JURNAL FLYWHEEL. September 2023. Vol 14 . , 11-18 E-ISSN: 2745-7435 P-ISSN: 1979-5858 Analisis Penggunaan Vendor Managed Inventory Terhadap Minimasi Bullwhip Effect Pada Supply Chain Manufaktur Produk Infus D5. NS, dan RL (Studi Kasus: PT. MJB PHARMA Ae PASURUAN) 1,2,3 Muhammad Deniarsyah1. Silviana2. Chauliah Fatma Putri3 Fakultas Teknik. Jurusan Teknik Industri. Universitas Widyagama Malang Jl. Borobudur No. 35 Malang. Jawa Timur Email:silvi@widyagama. ABSTRAK PT. MJB Pharma merupakan perusahaan yang bergerak di bidang farmasi. Penghasilan terbesar yang didapatkan oleh perusahaan ini adalah berasal dari penjualan produk infus dengan tipe D5. NS, dan RL. Biasanya informasi mengenai permintaan konsumen terhadap suatu produk relatif stabil dari waktu ke waktu, namun permintaan dari toko ke penyalur . menuju ke pabrik jauh lebih fluktuatif dibandingkan dengan pola permintaan dari konsumen. Permintaan yang relatif stabil di tingkat pelanggan akhir berubah menjadi fluktuatif di bagian hulu supply chain dan semakin ke hulu peningkatan tersebut semakin besar yang disebut juga dengan bullwhip effect. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diantaranya bahwa error terkecil terdapat pada metode peramalan HoltAos Winter dengan parameter Level sebesar 0,5. Trend sebesar 0,2 dan Seasonal sebesar 0,6. Fenomena bullwhip effect pada data historis dapat diminimisasi dan dihilangkan dengan penerapan metode Vendor Managed Inventory (VMI) pada manufaktur dan setiap cabang distributor. Berdasarkan peramalan permintaan dan penentuan kebijakan jumlah pemesanan, maka didapatkan perkiraan nilai bullwhip effect yang terjadi setelah penggunaan VMI pada rantai pasok yakni 0,47036 pada level manufaktur, kemudian untuk level distributor dari masing - masing cabang adalah 0,713480715. 0,717343114. 0,669206602. dan 0,639086924. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh bahwa persediaan pada manufaktur dapat memenuhi kebutuhan dari masing Ae masing pelaku rantai pasok. Hal ini dapat diterapkan apabila terdapat kolaborasi aktif antar pelaku rantai pasok dengan melakukan pengendalian persediaan dan peramalan permintaan yang tepat. Kata Kunci : Bullwhip Effect. Peramalan. Vendor Managed Inventory (VMI). Pengendalian Persediaan. Kebijakan Pemesanan PENDAHULUAN Infus adalah salah satu produk kesehatan yang berperan penting dalam dunia kesehatan. dimana berguna untuk menggantikan zat gizi dalam tubuh berupa cairan yang secara langsung dialirkan ke seluruh tubuh melalui saluran pembuluh darah. Meningkatnya persaingan dalam penjualan produk infus memaksa pabrik untuk membuat prediksi atau ramalan yang akurat pada jumlah produksi yang perlu ditingkatkan di masa depan. Peramalan permintaan merupakan suatu kegiatan guna memperkirakan jumlah permintaan barang atau jasa tertentu selama periode dan daerah pemasaran Peramalan yang tidak akurat dapat menyebabkan distorsi informasi berupa bullwhip effect dalam suatu rantai PT. MJB Pharma merupakan perusahaan yang bergerak di bidang farmasi. Penghasilan terbesar yang didapatkan oleh perusahaan ini adalah berasal dari penjualan produk infus dengan tipe D5. NS, dan RL. Saat ini, perusahaan hanya meninjau jumlah produksi produknya dengan menggunakan informasi data yang tidak stabil yang didapatkan dari distributor, dalam hal ini distributornya adalah PT. Indofarma Global Medika dengan cabang dari daerah Jember. Surabaya. Malang1, dan Malang 2. Data demand atau data permintaan adalah data permintaan yang didapatkan dari hilir menuju ke hulu dalam rantai pasok, sedangkan data pemesanan atau order adalah data penjualan maupun data