JURNAL SAINS. SOSIAL DAN HUMANIORA Support By : e-ISSN: 2777-015X. DOI: https://doi. org/10. 52046/jssh. Web: https://journal. com/index. php/jssh E-mail: jurnaljssh. ummu@gmail. The Influence of Accounting Understanding and Internal Control Systems on the Quality of Financial Reports in MSMEs in North Maluku Province (Pengaruh Pemahaman Akuntansi Dan Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pada UMKM Provinsi Maluku Utar. Aspiati A. Samiun 1A. Naswan Hadilia 1 dan Susmita Fataruba 1 Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Ternate. Indonesia. Email: aspiatysamiun1979@gmail. Info Artikel : E Artikel Penelitian A Artikel Pengabdian A Riview Artikel Diterima : 28 April 2026. Disetujui : 21 Mei 2026. Publikasi On-Line : 4 Juni 2026 Abstract This study aims to determine: . the effect of accounting understanding on the quality of financial reports, and . the effect of internal control systems on the quality of financial reports. The sampling method used purposive sampling. Data analysis used the Structural Equation ModelingAePartial Least Square (SEM-PLS) method. The results of the study indicate that accounting understanding has a positive and significant effect on the quality of financial reports, indicating that MSMEs with stronger accounting knowledge produce more reliable, transparent, and accurate financial information. Furthermore, internal control systems also significantly improve the quality of financial reports by reducing errors and minimizing the risk of fraud through proper monitoring and structured financial procedures. Together, these two variables significantly affect the quality of financial reports, indicating that accounting knowledge and effective internal control complement each other in improving accountability and supporting sustainable business decision-making processes. A Keyword: Accounting Understanding. Internal Control Systems. Financial Report Quality. MSMEs. PENDAHULUAN Di negara berkembang seperti Indonesia. Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis sebagai penggerak utama perekonomian nasional sekaligus penyedia lapangan kerja bagi masyarakat. UMKM tidak hanya menjadi alternatif usaha dengan biaya yang relatif rendah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga merupakan bagian penting dari sistem ekonomi nasional yang mampu memperkuat stabilitas ekonomi masyarakat (Etim, 2. Selain itu, sektor UMKM didominasi oleh berbagai bidang usaha, termasuk sektor konstruksi, sehingga keberadaannya sangat penting dalam membantu pelaku usaha mengelola risiko dan pengeluaran operasional. Seiring dengan perkembangan jumlah UMKM yang terus meningkat, sektor ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui berbagai kebijakan, salah satunya dengan menyediakan akses pembiayaan dan pinjaman yang lebih fleksibel bagi pelaku UMKM. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta unit usaha dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 61,07% Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora atau senilai Rp8. 573,89 triliun. Selain itu. UMKM juga berkontribusi dalam menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional serta menyumbang 60,4% dari total investasi di Indonesia (Limanseto. Manajemen keuangan secara konsisten ditingkatkan oleh para pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah. (UMKM). Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memerlukan pengetahuan yang baik dan keterampilan akuntansi yang mumpuni untuk memulai pengelolaan keuangan yang efisien dan transparan. Dasar dari sistem akuntansi membentuk landasan keuangan atau akuntansi entitas bisnis. Akuntansi adalah proses pengumpulan data rutin yang mengumpulkan informasi seperti aset, pendapatan, sumber modal, kewajiban, dan biaya (Saleh, 2. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi Maluku Utara adalah Penyusunan laporan keuangan yang baik memerlukan kemampuan akuntansi yang memadai dari pemilik usaha (Astuti, 2. Laporan keuangan seharusnya disusun secara sederhana namun tetap mengikuti prosedur dan alur pencatatan yang benar. Namun, masih banyak UMKM yang belum memiliki laporan keuangan Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah belum adanya pemisahan yang jelas antara entitas usaha dan kepentingan pribadi (Latifah, 2. Sebagian besar pelaku UMKM masih mencampurkan aset dan aktivitas usaha dengan kebutuhan pribadi sehingga menyulitkan proses pencatatan dan penyusunan laporan keuangan yang akurat. Permasalahan rendahnya kualitas informasi keuangan yang pengambilan keputusan usaha, akses pembiayaan, serta perkembangan UMKM itu sendiri. (Subrata dkk, 2. Keberhasilan bergantung pada beberapa informasi akuntansi yang penting, yaitu Laporan Keuangan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah. (UMKM). Karena ini. Kualitas mendukung keputusan ekonomi yang diambil oleh Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah. (UMKM). Informasi tentang akuntansi juga diperlukan untuk Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah. (UMKM). Yang