MAHAROT: Journal of Islamic Education Vol. No. 2, 2023 ISSN: 2580-3980 . 2580-3999 . http://ejournal. id/index. php/maharot IMPLEMENTATION OF AL-MIFTAH LIL AoULUM PROGRAM IN LEARNING TO READ KITAB KUNING AT PONDOK PESANTREN NURUL HUDA IMPLEMENTASI PROGRAM AL-MIFTAH LIL AoULUM DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA KITAB KUNING DI PONDOK PESANTREN NURUL HUDA Received 15-12-2023 Revised 25-12-2023 Accepted 29-12-2023 DOI : 10. 28944/maharot. A Hufron1. Abdul Wahid2 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Sumenep 1ahufron2@gmail. com, 2awihasan@gmail. Keywords: al-miftah lil Aoulum. Kata kunci: al-miftah lil Aoulum. Abstract The al-Miftah lil 'Ulum program is a special program or selected group at pondok pesantren Nurul Huda. Pakamban Laok. Pragaan. Sumenep. The purpose of the al miftah program can improve the ability to read kitab kuning of students. This type of research is a qualitative case study whose data collection process is by observation, documentation, and interviews. While the data analysis is interactive analysis by reducing the data, displaying and verifying it then making conclusions. In this study using descriptive qualitative method. Based on the results of observations of teaching teachers and students, it is known that by participating in the al-Miftah lil 'Ulum Program at pondok pesantren Nurul Huda, the ability to read kitab kuning of students increases. From the results of the study, it was concluded that the al-Miftah lil 'Ulum Program was effective and efficient to be implemented at pondok pesantren Nurul Huda. Pakamban Laok. Pragaan. Sumenep in learning kitab kuning. Abstrak Program al-Miftah lil AoUlum merupakan program khusus atau kelompok pilihan di Pondok Pesantren Nurul Huda Desa Pakamban Laok Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep. Tujuan adanya program al miftah dapat meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning santri. Jenis penelitian ini merupakan studi kasus kualitatif yang proses pengumpulan datanya dengan melakukan observasi, dokumentasi, dan Sedangkan analisis datanya bersifat interaktif analisis dengan mereduksi data, menampilkan dan memverifikasinya kemudian membuat kesimpulan. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap guru A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 pengajar dan santri diketahui bahwa dengan mengikuti Program alMiftah lil AoUlum di Pondok Pesantren Nurul Huda, kemampuan membaca kitab kuning santri menjadi meningkat. Dari hasil penelitian, diambil kesimpulan bahwa Program al-Miftah lil AoUlum efektif dan efisien untuk diterapkan di pondok Pesantren Nurul Huda Desa Pakamban Laok Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep dalam pembelajaran kitab kuning. AMAHAROT: Journal of Islamic Education. This work is licensed under CC BY-NC-SA 4. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan dasar dalam pengembangan potensi diri santri atau peserta didik melalui pengajaran dan bimbingan serta pelatihan untuk menjadi manusia dengan sumber daya yang berkualitas, berkompeten serta mampu menghadapi dan berperan dalam persaingan global (Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2. Hal tersebut mengandung makna bahwa negara harus terus melakukan pengembangan dan peningkatan mutu kualitas sebagai sumber daya Dengan adanya pendidikan diharapkan kemampuan dan mutu kehidupan serta martabat manusia menjadi berkembang dan meningkat sebagai upaya dalam mewujudkan tujuan pembangunan Nasional. Pesantren merupakan lembaga pendidikan non formal untuk