Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan I Made Tiartini Mudarahayu. I Nyoman Sedana. Anak Agung Gede Rai Remawa. I Ketut Sariada Program Studi Doktor. Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah. Sumerta. Denpasar. Bali 80235 Tlp. E-mail: tiartinimudarahayu@gmail. ABSTRACT Behind the diversity of clothes in Wayang Kamasan, there is a grip and creativity for the Kamasan-style painter, considering that this art is a classical and communal art in Bali. The study used qualitative method and the aesthetic morphology approach of Thomas Munro which states that an art object has the organization of elements and details aimed at conveying the imagination and message of an object, scene, situation in the art object. The results of the study show that clothing motives in Wayang Kamasan painting can be divided into : . The head consists of motives that describe the main identity of the figure, for example: the buana lukar on the Bima. The body, consisting of the motive supporting the identity of the figure, for example: the gelang kana on the Tualen. The leg, consists of a cloth motives, such as the poleng on the Bima. The main motives cannot be changed, while some of the stuffing motives come from the creativity of each artist. The results of the study indicate that there is a wide exploration space for the creativity of the Wayang Kamasan painting artist. Keywords: Aesthetic Morphology. Clothing Motives. Wayang Kamasan Painting. Pakem. Creativity ABSTRAK Di balik keberagaman bentuk busana dalam lukisan Wayang Kamasan, terdapat pakem dan kreativitas bagi pelukis gaya Kamasan, mengingat bahwa kesenian ini merupakan kesenian klasik dan komunal di Bali. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetika bentuk dari Thomas Munro yang menyatakan bahwa satu benda seni memiliki pengorganisasian unsur dan detail yang ditujukan untuk menyampaikan imajinasi dan pesan dari sebuah objek, adegan, situasi dalam benda seni tersebut. Hasil studi menunjukkan bahwa motif busana figur dalam seni lukis Wayang Kamasan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu: Bagian kepala . , terdiri atas motif yang menggambarkan identitas utama dari figur yang ingin disampaikan, contohnya: motif buana lukar pada figur Bima. Bagian badan . , terdiri dari motif pendukung identitas figur, contohnya: motif gelang kana pada figur Tualen. Bagian kaki . , terdiri atas motif kain yang mendukung identitas figur, seperti motif poleng pada figur Bima. Motif yang menjadi pakem dan tidak dapat diubah polanya adalah motif utama, sedangkan sebagian dari motif isian bersumber dari kreativitas masingmasing seniman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat ruang eksplorasi yang luas bagi kreativitas seniman lukis Wayang Kamasan. Kata Kunci: Estetika Bentuk. Motif Busana. Lukisan Wayang Kamasan. Pakem. Kreativitas Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Made Tiartini Mudarahayu. I Nyoman Sedana PENDAHULUAN Busana yang divisualisasikan dalam Seni lukis Wayang Kamasan sebagai figur lukisan Wayang Kamasan mengacu pada salah satu kesenian klasik dan komunal di Bali konsep Tri Angga yaitu konsep pembagian memiliki pakem dalam berbagai aspek, baik ruang dalam Kehidupan masyarakat Bali aspek tema, teknik pengerjaan, alat dan bahan yang terdiri atas, bagian utama, tengah yang digunakan, maupun berbagai macam . bentuk figur yang ditampilkan dalam sebuah Wiryawan, 2016, hlm. Konsep Tri Angga Pakem sebagai sebuah kesepakatan yang diterapkan dalam penelitian ini terbagi sangat