pertama adalah kemampuan untuk kemampuan bank untuk memberikan modal tambahan dari perbankan kepada usaha kecil. Namun, masih banyak Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tidak mencatat transaksi Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. keuangan perusahaan. Karena hal ini. Sulit dapat melakukan penarikan dari bank. Kebutuhan pelaporan keuangan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah untuk mengetahui laba rugi agar dapat memperoleh kredit dari kreditur. Mengawasi kewajiban, modal, aset, pendapatan, dan biaya. Berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan ide saat memulai sebuah bisnis. Pemahaman akuntansi merupakan salah keberhasilan suatu usaha. Tingkat pemahaman akuntansi yang baik akan memudahkan pelaku usaha dalam menyusun laporan keuangan yang berkualitas, akurat, dan sesuai dengan standar yang berlaku. Pemahaman akuntansi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami seluruh proses akuntansi, mulai dari pencatatan transaksi hingga penyusunan laporan keuangan, baik secara manual maupun dengan bantuan teknologi komputer. Seseorang dapat dikatakan memiliki pemahaman akuntansi apabila mampu memahami proses transaksi keuangan secara menyeluruh dan menyajikannya dalam bentuk laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip serta standar akuntansi yang berlaku, khususnya Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) (Arismawati, 2. Seiring akuntansi bagi Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM), diperlukan sumber daya manusia yang kompeten di bidang keuangan agar penyusunan laporan keuangan dapat dilakukan secara tepat dan seragam. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman di bidang akuntansi menjadi hal yang sangat penting bagi pelaku UMKM dalam mendukung kualitas laporan keuangan yang lebih baik (Wandini dan Budiasih, 2. Sistem pengendalian intern terdiri dari struktur organisasi, prosedur, dan alat yang dikoordinasikan dalam suatu organisasi untuk meningkatkan kinerja karyawan dan keamanan data, memaksimalkan efisiensi operasional, serta meningkatkan pelaksanaan tindakan yang disepakati antara prinsipal dan agen. (Mahayani. Sistem pengendalian intern ini berfungsi untuk memantau tugas dan fungsi setiap anggota tim, memastikan bahwa setiap anggota tim memiliki tugas dan tantangan mereka sendiri. Struktur ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas laporan keuangan yang dihasilkan melalui kerjasama. Ketika sistem pengendalian intern beroperasi dengan baik, kualitas laporan keuangan yang diperoleh juga (Dewi, 2. Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora Di Provinsi Maluku Utara. Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor utama yang berperan penting dalam mendukung perekonomian daerah. Berdasarkan data Sensus Ekonomi (SE) 2016 lanjutan dari Badan Pusat Statistik tahun 2019, jumlah UMKM mencapai 98,84% dari seluruh usaha nonpertanian di Maluku Utara. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa UMKM menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat. UMKM di Maluku Utara berkembang dengan memanfaatkan bahan baku lokal dan sumber daya manusia setempat sehingga lebih mudah dijalankan oleh masyarakat. Selain itu, perkembangan UMKM juga didukung oleh sektor-sektor unggulan daerah, seperti pengangkutan, dan komunikasi. Sektor-sektor tersebut memiliki peranan besar dalam pembentukan pendapatan daerah dan menjadi kekuatan ekonomi yang mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku Utara. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) tahun BAPELITBANGDA Maluku Utara. Provinsi Maluku Utara memiliki 997 koperasi dan 105. 480 Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM tersebut mencatat volume usaha sebesar Rp26Ae 190 miliar per tahun serta memberikan kontribusi sebesar 0,65% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara. Data tersebut menunjukkan bahwa UMKM memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan penyerapan tenaga kerja Sebaran UMKM terbesar berada di Kabupaten Halmahera Barat dengan 19. 944 unit usaha dan menyerap 14. 952 tenaga kerja, disusul Kabupaten Halmahera Selatan sebanyak 19. unit dengan 18. 016 tenaga kerja. Kota Tidore Kepulauan berada di urutan berikutnya dengan 049 unit usaha dan 28. 526 tenaga kerja, sedangkan Kota Ternate memiliki 14. 904 unit usaha dengan penyerapan 21. 144 tenaga kerja. Selanjutnya. Kabupaten Halmahera Tengah 908 unit usaha dengan 28. 426 tenaga kerja. Kepulauan Sula sebanyak 10. 118 unit usaha 268 tenaga kerja. Pulau Morotai 094 unit usaha dengan 5. 624 tenaga kerja, dan Halmahera Utara sebanyak 3. 902 unit usaha dengan 4. 958 tenaga kerja. Jumlah UMKM paling sedikit terdapat di Pulau Taliabu, yaitu 104 unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 1. 570 orang. