Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 Nilai Sosial dalam Cerita Lisan AuMbah Suto BodoAy di Kabupaten Pati (The Social Value of Spoken Story AuMbah Suto BodoAy at Pati Regenc. Mohammad Kanzunnudin a,1* Universitas Muria. Kudus. Indonesia kanzunnudin@umk. *Corresponding Author Article info ABSTRACT Article history: Received: 22-09-2021 Revised : 11-10-2021 Accepted: 07-11-2021 This study aimed to analyze the narrative structure and social values contained in the oral story of Mbah Suto Bodo. The research design is qualitative with analytical methods based on Axel Olrix's theory. The analysis results show that Mbah Sutro Bodo's oral story prioritizes the narrative structure to build the A narrative structure in Mbah Suto Bodo's oral story is interrelated and does not stand alone. The social values in Mbah Suto Bodo's story include values: devotion, help, kinship, caring, discipline, empathy, tolerance, and cooperation. Mbah Suto Bodo's story can be an alternative learning material, especially Indonesian language subjects. Keywords: folklore Mbah Suto Bodo narrative structure social values Tujuan penelitian ini untuk menganalisis struktur naratif dan nilainilai sosial yang terdapat dalam cerita lisan Mbah Suto Bodo. Adapun ancangan penelitiannya kualitatif dengan metode analisis berdasarkan teori Axel Olrix. Hasil analisis menunjukkan bahwa cerita lisan Mbah Sutro Bodo mengutamakan struktur naratif untuk membangun jalannya cerita. Keberadaan struktur naratif dalam cerita lisan Mbah Suto Bodo saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri. Adapun nilai sosial dalam cerita Mbah Suto Bodo mencakupi nilai: pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, kepedulian, disiplin, empati, toleransi, dan kerja sama. Cerita Mbah Suto Bodo dapat menjadi alternatif materi pembelajaran, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Copyright A 2021 Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon. All rights reserved. PENDAHULUAN Kota Pati sebagai salah satu wilayah Pesisir Timur Jawa Tengah, memiliki banyak cerita lisan. Sebagaimana pada umumnya, kota pesisir banyak menghasilkan cerita rakyat. Masyarakat pesisir secara kebudayaan menghasilkan banyak cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang (Hartitom. Simatupang, & Ganap, 2. Masyarakat persisir merupakan masyarakat yang berada dalam dimensi tradisi kecil (Fama, 2. Adapun ciri khusus tradisi kecil berupa memiliki cerita rakyat dengan berbagai jenis, yakni: dongeng, pepatah, parikan . , dan seloka. Cerita rakyat sebagai karya masyarakat tradisi kecil berkaitan dengan hal-hal di sekelilingnya. Cerita rakyat memiliki kaitan yang sangat erat dengan keadaan, alam lingkungan, dan kebiasaan-kebiasaan atau Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 tradisi pemilik cerita rakyat yang bersangkutan. Cerita rakyat sangat berhubungan dengan identitas lokal (Yetti, 2. Cerita rakyat sebagai budaya yang dihasilkan oleh masyarakat tradisi kecil memiliki berbagai karakteristik. Ciri-ciri cerita rakyat, meliputi: . disebarkan dan diwariskan secara lisan, . bersifat tradisional, . sangat bervariasi, . anonim, . mempunyai bentuk berpola, . memiliki manfaat, . bersifat pralogis, dan . sebagai milik bersama Sudikan . Adapun jenis cerita rakyat terdiri atas . erbal folklor. , sebagian lisan . artly verbal folklor. , dan bukan lisan . overbal folklor. (Yektiningtyas, 2. Penelitian ini menganalisis cerita rakyat berbentuk lisan . erbal Folklor. berjudul AuMbah Suto BodoAy yang berasal dari Kabupaten Pati Jawa Tengah. Nilai sosial yang terkandung dalam cerita ini akan dianalisis struktur naratifnya berdasarkan teori Axel Olrix . alam Sudikan, 2. Interptretasi secara keseluruhan terhadap karya sastra tidak dapat dilakukan tanpa pemahaman bagian-bagiannya atau membongkar strukturnya (Teeuw, 2. Dengan pemahaman atas bagian-bagian atau struktur yang membangun, maka karya sastra dapat dipahami secara keseluruahan. Struktur naratif model Axel Olrix terdiri atas hukum-hukum . pembukaan dan penutup, cerita tidak dimulai secara tiba-tiba. pengulangan, suatu adegan yang diulang berkali-kali untuk memberikan penekanan cerita. tiga kali, suatu tokoh cerita berhasil melaksanakan tugas setelah mencoba tiga kali. dua tokoh dalam satu adegan, dalam satu adegan cerita hanya dua tokoh yang diperkenalkan untuk menampilkan diri secara bersamaan. keadaan berlawanan, tokoh dalam cerita rakyat memiliki sifat yang berlawanan. anak kembar, saudara kembar sekandung atau dua orang yang menampilkan diri dalam peran yang sama. pentingnya tokoh yang keluar pertama dan terakhir. adanya satu pokok cerita dalam suatu cerita. bentuk berpola cerita rakyat. penggunaan adegan . logika legenda, cerita rakyat memiliki logika sendiri. kesatupaduan rencana cerita. pemusatan pada tokoh utama dalam cerita rakyat (Qomariyah, 2. Analisis nilai sosial bertumpu pada pendapat Sauri . yang menyatakan bahwa nilai sosial