HIPOSUBJEKTIVITAS TIMOTHY MORTON: SEBUAH TAWARAN FILSAFAT MANUSIA DI ERA ANTROPOSEN Pascasarjana Fakultas Filsafat. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta E-mail: devananta. r@mail. Abstract: This article proposes a new alternative account to anthropocentric explanations of the philosophy of man through Timothy MortonAos view of AohyposubjectivityAo. Anthropocentrism is a paradigm that privileges human beings in cosmology, epistemology, and axiology. alternative view is important because large-scale changes are threatening and may lead to the extinction of life in the biosphere, which results in a new proposed geological time classiycation that shifts the Holocene epoch to the Anthropocene. Ironically, while the anthropocentric view proves its premise on human dominance over non-human conditions, this change has in fact made humans powerless in the face of the change itself. Through the concept of hyposubjectivity. Morton offers an explanation of the relationship between humans and nonhumans as a symbiotic collective that should work together through solidarity between Aospecies beingsAo. This article wants to emphasize the meaning that human being does not constitute the totality of the universe. Keywords: hyposubjectivity, hiperobjectivity, new materialism, anthropocentrism. Anthropocene. Timothy Morton, ecology Abstrak: Melalui pandangan Timothy Morton tentang AohiposubjektivitasAo, artikel ini mencoba memberikan alternatif baru terhadap ylsafat manusia yang tidak antroposentris. Antroposentrisme sendiri merupakan paradigma yang memberikan keistimewaan bagi manusia secara kosmologis, epistemik, dan aksiologis. Pandangan alternatif penting karena krisis lingkungan skala besar sedang terjadi dengan akibat kehidupan pada biosfer terancam punah hingga memunculkan usulan klasiykasi waktu geologis baru: dari kala Holosen menjadi Antroposen. Secara ironis, kala Antroposen menunjukkan di satu sisi kebenar293 Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. an premis antroposentris bahwa kedigdayaan manusia telah berhasil mengintervensi kondisi non-manusia, tetapi di sisi lain perubahan ini kemudian justru membuat manusia tidak berdaya di hadapan krisis yang diakibatkannya sendiri. Melalui konsep hiposubjektivitas. Morton menawarkan penjelasan relasi antara manusia dan non-manusia sebagai suatu kolektif simbiotis yang seharusnya saling bekerja sama melalui solidaritas antara Aomakhluk spesiesAo. Dengan demikian, artikel ini menekankan pemaknaan bahwa manusia bukanlah segala-galanya di semesta ini. Kata-kata Kunci: hiposubjektivitas, hiperobjektivitas, materialisme baru, antroposentrisme. Antroposen. Timothy Morton, ekologi PENDAHULUAN Salah satu karakter manusia modern yang membedakannya dari para pendahulunya ialah pemaknaan dan sikapnya terhadap alam1: manusia pramodern membiarkan alam Ausebagaimana adanyaAy . ust as it i. , sehingga manusia bersikap menerima serta tunduk terhadap kehendak atau hukumnya. Ini berbeda dengan manusia modern yang memaknai alam sebagai objek untuk ditundukkan atau dikendalikan demi memenuhi segala keperluan manusiawi. Hubungan tak seimbang antara manusia sebagai penguasa dan alam sebagai entitas non-manusia yang dikuasai ini bisa ditilik hulunya dari suatu pemahaman ylsafat yang bersifat antroposentris . nthropocentric philosoph. : manusia sebagai pusat semesta . osmologi/metaysik. , diskursus manusia sebagai satu-satunya penjelas dunia . , dan kepentingan manusia sebagai basis penilaian segalanya . 2 Keistimewaan ini didapat melalui pengejawantahan sifat antroposentris dari cabang ylsafat khusus berupa ylsafat manusia yang Au. hendak mencari John Dewey. Quest for Certainty (New York: G. PutnamAos Sons, 1. , p. Cerkvenik dikutip dalam Rangga Kala Mahaswa and Agung Widhianto. AuQuestioning the AoAnthroposAo in the Anthropocene: Is the Anthropocene Anthropocentric?Ay SHS Web of Conferences no. : 01040, pp. 4Ae6, https://doi. org/10. shsconf/20207601040. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 inti, hakikat . , akar, atau struktur dasar yang melandasi kenyataan Ay3 Ilustrasi ylsafat manusia yang antroposentris ini bisa disimak dari anekdot Galileo yang diutarakan ulang satu waktu oleh Michel Serres. Alkisah Galileo berkelakar ketika teori heliosentrisme ditolak oleh inkuisisi Gereja Katolik. AuEppur si muove!Ay Ia bergerak! Bumi terus bergerak sesuai dengan lintasannya mengelilingi matahari. apa pun konsepsi manusia terhadapnya tidak akan bisa menghentikan gerak alamiah sang Bumi, termasuk ketika Gereja Katolik berpandangan bahwa bumi tinggal tetap. Cerita ini bukan hanya perihal problem penerimaan atas fakta ilmiah dari suatu kelompok karena ideologinya, tetapi juga narasi naif kedigdayaan penafsiran manusia yang diasumsikan serba tahu terhadap alam. Dalam kasus ini, manusia tidak memiliki cukup AukuasaAy untuk menghentikan revolusi Bumi hanya karena manusia mengandaikannya secara spekulatif. Pararel dengan cerita ini, di era kontemporer, ketika kontroversi konsep Antroposen sebagai kategori pembabakan waktu geologis menyeruak, diktum Aueppur si muove!Ay kembali beresonansi. Pada tahun 2000, ahli kimia Paul Crutzen dan ahli biologi Eugene Stoermer menulis bahwa perlu ada pembabakan waktu terbaru Antroposen setelah kala/ epos Holosen sebagai penanda atas intensitas aktivitas manusia yang telah mengubah alam sedemikian rupa. 5 Secara resmi, pada 2023 proposal tentang kala Antroposen diajukan kepada International Commission on Stratigraphy (ICS) dan International Union of Geological Sciences (IUGS) untuk diratiykasi atau Audiresmikan kebenaran ilmiahnyaAy. Bukti alami, atau istilahnya golden spike, yang dipakai untuk menunjukkan peralihan waktu geologis ini adalah endapan Danau Crawford di dekat Kota Supriyono Purwosaputro and Agus Sutono. AuFilsafat Manusia Sebagai Landasan Pendidikan Humanis,Ay CIVIS: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Kewarganegaraan vol. 10, no. , p. Dikutip dalam Bruno Latour. AuAgency at the Time of the Anthropocene,Ay New Literary History vol. 45, no. , pp. 2Ae3, https://doi. org/10. 1353/nlh. Paul Crutzen and Eugene Stoermer. AuThe Anthropocene,Ay Global Change Newsletter no. 41, 2000. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. Toronto. Kanada, yang mengandung polutan hasil gas pembakaran bahan bakar minyak dan jejak plutonium sebagai hasil percobaan nuklir. Namun, proposal ini ditolak pada Maret 2024, sehingga Antroposen gagal menjadi suatu Aukenyataan ilmiahAy. Penolakan ini menimbulkan pertanyaan awam: Bukankah dengan atau tanpa kesepakatan para ilmuwan, fakta ilmiah tentang adanya perubahan endapan di Danau Crawford sudah menunjukkan bukti telah terjadinya perubahan alam akibat aktivitas manusia yang eksesif? Ada perdebatan ilmiah spesiyk terkait geologi dalam diskursus Antroposen ini yang tidak akan dibahas lebih lanjut di sini. Kenyataannya, walaupun Antroposen diinvalidasi, tetapi AoAntroposenAo pun tidak akan pergi dalam waktu dekat. Pernyataan resmi dari IUGS bahkan menyebutkan Antroposen, sebagai suatu istilah Au. tetap akan menjadi penjelas yang tak ternilai bagi interaksi antara manusia dan lingkungan. Ay7 Jadi walaupun memang Antroposen tidak menjadi absah sebagai satuan waktu geologi, tetapi ia tetap menjelaskan bukti fenomena sosial di Bumi yang terdokumentasi secara arkeologis. Pemaknaan seperti ini sudah diantisipasi Jan Zalasiewicz selaku ketua Anthropocene Working Group (AWG) jauh-jauh hari bahkan sebelum pengajuan proposal di 2023. AuRintangan berasal dari interpretasi Antroposen yang berbeda-beda tergantung dari orang yang memikirkannya. Ay 9 Lalu, penolakan tadi jadi bisa dimaknai sebagai kemenangan pemaknaan Antroposen sebagai versi kemewaktuannya manusia dan bukannya kemewaktuan Bumi. Antroposen diartikan tidak lagi Ausebagai lapisan batu. Alexandra Witze. AuThis Quiet Lake Could Mark the Start of A New Anthropocene Epoch,Ay Nature vol. 619, no. , pp. 441Ae442, https://doi. org/10. 1038/d41586023-02234-z. Alexandra Witze. AuItAos Final: The Anthropocene Is Not An Epoch. Despite Protest Over Vote,Ay Nature. March 20, 2024, https://doi. org/10. 1038/d41586-024-00868-1. Kieran D. OAoHara. A Brief History of Geology (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , p. Bernard Evan Kanigara. Sanya Dinda, and Jan Zalasiewicz. AuJan Zalasiewicz: AuMasalahnya Bukan Terlalu Sedikit Bukti. Melainkan Terlalu BanyakAy,Ay Balairung: Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia vol. 1, no. , p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 tetapi lebih sebagai dinamika sosial, manusia, ekonomi, politik, dan halhal lainnya yang justru menyetir perubahan dalam Antroposen,Ay lanjut Zalasiewicz. Ambivalensi ini tentu membingungkan, paling tidak terkait status ontologis dari Antroposen itu sendiri. Terlebih lagi. Antroposen juga menuntut penjelasan atas keterangan posisi manusia di alam semesta dan sikap ylsafat manusia terhadap entitas non-manusia . he nonhuma. Apakah kekalahan pemerian tentang kuasa intervensi kemanusiaan terhadap alam berarti klaim antroposentrisme manusia modern tidak absah, karena AubuktiAy geologisnya ditolak para ilmuwan? Namun, jika mengikuti Zalasiewicz di atas, apakah berarti makna hegemonik Antroposen pasca-keputusan IUGS adalah lebih cenderung perihal Audinamika sosial, manusia, ekonomi, dan politikAy yang tidak perlu menunggu bukti perubahan endapan lumpur ataupun batuan di alam bebas? Mari kembali mengingat kata Galileo. AuEppur si muove!Ay Bumi telah beranjak ke titik nadir, karena ancaman kepunahan kehidupan akibat kehancuran biosfer tempat manusia dan non-manusia tinggal. Dengan atau tanpa AulegalitasAy Antroposen, pemanasan global dan krisis iklim yang terjadi tetap akan mengakibatkan kepunahan bagi makhluk yang tidak berhasil beradaptasi. 