Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Agensi Digital Generasi Z dalam Transformasi Narasi Sejarah: Studi Kebudayaan Pelestarian Cagar Budaya di Kota Metro Lampung Dita Yoga Pengestu. Elis Setiawati. Kian Amboro* Universitas Muhammadiyah Metro. Lampung. Indonesia *kianamboro@ummetro. Abstract Cultural heritage preservation in the digital era faces the challenge of relevance to the younger generation, who tend to have different interaction patterns with conventional historical narratives. This study aims to analyze Gen Z's digital agency in transforming historical narratives and their strategies in maintaining the sustainability of cultural heritage preservation through a public history approach. The method used was a qualitative narrative inquiry approach in Metro City. Lampung, focusing on five primary cultural heritage sites. Data were collected through in-depth interviews with ten purposively selected key informants from heritage communities, participant observation, and documentation of digital content. The results show that Gen Z demonstrates strong agency in deconstructing formal historical narratives into more personal and visual creative content on social media. The conceptual novelty of this study lies in the identification of a "hybrid agency" that successfully bridges static institutional memory into inclusive connective memory. Their participation is not merely a consumption trend but a form of activism that integrates online advocacy with physical conservation actions on the ground. This study contributes to an adaptive youth engagement model that aligns historical values with digital aesthetics as a sustainable cultural heritage preservation Keywords: Digital Agency. Generation Z. Cultural Heritage. Public History Abstrak Pelestarian cagar budaya di era digital menghadapi tantangan relevansi di mata generasi muda yang cenderung memiliki pola interaksi berbeda dengan narasi sejarah Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis agensi digital Gen Z dalam transformasi narasi sejarah dan strategi mereka dalam menjaga keberlanjutan pelestarian cagar budaya melalui pendekatan sejarah publik. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan narrative inquiry di Kota Metro. Lampung, dengan fokus pada lima objek cagar budaya utama. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh informan yang merupakan penggerak komunitas yang dipilih secara purposive, observasi partisipatif, dan dokumentasi konten digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen Z menunjukkan agensi yang kuat dalam mendekonstruksi narasi sejarah formal menjadi konten kreatif yang lebih personal dan visual di media Kebaruan konseptual penelitian ini terletak pada identifikasi agensi hibrida yang berhasil menjembatani memori institusional yang statis menjadi memori konektif yang Partisipasi mereka bukan sekadar tren konsumsi, melainkan bentuk aktivisme yang mengintegrasikan advokasi daring dengan aksi konservasi fisik di lapangan. Penelitian ini berkontribusi pada model keterlibatan kaum muda yang adaptif yang menyelaraskan nilai historis dengan estetika digital sebagai strategi pelestarian cagar budaya yang berkelanjutan. Kata Kunci: Agensi Digital. Generasi Z. Cagar Budaya. Sejarah Publik https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Cagar budaya merupakan warisan peradaban masa lalu yang memiliki peran fundamental dalam membentuk identitas, sejarah, dan ingatan kolektif suatu komunitas. Smith . dan Adam . menegaskan bahwa warisan budaya tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan material, tetapi juga sebagai simbol kolektif yang merefleksikan nilai-nilai masyarakat. Namun, di era digital, konsep memori kolektif mengalami pergeseran secara ontologis. Mandolessi . berpendapat bahwa digitalisasi tidak hanya mengubah cara memori disimpan, tetapi juga bagaimana memori tersebut dimaterialisasi kembali melalui praktik digital yang dinamis. Ketegangan ini sering muncul antara akumulasi data digital yang masif dan kebutuhan akan pembangunan narasi ingatan yang benar-benar bermakna bagi publik (Vallejos-Fabres & Silva-Flores, 2. Selain itu, ruang daring telah secara signifikan mengubah ekosistem memori budaya melalui pencarian citra dan interaksi platform (Nagy & Ribny, 2. Dalam konteks lokal. Kota Metro di Provinsi Lampung memiliki kekayaan narasi historis terkait Kolonisasi Sukadana tahun 1935 (Amboro, 2. Meskipun telah dilindungi melalui Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 3 Tahun 2022, pelestarian objek cagar budaya dan sejarah lokal menghadapi tantangan relevansi di mata generasi muda. Sedangkan dalam konteks global, strategi pengembangan warisan budaya yang berkelanjutan memang memerlukan strategi konservasi yang adaptif terhadap perubahan zaman (Hao & Khiatthong, 2. Fenomena ini menempatkan agensi digital bukan sekadar masalah komunikasi teknologi, melainkan sebuah dinamika kebudayaan . ultural studie. di mana generasi muda mengonstruksi ulang makna warisan