terdiri atas . kasih sayang yang diwujudkan dalam ukuran pengabdian, tolong-menolong, kekeluargaan, dan kepedulian. tanggung jawab yang diaktualisasikan dalam bentuk disiplin dan empati. keserasian hidup dinyatakan dengan bentuk keadilan, tolerensi, dan kerja sama. Nilai sosial tersebut jika dirangkum menjadi . pengabdian, . tolong menolong, . kekeluargaan, . kepedulian, . disiplin, . empati, . keadilan, . toleransi, dan . kerja Kesembilan nilai tersebut yang dijadikan pijakan peneliti untuk menganalisis nilai-nilai sosial yang terdapat dalam cerita AuMbah Suto BodoAy. Pemilihan topik penelitian didasari beberapa pertimbangan. Pertama, reseptif masyarakat Pati terhadap eksistensi cerita AuMbah Suto BodoAy sangat baik. Hal ini ditunjukkan salah satu nama tokoh cerita, yakni Pragola dijadikan nama pasar swalayan di Pati. Kedua, topik ini belum diteliti oleh penelitian. Ada penelitian yang terkait dengan cerita AuMbah Suto BodoAy, tetapi berbeda Kanzunnudin . menganalisis cerita AuMbah Suto BodoAy berdasarkan struktur, nilai, dan fungsi dengan menggunakan pendekatan struktur menggunakan teori Vladimir Propp. Yetti . menganalisis struktur naratif cerita AuTongtongeAy dari Sumbawa dengan menggunakan pendekatan struktur Axel Olrix. Hal ini menunjukkan ada kesamaan penggunaan teori untuk menganalisis Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 struktur, tetapi berbeda objek. Kanzunnudin & Irfai Fathurohman . , melakukan penelitian tentang struktur naratif dan fungsi cerita Kyai Telingsing dari Kudus. Analisis struktur menggunakan teori Axel Olrix. Akan tetapi, objek penelitian berbeda dan tidak mengkaji nilai-nilai sosial. Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut, menunjukkan bahwa cerita lisan AuMbah Suton BodoAy belum pernah diteliti dengan sudut pandang analisis struktur dengan teorinya Axel Olrif dan nilai-nilai sosial. METODE Ancangan pepenelitian ini penelitian kualitatif. Penelitian kualitattif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Adapun data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka (Satori & Aan Komariah, 2. Penelitian kualitatif sebagai penelitian yang berkaitan dengan orientasi interpretatif (Cresswell, 2. Sumber data penelitian ini, yakni tokoh masyarakat, guru, dan praktisi yang mengetahui dan memahami cerita Mbah Suto Budo. Adapun data berupa transkripsi cerita Mbah Suto Bodo yang dianalisis berdasarkan penggalan cerita atau kisah. Teknik pengumpulan data cerita Mbah Suto Bodo diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, perekaman, pencatatan, pemotretan, dan sedangkan dalam keabsahan data, peneliti menggunakan trianggulasi narasumber, waktu, dan Teknik. Metode analisis yang digunakan, yakni teori struktur naratif Axel Olrix. Analisis struktur naratif ini untuk melandasi analisis nilai sosial yang terkandung dalam cerita Mbah Suto Bodo. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut alur cerita AuMbah Suto BudoAy. Kadipaten Pati membangun sibuk membangun bendungan, irigasi, jalan, pertanian, dan pemukiman, untutk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Adipati Pati. Adipati Jayakusuma karena sibuk mengawasi jalannya pembangunan Kadipaten Pati, maka ia tidak bisa menghadiri pertemuan di kerajaan Mataram tanpa kabar dan tanpa wakil. Kerajaan mataram bertanya-tanya, mengapa kadipaten pati tidak hadir pertemuan di Mataram tanpa izin dan tanpa mengirim perwakilan. Kerajaan Mataram mengirim mata-mata untuk mengamati Kadipaten Pati. Setelah mengamati Kadipaten Pati secara diam-diam, sang mata-mata melaporkan kepada Panembahan Senopati Mataram, bahwa Kadipaten Pati sedang membangun benteng pertahanan di seluruh wilayahnya. Untuk membuktikan laporan mata-mata yang telah dikirim, maka Panemba Senopati memimpin pasukan kerajaan berangkat ke Kadipaten Pati. Pasukan Mataram dengan perlengkapan dan kesiagaan perang dengan dipimpin oleh Panembahan Senopati mendirikian perkemahan di perbatasan kadipaten Pati. Masyarakat yang mengetahui kedatangan pasukan perang Mataram dengan ketakutan melaporkan kepada Patih Pragola. Patih Pragola setelah menerima laporan dari masyarakat, kemudian melakukan musyawarah dengan para pembesar dan para punggawa. Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 membahas perkembangan Kadipaten Pati dan dan kedatangan pasukan Mataram. Patih Pragola menemui Panembahan Senopati melaporkan tentang apa yang sedang dilakukan oleh Kadipaten Pati dan mengapa Adipati Jayakusuma tidak bisa menghadiri pertemuan di Mataram. Ketika Patih Pragola melaporkan dengan sebenarnya tentang apa yang dilakukan Kadipaten Pati, terjadi kesalahpahaman dengan Panembahan Senopati. Panembahan Senopati dan pasukan mataram mengganggap bahwa Kadipaten Pati telah berani menentang Mataram. Terjadi perdebatan antara pasukan Mataram dengan Patih Pragola hingga meruncing dan melahirkan api peperangan antara Mataram dengan Kadipaten Pati. Kadipaten Pati kalah dalam pertempuran melawan