan Dewi Ayu dan berbagai emosi yang mendefinisikan Temuan menunjukkan bahwa Dewi Ayu menghadapi banyak tantangan, yang masingmasing berkontribusi pada kekayaan karakternya dan narasi secara keseluruhan. Melalui analisis mendetail terhadap unsur-unsur intrinsik, penelitian ini menunjukkan bagaimana Eka Kurniawan menggunakan teknik sastra ini untuk menciptakan cerita yang kuat dan penuh emosi. Hasilnya memberikan wawasan berharga tentang lapisan makna yang lebih dalam dalam novel ini, dengan menekankan pentingnya unsur intrinsik dalam membentuk cerita dan karakter-karakternya. Kata Kunci: Unsur Intrinsik. Karakter. Emosi. Plot Abstract This research aims to analyze the intrinsic elements of Eka Kurniawan's novel Cantik Itu Luka. The study focuses on the character Dewi Ayu, examining the emotions she experiences, including anger, love, sadness, and disgust. By utilizing intrinsic element theory, this research delves into the novel's characterization, plot development, and conflict to uncover how these elements shape Dewi Ayu's complex personality and journey throughout the narrative. This study aims to explore how the author portrays Dewi Ayu's struggles and the various emotions that define her character. The findings reveal that Dewi Ayu encounters numerous challenges, each contributing to the richness of her character and the overall narrative. Through a detailed analysis of the intrinsic elements, this research demonstrates how Eka Kurniawan uses these literary techniques to create a powerful and emotionally resonant story. The results offer valuable insights into the deeper layers of meaning within the novel, emphasizing the importance of intrinsic elements in shaping the story and its Keywords: Intrinsic Elements. Characters. Emotion. Plot Prosiding SNITER Vi 2024 ISSN: 2597-7067 Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) Universitas Widya Kartika Surabaya PENDAHULUAN Karya sastra adalah hasil ciptaan manusia yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan mendalam mengenai kehidupan, aspirasi, dan refleksi penulis terhadap kondisi sosial di sekelilingnya. Sastra menawarkan pandangan tentang perilaku manusia dan norma-norma sosial, baik secara langsung maupun melalui penggambaran yang lebih halus. Menurut Wicaksono . , sastra memantulkan perilaku manusia dengan cara yang mencerminkan kehidupan seniman dan konteks sosial yang lebih luas, berperan sebagai respons terhadap isu-isu sosial dan sebagai usaha estetis yang memperkaya pengalaman membaca. Dalam hal ini, karya sastra menjadi jendela yang memperlihatkan dinamika kehidupan sosial dan individu yang lebih dalam. Kurniawan . menambahkan bahwa karya sastra mencerminkan berbagai aspek eksistensi manusia dalam kerangka sosial, menggambarkan bagaimana individu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya serta bagaimana pengalaman pribadi mereka berkontribusi pada pemahaman lebih luas mengenai masyarakat. Dalam konteks ini, sastra tidak hanya menyajikan cerita tetapi juga menyediakan analisis mendalam mengenai interaksi sosial, konflik, dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dalam ranah sastra, karya-karya sering kali menggambarkan peristiwa imajinatif dan pola kreatif yang merefleksikan isu dan perilaku kehidupan nyata. Karya fiksi, seperti novel, memungkinkan eksplorasi mendalam mengenai berbagai pengalaman manusia, tantangan, dan konflik. Wicaksono . mencatat bahwa penulis menggunakan narasi imajinatif untuk menggali dan membahas situasi serta masalah kehidupan nyata, dengan sastra memberikan wawasan yang lebih luas tentang isu sosial, kemanusiaan, atau intelektual. Hal ini menjelaskan bagaimana sastra bisa menjadi alat yang efektif untuk merefleksikan kondisi sosial dan psikologis manusia. Al-maAoruf & Nugrahani . menegaskan bahwa sastra menawarkan pandangan yang lebih dalam tentang berbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam konteks sosial maupun individu. Karya sastra sering kali berfungsi sebagai komentar terhadap kondisi sosial atau