masa lalu di ruang siber. Masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana agensi digital Generasi Z (Gen Z) mentransformasi narasi sejarah publik dan pelestarian cagar budaya yang selama ini didominasi oleh otoritas formal. Urgensi penelitian ini terletak pada fakta bahwa Gen Z, sebagai digital natives, memiliki cara unik dalam berinteraksi dengan masa lalu dan bukti-bukti peninggalan masa lalu. Interaksi mereka di media sosial bukan hanya tentang komunikasi, melainkan juga tentang membangun keterlibatan strategis yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif dalam menyuarakan isu-isu tertentu (Liang et al. , 2. Melalui penggunaan platform digital. Gen Z mampu membentuk branding yang berpengaruh terhadap niat mereka dalam bergerak di ranah digital (Loke & Zhang, 2. Adriaansen & Smit . menyoroti bahwa platform media sosial telah menciptakan Aumemori kolektifAy di mana algoritma dan kurasi pengguna membentuk narasi sejarah baru. Jika keterlibatan ini tidak dipahami, terdapat risiko terjadinya pemutusan memori antargenerasi atau munculnya narasi sejarah yang terfragmentasi akibat penyebaran narasi yang tidak terkontekstualisasi (Kouros et al. , 2. Selain itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk melihat bagaimana keterlibatan digital ini berkontribusi pada kesejahteraan subjektif komunitas Luck & Sayer . dan keberlanjutan tata kelola warisan budaya (Roliyanti et al. , 2. Posisi penelitian ini berada di tengah perdebatan mengenai peran komunitas lokal dalam konservasi. Penelitian terdahulu sering kali menempatkan masyarakat hanya sebagai objek atau penonton (Xu et al. , 2. Sementara itu, studi terbaru mulai mengeksplorasi media digital seperti Instagram atau TikTok yang digunakan untuk AupementasanAy budaya, seperti fenomena Hanfu di Cina (Xu & Bailey, 2. Namun, masih terdapat celah . yang signifikan dalam literatur kualitatif mengenai bagaimana agensi digital ini diterjemahkan menjadi aksi konservasi nyata di lapangan, khususnya di Kota Metro. Orisinalitas penelitian ini terletak pada eksplorasi agensi Gen Z secara hibrida yang menjembatani advokasi daring dengan pelestarian cagar budaya secara luring, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sebuah aspek yang sering terabaikan dalam studi kecagarbudayaan yang sering kali berfokus pada salah satu ranah saja (Maran & Raj, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi partisipasi Gen Z dalam memperkuat ingatan kolektif yang inklusif sebagai bagian dari praktik kajian budaya . ultural studie. di era digital. Penelitian ini mengetengahkan argumentasi bahwa keterlibatan Gen Z bukan sekadar tren konsumsi konten, melainkan bentuk Auaktivisme memori digitalAy yang mampu menantang narasi sejarah tunggal (Adriaansen & Smit, 2. Kontribusi keilmuan yang ditawarkan adalah model keterlibatan kaum muda yang adaptif yang mengintegrasikan berbagai aspek dan teknologi digital dalam bingkai Sejarah Publik (Roliyanti et al. , 2. Untuk membahas masalah tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode narrative inquiry. Penulis melakukan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis konten digital pada komunitas Gen Z di Kota Metro. Perspektif yang digunakan adalah teori sejarah publik yang dikombinasikan dengan konsep connective memory untuk melihat bagaimana interaksi digital membentuk tanggung jawab kewarganegaraan aktif terhadap warisan budaya (Mutibwa et al. , 2. Melalui metodologi ini, diharapkan peran transformatif Gen Z sebagai narator sejarah baru dapat terpetakan secara komprehensif. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode narrative inquiry untuk menggali secara mendalam pengalaman, cerita, dan agensi digital Generasi Z dalam transformasi narasi sejarah di Kota Metro. Aktivitas penelitian dimulai dengan menetapkan sumber data yang terdiri dari data primer berupa narasi personal dari hasil wawancara, serta data sekunder berupa konten naratif digital pada platform Instagram dan TikTok yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya. Teknik penentuan informan dilakukan dengan purposive sampling, dengan memilih sepuluh orang perwakilan Generasi Z. Pemilihan sepuluh orang informan tersebut dilakukan dengan kriteria aktif sebagai narator sejarah digital dan terlibat langsung dalam aksi fisik komunitas pelestari. Jumlah ini dianggap memadai dalam desain naratif untuk mencapai kejenuhan data . ata saturatio. serta menjamin kedalaman narasi personal yang tidak dapat dicapai melalui sampel besar. Data primer bersumber dari wawancara semiterstruktur dengan informan, sedangkan data sekunder dipilih melalui kurasi konten digital pada Instagram dan Tiktok dengan kriteria: memiliki narasi orisinal tentang cagar budaya Kota Metro, tingkat interaksi publik, serta relevansi visual dengan lima objek cagar budaya di Kota Metro. Proses analisis data dilakukan melalui analisis tematik sistematis yang diawali dengan open coding untuk mengidentifikasi unit makna terkecil dari agensi digital, dilanjutkan dengan