Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Analisis Lirik Lagu AuLingkaran Aku Cinta PadamuAy Karya Iwan Fals dan Sawung Jabo: Perspektif Hermeneutika Gadamer Theresia Ricna Saventika1*. Yoseph Yapi Taum1 Universitas Sanata Dharma ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Penulisan lirik lagu tidak bisa dilepaskan dari pemaknaan terhadap peristiwa kehidupan, sosial, dan budaya yang melingkupinya. Lirik lagu sering kali merefleksikan pengalaman pribadi, situasi sosial, atau kondisi budaya tertentu yang dihadapi oleh penulisnya. Oleh karena itu, lirik lagu memiliki pemaknaan yang kaya dan dapat dikaji lebih jauh, terutama dengan menggunakan teori-teori yang memungkinkan penggalian makna yang lebih komprehensif. Makalah ini menyajikan analisis lirik lagu AuLingkaran Aku Cinta PadamuAy karya Iwan Fals dan Sawung Jabo menggunakan perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer dengan pendekatan kualitatif interpretatif. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam mengenai bagaimana elemen-elemen hermeneutika GadamerAi seperti konsep historis, dialektis, prasangka, dan penggunaan bahasaAi berkontribusi dalam penafsiran lirik lagu tersebut. Konsep historis membantu untuk mengungkap bagaimana konteks sosial dan budaya masa lalu membentuk makna lirik, sementara dialektika mengeksplorasi bagaimana interaksi antara teks dan pembaca menghasilkan interpretasi yang dinamis. Prasangka digunakan untuk mengetahui bagaimana pandangan pribadi dan latar belakang pendengar mempengaruhi pemahaman mereka terhadap lirik, sedangkan penggunaan bahasa dianalisis untuk menilai bagaimana pilihan kata serta struktur linguistik mempengaruhi makna. Hasil analisis menunjukkan bahwa lirik lagu AuLingkaran Aku Cinta PadamuAy karya Iwan Fals dan Sawung Jabo dapat dipahami secara lebih mendalam melalui perspektif hermeneutika HansGeorg Gadamer. Pendekatan hermeneutika Gadamer memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan konteks historis, dialektis, prasangka, dan penggunaan bahasa. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperluas perspektif dalam analisis lirik lagu dan memberikan kontribusi pada kajian sastra Indonesia dengan menunjukkan relevansi pendekatan hermeneutika dalam memahami karya musik secara mendalam. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Analisis Lirik Lagu. Hermeneutika. Gadamer. Sastra This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Theresia Ricna Saventika Universitas Sanata Dharma Jl. Affandi. Mrican. Caturtunggal. Yogyakarta 55281. Indonesia Email: theresiaricnasaventika@gmail. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X PENDAHULUAN Lirik lagu merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sering kali mencerminkan pemikiran dan perasaan penciptanya terhadap kondisi sosial, budaya, dan kehidupan di sekitarnya. Menurut Semi . alam Rendi dkk, 2013: . , lirik adalah puisi yang sangat pendek yang mengapresiasikan emosi. Iwan Fals, seorang musisi legendaris Indonesia, dikenal karena karyanya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memuat kritik sosial dan pesan-pesan mendalam mengenai kemanusiaan. Salah satu karya yang menarik untuk dianalisis adalah lagu "Lingkaran Aku Cinta Padamu," yang ia ciptakan bersama Sawung Jabo pada tahun 1984. Lagu ini menawarkan potret tentang kehidupan, kebudayaan, spiritualitas, serta hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Dengan penggunaan metafora alam dan frasa yang berulang, lagu ini menggambarkan kebersamaan, pencarian makna, serta kesadaran diri dalam menghadapi perubahan dan tantangan hidup. Pada masanya, lagu ini diciptakan dalam konteks sosial-politik Indonesia yang berada di bawah pemerintahan Orde Baru . 