Mataram. Karena pasukan Kadipaten Pati tidak sebanding dengan pasukan Mataram dari sisi jumlah pasukan maupun peralatan perang. Patih Pragola dan Adipati Jayakusuma gugur dalam pertempurana melawan Mataram. Kadipaten Pati kocar-kacir. Pasukannya sebagian tertangkap pasukan Mataram dan sebagian melarikan diri. Kaum perempuan dan anak-anak di Istana Pati kebingungan. Mereka tidak mau menjadi tawanan perang pasukan Mataram. Mereka tidak mau diboyong ke Mataram dengan nasib tidak menentu. Akhirnya mereka ramai-ramai mengambil keris di Gudang. Kemudian secara bersamaan menusukan keris ke tubuh masing-masing hingga meninggal . uduk sarir. Di tengah keributan di Istana Pati, ada seorang perempuan tua bernama Nyai Sutawanengraga berhasil meloloskan diri. Ia melarikan diri sambil menggendong seorang bayi ahli waris Kadipaten Pati. Dalam pelariannya. Nyai Sutawanengara dengan bayi yang digendongnya, sampai di gua Blenderan di lembah gunung Muria. Gua tempat bertapa atau bersemedi Patih Pragola. Nyai Sutawanengraga dengan bayi pewaris Kadipaten Pati hidup menyepi di gua Blenderan. Ia tidak berani hidup berkumpul dengan masyarakat karena khawatir ditangkap oleh mata-mata dari Mataram. Nyai Sutawanengraga dan bayi pewaris Kadipaten Pati hidup seadanya. Dalam perjalanan waktu, akhirnya Nyai Sutawanengraga meninggal. Sebelum meninggal, ia berpesan kepada bayi pewaris Kadipaten Pati yang sudah tumbuh menjadi anak-anak, agar menjadi anak atau orang yang suka membantu dan menolong orang lain. Anak pewaris Kadipaten Pati, tumbuh anak tidak seperti anak pada Ia mengembara tidak tentu arah. Jika lapar, ia makan buahbuahan dan sayur sayuran. Ia hanya dapat berbahasa Jawa ngoko atau kasar. Jika bertemu dengan orang dan ditanya Namanya, ia mengatakan AuSutaAy. mengambil nama depan pengasuhnya, yakni Nyai Sutawnengraga. Orang-orang memanggilnya AuSuta BodoAy atau Suta yang bodoh karena tidak bisa menceritakan asal usulnya dan tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik. Setiap orang yang bertemu dengan Suto Bodo merasa heran dan kagum. Mereka melihat mata Suto Bodo memancarkan kecerahan dan kekuatan. Oleh sebab itu, setiap orang yang bertemu Suto Bodo selalu memberi Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 Mereka berpendapat bahwa Suto Bodo merupakan anak ahli waris Kadipaten Pati selamat dari perang besar dengan Mataram. Suto Bodo terus mengembara berpindah-pindah tempat. Masyarakat menaruh hormat dan membantu Suto Bodo. Mereka memberi pakaian dan makanan kepada Suto Bodo. Setelah tua. Suto Bodo menjadi pertapa sakti di daerah Jepara. Ia terkenal dengan sebutan Mbah Suto Bodo. Ia memiliki berbagai kesaktian dan Ia suka membantu masyarakat yang mengalami kesulitan. Jika ada orang yang sakit maupun tertimpa musibah, maka ia membantu mengobati dan mengatasi sehingga masyarakat terbebas dari kesulitan. Struktur Naratif Axel Olrix Berpijak pada alur cerita tersebut, maka hukum Axel Olrix dalam cerita Mbah Suto Bodo dapat djelaskan. Hukum Pembukaan dan Penutupan Hukum ini ditunjukkan oleh kisah awal mula terjadi perang antara Mataram melawan Kadipaten Pati (Sugiri, 2. Dimulai dari kecurigaan Panembahan Senopati terhadap aktivitas Kadipaten Pati yang sedang membangun bendungan, pertanian, irigasi, jalan, pertanian, dan pemukiman, tetapi dilaporkan oleh matamata Mataram sedang membangun benteng kadipaten. Bermula dari sebuah kecurigaan dan ketidakpercayaan terhadap kenyataan yang sebenarnya, maka melahirkan peperangan antara Mataram melawan kadipaten Pati. Peristiwa tersebut menggerakan alur cerita Mbah Suto Bodo. Mengenai bagian penutupan, ditunjukkan tokoh Suto Bodo yang sakti dan memiliki berbagai kepandaian yang suka menolong orang lain. Suto Bodo yang sakti dan mempunyai berbagai kepandaian yang selalu membantu dan menolong masyarakat dikenal dengan sebutan Mbah Suto Bodo. AuSetelah tua. Suto Bodo menjadi pertapa yang sakti di daerah Jepara. Ia terkenal dengan panggilan Mbah Suto Bodo. Ia memiliki berbagai kepandaian dan kesaktian. Ia selalu membantu dan menolong masyarakat yang mengalami berbagai kesulitan. Misalnya, ada orang yang terserang wabah penyakit berat, fitnah, dan tertimpa berbagai maka Mbah Suto Bodo menolongnya hingga sembuh dan yang tertimpa musibah terselesaikanAy. Hukum pengulangan Hukum pengulangan ditunjukkan oleh perjalanan pengembaraan Suto atau Mbah Suto Bodo (Pramulia, 2. Setelah Nyai Sutawanengrogo meninggal, maka Suto mengembara dengan pindah-pindah tempat. Dalam pengembaraan inilah terus diulang perihal pertemuanya dengan berbagai orang. Pertemuan dengan berbagai orang tersebut menandaskan bahwa Suto bukan anak biasa atau bukan anak sembrangan. Bukan anak orang biasa atau orang kebanyakan maksudnya bahwa Suto adalah anak keturunan adipati. Adegan dalam kisah yang diulang-ulang berfungsi memberikan penekanan tentang keberadaan Suto atau Mbah Suto Bodo yang masih keturunan Adipati Pati. Oleh sebab itu, orang yang bertemu dengan