penting dalam kesenian komunal atas tiga bagian, yaitu busana pada bagian dengan tujuan penyamaan persepsi para kepala yang disebut bernilai utama, busana seniman yang mengerjakan sebuah lukisan. pada bagian badan yang dimaknai bernilai Pakem . (Susanta Wayang madya dan busana pada bagian kaki yang disebut bernilai nista (Susanta dan Wiryawan, kesepakatan bagi setiap seniman yang terlibat 2016, hlm. Penempatan dan visualisasi dalam pengerjaan satu buah lukisan Wayang busana ini umumnya sudah memiliki pakem Kamasan, contohnya seorang seniman yang yang apabila tidak diikuti dapat mengubah bertugas mewarnai sudah paham warna yang makna dan narasi pada sebuah lukisan. harus diaplikasikan pada figur melalui bentuk Contohnya, figur Arjuna harus digambarkan dan motif yang digambarkan oleh seniman dengan gelungan supit urang, apabila gelungan yang bertugas membuat sketsa. Pakem ini tersebut diubah dan dibuat lebih tinggi maka yang menjadi benang merah antara satu karakter figur tersebut akan berubah dan lebih seniman dengan lainnya. menyerupai figur Bima yang identik dengan Kamasan gelungan buana lukar. Identitas setiap figur komposisi lukisan Wayang Kamasan terlihat tersebut telah menjadi pakem bentuk seni penuh dan semarak. Identifikasi terhadap lukis Wayang Kamasan sampai saat ini masih setiap figur yang digambarkan dalam sebuah menjadi acuan para seniman yang sejenis. Gaya lukisan Wayang Kamasan dapat dilakukan Tema dalam seni lukis Wayang Kamasan melalui telaah terhadap bentuk visual dari cukup beragam, namun secara umum tema figur tersebut. Secara umum figur dewa dewi yang digunakan tetap mengacu pada kearifan lokal, seperti kepercayaan masyarakat Bali dalam palelindon dan palelintangan, kitab digambarkan pendek dengan perut buncit Sutasoma, (Supini, 2. Setiap figur dewa dewi dan Adnyana punakawan pun memiliki karakter sendiri seni lukis klasik Kamasan secara umum yang selain dapat dibedakan melalui karakter menjadikan epos Ramayana dan Mahabarata mimik muka dan perawakan, juga dapat sebagai tema sentral (Adnyana, 2015, hlm. dibedakan melalui busana yang dikenakan. Tema tersebut umumnya divisualisasikan Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan dalam beberapa panel cerita, terdiri atas Kamasan. Selain itu, penelitian ini juga beberapa visualisasi adegan figur utama dan diharapkan dapat menjadi literatur bidang Umumnya terdapat belasan seni lukis tradisional Bali. hingga puluhan figur dalam satu lukisan Wayang Kamasan. Mengacu yang terdapat dalam satu lukisan Wayang METODE Kajian Kamasan, menyebabkan semakin sulit bagi kualitatif dengan pendekatan estetika bentuk, publik untuk mengenali dan membedakan yakni dengan landasan teori estetika bentuk setiap figur dalam lukisan tersebut, hal ini dari Thomas Munro. juga mempengaruhi kemampuan publik Menurut Munro dalam estetika bentuk dalam menerima pesan atau cerita yang ingin fokus kajian terletak pada aspek struktur dan disampaikan melalui lukisan tersebut. Oleh fungsi yang dapat diobservasi secara langsung sebab itu, dirasa perlu untuk melakukan melalui benda seni. Satu benda seni memiliki telaah dan identifikasi terhadap estetika pengorganisasian unsur dan detail yang bentuk khususnya pada bagian busana yang ditujukan untuk menyampaikan imajinasi dan terdiri atas beragam motif dalam sejumlah pesan dari sebuah objek, adegan, situasi dalam figur lukisan Wayang Kamasan. Tujuan dari benda seni tersebut . 