Vol. 3 No. 1 Tahun 2022 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 Artikel Review Potensi Tiwul dalam Upaya Diversifikasi Pangan serta Perkembangan Inovasinya Sebagai Pangan Fungsional Ifwarisan Defri1. Lutfi Yulmiftiyanto Nurhamzah2. Dea Dinda Sendy Natasyari1. Intan Putri Cindy Lestari1. Andre Yusuf Trisna Putra1* 1Program Studi Teknologi Pangan. Fakultas Teknik. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteran" Jawa Timur. Indonesia 2Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Siliwangi. Indonesia *Corresponding author: andreyusuf. tp@upnjatim. ABSTRACT Tiwul is one of Indonesia's local traditional food products made from cassava. The nutritional content of tiwul is very good and has the potential as a functional food because tiwul contains high fiber and low calories. This article aims to provide information related to tiwul as a diversified food ingredient from healthy cassava, nutritional content such as crude fiber, glycemic index, and resistant starch, as well as the potential of tiwul as a functional food. The method in this study is a literature review related to tiwul research and its processed products. Literature can be found on the internet. Google Scholar, and ResearchGate. The data used is secondary data such as the results of chemical analysis of tiwul. The literature criteria used in this journal are those that discuss tiwul/siger rice, local food, functional food, and the results of chemical analysis on processed cassava products. The results of writing this article are, it is known that various variants of instant tiwul products have a low glycemic index of tiwul, which ranges from 34 to 37. This figure shows that the glycemic index content of tiwul is low. The difference in glycemic index content is related to the digestibility of starch and crude fiber The glycemic index content and low digestibility make tiwul products with various variants into healthy cassava derivative products and have the potential as functional food. Keywords: cassava, functional food, glycemic index, tiwul ABSTRAK Tiwul merupakan salah satu produk pangan tradisional lokal Indonesia yang terbuat dari ubi Kandungan nutrisi tiwul sangat bagus dan berpotensi sebagai pangan fungsional karena tiwul mengandung serat yang tinggi dan kalori rendah. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah memberikan informasi terkait dengan tiwul sebagai bahan pangan diversifikasi dari singkong yang sehat, kandungan nutrisi seperti serat kasar, indeks glikemik, dan pati resisten, serta potensi tiwul sebagai pangan fungsional. Metode dalam penelitian ini adalah literature review terkait penelitian tiwul dan produk olahannya. Literature didapatkan pada media internet, google scholar, dan researchGate. Data yang digunakan adalah data sekunder seperti hasil analisis kimia tiwul. Kriteria literature yang digunakan pada jurnal ini yaitu yang membahas mengenai tiwul/beras siger, pangan lokal, pangan fungsional, serta hasil analisis kimia pada produk olahan singkong. Hasil dari penulisan artikel ini yaitu, telah diketahui berbagai macam Disubmit: 26/07/2022 Diterima: 31/08/2022 Dipublikasi: 28/9/2022 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 3 No. 1 Tahun 2022 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 varian produk tiwul instan, indeks glikemik tiwul yang rendah, yaitu berkisar 34 hingga 37. Angka tersebut menunjukan kandungan indeks glikemik pada tiwul rendah. Perbedaan kandungan indeks glikemik berkaitan dengan nilai daya cerna pati dan kandungan serat kasar. Kandungan indeks glikemik dan daya cerna yang rendah menjadikan produk tiwul berbagai varian menjadi produk turunan singkong yang sehat