belajar memahami ajaran Islam dan pembinaan akhlak mulia. Pondok pesantren dipercaya akan mencetak generasi masyarakat yang memiliki akhlak mulia. Pondok pesantren memiliki daya tarik khusus yang menjadikan orang tua atau wali menyerahkan putra-putrinya dalam mendapatkan pendidikan agama Islam. Pendidikan di Pondok pesantren berfokus pada pendidikan agama khususnya pendidikan berkarakter yang diharapkan memiliki sikap terpuji sesuai dengan ajaran yang dibawah Nabi Muhammad SAW. yaitu untuk menyempurnakan akhlak umatnya. Rasulullah Saw. diutus pada umatnya bukan hanya membawa ajaran-ajaran agama saja, melainkan untuk menyempurnakan akhlak Pondok Pesantren memiliki ciri khusus seperti penggunaan kitab kuning atau kitab gundul . itab tanpa haraka. yang menjadi salah satu ciri khusus pondok pesantren, selain adanya kiyai sebagai pengasuh, santri, dan asrama atau pondok sebagai tempat tinggal santri. Materi yang digunakan pada pendidikan pesantren tersusun dalam kitab-kitab klasik dan hasil pemikiran dari ulamaAo-ulamaAo salaf, sehingga tujuan pemahaman terhadap kitab kuning atau kitab klasik akan sulit dan tidak tercapai kecuali dengan menggunakan ilmu alat berupa ilmu nahwu dan sharraf. Maka dari itu A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 menjelaskan bahwa pondok pesantren Nurul Huda Pakamban Laok Pragaan Sumenep membuka Program al-Miftah lil AoUlum yang berafiliasi ke Pondok Sidogiri Pasuruan dan menjadi ranting resmi dari al-Miftah lil AoUlum Sidogiri Pasuruan sejak tanggal 4 November 2021. Ilmu nahwu dan sharraf merupakan mata pelajaran utama yang diajarkan di pesantren selain ilmu fikih dan akhlak serta ilmu-ilmu lainnya, sebab mustahil memahami kitab kuning tanpa ilmu nahwu dan sharaf. Ilmu nahwu memiliki keutamaan sebagaimana tersirat dalam salah satu bait nazham Imrithy no 9 (Syekh Syarafuddin Yahya bin Syekh Badruddin Musa bin Ramadhan bin Umairah, n. ), yaitu: aae e a a Aau a EEaE aI a eOI aN E eI aOA aN aIA a e a Aac a a a A AaOEI e aO eOEO acOUE I aO eE aIA AuAoIlmu nahwu lebih utama diajarkan terlebih dahulu, karena tanpa ilmu nahwu kalam . tidak akan bisa untuk dipahamiAy. Keberhasilan suatu program pembelajaran tergantung pada dua komponen, yaitu guru pendidik atau ustadz dan peserta didik atau santri. Ada tiga hal yang mempunyai dampak signifikan dan positif terhadap efektivitas suatu program pembelajaran yaitu: konteks, isi, dan penyajian materi (Sutisna, 2. Program alMiftah lil AoUlum adalah sebuah program khusus di Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok Pragaan Sumenep yang memberikan cara praktis mempelajari bahasa Arab dan kitab gundul atau kitab Kuning serta membantu dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning dengan menggunakan metode al-Miftah lil AoUlum. Metode ini merupakan panduan dan rangkuman ringkas dan sistematis dari kitab-kitab Nahwu dan Sharaf sebelumnya, yaitu kitab Al-Jurmiyyah. Al-Imriti, dan Alfiyyah Ibnu Malik (Rozi & Zubaidi, 2. Metode al-Miftah lil AoUlum ini tidak memakai istilah baru terkait kaidah nahwu, namun tetap memakai istilah asli sebagaiama sebelumnya dalam kitab ulama-ulamaAo salaf tentang Nahwu dan Sharaf. Materi dalam metode ini berupa ringkasan dan rumus-rumus yang berkaitan dengan kaidah nahwu sharaf sebagai bahan untuk dipelajari dan dikuasai siswa guna meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning (Siswati et al. , 2. Munculnya inovasi dan berkembangnya program pembelajaran seperti program al-Miftah lil AoUlum merupakan fasilitator untuk membantu santri memahami ilmu nahwu dan