tahap kategorisasi untuk membangun tema-tema besar mengenai transformasi memori, hingga tahap sinkronisasi naratif antara data daring dan luring. Validitas data dipastikan melalui triangulasi teknik dan sumber serta pengecekan . ember checkin. untuk menjamin bahwa interpretasi peneliti akurat dan mencerminkan suara informan, sehingga mampu menghasilkan deskripsi analitis yang merepresentasikan dinamika ingatan kolektif di era digital. Hasil dan Pembahasan Bagian ini menyajikan temuan mengenai agensi digital Generasi Z di Kota Metro dalam pengelolaan warisan sejarah dan budaya. Pembahasan dibagi ke dalam tiga hasil utama yang saling berkaitan, yaitu dekonstruksi narasi melalui platform digital, implementasi strategi konservasi hibrida yang menghubungkan ruang siber dengan aksi fisik di lapangan, serta dampak transformatif partisipasi tersebut terhadap penguatan memori kolektif lokal. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Agensi Digital Gen Z: Dekonstruksi dan Rekonstruksi Narasi Sejarah Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z di Kota Metro tidak lagi menempatkan diri sebagai konsumen pasif atas narasi sejarah yang bersifat top-down. Sebaliknya, mereka memposisikan diri sebagai Agensi Digital, yaitu kapasitas untuk bertindak, memilih, dan membentuk kembali memori kolektif melalui platform teknologi. Fenomena ini menandai pergeseran dari apa yang disebut Smith . sebagai Authorized Heritage Discourse (AHD), di mana narasi cagar budaya selama ini didominasi oleh otoritas formal dan para pakar, menuju narasi yang lebih demokratis dan Menurut Dimas Setiawan dari Komunitas Metro Walkingtour Sebelumnya kalau baca sejarah Metro di buku-buku rasanya kaku banget, isinya mayoritas nama peristiwa, angka tahun, dan nama-nama Belanda yang sulit Kami merasa sejarah itu milik pemerintah, milik para ahli, bukan milik kami, bukan milik anak muda atau masyarakat yang lebih luas. Makanya kami coba mengemas ulang ceritanya. Kami cari sisi manusianya biar teman-teman seumuran kami, atau bahkan yang usianya lebih muda seperti siswa sekolah lebih tertarik (Wawancara, 25 November 2. Pernyataan ini membuktikan adanya kejenuhan atas penyajian sejarah Sebagaimana dikemukakan, proses dekonstruksi dilakukan dengan membongkar ulang narasi pada beberapa objek bersejarah yang juga cagar budaya, kemudian merekonstruksinya melalui storytelling digital yang emosional. Hal ini selaras dengan argumen Mandolessi . mengenai materialisasi memori melalui praktik baru. Gen Z memanfaatkan interaksi digital untuk menciptakan keunggulan kompetitif dalam menyuarakan pelestarian Liang et al. , . sekaligus membangun personal branding sebagai penjaga budaya (Loke & Zhang, 2. Salah satu bukti nyata di lapangan adalah penggunaan platform Instagram dan Tiktok oleh Gen Z dan komunitas pelestari cagar budaya lokal di Kota Metro untuk menceritakan kembali sejarah lokal dan cagar budaya, seperti bangunan Rumah Dokter (Dokterswonin. Klinik Santa Maria . ks bangunan Roomsch Katholieke Missi. , atau Menara Masjid Taqwa. Aditya Nurrohman dari Komunitas Metro Heritage menjelaskan strateginya yaitu: Kami gak cuma memfoto bangunan tua aja, tapi kami edit pakai musik yang lagi tren, terus teksnya pakai gaya bahasa tongkrongan, tapi isinya tetap edukasi Misalnya, kenapa Menara Masjid Taqwa itu dulu jadi bangunan paling tinggi? Kami hubungkan juga dengan kebanggaan warga lokal. Ternyata engagement-nya jauh lebih tinggi daripada sekadar posting teks sejarah panjang lebar (Wawancara, 27 November 2. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, informan menyatakan bahwa mereka sengaja menggunakan gaya bahasa kekinian dan teknik penyuntingan video yang cepat untuk menarik perhatian sebaya mereka. Praktik ini merupakan bentuk digital memorysharing yang menurut Fodor . bukan sekadar berbagi informasi, melainkan upaya konstruksi identitas melalui narasi intergenerasional. Selain itu, aktivitas berbagi memori ini secara tidak langsung berkontribusi pada kesejahteraan subjektif . ubjective wellbein. mereka, karena adanya perasaan memiliki dan keterhubungan dengan akar budaya yang kuat (Luck & Sayer, 2023. Chen et al. , 2. Dengan mengunggah konten sejarah. Gen Z di Kota Metro sedang melakukan kurasi mandiri terhadap memori apa yang layak diingat oleh generasinya, sekaligus menantang dominasi narasi sejarah yang hanya berfokus pada peristiwa-peristiwa besar tanpa menyentuh sisi kemanusiaan pelakunya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tabel 1. Matriks Dekonstruksi dan Rekonstruksi Narasi Sejarah dan Cagar Budaya oleh Gen Z di Kota Metro Narasi Formal Narasi Digital Gen Z Objek (Authorized Heritage (Agensi Digital & Cagar Budaya Discours. Kajian TACB Kota Rekonstruksi Narasi Sejarah Metro Cagar Buday. Rumah Dokter Bangunan tempat tinggal dokter Transformasi (Dokterswonin. gaya Rumah Informasi Sejarah arsitektur bangunan . rsitektur (RIS). Gen Indische Empir. , dan konteks mendekonstruksi sejarah Kolonisasi Sukadana bangunan tua yang tertutup . menjadi pusat data terbuka. Narasi digital berfokus pada "ruang belajar bersama" dan ikon wisata sejarah yang Instagramable memperkuat identitas kota. Klinik Fasilitas yang Memori Kolektif & Museum Santa Maria. dibangun oleh Misi Katolik Mini. Rekonstruksi narasi (Roomsch Katholieke Missi. melalui Galeri Sejarah Misi Mewakili masa gaya Katolik. Gen Z membingkai arsitektur kolonial. Sejarah ulang sejarah RS sebagai dan "saksi kelahiran" warga perkembangan Misi Katolik di Metro. Kota Metro. yang dibagikan melalui konten visual dan cerita lisan digital. Rumah Asisten Pusat administrasi pemerintahan Wedana Space & Creative Wedana Metro. Metro masa Hub. Agensi Arsitektur bangunan mengubah persepsi ekstradisional vernakular khas bangunan peruntukan bangunan tinggal administratif yang kaku priyayi Jawa. Pusat administrasi menjadi Kota kontemporer. Narasi digital Administratif Metro. Kabupaten berfokus pada gaya hidup Lampung Tengah (Orde Bar. , kafe sejarah, dan titik temu komunitas muda dalam balutan atmosfer masa Menara Masjid Bangunan masjid Metro Walkingtour Taqwa. beton Lanskap Urban. Diposisikan bertulang . Berdiri sebagai landmark utama di lokasi masjid adalah bagian dalam aktivitas wisata jalan dari elemen Catur Gatra kaki sejarah kota. Tunggal . usat aktivitas relig. Simbol modernitas arsitektur masjid pascakemerdekaan dan pusat aktivitas religi di Kota Metro. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sumur Hibah Imopuro. Struktur fasilitas publik . untuk penyediaan air bersih bagi para kolonis. Merupakan aset melambangkan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber Aktivisme Pelestarian Fasilitas Publik. Gen Z menggunakan media sosial untuk mengedukasi publik mengenai fungsi sosial Narasi . agar aset fisik ini tetap menjaga integritasnya di modernitas kota. Sumber: Olah Data Sekunder Oleh Peneliti, 2026 Lebih lanjut, agensi digital ini mewujud dalam apa yang disebut sebagai ephemeral digital narratives (Maran & Raj, 2. Penggunaan fitur Instagram Stories oleh Gen Z di Kota Metro untuk mendokumentasikan kondisi terkini cagar budaya yang terancam rusak merupakan bentuk aktivisme digital yang spontan namun berdampak luas. Praktik ini juga membantu mengatasi persoalan kelebihan data di ruang siber dengan menciptakan momen-momen ingatan yang spesifik dan kontekstual (Vallejos-Fabres & Silva-Flores, 2. Data observasi menunjukkan bahwa narasi yang mereka bangun sering kali mengandung unsur AogugatanAo terhadap pengelola objek cagar budaya atau pemerintah daerah jika terdapat peninggalan sejarah yang tidak terawat. Di sini, agensi digital berfungsi sebagai alat pengawasan publik. Transformasi narasi terjadi ketika sejarah tidak lagi dipandang sebagai benda mati di masa lalu, melainkan isu hari ini yang harus diperjuangkan keselamatannya. Hal ini memperkuat teori Adriaansen & Smit . bahwa media sosial telah mentransformasi memori kolektif menjadi memori konektif yang mampu memobilisasi massa dalam waktu singkat. Ketajaman agensi Gen Z juga nampak dalam kemampuan mereka melakukan rekonstruksi sejarah melalui pendekatan multiperspektif. Mengacu pada temuan Mayurakshi . mengenai narasi multiperspektif. Gen Z di Kota Metro mulai memasukkan cerita-cerita lisan dari warga sesepuh mengenai objek cagar budaya tertentu ke dalam konten digital mereka. Mereka menjembatani kesenjangan antara sejarah versi arsip dan sejarah versi ingatan publik . ernacular memor. Upaya ini sejalan dengan perlunya tata kelola warisan budaya yang berkelanjutan dan inklusif, yang mengintegrasikan berbagai kepentingan pemangku kepentingan, termasuk komunitas lokal (Hao & Khiatthong, 2024. Roliyanti et al. , 2. Sebagai kasus, dalam narasi mengenai Klinik Santa Maria, mereka tidak hanya menonjolkan sisi arsitektur bangunan kolonial, tetapi juga menggali cerita-cerita personal tentang pelayanan kesehatan di masa lalu yang menyentuh sisi sosiologis masyarakat Kota Metro. Praktik ini secara efektif membangun kembali ingatan kolektif yang lebih inklusif, sebagaimana disarankan oleh Krafft . dalam konsep public history and collective transformation. Secara teoretik, agensi digital yang ditunjukkan oleh Gen Z di Kota Metro membuktikan bahwa teknologi bukan sekadar alat diseminasi, melainkan ruang negosiasi kekuasaan naratif. Transformasi narasi yang mereka lakukan dari formal ke populer, dari statis ke interaktif, telah berhasil menghidupkan kembali minat masyarakat lokal terhadap identitas budayanya. Hal ini sejalan dengan penelitian Xu et al. , . yang menekankan pentingnya komunitas lokal dalam diskursus pelestarian warisan budaya dunia (ICOMOS). Melalui ekosistem digital ini, pencarian citra dan interaksi platform secara https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH aktif membentuk ulang bagaimana memori budaya diwariskan (Nagy & Ribny, 2. Gen Z di Kota Metro telah membuktikan diri sebagai aktor utama dalam ekosistem sejarah publik digital yang mampu menyelaraskan nilai-nilai historis dengan estetika digital modern. Keberhasilan