dan berpotensi sebagai pangan fungsional. Kata kunci: indeks glikemik, pangan fungsional, singkong, tiwul PENDAHULUAN Tiwul merupakan salah satu jenis makanan khas tradisional di pulau jawa yang berasal dari daerah Yogyakarta . Bahan dasar pembuatan tiwul adalah ubi kayu/singkong yang merupakan komoditas yang banyak ditanam oleh masyarakat Indonesia. Karena proses pengolahannya yang mudah, sehingga produk tiwul dapat melahirkan usaha produk lokal yang dapat merangsang pertumbuhan ekonomi masyarakat . Tiwul memiliki karakteristik agak kenyal terbuat dari gaplek . bi kayu yang dikeringka. kemudian dibuat dalam bentuk tepung. Gaplek merupakan singkong atau ubi kayu yang telah dikupas dan dikeringkan dengan cara dijemur. Tiwul memiliki karakteristik berbentuk butiran kuning kecoklatan dengan tekstur pulen semi basah dan agak menggumpal. Selain itu, tiwul juga memiliki cita rasa yang unik serta aroma singkong yang kuat . Asal mula tiwul bermula pada zaman penjajahan Jepang, tiwul menjadi makanan pokok terutama bagi masyarakat Jawa yang hidup di pedesaan dan pegunungan Hal ini karena beras menjadi bahan pangan yang sulit ditemukan dan harganya pun terlampau mahal, sehingga tidak banyak orang yang mampu membeli beras . Kebiasaan masyarakat jawa Disubmit: 26/07/2022 Diterima: 31/08/2022 biasanya mengonsumsi tiwul yang dimakan bersama sayuran, lauk pauk . yam goreng, tempe goreng, dan samba. , dan kelapa parut . Selain itu, bahan dasar tiwul yaitu singkong mudah ditanam dan dipanen tanpa memerlukan perawatan khusus. Hal inilah yang menjadi alasan masyarakat jawa pada zaman dulu lebih banyak mengkonsumsi tiwul daripada nasi . Selain itu, tiwul juga memiliki potensi besar untuk menjadi menggantikan beras . Tiwul kayu/singkong karbohidrat tinggi. Selain itu, singkong juga mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin B1, kalsium, fosfor, protein, lemak, hidrat arang dan zat besi . Tiwul merupakan makanan tradisional yang dapat digunakan sebagai pengganti nasi. Nasi merupakan makanan pokok paling utama yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Jumlah per 100g, kandungan gizi protein tiwul dibandingkan nasi secara berturut-turut adalah tiwul . ,30. , nasi . ,10. , kemudian kandungan gizi karbohidrat tiwul dibandingkan nasi secara berturut-turut tiwul . ,10. , nasi . ,60. , selanjutnya kandungan gizi lemak tiwul dibandingkan nasi secara berturutturut tiwul . ,10. , nasi . ,10. Hal ini menunjukan bahwa nilai kalori tiwul . Ka. lebih tinggi dari nasi . Ka. Jumlah nilai gizi yang terkandung dalam Dipublikasi: 28/9/2022 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 3 No. 1 Tahun 2022 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 tiwul dan nasi tidak begitu jauh berbeda. Kandungan karbohidrat pada tiwul lebih rendah dari pada nasi putih disebabkan karena nasi tiwul yang berasal dari singkong adalah salah satu jenis umbiumbian yang berkarbohidrat kompleks karena kandungan serat singkong lebih tinggi dari pada serat pada beras . Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan era globalisasi, makanan tradisional ini mulai kurang diminati dan ditinggalkan karena dianggap tidak praktis . Proses membutuhkan waktu yang lama dan memiliki umur simpan yang pendek, sehingga kurang diminati oleh masyarakat. Selain itu konsumsi masyarakat terhadap beras terus meningkat, maka kemungkinan di masa yang akan datang mungkin saja dapat terjadi kekurangan beras yang disebabkan ketersediaan beras tidak mampu memenuhi kebutuhan manusia yang populasinya semakin meningkat, sehingga perlu diadakan diversifikasi pangan lokal tradisional dengan bahan baku yang mampu menggantikan beras yang ketersediaan jumlahnya banyak