Sharaf. Metode Al-Miftah lil AoUlum sangat praktis, ringkas, unik dan menarik. A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 ditulis dalam bahasa Indonesia dengan metode yang singkat dan ringkas, disertai rumus dan skema yang menarik dengan berbagai contoh. Penelitian ini dirasa penting untuk membuktikan kemampuan membaca kitab kuning melalui Program Al-Miftah lil AoUlum dalam membantu santri untuk memahami ilmu Nahwu dan Sharaf. Ada sebagian penelitian tentang metode al-Miftah lil AoUlum yang menjadi referensi atau acuan pada penelitian ini. Namun, pada penelitian implementasinya untuk memudahkan dalam pembacaan kitab kuning. pada penelitian ini fokus penelitiannya adalah pada kemampuan membaca kitab kuning melalui Program Al-Miftah lil AoUlum (Toha & Wargadinata, 2. , (Rozi & Zubaidi, 2. , (Muzaky & Ishari, 2. Maka penting peneliti melakukan penelitian lebih lanjut mengenai implementasi program Al-Miftah lil AoUlum dalam pembelajaran membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok Pragaan Sumenep. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan . iled researc. dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan kualitatif, karena pada penelitian ini peneliti terjun langsung pada lapangan sesuai dengan masalah yang terjadi di Pondok Pesantren Nurul Huda pada program Al Miftah lil Ulum. Metode ini digunakan untuk mempelajari objek alamiah . atural settin. dan merupakan alat utama bagi peneliti (Sugiyono, 2. Sumber data dalam penelitian ini memiliki ciri khas tersendiri dengan mengutamakan objek untuk menghasilkan informasi yang lebih obyektif. Pada penelitian ini informannya adalah Penanggungjawab, guru pengajar dan pembimbing program alMiftah yang mukim di dalam pondok serta santri aktif yang mengikuti program Al miftah lil Aoulum di pondok pesantren Nurul Huda. Teknik penggalian informasi dan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan snowball sampling, sehingga memungkinkan untuk menambah jumlah informan berdasarkan kebutuhan hingga tersedia data valid dan dipercaya, dan teknik purposive sampling dengan cara memilih informan yang mempunyai pengetahuan mendalam terhadap informasi dan permasalahan yang diteliti serta dianggap dapat dipercaya dan representatif. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut: Kegiatan observasi adalah cara untuk memperoleh informasi mengenai suatu keadaan dengan cara mengamati, mendengarkan apa yang terjadi dan mencatat segala A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 sesuatunya dengan cermat (Arikunto, 2. Peneliti melakukan dengan menggunakan observasi partisipan untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan program almiftah lil Aoulum terhadap kemampuan membaca kitab kuning di Pondok pesantren Nurul Huda Pakamban Laok Pragaan Sumenep. Penelitian ini memakai teknik interview untuk mengumpulkan data sebagai sumber informasi dalam penelitian dengan interview tidak terstruktur. Pendekatan ini digunakan dengan tetap memanfaatkan data utama yaitu mengenai Kemampuan Membaca Kitab Kuning Santri melalui Program Al-Miftah lil AoUlum di Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok Pragaan Sumenep. Interview di sini dilakukan secara langsung . atap muk. dengan informan. HASIL DAN PEMBAHASAN Program Al-Miftah Lil AoUlum Al-Miftah lil AoUlum adalah kitab metode yang praktis, mudah dan cepat membaca kitab yang digagas oleh guru senior Pondok Sidogiri Pasuruan. Termasuk metode pembelajaran yang sangat menarik untuk belajar membaca kitab klasik, kitab gundul atau kitab kuning. Hal itu