IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 Media Dalam Islam. Membangun Sikap Kritis Terhadap Berita Palsu dan Propaganda Daryan Pratama Alifi1. Fitri Novianti Hidayah2. Adellia Vanessa3. Hisny Fajrussalam4. Universitas Pendidikan Indonesia1-4 Email Korenpondensi: daryan@upi. edu, fitrinovianti@upi. edu, adelliavns@upi. hfajrussalam@upi. Article received: 13 Juni 2024. Review process: 16 Juni 2024. Article Accepted: 20 Juni 2024. Article published: 01 Juli 2024 ABSTRACT The rapid development of information technology poses a major challenge for us as a society in distinguishing between true and false news. Islam as a religion that loves peace and requires truth, provides a basis for us to be critical of fake news and propaganda. This study aims to explain how Islamic teachings view the media for disseminating information by examining principles related to truth and responsible attitudes in disseminating This study uses a literature study, which is a series of activities to collect library data, read and record, and process research materials. The results of this study concluded that Islam teaches all Muslims to check and verify every piece of information received before disseminating it. Muslims are expected to be able to filter various hoax news that can cause division by adhering to the Qur'an and Sunnah to act, behave, and think in accordance with the provisions of Allah SWT. So, all Muslims are required to be smart and wise in using social media by examining it first. The role of the media in Islam is not only as a means of communication, but as a platform to spread messages of goodness, strengthen brotherhood, and invite to goodness and truth to form a critical attitude towards various kinds of hoaxes and propaganda that are rampant. Keywords: Information. Truth. Fake News. Propaganda. Perspective. ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat menimbulkan tantangan yang besar bagi kita selaku masyarakat dalam membedakan berita yang benar dan palsu. Islam sebagai agama yang mencintai kedamaian dan mengharuskan adanya kebenaran, memberikan landasan bagi kita untuk bersikap kritis terhadap berita palsu dan propaganda. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana ajaran Islam memandang media penyebaran informasi dengan meneliti prinsip yang berkaitan dengan kebenaran dan sikap tanggung jawab dalam menyebarkan informasi. Penelitian ini menggunakan studi literatur, yang merupakan serangkaian kegiatan untuk mengumpulkan data pustaka, membaca dan mencatat, dan mengolah bahan penelitian. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Islam mengajarkan kepada seluruh umat muslim untuk memeriksa dan memverifikasi setiap informasi diterima sebelum menyebarkannya. Umat muslim diharapkan dapat menyaring berbagai berita hoax yang dapat menimbulkan perpecahan dengan cara berpegang pada AlQurAoan dan Sunnah untuk bersikap, berperilaku, dan berpikir sesuai dengan ketentuanLisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Daryan Pratama Alifi. Fitri Novianti Hidayah. Adellia Vanessa. Hisny Fajrussalam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 ketentuan dari Allah SWT. Jadi, semua umat muslim dituntut untuk pandai dan bijak dalam menggunakan media sosial dengan cara menelaahnya terlebih dahulu. Peran media dalam Islam tidak hanya sekedar alat komunikasi, tetapi sebagai platform untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan, memperkuat ukhuwah, serta mengajak kepada kebaikan dan kebenaran untuk membentuk sikap kritis terhadap berbagai macam hoax dan propaganda yang marak terjadi. Kata Kunci: Informasi. Kebenaran. Berita Palsu. Propaganda. Perspektif. PENDAHULUAN Pada era digital, mayoritas platform media sosial menjadi sumber utama untuk memperoleh informasi bagi banyak orang. Namun terdapat pula penyebaran berita palsu, dan propaganda yang dapat mempengaruhi opini, keyakinan, dan