mereka melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi ini menjadi fondasi kuat bagi upaya pelestarian cagar budaya yang lebih berkelanjutan di masa depan, di mana narasi sejarah tidak lagi bersifat eksklusif, tetapi menjadi milik bersama yang terus diproduksi secara kreatif di ruang siber. Integrasi Ruang Digital dan Fisik: Strategi Hibrida dalam Konservasi Cagar Budaya Temuan kedua penelitian ini menunjukkan bahwa agensi digital Generasi Z di Kota Metro tidak bersifat eksklusif di ruang siber, melainkan beroperasi melalui strategi hibrida yang mengintegrasikan aktivitas daring . dan luring . Integrasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai interface/city assemblages, di mana elemen digital, imajiner, dan fisik konvergen saling berelasi dalam upaya pelestarian warisan budaya (Xu & Bailey, 2. Di Kota Metro, fenomena ini terlihat jelas pada bagaimana kampanye di media sosial mampu memobilisasi massa untuk melakukan aksi fisik di objek-objek cagar budaya yang selama ini terabaikan oleh narasi arus utama. Aksi fisik ini sekaligus menjadi katalis bagi regenerasi kawasan urban bersejarah yang mampu menghidupkan kembali fungsi sosial dan ekonomi kota (Shubbar et al. Data observasi partisipatif menunjukkan bahwa platform digital berfungsi sebagai ruang tunggu atau inkubator bagi gerakan fisik. Sebagai contoh, inisiatif aksi bersihbersih di objek cagar budaya Rumah Dokter (Dokterswonin. tidak dimulai dari instruksi formal birokrasi, melainkan dipicu oleh unggahan emosional di Instagram yang menyoroti kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan. Proses ini memvalidasi teori Adriaansen & Smit . mengenai memori konektif, di mana praktik berbagi tagar dan konten visual berubah menjadi tanggung jawab kolektif yang nyata. Dalam konteks ini, ruang digital bertindak sebagai alat mobilisasi kesadaran yang secara efektif mentransformasi pengikut . menjadi sukarelawan lapangan. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial berperan krusial dalam memediasi isu-isu sosial dan memfasilitasi negosiasi antara masyarakat dengan lingkungan sekitarnya (Xu et al. , 2. Strategi hibrida ini menjawab tantangan pelestarian di era modern, yaitu bagaimana benda mati di masa lalu terasa hidup dan memiliki urgensi di masa kini. Secara teknis, temuan lapangan mengungkap adanya pola kurasi hibrida. Komunitas Gen Z di Kota Metro sering kali mengadakan tur sejarah (Metro Walking Tou. yang dipandu oleh pemandu-pemandu cagar budaya muda. Menariknya, aktivitas luring ini dirancang dengan estetika yang sangat Instagrammable. Setiap sudut objek cagar budaya dipandang sebagai latar belakang narasi digital yang kemudian diunggah kembali secara real-time. Fenomena ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai modernitas dan konsumsi visual kaum muda membingkai cara mereka mengonsumsi sejarah publik (Zestanakis. Hal ini selaras dengan konsep Maran & Raj . tentang narasi digital efemeral . eperti Instagram Storie. yang meskipun durasinya singkat, memiliki resonansi budaya yang kuat karena keterikatannya dengan pengalaman fisik langsung. Integrasi ini membuat batasan antara mengunjungi objek bersejarah/cagar budaya dan memproduksi konten menjadi kabur. keduanya adalah satu kesatuan aksi pelestarian yang saling Validitas ini juga didukung oleh keterlibatan Gen Z dalam aspek manajemen objek cagar budaya secara informal. Beberapa informan menyebutkan bahwa mereka menggunakan data digital . eperti tingkat interaksi pada unggahan tertent. untuk https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH memberikan masukan kepada pengelola objek cagar budaya atau pemerintah daerah mengenai bagian mana dari cagar budaya yang paling diminati oleh generasi muda. Partisipasi aktif ini muncul sebagai respons atas seringnya terjadi keterbatasan akses bagi warga lokal untuk terlibat dalam perencanaan konservasi formal (Feifei et al. , 2. Praktik ini merupakan bentuk partisipasi komunitas yang dalam diskursus ICOMOS disebut sebagai kunci keberlanjutan warisan budaya (Xu et al. , 2. Di Kota Metro, strategi hibrida ini menutupi celah kekurangan sumber daya manusia di instansi pemerintah daerah formal. Gen Z secara sukarela menjadi Aupenjaga gawangAy digital sekaligus operator fisik yang memastikan objek peninggalan sejarah dan cagar budaya tetap relevan dalam ekosistem perkotaan modern. Lebih jauh, strategi hibrida ini memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan subjektif . ubjective well-bein. masyarakat Keterlibatan fisik yang dipicu oleh interaksi digital memberikan rasa bangga dan kepemilikan . ense of ownershi. yang lebih dalam. Berdasarkan analisis Luck & Sayer . keterlibatan digital dengan situs sejarah dapat mengurangi ketimpangan akses terhadap budaya dan mendukung kesejahteraan mental komunitas melalui koneksi sosial. Temuan ini diperkuat oleh fakta bahwa kualitas ruang bersejarah yang terkelola dengan baik berkontribusi langsung pada tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup penduduk