0, hlm. Kajian penelitian ini adalah untuk dapat memahami ini merupakan kebudayaan, semiotika, dan pakem dan ruang kreativitas dalam motif estetika yang tidak dapat dipisahkan, karena busana figur lukisan Wayang Kamasan, serta pemahaman mengenai kajian kebudayaan mengidentifikasi karakter dan identitas visual beranjak antara signifikasi atau penandaan figur dalam lukisan Wayang Kamasan. Sampel yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah lukisan Bima swarga dan meaning/makn. dan sensibility/kepekaan (Sri Rustiyanti, 2015, hlm. Atma Prasangsa di Bale Kertha Gosa Klungkung. Komposisi unsur dan detail dalam Sampel ini dipilih karena merupakan salah benda seni visual terdiri atas dua jenis, yaitu satu lukisan Wayang Kamasan yang paling representasi statis dan mobile. Lukisan, gambar sering dilihat dan mudah dijangkau publik, dan ilustrasi merupakan contoh karya dengan selain itu tema Bima swarga juga merupakan representasi gambar statis yang menampilkan salah satu tema yang banyak diangkat dalam cerita ketika dilihat dengan seksama. seni lukis ini. Penelitian Dalam menganalisis bentuk pada karya seni visual dapat dilakukan pembagian objek harapan dapat memberi kontribusi dalam kajian dalam beberapa bagian, seperti pada bentuk pengetahuan bagi publik, supaya figur manusia dapat dibagi menjadi tiga, dapat mengapresiasi dan memahami figur yaitu bagian kepala, anggota badan dan kaki yang ditampilkan dalam karya lukis Wayang (Munro, 1970, hlm. Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Made Tiartini Mudarahayu. I Nyoman Sedana Teori estetika bentuk tersebut digunakan Sangging, yang memberikan namanya kepada banjar di Kamasan yang masih dihuni oleh bentuk pada motif busana figur dalam lukisan seniman lukis wayang Kamasan hingga saat Bima swarga dan Atma Prasangsa, serta untuk ini (Suyasa, 2010, hlm. memahami motif pakem dan motif yang dapat diubah atau dikreasikan oleh seniman. Kertha Gosa pembahasan segala sesuatu yang bertalian Analisis terhadap motif tersebut juga dengan situasi keamanan, kemakmuran serta mengacu pada konsep Tri Angga, yaitu motif keadilan wilayah kerajaan Bali. Mengacu busana figur dalam lukisan tersebut dapat pada keterangan di Pemedal Agung Puri dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Aukepala Klungkung. Kertha Gosa telah ada pada . , badan . dan kaki . Ay tahun 1622 atau 1700 Masehi ketika masa (Susanta dan Wiryawan, 2016, hlm. Tiga bagian tersebut menunjukkan bahwa setiap Terdapat dua bangunan di lokasi ini, yaitu bagian fisik dari figur tersebut memiliki nilai Bale Kambang dan Bale Kertha Gosa yang apabila dilihat secara vertikal. pada masa kerajaan digunakan sebagai tempat Dewa Agung Jambe. Pengumpulan data dilakukan dengan sidang para raja di Bali. Kedua bale tersebut observasi, wawancara, dokumentasi, dan berisikan hiasan pada langit-langitnya berupa lukisan Wayang Kamasan. Penelitian klasifikasi figur dewa, manusia dan raksasa Lukisan pada langit-langit Bale Kertha pada lukisan Atma Prasangsa dan Bima swarga Gosa awalnya dibuat oleh Sangging Modara tersebut, dan dilakukan analisis mengenai pada abad ke-9, digarap kembali pada tahun motif busana yang digunakan mengacu pada 1960-an yang dipimpin oleh Pan Seken, teori estetika bentuk Thomas Munro dan kemudian direstorasi pada tahun 1980-an konsep Tri Angga, kemudian menentukan salah satunya oleh I Nyoman Mandra. motif yang merupakan pakem dan motif yang bergantung pada kreativitas seniman. Hinzler menyebutkan bahwa lukisan di Bale Kertha Gosa yang dibuat pada masa awal berbeda dengan yang ditemukan saat ini, mengacu pada dokumen yang dimiliki HASIL DAN PEMBAHASAN oleh Walter Spies dan Hwa Heng. Dijelaskan Gaya lukisan Wayang Kamasan berasal bahwa sebelumnya lukisan Bale Kertha Gosa dari era Majapahit, kerajaan besar yang menggambarkan kisah Bima swarga. Palelindon berpusat di Jawa Timur. Sumber-sumber Cina dan Nirwana, lukisan terbagi dalam 7 petak menyebut adanya tradisi seni lukis naratif pada . 