perilaku dalam memperoleh informasi, terutama di platform media sosial. Dengan meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana dakwah dan komunikasi dalam Islam, seringkali ditemukan berbagai informasi yang kurang tepat, sehingga pendidikan literasi media dalam Islam termasuk salah satu penyelesaian dalam mengurangi dampak negatif penyebaran informasi yang salah. Media sosial dapat menimbulkan dampak negatif, seperti provokasi, berita palsu, ujaran kebencian, isu ras, agama, dan antar golongan (SARA) terhadap suatu kelompok atau individu tertentu yang merupakan isu yang sangat sensitif. Berbagai dampak negatif yang disebabkan karena media sosial tersebut menjadi tantangan yang sangat besar bagi semua umat beragama, terutama Islam. Kondisi ini akan sangat dikhawatirkan dapat merambah ke dunia nyata bila tidak segera Dalam Islam sendiri, bagi semua muslim berpegang pada keyakinan Al-QurAoan untuk bersikap, berperilaku, dan berpikir sesuai dengan ketentuanketentuan dari Allah SWT. Jadi, semua umat muslim dituntut untuk pandai dan bijak dalam menggunakan media sosial dengan cara menelaahnya terlebih dahulu (Suryani et al. , 2023:21-. Hoax merupakan rekayasa informasi maupun pemalsuan informasi yang sengaja disebar melalui media sosial atau pada media lainnya. Hoax dapat didefinisikan sebagai teks, gambar, atau video yang digunakan sebagai berita palsu atau upaya untuk menipu yang disebarkan kepada pembaca melalui media siber sehingga mereka percaya apa pun. Penting untuk menjembatani diri dengan kemampuan literasi dan memfilter informasi yang diterima agar tidak mudah terpolarisasi oleh hoax yang sengaja memanfaatkan kekosongan informasi di media sosial hanya untuk mendapatkan keuntungan (Fitria & Subakti, 2022:143. Banyaknya hoax dapat disebabkan pula oleh penggunaan internet di lingkungan masyarakat yang terus meningkat untuk mengakses jejaring sosial (Parhan et al. , 2021:59-. Dalam Islam, membuat dan menyebarkan kebohongan maupun berita palsu sama-sama berdosa. Islam mengajarkan untuk memeriksa dan memverifikasi setiap informasi diterima sebelum menyebarkannya agar dapat menjaga keharmonisan dan perdamaian di antara seluruh muslim (Safitri, 2. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Daryan Pratama Alifi. Fitri Novianti Hidayah. Adellia Vanessa. Hisny Fajrussalam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 Banyaknya berita yang menimbulkan kesalahpahaman, propaganda dan salah mengartikan fakta akan menyebabkan kebingungan dan menciptakan perpecahan sosial ditengah masyarakat. Akibatnya, masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap media sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya (Othman et al. 2020:159-. Dengan demikian, artikel ini akan membahas mengenai urgensi pendidikan literasi media dalam Islam dengan berfokus pada membangun sikap kritis terhadap berita palsu dan propaganda untuk mencegah penyebaran berbagai informasi yang tidak akurat, serta agar dapat meminimalisir bahkan mencegah problematika serta pengaruh negatif dalam bermedia sosial bagi seluruh umat Islam. METODE Dalam karya ilmiah ini memakai sebuah metode penelitian yang berkaitan erat dengan prosedur dan teknik penelitian dalam prosesnya. Untuk dapat melakukan penelitian, metode merupakan syarat utama untuk sebuah penelitian. Pada intinya, metode penelitian adalah suatu cara untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu topik penelitian atau disebut juga metode ilmiah dengan tujuan akhir menyelesaikan masalah yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan studi literatur, yang merupakan serangkaian kegiatan untuk mengumpulkan data pustaka, membaca dan mencatat, dan mengolah bahan Dalam hal ini dilakukan tinjauan pustaka yang berguna untuk kepentingan proyek penelitian itu sendiri, untuk memperdalam wawasan penulis mengenai topik penelitian, dan membantu penulis dalam