6 Ae 1. Saat itu, kebebasan berekspresi sering kali dibatasi. Lirik "Lingkaran Aku Cinta Padamu" dapat dilihat sebagai karya yang sarat dengan makna tersirat, mengajak pendengarnya untuk tetap waspada, berpikir kritis, dan mencari kesejatian diri. Relevansi dan kontribusi lagu ini terhadap pemahaman manusia tentang realitas kehidupan menjadi alasan utama perlunya dilakukan analisis yang mendalam terhadap Dalam konteks kajian sastra, pendekatan hermeneutika Hans-Georg Gadamer menawarkan perspektif yang komprehensif dalam memahami teks, termasuk lirik lagu. Dalam pandangan Gadamer. Auunderstanding is always an historical, dialectical, linguistic event-in the sciences, in the humanities. Hermeneutic is the onology and the phenomology of understanding. The key to understanding are not manipulation and control but participation and openness, not knowledge but experience, not metholodology but dialectic (Palmer, 1969: . Gadamer menekankan pentingnya konteks historis, dialogis, prasangka . , dan linguistik dalam proses interpretasi. Pertama, historisitas menekankan bahwa setiap teks diciptakan dan dipahami dalam konteks sejarah yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, lirik lagu "Lingkaran - Aku Cinta Padamu" diciptakan pada era Orde Baru, suatu periode yang ditandai dengan kontrol ketat terhadap ekspresi kebudayaan, sehingga lirik-liriknya dapat diartikan sebagai respon terhadap kondisi sosial-politik pada masa itu. Kedua, konsep dialektika atau dialogis menunjukkan bahwa pemahaman tidak bersifat statis, tetapi terus berkembang melalui dialog antara teks dan penafsir. Lirik lagu ini, dengan penggunaan simbol alam dan frasa berulang, membuka ruang bagi interpretasi yang terus berubah, bergantung pada pengalaman dan latar belakang Ketiga, prasangka . berperan dalam menentukan bagaimana seseorang menafsirkan suatu karya. Menurut Gadamer (Mulyono, 2013:. , menghilangkan pranggapan sama dengan mematikan Pendengar yang familiar dengan sosok Iwan Fals dan Sawung Jabo sebagai tokoh yang kritis terhadap kekuasaan mungkin membawa prasangka tertentu dalam memahami lagu ini sebagai bentuk kritik terselubung terhadap rezim. Terakhir, linguistik atau bahasa merupakan medium utama dalam menyampaikan makna. Gadamer menekankan bahwa bahasa tidak hanya sarana komunikasi, tetapi juga ruang tempat makna dibentuk dan Dalam lagu "Lingkaran - Aku Cinta Padamu," penggunaan metafora seperti "elang" dan "mentari" tidak hanya memperkaya dimensi estetik lagu, tetapi juga membawa makna simbolis tentang kebebasan, kekuatan, dan siklus kehidupan yang terus berulang. Perspektif hermeneutika ini memungkinkan penafsiran teks menjadi sebuah dialog antara penafsir dan teks, dengan mengakui bahwa setiap pemahaman selalu dipengaruhi oleh latar belakang historis, pengalaman pribadi, serta praanggapan yang dibawa oleh penafsir. Hal ini menjadikan pendekatan Gadamer sangat relevan dalam menganalisis lirik lagu "Lingkaran - Aku Cinta Padamu" yang penuh dengan simbol dan pesan-pesan mendalam. Melalui analisis ini, peneliti akan mengkaji bagaimana lirik lagu tersebut mencerminkan konteks historis dan budaya saat diciptakan serta bagaimana penggunaan bahasa dan simbol-simbol alam dalam lirik tersebut membentuk makna yang ingin disampaikan oleh penciptanya. Pendekatan hermeneutika Gadamer juga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang relevansi karya ini dalam konteks budaya populer Indonesia serta kontribusinya terhadap wacana kebebasan dan kemanusiaan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi kajian lebih lanjut mengenai penggunaan lirik lagu sebagai bentuk karya sastra dalam kajian budaya. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan studi hermeneutika Gadamer dengan metode kualitatif interpretatif untuk menafsirkan makna yang terkandung dalam lirik lagu AuLingkaran - Aku Cinta PadamuAy karya Iwan Fals dan Sawung Jabo. Pendekatan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana lirik lagu dapat mencerminkan konsep-konsep filosofis dan spiritual yang diusung oleh penciptanya. Metode hermeneutika Gadamer menekankan pada pemahaman teks dalam konteks yang dinamis, di mana penafsiran terjadi melalui dialog antara teks dan pembaca . tau pendenga. Hal ini memungkinkan peneliti untuk tidak hanya Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X mencatat fakta, tetapi juga berusaha memahami konteks historis, kebudayaan, dan makna simbolis yang terkait dengan data. Gadamer mengembangkan hermeneutika filosofis yang berfokus pada pemahaman sebagai pengalaman Metode hermeneutika Gadamer memandang interpretasi sebagai dialog antara teks . tau liri. dan pembaca . tau pendenga. , di mana makna dibentuk melalui interaksi ini. Beberapa konsep penting dalam metode hermeneutika Gadamer yang dapat diterapkan dalam analisis lirik lagu adalah: Prejudis (Prasangka Positi. Gadamer menekankan bahwa kita selalu membawa prasangka atau asumsi awal ketika mencoba memahami teks. Dalam analisis lirik lagu, ini berarti memahami bahwa penafsir datang dengan latar belakang pengalaman pribadi, budaya, dan pengetahuan yang akan mempengaruhi bagaimana lirik tersebut diartikan. Fusi Horison (Fusion of Horizon. Gadamer memperkenalkan konsep "fusion of horizons" di mana pemahaman terjadi ketika cakrawala interpretatif penafsir . alam hal ini, pendengar lirik lag. bertemu dengan cakrawala teks . irik lagu itu Dalam analisis lirik, pendekatan ini berarti mencoba menyatukan perspektif pembaca dan teks, menemukan makna yang muncul dari pertemuan tersebut. Dialog Gadamer percaya bahwa interpretasi merupakan sebuah dialog antara penafsir dan teks. Dalam hal lirik lagu, ini bisa diterjemahkan sebagai proses interaktif antara pendengar dan lirik, di mana pendengar aktif merespons dan meresapi makna yang ditawarkan oleh lagu, dan tidak hanya pasif menerima apa yang Historisitas Gadamer menekankan bahwa pemahaman selalu dipengaruhi oleh konteks historis, baik dari sisi teks maupun penafsir. Dalam menganalisis lirik lagu, pendekatan ini mengharuskan penafsir untuk mempertimbangkan konteks penciptaan laguAisituasi sosial, budaya, atau politik pada saat lirik ditulisAi dan bagaimana pemahaman tersebut berinteraksi dengan konteks pendengar saat ini. Dengan menggunakan metode hermeneutika Gadamer, analisis lirik lagu bukan hanya upaya menemukan makna literal, tetapi juga melibatkan pembacaan yang lebih dalam, yang menghargai dialog antara lirik dan pengalaman historis serta personal dari pendengar. 1 Sumber data Sumber data utama dalam penelitian ini adalah lirik lagu AuLingkaran - Aku Cinta PadamuAy yang akan dianalisis sebagai objek kajian utama. Lirik lagu ini akan diperlakukan sebagai teks yang kaya akan makna, mengandung metafora dan simbolisme yang memerlukan penafsiran mendalam. Sumber data sekunder berasal dari berbagai literatur yang mendukung, antara lain: 1 Buku yang membahas teori hermeneutika, terutama karya-karya Hans-Georg Gadamer, untuk memberikan landasan teoritis dalam penafsiran teks. 2 Jurnal ilmiah yang membahas topik hermeneutika, interpretasi teks sastra, dan kajian musik, yang relevan dengan penelitian ini. 3 Artikel ilmiah dan penelitian terdahulu tentang analisis lirik lagu, terutama karya-karya Iwan Fals dan Sawung Jabo, yang dapat memberikan perspektif tambahan mengenai makna dari lirik lagu ini. 4 Website resmi dan referensi kredibel lainnya yang dapat memberikan konteks historis atau sosial terkait penciptaan lagu ini, termasuk wawasan tentang latar belakang budaya dan sosial yang mempengaruhi penciptaan lagu. Dengan demikian, data yang dikumpulkan tidak terbatas pada teks lirik itu sendiri, tetapi juga mencakup kajian ilmiah dan referensi pendukung yang relevan. 