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini: . Untuk mengetahui Pengaruh Pemahaman Akuntansi Terhadap Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. Kualitas laporan Keuangan Pada UMKM Provinsi Maluku Utara. Untuk mengetahui Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas laporan Keuangan Pada UMKM Provinsi Maluku Utara. Untuk mengetahui Pengaruh Pemahaman Akuntansi dan Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pada UMKM Provinsi Maluku Utara. II. METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel Pupulasi Menurut Sugiyono . , populasi adalah domain yang digeneralisasi yang terdiri dari tugas dan subtugas dengan kualitas dan karakteristik tertentu yang ditugaskan oleh peneliti untuk analisis dan pelaksanaan Dalam penelitian ini, populasi terdiri dari semua usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berada di Provinsi Maluku Utara pada tahun 2020-2022. Jumlah Populasi dalam penelitian ini adalah 194. 996 Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM). Sampel adalah bagian dari Persentase populasi yang memiliki karakteristik tertentu (Sugiyono, 2. Peneliti sebanyak 100 Unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Provinsi Maluku Utara menyimpulkan bahwa populasi yang ada sangat besar jumlahnya, sehingga tidak mungkin seluruh populasi dijadikan sampel. Sampel yang dimaksud diperoleh menggunakan rumus Slovin, dengan tingkat kesalahan 10%. Ambang 10% didasarkan pada populasi yang cukup besar, yaitu 194. unit Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah. (UMKM). Berikut adalah Rumus Perhitungan Slovin: ycu= ycA 1 ycA . ce 2 ) e = Presentase kesalahan yang ditolelir akibat ketidak telitian pengambilan ycu= 1 194. %)2 ycu= 1 194. ycu= 1 194. ycu= 1 1. 949,96 ycu= 950,96 Sampel = 99,94 Dibulatkakn menjadi 100 Jenis dan Sumber Data Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari lapangan melalui penyebaran kuesioner kepada pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki laporan keuangan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner secara langsung kepada responden untuk diisi sesuai dengan kondisi usaha yang sebenarnya. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi dan wawancara singkat guna memperoleh informasi yang lebih mendalam serta memastikan kesesuaian jawaban responden dengan kondisi di Kuesioner yang digunakan berisi pertanyaan dan pernyataan terkait variabel penelitian yang diukur menggunakan skala Likert. Sebelum digunakan, instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan bahwa setiap item pertanyaan mampu mengukur variabel penelitian secara tepat dan konsisten. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang telah tersedia, seperti buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dokumen instansi terkait, serta sumber informasi lain yang relevan dengan penelitian. Data sekunder digunakan untuk mendukung dan memperkuat data primer dalam menjelaskan kondisi dan permasalahan penelitian terkait pelaku UMKM. Pengukuran Model (Outer Mode. Model regresi ini digunakan untuk memahami validitas dan reliabilitas yang menghubungkan indikator dengan variabel laten. Beberapa menganalisis model luar, termasuk konsistensi internal, validitas diskriminan, dan validitas Uji convergent validity digunakan untuk mengetahui sejauh mana indikator mampu merepresentasikan konstruk atau variabel laten yang diukur. Pengujian dilakukan dengan melihat nilai outer loading pada setiap Suatu indikator dinyatakan valid apabila memiliki nilai loading factor Ou 0,70. Namun, pada penelitian eksploratif nilai loading factor antara 0,60Ae0,70 masih dapat diterima selama nilai Average Variance Extracted (AVE) memenuhi syarat. Indikator yang memiliki nilai loading factor < 0,60 dinyatakan tidak valid dan harus dihapus dari model agar hasil pengukuran lebih akurat dan stabil (Haryono, 2. Uji discriminant validity bertujuan untuk memastikan bahwa suatu konstruk memiliki perbedaan yang jelas dengan konstruk lainnya dalam model penelitian. Pengujian dilakukan Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. menggunakan metode Fornell-Larcker dengan membandingkan nilai akar kuadrat Average Variance Extracted (AVE) pada setiap konstruk terhadap nilai korelasi antar konstruk. Konstruk dinyatakan memenuhi discriminant validity apabila nilai akar kuadrat AVE lebih besar dibandingkan korelasi antar konstruk Selain itu, nilai AVE yang baik harus Ou 0,50, yang menunjukkan bahwa konstruk mampu menjelaskan lebih dari 50% varians Jika nilai AVE tidak memenuhi kriteria, maka indikator dengan nilai loading rendah dapat dieliminasi atau diperbaiki untuk meningkatkan validitas model (Hair et al. Uji composite reliability digunakan untuk mengukur tingkat konsistensi internal indikator dalam suatu konstruk. Pengujian dilakukan dengan melihat nilai Composite Reliability dan CronbachAos Alpha. Suatu konstruk dinyatakan reliabel apabila memiliki nilai Composite Reliability Ou 0,70 dan nilai CronbachAos Alpha Ou 0,60. Nilai Composite Reliability antara 0,60Ae0,70 masih dapat diterima pada penelitian yang bersifat Apabila nilai reliabilitas berada di bawah batas minimum, maka indikator