karena menggunakan penjelasan singkat namun mudah dipahami, penjelasan cara memahami dan menentukan kedudukan . lafazh Arab dan cara menghafal rumus yang dikemas dalam syair bait bahasa indonesia. Program al-Miftah lil AoUlum ranting Sidogiri merupakan sebuah sistem yang rangkaian kegiatannya dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan metode pembelajaran al-Miftah lil AoUlum dengan mengikuti manajemen Pondok Sidogiri. Kitab al-Miftah lil AoUlum terdiri dari empat jilid, setiap jilid disertai rumusrumus yang dikemas dengan lagu-lagu menarik, dan setiap jilidnya memiliki target waktu minimal 25 hari, sehingga keseluruhan jilid dapat terselesaikan dalam waktu 100 hari atau 3 bulan 10 hari. Setelah santri menyelesaikan empat jilid akan ditambah dengan kitab fathul Qarib. Tujuannya agar santri dapat memahami, memhami, dan memaknai kitab dengan lebih baik. Isi kandungan kitab al-Miftah lil AoUlum, yaitu: pertama, jilid I. Jilid satu berisi 50 halaman dan dibagi menjadi dua bab, yaitu: pembagian kalimat dan tanda-tandanya dalam bahasa Arab dan isim-isim murAoab . alimat yang sewaktu-waktu dapat berubah pada harakat akhirny. atau diiAorab dan isim-isim mabni . alimat yang tidak dapat menerima perubaha. Pada jilid 1 disertai dengan bait syair lagu-lagu tentang kaidah nahwu sharaf dalam kitab Nazham pada jilid tiga sebagai cara untuk memudahkan A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 hafalan santri dengan cara dilantunkannya. Sehingga proses belajar dan menghafal menjadi lebih mudah, menarik dan menyenangkan. Kedua, jilid II. Jilid dua berisi 72 halaman dan terdiri dari 3 bab penjelasan: . cara membedakan dan menentukan isim makrifah dan nakirah serta menjelaskn kaidah kedua isim tersebut, . cara membedakan isim mudzakkar dan muannats, dan . Cara membedakan isim jamid dan musytaq. Ketiga, jilid i. Terdapat 68 halaman tentang kalimat fiAoil dan iAorabnya. Pada jilid 3 ini terdiri 5 bab penjelasan: . macam-macam kalimat fiAoil (Madli. MudlariAo dan Am. , . fiAoil mujarrad dan fiAoil Maziid, . fiAoil fiAoil lazim dan mutaAoaddi, . fiAoil mabni maAolum dan mabni majhul, dan . fiAoil binaAo shahih dan binaAo muAotal. Keempat, jilid IV. Jilid empat terdiri 64 halaman dan beirisi dua pembahasan: isim yang dibaca rafaAo . arfuAoatul asmaA. dan Isim yang dibaca nashab . anshubatul asmaA. Kelima. Kitab Nazham. Berisi kumpulan bait Nazham al-Miftah lil AoUlum, yang berkenaan dengan uraian materi dari jilid I sampai dengan jilid IV (Batartama, 2. Untuk mengukur hasil belajar siswa, materi/ kitab al-Miftah lil AoUlum dilengkapi dengan praktek langsung. Praktek ini dilakukan dalam bentuk kutipan kitab Fathul Qarib di setiap akhir pembahasan. Penerapan Program Al-Miftah lil AoUlum di Pondok Pesantren Nurul Huda Strategi program Al-Miftah lil AoUlum di antaranya: . membagi santri menjadi beberapa kelompok kecil untuk menciptakan suasana yang kompetitif dalam memudahkan kegiatan belajar mengajar, . jenjang kelas berdasarkan dengan kemampuan santri dalam menyelesaikan tingkat jilid Al Miftah, dan . takhassus sebagai lanjutan dari santri yang sudah khatam menyelasaikan semua jilid dari kitab Al Miftah. Dalam pembelajaran digunakan system klasikal yang dibagi menjadi kelompokkelompok kecil dengan guru pengajar yang berbeda. Tempat aktivitas belajar tidak terbatas hanya pada ruang kelas, namun dapat juga bertempat di mushala, halaman sekolah, teras pondok, atau di luar kelas di alam sekitar, sehingga tercipta suasana menyenangkan bagi santri serta dapat belajar tanpa merasa jenuh dan bosan (Bruinessen, 2. Santri dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing kelompok beranggotakan 10 orang. Setiap kenaikan jilid, dilakukan tes kecakapan. Santri yang gagal . idak lulus te. dikumpulkan bersama yang tidak lulus juga dalam rangka A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 mengulangi apa yang belum mereka kuasai. Sehingga semua santri dapat menyelesaikan materi dengan sempurna, meskipun ada perbedaan waktu tempuhnya. Sedangkan metode al-Miftah lil AoUlum yaitu, pertama, uraian materi. Penjelasan materi dimulai dari jilid pertama, setelah menguasai semua bab maka dilanjutkan ke jilid berikutnya setelah lulus mengikuti tes kenaikan jilid sampai jilid terakhir . Jika santri dinyatakan tidak lulus tes kenaikan jilid, maka ia harus mengulang satu jilid tersebut sampai benar-benar faham dan menguasainya. Kedua, praktik identifikasi Di setiap jilid kitab al Miftah memiliki beberapa bab. Setelah para santri diberi penjelasan dan pemahaman, mereka hendaknya berlatih mengidentifikasi kalimat yang tertulis di setiap akhir sub-bab pembahasan. Misalnya, di dalam Bab pertama pada bagian kalaam dan tiga bagian komponennya santri telah mampu menentukan dan membedakan antara Isim. Fi'il, dan huruf pada contoh yang tercantum. Apabila santri sudah mampu menentukan dengan benar maka dianggap telah memahami isi materi dan dapat melanjutkan ke materi berikutnya. Ketiga, pertanyaan. Setiap materi yang disampaikan, dilakukan tanya jawab untuk mmembantu guru mengetahui lebih jauh tentang kemampuan daya ingat santri. Keempat, muhafazhah/ hafalan. Para santri menghafal berbagai materi melalui bimbingan kiyai/ustadz dengan menggunakan hafalan sebagai metodenya. Materi yang dihafal bukan hanya kalimat dan nazhaman saja yang perlu dihafal oleh santri, melainkan seluruh materi mulai dari pemahaman hingga rumus umum, termasuk contoh kalimat dan artinya. Kelima, setoran. Para santri wajib menyetorkan hafalannya kepada guru pembimbingnya dengan membawa kartu setoran untuk dinilai dan ditanda tangani oleh guru pembimbingnya. Keenam, demonstrasi. Selama demonstrasi berlangsung, semua santri berkumpul dalam satu ruangan untuk menyelesaikan ujian Selanjutnya salah satu peserta yang dianggap lulus seluruh jilid akan dipanggil untuk mengikuti ujian yang mana ia akan membacakan kitab Fathul Qarib di hadapan teman-temannya. , jika santri tersebut benar-banar sudah faham dan menguasai serta membaca kitab dengan tepat sesuai kaidah nahwu sharaf maka ia sudah layak untuk Kegiatan demonstrasi selain untuk menguji kemampuan membaca santri, juga bertujuan untuk melatih mental siswa agar tidak merasa gugup atau cemas menghadapi ujian kelulusan. Guru menerapkan Metode al-Miftah lil AoUlum dengan mengawali pembelajaran dari materi Jilid 1. Semua yang ada di Jilid 1 dijelaskan secara mendetail. Setelah semua A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 santri memahami, pelajaran dilanjutkan dan ketika sub pokok pembahasan telah berakhir, guru mengajukan pertanyaan dan evaluasi untuk mengetahui apa yang telah dicapai santri. Kegiatan seperti yang dijelaskan di atas terus dilakukan pada setiap jilid-jilid berikutnya, dan diakhiri dengan evaluasi akhir sebagai proses perkembangan kenaikan santri yang tidak memenuhi kriteria kelulusan minimal dipisahkan dari kelompoknya dan harus mengulang materi sampai tuntas. Sedangkan bagi yang lulus tes ujian kenaikan jilid melanjutkan pelajaran pada jilid berikutnya. Pada saat pembelajaran dengan menggunakan metode al-Miftah lil AoUlum. Guru memberi tugas dan meminta