1, hlm. masa Majapahit, dan relief-relief di berbagai AuSaat ini, secara keseluruhan lukisan candi di Jawa Timur bercorak wayang. Selama pada langit-langit Bale Kertha Gosa terdiri atas berabad-abad seni lukis wayang Kamasan 267 lembar papan, tersebar ke dalam 9 petak dengan cerita yang berbeda. Petak paling Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan bawah atau petak pertama menggambar AuLukisan Bima Swarga pada langit-langit cerita Tantri Kandaka, petak kedua dan Bale Kertha Gosa memberikan informasi ketiga bercerita tentang Atma Prasangsa, petak tentang hakikat dari tujuan hidup orang Bali keempat menggambarkan tentang Garuda dan makna hidup seiring dengan tujuan etika, mencari Amerta, petak kelima mengisahkan yaitu untuk membina susila . jaran mora. , tentang Palelindon, petak keenam dan ketujuh ajaran suci yang diturunkan oleh Sang Hyang menggambarkan Bima swarga, petak kedelapan Widi WasaAy (Nilotama dan Imam, 2. tentang surga bagi para roh, petak teratas atau Menurut Suayasa . 0, hlm. seni lukis petak ke sembilan menggambarkan NirwanaAy Wayang Kamasan memiliki bentuk, sikap, (Warsika dalam Ahmad, 2016, hlm. figur, ekspresi dan warna tertentu sesuai Penelitian ini mengulas petak kedua, dengan peranan dalam cerita yang dilakoninya, ketiga, keenam dan ketujuh yaitu Atma seperti figur dewa mencerminkan sifat adil. Prasangsa dan Bima swarga. Kisah pada petak pengasih dan penyayang, figur punakawan tersebut mengilustrasikan kisah perjalanan sebagai pelengkap untuk menghidupkan Bima menuju swargaloka untuk melihat atma suasana dengan karakter yang sesuai peranan Pandu dan Dewi Madri atas perintah Dewi dalam lakon. Kunti, dalam perjalanan tersebut Bima juga Penelitian ini fokus pada analisis bentuk menyaksikan roh . yang dihukum di neraka motif busana dari figur utama yang dapat oleh Bhatara Yama, hingga Bima bertemu mewakili puluhan figur lainnya, yaitu atas dan menyelamatkan atma Pandu dan Madri, dewa diwakilkan oleh figur Bima, punakawan sampai pada akhirnya mereka sampai di terwakilkan dengan figur Tualen. Bhuta Celeng mewakilkan figur bhuta dan atma Kisah Bima dalam lukisan di Bale digambarkan secara umum sebagai roh Kertha Gosa terbagi dalam 2 bagian, pertama manusia yang semasa hidupnya berbuat jahat. lukisan yang mengisahkan perjalanan Bima Identifikasi bentuk pada figur-figur ketika menyaksikan penyiksaan terhadap tersebut dapat dilakukan dengan membagi roh di neraka (Atma Prasangs. Kedua bentuk pada figur berdasarkan pada motif penyusunnya, yang terdiri atas motif utama. Lukisan motif pengisi dan motif isian. Motif utama tersebut menampilkan puluhan figur dewa, merupakan elemen atau ornamen pokok, punakawan, bhuta atau raksasa dan atma atau roh, seperti Bima. Indra. Brahma. Bhatara Yama. Sang Suratma. Sang Jogor Manik, sementara motif isian adalah motif penghias Bhuta Tog-Tog Sil. Bhuta Maya. Bhuta Celeng, motif utama dan motif pengisi, motif isisan Atma Curiga. Atma Lengit. Atmaning Usada, umumnya berbentuk garis atau titik (Suyasa Atmaning Wong Aboros. dan Amir, 2015, hlm. Bima dari kahyangan (Bima swarg. Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Made Tiartini Mudarahayu. I Nyoman Sedana Tabel 1. Analisis Figur Wayang Kamasan dengan Teori Estetika Thomas Munro Tokoh Bagian Analisis Estetika Thomas Munro Motif Utama Motif Isian Kepala Bima Badan Kaki Kepala Badan Tualen Kaki Butha Celeng Atma Gambar 1. Figur Bima pada lukisan Bima swarga di Bale Kertha Gosa. Klungkung (Sumber: Mudarahayu, 2. Kepala Badan bersaudara yang lebih sering dikenal sebagai Kaki Pandawa. Bima identik dengan kekuatannya Kepala Badan antara empat saudara lainnya. Habibah Kaki menggambarkan bahwa Bima merupakan salah satu sosok protagonis dalam kisah Monroe Beardsley mengatakan metafora Mahabaratha. Bima memiliki karakter yang adalah Aosebuah puisi miniaturAo. Dengan penuh kasih sayang dan kuat, kekuatan yang demikian hubungan antara makna literal dan dimilikinya merupakan anugerah dari Dewa makna figuratif dalam sebuah metafora adalah Bayu, yaitu ayah dari Bima . 8, hlm. seperti sebuah versi penjembatan dalam Figur Bima banyak muncul dalam berbagai sebuah kalimat tunggal dari harmonisasi karya sastra dan seni, umumnya Bima digambarkan sebagai sosok laki-laki dengan karakter pada karya literer sebagai sebuah tubuh kuat dan bersenjata gada, begitu pun keutuhan . Dengan literer di sini pada lukisan Bima swarga di Bale Kertha Gosa maksudnya adalah sebuah karya wacana pada gambar 1. yang berbeda dari setiap karya wacana lain. Dikaji khususnya wacana sains, di mana mempunyai bentuk dari Thomas Munro dan mengacu makna eksplisit dan implisit ke dalam suatu pada konsep Tri Angga, maka bentuk busana hubungan (Sri Rustiyanti, wanda Listiani, pada figur Bima dapat dibagi menjadi tiga, 2020, hlm. Bagian kepala . , pada bagian BIMA ini figur Bima digambarkan terdiri atas Bima adalah salah satu karakter dalam susunan pola yang terbentuk dari dua motif. wiracarita Mahabaratha, anak kedua dari lima Motif utama, berupa hiasan kepala yang Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan bernama gelungan buana lukar, hiasan ini sabuk, tanggun sabuk, lelancingan, kancut mirip dengan gelungan supit urang yang biasa dan bebuletan. Motif isian pada bagian ini digunakan oleh Arjuna, namun ukurannya digambarkan berupa garis, titik dan kotak- dibuat lebih tinggi. Motif isian, terdiri atas kotak hitam putih . Susunan pola pada urna, sekar taji, silut karna, tetindik pada manis, bagian nista pada figur Bima merupakan sekar ure, ron-ron, anting-anting, panekes rambut. pakem, khususnya pada motif isian poleng. Motif isian tersebut menghiasi seluruh bagian dari lima tokoh Pandawa hanya figur Bima gelungan hingga telinga dari figur Bima. yang menggunakan motif poleng. Motif utama dan isian pada bagian kepala Berdasarkan Bima ini merupakan pakem yang tidak dapat figur Bima dalam lukisan Wayang Kamasan diubah, apabila salah satu motif, ukuran atau di Bale Kertha Gosa terdiri atas motif utama warna pada motif tersebut diubah maka dapat dan motif isian. Semua motif utama dan motif memunculkan bias dan mengubah karakter isian poleng dalam figur tersebut merupakan figur yang dimaksud menjadi figur lain. bentuk pakem yang tidak dapat diubah . Bagian . , karena merupakan identitas utama dari figur dikategorikan bagian badan ialah dimulai Bima dan mengandung makna tertentu, dari leher hingga pusar. Pada bagian ini figur sedangkan motif isian lainnya dapat diubah Bima juga digambarkan terdiri atas susunan dan disesuaikan dengan gaya ungkap pelukis. pola yang terbentuk dari dua motif. Motif utama yaitu seekor ular yang melilit leher TUALEN Bima, serta gelang kana pada kedua lengan dan Abad Mahabaratha Sansekerta pergelangan tangannya. Motif lainnya adalah motif kuping