pesanan yang dibuat oleh cabang distributor dan diterima oleh perusahaan. Tidak adanya pengendalian persediaan pada PT. Indofarma Global Medika menyebabkan terjadinya variabilitas data permintaan dan pemesanan PT MJB Pharma di tahun 2020 dan 2021. Perbedaan data pemesanan dan permintaan yang cukup signifikan disebabkan karena tidak ada penyelarasan antar pelaku supply chain, sehingga pada rantai pasok tersebut dapat terjadi fenomena bullwhip effect. Berikut Tabel 1 adalah data jumlah permintaan dan juga data pemesanan produk infus dari PT. MJB Pharma dengan tipe infus D5. NS, dan RL selama 2 tahun yaitu tahun 2020 dan 2021. Muhammad Deniarsyah1. Silviana2. Chauliah Fatma Putri3 Tahun Tabel 1 Data Permintaan dan Pemesanan Produk Infus Tipe D5. NS, dan RL Bulan Permintaan . Pemesanan . Selisih Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Berdasarkan Tabel 1. 1 perbedaan data pemesanan dan permintaan pada manufaktur yang cukup signifikan pada tiap periode tersebut diperoleh dikarenakan tidak terdapat sinkronisasi antara para pelaku rantai pasok, sehingga fenomena yang disebut dengan Bullwhip effect bisa saja terjadi pada rantai pasok pabrik tersebut. Untuk menentukan apakah terdapat Bullwhip effect pada data tersebut, perlu dihitung nilai koefisien variansi dari masing-masing data, baik data permintaan maupun data. Oleh karena itu, maka cara yang diambil untuk mengurangi dampak dari Bullwhip effect dapat dilakukan dengan perencanaan persediaan dengan menggunakan metode Vendor Managed Inventory . Manfaat dari VMI itu sendiri adalah mengurangi terjadinya stock out, mengurangi persediaan, dan meningkatkan konsistensi pada pengiriman produk jadi. TINJAUAN PUSTAKA 1 Bullwhip Effect Bullwhip effect merupakan fenomena dimana terjadi peningkatan ketidakstabilan atau fluktuasi pesanan pada upstream rantai pasok dan semakin ke upstream peningkatannya semakin besar, tapi kenyataannya pemintaan pada ritel mengarah konstan. Konsep dari bullwhip adalah situasi yang terjadi dalam rantai pasok, dimana permintaan pelanggan berubah, baik semakin banyak atau semakin sedikit, perubahan ini menyebabkan distorsi permintaan pada setiap langkah dalam rantai pasok. Distorsi ini berdampak bagi keseluruhan efek dari kondisi ini, yaitu data permintaan yang semakin tidak akurat. 1 Penyebab Bullwhip Effect Lima penyebab utama yang menimbulkan bullwhip effect, antara lain . Demand Forecasting Pembaharuan ramalan permintaan berdampak pada tingkat akurasi peramalan karena perusahaan mengetahui informasi terbaru mengenai permintaan pelanggan dan situasi pasar yang sebenarnya. Lead Time Lead time yang lebih lama akan menyebabkan perubahan yang signifikan pada safety stock, reorder level, dan order quantities, sehingga variabilitas dalam supply chain dapat meningkat. Batch Ordering Pola pesanan yang dihasilkan menjadi sangat berfluktuasi, yang juga akan menghasilkan variabilitas yang lebih besar dalam supply chain. Fluktuasi Harga Ketika harga turun, pelanggan akan membeli dalam jumlah besar. Jika harga meningkat, pelanggan menunda pembelian hingga barang persediaannya habis terjual kembali. Akibatnya, permintaan tidak menggambarkan perilaku konsumsi pelanggan. Analisis Penggunaan Vendor Managed Inventory Terhadap Minimasi Bullwhip Effect Pada Supply Chain Manufaktur Produk Infus D5. NS, dan RL Perubahan Pemesanan Perubahan terhadap jumlah pemesanan yang sewaktu - waktu berubah dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi dan distorsi dalam peramalan jumlah permintaan. 