sebagai cerminan dari pengalaman hidup penulis. Dengan memanfaatkan narasi fiksi, penulis dapat menyoroti berbagai isu sosial, memperlihatkan berbagai perspektif, dan memberikan wawasan baru kepada pembaca mengenai tema-tema yang relevan. Novel, sebagai salah satu genre sastra, memberikan narasi yang komprehensif mengenai kehidupan serta pengalaman karakter-karakternya. Biasanya, novel ditandai dengan plot yang kompleks, tema yang mendalam, dan setting yang terperinci. Struktur unik novelAiyang meliputi unsur-unsur seperti tema, karakterisasi, plot, setting, sudut pandang, dan pesanAimembuatnya berbeda dan bermakna. Unsur-unsur intrinsik ini sebagai elemen krusial dalam struktur naratif novel, yang menentukan esensi sastra dan memberikan dimensi yang mendalam pada cerita. Sebagai contoh konkret, novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan merupakan studi kasus yang sangat baik untuk menganalisis unsur-unsur sastra intrinsik. Novel ini menggunakan bahasa yang menarik dan alur cerita yang kompleks untuk menggambarkan kehidupan Dewi Ayu, seorang wanita Belanda-Indonesia yang terpaksa menjadi pelacur selama pendudukan Jepang. Berlatar belakang periode kolonial Belanda, novel ini tidak hanya menceritakan kisah pribadi Dewi Ayu tetapi juga memberikan refleksi mendalam tentang konteks sosial dan sejarah yang lebih luas. Konteks sejarah ini, yang meliputi penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, memberikan dimensi tambahan pada narasi, memperlihatkan bagaimana peristiwa sejarah besar mempengaruhi kehidupan individu. Dasti . menyoroti bahwa novel ini membahas tema-tema eksploitasi dan perjuangan pribadi, menghubungkan ketidakadilan sejarah dengan isu-isu kontemporer. Narasi ini menggali kedalaman emosional dan sosial dari karakter-karakternya, memperlihatkan bagaimana mereka berjuang melawan berbagai tantangan dan ketidakadilan Prosiding SNITER Vi 2024 ISSN: 2597-7067 Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) Universitas Widya Kartika Surabaya yang mereka hadapi. Dengan demikian. Cantik Itu Luka tidak hanya merupakan karya fiksi yang menarik, tetapi juga sebuah komentar sosial yang penting mengenai bagaimana sejarah dan struktur sosial mempengaruhi kehidupan individu. Studi tentang Cantik Itu Luka bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur intrinsik dalam novel tersebut, dengan fokus pada karakter utama, plot, dan konflik yang dihadapinya. Penelitian ini berusaha untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang struktur naratif dan masalah tematik novel tersebut. Dengan memeriksa karakter Dewi Ayu, plot cerita, dan konflik yang dihadapinya, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana elemen-elemen ini membentuk narasi keseluruhan dan tema-tema yang ada dalam novel. Manfaat praktis dari penelitian ini termasuk pengayaan bidang studi sastra, memberikan wawasan baru tentang bagaimana unsur-unsur intrinsik dalam novel dapat mempengaruhi interpretasi dan pemahaman terhadap karya sastra. Selain itu, penelitian ini juga memotivasi eksplorasi lebih lanjut mengenai unsur-unsur intrinsik dalam sastra, memberikan dasar yang kuat untuk analisis sastra yang lebih mendalam. Dari perspektif teoretis, penelitian ini berkontribusi pada penerapan pendekatan analisis sastra, meningkatkan pemahaman keseluruhan tentang bagaimana novel dianalisis dan Secara keseluruhan, ruang lingkup studi ini berpusat pada karakter Dewi Ayu, plot novel, dan konflik yang dia hadapi, memberikan pemeriksaan mendetail tentang unsur-unsur intrinsik ini. Dengan analisis mendalam tentang karakter, plot, dan konflik, penelitian ini bertujuan untuk menggali esensi dari narasi Cantik Itu Luka dan memahami bagaimana unsur-unsur ini berkontribusi pada keseluruhan makna dan dampak dari karya sastra tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan studi sastra dan meningkatkan pemahaman tentang bagaimana elemenelemen intrinsik membentuk pengalaman membaca dan interpretasi terhadap karya sastra. METODE PENELITIAN Metode penelitian