merumuskan pertanyaan penelitian. Penulis mengidentifikasi teori yang sesuai serta metode dan hasil penelitian yang sebaiknya digunakan dalam penelitian yang dilakukan (Aryana, 2. Dalam prosesnya, metode penelitian studi literatur berhadapan langsung dengan data pustaka. Adapun beberapa fungsi dari metode penelitian studi literatur yang juga menjadi alasan untuk menggunakan metode ini, yaitu untuk memberikan penjelasan jelas tentang subjek masalah yang diteliti dan lebih fokus dengan permasalahan utama yang menjadi objek kajian penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini yang berkaitan dengan media dalam islam. sikap kritis terhadap berita palsu dan propaganda, peneliti sajikan sebagai berikut: Pengertian Media dalam Perspektif Islam Di zaman sekarang teknologi kerap sekali digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi yang paling banyak digunakan adalah internet. Dalam aktivitas internet ada sebuah media. Perlu diketahui terlebih dahulu, media dalam bahasa Arab adalah wasAAoil, jamak dari kata waslah yang berarti perantara atau Kata AoperantaraAo berarti media yang memiliki dua sisi, yaitu sebagai pengantar maupun penghubung (Rosyidi dan MamluAoatul NiAomah, 2012:101-. Aktivitas internet yang sering digunakan adalah media sosial. Media sosial memiliki cakupan yang sangat luas dan tentunya sangat bebas. Dengan kebebasan Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Daryan Pratama Alifi. Fitri Novianti Hidayah. Adellia Vanessa. Hisny Fajrussalam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 itulah dapat menjadi tanggung jawab bagi yang menggunakannya. Dalam perspektif Islam sendiri mempunyai batasan-batasan bagi umatnya yang menggunakan media sosial. Agama Islam tetap mendukung dengan adanya media sosial, namun tetap harus memperhatikan akhlak dan etika pada jalur yang Media sosial dapat sangat mudah menggerakan massa, untuk mencegah hal itu Al-QurAoan sudah mengisyaratkan melalui QS. Al-IsraAo Ayat 53, yang berarti: AuDan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku. Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik . Sesungguhnya, setan menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Ay Dalam konteks media sosial, prinsip-prinsip etika Islam sangat penting untuk diterapkan. Menurut Al-Qaradawi . , media dalam Islam harus mengutamakan penyebaran kebenaran dan menghindari penyebaran informasi yang bisa menimbulkan fitnah. Ini sejalan dengan hadith Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam. Bahaya Berita Palsu . dalam Masyarakat Berita palsu . dalam bahasa Arab disebut AAo( AEAif. yang serupa dengan kata A( EAkadza. yang berarti dusta. Menurut Afriza dan Adisantoso (Marwan dan Ahyad 2. menyatakan berita palsu . merupakan berita yang menyesatkan pandangan atau persepsi manusia dengan menyampaikan atau menyebarkan informasi yang tidak sesuai dengan kebenaran. Perkembangan teknologi media sosial sangat pesat pada zaman digitalisasi Tidak bisa disangkal lagi banyak masyarakat sudah menjadi sasaran empuk bagi pembuat berita palsu . Namun, sangat disayangkan banyak masyarakat juga yang menjadi produsen pembuat berita . Dampak dari berita palsu . mempunyai dua sisi. Pertama, dampak pada setiap individu yang ikut andil dalam menyebarkan berita palsu . tidak akan dipercaya orang lagi. Penyebar berita palsu . juga bisa terjerat pasal 28 ayat 1 UU ITE, karena dengan sengaja menyebarkan berita tidak benar, hukumnya sampai 6 tahun penjara dan denda 1 miliar rupiah. Kedua, dampak berita palsu . ini yakni dapat memecah belah antara dua pihak, membuat sulit untuk membedakan berita yang benar dari yang palsu, serta mudah emosi akibat melihat suatu berita yang tidak jelas kebenarannya (Aminah dan Sari 2. Pembuat berita palsu . dapat menggiring penerima berita sesuai yang diinginkan oleh pembuat berita palsu . Apabila penerima berita palsu . sudah terpengaruh maka selanjutnya