2 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen, di mana peneliti mengumpulkan berbagai informasi tertulis dari sumber-sumber yang telah disebutkan sebelumnya. Studi dokumen dipilih karena sesuai dengan sifat penelitian ini yang fokus pada penafsiran teks. Peneliti tidak melakukan wawancara langsung dengan pencipta lagu (Iwan Fals dan Sawung Jab. , karena penelitian ini lebih berfokus pada interpretasi teks dibandingkan dengan pendekatan empiris. 3 Tahap Penelitian Penelitian ini akan melalui beberapa tahapan utama 1 Pengumpulan Data Utama Peneliti akan terlebih dahulu menelaah lirik lagu secara mendalam, menganalisis setiap bait dan frasa, serta mencatat elemen-elemen penting yang relevan dengan empat konsep Gadamer. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Pengumpulan Data Sekunder: Setelah itu, peneliti akan mencari referensi dan literatur pendukung yang berkaitan dengan objek kajian. Ini meliputi studi tentang hermeneutika, kajian karya-karya Iwan Fals dan Sawung Jabo, serta konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi penciptaan lagu. Analisis Kualitatif: Peneliti akan menggunakan pendekatan interpretatif untuk menafsirkan makna lirik berdasarkan konsepkonsep hermeneutika Gadamer. Setiap elemen lirik akan dianalisis dalam konteks sejarah, dialektis, prasangka, dan linguistik. Interpretasi Keseluruhan Peneliti akan menyusun hasil analisis dalam bentuk kesimpulan yang komprehensif, menggabungkan semua temuan dari empat konsep utama tersebut. Pada tahap ini, peneliti akan memberikan wawasan tentang makna lirik lagu secara keseluruhan, serta relevansinya dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Deskripsi Lagu Lagu AuLingkaran Aku Cinta PadamuAy adalah lagu hasil kolaborasi Iwan Fals dan Sawung Jabo yang dirilis pada tahun 1984 melalui label rekaman Musica Studios. Lagu ini juga termasuk dalam album Iwan Fals yang bertajuk Anak Wayang yang rilis pada tahun 1994 (Kompas. Berikut disajikan transkripsi lagu AuLingkaran Aku Cinta PadamuAy karya Iwan Fals dan Sawung Jabo secara keseluruhan: Lingkaran Aku Cinta Padamu Ae Iwan Fals dan Sawung Jabo Kini kami berkumpul Esok kami berpencar Berbicara tentang kehidupan Berbicara tentang kebudayaan Berbicara tentang ombak lautan Berbicara tentang bintang di langit Kami berbicara tentang Tuhan Berbicara tentang kesejatian Tentang apa saja Malam boleh berlalu Gelap boleh menghadang Disini kami tetap berdiri Disini kami tetap berpikir Disini kami tetap berjaga Disini kami tetap waspada Disini kami membuka mata Disini kami selalu mencari Kesejatian diri Alang alang bergerak Mata kami berputar Seperti elang kami melayang Seperti air kami mengalir Seperti mentari kami berputar Seperti gunung kami merenung Di lingkaran kami berpandangan Di lingkaran kami mengucapkan Aku cinta padamu Aku cinta padamu Aku cinta padamu Aku cinta padamu Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X 2 Analisis Lirik Lagu Konsep Historis Peneliti memulai analisis lirik lagu "Lingkaran - Aku Cinta Padamu" dengan fokus pada historisitas atau keterkaitan pemahaman terhadap teks dengan konteks sejarah yang melatarbelakanginya. Menurut Gadamer, pemahaman selalu berakar pada sejarah, baik dari sudut pencipta teks maupun