pada dasarnya adalah pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan tujuan dan aplikasi tertentu. Metode ini melibatkan empat komponen penting: metode ilmiah, data, tujuan, dan niat (Sugiyono, 2. Elemen-elemen ini sangat krusial karena mereka membimbing peneliti dalam memahami dan menangani penyebab dan efek dalam studi mereka. Metode yang dipilih untuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang sangat cocok untuk memberikan pemahaman yang mendetail dan bernuansa tentang materi yang diteliti. Metode deskriptif kualitatif melibatkan deskripsi fenomena dengan cara yang memungkinkan pembaca merasakan detail-detailnya seolaholah mereka mengalaminya secara langsung. Metode ini fokus pada menangkap dan menyampaikan esensi subjek melalui deskripsi yang komprehensif, memungkinkan wawasan yang lebih dalam tentang materi (Keraf, 2. Dalam konteks ini, pendekatan deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran yang kaya dan hidup tentang unsur-unsur intrinsik dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Sumber Data: Sumber data utama untuk studi ini adalah Cantik Itu Luka, sebuah novel karya Eka Kurniawan. Novel ini menjadi dasar penelitian, menyediakan teks dari mana semua data akan diambil dan dianalisis. Prosedur Pengumpulan Data: Proses pengumpulan data melibatkan beberapa langkah kunci. Pertama, novel dibaca beberapa kali untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang isinya. Selama pembacaan ini, bagian-bagian relevan terkait karakter, plot, dan konflik dalam novel diidentifikasi dan dicatat. Fokus utama penelitian adalah pada unsur-unsur intrinsik ini, yang penting untuk memahami struktur naratif dan masalah tematik dalam novel. Setelah bagian-bagian relevan Prosiding SNITER Vi 2024 ISSN: 2597-7067 Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) Universitas Widya Kartika Surabaya diidentifikasi, mereka dikategorikan ke dalam tiga area utama: pengembangan karakter, perkembangan plot, dan konflik. Klasifikasi ini membantu dalam mengorganisir data dan memfasilitasi analisis yang terstruktur. Prosedur Analisis Data: Setelah pengumpulan data, analisis melibatkan proses sistematis klasifikasi, deskripsi, dan interpretasi. Novel dibaca berulang kali untuk memastikan pemahaman yang komprehensif tentang isinya. Data kemudian diorganisasi berdasarkan pertanyaan penelitian, fokus pada karakteristik, dinamika plot, dan konflik. Ini melibatkan pengelompokan dan deskripsi elemen-elemen ini sebagaimana adanya dalam novel. Analisis bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan komponen intrinsik dari narasi, memberikan wawasan tentang bagaimana elemen-elemen ini berkontribusi pada karya sastra secara keseluruhan. Temuan dikompilasi dan ditinjau untuk menarik kesimpulan tentang struktur dan elemen tematik novel. Proses ini memastikan bahwa analisis dilakukan secara menyeluruh dan bahwa hasilnya bermakna dan relevan dengan tujuan penelitian (Febrian, 2. Singkatnya, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis Cantik Itu Luka. Dengan mengumpulkan dan menganalisis data yang berkaitan dengan karakter, plot, dan konflik dalam novel secara sistematis, studi ini bertujuan untuk menawarkan pemahaman yang mendetail tentang unsur-unsur intrinsik yang membentuk narasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Cantik Itu Luka oleh Eka Kurniawan adalah sebuah novel yang kaya dan multifaset yang berlatar di kota fiksi Halimunda di Indonesia. Novel ini secara rumit menggambarkan kehidupan Dewi Ayu, seorang tokoh yang kompleks dan tragis, yang pengalamannya mencakup perjuangan sejarah dan sosial yang lebih luas di Indonesia, mulai dari era kolonial Belanda hingga periode pasca-kemerdekaan. Novel ini mengeksplorasi dampak kolonialisme, perjuangan pribadi karakter-karakternya, serta jalinan emosi dan konflik manusia yang menggerakkan narasi. Analisis Karakter Dewi Ayu Dewi Ayu muncul sebagai tokoh sentral yang sangat rumit, mewujudkan berbagai sifat dan emosi yang mendefinisikan perjalanannya. Lahir