mereka akan membagikan atau menyebarkan berita palsu . tersebut dan akan mengakhiri dengan tersebarnya berita palsu . itu ke berbagai masyarakat. Islam mempunyai Al-QurAoan yang sedari dahulu selalu mempunyai jawaban atas permasalahan perubahan zaman. Meskipun berita palsu . ini muncul pada tahun 1808. Al-QurAoan sudah terlebih dahulu membahas mengenai berita palsu . dengan bahasa sendiri. Hal-hal inilah yang membuktikan Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Daryan Pratama Alifi. Fitri Novianti Hidayah. Adellia Vanessa. Hisny Fajrussalam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 bahwa Al-QurAoan selalu menjadi relevan di setiap berbagai keadan kapanpun dan dimanapun. Dalam Islam berita palsu . ini tidak dapat dianggap sepele, karena ini bisa menjadi jembatan atau wadah bagi orang-orang munafik yang bisa memecah belah. Allah SWT. telah memberitahu melalui firman-firman yang telah diturunkan untuk selalu berhati-hati. Islam juga memberikan arahan untuk menyikapi berita palsu . serta sekaligus membawa kabar gembira karena Allah akan mengecam bagi orang pembuat dan penyebar berita palsu . Maraknya berita palsu . pada akhirnya akan menjerumuskan orang kejalan yang salah dan menjerumuskan pada penyesalan. Untuk mencegah hal tersebut terjadi. Islam memiliki cara untuk menyikapi agar penyebaran berita palsu . Agar masyarakat dapat terhindar atau meminimalisir penyebaran berita palsu . di media sosial. Dapat dilihat firman Allah di dalam surat alHujurat . : 6, yang berarti: AuHai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita. Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu ituAy. Jadi Masyarakat terutama umat muslim dianjurkan sekali untuk membaca, berpikir positif, dan tidak ikut menyebarkan berita palsu . tersebut sebelum mengetahui kebenaran dari beritanya. Penelitian menunjukkan bahwa hoax dapat menyebar lebih cepat daripada berita benar di media sosial (Vosoughi. Roy, & Aral, 2. Ini karena hoax seringkali lebih sensasional dan menarik perhatian. Oleh karena itu, sangat penting bagi umat Islam untuk selalu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Islam mengajarkan untuk selalu berhati-hati dengan informasi yang diterima dan untuk memeriksa kebenarannya sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hujurat . : 6. Menurut penelitian, hoax juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial yang signifikan, termasuk peningkatan ketegangan sosial dan pengambilan keputusan yang buruk (Pennycook & Rand, 2. Oleh karena itu, menyikapi hoax dengan kritis dan berhati-hati adalah suatu keharusan untuk menjaga harmoni sosial. Pentingnya Sikap Kritis dalam Menyikapi Informasi Media Berpikir kritis adalah sebuah kegiatan atau keterampilan menganalisis suatu gagasan dengan menggunakan beberapa penalaran yang kemudian diterapkan dalam mempertimbangkan dan memutuskan Keputusan yang baik dan benar (Hatami et al. , 2. Terutama dalam bermain sosial media, berpikir kritis ini penting karena pada saat memainkan sebuah media sosial kita akan disuguhkan sebuah informasi yang mana informasi tersebut belum tentu benar Artinya untuk meningkatkan keterampilan menganalisis informasi, mencari informasi yang relevan diperlukan kemampuan berpikir kritis (Hatami et , 2. Mempunyai keterampilan berpikir kritis akan membuat seseorang menjadi lebih dewasa karena mempunyai sikap yang objektif ketika harus mengambil sikap atau keputusan, selalu berhati-hati akan informasi yang Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Daryan Pratama Alifi. Fitri Novianti Hidayah. Adellia Vanessa. Hisny Fajrussalam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 diterima, dan tidak akan mudah terpengaruh terhadap informasi yang didapatkan (Junoh & Mohamad, 2. Untuk menyikapi informasi media sosial dengan berpikir kritis kita harus cermat dalam membagikan unggahan melalui media sosial. Sejak abad ke-14. Ayat-ayat dalam Al-QurAoan berulang kali menekankan kegiatan berpikir terlebih dahulu, memahami, melihat, mendengar dengan akal sehat, serta mengambil keputusan sebagaimana disebutkan dalam QS. Ar-Ruum . Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang kuat agar dapat memfilter dan mengevaluasi informasi yang kita temui di media sosial. Menurut Al-Ghazali . , menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat adalah kewajiban dalam Islam, namun harus disertai dengan kehati-hatian untuk menghindari fitnah. Nilai-nilai seperti keadilan, kesopanan, dan kebenaran harus tercermin dalam penggunaan media. Dalam konteks media, prinsip keadilan mencakup penghormatan terhadap privasi dan martabat individu, serta memastikan informasi yang disampaikan tidak diskriminatif atau memicu konflik (Al-Qaradawi, 2. Kesopanan dalam interaksi media juga penting untuk menjaga moralitas dan menghindari konten yang merusak. Penggunaan media sebagai sarana untuk kebaikan dan dakwah juga dianjurkan dalam Islam. Media dapat digunakan untuk menyebarkan pesan kebaikan dan memperkuat ukhuwah. Menurut penelitian, penggunaan media yang bijaksana dan sesuai dengan nilai-nilai Islam dapat membantu menguatkan nilai-nilai keislaman dalam masyarakat (Ali & Al-Jabri, 2. Dengan menerapkan nilai-nilai Islam dalam menyikapi media, umat Islam diharapkan dapat memanfaatkan teknologi informasi dengan bijak, menjaga integritas moral, dan mempromosikan kebaikan dalam masyarakat. Implementasi Nilai-nilai Islam dalam Menyikapi Media Implementasi nilai-nilai Islam dalam menyikapi media merupakan suatu aspek penting dalam menjaga keseimbangan antara teknologi modern dan prinsip-prinsip moral serta etika Islam. Salah satu nilai utama yang harus diterapkan adalah kesadaran akan tanggung jawab dalam menyampaikan Dalam Islam, menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat adalah suatu kewajiban, namun demikian, hal ini juga harus disertai dengan kehati-hatian agar tidak menimbulkan fitnah atau kecacatan informasi yang dapat menimbulkan kerusakan. Selain itu, nilai-nilai seperti keadilan, kesopanan, dan kebenaran juga harus tercermin dalam penggunaan media. Islam menekankan pentingnya memperlakukan semua pihak dengan adil, baik dalam memberikan berita maupun menanggapi berita yang diterima. Keadilan dalam menyikapi media juga mencakup penghormatan terhadap privasi dan martabat individu, sehingga tidak terjadi penghakiman yang tidak adil atau pelecehan terhadap orang lain. Selanjutnya, dalam menghadapi media. Islam mengajarkan untuk menjaga kesopanan dalam setiap interaksi. Hal ini mencakup penggunaan bahasa yang sopan dan menghindari konten yang dapat merusak moralitas atau menggiring Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Daryan Pratama Alifi. Fitri Novianti Hidayah. Adellia Vanessa. Hisny Fajrussalam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 kepada tindakan yang melanggar nilai-nilai Islam. Selain itu, kebenaran juga harus menjadi prinsip utama dalam menyampaikan informasi melalui media. Islam menekankan pentingnya untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum disebarkan, serta berhati-hati terhadap berita palsu atau fitnah yang dapat merusak reputasi seseorang atau kelompok. Dalam konteks yang lebih luas. Islam juga mengajarkan pentingnya menggunakan media sebagai sarana untuk kebaikan dan dakwah. Media dapat menjadi platform yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan, memperkuat ukhuwah, serta mengajak kepada kebaikan dan kebenaran. Dengan demikian, implementasi nilai-nilai Islam dalam menyikapi media bukan hanya tentang menjaga diri dari dampak negatifnya, tetapi juga tentang memanfaatkannya sebagai sarana untuk menguatkan nilai-nilai keislaman dan memperjuangkan kebaikan dalam masyarakat. Pertama, konsep husnudzon . erprasangka bai. dalam Islam berperan penting dalam menyikapi informasi yang