11 Secara ironis Antroposen berhasil mengontraskan Au[. ] makhluk manusia yang merupakan penggerak utama alam . tidak bisa mengendalikan efeknya secara berkelanjutan. Ay12 Ancaman kiamat di waktu Antroposen ini seolah menguak bahwa manusia tetap tidak berdaya di hadapan kekuasaan alam sebagai entitas non-manusia. Artinya, perlu ada sintesis ylsafat manusia baru yang bisa digunakan untuk memandu manusia di kalabendu ini ketika status ontologis alam tidak sepenuhnya alamiah dan manusia juga mengalami daru10 Kanigara. Dinda, and Zalasiewicz. AuJan Zalasiewicz: AoMasalahnya Bukan Terlalu Sedikit Bukti. Melainkan Terlalu BanyakAo,Ay p. 11 Soren Brothers. AuAnthropocene or Not. It Is Our Current Epoch That We Should Be Fighting For,Ay The Conversation. March 27, 2024, https://theconversation. com/anthropocene-or-not-it-is-our-current-epoch-that-we-should-be-yghting-for-225428. 12 Mahaswa and Widhianto. AuQuestioning the AoAnthroposAo in the Anthropocene: Is the Anthropocene Anthropocentric?Ay p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. rat kemanusiaannya. Thomas Merton menyimpulkan realitas paradoksal ini dengan ironi: AuMusuh utama umat manusia adalah kemanusiaan itu Ay13 Inilah kutukan yang menimpa manusia untuk senantiasa menjelaskan kebermaknaan kehidupan. Artikel ini akan mengulik kembali pertanyaan utama dalam ylsafat manusia mengenai Ausiapakah manusia?Ay dan Aubagaimanakah menjadi manusia?Ay14 dengan kebaruan latar Antroposen yang telah mencampurbaurkan realitas manusia dan non-manusia. Dengan redeynisi kemanusiaan tersebut, pertanyaan krusial seperti. AuApakah demarkasi manusia dan non-manusia tetap relevan?Ay menjadi mendesak untuk dijawab. Setelah bagian pendahuluan ini, berturut-turut akan dibahas konsep Antroposen dan ulasan atas tawaran ylsafat manusia berupa gagasan hiposubjekvitas dari Timothy Morton. Berbekal konsep hiposubjektivitas ini lalu akan dianalisis lebih lanjut mengenai status ontologis, epistemologis, serta aksiologis dari relasi manusia dan entitas non-manusia berikut sekaligus problem yang mungkin timbul dari analisis sejenis beserta solusi yang bisa ditawarkan darinya. Terakhir, artikel ini akan ditutup dengan KALA ANTROPOSEN: KALABENDU MANUSIA DAN NONMANUSIA Antroposen secara etimologis terdengar seperti humor gelap di penghujung peradaban: nama Antroposen berasal dari bahasa Yunani EAOAC . yang berarti manusia dan UC. yang berarti baru, sehingga Antroposen bisa diartikan sebagai waktu dari Aomanusia yang baruAo. Bandingkan dengan Holosen yang terdiri dari kata IC . yang berarti keseluruhan, sehingga Holosen terjemahannya adalah waktu dari Aokeseluruhan yang baruAo. Holosen adalah kala yang menandai AuterciptanyaAy manusia sebagaimana dikenal seperti sekarang ketika prakondisi materiel alamiah Bumi memungkinkan hal itu terjadi. Bukti 13 Timothy Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People (London: Verso Books, 2. , p. 14 Septiana Dwiputri Maharani. Filsafat Manusia: Unsur-Unsur dan Problematikanya (Yogyakarta: Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2. , p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 geologis Holosen ialah lapisan es di Greenland yang menunjukkan berakhirnya zaman es pada 11. 700 tahun yang lalu. 15 Walaupun Homo sapiens berusia lebih tua daripada Holosen, tetapi berkat Holosen-lah peradaban manusia bisa menjadi seperti sekarang. Jika mengikuti keputusan IUGS, maka waktu yang membentang sepanjang 11. 700 tahun tersebut adalah deynisi dari AusekarangAy. Perbedaan pendekatan toponimi ini seolah menandakan bahwa Holosen adalah kala manusia masih tunduk kepada alam dan, sebaliknya. Antroposen adalah kala manusia berhasil menaklukkan alam. Benarkah begitu? Penamaan Antroposen dengan imaji bayang-bayang distopia lebih mengindikasikan Auawal bagi suatu akhir dari waktunya manusiaAy atau Auakhir bagi keseluruhan yang pernah bermulaAy. Jadi, artikel ini turut berkecenderungan mengartikan Antroposen sebagai pembentang jukstaposisi, bagi kedigdayaan dan sekaligus ketakberdayaan manusia pada saat bersamaan. Keberadaan sisa pembakaran bahan bakar minyak dan plutonium di Danau Crawford membuktikan jejak intervensi kemanusiaan kepada Lebih jauh, sejak pertama kali Crutzen dan Stoermer mengajukan gagasan kala Antroposen, mereka ingin memberi tahu sekaligus memperingatkan kepada khalayak bahwa intervensi tersebut sudah mengubah karakter kealamiahan dari alam. 17 Mungkin, penanda dari AoalamAo di sini kurang spesiyk, mungkin lebih tepat untuk menunjuk satuan AoBumiAo. AobiosferAo, atau AoekosistemAo. Pada proses pengujian suatu skala waktu geologis yang baru. ICS dan IUGS akan memeriksa paling tidak tiga kriteria: sifat mondial atau mengglobalnya, lalu sinkronis atau keserempakannya, dan terakhir kemungkinannya untuk bertahan lama sehingga bisa direkognisi para geolog di masa yang akan datang. 18 Perlu dipahami bahwa manusia di sini 15 Witze. AuThis Quiet Lake Could Mark the Start of A New Anthropocene Epoch. Ay 16 Mahaswa and Widhianto. AuQuestioning the AoAnthroposAo in the Anthropocene: Is the Anthropocene Anthropocentric?Ay p. 17 Crutzen and Stoermer. AuThe Anthropocene. Ay 18 OAoHara. A Brief History of Geology, p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. memberi makna kategorial pada sesuatu yang sebetulnya hanya merupakan bayang-bayang, yaitu waktu. Penilaian terhadap waktu yang menghasilkan kodiykasi masa lalu menjadi mungkin karena aspek kekinian yang masih hadir. sejarah menjadi mungkin untuk dituliskan karena ia sudah terjadi dan dapat ditulis di masa sekarang. AuProblem kekinianAy membelit ratiykasi Antroposen, karena bisa jadi kita semua sedang berada di dalamnya sehingga manusia sulit membuat jarak atasnya. Oleh karena itu, sejujurnya Antroposen lebih mirip sebuah hipotesis daripada teori. Secara geologis. Antroposen sebetulnya menunggu alam menyeruakkan bukti-bukti yang lebih mustajab untuk membuktikan keberadaannya di masa depanAijikalau para ilmuwan belum terlanjur beralih ke topik lain dan melupakannya. Jungkat-jungkit pengaruh . antara yang alami dan manusiawi ini di satu sisi memang membuat status ontologis dari mereka masing-masing menjadi kabur. Lalu bagaimana, misalnya, ylsafat manusia antroposentrisme menjelaskan terbit dan tenggelamnya katastroy Antroposen itu sendiri? Bukankah ketika manusia adalah subjek nan digdaya, berarti manusia pula lah yang bisa membenahi metabolisme alam kembali kepadaAiseturut istilah Saras Dewi19AiAuekuilibriumAy Holosen? Namun, menurut Jeremy Davies sejarah Bumi amat dipengaruhi kontingensi atau sesuatu yang tidak bisa diprediksi. 20 Pemikiran ini bisa diparafrasekan menjadi: AuManusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di sisi lain kemanusiaan. Ay Jika dikuantiykasi, maka sudah miliaran tahun lamanya Bumi ini ada . epatnya 4,55 Ga atau giga-annum/miliar tahu. 21 dan mayoritas dari waktu itu ia berproses dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, pengembalian ekuilibrium Holosen tak ubahnya mimpi di siang bolong terhadap pemenuhan hasrat bertahan hidup atau 19 Saras Dewi. Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia Dengan Alam (Jakarta: Marjin Kiri, 2. 20 Dikutip dalam Muhammad Unies Ananda Raja. AuManusia Dalam Disekuilibrium Alam: Kritik Atas Ekofenomenologi Saras Dewi,Ay Balairung: Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia vol. 1, no. , p. 21 OAoHara. A Brief History of Geology, pp. 68Ae69. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 keselamatan manusianya saja. Dalam khazanah etika hal ini disebut sebagai penegasan perimbangan moral dasar . asic moral consideration [BMC]) pada sisi kemanusiaan. 22 Bukankah ini juga bentuk antroposentrisme yang mengetengahkan basis perhitungan nilai dari tolak ukur manusia dengan keserbamungkinan kemauannya? Jika demikian halnya, apakah kemudian manusia dibiarkan Aubunuh diriAy ketika realitas Holosen tidak memungkinkan lagi menopang kehidupannya? Pada titik inilah pentingnya ylsafat untuk menjernihkan kekalutan semacam ini. Terutama pada ragam ylsafat manusia yang malahan bisa kontraproduktif dengan menggali kubur bagi penggagasnya sendiri. Filsafat manusia sudah terlalu lama berkutat pada problem-problem AudirisentrisAy seperti dengan menuangkan bejana bernama manusia dengan kapasitas pertimbangan moralitas dan/atau rasionalismenya yang adekuat, sehingga menempatkannya secara berbeda . xception dus, eksklusi. nan unggul dibandingkan makhluk lainnya. 