dan selalu tersedia salah satunya yaitu singkong yang diolah menjadi tiwul. Inovasi pangan juga memperpanjang umur simpan tiwul dan menarik minat masyarakat. BAHAN DAN METODE Bahan dalam penelitian ini adalah beberapa literature/jurnal internasional terkait tiwul dan produk Metode dalam penelitian ini adalah literature review terkait penelitian tiwul dan produk olahannya. Literature didapatkan pada media internet, google Disubmit: 26/07/2022 Diterima: 31/08/2022 scholar, dan researchGate. Terdapat 21 artikel . urnal dan prosidin. referensi yang digunakan dalam penulisan literature review ini. Selain itu, jurnal ini juga menggunakan data sekunder seperti hasil analisis kimia tiwul. Kriteria literature yang digunakan pada jurnal ini yaitu yang mengandung atau membahas mengenai tiwul/beras siger, pangan lokal, pangan fungsional, serta indeks glikemik pada produk olahan singkong. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara umum bahan dasar tiwul adalah Umbi singkong merupakan salah satu tanaman sumber karbohidrat alternatif yang banyak dikonsumsi di beberapa daerah di Indonesia sebagai pangan pokok pengganti nasi . Secara umum, tiwul dibuat melalui proses pencampuran tepung pengukusan, dan selanjutnya dikonsumsi. Tiwul yang dibuat dari ubi kayu tanpa tambahan bahan pangan lain mengandung protein 6,41%, lemak 1,28%, total mineral . 1,79%, dan air 6,30%. Di sisi lain produk tiwul telah banyak dimodifikasi sehingga menjadi makanan instan. Tiwul instan yang dikombinasikan dengan kacang koro pedang dan susu skim menghasilkan kadar protein 27-30%, kadar air 6,226,77%, kadar lemak 0,82-1,66%, dan kadar abu berkisar 1,18-1,89% . Tetapi produk tiwul instan memiliki lebih banyak perlakuan seperti direhidrasi sebelum dikeringkan, untuk selanjutnya jadi produk siap konsumsi . Upaya peningkatan nilai gizi tiwul, terutama kandungan proteinnya, perlu dilakukan fortifikasi terhadap tepung pembuatan tiwul seperti penggunaan tepung hasil pencampuran Dipublikasi: 28/9/2022 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 3 No. 1 Tahun 2022 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 beberapa macam tepung misalkan tepung dari nabati . egum, umbi, serealia, buah, sayur, dan lainny. dan tepung hewani . kan, tulang ikan, udang, telur, dan Hal ini perlu dilakukan untuk berbagai tujuan diantaranya peningkatan kandungan zat gizi, pemberi cita rasa, dan diversifikasi pangan tradisional . Potensi tiwul sebagai pangan fungsional juga diketahui memiliki kandungan serat yang cukup tinggi dengan kandungan kalori lebih rendah, hal tersebut menyebabkan tiwul memiliki pengaruh baik untuk pencernaan, rasa kenyang relatif lebih lama, dan mencegah peningkatan gula Tiwul juga memiliki manfaat dapat mencegah penyakit maag. Hal ini yang dapat membuat tiwul sangat berpotensi sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras karena banyak memberikan dampak kesehatan dan diharapkan juga mampu untuk menjaga ketahanan pangan nasional di Indonesia . Proses pembuatan tiwul terbagi menjadi dua yaitu tiwul klasik dan juga tiwul instan, proses pembuatan tiwul instan lebih kompleks dari proses pembuatan tiwul klasik akan tetapi perbedaannya tidak terlalu signifikan. Proses pembuatan tiwul instan sama halnya dengan tiwul klasik akan tetapi ketika sampai pada tahap pemasakan tiwul dijemur hingga menjadi sangat kering yang akhirnya disimpan pada tempat yang kedap udara. Secara umum proses cara pembuatan tiwul ada 3 proses yang pertama yaitu proses pembuatan adonan tiwul dimana pembuatan tiwul instan dilakukan dengan cara pencampuran antara mocaf, air hangat, gula dan garam, dan dilakukan pengadukan hingga Penambahan Disubmit: 26/07/2022 Diterima: 