Suto merasa kagum. Hal itu dikarenakan wajah Suto memancarkan keteduhan dan matanya memancar sinar cerah serta kekuatan. Hukum Tiga Kali Hukum tokoh cerita akan berhasil dalam menjalankan tugasnya apabila telah mencoba selama tiga kali (Lestari, 2. , tidak ada atau tidak berlaku dalam Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 cerita Mbah Suto Bodo. Hal ini disebabkan tokoh Suto bukan sebagai tokoh yang sedang mengemban atau melaksanakan tugas. Ia bukan tokoh prajurit atau perwira yang diutus untuk melaksanakan tugas atau misi. Hukum Dua Tokoh dalam Satu Adegan Hukum tersebut berlaku dalam cerita Mbah Suto Bodo. Pada adegan pertama, yakni pada pembukaan cerita dikenalkan dua tokoh. Kedua tokoh yang dikenalkan pada awal kisah, yakni tokoh Panembahan Senopati Mataram dan seorang mata-mata Mataram. Dikisahkan pada awal cerita. Ayjika Panembahan Senopati tidak terbakar hatinya oleh laporan mata-mata Mataram. Dalam laporannya menyatakan bahwa Kadipaten Pati sedang membangun benteng pertahanan di seluruh wilayahnya, maka perang besar dapat dihindarkan. Ay Adegan tersebut merupakan pembuka kisah-kisah cerita Mbah Suto Bodo (Lestari, 2. Hukum Berlawanan Dalam cerita Mbah Suto Bodo sejak awal sudah dimunculkan hukum Hukum berlawanan diperlihatkan oleh sikap Panembahan Senopati Mataram maupun mata-mata Mataram. Panembahan Senopati tidak mempercayai laporan yang disampaikan Patih Pragola bahwa Kadipaten Pati tidak membangun benteng pertahanan, tetapi membangun bendungan, irigrasi, pertanian, pemukiman, dan jalan. Begitu juga, laporan mata-mata Mataram dalam laporannya sangat berlawanan dengan kenyataan. Mata-mata Mataram melaporkan kepada Panembahan Senopati bahwa Kadipaten Pati telah membangun benteng pertahanan. Padahal hal yang sebenarnya. Kadipaten Pati membangun bendungan, irigrasi, pertanian, pemukiman, dan jalan. Berawal dari hukum berlawanan ini memunculkan berbagai konflik dalam cerita Mbah Suto Bodo (Lestari, 2. Hukum Anak Kembar Hukum anak kembar tidak berlaku dalam cerita Mbah Suto Bodo. Dalam cerita Mbah tidak ada tokoh kembar. Dalam cerita Mbah Suto Bodo, juga tidak ditemukan dua tokoh yang memiliki sifat, tindakan, dan tugas yang sama sebagaimana seorang kakak dan adik atau sebagaimana saudara kembar. Hukum Pentingnya Tokoh-tokoh yang Keluar Pertama dan yang Keluar Terakhir Tokoh pertama yang keluar dalam cerita Mbah Suto Bodo, yakni Panembahan Senopati Mataram. Panembahan Senopati, tokoh yang keluar pertama berfungsi sebagai pembuka cerita sekaligus tokoh sentral yang menentukan terjadi peperang antara pasukan Mataram melawan Kadipaten Pati (Pramulia, 2. Sebagai tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik dalam cerita Mbah Suto Bodo. Bermula dari tokoh yang keluar pertama, melahirkan rangkaian konflik yang menarik dalam cerita Mbah Suto Bodo. Mengenai tokoh yang keluar terakhir, yakni Suto atau yang terkenal dengan sebutan Mbah Suto Bodo. Mbah Suto Bodo sebagai tokoh keluar terakhir sekaligus merupakan tokoh penutup cerita. Tokoh ini merupakan tokoh utama sejak kehancuran Kadipaten Pati karena diserang pasukan Mataram. Mbah Suto Bodo sebagai anak keturunan utama Kadipaten Pati yang masih bayi. Ketika terjadi perang besar antara Mataram dengan Kadipaten Pati. Mbah Suto Bodo diselamatkan oleh Nyai Sutawanengrogo. Sejak itu. Mbah Suto Bodo hidupnya dalam pengembaraan hingga menjadi pertapa sakti yang memiliki berbagai kepandaian serta suka menolong orang lain yang sedang mengalami kesulitan maupun musibah. Oleh sebab itu, keberadaan Mbah Suto Bodo merupakan tokoh Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 utama sekaligus sebagai tokoh yang keluar terakhir serta berperan sebagai penutup cerita (Hastuti, 2. Hukum ada Satu Pokok Cerita dalam Suatu Cerita Cerita rakyat AuMbah Suto BodoAy, ternyata membicarakan satu pokok cerita. Satu pokok cerita tentang kisah keberadaan Mbah Suto Bodo sejak lahir hingga menjadi pertapa sakti yang memiliki berbagai kepandaian serta suka membantu dan menolong orang lain. Ketika terjadi peperangan antara pasukan Mataram yang dimpin oleh Panembahan Senopati melawan pasukan Kadipaten Pati yang dipimpin oleh Adipati Pati. Jayakusuma dan Patih Pragola. Mbah Suto Bodo masih bayi. Dalam peperangan tersebut. Adipati Jayakusuma dan Patih Pragola meninggal hingga Kadipaten Pati kalah. Kekalahan Kadipaten Pati menjadikan situasi kocar-kacir. Pasukan Kadipaten Pati ada yang tertangkap dan ada yang melarikan diri. Keadaan di dalam kadipaten tidak menentu. Terutama dialami kaum perempuan yang tidak mau menjadi tawanan dan rampasan. Para perempuan berlarian masuk ke gudang senjata dan mengambil keris serta menusukkan ke tubuhnya atau membunuh diri sendiri . uduk sarir. Hanya Nyai Sutawanengrogo yang tidak ikut suduk sarira. Hal ini dilakukan bukan bermaksud hendak berkianat dengan teman-temannya, tetapi karena ingin menyelamatkan putra Adipati Jayakusuma. Nyai Sutawanengrogo berharap bayi kelak bisa