2 Pengurangan Bullwhip Effect Bullwhip effect dapat dikurangi atau diatasi dengan beberapa pendekatan, antara lain: Information Sharing Model kerjasama CPFR (Collaborative. Planning. Forecasting. Replenishmen. adalah pemecahan yang baik untuk penyelarasan informasi bagi semua pelaku. Salah satu konsep CPFR yang mewujudkan kerjasama yang erat antara produsen dengan distributor yakni Vendor Managed Inventory. Mengubah Struktur Supply Chain Dengan struktur supply chain yang lebih pendek, perusahaan dapat menerima pesanan langsung dari konsumen akhir sehingga perusahaan dapat menemukan pola permintaan yang sebenarnya. Pengurangan Biaya - Biaya Tetap Biaya tetap yang terlalu tinggi menyebabkan tidak bisa melakukan distribusi barang dalam jumlah kecil. Beberapa hal yang diperlukan guna meminimasi waktu setup produksi, mengurangi lot pemesanan, dan berinovasi dalam pengelolaan distribusi dan transportasi. Menciptakan Stabilitas Harga Penyediaan harga diskon untuk distributor eceran harus dikurangi sehingga tidak menuju ke arah penurunan harga yang terus menerus. Atau jika promosi dilakukan, semua pihak dalam rantai pasok perlu mengerti kondisi itu. 2 Vendor Managed Inventory Vendor Managed Inventory adalah salah satu pendekatan dalam supply chain guna mendapat profit yang kompetitif melalui rantai pasok yang efektif, dimana supplier bertanggung jawab untuk mengelola inventori pelanggan melalui arus informasi diantara masing-masing pelaku . VMI merupakan sistem untuk mengoptimalkan kinerja supply chain, dimana pemasok memiliki akses ke data persediaan pelanggan, sekaligus bertanggung jawab untuk mengontrol tingkat persediaan pelanggan. Manajemen Vendor Managed Inventory yang baik dapat meningkatkan kinerja pada supply chain dengan mengurangi inventory level dan meningkatkan frekuensi pengadaan ulang produk . VMI bermanfaat untuk mengurangi biaya penyimpanan, meningkatkan tingkat pelayanan pelanggan dengan mengurangi waktu siklus pemesanan produk, dan meningkatkan frekuensi pengubahan atau penambahan jumlah inventori. Penerapan VMI mensyaratkan adanya keterbukaan dalam informasi . nformation sharin. yang berkaitan dengan tingkat persediaan dan besarnya jumlah permintaan pelanggan dari ritel ke supplier. Dengan ini, supplier dapat merencanakan jadwal produksi, jadwal pengiriman barang, pemenuhan persediaan ritel, merencanakan pembelian, dan proses logistik lainnya dengan lebih baik lagi. 3 Peramalan Peramalan merupakan perkiraan, proyeksi, estimasi atau prediksi terjadinya peristiwa yang tidak pasti di masa Kegunaan peramalan adalah membantu pada pengendalian persediaan agar persediaan barang tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit, membantu dalam memantau pengeluaran, bisa meningkatkan semangat kerja pekerja melalui perancangan yang baik, bisa mengurangi biaya startup dan shutdown karena sudah mengetahui kegiatan yang akan . Dalam penelitian ini menggunakan 3 metode peramalan diantaranya metode Moving Average. HoltAos Winter, dan Exponential Smooting. Dengan mempertimbangkan nilai error dari masing-masing metode untuk dipilih yang terkecil, diantaranya terdiri dari Mean Squared Error (MSE). Mean Absolute Percentage Error (MAPE), dan Mean Absolute Deviation (MAD). 