23 Hal ini diperparah misalnya dengan doktrin teologis yang menempatkan manusia sebagai tuan bagi makhluk lain di muka Bumi. Filsafat manusia yang antroposentris ini mengakibatkan problem kealpaan pemahaman atas entitas non-manusia, seperti yang dicontohkan dengan gejala ignoransi yang ditunjukkan dari keinginan egois untuk kembali ke equilibrium Holosen. Julia Kristeva memiliki konsep dari khazanah psikoanalisis untuk menyebut fenomena ini, yaitu AoabjeksiAo: pemisahan yang-lain dari bagian diri sebagai yang dieksklusikan demi konstruksi identitas kedirian. 24 Dalam kasus ini manusia mengeksklusi yang non-manusia dari makna kediriannya untuk meneguhkan identitas kemanusiaan, bagaikan meneguk Auobat plasebo kemanusiaanAy guna merestorasi esensi/jati diri. 22 Robert L. Holmes. Introduction to Applied Ethics (New York: Bloomsbury Academic, 2. , pp. 288Ae289. 23 Neil Roughley. AuHuman Nature,Ay in The Stanford Encyclopedia of Philosophy, ed. Edward Zalta and Uri Nodelman, 2023, https://plato. edu/archives/win2023/entries/human-nature/. 24 Julia Kristeva. Powers of Horror: An Essay on Abjection (New York: Columbia University Press, 1. , pp. 1Ae2. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. Struktur Antroposen yang mendikte kemanusiaan bisa didengar sebagai alarm tanda bahaya yang seharusnya membuat manusia terjaga dari delusinya ini. Oleh karena itu, artikel ini mendeynisikan Antroposen sebagai penanda waktu ketakterpisahan antara yang-alamiah dan yang-sosial sebagai akhir bagi bifurkasi modernitas. Filsafat manusia pada kala Antroposen harus bisa mengupayakan pemerian perihal yang asasi, tetapi tidak antroposentris dengan memberanikan diri menginklusikan satuan-satuan non-manusia untuk menjadikannya kesatuan yang Hasil dari ylsafat ini adalah proyek ekologis mengenai interdependensi/keserbatergantungan antara yang-manusia dengan yang-nonmanusia hingga membuat tatanan yang inklusif, tidak mendiskriminasi spesies, ras, dan seks/gender apa pun. HIPOSUBJEK: GAGASAN KE(NON)MANUSIAAN TIMOTHY MORTON Tawaran Aoylsafat ke. manusiaanAoAibila dapat disebut demikianAi yang diajukan oleh artikel ini berangkat dari landasan pemikiran Timothy Morton . 8-) yang masuk dalam kategori mazhab materialisme baru . ew materialis. dan ontologi berorientasikan objek . bject-oriented-ontology atau AoA. Pertama-tama perlu dipahami ruang tamu antara manusia dengan non-manusia. Menurut Morton, ruang tamu ini adalah kesatuan simbiotis yang riil . ymbiotic rea. 26 Bisa dibayangkan bahwa ruang ini adalah semacam AobiosferAo yang menghimpun segala hal yang saling terhubung sebagai penopang kehidupan. Di antara yang-satu dan yang-segala ini. Morton mengungkap bahwa terdapat dimensi spektralitas yang mengaburkan penampakan masing-masing subjek-objek sehingga mencegah kesalingpahaman mengenai satu sama lain. 27 Disebut spektral, karena ia secara ontologis menghantui keber-ada-an. (Spektralitas ini bisa juga dimengerti sebagai yang-abjek dalam leksikon Kristeva yang sudah disinggung sebelumnya. 25 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 26 Kata AosimbiotisAo merupakan bentuk kata sifat dari kata benda AosimbiosisAo. Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, pp. 1Ae2. 27 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 Artinya, untuk memahami kehidupan manusia, sebenarnya dibutuhkan entitas non-manusia di dalamnya dan begitu pula berlaku kontingensi sebaliknya. AuSpektralitas adalah inklusivitas non-manusia dalam diri kita . ,Ay begitu tulis Morton. 28 Ketika manusia dikonfrontasikan dengan hal-yang-tidak-diketahuinya, manusia berposisi sebagai subjek yang lebih rendah posisinya dari subjek pemberi tahu. Oleh karena itu. Morton memosisikan subjek-pemberi-tahu tersebut sebagai AohiperobjekAo atau sebagaimana disimbolkan Immanuel Kant sebagai AoXAo. Subjek-yang-diberi-tahu lantas bisa disebut sebagai hiposubjek dalam relasi ketimpangan modal pengetahuan ini. manusia berarti senantiasa merupakan hiposubjek di hadirat sang abjek. Penjelasan asal-usul terhadap spektralitas ini bagi Morton sifatnya sangatlah psikis: Keterpisahan . he severin. antara manusia dan yang-non-manusia merupakan celah traumatis yang memisahkan antara AurealitasAy sebagai dunia korelatif manusia dengan struktur Auyang-riilAy atau yang sesungguhnya terjadi tetapi berada di luar ranah simbolis penjelas, berupa simbiosis antara manusiaAinon-manusia sebagai suatu kesatuan biosfer. Morton dengan memikat mengurai bahwa secara sadar spektralitas ini bukanlah sesuatu yang bisa ditunjuk begitu saja, karena ia adalah aspek ontologis dari struktur kemenjadian sesuatu. 31 Jadi. X adalah korelat yang padanya digantungkan kontingensi kemenjadian bagi sesuatu, dengan X selalu merupakan entitas lebih dari satu atau bahkan rentetan himpunan dari sesuatu-sesuatu lainnya. Misalnya, pada tubuh manusia secara mikrobiologis adalah sekadar buntalan jejaring sel yang pada waktunya AuhidupAy dikarenakan energi yang dihasilkan mitokondria. 32 Lalu, pada tubuh yang sama, manusia pascapandemi di dalam dirinya juga telah tercampur baur virus yang dilemahkan sebagai entitas yang dikenal sebagai vaksin. Atau, manusia penderita penyakit mematikan yang 28 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 29 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 30 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 31 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 32 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. tidak bisa hidup tanpa sokongan obat-obatan atau bahkan mesin. Pada makna kehidupan yang sama, manusia dalam kesehariannya secara tidak disengaja sulit terlepas dari konsumsi mikroplastik yang sudah larut dalam air tanah, kemudian ada pula pestisida yang bercampur dengan hasil Secara menyedihkan, bahkan manusia tidak bisa hidup tanpa kekangan benda-benda yang diciptakannya sendiri, seperti uang, media sosial digital, dll. Pada intinya, hidup bukan perihal ketunggalan entitas, tetapi kemajemukan. Manusia sudah selalu merupakan Aumanusia ditambah nonmanusia atau X-manusiaAy, masyarakat sudah selalu merupakan Aumasyarakat ditambah X-masyarakatAy, spesies sudah selalu merupakan Auspesies dengan X-spesiesAy, yang dalam pengertian ini pula maka eksistensi sudah selalu merupakan eksistensi Auyang-satu-ditambah-XAy. 33 Inilah inklusivitas yang niscaya pada kesatuan simbiostis yang riil: AuSatu sudah selalu mengindikasikan yang lebih dari satu . Ay34 Menurut pemikiran Kant, sebagaimana dipahami Morton, ontologi korelasionis semacam ini sayangnya masih berciri antroposentris karena menempatkan subjek transendental manusia sebagai korelator bagi realisasi diri. 35 Padahal metaysika semacam ini esensialis pada pembawaannya. Problemnya bisa direyeksikan seperti ini, masyarakat sebagai suatu ruang sosial yang dikorelatkan kepada entitas kemanusiaan berarti mengandaikan bahwa tidak ada masyarakat tanpa gerak pengorganisasian terhadap misalnya, masing-masing individu untuk menyatukan diri pada entitas denominator baru, perangkat politik yang menyusun pranata sosial, perangkat ekonomi yang mengatur distribusi sumber daya. Cara pendeskripsian barusan sudah sangat antroposentris, karena mengindikasikan keserbamampuan manusia mengeksekusi pengaturan terhadap yang-lain, seolah-olah masyarakat hanya bergantung pada dirinya sendiri. 33 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 34 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 35 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, pp. 7Ae8. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 Padahal dengan pembalikan perspektif, deynisi masyarakat yang sama bisa dirujuk pada: konteks tempat yang amat menentukan topogray geograys mereka . agaimana tempat tinggal dibangun sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kontur tanah dan batuan agar tidak membahayaka. , pendirian instalasi-instalasi air bersih, listrik, hingga serat optik sebagai tulang punggung aktivitas privat maupaun komunal, kebutuhan transportasi dan bahan bakar, tidak lupa juga pemakaman, tempat pembuangan sampah, dan ketersediaan ruang terbuka di pemukiman untuk melepas penat. Ada atau tiadanya hal-hal tadi secara langsung maupun tidak, berpengaruh terhadap kehidupan pada kesatuan masyarakat. Jika semua itu dimaknai sebagai hasil reka cipta manusia semata yang keberadaannya berkorelat dengan manusia dan bukannya sebaliknya, yaitu sebagai entitas nonmanusia yang malahan manusia memiliki ketergantungan atasnya, maka pola pikir ini adalah antroposentris. Pemaknaan yang tidak antroposentris seharusnya akan menuntun pada keberadaan keterkaitan/pelibatan yang-non-manusia sebagai bagian integral dari ruang sosial itu sendiri, secara sadar ataupun tidak. 36 Contoh sederhana, misalnya, pemaknaan harkat martabat manusia yang bahkan telah meninggal . idak lagi AuhidupA. harus dijaga dengan menguburnya dengan layak di pemakaman. Artinya, kemanusiaan di kasus ini kontingen terhadap keberadaan dari entitas makam itu sendiri. Pola dan ragam gagasan yang merupakan derivasi dari ylsafat manusia beranasir antroposentris bisa dijumpai pada pengertian manusia sebagai Sapiens, dualitas res cogitans-res extansa, dialektika ide-ide, yubermensch. Dasein, metaysika kehadiran, utilitarianisme, otonomi agensi, diktator proletariat, khalifah di muka Bumi, dst. Pendambaan akan pangkat hipersubjektivitas dalam beragam pengejawantahan ylsafat manusia ini tak ubahnya suatu kemustahilan, terlebih dengan hadirnya kebaruan realitas Antroposen yang secara paksa menggaet yang-non-manusia ke hadirat manusia. 