menggantikan ayahnya, yaitu Adipati Jayakusuma jika situasi Kadipaten Pati sudah aman. Nyai Sutawanengrogo secepat kilat mengambil bayi Adipati Jayakusuma. Kemudian dibawa lari dengan secepatnya dari Kadipaten Pati. Ia menjauh dari para prajurit Mataram agar tidak tertangkap. Nyai Sutowanengrogo dengan menggendong bayi, terus berlari melewati berbagai desa, persawahan, semak belukar, hutan, hingga akhir tiba di Gua Blenderan di lembah Gunung Muria. Gua yang dahulu sebagai tempat untuk bertapa Patih Pragola untuk memperoleh berbagai kesaktian. Setelah Nyai Sutawanengrogo meninggal. Mbah Suto Bodo mulai mengembara sebagai tokoh utama yang menggerakkan alur hingga akhir cerita. Meskipun sebenarnya alur cerita sejak peperangan antara Mataram melawan Kadipaten Pati, sudah dimulai oleh kehadiran Mbah Suto Bodo. Ketika itu Mbah Suto Bodo masih bayi yang diselamatkan oleh Nyai Sutawanengrogo. Hal tersebut menunjukkan bahwa cerita pokok dalam cerita Mbah Suto Bodo terpusat pada keberadaan Mbah Suto Bodo seorang sebagai keturunan Adipati Jayakusuma. Adipati Pati. Oleh sebab itu, dapat dinyatakan bahwa dalam cerita Mbah Suto Bodo terdapat satu pokok cerita (Lestari, 2. Hukum Bentuk Berpola dalam Cerita Rakyat Hukum bentuk berpola dalam cerita rakyat dari Olrix berlaku dalam cerita Mbah Suto Budo. Bermula dari dikenalkan siapa sebenarnya Mbah Suto Budo, mengapa hidupnya sampai terlunta-lunta dan berakhir dengan bahagia . appy Pola sebab dengan Kadipaten Pati kalah perang melawan Mataram, maka mengakibatkan Mbah Suto Bodo sebagai putra Adipati Pati, dilarikan dan diselamatkan oleh Nyai Sutawanengrogo dari amukan dan tangkapan pasukan Mataram. Sejak peristiwa tersebut. Mbah Suto Budo hidup dalam pelarian hingga tidak menentu nasibnya. Apalagi setelah Nyai Sutawanengrogo meninggal, hidup Mbah Suto Budo semakin tidak menentu. Ia mengembara tidak tentu arah dan tidak tentu tujuan. Akan tetapi, akhirnya Mbah Suto Bodo dapat menemukan jati dirinya sebagai seorang pertapa yang sangat sakti dan memiliki berbagai Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 Mbah Suto Bodo suka menolong orang lain atau masyarakat yang terlanda penyakit hingga sembuh maupun orang yang tertimpa musibah hingga Oleh sebab itu, masyarakat sangat menghormati dan mencintai Mbah Suto Budo. Hal ini menunjukkan keadaan yang sangat membahagiakan bagi Mbah Suto Bodo maupun masyarakat. Mbah Suto Bodo bahagia karena hidupnya memberikan manfaat kepada orang lain dan masyarakat sekitarnya. Adapun masyarakat merasa bahagia karena ada tokoh yang bisa dijadikan panutan atau teladan dan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan sehingga kehidupan masyarakat menjadi tenang. Kisah tersebut menunjukkan bahwa pola cerita Mbah Suto Budo bermula dari perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan tanjakan yang berliku atau Masalah terselesaikan dengan cara Mbah Suto Budo menemukan jati diri dan berbuat kebaikan kepada orang banyak atau masyarakat. Oleh sebab itu, jika diringkas, pola cerita Mbah Suto Bodo, meliputi: perkenalan-penanjakanpenyelesaikan-happy ending. Pola cerita yang umum berlaku dalam cerita lisan atau cerita rakyat (Retno M, 2. Hukum Penggunaan Adegan Tablo Adegan puncak kisah cerita Mbah Suto Bodo ditunjukkan oleh capaian tokoh Mbah Suto Bodo menjadi pertapa sakti dan menolong masyarakat dalam mengatasi berbagai kesulitan dan musibah. Capaian adegan puncak tersebut secara implisit memberikan gambaran tentang kehadiran dan keberadaan Mbah Suto Bodo bermanfaat bagi orang lain atau masyarakat (Afriadi, 2. Keberadaan Mbah Suto Bodo diakui dan rasakan oleh masyarakat. Hukum Logika Legenda Cerita rakyat memiliki logikanya sendiri. Logika yang tidak sama dengan logika ilmu pengetahuan dan biasanya lebih bersifat animisme, percaya terhadap mukzizat, ataupun ilmu gaib (Lestari, 2. Hukum ini berlaku dalam cerita Mbah Suto Bodo. Hal ini ditunjukkan oleh tokoh utama, yakni Mbah Suto Bodo yang sejak kecil telah memiliki kekuatan sebagai keturunan Adipati Jayakusuma. Semakin dipertegas bahwa hukum logika legenda berlaku dalam kisah Mbah Suto Bodo, yakni pada akhir cerita dikisahkan bahwa Mbah Suto Bodo menjadi pertapa sakti dan memiliki kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit dan mengatasi berbagai musibah yang menimpa masyarakat. Hukum Kesatupaduan Rencana Cerita Meskipun cerita Mbah Suto Bodu dibuka dengan peperangan antara Mataram melawan Kadipaten Pati, tetapi latar peristiwa justru dimulai dari kisah Mbah Suto Bodo. Kepaduan cerita ditunjukkan ketika Mbah Suto Budo masih bayi diselamatkan oleh Nyai Sutawanengrogo sehingga tidak ditangkap pasukan Mataram. Sejak itu, kisah Mbah Suto Bodo mengalir hingga akhir cerita. Mbah Suto Bodo menjadi pertapa yang sakti dan memiliki berbagai kepandaian dan suka membantu serta menolong orang atau masyarakat yang mengalami kesulitan dan Hal ini membuktikan adanya kesatupaduan cerita dalam kisah Mbah Suto Bodo sehingga alur