dari hubungan incestuous antara ayah Belandanya dan ibu pribumi. Dewi Ayu melambangkan pertemuan identitas budaya dan Kecantikannya, yang berasal dari warisan campuran ini, menjadi sumber ketertarikan sekaligus beban. Narasi menyoroti bagaimana penampilan dan warisannya membentuk interaksinya dengan dunia sekitar dan mempengaruhi jalannya hidupnya. Kecerdasan dan sifat tidak konvensional Dewi Ayu digambarkan dengan jelas melalui interaksinya dengan orang lain, khususnya guru Francisan. Kecerdasan dan pandangan tidak ortodoksnya membedakannya, seperti yang ditunjukkan oleh reaksi Francisan terhadap kecantikan dan kecerdasannya. Keterkejutan guru tersebut terhadap kecantikan Dewi Ayu yang dipadukan dengan kecerdasannya menekankan kompleksitas karakternya dan ekspektasi sosial yang diterapkan padanya. Gambaran ini menetapkan Dewi Ayu sebagai sosok yang menentang norma konvensional, menantang ekspektasi sosial dan budaya dengan kecerdasan dan kepribadiannya. Novel ini juga mengeksplorasi sifat kegilaan dan tekad Dewi Ayu. Keputusannya sering kali tampak tidak rasional, seperti pilihannya untuk menikah dengan Ma Gedik, seorang pria tua, yang menyoroti sifatnya yang tidak terduga. Meskipun keputusankeputusannya tampak absurd, mereka mencerminkan rasa agensi dan penolakan terhadap Prosiding SNITER Vi 2024 ISSN: 2597-7067 Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) Universitas Widya Kartika Surabaya batasan yang dikenakan padanya. Aspek dari kepribadiannya ini mengungkapkan ketahanan dan kesediaannya untuk bertindak menurut caranya sendiri, bahkan menghadapi norma sosial dan kesulitan pribadi. Kepahlawanan dan ketahanan Dewi Ayu adalah tema yang menonjol dalam narasi, terutama selama pendudukan Jepang di Halimunda. Ketahanan Dewi Ayu menghadapi kesulitan signifikan, termasuk penahanan dan prostitusi paksa, digambarkan dengan realisme yang keras. Penolakannya untuk mengungsi dan kecerdasannya, seperti berburu buaya untuk makanan, menggambarkan semangat dan insting bertahannya yang tak Sifat-sifat ini tidak hanya mendefinisikan karakternya tetapi juga berfungsi sebagai metafora untuk perjuangan yang lebih luas yang dihadapi Indonesia selama periode yang penuh gejolak ini. Selain itu, kemandirian dan pembangkangan Dewi Ayu adalah aspek penting dari Penolakannya untuk mengikuti jalur konvensional dan tekadnya untuk tetap berada di Halimunda meskipun dalam kekacauan menyoroti sifatnya yang kuat. Pembangkangannya terlihat dalam tindakan dan keputusan-keputusannya, seperti rencana masa depannya di tengah-tengah kekacauan, yang mencerminkan ketahanannya dan otonomi dalam membentuk takdirnya. Lanskap Emosional Dewi Ayu Emosi Dewi Ayu secara rumit terjalin dalam narasi, mengungkapkan kedalaman karakternya dan dampak dari pengalamannya. Kemarahan adalah tema yang berulang, muncul dalam konfrontasinya dengan ketidakadilan dan pengkhianatan. Reaksinya terhadap tindakan Maman Gendeng dan perlakuan buruk terhadap putrinya. Alamanda, menggambarkan rasa ketidakadilan yang mendalam dan tekadnya untuk melindungi keluarganya meskipun ia sendiri menderita. Kemarahan ini menggerakkan banyak perilaku dan pengambilan keputusannya, menyoroti ketahanannya dan kekuatan moralnya. Cinta adalah emosi sentral lainnya dalam kehidupan Dewi Ayu, terutama kasih sayangnya yang mendalam terhadap anak-anaknya. Meskipun penilaian sosial dan statusnya sebagai pelacur. Dewi Ayu berkomitmen untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya dan memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Cintanya ditunjukkan melalui perawatan dan perlindungannya, yang melampaui kesulitan yang dihadapinya dan mencerminkan harapan abadi untuk masa depan keluarganya. Kesedihan adalah emosi yang mendalam dan meresap dalam kehidupan Dewi Ayu, mencerminkan efek kumulatif dari banyak kehilangan dan kesulitan yang dialaminya. Kesedihannya atas kehilangan orang-orang yang dicintainya dan kesedihannya karena meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya menekankan kedalaman emosinya