36 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. Oleh karena itu, dari titik artikel ini ke depan, distingsi subjek-objek dalam kalimat yang digunakan akan lebih arbitrer sebagai pelepasan makna Ausubjek sebagai tuan dan objek sebagai budak. Ay37 Kehendak subjek untuk menguasai objek akan pupus ketika objek yang dimaksud ialah hiperobjek: sesuatu yang masif dan multipleks hingga membuat kapasitas rasio manusia yang sering diidealkan itu mencapai Aubatas pengetahuannyaAy walau pengamatan baru perihal penampakannya. 38 Preyks Aohiper-Ao menandakan pelampauan, sehingga hiperobjek berarti objek yang melampaui subjek maupun objek lainnya. 39 Antroposen adalah contoh hiperobjek yang manusia pun kebingungan menandai penampakannya: Apakah ia hadir pada tanda-tanda di endapan lumpur di dasar danau, mikroplastik di dalam darah, unsur radioaktif di es, intensitas gas metana di atmosfer, atau semua itu sekaligus dan yang-lainnya? Relasi kuasa yang dihasilkan oleh hiperobjek ini adalah pemberian predikat hiposubjek pada sisi manusia. Jangan salah, hiposubjek juga merupakan satuan yang masif dan multipleks, tetapi berbeda dari hiperobjek yang kesatuannya naik mentransendentalisasi bagian-bagian penyusunnya, hiposubjek kesatuannya turun mengalami subsendensi pada bagian-bagiannya. 40 Artinya, kesatuan hiperobjek AomelampauiAo atau scandere dari keberadaan bagian-bagian penyusunnya, seperti ketika Antroposen menjadi entitas yang lebih besar dan kuat daripada sang anthropos yang turut membentuknya. Sebaliknya, ketika hiperobjek berangkat melampaui yang partikular, hiposubjek akan kembali ke dalam dirinya yang partikular dengan cara membenam/subsenden . ubscendent/subscendenc. Jadi, bisa dipahami bahwa ketika ylsafat manusia yang antroposentris berlaku totaliter atas makna untuk bisa mengomando subordinat-subor37 Timothy Morton and Dominic Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human (Open Humanities Press, 2. , p. 38 Morton and Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human, p. Timothy Morton. Hyperobjects: Philosophy and Ecology after the End of the World (Minneapolis: University of Minnesota Press, 2. , p. 40 Morton and Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human, pp. 14Ae15. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 dinatnya, ia malah dihadapkan dengan keniscayaan satuan-satuan pembentuk yang lebih besar dari dirinya sendiri, yang berbalik mendisiplinkan, membuat subjek harus patuh. Timothy Morton dan Dominic Boyer menjelaskan bahwa pola pemikiran hipersubjek ini terpengaruh oleh ideologi holisme yang mengandaikan bahwa subjek sama sekali dapat mencerap kebendaan . , memilikinya, dan memanipulasinya. Kesatuan dalam keseluruhan hipersubjek telah mereduksi keseragaman identitas pada yang-satu. Berbeda dengan hiposubjek yang Aukesatuannya lebih kecil dari gabungan bagian-bagiannyaAy . he whole is smaller than the sum of its part. Sebagai ilustrasi sederhana: Manusia tidak akan berdaya tanpa kerja mitokondrianya, kecekatan syaraf-syarafnya, air pelepas dahaganya, suntikan insulin jika menderita diabetes melitus, asupan suplemen dan multivitaminnya, dll. Oleh karena itu, manusia, sang hiposubjek dalam rezim Antroposen harus membenamkan diri agar bisa menyesuaikan diri pada X-biosfer, pada kesatuan simbiotis riil yang menopang kehidupan di Bumi. AoANTROPOSENAo-ISASI TERHADAP AoANTROPOSAoSENTRISME Morton menulis bahwa Antroposen telah menjelma menjadi suatu konsep anti-antroposentrisme karena menjadi katalis bagi pemikiran spesies yang tersubsenden. 43 Penekanannya ada pada kesadaran bahwa manusia hanya merupakan salah satu bagian dari penyusun keseluruhan realitas Antroposen, di antara bagian-bagian penyusun yang berhasil dimobilisasi olehnya, seperti peneliti, ekonom, pemerintah, suku pedalaman, hutan, pabrik, radionuklida, gas metana, temperatur, atmosfer, samudra dan terumbu karang, bebatuan, dst. Dalam kesamaan nasib pada linima41 Morton and Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human, p. 42 Morton and Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human, p. lihat juga Bruno Latour et . AuAoThe Whole Is Always Smaller Than Its PartsAo Ae A Digital Test of Gabriel TardesAo Monads,Ay The British Journal of Sociology vol. 63, no. , pp. 590Ae615, https://doi. org/10. 1111/j. 43 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. sa bersama manusia dan non-manusia di hadapan Antroposen, menurut Morton dibutuhkan solidaritas komuniter antara keduanya untuk bisa mempertahankan kehidupan bersama dalam kesatuan simbiotis riil. Solidaritas berbasiskan kesamaan nasib ini mengimplikasikan kesetaraan yang radikal, bahwa relasi kontingensi antara manusiaOenon-manusia berarti juga menunjukkan kesamaan kepentingan di antara mereka. Watak relasi ini bisa disebut sebagai inklusivitas dalam X-biosfer. Dalam peristilahan Bruno Latour relasi semacam ini berlandaskan atas kesetaraan/simetri radikal pada Aoontologi datarAo . at ontolog. Upaya mewujudkan solidaritas ini hanya bisa dilakukan jika anasir-anasir modernis yang antroposentris dikoreksi secara fundamental. Cerkvenik47 mengidentiykasi bahwa antroposentrisme berisi pandangan terhadap tiga hak spesial manusia: keistimewaan kosmis yang menempatkan manusia sebagai AupusatAy semesta, keistimewaan epistemik terhadap sudut pandang penjelasan dunia dari diskursus manusia, dan keistimewaan aksiologis yang menegaskan bahwa segala penilaian harus berdasarkan kepentingan manusia. Kalabendu Antroposen telah menyediakan justiykasi yang kuat untuk meruntuhkan pandangan antroposentrisme ini. Dari argumen yang telah disusun dalam artikel ini dengan fokus pemerian terhadap pemikiran Timothy Morton, bantahan terhadap tiga poin hak istimewa manusia tadi bisa dibuat. Kritik atas Aspek Ontologis Antroposentrisme Pertama, aspek kosmologis manusia terbantahkan karena Antroposen menguak kenyataan bahwa manusia tidak berdaya di hadapan yang-non-manusia sebagai suatu keseluruhan. Ketika suhu Bumi naik 44 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, pp. 2, 160. 45 Rangga Mahaswa. AuBruno Latour and Actor-Network-Anthropocene,Ay Transversal: International Journal for the Historiography of Science, no. , p. 2, https://doi. org/10. 24117/2526-2270. 46 Bruno Latour. We Have Never Been Modern (Cambridge : Harvard University Press, 1. , utamanya pada pembahasan bab 4, pp. 91Ae129. 47 Dalam Mahaswa and Widhianto. AuQuestioning the AoAnthroposAo in the Anthropocene: Is the Anthropocene Anthropocentric?Ay pp. 4Ae6. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 karena pemanasan global yang membuat es kutub mencair, disusul naiknya tinggi permukaan air laut, dan rusaknya alam biosfer tempat tinggal yora-fauna, spesies manusia pun terseret ke dalam pusaran kiamat bersama-sama dengan makhluk Bumi lainnya. Oleh karena itu, manusia yang antroposentris dengan obsesinya pada kondisi hipersubjek tak ubahnya sedang menggali kuburnya bagi dirinya sendiri. Maka, gagasan Morton menjadi pengingat bahwa manusia perlu menjalankan perannya secara proporsional sebagai hiposubjek untuk memperpanjang napasnya Sebab, di hadapan Antroposen semua makhluk sama saja statusnya sebagai subjek yang terdislokasi, sehingga secara kosmologis manusia otomatis bukanlah pusat dari semesta. Reaksi kritis dilayangkan kepada Morton mengenai posisi gagasannya yang monistis . nan animistik ini. Secara ontologis, gagasan kesetaraan radikal antara manusia dan yang-non-manusia berarti berusaha mengalibrasi ulang aspek mendasar yang tidak hanya melandasi paradigma antroposentrisme, tetapi juga bahkan ylsafat manusia itu sendiri: perihal kesadaran diri, agensi, dan kapasitas rasional. 48 Artinya, penjelasan kesetaraan antara manusia dan non-manusia tidak hanya perkara kepentingan49 atau neoteologi tentang nasib, tetapi lebih kepada perihal kosmologi berupa pengomposisian alam semesta. Sebagaimana yang sudah disinggung di subbab sebelumnya, poin kritik Morton50 bermula dari eksklusivitas korelator manusia sebagai subjek transendental yang dalam pengejawantahannya bisa dirujuk pada argumen perihal ketiga aspek esensial faktor penerang ylsafat manusia . erupa kesadaran diri, agensi, dan kapasitas rasional. 51 Kosmologi yang inklusif terhadap manusia dan non-manusia ala Morton berarti menyamaratakan, sebagai kecenderungan monistis, posisi kedua entitas ini ka48 Malik dalam Kay Anderson and Colin Perrin. AuNew Materialism and the Stuff of Humanism,Ay Australian Humanities Review, no. , p. 49 Lihat Mahaswa. AuBruno Latour and Actor-Network-Anthropocene. Ay 50 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, pp. 7Ae8. 51 Malik dalam Anderson and Perrin. AuNew Materialism and the Stuff of Humanism,Ay p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. rena manusia tidak lagi menjadi satu-satunya subjek eksklusif yang bisa menjadi korelator tersebut. Sikap monistis yang Morton pegang semacam ini adalah upaya meredeynisi agensi yang tidak hanya Aoberorientasi subjekAo dengan kehendak dan rasionalitasnya. 