pembaca . yang menginterpretasi teks tersebut. Melalui konsep ini, peneliti mencoba mengungkap bagaimana konteks sejarah Indonesia, terutama pada masa penciptaan lagu ini, membentuk pemahaman yang lebih mendalam terhadap makna yang terkandung di dalam lirik. Dari analisis peneliti melalui konsep historis, lagu "Lingkaran Aku Cinta Padamu" diciptakan pada masa Orde Baru, yang berlangsung di Indonesia antara tahun 1966 hingga 1998. Pada periode ini, pemerintah menerapkan kontrol ketat terhadap kebebasan berekspresi dan mengkritik kebijakan. Kebijakan politik yang represif ini berimbas pada berbagai aspek kehidupan, termasuk seni dan musik, di mana banyak seniman mungkin merasa tertekan untuk tidak menyuarakan kritik terhadap pemerintah. Dalam konteks ini, lirik lagu Iwan Fals dan Sawung Jabo yang tampaknya berbicara tentang kehidupan, kebudayaan, dan pencarian kesejatian diri, sebenarnya juga mengandung makna yang lebih dalam, yaitu sebagai bentuk resistensi terhadap situasi sosial-politik yang membelenggu. Data 1 "Disini kami tetap berdiri, disini kami tetap berpikir, disini kami tetap berjaga, disini kami tetap waspada" Berdasarkan latar sejarah tersebut, peneliti menginterpretasi penggalan lirik seperti Data 1 sebagai representasi dari keteguhan melawan represi politik dan sosial. Lirik ini tidak hanya berbicara tentang kondisi pribadi, tetapi juga menyuarakan keteguhan kolektif dalam menghadapi keadaan yang menekan, yang secara historis relevan dengan situasi Indonesia pada masa itu. Di sini, historisitas menjadi kunci dalam memahami ketegangan antara individu atau kelompok yang ingin tetap berdiri teguh di tengah kekuasaan otoriter. Peneliti juga mengamati bahwa pemahaman terhadap lirik ini tidak terlepas dari budaya dan nilai-nilai filosofis yang ada dalam tradisi Indonesia. Sebagai contoh, elemen alam seperti "ombak lautan", "bintang di langit", dan "elang" yang sering muncul dalam lirik ini memiliki akar dalam kebudayaan Indonesia yang melihat alam sebagai bagian integral dari kehidupan dan spiritualitas. Data 2 "Berbicara tentang Tuhan, berbicara tentang kesejatian" Dari penggalan lirik tersebut, peneliti menginterpretasikan bahwa Data 2 mengungkapkan hubungan erat antara manusia dengan alam dan spiritualitas, sebuah pandangan yang sangat dipengaruhi oleh warisan budaya lokal. Dengan demikian, pemahaman terhadap lirik ini dipengaruhi oleh konteks budaya yang telah terbentuk secara historis. Data 3 AuDi lingkaran kami berpandangan. Ay AuDi lingkaran kami mengucapkanAy Kata "lingkaran" dalam Data 3 yang sekalian menjadi judul dan tema utama lagu ini juga memiliki makna yang lebih mendalam jika dianalisis dari sudut pandang historisitas. Sebagai peneliti, saya memandang bahwa "lingkaran" di sini bisa melambangkan kebersamaan dalam sebuah siklus perjuangan, sebuah simbol yang relevan dalam konteks sejarah politik dan sosial Indonesia. Pada masa Orde Baru, konsep kebersamaan dalam lingkaran juga dapat dihubungkan dengan resistensi kolektif terhadap penindasan. Dengan memandang "lingkaran" sebagai simbol dari siklus yang berulang, lirik ini mencerminkan pengulangan perjuangan, baik dalam konteks kehidupan sehari-hari maupun dalam perlawanan terhadap sistem yang menindas. Konsep Dialektika Sebagai peneliti, saya akan menguraikan bagaimana konsep dialektika ini bekerja dalam mengungkap makna dari lirik lagu serta menunjukkan bukti-bukti data yang mendukung analisis tersebut. Data 4 "Berbicara tentang kehidupan, berbicara tentang kebudayaan, berbicara tentang ombak lautan, berbicara tentang bintang di langit" Dalam Data 4 terlihat bahwa penulis berupaya menciptakan dialog dengan dunia di sekitarnya