yang memiliki nilai korelasi rendah akan dievaluasi dan dapat dihapus agar konstruk memiliki tingkat konsistensi yang lebih baik (Hair et al. Metode Analisis Data Model Struktural (Inner Mode. Ada dua jenis regresi dalam evaluasi model struktural: regresi pada tingkat R2, regresi pada tingkat f2, dan regresi pada akar ketiga konvergensi untuk koefisien jalur. Saat menurunkan level R2. Anda akan memiliki rentang nilai dari 0 hingga 1. (Hair et al. , 2. dalam bukunya dengan jelas menyatakan bahwa kategori substansi adalah 0,75, sedang pada 0,50, dan ringan pada 0,25. Level f2 digunakan untuk menilai R2. Untuk melakukan regresi level f2, koefisien regresi yang dapat digunakan adalah nilai-nilai 0,02, 0,15, dan 0,35, yang masingmasing sesuai dengan koefisien regresi kecil, sedang, dan besar dari variabel independen ke variabel dependen. (Hair et al. , 2. Pengujian Hipotesis Untuk menguji sebuah hipotesis, seseorang harus menguji signifikansi dari setiap jalur variabel acak. Analisis signifikansi varians antara variabel menggunakan SEM-PLS dilakukan dengan menggunakan tabel bobot dalam. Dalam analisis regresi dua sisi, hipotesis dapat ditolak Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora jika t-statistik . kurang dari 1,96 atau jika pvalue kurang dari tingkat signifikansi () sebesar Uji F (Simulta. Menurut (Ghozali, 2. Uji statistik F digunakan untuk menentukan apakah setiap variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi memiliki pengaruh yang simultan dan saling terkait terhadap setiap variabel Berikut adalah apa yang dikatakan oleh Ho:b1 = 0. Tidak ada perbedaan yang signifikan H1:b1 O0. Terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel dependen terhadap variabel dependen. Jika F hitung > F tabel dengan tingkat signifikansi 95% atau tingkat probabilitas kurang dari 0,05, maka Ho ditolak dan H1 Terdapat perbedaan yang positif dan signifikan antara rata-rata dan variabel Jika F Hinge > F Table atau Probabilitas > 0,05, maka Ho dianggap dan H1 ditolak. Sebagai hasilnya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata dan varians. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Usaha Karakteristik responden berdasarkan jenis usaha digunakan untuk mengetahui klasifikasi Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. skala usaha pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi objek Pengelompokan jenis usaha dalam penelitian ini mengacu pada kategori UMKM berdasarkan skala usaha, karena setiap kategori memiliki karakteristik, kemampuan pengelolaan keuangan, serta tingkat pemahaman akuntansi yang berbeda-beda. Dengan demikian, klasifikasi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dan kemampuan pelaku usaha dalam menyusun laporan keuangan. Tabel 1. Karakterteristik responden berdasarkan jenis usaha Keterangan Jumlah Persentase Mikro Kecil Menengah Total Sumber: Diolah, 2026 Tabel tersebut 1, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berasal dari usaha mikro . %), diikuti oleh usaha kecil . %) dan usaha menengah . %). Tabel 2, menunjukan bahwa Mayoritas responden berasal dari Kota Ternate, dengan 63% dari total responden, menunjukkan bahwa kota ini sangat terwakili dalam survei. Kota Tidore Kepulauan juga memiliki jumlah responden yang signifikan dengan 14%. Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Lokasi Usaha Keterangan Jumlah Kota Ternate Kota Tidore Kepulauan Kabupaten Halmahera Barat Kabupaten Halmahera Tengah Kabupaten Halmahera Timur Kabupaten Halmahera Selatan Kabupaten Halmahera Utara Kabupaten Kepulauan Sula Kabupaten Pulau Morotai Total Sumber: Diolah, 2026 Uji Measurement (Outer Mode. Analisis outer model dilakukan melalui beberapa pengujian, yaitu convergent validity, discriminant validity, dan internal consistency. Berikut ini adalah Outer Model sebelum dan sesudah uji indikator. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa model penelitian memiliki kemampuan penjelasan yang cukup baik, dengan indikatorindikator yang valid dalam mengukur variabel Persentase laten, serta hubungan antar variabel yang bersifat positif dan relevan dalam menjelaskan variabel Pengujian Convergent Validity Pengujian covergent validity dapat dilihat dari loading factor untuk tiap indikator konstruk. Nilai loading factor > 0,7 adalah nilai ideal. Dalam penelitian empiris, nilai loading factor > 0,5 masih Bahkan, sebagian ahli menerima 0,4. Gambar 1. Outer Model Berdasarkan outer loadings (Tabel . , dapat disimpulkan bahwa model pengukuran ini memiliki kualitas yang baik. Indikator-indikator tersebut valid dan reliabel dalam mengukur variabel laten masing-masing, yang berarti model ini dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut dengan keyakinan bahwa variabel latennya diukur dengan tepat. Tabel 3. Pengujian Convergent Validity Variabel Indikator Outer Loadings Pemahaman X1. Akuntansi (X. X1. X1. X1. Pengujian Discriminant Validity Evaluasi kedua pada analisis outer model adalah discriminant validity. Discriminant validity