53 Konsekuensinya, khususnya seperti yang diungkap oleh pengkritik alur mazhab materialisme baru ini, adalah perihal pandangan animistik yang disebut Slavoj iek sebagai Auspiritualisme tanpa tuhanAy dengan penganugerahan agensi secara manasuka kepada yang-non-manusia54 dan artinya sekaligus berlaku kontradiktif dengan antropomorysasi terhadap mereka . o anthropomorphize the nonhuma. Argumen perihal animisme ini bisa dirujuk pada salah satu dari empat klasiykasi paradigma ontologi yang dibuat Philippe Descola yang menggunakan matriks pembedaan AointerioritasAo . ondisi pengalaman subjekti. dan AoeksterioritasAo . ondisi ysi. 56 Pertama, animisme adalah anggapan bahwa semua entitas memiliki interioritas yang sama, walaupun eksterioritasnya berbeda. Kedua, naturalisme yang menganggap manusia memiliki interioritas yang khusus, berbeda dengan makhluk yang lain, tetapi tetap terhubung dalam semesta non-manusia melalui materialitasnya yang sama. Ketiga, totemisme yang memandang bahwa manusia maupun non-manusia memiliki interioritas dan eksterioritas yang Keempat, analogisme yang membedakan tidak saja interioritas, tetapi juga eksterioritas antara manusia dan non-manusia. 52 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 53 Gabriele Dyrbeck. Caroline Schaumann, and Heather Sullivan. AuHuman and Non-Human Agencies in the Anthropocene,Ay Ecozon@: European Journal of Literature. Culture and Environment vol. 6, no. , p. 121, https://doi. org/10. 37536/ECOZONA. 54 Slavoj iek. Absolute Recoil: Towards A New Foundation of Dialectic Materialism (London: Verso Books, 2. , p. 55 Benjamin Boysen. AuThe Embarrassment of Being Human,Ay Orbis Litterarum vol. 73, no. , p. 236, https://doi. org/10. 1111/oli. 56 Dalam Raja. AuManusia Dalam Disekuilibrium Alam: Kritik Atas Ekofenomenologi Saras Dewi,Ay p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 Perihal subjektivitas ini kemudian bisa disetarakan dengan konsep agensi yang sebelumnya hanya dilekatkan pada manusia, karena bagi Descola pengejawantahan subjektivitas itu juga meliputi keberadaan jiwa dan pikiran pada non-manusia yang akhirnya menghasilkan kesadaran beserta kapasitas reyektif. 57 Sayangnya, menurut Benjamin Boysen58 pandangan animisme yang monis ini jatuh ke jurang antihumanisme, karena tendensi pengerdilan posisi manusia, karena melucuti kapabilitas persepsi, rasionalitas, representatif, dan simbolisasi manusia yang merupakan kapasitas nonmaterial, untuk memberikan ruang bagi menyeruaknya materialitas non-manusia. Sebab pemaknaan benda sebenar-benarnya menurut materialisme baru adalah benda yang lepas dari segala intervensi kemanusiaan terhadapnya. 59 Poin ini mengingatkan pada penjelasan Morton mengenai hiperobjek yang senantiasa lebih kuat menempatkan manusia sebagai . subjek yang lebih lemah darinya. Selanjutnya, tendensi subordinasi manusia dari entitas non-manusia ini dianggap malah akan menghasilkan apatisme bagi sang manusia di dalam kondisi krisis ekologis seperti sekarang. Ketika AukehendakAy dari unsur alamiah sebagai agensi non-manusia dipahami sebagai pihak yang senantiasa berperan lebih kuat dalam kehidupan di biosfer, maka kesimpulan fatalis bisa muncul darinya. Manusia yang tidak signiykan di muka Bumi hanya membuahkan kesia-siaan, misalnya dalam usahanya memperbaiki perilaku untuk menjadi lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu. Boysen berkesimpulan bahwa mazhab materialisme baru malah akan menjadi pelanggeng terbaik bagi status quo kemandekan resolusi bagi krisis lingkungan. Mari berbalik ke poin animisme dan asumsi monisme sebelum nanti kembali membahas perihal problem fatalisme di subbagian kritik aksio57 Philippe Descola. AuHuman Natures,Ay Social Anthropology/Anthropologie Sociale vol. , p. 150, https://doi. org/10. 1111/j. 58 Boysen. AuThe Embarrassment of Being Human,Ay p. 59 van Wyk dalam Boysen. AuThe Embarrassment of Being Human,Ay p. 60 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, pp. 72Ae73. 61 Boysen. AuThe Embarrassment of Being Human,Ay p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. logi antroposentrisme. Pertama-tama, perlu ada klariykasi terlebih dahulu terhadap peristilahan Ausubjektivitas sebagai agensiAy. Persoalan dari respons kritis iek dan Boysen di atas adalah penggeneralisasian ragam corak pemikiran dalam lingkup pengategorian mazhab. Padahal secara khusus harus terlebih dahulu diklariykasi apa serta bagaimana pemikir yang dimaksud menyampaikan gagasannya. Secara ironis, gejala penggeneralisasian semacam ini bisa dijernihkan meminjam alur argumentasi Morton dan Boyer62 yang ada dalam logika monistis materialisme baru yang digugat sebelumnya oleh iek dan Boysen: Kategori adalah obsesi hipersubjektivitas sebagai keseluruhan yang berusaha mentransendentalisasi bagian-bagiannya, yang dalam kasus ini adalah satuan-satuan pemikiran para ylsuf yang tercakup di dalam kategori yang dimaksud. Artinya, kategori Aomaterialisme baruAo serta AoAo bisa jadi telah mereduksi keseragaman dan utamanya detail dari gagasan yang dimaksud oleh para pemikir yang dimasukkan ke dalam pengelompokan ini. Secara khusus dan berturut-turut, kritik yang dilancarkan dalam iek63 ditujukan khusus kepada Jane Bennett, lalu dalam Boysen64 juga kepada Jane Bennett, kemudian juga pada Graham Harman. Diana Coole. Samantha Frost, dan Karen Barad. Artikel ini tidak akan mengklariykasi lebih jauh pandangan mereka yang dikritik dan disebutkan sebagai representasi dari keseluruhan gerakan intelektual materialisme baru Pertanyaan yang tepat ditujukan di sini adalah: apakah kritik sejenis seperti yang diutarakan iek dan Boysen mengenai pandangan animistik yang mengantropomorysasi entitas non-manusia dari mazhab materialisme baru tepat berlaku pada argumen Morton? Mari kembali ke deynisi agensi dari animisme Descola untuk melakukan klariykasi. Animisme di satu sisi memang bisa berarti mengantropomorysasi yang-non-manusia, karena menyamakan kualitas kemanusiaan berupa agensi yang diperoleh dari keberadaan jiwa dan pikiran 62 Morton and Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human. 63 iek. Absolute Recoil: Towards A New Foundation of Dialectic Materialism. 64 Boysen. AuThe Embarrassment of Being Human. Ay DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 pada entitas non-mamusia. Hal ini utamanya memang dapat ditemui dalam gagasan yang diadvokasikan oleh Bennett berupa konsep vitalisme pada yang-non-manusia yang menurutnya memiliki agensi berupa kreativitas sebagai kapasitas untuk mencipta. Namun, iek dan Boysen, sekali lagi akibat generalisasi yang dilakukan, melewatkan poin penting bahwa makna animisme pun tidak Ada perbedaan mendasar dari laku pelekatan karakter manusia pada yang-non-manusia untuk menganggapnya setara dengan manusia sebagaimana yang diungkap Descola dan pembiaran menyeruaknya karakter kenonmanusiaan dari yang-non-manusia yang baru kemudian membuatnya disetarakan dengan apa yang ada pada manusia seperti yang dilakukan Morton. Jenis pemerian ragam animisme ala Descola yang disasar iek dan Boysen ada pada animisme jenis pertama. Sebagaimana para penganut ontologi animisme ini di daerah Amazon dan Asia Tenggara yang menganggap entitas non-manusia sama-sama AuhidupAy karena memiliki kualitas jiwa dan pikiran, iek66 dan Boysen67 yang turut mengutipnya menganggap semua pemikir materialisme baru turut mengidap apa yang mereka sebut sebagai Aokenaifan pramodernAo. Dalam pembelaan artikel ini terhadap Morton, maka akan diajukan argumen bahwa pemikiran Morton merupakan penjelmaan Aoanimisme baruAo yang berbeda dari animisme lama seperti yang dimaksud Descola yang dijadikan basis asumsi kritik iek dan Boysen. Untuk memahami animisme baru ini, perlu untuk kembali ke medan perdebatan ylsafat . manusia berupa subjektivitas atau agensi. Timothy Morton menulis bahwa pelekatan pengertian Auagensi yang terdistribusiAy pada yang-non-manusia . ebagai pengejawantahan monism. tidaklah sama dengan ketika menyebut bahwa yang-non-manusia melakukan sesuatu secara persis dengan laku manusia beserta agensinya. 68 Artinya, bagi 65 Jane Bennett. Vibrant Matter: A Political Ecology of Things (Durham: Duke University Press, 2. 66 iek. Absolute Recoil: Towards A New Foundation of Dialectic Materialism, p. 67 Boysen. AuThe Embarrassment of Being Human,Ay p. 68 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. Morton pengertian agensi pada non-manusia tidak sama dengan kepemilikan kapasitas rasio maupun jiwa. Morton melanjutkan bahwa tindak tanduk non-manusia harus dimaknai dalam kaitannya dengan apa yang disebut sebagai Aojejaring aktanAo . stilah pengganti dari AoaktorAo yang kerap digunakan dalam mazhab materialisme bar. Apa yang disebut agensi non-manusia adalah hal yang menyeruak dari hasil ikatan relasional dari benda-benda dengan pihak lainnya. Pemerian yang sejenis, tetapi lebih bernas bisa ditemukan pada pendapat Bruno Latour. Istilah agensi menurut Latour dengan mengikuti Michel Serres bisa dipertukarkan dengan kata ganti AotabiatAo . 70 Tabiat ini menurut Latour secara bawaan akan menyeruak dari keberadaan segala sesuatunya, sehingga membuatnya AubermaknaAy bahkan di luar lingkup bahasa. 