4 Pengendalian Persediaan Metode VMI menerapkan strategi pengelolaan persediaan dengan sistem order point, order quantity . ,Q). Dimana pemesanan dilakukan saat jumlah persediaan terletak pada atau dibawah titik order point . untuk barang dengan Order Quantity (Q). Jumlah Q selalu sama ketika melakukan pemesanan. Kelebihan dari sistem ini yaitu mudah digunakan, karena sederhana dan lebih mudah dipahami oleh pegawai perusahaan. Namun untuk kekurangannya yaitu jika jumlah permintaan lebih besar, terkadang persediaan tidak dapat terpenuhi karena jumlah Order Quantity (Q) yang selalu sama. Perhitungan pengendalian persediaan yang akan digunakan berupa reorder point . , nilai maksimum persediaan (S), order cost, holding cost, stock awal, lead time, dan data permintaan bulanan pelanggan dari distributor yang digenerate menjadi permintaan mingguan yang didapatkan dari pembangkitan bilangan acak dengan menggunakan simulasi Monte Carlo. Mengenai input awal data order cost . iaya pemesana. , holding cost . iaya penyimpana. , stock awal, dan lead time . aktu tungg. adalah data yang didapatkan dari perusahaan. Muhammad Deniarsyah1. Silviana2. Chauliah Fatma Putri3 METODOLOGI PENELITIAN 1 Pendahuluan Tahap pendahuluan ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu: Studi Lapangan Identifikasi Masalah Perumusan Masalah Studi Literatur Penetapan Tujuan Penelitian 2 Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan yaitu terdiri dari data primer dan data sekunder. Dalam penelitian ini data primer yaitu data permintaan dan aktual pemesanan produk infus tipe D5. NS, dan RL selama tahun 2020 dan 2021 3 PENGOLAHAN DATA Setelah mendapat data yang diperlukan, langkah berikutnya adalah mengolah data dengan menggunakan metode VMI dengan urutan sebagai berikut. Mengidentifikasi sistem rantai pasok perusahaan. Menghitung nilai bullwhip effect data historis setiap level rantai pasok sebelum menerapkan VMI. Menghitung nilai error peramalan dan memilih metode peramalan yang sesuai. Menghitung kebijakan jumlah pemesanan menggunakan VMI dengan rumus EOQ. Menghitung pengendalian persediaan seperti safety stock, reorder point, dan persediaan maksimum setiap pelaku dalam rantai pasok. Menghitung nilai bullwhip effect setelah menerapkan VMI. 4 Analisis dan Pembahasan Hasil dari pengolahan data selanjutnya dianalisa untuk mengetahui akar sebab beserta penyelesaian permasalahan bullwhip effect. Nilai-nilai bullwhip effect dihitung dan dirampungkan dengan menggunakan Vendor Managed Inventory (VMI) dan pengendalian persediaan untuk kemudian hasil akhirnya dianalisa kembali. 5 KESIMPULAN DAN SARAN Dalam penelitian ini kesimpulan didapatkan dari hasil pengumpulan data, pengolahan data, dan analisa yang menjawab tujuan penelitian yang telah ditentukan. Sedangkan saran merupakan masukan bagi penelitian mendatang yang berupa perbaikan dalam meminimasi nilai bullwhip effect berdasarkan optimalisasi rantai pasok ataupun pengembangan dari penelitian yang sudah dilakukan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan. 6 Diagram Alir Penelitian Diagram Alir Pelaksanaan dalam penelitian ini mencakup beberapa tahapan, yaitu tahap pendahuluan, pengumpulan data, pengolahan data, analisa dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran. Diagram alir penelitian disajikan pada Gambar 1. Analisis Penggunaan Vendor Managed Inventory Terhadap Minimasi Bullwhip Effect Pada Supply Chain Manufaktur Produk Infus D5. NS, dan RL Gambar 1. Diagram Alir ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1 Analisis Perbandingan Nilai Bullwhip effect pada Rantai Pasok PT. MJB Pharma Berdasarkan hasil penerapan metode VMI, distorsi informasi dapat diminimasi karena dilakukannya peramalan actual demand yang akurat dan secara berkala oleh perusahaan, dan perusahaan nantinya yang memutuskan jumlah produk yang akan dikirimkan ke setiap cabang distributor berdasarkan hasil perhitungan kebijakan pemesanan optimal. Hal tersebut mencerminkan sudah terjadi information sharing yang berbentuk kolaborasi antara pihak vendor dengan distributor dalam hal planning, forecastingA serta pemenuhan