31/08/2022 dilakukan dengan memercikkan air ke gumpalan-gumpalan. Kemudian proses kedua yaitu pengukusan bahan yang sudah tercampur secara merata, proses ini dilakukan dengan pengukusan adonan selama A20 menit. Pengukusan dilakukan sampai terjadi perubahan warna dari putih menjadi kuning kecoklatan. Setelah itu proses ketiga yaitu pendinginan dilakukan dengan meletakkan dan meratakan tiwul pada lembaran anyaman bambu selama kurang lebih 12 jam . Inovasi umbi singkong yang diolah menjadi tiwul memerlukan waktu yang cukup lama sehingga kurang diminati oleh masyarakat . Upaya yang dapat dilakukan untuk menambah daya tarik masyarakat terhadap tiwul adalah dengan membuat beberapa produk inovasi tiwul seperti tiwul instan yang dibuat dari tepung ubi kayu dengan penambahan sedikit air, gula dan garam yang dicampur sampai homogen kemudian dibentuk granula yang selanjutnya dikukus selama 20Ae30 menit . Perbedaan antara pembuatan tiwul instan dengan tiwul biasa terletak pada tahap pengukusan dan beberapa tahapan Pada tiwul biasa proses pengukusan berlangsung selama kurang lebih 15 menit kemudian langsung disajikan, sedangkan pada tiwul instan proses pengukusan dilakukan selama kurang lebih 45 menit. Setelah pengukusan tiwul instan tidak langsung disajikan tetapi dilakukan pendinginan selama semalam dengan tujuan retrogradasi pati dan granulasi adonan. Setelah pendinginan selesai dilanjutkan tahap pengeringan dengan penjemuran dibawah sinar matahari langsung untuk mengurangi kadar air. Dipublikasi: 28/9/2022 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 3 No. 1 Tahun 2022 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 Kadar air tiwul instan rendah dibanding tiwul biasa sehingga umur simpannya lebih Cara mengkonsumsi tiwul instan dengan cara menambahkan air dingin dan mengukus adonan hingga matang. Pembuatan produk tiwul instan bertujuan sebagai salah satu upaya memodernisasi tiwul dalam rangka menarik minat masyarakat terhadap tiwul sebagai makanan khas tradisional Indonesia . Inovasi pengolahan tiwul selanjutnya adalah produk bakery yang dapat dibuat dari bahan berbasis tiwul instan seperti cookies . Tiwul instan yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan bakery digiling dan diayak dahulu menggunakan ayakan 60Ae80 mesh. Cara pembuatan cookies juga sangat mudah yaitu, bahan kering seperti tepung tiwul instan premium, terigu, pati jagung, tepung kentang, tepung singkong, susu, bahan pengembang, dan bubuk vanili dicampur menjadi satu dan diaduk merata lalu Kuning telur, gula, margarin, dan butter diaduk dengan mixer kecepatan rendah sampai sedang hingga adonan Bahan kering yang telah disiapkan sebelumnya ditambahkan lalu adonan diuleni hingga kalis dengan tangan. Sebagian adonan diambil, ditipiskan, dibentuk adonan sesuai selera dengan ketebalan A5 mm. Adonan cookies di tata dalam loyang, lalu di panggang dengan oven suhu 170AC selama 30Ae40 menit. Setelah matang, produk didinginkan, di simpan dalam toples kaca. Cookies dapat diberi hiasan berupa serutan keju, bubuk gula halus, atau dioles dengan kuning telur agar kenampakannya terlihat mengkilap dan menarik selera. Kandungan proksimat produk olahan tiwul . telah Disubmit: 26/07/2022 Diterima: 31/08/2022 Kadar proksimat produk cookies dalam berat basah . yaitu kadar air . ,8%), kadar protein . ,5%), kadar abu . ,6%), kadar karbohidrat . ,4%), kadar . ,7%) . Kandungan dibandingkan kandungan karbohidrat beras . ,6%) . Hal ini menandakan bahwa indeks glikemik cookies dari tiwul lebih rendah daripada beras. Diversifikasi pangan merupakan upaya untuk mendorong masyarakat agar menciptakan kreasi dan variasi makanan pokok yang dikonsumsi sehingga tidak terfokus