di kawasan konservasi (Chen et al. , 2. Di Kota Metro. Gen Z memainkan peran bermakna dalam pembangunan kota melalui pelestarian identitas. Hal ini juga tercermin dalam cara mereka mengaitkan nilai-nilai lokal dengan strategi global, misalnya dengan membawa isu pelestarian cagar budaya Metro ke dalam dialog yang lebih luas mengenai pembangunan berkelanjutan (SDG. Sinergi antara budaya dan tata kelola pariwisata yang berkelanjutan terbukti mampu meningkatkan kesadaran konservasi di tingkat komunitas (Thi et al. , 2024. Anh et al. , 2024. Phuong, 2. Salah satu temuan penting dalam aspek ini adalah penggunaan teknologi digital sebagai instrumen Auperlawanan kreatifAy terhadap perusakan cagar budaya. Ketika ada ancaman terhadap integritas fisik suatu bangunan bersejarah di Kota Metro, agensi digital Gen Z segera melakukan ekskalasi dari sekadar komentar daring menjadi aksi protes fisik dan audiensi formal. Strategi ini menunjukkan adanya politik narasi di mana subjek muda menggunakan agensi mereka untuk menyuarakan sejarah yang mungkin terabaikan atau terancam hilang (Eldar & Jansson, 2. Hal ini menunjukkan bahwa agensi bukan sekadar soal membuat konten kreatif, tetapi tentang kekuatan politis untuk melakukan intervensi terhadap kebijakan ruang kota sebagai bagian dari strategi pembangunan warisan budaya yang berkelanjutan (Hao & Khiatthong, 2. Meskipun strategi hibrida ini menunjukkan keberhasilan yang signifikan, temuan penelitian juga mengungkap adanya sejumlah tantangan dan keterbatasan kritis. Pertama, terdapat benturan otoritas antara model partisipasi bottom-up Gen Z dengan birokrasi formal yang cenderung kaku. Beberapa informan mengeluhkan prosedur perizinan yang rumit saat akan melakukan aktivasi fisik di lokasi cagar budaya, menunjukkan bahwa otoritas formal belum sepenuhnya siap mengadopsi konsep shared authority dalam pengelolaan warisan Kedua, muncul risiko komodifikasi sejarah atau fetisisme visual, di mana fokus utama Gen Z pada estetika yang Instagrammable Zestanakis . berpotensi mereduksi kedalaman nilai historis objek menjadi sekadar latar belakang foto. Jika tidak diimbangi dengan literasi sejarah yang kuat, agensi digital ini berisiko terjebak pada permukaan visual tanpa menyentuh substansi pelestarian yang fundamental. Ketiga, keberlanjutan . gerakan ini sangat bergantung pada militansi sukarela para aktor komunitas yang rentan terhadap fluktuasi minat digital dan keterbatasan sumber daya Sebagaimana diperingatkan oleh Feifei et al. , . tanpa integrasi yang sah ke dalam kebijakan perencanaan kota, inisiatif-inisiatif hibrida ini berisiko menjadi aksi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH efemeral yang hilang seiring bergantinya tren media sosial. Oleh karena itu, sinergi yang lebih formal antara agensi digital Gen Z dan pemerintah daerah menjadi syarat mutlak agar model konservasi lincah . ini tidak hanya menjadi fenomena sesaat, melainkan strategi jangka panjang bagi keberlanjutan warisan budaya Hao & Khiatthong . khususnya di Kota Metro. Secara keseluruhan, strategi ini memperkuat argumentasi Mandolessi . bahwa digitalisasi tidak mengakhiri memori kolektif, melainkan memberikan materialitas baru bagi klaim-klaim sejarah yang dilakukan oleh subjeksubjek muda. Integrasi ruang digital dan fisik di Kota Metro membuktikan bahwa pelestarian cagar budaya tidak lagi bisa dilakukan secara terfragmentasi. Strategi hibrida yang dijalankan oleh Gen Z telah menciptakan model konservasi baru yang lebih lincah . dan partisipatif. Mereka tidak hanya merestorasi fisik bangunan melalui aksi nyata, tetapi juga merestorasi makna bangunan tersebut dalam memori digital masyarakat. Keberhasilan model ini bergantung pada sejauh mana otoritas formal bersedia membuka diri terhadap otoritas bersama yang ditawarkan oleh agensi digital Gen Z. Dengan menggabungkan kekuatan teknologi dan energi fisik komunitas. Kota Metro berpotensi menjadi pionir dalam transformasi sejarah publik di Indonesia yang koheren dengan kebutuhan zaman. Gambar 1. Pola Agensi Digital Gen Z Melalui Kurasi Konten Sejarah di Instagram (Sumber: Dokumentasi Peneliti dan Media Sosial Komunitas, 2. Tangkapan layar . menunjukkan bagaimana akun komunitas lokal seperti @metrowalkingtour melakukan dekonstruksi narasi formal menjadi konten visual yang populer. Interaksi publik dalam bentuk likes . dan komentar merepresentasikan terbentuknya memori konektif Adriaansen & Smit . sebelum beralih menjadi aksi nyata di lapangan. Gambar 2. Strategi Hibrida melalui Aktivasi Ruang Cagar Budaya di lapangan (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dokumentasi kegiatan fisik yang meliputi kunjungan ke Rumah Informasi Sejarah (RIS) di bangunan Cagar Budaya Dokterswoning, pemanfaatan bangunan Cagar Budaya Rumah Asisten Wedana (Wedana Spac. Museum Mini/Galeri Sejarah Santa Maria, dan eksplorasi Menara Masjid Taqwa. Aktivitas ini menunjukkan materialisasi memori Mandolessi . di mana ruang sejarah diintegrasikan dengan gaya hidup modern dan kebutuhan