santri untuk mempraktekkan isi materi yang disajikan dengan mengenali kalimat-kalimat yang berharakat pada lembar yang diberikan guru. Setelah santri menjawab pertanyaan, guru mengajak seluruh santri membaca bait-bait syair al Miftah yang berkaitan dengan materi secara bersama-sama. Kegiatan tersebut terus berlanjut sampai seluruh jilid selesai, dan pada saat kenaikan jilid, diadakan ujian kecakapan terlebih dahulu untuk menyeleksi hasil belajar yang dicapai santri. Jika gagal dalam ujian, mereka akan dipisahkan dari kelompoknya dan dipertemukan kembali dengan santri lain yang gagal dalam ujian pada tingkat kelasnya masing-masing. Selain itu, santri yang lulus ujian melanjutkan ke jilid berikutnya, dan santri yang gagal dalam ujian akan menerima pelajaran ulang tentang materi yang masih belum mereka pahami. Inilah perbedaannya dengan metode lainnya. Dengan menggunakan sistem seperti itu, santri yang berhasil lulus ujian tetap terus semangat untuk mencoba hal baru yang lebih menantang lagi, dan siswa yang gagal dalam ujian juga akan merasa diperhatikan dan dihormati, sehingga rasa bosannya Karena diberi pembelajaran tersendiri supaya bisa menyelesaikan dan menuntaskan semua materi. Dengan begitu, belajar membaca kitab kuning tidak lagi membosanka dan belajar menjadi menyenangkan, sehingga mampu membaca kitab kuning hanya dalam waktu 5-6 bulan . atu semeste. Keberhasilan implementasi program juga memerlukan persiapan dengan menggunakan metode yang dijelaskan di atas, peningkatan kemampuan membaca kitab kuning di pondok pesantren Nurul Huda Pakamban Laok Pragaan sumenep dapat terwujud dan tercapai sesuai penjelasan guru-guru pembimbing Program al-Miftah lil AoUlum Pondok Pesantren Nurul Huda. A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Pada saat bel berbunyi . anda waktu masuk kegiata. , setiap santri mulai berangkat menuju ke lokasi yang ditentukan untuk mengikuti pengajaran, kemudian membaca nazham al Miftah selama 15 menit hingga ustadz datang pembacaan nazham Ustadz kemudian akan menanyakan beberapa pertanyaan tentang apa yang telah diajarkan untuk membantu santri mengingatnya kembali. Kemudian memberi motivasi agar selalu menyempatkan diri membaca kitab kuning walaupun hanya lima baris dan membaca doa bersama sebelum melanjutkan pemaparan materinya. Tiga tahapan digunakan untuk membagi pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu: kegiatan pendahuluan, inti, dan akhir. Semua santri dihimbau untuk bertawassul membaca surat al Fatihah sebelum membaca Nazham. Sebelum kegiatan pendahuluan dimulai, santri menunggu ustadz atau guru pengajar sambil membaca bait-bait nazhaman sampai guru datang. setelah guru datang pembacaan nazham dihentikan, kemudian guru memberi salam dan memberikan beberapa pertanyaan tentang materi telah diajarkan sebelumnya untuk membantu santri mengingatnya kembali, dan memberikan pertanyaan pemantik untuk melanjutkan materi berikutnya kemudian dilanjutkan dengan kegiatan inti. Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi pelajaran, serta memberikan kesempatan kepada santri untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dipahaminya, dan terakhir adalah kegiatan akhir. Pada kegiatan akhir, guru menanyakan kembali apa yang telah disampaikan sebelumnya dengan tujuan untuk mengingatkan santri tentang materi yang telah diajarkan. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Penerapan Program Al-Miftah lil AoUlum di Pondok Pesantren Nurul Huda Faktor pendukung dalam penerapan program Al-Miftah lil AoUlum di Pondok Pesantren Nurul Huda adalah: . guru pengajar berkualitas dan tepat, karena untuk menerapkan metode al-Miftah lil AoUlum kepada santri diperlukan guru bersertifikat dan menguasai dalam penerapan metode al-Miftah lil AoUlum. Untuk bisa menjadi guru pengajar dengan metode ini, disyaratkan sudah mengikuti Pendidikan dan pelatihan . metode al-Miftah lil AoUlum terlebih dahulu. standar pengajaran dengan metode al-Miftah lil AoUlum guru menguasai materi ajar dan cara penyampaiannya, sehingga dapat memberikan pemahaman dengan benar dan mudah dimengerti oleh . semangat dan kegigihan santri dalam belajar. kedisiplinan santri terhadap A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 jadwal yang ditetapkan oleh Pondok Pesantren dan semangat belajar bersama mendorong kegigihan santri dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sedangkan faktor penghambat dalam penerapan program Al-Miftah lil AoUlum di Pondok Pesantren Nurul Huda yaitu: . kesibukan pendidik dan sebagian pendidik masih aktif sebagai Mahasiswa yang padat dengan tugas kuliah. Hal ini membuat pembelajaran menjadi kurang tepat waktu, namun kendala ini dapat diatasi dengan memberikan waktu tambahan di luar jam yang terjadwal. sarana dan prasarana yang kurang memadai, karena belum tersedianya ruang khusus untuk kegiatan pembelajaran program al-Miftah lil AoUlum sehingga santri dikelompokkan dalam satu Muslala. Suasana ramai, riuh dan bercampur suara-suara bersautan, sehingga hal ini jelas mempengaruhi proses pembelajaran. Namun, hambatan-hambatan tersebut di atas tidak sepenuhnya menghambat proses belajar santri, karena hal tersebut tidak selalu terjadi pada saat kegiatan berlangsung, melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Ada tiga dimensi yang memiliki pengaruh besar terhadap pembelajaran, yaitu dimensi situasi, subtansi, dan penyampaian. Situasi pembelajaran yang efektif tidak hanya terfokus pada kegiatan yang bersifat informing dan instructing, tetapi juga mampu menciptakan suasana pembelajaran yang bersifat entertaining . emberi hibura. sehingga siswa mampu mengeksplorasi manfaat dari setiap materi yang Kemampuan siswa dalam mengkontekstualisasikan setiap materi ajar merupakan efektivitas yang perlu dicapai dalam sudut pandang subtansi (Ubaidillah & RifAoan, 2. SIMPULAN Kemampuan Membaca Kitab Kuning Santri melalui Program Al-Miftah lil AoUlum di Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok Pragaan Sumenep ini terlihat melalui beberapa indikator yang muncul, yaitu: nilai hasil tes santri mencapai target tujuan yang telah ditetapkan, santri memahami dan menguasai serta hafal materi yang telah diajarkan mealui Panduan kitab Al-Miftah lil AoUlum dari jilid 1 sampai dengan 4 dan kemampuan santri daam membaca kitab kuning mengalami peningkatan. Di antara faktor-faktor yang mendukung Kemampuan Membaca Kitab Kuning Santri melalui Program Al-Miftah lil AoUlum di Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok Pragaan Sumenep antara lain: tenaga pengajar yang sesuai dan bersertifikat, bahan ajar yang sederhana dan mudah dipahami, dan penunjang pembelajaran serta A Hufron. Abdul Wahid | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 antusiasme santri. Di sisi lain juga terdapat kendala seperti jadwal guru yang padat serta prasarana dan sarana yang kurang cukup, namun kendala tersebut tidak semuanya mengganggu atau menghambat kegiatan pembelajaran santri karena tidak terjadi setiap saat. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Batartama. Al-Miftah li Al-AoUlum Mudah Belajar Membaca Kitab Kuning. Pustaka