kebutuhan pelanggan. Mengenai hasil penggunaan metode VMI, fenomena bullwhip effect bisa dikurangi dan bahkan tidak ada karena nilai bullwhip effect nilainya berada di bawah nilai parameter, sehingga penggunaan metode Vendor Managed Inventory merupakan penyelesaian yang tepat dalam mengurangi nilai bullwhip effect pada penelitian ini. Perbandingan hasil perhitungan nilai bullwhip effect antara sebelum dengan setelah menerapkan metode VMI menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan dan disajikan pada Tabel 2 Tabel 2. Perbandingan Nilai Bullwhip Effect Pelaku Nilai Bullwhip Effect Nilai Bullwhip Sebelum Setelah Effect VMI VMI Manufaktur 1,647229 0,47036 Jember 1,267261 0,71348 1,038733 Surabaya 1,306131 0,71734 Muhammad Deniarsyah1. Silviana2. Chauliah Fatma Putri3 Malang 1 1,949410 0,66920 Malang 2 1,559620 0,63908 2 Analisis Penyebab Bullwhip effect dan penerapan Metode Vendor Managed Inventory (VMI) Berdasarkan Tabel 2, dapat diamati jika ada perbedaan nilai Bullwhip effect yang cukup relevan antara sebelum dengan sesudah menggunakan metode VMI. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan bahwa ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab terjadinya Bullwhip effect antara lain perbandingan dari dampak penggunaan VMI dalam penyebab bullwhip effect disajikan pada Tabel 3. Penyebab Order Batching Rationing and Shortage Gaming Tabel 3. Dampak VMI dalam Penyebab Bullwhip Effect Sistem Rantai Pasok Sebelumnya Sistem Rantai Pasok dengan VMI Tidak terkontrol, sehingga menimbulkan Sudah terkontrol, proses produksi menjadi adanya permintaan yang fluktuatif dan lebih efisien jika menggunakan model (EOQ), membuat permintaan konsumen tidak dengan mempertimbangkan biaya pesan dan sepenuhnya dapat dipenuhi oleh manufaktur. biaya simpan, sehingga permintaan konsumen dapat terpenuhi. Tidak terkontrol, karena manufaktur akan Sudah terkontrol, dimana manufaktur akan memenuhi seratus persen pemesanan ketika memenuhi pemesanan dengan menggunakan terjadi permintaan aktual yang lebih tinggi persediaan atau Safety Stock yang telah dan pelaku supply chain di bagian upstream diakumulasikan berdasarkan model EOQ tidak bisa memperoleh informasi pasar yang sebelumnya, sehingga tidak merusak sistem mendekati kondisi real, sehingga dapat rantai pasok. merusak sistem rantai pasok. Information sharing dapat berjalan dengan baik karena adanya kontrol terpusat yang dilakukan oleh vendor dengan cabang distributor. Informasi mengenai permintaan aktual dari pelanggan akhir merupakan fokus informasi yang utama. Sedangkan untuk perbandingan aliran informasi antara sebelum dengan setelah menerapkan metode Vendor Managed Inventory disajikan pada Tabel 4. dan untuk perbandingan antara sistem pengendalian persediaan sebelum dengan sesudah penerapan metode Vendor Managed Inventory disajikan pada Tabel 5. Tabel 4. Aliran Informasi dalam Rantai Pasok Aliran Informasi sebelum VMI Aliran Informasi dengan VMI Sejumlah permintaan dari konsumen diterima oleh Sejumlah permintaan dari konsumen diterima oleh masing-masing cabang distributor yang kemudian masing-masing cabang distributor yang kemudian informasi tersebut diolah kembali oleh cabang informasi tersebut diolah oleh cabang distributor distributor sebelum dikirimkan ke administrasi di sebelum dikirimkan ke administrasi di distributor pusat distributor pusat dan juga ke perusahaan. Informasi dan juga ke perusahaan tanpa mengubah jumlah pesanan mengenai jumlah permintaan yang telah diolah oleh dari konsumen. Informasi yang diterima oleh perusahaan cabang distributor dikirimkan ke perusahaan sehingga nantinya berupa