guling dan cawi berupa garis yang dalam istilah Supomo disebut sebagai dan titik. Motif utama pada bagian badan ini adaptasi, dari adaptasi tersebut lahirlah adalah pakem dari penggambaran figur Bima tokoh punakawan yang dikenal dalam kisah dalam seni lukis Wayang Kamasan, apabila Mahabaratha Nusantara (Suharno, 2015, hlm. dalam kondisi perang Bima juga biasanya digambarkan bersenjata gada. Sementara Salah satu tokoh punakawan yang itu, cawi pada gelang kana bentuknya lebih populer dalam pewayangan adalah Tualen bervariasi tergantung pada kreativitas dan atau bagi masyarakat Jawa lebih dikenal gaya ungkap seniman, namun umumnya sebagai Semar. Bima dalam perjalanan menuju berupa titik dan garis melengkung menyerupai Swargaloka dikisahkan bersama dengan dua huruf AunAy. orang abdi yaitu Merdah dan Tualen. Bagian kaki . , dimulai dari Sebagai salah satu tokoh pendamping pusar hingga kaki, bagian ini digambarkan figur utama dalam cerita yang ditampilkan terdiri atas motif utama dan motif isian. melalui lukisan Wayang Kamasan. Tualen Motif menjadi salah satu figur yang sering dilukis. Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Made Tiartini Mudarahayu. I Nyoman Sedana memiliki bentuk yang hampir sama dengan figur Merdah, hanya saja Tualen digambarkan memiliki badan yang lebih gemuk dengan kulit berwarna wilis, sedangkan Merdah berkulit warna coklat kemerahan. Seluruh susunan pola pada bagian kepala figur Tualen ini merupakan pakem dalam visualisasi bentuk pada seni lukis Wayang Kamasan. Bagian badan . dari leher hingga pusar, pada bagian ini tidak banyak busana yang digambarkan, hanya terdapat gelang kana pada bagian lengan dan pergelangan Gambar 2. Figur Tualen pada lukisan Bima swarga di Bale Kertha Gosa (Sumber: Mudarahayu, 2. tangan yang merupakan motif utama dan Lukisan di Bale Kertha Gosa menampilkan merupakan pakem dalam menggambarkan figur Tualen dengan tinggi badan setengah figur dewa maupun punakawan, sementara dari tinggi figur Bima, berbadan gemuk, bentuk kuping guling disesuaikan dengan perut buncit, kulit berwarna wilis atau coklat gaya ungkap setiap pelukis. kehijauan seperti pada gambar 2. kuping guling sebagai motif isian. Gelang kana . Bagian kaki . , yaitu dari pusar Figur Tualen dan figur punakawan hingga kaki, busana yang digambarkan lainnya digambarkan dengan susunan pola terdiri atas susunan pola motif utama yaitu yang lebih sederhana, jika dibandingkan sabuk, tanggun sabuk, lelancingan layuran dan dengan figur Dewa. Dikaji menggunakan Motif isian busana pada bagian ini teori estetika bentuk dari Thomas Munro digambarkan berupa garis, titik dan kotak- dan mengacu pada konsep Tri Angga, maka kotak hitam putih . Motif isian poleng pola busana pada figur Tualen dapat dibagi merupakan pakem dari busana pada bagian menjadi tiga, yaitu: kaki yang digunakan oleh semua punakawan . Bagian kepala . , pada bagian ini termasuk Tualen. figur Tualen digambarkan terdiri atas susunan Mengacu pada analisis bentuk busana pola yang terbentuk dari satu motif yaitu motif figur Tualen tersebut, maka hampir seluruh isian yang menghiasi bagian dahi, rambut dan busana yang digambarkan pada figur Tualen Motif isian pada figur Tualen terdiri merupakan pakem dalam seni lukis Wayang atas tetindik pada manis, silut karna, penekes Kamasan. Meskipun demikian, sama halnya rambut, anting-anting dan bunga. Selain itu dengan figur Bima, motif isian seperti garis dan Tualen juga memiliki identitas rambut lurus titik penempatannya masih dapat disesuaikan terikat di bagian belakang