melalui eksplorasi terhadap berbagai topik besar seperti kehidupan, kebudayaan, dan alam. Dialektika antara penulis dan karya di sini menunjukkan bahwa lirik ini tidak hanya mencerminkan pemikiran pencipta, tetapi juga menantang mereka untuk merenungkan lebih dalam makna dari fenomena-fenomena yang mereka hadapi. Data 5 "Di lingkaran kami berpandanganAy Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X AuDi lingkaran kami mengucapkan, aku cinta padamu" Hadirnya penggalan lirik seperti pada Data 5 juga membuka ruang bagi interpretasi yang beragam dari pendengar. Pendengar dapat memahami "lingkaran" sebagai simbol kebersamaan, siklus hidup, atau bahkan sebagai ruang spiritual. Di sini, proses dialektika terjadi ketika pendengar memasukkan pengalaman, prasangka, dan pemahaman mereka ke dalam teks, yang pada akhirnya membentuk makna yang unik bagi setiap individu. Misalnya, seorang pendengar yang tumbuh dalam lingkungan komunitas yang erat mungkin akan mengaitkan kata "lingkaran" dengan solidaritas kelompok. Sebaliknya, pendengar dengan latar belakang yang lebih individualistis mungkin melihat lingkaran sebagai simbol refleksi pribadi dan Dengan demikian, makna dari lirik ini terus berkembang seiring dengan terjadinya dialog antara teks dan pendengar. Konsep Prasangka/praanggapan Dalam hermeneutika Gadamer, prasangka atau praanggapan tidak dianggap sebagai sesuatu yang negatif, melainkan sebagai elemen penting dalam proses pemahaman. Setiap individu memiliki praanggapan yang berperan sebagai kerangka dasar interpretasi sebelum mereka berinteraksi dengan teks. Prasangka ini dipengaruhi oleh sejarah, budaya, pengalaman hidup, dan pengetahuan sebelumnya. Gadamer berpendapat bahwa memahami sebuah teks atau karya seni adalah proses dialog yang melibatkan praanggapan dari pembaca dan objek yang dipahami. Sebagai peneliti, saya akan menguraikan bagaimana konsep prasangka/praanggapan ini bekerja dalam mengungkap makna lirik "Lingkaran - Aku Cinta Padamu", dengan menyertakan bukti data yang Data 6 AuKami tetap terjagaAy AuKami selalu mencari kesejatian diriAy Sebagai bagian dari analisis, peneliti juga menemukan bahwa prasangka atau praanggapan yang dimiliki oleh pendengar pada masa Orde Baru turut membentuk cara mereka memahami lagu ini. Banyak pendengar, terutama yang merasa tertekan oleh kebijakan pemerintah, mungkin mendekati lagu ini dengan prasangka tentang perlunya perlawanan dan perjuangan. Dalam hal ini. Data 6 bisa dimaknai sebagai pesan perlawanan terselubung terhadap represi politik. Prasangka sosial-politik ini membawa audiens untuk menafsirkan lagu tidak hanya sebagai ungkapan cinta atau spiritualitas, tetapi juga sebagai pernyataan yang lebih luas tentang kebebasan berpikir dan berekspresi. Pemahaman terhadap lagu ini, dalam pandangan peneliti, sangat dipengaruhi oleh konteks politik saat itu, di mana segala bentuk kritik harus disampaikan dengan cara yang tersirat untuk menghindari sensor dan pembatasan. Data 7 "Aku cinta padamu" "Aku cinta padamu" "Aku cinta padamu" Data 7 yang diulang beberapa kali dan menjadi tema serta topik dalam lagu ini mungkin menimbulkan berbagai interpretasi, tergantung pada prasangka pendengar tentang cinta. Sebagai contoh, pendengar yang memiliki praanggapan bahwa cinta adalah sesuatu yang romantis mungkin akan menganggap frasa ini sebagai ungkapan cinta personal antara dua individu. Namun, pendengar yang memandang cinta secara lebih universal mungkin akan memahami lirik ini sebagai ekspresi cinta kepada dunia. Tuhan, atau kehidupan secara keseluruhan. Konsep Linguistik Dalam hermeneutika Gadamer, bahasa memegang peran sentral dalam proses pemahaman. Gadamer