71 Maksudnya ialah, bahkan secara ontologis, eksistensi sesuatu karena sebab musabab materialitas kebendaannya sudah termasuk Aokeberadaan yang bermaknaAo di luar intervensi kapasitas non-material Lalu, pada tabiat inilah terjadi AopertukaranAo antara subjek-objek yang dalam peristilahan lainnya adalah Aotimbal balikAo. Ilustrasi akan diberikan menggunakan kasus efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Berbagai gas . ebagai entitas non-manusi. seperti karbon dioksida, metana, kloroyuorokarbon, hidroyuorokarbon, dll. eksis seturut tabiatnya sendiri. Terjadilah pertukaran atau relasi timbal balik ketika mereka berinteraksi dengan sinar matahari hingga menghasilkan fenomena efek rumah kaca, yaitu terperangkapnya energi panas dari sinar matahari di biosfer. Fenomena efek rumah kaca adalah sesuatu yang alamiah karena dihasilkan murni dari entitas non-manusia pada dirinya sendiri akibat interaksi pertukaran yang terjadi satu sama gas-gas tadi secara ontologis memang memiliki tabiat berupa kapasitas menahan lepasnya energi panas dari sinar matahari yang sudah masuk ke atmosfer walaupun berusaha dipantulkan kembali ke luar ang69 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 70 Latour. AuAgency at the Time of the Anthropocene,Ay p. 71 Latour. AuAgency at the Time of the Anthropocene,Ay p. 72 Latour. AuAgency at the Time of the Anthropocene,Ay p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 kasa oleh planet Bumi. Pertukaran yang eksesif kemudian terjadi karena jumlah berbagai gas tadi dilipatgandakan karena peran manusia yang menghasilkannya secara berlebihan melalui aktivitas konsumsi bahan bakar minyak dan batu bara misalnya. Eksternalitas aktivitas manusia yang melipatgandakan jumlah gas rumah kaca inilah yang secara non-alamiah mempercepat laju pemanasan global. Pada aspek material, interaksi dalam Aojejaring aktanAo antara berbagai gas tertentu dengan energi panas matahari di atmosfer yang mengakibatkan efek rumah kaca merupakan hasil dari agensi masing-masing pihak non-manusia yang alamiah. Kemudian fenomena percepatan pemanasan global terjadi karena intervensi nonalamiah manusia terhadap intensitas jumlah gas yang dari sananya sudah memproses efek rumah kaca secara alamiah. Jadi, harus dipahami bahwa entitas nonmanusia yang digunakan dalam penjelasan ini tidak dimaknai dalam pengertian Aokenaifan pramodernAo. Berbagai gas penyebab efek rumah kaca dalam pemerian mengenai pemanasan global tadi tidak dimaknai sebagai entitas yang memiliki jiwa dan kesadarannya sendiri yang kemudian membuatnya AuberkehendakAy untuk menahan energi panas. Antropomorysasi dalam animisme baru bisa muncul karena dimungkinkannya identiykasi perilaku entitas non-manusia tersebut dalam leksikon tabiat yang sebelumnya telah dimiliki manusia. Laku antropomorysasi ini pun hanya sejauh penggambaran laku non-manusia yang disamakan dengan manusia: seperti dalam penggunaan kata AomenahanAo untuk menjelaskan interaksi yang terjadi di antara gas-gas dengan energi panas matahari yang dipantulkan Bumi. Artinya, laku antropomorysasi yang dilakukan oleh animisme baru terjadi pada proses pelekatan karakter manusia ke non-manusia ketika tabiat non-manusia itu telah menyeruak dan dapat dikaji. Jadi, animisme baru bukanlah penyusunan tatanan monistis berdasarkan asumsi kesamaan interioritas antara manusia dan yang-non-manusia. Gagasan antidualitas ini pun pada pembawaannya tidak niscaya antimanusia seperti tafsir Aozero sumAo atau keniscayaan kekalahan salah satu Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. pihak sebagaimana yang diandaikan iek dan Boysen. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa keterangan posisi hiper-/hiposubjek tidak lepas dari dinamika ikatan relasional terhadap objek apa yang menyertainya sebagai dimensi spektralitas. Gagasan Timothy Morton juga secara terang mengungkapkan perlunya spesiykasi penjelas keterangan temporal dan situasi jejaring aktan ketika menganalisis relasi subjek-objek ini: (S. apa saja yang dimaksud subjek-objek ketika berusaha mendeynisikan relasi yang dimaksud? Apa karakter agensi yang menyeruak dari relasi-relasi yang dapat diidentiykasi dari jejaring aktan tadi? Paling tidak dari dua pertanyaan turunan ini baru bisa dianalisis: Apakah manusia berposisi sebagai hipersubjek atau hiposubjek di hadapan sang objek? Sesederhana ketika misalnya, kembali lagi ke perihal Antroposen yang menjukstaposisi secara sekaligus antara kedigdayaan dan sekaligus ketakberdayaan manusia di hadapan non-manusia. 73 Manusia menjadi akselerator bagi krisis iklim yang merupakan salah satu faktor pembunuh utama bagi dirinya sendiri dalam kala Antroposen, tetapi ketika sudah terlambat, rem terhadap kiamat itu malah blong. manusia pernah begitu kuat mengintervensi kealamiahan Bumi hingga mengubah struktur realitasnya, tetapi kemudian ketika waktu terus berlanjut, realitas alamiah yang sama berbalik mematikan baginya. Artinya, pendulum kekuasaan itu terus berayun secara dinamis antara manusia dan yang-non-manusia, antara subjek dan objek, antara subjek dan X-subjek, begitu pula antara objek dan X-objek. Jadi, paling tidak dalam alur berpikir Morton mengenai monisme berupa inklusivitas ontologis ini, bisa dimengerti bahwa apa yang disebut materialisme baru secara sekaligus adalah pelibatan objek/nonmanusia dalam kesatuan subjek/manusia dan juga pelibatan sebaliknya, keserbarelasian subjek/manusia pada kesatuan objek/nonmanusia. Perihal . apa yang lebih kuat di antara keduanya adalah hasil analisis yang terlebih dahulu harus dilakukan untuk mengungkap, tidak secara idealis dan teleologis diabstraksikan apriori. 73 Mahaswa and Widhianto. AuQuestioning the AoAnthroposAo in the Anthropocene: Is the Anthropocene Anthropocentric?Ay p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 Kritik atas Aspek Epistemik Antroposentrisme Beranjak ke kritik yang kedua, perihal privilese epistemik manusia yang sebetulnya sudah disinggung sedikit di atas. Paul Crutzen pernah mengutarakan bahwa kala Antroposen layaknya Aoterra incognitaAo yang dalam geologi merupakan istilah untuk menyebut wilayah yang belum terpetakan/terdokumentasikan. 74 Antroposen sebagai skala waktu yang masih berjalan bersama manusia dan non-manusia di dalamnya rupanya telah mengondisikan analisis manusia tidak akan pernah bernas nan lengkap: dimensi kekinian yang dialami senantiasa dihantui oleh X-kini yang bisa jadi belum terdeynisikan. 75 Misalnya, jangan-jangan X-kini itu memuat potensi laten dari berulangnya kejadian katastroys pra-Holosen yang akhirnya menyeruakkan kondisi Aonormal baruAo atau malah memunculkan sesuatu yang bahkan sama sekali baru . volusi kehidupa. Jika pengetahuan manusia atas yang kini tidak pernah lengkap karena aspek X-kini, maka pengetahuan pun juga diikuti oleh sisi spektralitasnya berupa X-pengetahuan. Hal ini tidak saja mengenai hal-yangtidak-diketahui dalam pemaknaannya sebagai Aoknown unknownsAo atau ketidaktahuan yang telah berhasil diketahui, tetapi terlebih lagi pada Aounknown unknownsAo atau perihal ketidaktahuan yang bahkan belum diketahui: ketidaktahuan manusia bahwa dirinya sendiri tidak tahu. Karena dimensi spektralitas X-pengetahuan inilah. Antroposen membenamkan manusia dalam ketidakpastian dan ketidakjelasan, walaupun misalnya dirinya merasa sudah AumengetahuiAy. Antroposen ternyata menguak keterbatasan epistemologi yang mengandalkan basis kapasitas sintesis pengetahuan manusiawi. Epistemologi tidak dapat dimaknai lagi terbatas dalam kerangka pikir naturalisme empiris-holistis yang reduksionis sebagai usahanya mendeynisikan realitas secara singular dan tetap untuk kemudian mengontrolnya. 76 Adopsi epis74 Dalam Raja. AuManusia Dalam Disekuilibrium Alam: Kritik Atas Ekofenomenologi Saras Dewi,Ay p. 75 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, pp. 77Ae78. 76 Andrew S. Mitchell. Mark Lemon, and Wim Lambrechts. AuLearning from the Anthropocene: Adaptive Epistemology and Complexity in Strategic Managerial Thinking,Ay Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. temologi yang naif semacam itu di kala Antroposen tidak akan pernah bisa memenuhi tuntutan sains untuk berkhidmat pada perangai ilmiah itu sendiri, karena tertinggal dari laju kompleksitas dan kontingensi realitas yang senantiasa beralih wujud di waktu nyata (Aoreal timeA. Artinya, keberadaan Antroposen kini sebagai teritori pengasingan telah melucuti keistimewaan epistemik sebagaimana diandaikan ylsafat manusia yang antroposentris. Alih-alih keistimewaan epistemik, hal yang dibutuhkan manusia adalah kerendahan hati epistemik . pistemic humilit. dan keterbukaan pikiran . pen-mindednes. terhadap kemungkinan-kemungkinan kejadian di masa kini beserta masa depan dan respons terkait pilihan etis serta politis yang berdampak bagi sesama manusia maupun non-manusia. Salah satu alternatif bagi epistemologi antroposentris adalah epistemologi ekosistemis . cosystemic epistemolog. yang menempatkan realitas sebagai jejaring multilevel yang kompleks, tetapi tidak berusaha menyederhanakannya, mengandalkan pengalaman yang tersituasikan, dan yang terpenting adalah sejak awal menempatkan pengetahuan manusia sebagai sesuatu yang sifatnya niscaya parsial. 