jumlah permintaan real dari konsumen. jumlahnya tidak sesuai dengan yang diminta oleh Masing-masing cabang distributor tidak memberikan Masing-masing cabang distributor informasi mengenai jumlah persediaan yang masih informasi mengenai jumlah persediaan yang masih tersedia di cabang tersebut. tersedia dan juga kapasitas penyimpanan maksimumnya. Perusahaan mengonfirmasi jumlah pesanan dan Perusahaan mengonfirmasi jumlah pesanan dan juga menggunakan jumlah pesanan serta hasil peramalan dari informasi persediaan masing-masing cabang sebelum perusahaan itu sendiri untuk memproduksi sejumlah mengirimkan produk infus. Pengiriman dilakukan produk infus sebelum dikirimkan ke cabang distributor apabila jumlah persediaan pada cabang distributor sudah untuk disampaikan kepada konsumen. mencapai titik reorder point. Parameter Sistem Pendataan Tabel 5. Perbandingan Sistem Pengendalian Persediaan Existing Usulan Pendataan yang berupa berkas Pendataan dapat dilakukan secara terpusat dikelola pengajuan pemesanan, dan belum langsung oleh vendor sehingga distorsi informasi terpusat sehingga pengelolaan data untuk kebijakan pemesanan bisa saja tidak terjadi dilakukan oleh masing Ae masing pelaku kembali. mengakibatkan terjadinya distorsi informasi antar para pelaku rantai Analisis Penggunaan Vendor Managed Inventory Terhadap Minimasi Bullwhip Effect Pada Supply Chain Manufaktur Produk Infus D5. NS, dan RL Sistem Pengolahan Data Jumlah Persediaan Tidak pemesanan, sehingga sejumlah order dipenuhi dengan berdasar pada jumlah yang diminta oleh cabang distributor. Perkiraan jumlah order didapat dari jumlah pemesanan yang dilakukan cabang distributor dengan peramalan yang dilakukan per 12 bulan oleh pihak marketing perusahaan. Jumlah disesuaikan jumlah peramalan yang telah dilakukan oleh pihak marketing Tidak ada informasi mengenai jumlah persediaan dan kapasitas persediaan maksimum dari Metode peramalan dengan error terkecil dilakukan oleh pihak vendor untuk mengurangi adanya fluktuasi permintaan. Terdapat perhitungan kebijakan pemesanan yang optimal yang sesuai dengan peramalan jumlah permintaan. Melakukan sistem order point, order quantity, mengirimkan informasi mengenai kapasitas persediaan mereka guna perusahaan dapat mencapai persediaan maksimum mereka sehingga dapat diperkirakan tidak terjadi stock out. 3 Analisis Pengendalian Persediaan dan Usulan Desain Pengelolaan Persediaan pada Rantai Pasok PT. MJB Pharma Berdasarkan usulan atau saran perancangan sistem pengendalian persediaan sebelumnya, maka dapat dirangkum dan diamati perbandingan antara sistem pengendalian persediaan sebelum dengan sesudah penerapan VMI pada Tabel 6 Parameter Sistem Pendataan Tabel 6 Perbandingan Sistem Pengendalian Persediaan sebelum dengan sesudah penerapan VMI Existing Usulan Pendataan yang berupa berkas pengajuan pemesanan. Pendataan dapat dilakukan secara terpusat dikelola dan belum terpusat sehingga pengelolaan data langsung oleh vendor sehingga distorsi informasi dilakukan oleh masing Ae masing pelaku rantai pasok untuk kebijakan pemesanan bisa saja tidak terjadi sehingga bisa mengakibatkan terjadinya distorsi informasi antar para pelaku rantai pasok. Sistem Pengolahan Data Tidak menghitung kebijakan pemesanan, sehingga Metode sejumlah order dilakukan oleh pihak vendor untuk mengurangi dipenuhi dengan berdasar pada jumlah yang diminta oleh cabang distributor. Terdapat Perkiraan jumlah order didapat dari jumlah perhitungan kebijakan pemesanan yang optimal pemesanan yang dilakukan cabang distributor dengan yang sesuai dengan peramalan jumlah permintaan. peramalan yang dilakukan per 12 bulan