cerita mengalir lancar dan tertuju pada satu tokoh utama, yaitu Mbah Suto Bodo. Hukum Pemusatan pada Tokoh Utama Hukum tersebut sangat jelas dalam cerita Mbah Suto Bodo. Sejak awal cerita hingga sampai akhir cerita mengisahkan tokoh utama, yakni Mbah Suto Bodo. Cerita dipenuhi oleh perjalanan hidup tokoh utama atau Mbah Suto Bodo dengan berbagai permasalahan. Cerita mengisahkan tokoh utama sejak bayi Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 hingga menjadi pertapa sakti dan memiliki berbagai kepandaian serta suka membantu dan menolong orang atau masyarakat yang dilanda kesulitan dan Berdasarkan hasil analisis struktur naratif model Olrix, hanya dua hukum yang tidak terdapat dalam cerita Mbah Suto Bodo, yakni hukum tiga kali dan hukum anak kembar. Hal ini menunjukkan bahwa cerita lisan Mbah Sutro Bodo mengutamakan struktur naratif untuk membangun jalannya cerita. Keberadaan struktur naratif dalam cerita lisan Mbah Suto Bodo saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri. Dengan demikian jalinan hukum-hukum struktur naratif model Olrix dalam cerita lisan Mbah Suto Bodo sangat kuat. Keterkaitan antarhukum struktur naratif tersebut selaras dengan pernyataan Firziandini. Haryanto, & Ilham, . , struktur merupakan unsur-unsur yang saling berkaitan . antara bagain yang satu dengan bagian yang lainnya. Apabila struktur naratif berdiri sendiri maka tidak memiliki makna. Nilai Sosial Berikut pembahasan terkait nilai sosial yang terkandung pada cerita Mbah Suto Bodo. Seperti telah diketahui bersama bahwa nilai sosial dapat diketahui melalu berbagai peristiwa yang merangkai kejadian pada sebuah cerita. Namun demikian, penokohan dan latar juga dapat menunjukkan nilai sosial sebuah karya Nilai Pengabdian Nilai sosial berbentuk pengabdian sebagai refleksi rasa cinta untuk mengabdi kepada pihak lain atau pada diri sendiri (Nurgiyantoro, 2. Nilai sosial ini ditunjukkan oleh sikap dan tindakan Patih Pragola yang mengabdi secara total pada Kadipaten Pati. Patih Pragola rela mengorban diri atau nyawa dalam mempertahankan Kadipaten Pati. Hal ini terjadi pada saat peperangan melawan Mataram. Begitu juga. Patih Pragola dengan gagah berani menghadapi Panembahan Senopati. Patih Pragola melaporkan berbagai hal yang dilakukan oleh Kadipaten Pati meskipun harus berhadapan dengan Panembahan Senopati dan pasukan Mataram yang bersiap untuk perang. Nilai pengabdian juga ditunjukkan melalui tindakan Adipati Pati. Jayakusuma, dan Patih Pragola, dalam mempertahan Kadipaten Pati ketika diserang pasukan Mataram. Keduanya bertempur melawan pasukan Mataram yang jumlah berlipat ganda dibadingkan dengan pasukan Kadipaten Pati. Keduanya tidak takut dan terus melawan meskipun akhirnya Adipati Jayakusuma dan Patih Pragola meninggal. Nilai Tolong Menolong Manusia sebagai makhluk sosial, tidak bisa hidup dengan mengasingkan Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kesadaran untuk saling menolong. Meskipun tidak saling mengenal, seseoramg harus menolong orang lain yang mengalami kesulitan atau musibah. Tindakan menolong orang dapat menghadirkan kepuasan dan kebahagian yang luar biasa (Bashori, 2. Nilai sosial tolong menolong ditunjukkan oleh Nyai Sutawanengrogo ketika menyelamatkan seorang bayi keturunan Adipati Jayakusuma, yakni Mbah Suto Bodo dari pasukan Mataram yang menyerang Kadipaten Pati. Dengan pertolongan Nyai Sutawanengrogo, maka Mbah Suto Bodo selamat dan tidak ditangkap pasukan mataram. Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 Nilai tolong-menolong juga diperlihatkan melalui tindakan Mbah Suto Bodo yang suka membantu dan menolong orang lain atau masyarakat yang mengalami kesulitan dan tertimpa musibah. Mbah Suto Bodo menjadi pertapa yang sakti di daerah Jepara. terkenal dengan panggilan Mbah Suto Bodo. Ia memiliki berbagai kesaktian dan kepandaian. Ia sering membantu dan menolong mnasyarakat yang mengalami kesulitan. Misalnya, ada orang yang terserang wabah penyakit berat, fitnah dan terimpa musibah. Mbah Suto Bodo dating membantu hingga yang sakit sembuh dan yang tertimpa musibah terselesaikan. Sikap dan tindakan masyarakat juga mewujudkan nilai sosial tolongmenolong. Hal ini diaktualisasikan ketika Mbah Suta Bodo masih kecil dan masih mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Mbah Suto Bodo selalu berpindah-pindah tempat. Ia terus Setiap langkahnya selalu mendapat perhatian dari Bahkan banyak masyarakat membantu dirinya. Ada yang memberi makanan, pakaian, bahkan ada yang membuatkan obatobatan Nilai Kekeluargaan Nilai kekeluargaan bisa bersifat dalam keluarga sendiri maupun keluarga orang lain. Nilai kekeluargaan dalam keluarga sendiri lebih mudah diwujudkan. Berbeda dengan nilai kekeluargan pada keluarga lain di luar keluarga sendiri yang umumnya menemukan kesulitan. Nilai kekeluargaan mengantarkan seseorang dapat merasakan kedamaian dan kebahagiaan (Saputra. Rukajat, & Herdiana. Nilai sosial kekeluargaan dalam cerita Mbah Suto