79 Kemudian, berpikir secara ekosistemis bukannya malah menguak ketidakbernilaian pengetahuan manusia, tetapi menegaskan bahwa proses pembelajaran manusia itu tidak akan pernah berakhir selama ia hidup . ong life learne. , karena pengetahuannya senantiasa berkembang sejalan dengan perubahan lingkungan yang memengaruhinya. Dalam alur pemerian ini, untuk bisa bertahan, bisa dipahami bahwa hiposubjektivitas terkait erat dengan keterbukaan pikiran dan diri atas relasi kesalingterhubungan diri dengan yang-lain untuk memungkinkan Sustainability vol. 12, no. : 4427, p. 4, https://doi. org/10. 3390/su12114427. 77 Penulis berterima kasih atas saran poin elaborasi ini yang disampaikan oleh salah satu pengulas artikel pada tahapan double-blind review. 78 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 79 Mitchell. Lemon, and Lambrechts. AuLearning from the Anthropocene: Adaptive Epistemology and Complexity in Strategic Managerial Thinking,Ay p. 80 Lorraine Code. Ecological Thinking: The Politics of Epistemic Location (New York: Oxford University Press, 2. , pp. 5Ae9. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 perubahan dan reka cipta di kala Antroposen yang penuh ketidakpastian. 81 Contohnya, manusia yang memiliki kesadaran ekologis akan mendatangkan kecemasan atas kerentanannya dari kerusakan biosfer yang dapat membuatnya terusir dari tempat tinggalnya, misalnya karena bencana alam yang tidak terprediksi. Oleh karena itu. AotinggalAo juga mencakup dimensi spektral dari X-tinggal, seumpama menumpang . yang menggarisbawahi makna temporal dari kata tinggal. 82 Oleh karena itu, krisis ekologis turut menghasilkan bencana kemanusiaan yang memaksa masyarakat di berbagai tempat untuk mengungsi dan menjadi imigran karena ruang hidupnya hancur. Kritik atas Aspek Aksiologis Antroposentrisme Intensitas yang-non-manusia pada kesatuan simbiotis riil sebagai tatanan ontologis yang inklusif menunjukkan bahwa teori nilai juga harus bisa menjelaskan keutamaan/kepentingan subjek nonmanusia. Subjek non-manusia bukanlah pihak yang harus senantiasa menyesuaikan diri terhadap prioritas nilai manusia atau malah menginvalidasi sama sekali kepentingan manusia, tetapi negosiasi tetap diperlukan. Hal ini dimulai dengan memensiunkan konsep toleransi dan bahkan simpati/empati. Menurut Morton, etika toleransi berasal dari hitung-hitungan kebutuhan antarsubjek atas nama kepentingan pemenuhan ego diri masing-masing. 83 Hal ini berarti bahwa etika toleransi masihlah bersifat antroposentris karena mengandaikan kondisi resiprokal timbal balik atau utilitarian, bahwa berkorban itu tak apa karena keuntungan akan datang membalas di masa depan. Lalu, pada etika simpati/empati yang berasal dari asumsi altruis manusia terhadap yang-lain, menurut Morton masih pula terjatuh pada lubang holisme mengenai abstraksi Aokebaikan bersamaAo. 84 Sayangnya, di hadapan Antroposen tidak ada yang disebut seba81 Nataliia V. Zahurska. AuPost-Anthropocentric Hyposubjectivation,Ay The Journal of V. Karazin Kharkiv National University. Series AuPhilosophy. Philosophical Peripeteias,Ay no. , p. 11, https://doi. org/10. 26565/2226-0994-2018-58-1. 82 Morton and Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human, p. 83 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 84 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. gai kebaikan bersama itu tadi, karena kepentingan Antroposen bersifat transenden terhadap hiposubjek. kepunahan maupun koeksistensi antara manusia dan yang-non-manusia bermakna sama bagi hiperobjek Antroposen. Gejala tafsir yang semacam inilah yang sebetulnya sudah nampak dalam gagasan pengkritik materialisme baru. Hanya saja, kesimpulan fatalis yang iek dan Boysen adalah sesat pikir yang perlu diluruskan. Sebagaimana yang sempat disebutkan di atas. Morton mengajukan solusi solidaritas komuniter yang secara spesiyk kemudian disebutnya sebagai gotong royong/kerja bersama atau mutual aid. 85 Teori nilai Marx penting untuk dibahas di sini. Mungkin di luar pengetahuan banyak orang, terutama pra-Capital dalam buku Economic and Philosophical Manuscript, konsep kerja Marx bersifat antiantroposentris karena bersifat inklusif terhadap yang-non-manusia pada pengelompokkan yang disebutnya sebagai makhluk spesies . pecies bein. Marx di Economic and Philosophical Manuscript, sebagaimana dikutip Morton, menulis bahwa hewan juga AubekerjaAy, seperti semut dan lebah misalnya membangun sarang dan mengorganisir sumber daya untuk keberlangsungan hidup 86 Proses kerja produksi yang mereka lakukan sifatnya sepihak atau singular: hewan melakukan subsenden untuk membenamkan dirinya untuk hanya bekerja seturut panggilan alamiahnya . emendesakan ysik yang harus terpenuh. Di lain pihak, sifat kealamiahan dalam kerja manusia malah dirampas oleh sistem penindasan kapitalisme sebagai hiperobjek: penyerahan diri pada keseluruhan sistem kerja upahan yang eksploitatif telah merenggut individualitas dan kemanusiaan para pekerja. Dampak kerja yang seperti ini salah satunya adalah alienasi manusia dari sifat alamiahnya dalam menjalankan suatu kerja layaknya Aomakhluk spesiesAo yang lain, yaitu para non-manusia. Manusia juga memiliki panggilan Aokemendesakan ysikAo alamiah yang sama dengan entitas non-manusia dalam ranah pekerjaannya. Marx, sebagaimana dikemukakan Morton, memiliki penggambaran yang indah 85 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 170Ae171. 86 Dikutip dalam Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, pp. 41Ae42. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 soal ini: kerja produksi manusia seharusnya tak ubahnya seperti ulat sutra yang membuat serat kepompong atau lebah yang menghasilkan madu sebagai cadangan makanan mereka. 87 Menulis puisi, bermain gim, menyelesaikan persamaan matematika, meditasi, mendaras kitab suci, menyapu rumah, dst. juga adalah kerja dalam ranah pembahasan ini, yang walaupun tarafnya disepelekan nilainya karena jeratan struktur kapitalis yang memprioritaskan nilai tukar yang diukur dengan mata uang daripada tingkat kepuasan dan kesenangan individu agar Aumemenuhi panggilan alamiahnyaAy. Jadi, dalam Aokerja spesiesAo, kalau boleh disebut begitu, urusan upah atau kuantiykasi kerja bukanlah prioritas atau tidak lebih berharga daripada nilai kealamiahan dari kerja demi Aukemendesakan ysik yang harus terpenuhiAy. Namun, bukankah bila demikian kerja tetap menjadi sebuah upaya pemuasan ego manusia yang artinya bersifat antroposentris? Pembahasan yang turut menjadi relevan di sini adalah perihal tuduhan fatalisme bagi pemikir mazhab materialisme baru: mengapa kerja manusia bisa menjadi bermakna ketika di hadapan yang-non-manusia ia menjadi tidak berkutik? Di sini pemaknaan ego haruslah tepat, karena kerjanya makhluk spesies juga harus didasari atas kesadaran ontologis mengenai inklusivitas dalam X-biosfer. Tawaran kerja bersama atau mutual aid dari Morton melampaui pengertian sempit koeksistensi: manusia dan yangnon-manusia bisa masing-masing bekerja sesuai dorongan alaminya tanpa saling meniadakan. Namun, kebersamaan ini juga bermakna pada aspek spektralitas X-bersama karena mereka berelasi secara kontingen: satu kerja pasti memiliki pengaruh dengan kerja yang lain, meminjam istilah Latour hal ini disebut relasi Aotimbal balikAo, tentu dalam kadarnya yang berbeda-beda. Artinya, ranah kerja bersama ini sebetulnya adalah bagian inheren dalam kesatuan solidaritas X-biosfer. kerja manusia dan nonmanusia sebagai makhluk spesies beriringan dalam siklus kehidupan yang sama 87 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 88 Bruno Latour. AuAgency at the Time of the Anthropocene,Ay p. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. tanpa adanya prioritas kerja mana yang lebih berharga sebagai AupusatAy dan yang-lain sebagai AupinggiranAy. 89 Konsekuensi turunannya, bisa disimpulkan bahwa tidak ada anasir fatalis dalam alur pendapat semacam Misalnya, ketika manusia yang mengejawantahkan hipersubjektivitas tidak memberikan kesempatan bagi yang-non-manusia untuk bekerja sesuai panggilan alamiahnya karena merasa kebutuhannyalah yang harus senantiasa dipenuhi, maka secara timbal balik, karena mereka berada dalam ruang inklusif yang sama, mau tidak mau kesatuan simbiotis riil yang terdampak langsung dari kerusakan alam tadi akan berbalik merugikan sang manusia. Jadi, bukannya kemudian kerja manusia tidak bermakna sama sekali, tetapi maknanya bergantung pada kerja yang-non-manusia dan begitu pula sebaliknya bahwa kerja alamiah entitas non-manusia pun terdampak secara kontingen pada kerja manusia. kerja manusia tetap akan bermakna sebagaimana pula kerjanya non-manusia. Kesadaran atas materialitas ini akhirnya turut mengantarkan manusia kepada gagasan mengenai Aoetika lingkunganAo atau yang secara lebih tepat dalam artikel ini dengan berpijak pada pemikiran Morton berupa solidaritas dan X-solidaritas yang bisa dikembangkan lebih jauh sebagai Aoetika spektralAo . pectral ethics atau ethics of the spectra. Akhirnya, artikel ini menggarisbawahi gagasan baru bahwa Antroposen secara efektif dapat digunakan sebagai kritik yang menyeluruh atas ylsafat manusia antroposentrisme. Kutipan dari Morton dan Boyer berikut layak untuk disimak. AuDaripada kita . berpikir bahwa kita adalah segalanya, seharusnya kita berpikir bahwa kita in berarti, tetapi . bukanlah segalanya. Ay90 Sebagai yang berarti, manusia juga bisa berupaya untuk menjadi lebih baik secara kolektif bersama yangnon-manusia, tanpa harus melekatkan makna kediriannya melampaui makhluk spesies yang lain. Subsendensi sebagai gerak hiposubjek bagi manusia adalah upaya pemprograman ulang atas kesadaran, pemikiran, 89 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 90 Morton and Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human, p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 dan sikap atas realitas X-biosfer demi kehidupan bersama antara kita dan X-kita, antara manusia dan yang-non-manusia pada kesatuan simbiotis Solidaritas yang muncul rintisannya berkat Antroposen ini bagi Timothy Morton tidak akan menghasilkan ledakan besar berupa revolusi, seperti yang dibayangkan para Marxis misalnya. 