kepala, serta satu dengan gaya ungkap seniman. gigi pada bagian rahang atas. Figur Tualen Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan Gambar 3. Figur Bhuta Celeng pada lukisan Atma Prasangsa di Bale Kertha Gosa (Sumber: Mudarahayu, 2. BHUTA CELENG Bhuta Celeng merupakan satu dari belasan bhuta yang digambarkan dalam lukisan Atma Prasangsa di Bale Kertha Gosa. Para bhuta tersebut ditugaskan oleh Bhatara Gambar 4. Figur Atma pada lukisan Atma Prasangsa di Bale Kertha Gosa (Sumber: Mudarahayu, 2. Yama untuk menghukum dan menyiksa telah dilakukan . arma pal. Figur atma para atma sesuai dengan karma yang telah dalam lukisan tersebut digambarkan sebagai diperbuatnya di dunia, masing-masing bhuta sosok manusia, ada yang dengan maupun mempunyai tugas dengan jenis siksaan yang tanpa busana sesuai dengan hukuman yang Bhuta Celeng sendiri bertugas Atma juga digambarkan dengan menghukum atma yang semasa hidupnya wajah kesakitan dan penuh penderitaan berperilaku buruk dan jahat. Figur Bhuta seperti pada gambar 4. Celeng digambarkan menyerupai babiseperti pada gambar 3. Figur atma yang digambarkan seperti sosok manusia memiliki bentuk yang jauh Digambarkan dalam wujud babi hutan lebih sederhana dibandingkan dengan figur bertaring, kulit berwarna coklat dengan dewa dan bhuta. Susunan pola bentuk busana lidah yang panjang, figur bhuta celeng tidak yang dikenakan oleh figur atma, yaitu: mengenakan busana, baik kain maupun . Bagian kepala . , sebagian aksesoris lainnya. Pada umumnya bhuta memiliki bentuk yang beraneka ragam, digambarkan tidak mengenakan aksesoris, dapat berupa stilasi dari bentuk binatang hanya rambut terurai, namun ada juga yang maupun raksasa dengan mimik muka yang digambarkan dengan rambut terikat. Gambar dengan rambut terikat, motif hiasan pada ikat ATMA rambut ini merupakan wujud kreativitas dari Atma yang dimaksud adalah roh yang seniman, tetapi tetap mengacu pada bentuk semasa hidupnya berbuat jahat, sehingga motif isian yang berkembang dalam seni lukis pada saat kematiannya roh ini mendapatkan Wayang Kamasan. hukuman yang sesuai dengan perbuatan yang . Bagian badan . dari leher Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Made Tiartini Mudarahayu. I Nyoman Sedana hingga pusar, figur atma baik pria maupun mengandung informasi terkait hakikat dari tujuan hidup orang Bali dan makna hidup umumnya hanya ada motif utama berupa seiring dengan tujuan etika, yaitu untuk membina susila . jaran mora. , ajaran suci pergelangan tangan. Motif utama gelang kana yang diturunkan oleh Sang Hyang Widhi pada figur atma memiliki susunan motif isian Wasa. Ay yang lebih sederhana, berupa garis dan titik. Bagian kaki . dari pusar hingga kaki, figur atma pada gambar 4 mengenakan SIMPULAN busana berupa kain bawahan pakaian adat AuLukisan Bima Swarga pada langit-langit Bali . Kamen merupakan motif utama. Bale Kertha Gosa memberikan informasi sedangkan motif isiannya berupa motif tentang hakikat dari tujuan hidup orang Bali mas-masan. Motif isian pada kain ini sangat dan makna hidup seiring dengan tujuan etika, variatif, dapat berupa motif tradisional seperti yaitu untuk membina susila . jaran mora. , mas-masan, pepatran, batik, ataupun garis. ajaran suci yang diturunkan oleh Sang Hyang Penempatan motif isian pada kain figur atma Widi WasaAy (Nilotama dan Imam, 2. disesuaikan dengan keinginan seniman. Identifikasi terhadap figur pada lukisan Mengacu pada analisis bentuk busana Atma Prasangsa dan Bima Swarga di Bale figur Atma tersebut, maka hampir seluruh Kertha Gosa menunjukkan