edukasi publik Gen Z. Transformasi narasi sejarah di Kota Metro tidak berhenti pada layar digital. Sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 1, aktivitas kurasi konten berfungsi sebagai fase inkubasi kesadaran. Kesadaran digital ini kemudian memicu mobilisasi fisik yang terdokumentasi pada Gambar 2, di mana objek-objek cagar budaya seperti Rumah Dokter (Dokterswonin. Museum Mini/Galeri Sejarah Santa Maria. Menara Masjid Taqwa, dan Rumah Asisten Wedana (Wedana Spac. beralih fungsi menjadi ruang publik yang aktif. Hubungan kausalitas antara Gambar 1 dan Gambar 2 merupakan bukti empiris dari interface/city assemblages Xu & Bailey . yang menjadi inti dari strategi hibrida Gen Z. Memori Konektif dan Transformasi Ingatan Kolektif di Kota Metro Temuan akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas digital Gen Z memicu transformasi mendalam pada struktur ingatan kolektif di Kota Metro. Terjadinya peralihan dari memori yang bersifat statis-institusional menuju memori konektif. Istilah yang diadopsi dari Adriaansen & Smit . ini merujuk pada bentuk ingatan yang tidak lagi bergantung pada satu otoritas, melainkan tersebar melalui jaringan digital yang saling Di Kota Metro, transformasi ini terlihat dari bagaimana sejarah lokal yang dahulu hanya tersimpan di arsip-arsip dan buku-buku teks sejarah lokal kini menjadi materi percakapan sehari-hari yang dinamis di ruang publik digital. Melalui ruang daring ini, ekosistem memori budaya terus dibentuk ulang melalui pencarian citra dan interaksi platform secara aktif (Nagy & Ribny, 2. Data naratif dari wawancara mengungkapkan bahwa sebelum adanya intervensi agensi digital Gen Z, ingatan masyarakat Kota Metro terhadap peninggalan sejarah seperti bangunan Rumah Dokter (Dokterswonin. Klinik Santa Maria . ks kompleks Roomsch Katholieke Missi. , bangunan Rumah Asisten Wedana Metro, dan lain-lain, cenderung bersifat fungsional Namun, melalui produksi konten kreatif yang dilakukan oleh para informan, terjadi proses rekontekstualisasi. Gen Z tidak hanya menyajikan fakta sejarah, tetapi juga menghubungkannya dengan isu-isu kontemporer seperti estetika urban dan identitas komunitas. Fenomena ini selaras dengan argumen Mandolessi . bahwa digitalisasi tidak menghilangkan memori kolektif, melainkan memberikan materialitas baru yang memungkinkan ingatan tersebut bertahan dan beradaptasi dalam ekosistem informasi yang cepat. Meskipun demikian, digitalisasi ini juga menciptakan ketegangan antara penumpukan data yang masif dan upaya membangun narasi ingatan yang benar-benar bermakna bagi publik (Vallejos-Fabres & Silva-Flores, 2. Salah satu bukti paling konkret dari transformasi ini adalah munculnya fenomena nostalgia kolaboratif di berbagai kolom komentar media sosial. Hasil observasi pada akun-akun media sosial komunitas menunjukkan bagaimana sebuah foto lama bangunan cagar budaya memicu dialog lintas generasi. Sebagai contoh, ketika foto lama Klinik Santa Maria diunggah, muncul komentar dari generasi lebih tua (Gen X) yang menceritakan pengalaman emosional mereka saat dirawat atau lahir di sana, yang kemudian dibalas oleh Gen Z dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Yudhistira dari Komunitas Metro Heritage menyatakan bahwa: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Yang paling seru itu kalau kita posting foto lama, tiba-tiba ada dari generasi yang lebih tua berkomentar. Aoeh dulu saya lahir di sana, anak saya lahir di sana, dulu di situ ada pohon iniAAo Kami sebagai anak muda jadi dapat data baru yang tentu tidak ditulis dalam buku-buku sejarah lokal. Di situ, memori itu menjadi benarbenar konektif karena mengalir antargenerasi (Wawancara, 25 November 2. Kolaborasi spontan ini menciptakan apa yang disebut Fodor . sebagai transmisi memori intergenerasional yang dimediasi secara digital. Industri memori ini mengisi celah ingatan yang hilang melalui produksi cerita sejarah secara publik (Zakrevskaya & Belyanin, 2. Namun, demokratisasi narasi ini bukan tanpa risiko. balik kemudahan berbagi, terdapat ancaman disinformasi dan distorsi sejarah yang serius. Data lapangan menunjukkan adanya unggahan dari akun anonim yang sering kali mencampuradukkan fakta sejarah dengan mitos urban yang tidak tervalidasi. Dalam konteks ini, agensi digital Gen Z berfungsi sebagai kurator kebenaran . ruth-curator. Komunitas pelestari di Metro secara aktif melakukan klarifikasi terhadap komentar atau unggahan yang mengandung kekeliruan data historis. Praktik ini sejalan dengan perlunya kontrol dari komunitas yang sadar sejarah di tengah risiko disinformasi digital (Kouros et al. , 2. Hal ini membuktikan bahwa demokratisasi narasi di Metro tidak berarti bebas tanpa batas, melainkan sebuah sistem pengawasan kolektif yang menjaga integritas sejarah lokal (Maran & Raj, 2. Lebih jauh, transformasi ini berdampak pada penguatan subjective well-being warga lokal. Temuan lapangan menunjukkan adanya rasa bangga yang meningkat di kalangan warga Kota Metro ketika melihat sejarah kota mereka