91 Namun, tepat di poin akhir resolutif ini, gagasan Morton sebetulnya perlu diperiksa. Utamanya dalam kaitannya dengan proyek perluasan gagasan solidaritas komuniter, karena ia memaknai gerak revolusioner sebagai suatu hasrat hipersubjek yang berusaha melampaui partikularitas. Menurutnya, hal yang lebih mungkin dilakukan adalah menciptakan ledakan-ledakan berukuran kecil dan sedang yang terdistribusi pada kesatuan simbiotis riil. Sayangnya Morton tidak memberikan pemerian yang memuaskan perihal pemaknaan oksimoronnya mengenai gerak revolusioner sebagai sesuatu yang partikular ini. Apalagi terkait dengan aspek mondial dari krisis lingkungan itu sendiri yang membutuhkan gerakan politik revolusioner yang melampaui lingkup-lingkup partikular. Namun, kekaburan makna politis di sini tidak mengurangi pelajaran penting dari kebaruan analisis hiposubjektivitas terhadap ylsafat . manusia di kala Antroposen: manusia bukannya menguasai, tetapi bekerja bersama . engan non-manusi. bukan hak keistimewaan, tetapi kewajiban kerendahan KESIMPULAN Problem utama dalam diskursus ylsafat manusia secara fundamental berasal dari obsesi pada hipersubjektivitas yang termanifestasikan melalui tendensi antroposentrisme. Kecenderungan modernis pada ylsafat manusia ini dimulai dari pendeynisiannya sebagai pencarian atas Au. , akar, atau struktur dasar yang melandasi kenyataan manusia. Ay93 Penjelasan ylosoys tentang manusia mengejawantahkan antro91 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 92 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, p. 93 Purwosaputro and Sutono. AuFilsafat Manusia Sebagai Landasan Pendidikan Human- Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. posentrisme itu sendiri: secara ontologis manusia ditempatkan sebagai pusat semesta, secara epistemik manusia dianggap memiliki sudut pandang penjelas yang paling mumpuni atas dunia, dan secara aksiologis manusia dengan kepentingannya adalah sumber bagi segala penilaian. Filsafat manusia yang antroposentris ini bisa dituduh sebagai penyebab akselerasi menuju dimensi kemewaktuan Antroposen, sebuah kala Aomanusia yang baruAo yang penuh dengan bencana ekologis. Menurut Timothy Morton, obsesi pada hipersubjek membuat manusia teralienasi dari kesatuan simbiotis riil yang menopang kehidupan di muka Bumi dan oleh karenanya, manusia perlu kembali menjadi bagian dari kolektif simbiotis ini dengan menempatkan dirinya secara proporsional. 95 Antroposen layaknya menjadi penyadar kegawatdaruratan yang diakibatkan kondisi ketaksaan pemaknaan dualitas antara kemanusiaan dari yangnon-manusia: manusia tidak bisa bermakna sebagai hipersubjek yang menganggap dirinya pusat dunia ketika Antroposen menempatkan manusia hanya menjadi salah satu bagiannya di antara entitas non-manusia yang telah menjadi begitu masif dan multipleks. Manusia justru menjadi bermakna dengan menjadi hiposubjek dengan gerak subsendensi untuk bersolidaritas dengan yang-non-manusia dalam relasi kerja bersama. Dari sini, baru kemudian kemungkinan-kemungkinan atas masa depan bersama yang lebih baik bisa terbuka dalam ketidakpastian yang telah diletupkan Antroposen. DAFTAR RUJUKAN Anderson. Kay, and Colin Perrin. AuNew Materialism and the Stuff of Humanism. Ay Australian Humanities Review, no. : 1Ae15. Bennett. Jane. Vibrant Matter: A Political Ecology of Things. Durham: Duke University Press, 2010. Boysen. Benjamin. AuThe Embarrassment of Being Human. Ay Orbis Litterrarum vol. 73, no. : 225Ae242. https://doi. org/https://doi. is,Ay p. 94 Cerkvenik dalam Mahaswa and Widhianto. AuQuestioning the AoAnthroposAo in the Anthropocene: Is the Anthropocene Anthropocentric?Ay pp. 4Ae6. 95 Morton. Humankind: Solidarity with Non-Human People, pp. 23, 125. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 org/10. 1111/oli. Brothers. Soren. AuAnthropocene or Not. It Is Our Current Epoch That We Should Be Fighting For. Ay The Conversation. March 27, 2024. https:// com/anthropocene-or-not-it-is-our-current-epoch-that-we-should-be-yghting-for-225428. Code. Lorraine. Ecological Thinking: The Politics of Epistemic Location. New York: Oxford University Press, 2006. Crutzen. Paul, and Eugene Stoermer. AuThe Anthropocene. Ay Global Change Newsletter no. 41, 2000. Descola. Philippe. AuHuman Natures. Ay Social Anthropology/Anthropologie Sociale vol. 17, no. : 145Ae157. https://doi. org/10. Dewey. John. Quest for Certainty. New York: G. PutnamAos Sons, 1960. Dewi. Saras. Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia Dengan Alam. Jakarta: Marjin Kiri, 2015. Dyrbeck. Gabriele. Caroline Schaumann, and Heather Sullivan. AuHuman and Non-Human Agencies in the Anthropocene. Ay Ecozon@: European Journal of Literature. Culture and Environment vol. 6, no. 1 (March 7, 2. : 118Ae136. https://doi. org/10. 37536/ECOZONA. Holmes. Robert L. Introduction to Applied Ethics. New York: Bloomsbury Academic, 2018. Kanigara. Bernard Evan. Sanya Dinda, and Jan Zalasiewicz. AuJan Zalasiewicz: AuMasalahnya Bukan Terlalu Sedikit Bukti. Melainkan Terlalu BanyakAy. Ay Balairung: Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia vol. 1, no. : 150Ae159. Kristeva. Julia. Powers of Horror: An Essay on Abjection. New York: Columbia University Press, 1982. Latour. Bruno. AuAgency at the Time of the Anthropocene. Ay New Literary History vol. 45, no. : 1Ae18. https://doi. org/10. ________. We Have Never Been Modern. Cambridge : Harvard University Press, 1993. Latour. Bruno. Pablo Jensen. Tommaso Venturini. Sybastian Grauwin, and Dominique Boullier. AuAoThe Whole Is Always Smaller Than Its PartsAo Ae A Digital Test of Gabriel TardesAo Monads. Ay The British Journal of Sociology vol. 63, no. : 590Ae615. https://doi. org/10. Hiposubjektivitas Timothy Morton (Devananta RaA. Maharani. Septiana Dwiputri. Filsafat Manusia: Unsur-Unsur Dan Problematikanya. Yogyakarta: Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Mahaswa. Rangga. AuBruno Latour and Actor-Network-Anthropocene. Ay Transversal: International Journal for the Historiography of Science, no. : 1Ae13. https://doi. org/10. 24117/2526-2270. Mahaswa. Rangga Kala, and Agung Widhianto. AuQuestioning the AoAnthroposAo in the Anthropocene: Is the Anthropocene Anthropocentric?Ay SHS Web of Conferences no. : 01040. https://doi. org/10. 1051/shsconf/20207601040. Mitchell. Andrew S. Mark Lemon, and Wim Lambrechts. AuLearning from the Anthropocene: Adaptive Epistemology and Complexity in Strategic Managerial Thinking. Ay Sustainability vol. 12, no. : 4427. https://doi. org/10. 3390/su12114427. Morton. Timothy. Humankind: Solidarity with Non-Human People. London: Verso Books, 2017. ________. Hyperobjects: Philosophy and Ecology after the End of the World. Minneapolis: University of Minnesota Press, 2013. Morton. Timothy, and Dominic Boyer. Hyposubjects: On Becoming Human. Open Humanities Press, 2021. OAoHara. Kieran D. A Brief History of Geology. Cambridge: Cambridge University Press, 2018. Purwosaputro. Supriyono, and Agus Sutono. AuFilsafat Manusia Sebagai Landasan Pendidikan Humanis. Ay CIVIS: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Pendidikan Kewarganegaraan vol. 10, no. : 27Ae44. Raja. Muhammad Unies Ananda Raja. AuManusia Dalam Disekuilibrium Alam: Kritik Atas Ekofenomenologi Saras Dewi. Ay Balairung: Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia vol. 1, no. : 40Ae57. Roughley. Neil. AuHuman Nature. Ay In The Stanford Encyclopedia of Philosophy, edited by Edward N. Zalta and Uri Nodelman, 2023. https:// edu/archives/win2023/entries/human-nature/. Witze. Alexandra. AuItAos Final: The Anthropocene Is Not An Epoch. Despite Protest Over Vote. Ay Nature. March 20, 2024. https://doi. org/10. 1038/d41586-024-00868-1. ________. AuThis Quiet Lake Could Mark the Start of A New Anthropocene Epoch. Ay Nature vol. 619, no. : 441Ae442. https://doi. org/10. 1038/d41586-023-02234-z. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 2. Oktober 2024: 293-327 Zahurska. Nataliia V. AuPost-Anthropocentric Hyposubjectivation. Ay The Journal of V. Karazin Kharkiv National University. Series AuPhilosophy. Philosophical Peripeteias,Ay no. : 6Ae12. https://doi. org/10. 26565/2226-0994-2018-58-1. Slavoj. Absolute Recoil: Towards A New Foundation of Dialectic Materialism. London: Verso Books, 2015.