dievaluasi dengan menggunakan fornell-larcker yang merupakan pengembangan dari evaluasi cross loading. Fornell-Larcker Criterion memiliki prinsip dengan membandingkan nilai dari akar AVE tiap variabel dengan korelasi yang melibatkan variabel yang bersangkutan dengan variabel yang lainnya di dalam model. Sistem Pengendalian Intern (X. X1. X1. X2. X2. X2. X2. X2. X2. Kualitas Laporan Keuangan (Y) Sumber: Diolah, 2026 Tabel 4. Fornell-Larcker Criterion Variabel Pemahaman Akuntansi Sistem Pengendalian Intern Kualitas Laporan Keuangan Sumber: Diolah, 2026 Korelasi antara variabel laten (X1. X2, dan Y) cukup tinggi, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel-variabel ini. Namun, validitas diskriminan tetap terjaga karena nilai diagonal lebih besar dari korelasi ini. Hal ini menunjukkan bahwa variabel laten tersebut mampu mengukur konstruk mereka masingmasing secara efektif tanpa banyak tumpang tindih dengan konstruk lain. Uji Model Struktural (Inner Mode. Pada evaluasi model struktural memiliki beberapa langkah, pengukuran R Square, pengukuran F Square. Secara keseluruhan, model ini menunjukkan bahwa X1 dan X2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Y, serta indikator-indikator yang digunakan dalam model ini secara signifikan mengukur variabel latennya masing-masing. Gambar 2. Inner Model Pengujian Coefficients of Determination (RSquar. Evaluasi pada inner model dilihat dari nilai R-Square atau koefisien determinasi. Dalam mengukur level R2, akan memiliki rentang nilai 0 Tabel 5. Nilai R-Square Variabel Kualitas Laporan Keuangan Sumber: Diolah, 2026 R-square Meskipun model ini menjelaskan lebih dari setengah variabilitas dalam Kualitas Laporan Keuangan, ada 46. 7% variabilitas yang belum Ini menunjukkan bahwa ada faktorfaktor lain yang mungkin mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan yang belum dimasukkan dalam Faktor-faktor tersebut bisa berupa aspek lain dari pengelolaan keuangan, regulasi eksternal, kondisi ekonomi, atau variabel lainnya yang belum diteliti. Pengujian f2 Effect Size Level f2 digunakan untuk mengevaluasi R2. Dalam melakukan pengukuran dari level f2, pedoman yang dapat digunakan adalah nilai-nilai dari 0,02, 0,15, dan 0,35, massing-masing mewakili efek kecil, sedang, dan besar dari variabel independen ke variabel laten (Joseph F Hair et al. , 2. Tabel 6. f Square Pemahaman Akuntansi Square Sistem Pengendalian Intern Variabel Sumber: Diolah, 2026 Hasil pengujian F Square menunjukkan bahwa variabel Pemahaman Akuntansi memiliki efek sedang terhadap variabel dependen yang diukur dalam model. Dengan kata lain, kontribusi Pemahaman Akuntansi dalam menjelaskan variabilitas pada variabel dependen cukup signifikan, tetapi tidak dominan. Pemahaman Akuntansi (X. memiliki efek sedang terhadap variabel dependen, dengan nilai fA sebesar 0. Ini menunjukkan bahwa Pemahaman Akuntansi adalah faktor penting dalam model, meskipun efeknya tidak sebesar Sistem Pengendalian Intern. Nilai ini menunjukkan bahwa variabel Sistem Pengendalian Intern memiliki efek besar terhadap variabel dependen yang diukur dalam model. Ini berarti bahwa Sistem Pengendalian Intern memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam menjelaskan variabilitas pada variabel dependen, dan merupakan prediktor yang kuat dalam model. Sistem Pengendalian Intern (X. memiliki efek besar terhadap variabel dependen, dengan nilai fA sebesar 0. Ini menunjukkan bahwa Sistem Pengendalian Intern adalah prediktor yang sangat kuat dan signifikan dalam model, memberikan kontribusi besar dalam menjelaskan variabilitas variabel dependen. Estimate For Path Coefficients Koefisien . ath merupakan suatu nilai yang berguna dalam menunjukkan arah hubungan pada variabel, apakah suatu hipotesis memiliki arah yang positif atau negatif. Path coefficients memiliki nilai yang berada di rentang -1 sampai dengan 1. Jika nilai berada pada rentang 0 sampai dengan 1 maka dapat dinyatakan positif, sedangkan jika nilai berada pada rentang -1 sampai dengan 0 maka dapat dinyatakan negatif. Tabel 6. Estimate For Path Coefficient Original Sample Variabel sample (O) mean (M) X1 Ie Y X2 Ie Y Sumber: Diolah, 2026 Hasil pengujian dengan menggunakan hasil bootstrapping dapat dapat dijelaskan sebagai Nilai Pemahaman Akuntansi (X. terhadap Kualitas Laporan Keuangan (Y) adalah sebesar 0. dan P-value 0. ebih kecil dari =5%). Hal Pemahaman Akuntansi berpengaruh positif signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Berdasarkan hasil ini. Hipotesis pertama yang Pemahaman Akuntansi berpengaruh terhadap Kualitas Laporan Keuangan, dapat diterima (H2 diterim. Nilai koefisien pengaruh Sistem Pengendalian Intern (X. terhadap Kualitas Laporan Keuangan (Y) adalah sebesar 0. dan P-value 0. 