dan kerentanannya. Kesedihan ini bukan hanya penderitaan pribadi tetapi juga refleksi dari konteks sosial dan sejarah yang lebih luas yang membentuk pengalamannya. Kebencian adalah emosi signifikan lainnya dalam karakter Dewi Ayu, terutama dalam reaksinya terhadap perilaku korup dan tidak bermoral. Kebenciannya terhadap pejabat pemerintah dan eksploitasi mereka menyoroti nilai-nilai moralnya yang kuat dan responsnya terhadap ketidakadilan yang ia lihat. Kebencian ini berfungsi sebagai pemicu untuk tindakan dan keputusannya, menekankan sikap etisnya dan resistensinya terhadap korupsi sosial. Ringkasan Plot Plot Cantik Itu Luka berkembang dengan twist supernatural saat Dewi Ayu bangkit dari kuburnya setelah dua puluh satu tahun, membuka panggung untuk narasi yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Eksposisi memperkenalkan karakter-karakter utama dan memberikan gambaran tentang kehidupan Dewi Ayu selama pendudukan Jepang di Halimunda. Kebangkitan Dewi Ayu dan kekacauan yang mengikutinya mengungkapkan konflik sentral novel dan menetapkan nada untuk drama yang akan berkembang. Seiring Prosiding SNITER Vi 2024 ISSN: 2597-7067 Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) Universitas Widya Kartika Surabaya dengan perkembangan cerita, aksi meningkat membangun ketegangan melalui berbagai konflik dan perkembangan. Interaksi Dewi Ayu dengan karakter seperti Maman Gendeng dan Shodancho mendorong plot ke depan, menciptakan jaringan perjuangan kekuasaan dan persaingan pribadi. Peristiwa signifikan, seperti pemerkosaan Alamanda dan pernikahannya dengan Shodancho, menambah kompleksitas narasi. Kisah cinta antara Alamanda dan Kamerad Kliwon, serta pernikahan Maya Dewi dengan Maman Gendeng, lebih jauh merumitkan hubungan dan dinamika dalam cerita. Klimaks novel terjadi ketika Alamanda setuju untuk menyelamatkan nyawa Kamerad Kliwon sebagai imbalan untuk bantuan dari Shodancho. Momen penting ini menekankan puncak ketegangan dan konflik, saat teror hantu di Halimunda dan nasib tragis anak-anak Dewi Ayu muncul ke permukaan. Puncak peristiwa ini menyoroti tema sentral dan konflik Dalam aksi yang menurun, resolusi poin-poin plot utama mengungkapkan nasib tragis Rengganis Si Cantik dan pencarian pembunuhnya. Kekerasan antara preman dan tentara lebih lanjut mengurai konflik utama, menuju resolusi yang menyelesaikan benang-benang besar narasi. Resolusi membawa cerita ke kesimpulan yang menyentuh, merefleksikan nasib buruk yang berulang dari keluarga Dewi Ayu dan perjuangan mereka yang abadi. Pembunuhan Shodancho dan akhir tragis Dewi Ayu mencerminkan eksplorasi novel tentang warisan kolonial dan kesulitan pribadi, membawa narasi ke lingkaran penuhal. Konflik Dalam penceritaan, konflik adalah perjuangan sentral atau isu yang menggerakkan Konflik menciptakan ketegangan dan membentuk plot, muncul dalam berbagai Konflik internal terjadi di dalam karakter, melibatkan perjuangan antara keinginan, pilihan, atau dilema moral yang bersaing, sedangkan konflik eksternal melibatkan tantangan dari kekuatan luar, seperti alam, masyarakat, atau karakter lain. Dalam Cantik Itu Luka. Dewi Ayu mengalami konflik internal yang signifikan yang mencerminkan isu-isu sosial dan sejarah yang lebih luas. Kecemasannya tentang kecantikan putrinya dan statusnya sebagai pelacur tampak sebagai kepanikan neurotik dan ketidakamanan. Konflik internal ini terlihat dalam frustrasi dan ketegangan emosional yang dia. Selain itu, perjuangan internal Dewi Ayu menyoroti interaksi antara pergolakan pribadi dan tantangan sosial eksternal, seperti kolonialisme dan pergolakan sosial (Eagleton, 1. Kekecewaannya, terutama dalam kegagalannya untuk memperoleh kesempatan pendidikan untuk putrinya meskipun telah melakukan pengorbanan pribadi yang signifikan, menggambarkan ketidakpuasan dan Secara eksternal. Dewi Ayu menghadapi konflik yang menggerakkan plot dan membentuk interaksinya dengan orang lain. Konfliknya dengan Alamanda muncul dari masa lalunya sebagai pelacur, yang mengarah pada benturan nilai