Bodo dilukiskan melalui tindakan Nyai Sutawanengrogo yang menyelamatkan Mbah Suto Bodo ketika masih bayi. Hal itu merupakan nilai kekeluarga yang sangat tinggi dan terpuji. Tindakan Nyai Sutawanengrogo sebagai nilai kekeluargaan di luar keluarga Nilai sosial kekeluargaan juga diditunjukkan oleh sikap dan tindakan masyarakat terhadap Mbah Suto Bodo. Ketika Mbah Suto Bodo masih mengembara dan berpindah-pindah tempat, masyarakat mengembangkan nilai kekeluargaan dengan baik. Banyak anggota masyarakat yang membantu Mbah Suto Bodo dengan cara memberi pakaian, makanan, dan obat-obatan. Nilai Kepedulian Kepedulian merupakan sebuah sikap keberpihakan untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar (Saraswati. Bramasta, & Eka, 2. Nilai sosial ini direalisasi oleh sikap dan tindakan masyarakat yang menaruh perhatian dan hormat kepada Mbah Suto Bodo yang melakukan pengembaraan. Beranjak dari rasa kepedulian tersebut, maka masyarakat tergerak untuk membantu Mbah Suto Bodo dengan memberi makanan, pakaian, dan obat-obatan. Dalam cerita dikisahkan bahwa orang-orang atau masyarakat yang bertemu dengan Mbah Suto Bodo menaruh hormat. Tindakan masyarakat yang menaruh hormat dan memberi bantuan kepada Mbah Suto Bodo dalam bentuk makanan, pakaian, dan obat-obatan merupakan perwujudan rasa keberpihakan yang terpuji. Nilai Disiplin Disiplin dalam bahasan ini merupakan cara mengajarkan kepada manusia mengenai moral yang dapat diterima kelompok (Saetban, 2. Hal ini bertujuan Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 untuk memberitahukan dan menanamkan pengertian dalam diri seseorang perihal mana perilaku yang baik dan yang buruk. Dalam konteks disiplin memiliki tiga unsur penting, yakni hukum atau peraturan yang berfungsi sebagai pedoman sangsi atau hukuman bagi pelanggaran peraturan. dan hadiah untuk usaha atau perilaku yang baik dan positif. Nilai sosial berupa disiplin dalam cerita Mbah Suto Bodo ditunjukkan oleh tindakan Patih Pragola. Ia mematuhi hasil musyawarah para pembesar dan punggawa Kadipaten Pati. Meskipun Patih Pragola sudah di kepung pasukan Mataram pimpinan Panembahan Senopati, tetapi ia tidak takut. Ia tetap melaporkan apa yang sedang dibangun di Kadipaten Pati kepada Panembahan Senopati. Nilai Empati Empati sebagai kemampuan diri dalam merasakan perasaan orang lain tanpa harus terbawa atau larut (Andayani, 2. Empati juga dapat dinyatakan sebagai kemampuan diri dalam menanggapi atau merespons keinginan orang lain meskipun tidak diucapkan. Rasa empati merupakan kunci untuk meningkatkan intensitas dan kedalaman hubungan antarmanusia. Oleh sebab itu, jika semua manusia memiliki rasa empati, tidak akan muncul rasa kebencian dan perilaku Nilai empati dikisahkan melalui sikap dan tindakan masyarakat yang menghormati dan membantu Mbah Suto Bodo. Masyarakat melihat Mbah Suto Bodo mengembara seorang diri dan berpindah-pindah tempat serta tidak tentu Melihat hal tersebut, masyarakat memberi pakaian, makanan, dan obatobatan kepada Mbah Suto Bodo. Tindakan masyarakat membantu Mbah Suto Bodo tersebut dilandasi rasa empati setelah keadaan Mbah Suto Bodo sebagai bocah atau anak sebatang kara dan tidak mempunyai apa-apa dalam Masyarakat dapat merasakan betapa menderitanya Mbah Suto Bodo yang hidup dalam pengembaraan seorang diri dan tidak memiliki apa-apa. Oleh sebab itu, tindakan masyarakat tersebut merupakan perwujudan dari nilai Nilai Keadilan Keadilan merupakan pembagian atau pemberian hak yang sama kepada orang-orang atau kelompok dengan kedudukan atau status yang sama (Nasution. Keadilan dapat juga dinyatakan sebagai pemberian hak yang seimbang dengan kewajiban. Nafas keadilan harus ada dalam berbagai lingkup kehidupan, baik negara, masyarakat, dan keluarga. Nilai keadilan ini berlaku terbalik dalam cerita Mbah Suto Bodo. Dalam cerita Mbah Suto Bodo muncul ketidakadilan ketika Panembahan Senopati dari Mataram tidak mendengarkan dan menerima laporan Patih Pragola tentang apa yang sebenarnya sedang dibangun oleh Kadipaten Pati. Tanpa pertimbangan yang bijak. Panembahan Senopati dengan pasukan Mataram yang sangat banyak dan kuat menyerang Kadipaten Pati. Tindakan Mataram menyerang Kadipaten Pati menunjukkan tindakan sewenangwenang dan jauh dari nilai keadilan. Nilai ketidakadilan juga dialami oleh Mbah Suto Bodo. Sebagai keturunan atau ahli waris Kadipaten Pati. Mbah Suto Bodo seharusnya mendapatkan perlakuan sebagaimana layaknya keluarga Adipati pada Akan tetapi. Mbah Suto Bodo hidupnya terlunta-lunta dalam pengembaraan hingga ditolong oleh masyarakat. Setelah Kadipaten Pati kalah perang melawan Mataram. Mbah Suto Bodo menjalani hidup dalam Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 Nilai Toleransi Toleransi adalah kemampuan menahan diri dan bersikap sabar dalam menghadapi sikap individu yang berbeda-beda, baik pandangan maupun perilaku (Kofia. Yusuf, & Abbas, 2. , agama, suku, budaya, dan sosial. Nilai toleransi dalam cerita Mbah Suto Bodo