000, dengan koefisien sebesar 446 dan P-value 0. ebih kecil dari =5%). Ini menunjukkan bahwa Sistem Pengendalian Intern berpengaruh positif Tabel 7. Hasil Uji Simultan Model Sum square Total Error Regression Sumber: Diolah, 2026 Standard (STDEV) T statistics (|O/STDEVI) P values Kualitas Laporan Keuangan. Berdasarkan hasil ini. Hipotesis pertama yang menyatakan Pemahaman Akuntansi berpengaruh terhadap Kualitas Laporan Keuangan, dapat diterima (H2 Secara independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan, tetapi Sistem Pengendalian Intern memiliki efek yang lebih besar dibandingkan dengan Pemahaman Akuntansi. Uji F (Uji Simulta. Uji F bertujuan untuk mencari apakah variabel independen secara bersama Ae sama . mempengaruhi variabel dependen. Uji F dilakukan untuk melihat pengaruh dari seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Mean square Model signifikan,dengan nilai F-statistic sebesar 48. dan P-value 0. 000, kita menolak hipotesis nol dan menyimpulkan bahwa variabel independen dalam model secara kolektif memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Dalam hal ini, hasil uji simultan menunjukkan bahwa model regresi memiliki kekuatan prediktif yang signifikan dan kedua variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Pembahasan Pengaruh Pemahaman Akuntansi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Stewardship yang menjelaskan bahwa seorang pengelola atau pemimpin organisasi pada dasarnya memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk bertindak demi kepentingan organisasi dibandingkan kepentingan pribadi. Teori Stewardship keberhasilan organisasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan steward atau pengelola dalam mengelola sumber daya secara efektif, termasuk dalam pengelolaan keuangan dan penyusunan laporan keuangan. Dalam konteks UMKM, pemahaman akuntansi menjadi salah satu bentuk kompetensi yang mendukung pengelola dalam menjalankan fungsi pertanggungjawaban secara transparan dan akuntabel. Pengelola yang memiliki pemahaman akuntansi yang baik cenderung lebih mampu menyusun laporan keuangan yang sesuai standar, sehingga informasi keuangan yang dihasilkan dapat dipercaya dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan demikian, teori Stewardship memberikan dasar teoritis bahwa kualitas laporan keuangan Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora dipengaruhi oleh kemampuan dan tanggung jawab pengelola dalam mengelola informasi keuangan organisasi. Pemahaman kemampuan individu dalam memahami konsep, prinsip, standar, dan prosedur akuntansi yang berlaku, mulai dari proses pencatatan transaksi hingga penyusunan laporan keuangan. Dalam penelitian ini, kualitas laporan keuangan diartikan sebagai kemampuan laporan keuangan dalam menyajikan informasi yang relevan, andal, dapat dibandingkan, dan mudah dipahami. Relevansi menunjukkan bahwa informasi keuangan mampu memberikan manfaat bagi pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. Keandalan berarti informasi yang disajikan bebas dari kesalahan material dan dapat dipercaya. Transparansi diartikan sebagai keterbukaan dalam menyampaikan informasi keuangan secara jujur dan lengkap kepada pihak-pihak yang Sementara itu, laporan keuangan yang dapat dibandingkan memungkinkan pengguna untuk mengevaluasi kinerja usaha dari waktu ke waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan. Artinya, semakin tinggi tingkat pemahaman akuntansi yang dimiliki oleh pelaku UMKM atau penyusun laporan keuangan, maka semakin baik pula kualitas laporan keuangan yang dihasilkan. Pengaruh tersebut dapat dijelaskan karena individu yang memiliki pemahaman akuntansi yang baik akan lebih mampu menyusun laporan keuangan sesuai standar yang berlaku, mencatat meminimalkan kesalahan pencatatan, serta transparan dan akuntabel. Sebaliknya, rendahnya pemahaman akuntansi dapat menyebabkan kesalahan pencatatan, ketidaksesuaian dengan standar akuntansi, serta menurunkan tingkat keandalan laporan keuangan yang dihasilkan. Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Stewardship yang menjelaskan bahwa seorang pengelola atau pemimpin organisasi memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk dibandingkan kepentingan pribadi. Dalam teori Stewardship, pengelola dipandang sebagai pihak yang memiliki motivasi intrinsik untuk menjaga keberlangsungan organisasi melalui pengelolaan sumber daya yang efektif, termasuk dalam penerapan sistem pengendalian intern. Sistem Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. pengendalian intern menjadi salah satu mekanisme penting yang digunakan untuk memastikan bahwa proses pengelolaan keuangan berjalan sesuai prosedur, terhindar dari kesalahan maupun kecurangan, serta mampu menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas. Dengan pengendalian intern yang efektif mencerminkan bentuk tanggung jawab seorang steward dalam menjaga akuntabilitas dan keberlangsungan organisasi (Natalia, 2. Menurut Nazara . , penerapan sistem pengendalian intern yang baik mencerminkan tanggung jawab moral dan profesional pengelola dalam menjaga sumber daya organisasi. Pengendalian intern yang efektif memungkinkan pengelola untuk memastikan bahwa laporan keuangan disusun secara