dan perspektif. Ketegangan ini mencerminkan implikasi lebih luas dari masa lalunya terhadap hubungan masa kini. Selain itu, persaingan dengan Maman Gendeng, ayah biologis Alamanda, menciptakan ketegangan dan mempengaruhi hubungan Dewi Ayu dengan putrinya. Perjuangan kekuasaan ini menggambarkan kompleksitas hubungan masa lalunya dan dampaknya terhadap kehidupan saat ini KESIMPULAN Cantik Itu Luka oleh Eka Kurniawan secara mendalam mengeksplorasi kehidupan Dewi Ayu, berlatar di kota fiksi Halimunda di Indonesia. Novel ini mencakup beberapa dekade, mulai dari era kolonial Belanda hingga periode pasca-kemerdekaan Indonesia, dan menyelami tema kolonialisme, tragedi pribadi, dan perubahan sosial. Dewi Ayu, yang lahir dari hubungan incestuous antara ayah Belandanya dan ibu pribuminya, mewujudkan keindahan dan beban dari warisan campurannya. Hidupnya ditandai oleh serangkaian Prosiding SNITER Vi 2024 ISSN: 2597-7067 Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) Universitas Widya Kartika Surabaya kesulitan mendalam, termasuk penelantaran, eksploitasi, dan ejekan sosial. Meskipun menghadapi tantangan ini, dia tetap menjadi sosok yang sangat kompleks. Kecerdasan dan sifat tidak konvensional Dewi Ayu terlihat dalam interaksinya dengan orang lain. Kecerdasan tajam dan pandangan tidak ortodoksnya menantang norma dan ekspektasi sosial, menjadikannya tokoh yang menonjol dalam komunitasnya. Salah satu aspek yang paling mencolok dari kepribadian Dewi Ayu adalah campuran kegilaan dan tekadnya. Keputusannya sering tampak tidak rasional, seperti pilihannya untuk menikah dengan Ma Gedik yang sudah tua, tetapi tindakan-tindakan ini mencerminkan penolakannya untuk mengikuti ekspektasi sosial. Ketidakpastian ini menekankan perjuangan dan pembangkangannya, mengungkapkan wanita yang hidup menurut aturannya sendiri meskipun akibatnya. Kepahlawanan dan ketahanan Dewi Ayu sangat terlihat selama pendudukan Jepang di Halimunda. Dia menghadapi kesulitan berat, termasuk penahanan dan prostitusi paksa, namun tetap teguh dalam usahanya untuk melindungi dan merawat Keberaniannya terlihat dalam tekadnya untuk bertahan dan beradaptasi, bahkan ketika menghadapi kesulitan ekstrem. Ketahanan ini dalam menghadapi ujian-ujian ini menggambarkan kekuatan dan ketangguhannya dengan jelas. Narasi novel dimulai dengan kebangkitan Dewi Ayu dari kuburnya setelah dua puluh satu tahun, menetapkan nada supernatural dan menyeramkan. Peristiwa ini memperkenalkan pembaca pada karakter-karakter utama dan memberikan sekilas pandang tentang kekacauan sejarah dan sosial di Halimunda selama pendudukan Jepang. Plot semakin kompleks dengan berbagai konflik, termasuk konflik dengan karakter seperti Maman Gendeng dan Shodancho. Konflik-konflik ini mendorong cerita maju, mengeksplorasi tema kekuasaan, kecantikan, dan perjuangan pribadi. Seiring perkembangan cerita, interaksi Dewi Ayu dengan putrinya. Alamanda, dan karakter lainnya mengungkapkan lapisan-lapisan mendalam dari karakternya. Hubungan yang rumit dan konflik internal dan eksternal yang dihadapinya menyoroti tema sentral novel. Klimaks cerita, yang ditandai dengan ketegangan signifikan dan nasib tragis keluarga Dewi Ayu, menegaskan dampak kolonialisme dan kesulitan pribadi yang berkelanjutan. Resolusi menyimpulkan narasi, membawa kesimpulan yang menyentuh pada cerita. Akhir tragis Dewi Ayu dan kesulitan keluarga mencerminkan perjuangan dan tantangan yang dihadapi individu dalam masyarakat serta ditandai oleh pergolakan sejarah dan sosial. UCAPAN TERIMA KASIH Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penulisan karya ini. Terima kasih khusus saya sampaikan kepada para pembimbing yang telah banyak berkontribusi dalam penyempurnaan karya ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan teman-teman saya atas dorongan dan motivasi mereka sepanjang proses penulisan. Masukan dan saran sangat saya hargai dan akan saya perhatikan untuk perbaikan di masa depan. Saya berharap karya ini bermanfaat dan memberikan kontribusi yang berarti. REFERENCES