bahwa terdapat susunan pola pada bentuk busana yang figur utama seperti tokoh dewa, punakawan, digambarkan pada figur atma disesuaikan bhuta dan atma. Telaah terhadap bentuk dengan keinginan dan kreativitas seniman. atau susunan pola motif busana yang telah Motif yang tidak terikat pakem adalah motif isian pada kain, hal ini terlihat jelas pada bahwa figur atma memiliki susunan pola lukisan Wayang Kamasan di Bale Kertha Gosa, motif busana paling sederhana, susunan pola terdapat motif bergaris warna-warni yang motif busana figur punakawan sedikit lebih tidak ditemukan dalam motif tradisional Bali. rumit dari figur atma, sedangkan figur dewa Melalui pemahaman bentuk busana memiliki susunan pola motif busana yang dalam lukisan Wayang Kamasan, diharapkan paling rumit, sementara itu figur bhuta yang publik seni dapat menangkap cerita dan pesan dalam kasus ini diwakilkan oleh Bhuta Celeng moral yang disampaikan melalui lukisan. digambarkan tanpa busana. Setiap lukisan Wayang Kamasan mengandung Secara umum jika ditinjau dari teori ajaran yang patut untuk diteladani, begitu estetika bentuk Thomas Munro dan mengacu juga pada lukisan Bima Swarga di Bale Kertha pada konsep Tri Angga, figur dalam lukisan ini Gosa. terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala . AuNilotama dan Imam . menjelaskan Bima Jurnal Panggung V31/N2/06/2021 Swarga badan . dan kaki . , dengan pola motif yang beragam. Hampir seluruh Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan motif utama merupakan pakem sedangkan sebagian dari motif isian seperti motif pada Kamasan, diharapkan publik seni dapat kain figur atma dapat divisualisasikan sesuai menangkap cerita dan pesan moral yang dengan keinginan seniman. Motif pada kain disampaikan melalui lukisan. Setiap lukisan juga menjadi salah satu ruang kreativitas Wayang Kamasan mengandung ajaran yang bagi seniman lukis gaya Kamasan untuk patut untuk diteladani, begitu juga pada lukisan Bima Swarga di Bale Kertha Gosa. Wayang Pernyataan ini didukung oleh pendapat Supini seorang pelukis asal Banjar Sangging. Desa Kamasan. AuSupini (Wawancara, 21 Ucapan Terima Kasih Januari 2. menyatakan bahwa motif kain Terimakasih pada busana wayang Kamasan dapat dibuat bebas sesuai imajinasi senimanAy. yang telah membimbing penulisan artikel Ditemukannya motif garis warna warni Terimakasih juga disampaikan kepada juga bisa menjadi tanda bahwa eksplorasi narasumber yang telah bersedia memberikan telah dilakukan saat restorasi lukisan terakhir informasi terkait penelitian. Serta seluruh pada tahun 1980-an yang dipengaruhi oleh pihak yang terlibat dalam penyelesaian artikel tren fesyen pada masa tersebut. Selain itu, jika berjudul Estetika Bentuk Busana pada Lukisan dilihat lukisan Wayang Kamasan lain pada area Wayang Kamasan. yang sama yaitu lukisan pada Bale Kambang khususnya pada petak paling bawah, maka akan ditemukan sejumlah motif busana yang *** unik, bahkan digambarkan figur tentara Jepang dengan busana lengkap. Selain itu, pada petak ini juga ditemukan figur manusia yang membawa sebuah tas wanita berukuran kecil yang kini lebih dikenal sebagai clutch. Fakta tersebut menunjukkan bahwa seniman melibatkan kreativitasnya melalui peniruan terhadap perkembangan tren fesyen dalam menciptakan bentuk busana pada figur dalam lukisan Wayang Kamasan. Selain memberikan gambaran mengenai ranah kreativitas dan pakem bentuk busana lukisan Wayang Kamasan bagi pencipta seni, penelitian ini juga dapat memberikan dampak positif bagi publik seni. Melalui pemahaman Daftar Pustaka