mendapat apresiasi luas di tingkat nasional melalui konten viral. Hal ini memperkuat tesis Luck & Sayer . bahwa keterlibatan dengan warisan budaya melalui media digital dapat mengurangi ketimpangan akses terhadap budaya dan meningkatkan rasa memiliki . ense of Kepuasan hidup penduduk di kawasan konservasi terbukti meningkat seiring dengan kualitas perencanaan ruang yang menghargai sejarah (Chen et al. , 2. Ingatan kolektif yang sebelumnya terasa jauh dan milik pemerintah kini dirasakan sebagai identitas personal yang berharga oleh warga. Di Kota Metro, sejarah tidak lagi dianggap sebagai beban masa lalu, melainkan modal sosial untuk membangun citra kota yang progresif namun tetap menghargai akar budaya. Validitas temuan ini juga didukung oleh data mengenai perubahan perilaku masyarakat terhadap pelestarian fisik. Transformasi ingatan kolektif menjadi ingatan konektif telah melahirkan tanggung jawab sosial yang lebih besar. Mengacu pada penelitian Xu et al. , . mengenai peran komunitas lokal dalam diskursus ICOMOS, partisipasi Gen Z di Kota Metro telah mendorong demokratisasi Hal ini sangat penting mengingat seringnya terjadi risiko disinformasi atau narasi sejarah yang terdistorsi di platform digital yang memerlukan kontrol dari komunitas yang sadar sejarah (Kouros et al. , 2. Masyarakat tidak lagi menunggu langkah formal pemerintah untuk peduli. mereka melakukan tindakan preventif seperti melaporkan kerusakan objek cagar budaya melalui media sosial atau melakukan edukasi Ini adalah bentuk aktivisme memori yang menurut Maran & Raj . sangat efektif dalam menjaga resonansi budaya di tengah arus modernisasi. Secara teoritis, transformasi ingatan kolektif di Kota Metro melalui agensi digital Gen Z membuktikan bahwa sejarah publik bersifat cair dan terus diproduksi. Narasi multiperspektif yang dibangun oleh Gen Z yang memadukan informasi arsip kolonial, cerita lisan, dan estetika visual telah menantang hegemoni narasi tunggal sejarah lokal (Mayurakshi, 2. Aktivitas mengingat masa lalu ini bahkan digunakan untuk membayangkan masa depan kota yang lebih baik melalui ekosistem media sosial (Gylym, 2. Hasil https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH penelitian ini menjawab hipotesis awal bahwa media digital bukan sekadar alat, melainkan aktor utama dalam membentuk bagaimana sebuah masyarakat mengingat dan memaknai dirinya sendiri. Dengan demikian, transformasi memori kolektif di Kota Metro bukan sekadar tren teknologi, melainkan pergeseran paradigma dalam memandang masa lalu sebagai instrumen pembangunan masa depan yang berkelanjutan, sebagaimana ditekankan Phuong . dalam konteks konservasi warisan budaya dunia. Sebagai penegas, sinergi antara agensi digital, strategi hibrida, dan transformasi memori telah menciptakan ekosistem sejarah publik yang makin membaik di Kota Metro. Keberhasilan ini memberikan model bagi kota-kota lain di Indonesia tentang bagaimana melibatkan generasi muda sebagai subjek aktif dalam pelestarian cagar budaya. Generasi Z di Kota Metro telah membuktikan bahwa dengan mengingat bersama secara digital, mereka telah merancang masa depan kota yang tetap berkarakter di tengah globalisasi yang tak terhindarkan. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa Generasi Z di Kota Metro telah bertransformasi dari sekadar konsumen sejarah menjadi agen aktif yang memiliki otoritas dalam mendekonstruksi narasi formal dan merekonstruksinya menjadi memori digital yang dinamis. Kontribusi teoretis utama penelitian ini adalah penemuan Model Agensi Digital-Hibrida, sebuah kerangka konseptual baru di mana keterlibatan digital . ktivisme narati. dan aksi fisik di lapangan . onservasi lurin. menyatu secara dialektis. Melalui agensi ini. Gen Z berhasil mentransformasi memori institusional yang statis menjadi memori konektif yang diproduksi secara kolaboratif lintas generasi, sehingga memperkuat identitas lokal dan kesejahteraan komunitas. Praktik ini membuktikan bahwa media digital bukan sekadar alat diseminasi, melainkan infrastruktur vital bagi aktivisme memori yang menjembatani objek cagar budaya dengan pengalaman hidup sehari-hari masyarakat modern dalam bingkai studi kebudayaan . ultural studie. Meskipun memberikan temuan yang signifikan, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Fokus penelitian masih terbatas pada penggunaan platform Instagram dan TikTok dengan cakupan geografis di Kota Metro, sehingga dinamika agensi digital di platform lain atau di kota dengan karakteristik sosial-budaya yang berbeda mungkin menunjukkan pola yang berbeda pula. Selain itu, aspek keberlanjutan gerakan sukarela ini dalam jangka panjang belum teruji sepenuhnya. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi penggunaan teknologi yang lebih mutakhir seperti Augmented Reality (AR) atau pemanfaatan Big Data dalam memetakan persepsi publik terhadap cagar budaya secara luas, guna menciptakan strategi pelestarian yang lebih tepat dan adaptif terhadap dinamika ekosistem digital di masa depan. Daftar Pustaka