pada satu jenis saja . Hal tersebut didukung dengan keberadaan teknologi internet yang semakin maju. Sehingga memudahkan produsen untuk menjual produk secara online . Tetapi, perlu perhatian khusus dari sisi konsumsi, karena kaitannya dengan kebiasaan yang tidak dapat diubah dalam waktu cepat. Pola konsumsi pangan seseorang menentukan perbedaan kebiasaan makan setiap orang . Bagi masyarakat Indonesia persoalan diversifikasi produksi dan konsumsi berbasis pangan lokal sudah sangat mendesak, dimana diversifikasi produksi pangan dapat menjadi salah satu cara adaptasi yang efektif untuk mengurangi risiko produksi akibat perubahan iklim dan kondusif untuk mendukung perkembangan industri pengolahan berbasis sumberdaya lokal, dan juga dapat menjadi alternatif konsumsi makanan pokok pengganti beras. Pada saat sekarang ini, isu ketahanan pangan merupakan bagian dari rencana induk program penelitian pemerintah tahun Hal ini erat kaitannya dengan industrialisasi bahan pangan agar menjadi Dipublikasi: 28/9/2022 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 3 No. 1 Tahun 2022 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 Selain pangan berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan tubuh manusia, lalu diandalkan untuk mencegah berbagai penyakit dan meningkatkan kesehatan konsumen, pangan juga harus dapat memiliki kualitas dan kuantitas yang kelangsungan hidup manusia kedepannya . Diversifikasi produk tiwul sejak zaman dahulu sudah dikenal penduduk Indonesia. Dalam 100 kg singkong ketika diolah menjadi tiwul akan menghasilkan 30-60 kg tergantung umur dan kadar air Semua jenis singkong bisa digunakan sebagai bahan dasar tiwul, namun jenis singkong tertentu perlu diperlakukan khusus untuk menurunkan kadar sianida seperti perendaman, pencucian, pengeringan, dan perlakuan proses termal yang sesuai standar yang baik sehingga berumur simpan yang lama dan tetap aman dikonsumsi . Potensi tiwul pengembangan diversifikasi pangan di Indonesia sangat tinggi. Pengolahan sejumlah 50% singkong di Indonesia . juta to. untuk dijadikan tiwul dengan produktivitas 30% akan menghasilkan A3. 000 ton tiwul. Jumlah tersebut mampu menutupi kekurangan beras sebagai makanan pokok di Indonesia serta berpeluang ekspor pangan lagi ke luar Ditambah lagi, permintaan tiwul disaat lebaran dan tahun baru . igh seaso. mengalami peningkatan sebanyak 50% . Berdasarkan data milik BPS tahun 2020. Indonesia masih mengimpor beras sebanyak A356. 286 ton beras dengan nilai mencapai USD 195,4 juta. Padahal dana sebesar itu jika dialokasikan untuk Disubmit: 26/07/2022 Diterima: 31/08/2022 teknologi pengolahan singkong menjadi tiwul cukup untuk memenuhi kekurangan tahun dengan memanfaatkan sumber daya alam, sumber daya teknologi, dan sumber daya manusia Indonesia yang sangat berpotensi saat ini. Disamping itu juga berdampak positif untuk masyarakat karena dapat membuka lapangan pekerjaan yang luas . Potensi tiwul sebagai pangan fungsional sangat besar. Definisi pangan fungsional menurut Perka BPOM Nomor HK. 09909 Tahun 2011 yakni pangan fungsional merupakan pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen pangan yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu diluar fungsi dasarnya, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi Tentunya, pangan fungsional tersebut harus dikonsumsi secara bervariasi dan teratur dalam menu diet . Tiwul memiliki potensi yang besar sebagai pengembangan pangan fungsional. Hal ini dikarenakan tiwul terbuat dari bahan baku berupa tepung umbi singkong/tepung gaplek serta memiliki indeks glikemik (IG) yang rendah karena jenis produk tiwul instan mengalami proses fermentasi . Bahan pangan yang berasal dari