berpendapat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium tempat maknamakna terbentuk dan disampaikan. Bahasa tidak hanya menyampaikan ide-ide, tetapi juga membuka dunia makna yang lebih luas melalui interaksi antara teks dan pembacanya. Melalui bahasa, kita tidak hanya mengungkapkan pikiran, tetapi juga memahami dunia kita dan berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu Bahasa harus dipahami sebagai yang merujuk pada pertumbuhan mereka secara historis,dengan kesejarahan makna-maknanya, tata bahasa dan sintaksisnya, sehingga dengan demikian Bahasa muncul sebagai bentuk variative logika pengalaman, hakikat, termasuk pengalaman historis/tradisi (Mulyono, 2013:148-. Sebagai peneliti, saya akan menguraikan bagaimana konsep linguistik dalam hermeneutika Gadamer bekerja dalam mengungkap makna lirik "Lingkaran - Aku Cinta Padamu", dengan bukti data yang mendukung. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Data 8 "Berbicara tentang kehidupan, berbicara tentang kebudayaan" "Berbicara tentang ombak lautan, berbicara tentang bintang di langit" Data 8 di atas menunjukkan bagaimana bahasa dalam karya Iwan Fals dan Sawung Jabo digunakan untuk mendeskripsikan elemen-elemen alam dan sosial. Penggunaan bahasa yang menggambarkan "ombak lautan" dan "bintang di langit" melibatkan lebih dari sekadar penyebutan elemen ini adalah penggambaran dari dialog antara manusia dan alam. Di sini, bahasa menjadi medium untuk menggambarkan relasi antara subjek . dan objek . Data 9 "Seperti elang kami melayang" "Seperti air kami mengalir" Metafora dalam karya Iwan Fals dan Sawung Jabo kerap kali digunakan untuk menggambarkan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan alam. Penggunaan metafora seperti "elang" dan "air" (Data . mengundang pendengar untuk memahami kebebasan dan ketenangan sebagai aspek esensial dari kehidupan yang sejalan dengan alam. Ini memperlihatkan bagaimana bahasa tidak hanya bersifat literal, tetapi juga figuratif, membuka ruang bagi berbagai interpretasi melalui kekuatan imajinasi. Data 10 "Disini kami tetap berpikir, disini kami tetap berjaga" "Disini kami membuka mata, disini kami selalu mencari kesejatian diri" Lirik seperti dalam Data 10 menunjukkan bahwa teks ini mengajak pendengar untuk merenungkan keberadaan mereka, tugas mereka sebagai manusia, dan hubungan mereka dengan dunia Lirik-lirik seperti "Disini kami tetap berpikir, disini kami tetap berjaga" menunjukkan bahwa teks ini mengajak pendengar untuk merenungkan keberadaan mereka, tugas mereka sebagai manusia, dan hubungan mereka dengan dunia sekitar. Data 11 "Kami berbicara tentang Tuhan, berbicara tentang kesejatian" "Di lingkaran kami berpandangan, di lingkaran kami mengucapkan" Peneliti juga melihat bahwa bahasa yang digunakan dalam lirik Lingkaran Aku Cinta Padamu juga merupakan refleksi dari tradisi budaya dan sejarah pencipta lirik. Dalam lirik seperti dalam Data 11 ini, bahasa mencerminkan pandangan dunia yang lebih luas, di mana konsep-konsep religius seperti Tuhan dan kesejatian mencerminkan tradisi yang hadir dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Penggunaan istilah ini menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai cerminan dari warisan sejarah dan budaya yang membentuk cara kita memahami realitas. Data 12 "Aku cinta padamu, aku cinta padamu" "Aku cinta padamu, aku cinta padamu" Gadamer juga menekankan bahwa bahasa adalah medium melalui mana manusia mengungkapkan diri mereka. Peneliti melihat bahwa frasa "Aku cinta padamu" (Data . bukan hanya pernyataan emosional, tetapi juga ungkapan dari pengungkapan diri yang dalam. KESIMPULAN Dari keseluruhan analisis berdasarkan