diperoleh dari media. Islam mengajarkan untuk tidak mudah percaya pada informasi tanpa memverifikasinya terlebih dahulu. Dalam konteks media, hal ini mengingatkan umat Islam untuk tidak langsung menelan mentah-mentah setiap berita yang diterima, melainkan untuk selalu melakukan penelitian dan konfirmasi kebenaran informasi sebelum Dengan demikian, praktik husnudzon dalam menghadapi media dapat membantu mencegah penyebaran informasi yang tidak benar atau Kedua, nilai kesabaran . dan pengendalian diri . juga memiliki relevansi dalam menyikapi media. Islam mengajarkan agar umatnya mampu mengendalikan emosi dan menahan diri dari bereaksi secara impulsif terhadap informasi yang provokatif atau kontroversial. Dalam era media sosial yang seringkali memicu reaksi berlebihan dan penyebaran konten yang tidak dipertimbangkan dengan baik, nilai-nilai ini sangatlah penting untuk menjaga kestabilan emosional dan menghindari konflik yang tidak perlu. Ketiga, prinsip keadilan sosial dan penghormatan terhadap keberagaman juga harus diterapkan dalam menyikapi media. Islam mengajarkan untuk memperlakukan semua individu dengan adil tanpa memandang perbedaan latar belakang, agama, atau etnis. Dalam konteks media, hal ini mengandung makna bahwa informasi yang disampaikan haruslah inklusif dan tidak diskriminatif terhadap kelompok atau individu tertentu. Menghindari narasi yang memicu konflik antar kelompok dan mempromosikan dialog yang harmonis adalah bagian dari implementasi nilai-nilai keadilan dan penghormatan dalam media. Keempat, nilai-nilai kepemimpinan yang adil dan berwibawa juga relevan dalam menyikapi media, terutama bagi mereka yang memiliki pengaruh dan kekuasaan dalam menyebarkan informasi. Islam mengajarkan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan contoh yang baik dan memastikan kebenaran serta keadilan dalam setiap tindakan dan keputusannya. Dalam konteks media, pemimpin dan tokoh masyarakat harus bertanggung jawab atas informasi yang mereka sampaikan, menghindari penyebaran fitnah atau Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Daryan Pratama Alifi. Fitri Novianti Hidayah. Adellia Vanessa. Hisny Fajrussalam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 propaganda yang merugikan, serta menggunakan platform mereka untuk mempromosikan perdamaian, keadilan, dan kesetaraan. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam menyikapi media, umat Islam diharapkan dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara bijaksana, sekaligus menjaga integritas moral dan spiritualitas dalam kehidupan bermedia modern. Mengenal Propaganda dan Strategi Penyebarannya Propaganda adalah bentuk komunikasi yang menggunakan informasi yang tidak benar atau tidak kompleks untuk mengubah atau mengontrol perilaku, pendapat, atau pendirian individu atau grup. Strategi penyebarannya dapat dibagi menjadi dua jenis utama: hard propaganda dan soft propaganda. Hard propaganda adalah bentuk propaganda yang menggunakan metode yang lebih langsung dan efektif, seperti pemberitaan, grafis, sosial media, dan perpustakaan. Contoh dari hard propaganda adalah propaganda ISIS yang menggunakan buku kurikulum pelajaran untuk mengajak anak-anak menjadi anggota organisasi Soft propaganda, sama seperti nama, lebih ringkas dan lebih tidak Contoh dari soft propaganda adalah propaganda ISIS yang menggunakan ulama moderat sebagai witness dan sosialisasi konsep Islam Nusantara sebagai cara mengamalkan Islam yang rahmatan lil alamin. Dari hal inilah, dunia Islam menghadapi propaganda besar-besaran baik dari teroris maupun partai politik yang memerangi teroris Islam. Muncul pula istilah AuIslamofobiaAy. Tidak dapat dipungkiri bahwa pastinya terdapat pula propaganda global terkait Islamofobia di Indonesia. Aksi teroris dengan kekerasan yang dilakukan oleh ekstrimis Islam sering terjadi. Terorisme atas nama Islam diduga membawa Islam ke dalam konflik dan menimbulkan Islamofobia tersebut. Sebab, pelaku menggunakan simbol agama. Kekerasan ini menimbulkan prasangka negatif terhadap Islam dan umat Islam, khususnya di kalangan non-Muslim. Untuk mengatasi propaganda yang tidak baik, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan, seperti moderasi beragama yang dapat juga digunakan sebagai cara untuk mengurangi intoleransi dan ekstremisme (Alfarisi & Mailin, 2. Strategi untuk mengatasi propaganda termasuk meningkatkan kesadaran kritis masyarakat, penegakan hukum, dan promosi moderasi beragama (Jowett & O'Donnell, 2. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan media dan literasi informasi dapat membantu individu mengenali dan menolak propaganda (Hobbs. Teknik Propaganda Teknik propaganda yang menyerang Islam seringkali menggunakan strategi memanipulasi persepsi masyarakat sehingga menimbulkan prasangka negatif terhadap umat Islam. Propaganda seperti ini mempengaruhi opini publik dengan menyebarkan label negatif, memanipulasi fakta, dan menggunakan pernyataan dari tokoh-tokoh yang dihormati dan dibenci yang tidak akurat dan merugikan komunitas Muslim. Penelitian menunjukkan bahwa teknik seperti pemanggilan nama, penumpukan kartu, dan testimoni atau kesaksian sering Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Daryan Pratama Alifi. Fitri Novianti Hidayah. Adellia Vanessa. Hisny Fajrussalam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan e-ISSN 2987-1298 p-ISSN 3025-9150 Volume 2 Nomor 2 Juli 2024 digunakan di media untuk menyebarkan citra negatif tentang umat Islam, dengan tujuan untuk mempengaruhi pandangan dan sikap masyarakat yang digunakan. Pertama, pemanggilan nama yang mana merupakan teknik propaganda yang memberikan label negatif kepada individu, ide, orang, atau institusi agar masyarakat tidak menyukai atau bahkan menolaknya. Teknik ini sering digunakan dalam arena politik atau wacana publik, tetapi relatif jarang dalam periklanan karena ada kecenderungan untuk menghindari penyebutan produk pesaing meskipun dengan konotasi negatif. Berdasarkan penelitian, nama panggilan yang diberikan kepada umat Islam meliputi label seperti teroris, terorisme, pejuang, dan maniak, dengan total penggunaan kata-kata bernuansa negatif sebanyak 155 kali dalam dua media yang diteliti. Teknik propaganda lainnya, penumpukan kartu yang melibatkan seleksi dan penggunaan fakta atau kepalsuan, ilustrasi, dan pernyataan yang logis atau tidak logis untuk memberikan kesan terbaik atau terburuk tentang ide, program, orang, atau produk tertentu. Ini termasuk penggunaan fakta atau kebohongan, ilustrasi atau penyimpangan, dan pernyataan logis atau tidak logis. Berdasarkan penelitian ini, penulis dari dua media menggunakan teknik ini dalam total 31 Sementara itu, teknik testimoni atau kesaksian melibatkan tokoh yang dihormati atau dibenci memberikan opini positif atau negatif tentang ide, program, produk, atau orang tertentu. Teknik ini umum digunakan dalam periklanan dan kampanye politik (Wanda et al. , 2. SIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian ini berdasarkan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa Islam mengajarkan kepada seluruh umat muslim untuk Umat muslim diharapkan dapat menyaring berbagai berita hoax yang dapat menimbulkan perpecahan dengan cara berpegang pada AlQurAoan dan Sunnah untuk bersikap, berperilaku, dan berpikir sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari Allah SWT. Jadi, semua umat muslim dituntut untuk pandai dan bijak dalam menggunakan media sosial dengan cara menelaahnya terlebih dahulu. Peran media dalam Islam tidak hanya sekedar alat komunikasi, tetapi sebagai platform untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan, memperkuat ukhuwah, serta mengajak kepada kebaikan dan kebenaran untuk membentuk sikap kritis terhadap berbagai macam hoax dan propaganda yang marak terjadi. UCAPAN TERIMAKASIH