jujur, transparan, dan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Dalam penelitian ini, transparansi diartikan sebagai keterbukaan dalam penyajian informasi keuangan sehingga dapat diketahui dan dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Selain itu, relevansi menunjukkan bahwa informasi keuangan yang disajikan mampu memberikan manfaat dalam proses pengambilan keputusan, sedangkan keandalan berarti informasi keuangan yang dihasilkan bebas dari kesalahan material dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, sistem pengendalian intern tidak hanya berfungsi sebagai alat pengawasan teknis, tetapi juga sebagai bagian dari mekanisme tata kelola yang baik . ood governanc. yang mencerminkan prinsip akuntabilitas dan transparansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengendalian intern berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan. Artinya, semakin baik penerapan sistem pengendalian intern pada UMKM, maka semakin baik pula kualitas laporan keuangan yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena sistem pengendalian intern membantu pelaku usaha dalam mencatat transaksi secara lebih tertib, mengurangi kesalahan pencatatan, mencegah terjadinya penyimpangan, serta meningkatkan ketepatan informasi keuangan yang disajikan. Dengan adanya pengendalian yang baik, laporan keuangan dapat disusun secara lebih dipertanggungjawabkan kepada pihak internal maupun eksternal. Namun demikian, penelitian ini memiliki Penelitian hanya memfokuskan pada variabel sistem pengendalian intern terhadap kualitas laporan keuangan, sehingga belum mempertimbangkan faktor lain yang kemungkinan turut memengaruhi kualitas laporan keuangan, seperti kondisi ekonomi usaha. Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora regulasi pemerintah, tingkat penggunaan teknologi informasi, serta pemanfaatan aplikasi akuntansi digital. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel-variabel tersebut agar hasil penelitian menjadi lebih komprehensif dan mampu menjelaskan faktor-faktor lain yang memengaruhi kualitas laporan keuangan UMKM. Selain itu, penelitian ini menggunakan data yang diperoleh melalui kuesioner sehingga terdapat kemungkinan bias persepsi responden dalam memberikan jawaban. Hasil penelitian juga hanya menggambarkan kondisi UMKM di Provinsi Maluku Utara sehingga tingkat generalisasi hasil penelitian ke wilayah lain masih terbatas. Keterbatasan lainnya adalah jumlah responden dan waktu penelitian yang relatif terbatas sehingga hasil penelitian perlu dipahami sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang telah Berdasarkan hasil penelitian, diperlukan upaya yang lebih konkret dalam meningkatkan penerapan sistem pengendalian intern pada UMKM. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui program pelatihan dan pendampingan berbasis kompetensi yang Program tersebut dapat meliputi pelatihan pencatatan transaksi, pengelolaan dokumen keuangan, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, penggunaan aplikasi akuntansi digital, serta pengawasan internal sederhana yang dapat diterapkan pada UMKM. Selain itu, efektivitas program dapat diukur melalui evaluasi berkala terhadap kemampuan pelaku usaha sebelum dan kompetensi dan kualitas laporan keuangan dapat diketahui secara lebih jelas dan terukur. Pengaruh Pemahaman Akuntansi dan Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kulaitas Laporan Keuangan Kualitas laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang menyajikan informasi keuangan yang berguna bagi pihakpihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan (Bahri, 2. Laporan keuangan yang berkualitas harus memenuhi karakteristik relevan, andal, dapat dibandingkan, dan mudah informasi yang akurat mengenai kondisi keuangan suatu usaha. Relevansi menunjukkan bahwa informasi keuangan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, sedangkan keandalan berarti informasi yang disajikan bebas dari kesalahan material dan dapat dipercaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi dan sistem pengendalian Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. intern berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pada UMKM di Provinsi Maluku Utara. Secara empiris, hasil tersebut menunjukkan bahwa pelaku UMKM yang memiliki kemampuan akuntansi yang lebih baik dan menerapkan pengendalian intern secara konsisten cenderung mampu menghasilkan laporan keuangan yang lebih lengkap, tepat waktu, dan akurat dibandingkan pelaku usaha yang belum menerapkan kedua aspek tersebut secara optimal. Pemahaman membantu pelaku UMKM dalam memahami proses pencatatan transaksi, pengelompokan akun, penyusunan jurnal, hingga penyajian laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro. Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). Pelaku usaha yang memiliki pemahaman akuntansi yang memadai cenderung lebih mampu mengurangi kesalahan pencatatan transaksi, menghindari pencampuran antara keuangan pribadi dan usaha, serta menyusun laporan keuangan secara sistematis dan tepat waktu. Sebagai contoh, beberapa UMKM yang telah menerapkan pencatatan transaksi harian secara rutin mampu mengetahui jumlah arus kas masuk dan keluar, laba usaha, serta posisi keuangan secara lebih jelas. Hal tersebut membantu pelaku usaha dalam mengontrol pengeluaran dan mematuhi standar penyusunan laporan keuangan yang berlaku. Selain itu, pemahaman akuntansi juga membantu pelaku UMKM dalam menyusun laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, dan pencatatan persediaan secara lebih tertib. UMKM yang memahami prinsip dasar akuntansi cenderung lebih sedikit mengalami kesalahan dalam pencatatan transaksi maupun perhitungan laba usaha dibandingkan UMKM yang belum memiliki kemampuan akuntansi yang baik. Dengan demikian, kualitas laporan keuangan menjadi lebih andal dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan usaha maupun Di sisi lain, sistem pengendalian intern memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan. Pengendalian intern yang efektif dapat dilakukan melalui beberapa mekanisme, seperti pemisahan tugas dalam pengelolaan keuangan, pengawasan berlapis terhadap transaksi, pemeriksaan dokumen keuangan secara berkala, serta penggunaan teknologi atau aplikasi pencatatan keuangan Pemisahan tugas, misalnya antara pihak yang menerima kas dan pihak yang mencatat transaksi, dapat mengurangi risiko kesalahan dan Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora penyalahgunaan keuangan. Pengawasan berlapis juga membantu memastikan bahwa setiap transaksi telah dicatat sesuai prosedur yang Penggunaan teknologi pencatatan keuangan digital menjadi salah satu bentuk pengendalian intern yang cukup berpengaruh pada UMKM. Beberapa UMKM yang menggunakan aplikasi pencatatan keuangan digital menunjukkan peningkatan kualitas laporan keuangan karena proses pencatatan menjadi lebih cepat, rapi, dan mudah dipantau. Selain itu, dokumen transaksi dapat tersimpan dengan lebih aman dan memudahkan proses pemeriksaan keuangan. Sebagai contoh, terdapat UMKM di sektor perdagangan yang sebelumnya masih melakukan pencatatan manual dan sering mengalami kehilangan bukti transaksi, namun setelah menggunakan aplikasi pencatatan digital dan menerapkan pengawasan sederhana, kualitas laporan keuangan menjadi lebih tertib dan akurat. Secara empiris, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa UMKM yang telah mengikuti pelatihan akuntansi dan menerapkan sistem pengendalian intern sederhana mengalami peningkatan kualitas laporan keuangan, terutama dalam aspek ketepatan pencatatan, kelengkapan dokumen transaksi, dan keteraturan penyusunan laporan keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi dan sistem pengendalian intern merupakan dua faktor yang saling mendukung dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan UMKM. Semakin baik kemampuan akuntansi dan sistem pengendalian yang diterapkan, maka semakin baik pula kualitas informasi keuangan yang dihasilkan sehingga pengembangan usaha. IV. PENUTUP Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut: Pemahaman Akuntansi (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan pada UMKM di Provinsi Maluku Utara. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin baik pemahaman akuntansi yang dimiliki pelaku UMKM, maka semakin baik pula kualitas laporan keuangan yang dihasilkan. Pemahaman akuntansi membantu pelaku usaha dalam mencatat transaksi secara tepat, menyusun laporan keuangan sesuai standar, serta menghasilkan informasi keuangan yang relevan, andal, dan mudah dipahami. Sistem Pengendalian Intern (X. terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Laporan Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. Keuangan pada UMKM di Provinsi Maluku Utara. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan sistem pengendalian intern yang baik, seperti penyimpanan dokumen yang tertib, dan penggunaan teknologi pencatatan keuangan, mampu meningkatkan kualitas laporan keuangan serta meminimalkan kesalahan maupun risiko kecurangan dalam pengelolaan keuangan usaha. Secara simultan, variabel Pemahaman Akuntansi dan Sistem Pengendalian Intern berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan UMKM di Provinsi Maluku Utara. Artinya, kedua variabel tersebut saling mendukung dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan yang lebih akurat, transparan, dan akuntabel. Semakin baik kemampuan akuntansi dan penerapan pengendalian intern yang dimiliki pelaku UMKM, maka semakin baik pula kualitas informasi keuangan yang dihasilkan untuk mendukung pengambilan keputusan usaha. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat memberikan dukungan yang berkelanjutan kepada UMKM melalui program pelatihan akuntansi berbasis kompetensi, pendampingan penyusunan laporan keuangan, serta sosialisasi pentingnya sistem pengendalian intern dalam pengelolaan usaha. Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam pencatatan keuangan UMKM agar pengelolaan keuangan menjadi lebih efektif dan efisien. DAFTAR PUSTAKA