empat konsep hermeneutika GadamerAiyakni konsep historis, dialektis, prasangka, dan linguistikAilirik lagu "Lingkaran - Aku Cinta Padamu" karya Iwan Fals dan Sawung Jabo menunjukkan bahwa pemahaman terhadap sebuah karya seni, khususnya lirik lagu, adalah proses yang kompleks dan terus berkembang. Setiap lirik tidak dapat diinterpretasikan secara statis, melainkan melibatkan pengalaman hidup, prasangka, serta dialog yang konstan antara teks dan audiensnya. Berikut adalah kesimpulan dari setiap aspek yang dianalisis: 1 Konsep Historis Pemahaman terhadap lirik ini tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah, budaya, dan pengalaman yang Melalui narasi tentang kehidupan, kebudayaan, alam, dan spiritualitas, lirik ini mencerminkan pandangan hidup kolektif yang terhubung dengan sejarah dan warisan budaya Indonesia. Setiap elemen dalam lirik, seperti alam dan Tuhan, adalah cerminan dari tradisi yang lebih luas yang membentuk cara pandang pencipta dan pendengarnya. 2 Konsep Dialektis Pemahaman terhadap lirik ini terjadi melalui dialog antara teks dan pendengar. Lirik ini mendorong interaksi dan refleksi tentang konsep kehidupan, spiritualitas, dan kesejatian diri. Seperti dalam dialog, makna dari lirik ini tidak bersifat tetap, melainkan terus berkembang seiring dengan pengalaman dan pemahaman pendengar. Pendengar tidak hanya menerima makna yang diberikan, tetapi turut berpartisipasi dalam penciptaan makna melalui interpretasi mereka. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X 3 Konsep Prasangka/praanggapan Prasangka atau praanggapan sangat berperan dalam proses pemahaman. Sebagai pendengar, kita membawa latar belakang budaya, keyakinan, dan pengalaman kita sendiri dalam menafsirkan lirik ini. Dengan demikian, pemahaman terhadap lirik tersebut sangat dipengaruhi oleh prasangka yang kita bawa. Alih-alih menjadi hambatan, prasangka ini justru menjadi dasar awal untuk memahami makna dari lirik, dan bisa berubah seiring dengan proses dialogis yang kita alami dengan teks. 4 Konsep Linguistik Bahasa dalam lirik ini berfungsi sebagai medium utama untuk mengungkapkan makna yang lebih dalam, melalui penggunaan metafora, simbolisme, dan pengungkapan diri. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga ruang di mana makna terbentuk dan berkembang. Penggunaan metafora seperti "Seperti elang kami melayang" atau "Seperti air kami mengalir" menunjukkan bagaimana bahasa digunakan untuk menjembatani pemahaman terhadap konsep abstrak seperti kebebasan, kesejatian, dan keberadaan Secara keseluruhan, lirik "Lingkaran - Aku Cinta Padamu" merupakan sebuah karya yang kaya makna dan penuh refleksi, di mana pemahaman terhadapnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah, tradisi, pengalaman, serta dialog antara teks dan pendengar. Dalam hermeneutika Gadamer, bahasa menjadi kunci dalam proses penciptaan makna, yang memungkinkan setiap pendengar untuk terus menafsirkan teks berdasarkan pengalaman hidup dan prasangka yang mereka bawa. Makna yang terkandung dalam lirik ini tidaklah final, tetapi terus berubah dan berkembang seiring dengan perubahan konteks sosial, budaya, dan pengalaman personal yang dibawa oleh setiap Bagi peneliti, lirik Lingkaran Aku Cinta Padamu karya Iwan Fals dan Sawung Jabo ini berhasil menyajikan refleksi yang mendalam tentang kehidupan, cinta, spiritualitas, dan kesejatian diri, yang memberikan ruang bagi setiap pendengar untuk terlibat dalam interpretasi personal mereka sendiri. Pemahaman terhadap karya seni ini menjadi sebuah proses yang terbuka, di mana makna terus terbentuk, direvisi, dan diperkaya melalui dialog antara teks, sejarah, dan audiens. DAFTAR PUSTAKA