ditunjukkan oleh sikap masyarakat terhadap Mbah Suto Bodo. Meskipun Mbah Suto Bodo sebagai pengembara yang tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki tujuan, tetapi masyarakat menghormati dan bahkan membantu dengan cara memberi makanan, pakaian, dan obat-obatan. Dalam konteks ini memperlihatkan bahwa walaupun kelas sosialnya berbeda, yakni orang tidak memiliki apa-apa, tetapi masyarakat bersikap dan berlaku baik serta menghormati Mbah Suto Bodo. Nilai toleransi juga ditunjukkan ketika Mbah Suto Bodo telah menjadi seorang pertapa sakti dan memiliki berbagai kepandaian yang tetap menghormati masyarakat sekitar. Rasa toleransi diwujudkan dalam tindakan nyata dengan menolong dan membantu mengatasi berbagai kesulitan dan musibah yang menimpa masyarakat sekitar hingga terselesaikan. Nilai Kerja Sama Nilai kerja sama sebagai bentuk usaha bersama antara orang perorang atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau berbagai tujuan bersama. Bentuk kerja sama dapat berkembang apabila orang atau kelompok orang digerakkan bersama-sama berdasarkan kesadaran untuk mencapai tujuan yang dapat memberikan nilai manfaat bersama. Nilai sosial kerja sama dalam cerita ditunjukkan melalui kisah bahwa Patih Pragola, para pembesar, punggawa, dan rakyat Kadipaten Pati. bersama-sama bersatu padu membangun Pati dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kadipaten Pati. Nilai kerja sama juga diwujudkan melalui musyawarah yang dilakukan oleh Patih Pragola, para pembesar, dan punggawa Kadipaten Pati. Dalam membangun Kadipaten Pati selalu dilakukan musyawarah sehingga tujuan yang yang diharapkan, yakni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kadipaten Pati dapat berjalan dengan baik dan lancar. Berpijak pada hasil analisis terhadap nilai sosial, cerita Mbah Suto Bodo memiliki 8 nilai sosial, yakni nilai sosial . pengabdian, . tolong menolong, . kekeluargaan, . kepedulian, . disiplin, . empati, . toleransi, dan . kerja Hanya nilai sosial berupa keadilan yang tidak terdapat dalam cerita Mbah Suto Bodo. Hal ini membuktikan bahwa cerita lisan Mbah Suto Bodo mempunyai nilai sosial yang sangat kuat. Sebagaimana karya sastra modern, cerita lisan Mbah Suto Bodo merupakan karya sastra yang memiliki manfaat bagi pembaca atau Sebagaimana diungkapkan Horatius . alam Wellek & Warren, 2. , bahwa karya sastra mengandung nilai dulce atau Aonikmat/indahAo dan utile atau Aobermanfaat/bergunaAo. Karya sastra harus memberikan aspek kenikmatan atau keindahan melalui isi maupun struktur naratifnya. Keindahan atau kenikmatan diungkapkan oleh kandungan nilai-nilai sosial yang sangat kuat dalam cerita Mbah Suto Bodo. Keindahan dalam aspek bentuk, diperlihatkan melalui unsur struktur naratif kisah Mbah Suto Bodo yang saling berkaitan atau berhubungan antara struktur naratif yang satu dengan lainnya. Hal ini membentuk satu kesatuan cerita yang menarik. Perihal nilai manfaat dalam cerita Mbah Suto Bodo, ditunjukkan oleh pelajaran yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial. Nilai-nilai sosial yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari bagi manusia pada umumnya. Mohammad Kanzunnudin (Nilai Sosial dalam A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2021, 152 Ae 166 Nilai-nilai sosial yang sangat kuat dalam cerita Mbah Suto Bodo memberikan pelajaran yang positif dan konstruktif. Apabila seseorang atau anggota masyarakat memiliki nilai-nilai sosial sebagaimana yang terkandung dalam cerita Mbah Suto Bodo, tentu akan mengantarkan tercapainya keselarasan Cerita rakyat mempunyai nilai manfaat yang berkaitan dengan keselarasan sosial (Purwadi, 2. Muatan nilai-nilai sosial yang kuat dalam kisah cerita Mbah Suto Bodo menunjukkan bahwa cerita lisan atau cerita rakyat merupakan cerminan sosial masyarakat (McDowell, 2. SIMPULAN Berdasarkan analisis struktur naratif dengan menggunakan teori Axel Olrix, struktur naratif cerita lisan Mbah Suto Bodo terdiri atas hukum . pembukaan dan penutup, . pengulangan, . dua tokoh dalam satu adegan, . keadaan berlawanan, . pentingnya tokoh . okoh-toko. yang keluar pertama dan terakhir. adanya satu pokok cerita dalam suatu cerita. bentuk berpola cerita rakyat. penggunaan adegan tablo. logika legenda, . kesatupaduan rencana dan . pemusatan pada tokoh utama dalam cerita rakyat. Hal ini menunjukkan bahwa cerita lisan Mbah Suto Bodo mempunyai struktur naratif yang padat dan kuat. Kekuatan struktur naratif tersebut memperlancar kisah cerita Mbah Suto Bodo. Oleh sebab itu, cerita lisan Mbah Suto Bodo merupakan cerita rakyat yang menarik untuk analisis. Adapun nilai sosial yang terdapat dalam cerita Mbah Suto Bodo, meliputi nilai: . pengabdian, . tolong-menolong, . kekeluargaan, . kepedulian, . disiplin, . empati, . toleransi, dan . kerja Nilai-nilai sosial tersebut membuktikan bahwa cerita Mbah Suto Bodo sebagai cerita rakyat yang mencermin keberadaan nilai yang ada dan hidup di tengah masyarakat. DAFTAR PUSTAKA