oleh pihak marketing perusahaan. Jumlah persediaan perusahaan disesuaikan jumlah Melakukan sistem order point, order quantity, peramalan yang telah dilakukan oleh pihak marketing Jumlah Tidak ada informasi mengenai jumlah Persediaan persediaan dan kapasitas persediaan maksimum dari mencapai persediaan maksimum mereka sehingga dapat diperkirakan tidak terjadi stock out. Muhammad Deniarsyah1. Silviana2. Chauliah Fatma Putri3 SIMPULAN DAN SARAN 1 SIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian pada PT. MJB Pharma adalah sebagai berikut : Berdasarkan hasil perhitungan nilai Bullwhip effect pada data historis tahun 2020 dan 2021 sebelum menggunakan VMI di level manufaktur adalah 1,971874089 (Tahun 2. dan 1,647229604 (Tahun 2. dan nilai Bullwhip effect pada data historis tahun 2020 dan 2021 di level distributor dari 4 cabang distributor adalah 1,67396634, 1,073786149, 2,130690481, 1,5863618 (Tahun 2. dan 1,267261802, 1,306131464, 1,94941044, 1,55962034 (Tahun 2. Berdasarkan hasil perhitungan nilai Bullwhip effect pada data historis 2021 sesudah menggunakan VMI di level manufaktur adalah 0,47036, kemudian untuk level distributor cabang Jember. Surabaya. Malang, dan Malang 2 setelah penerapan VMI berdasarkan data peramalan untuk tahun 2021 adalah 0,713480715. 0,717343114. 0,669206602. dan 0,639086924. Berdasarkan Analisa perbandingan nilai Bullwhip effect sebelum dan sesudah menggunakan metode Vendor Managed Inventory (VMI) pada masing-masing pelaku rantai pasok yang sebelumnya terjadi bullwhip effect yang signifikan, sekarang dapat diminimasi melalui peramalan dari permintaan aktual data historis tahun 2020 dan melalui penentuan kebijakan pemesanan dan pengendalian persediaan. Rekomendasi yang dapat diberikan antara lain penerapan sistem pendataan terpusat, dimana seluruh kontrol terhadap jumlah permintaan aktual konsumen, jumlah persediaan distributor, jadwal dan jumlah produk yang didistribusi dikelola langsung oleh pihak perusahaan. Pada bagian sistem pengolahan data dapat menerapkan pemilihan metode peramalan dan juga pengendalian persediaan dengan menerapkan kebijakan pemesanan. Kemudian perusahaan dapat menerapkan sistem order point, order quantity, dimana setiap cabang distributor wajib mengirimkan informasi mengenai kapasitas persediaan mereka guna perusahaan dapat mencapai persediaan maksimum mereka sehingga dapat diperkirakan tidak terjadi stock out. 2 SARAN Saran yang dapat diberikan dari penelitian pada PT. MJB Pharma adalah sebagai berikut : Perusahaan dapat menerapkan Vendor Managed Inventory (VMI), dan pengendalian persediaan pada sistem Supply chain yang sudah terbentuk. Menjalin kerjasama yang lebih erat antar pelaku dalam Supply chain dengan Information Sharing. Hal ini dilakukan guna meningkatkan keuntungan baik bagi pihak manufaktur maupun distributor, karena perencanaan dilakukan secara bersama untuk setiap elemen dalam Supply chain . Perusahaan harus melakukan survei atau pendataan secara berkala ke konsumen dan distributor guna mendapatkan data permintaan produk yang lebih akurat. Sebaiknya pengujian data permintaan menggunakan metode Forecasting yang mempunyai nilai error yang paling rendah, dan tidak dibatasi dengan metode Forecasting yang memperhatikan pola data saja. Pengelolaan dan pengendalian persediaan dengan sistem order point, order quantity . ,Q) diterapkan guna mengantisipasi terjadinya fluktuasi jumlah permintaan sewaktu-waktu, dengan melakukan order point, order quantity sehingga diperoleh persediaan maksimum yang dapat disimpan oleh distributor dan vendor untuk memenuhi jumlah permintaan konsumen. DAFTAR PUSTAKA