umbiumbian memiliki kandungan karbohidrat dan antioksidan flavonoid yang cukup tinggi, sehingga selain dapat digunakan sebagai pengganti nasi, tiwul instan dapat digunakan sebagai pangan fungsional yang meningkatkan kesehatan. Potensi tiwul direalisasikan ke dalam suatu produk yang dinamakan beras siger . Dipublikasi: 28/9/2022 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 3 No. 1 Tahun 2022 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 Beras siger merupakan produk dikembangkan melalui kerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung . Beras siger adalah produk beras singkong yang mengadopsi proses penampakan dan cita-rasa yang lebih baik. Produk beras siger pada dasarnya merupakan produk tiwul instan yang telah dimodernisasi karena diproses secara mekanik menggunakan mesin perajang, mesin penggiling tepung, dan granulator. Produk diproses dengan metode yang sama, beras siger ini memiliki kandungan gizi dan karakteristik fungsional yang sama dengan Beberapa varian beras siger memiliki nilai indeks glikemik yang cukup rendah, yakni berkisar antara 34,21-37,50. Indeks glikemik adalah respon glukosa darah terhadap makanan dibandingkan dengan respon glukosa darah terhadap glukosa Indeks glikemik berguna untuk menentukan respon glukosa darah terhadap jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi . Pangan dengan indeks glikemik rendah memiliki potensi sebagai pangan fungsional untuk pengganti makanan pokok beras bagi penderita diabetes mellitus yang kian hari semakin meningkat. Indeks glikemik yang rendah didasari atas tingginya kandungan serat kasar, serat pangan, pati resisten, serta rendahnya daya cerna pati pada tubuh yang bermanfaat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan manajemen gula darah pada penderita diabetes tipe 2 . Oleh karena itu baik produk tiwul maupun beras siger yang berasal dari bahan baku singkong sangat baik dijadikan sebagai alternatif Disubmit: 26/07/2022 Diterima: 31/08/2022 makanan pokok di Indonesia karena memiliki banyak manfaat kesehatan, kandungan gizi yang tinggi, harga yang lebih murah, dapat diolah menjadi banyak variasi produk sesuai inovasi dan kreasi, serta berpotensi menjadi pangan fungsional SIMPULAN Tiwul merupakan makanan yang berasal dari umbi singkong. Tiwul memiliki kandungan serat pangan, serat kasar, dan pati resisten yang rendah, tetapi memiliki daya cerna pati yang rendah. Telah diketahui inovasi, kreasi, dan variasi pangan seperti tiwul instan dan beberapa produk bakery dari tepung tiwul yang dapat difortifikasi dengan beberapa bahan lainnya sebagai upaya menghasilkan produk tiwul dengan kandungan gizi tinggi dan cita rasa yang diterima oleh konsumen. Kandungan indeks glikemik dan daya cerna yang rendah menjadikan produk tiwul berbagai varian menjadi produk turunan singkong yang sehat dan berpotensi sebagai pangan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT, serta terima kasih kepada kedua orang tua penulis. Terima kasih kepada Program Studi Teknologi Pangan. Fakultas Teknik. UPN AuVeteranAy Jawa Timur. Surabaya dan Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Siliwangi. Tasikmalaya yang telah banyak membantu penulis selama penulisan tulisan Selanjutnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan menyambut penulis dengan tangan terbuka, sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Dipublikasi: 28/9/2022 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 3 No. 1 Tahun 2022 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 KONFLIK KEPENTINGAN Penulis kepentingan, dan tidak ada afiliasi atau koneksi dengan atau dengan organisasi pertanyaan bias dalam diskusi dan kesimpulan naskah. REFERENSI