JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Bunda Mulia. Tangerang. Indonesia vidhyakurniawan@gmail. Abstract Interpersonal communication between parents and children is an important matter for children, especially for teenagers, who are undergoing many changes. Unfortunately, physical violence often occurs within this interpersonal communication. Furthermore, the rapid development of technology in society has introduced many online games. Although online games are believed to reduce a person's stres levels, the more time a person spends playing online games, the more their interpersonal relationships decline. This can ultimately lead to aggressive behavior in teenagers themselves. The purpose of this study is to examine the influence of parental interpersonal communication and physical violence on the aggressive behavior of teenage gamers. The method used is quantitative, with data collection techniques in the form of questionnaires distributed to 100 teenage respondents in Jakarta using a random sampling technique. The results of the study show that the parental interpersonal communication variable has a positive and significant influence on adolescent aggressive behavior by 6. The physical violence variable has a positive and significant influence on adolescent aggressive behavior by 4. Both variables, parental interpersonal communication and physical violence, have a positive and significant influence on adolescent aggressive behavior by 26. Keywords: Interpersonal Communication. Parent. Physical Violence. Aggressive Behavior. Adolescent Abstrak Komunikasi interpersonal yang terjalin antara orangtua dan anak menjadi hal penting bagi anak, khususnya remaja, karena sedang mengalami banyak perubahan dalam dirinya. Sayangnya, kekerasan fisik kerap kali terjadi di dalam komunikasi interpersonal tersebut. Belum lagi, perkembangan teknologi di masyarakat yang pesat, dengan menghadirkan banyak game online. Walau game online dinilai bisa mengurangi level stres seeorang, namun semakin banyak waktu yang dihabiskan seseorang untuk bermain game online, maka semakin menurun juga hubungan interpersonal orang tersebut. Sehingga, pada akhirnya bisa menimbulkan perilaku agresif pada diri remaja itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik terhadap perilaku agresif remaja gamers. Metode yang digunakan adalah kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner kepada 100 responden remaja di Jakarta menggunakan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel komunikasi interpersonal orangtua memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku agresif remaja sebesar 6,825. Variabel kekerasan fisik memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku agresif remaja sebesar 4,211. Kedua variabel yaitu komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku agresif remaja sebesar 26,028. Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal. Orangtua. Kekerasan Fisik. Perilaku Agresif. Remaja PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial, mereka cenderung berusaha untuk menjadi satu atau menyamakan dirinya dengan manusia lainnya yang berbeda di sekelilingnya. Tak hanya itu, manusia juga membutuhkan orang lain dan cenderung bergantung pada satu sama lain. Dalam keseharian, sebagai manusia, kita tentunya membutuhkan interaksi dengan orang lain di sekitar. Banyak jenis hubungan antar manusia yang akhirnya menyebabkan hubungan timbal balik antar individu yang terlibat dalam hubungan tersebut, salah satunya adalah hubungan keluarga. Dalam hubungan keluarga ini, komunikasi menjadi kunci utama dari hubungan tersebut, dimana komunikasi menurut Ruesch . alam Suryanto, 2017: . adalah proses yang menghubungkan satu bagian kehidupan dengan bagian kehidupan lainnya. Hal ini menjadikan komunikasi sebagai bagian Submitted: June 2024. Accepted: July 2025. Published: September 2025 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 penting dalam perkembangan anak, khususnya remaja di hubungan keluarga yang tercipta antara orangtua dan anak. Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa remaja dibagi menjadi tiga tahap (Soetjiningsih, 2. , yaitu masa remaja awal . arly adolescen. mulai dari usia 12-15 tahun, masa remaja pertengahan . iddle adolescen. mulai dari usia 15-18 tahun, dan masa remaja akhir . ate adolescen. mulai dari usia 18-21 tahun. Masa-masa ini menjadi cukup penting karena anak mulai mengalami perubahan-perubahan dalam diri, mulai dari fisik, psikis, maupun Sayangnya, sering kali kita mendapati orangtua yang kurang perhatian kepada anaknya, khusus dalam hal komunikasi. Padahal komunikasi interpersonal antara orangtua dan anak menjadi hal yang penting dalam membentuk sikap remaja itu sendiri, karena menurut Floukes . alam Andrews, 2. remaja lebih mudah terpengaruh secara sosial, sehingga memiliki kecenderungan untuk mengikuti perilaku orang lain, tak terkecuali orang tua. Tidak hanya itu, dalam komunikasi interpersonal saja, orangtua juga kerap menggunakan kekerasan fisik dengan tujuan untuk membuat anak menurut dan patuh. Bahkan sepanjang tahun 2023, menurut databoks, ada 3. 547 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), dimana sebesar 985 kasus kekerasan yang dilaporkan tersebut merupakan kasus kekerasan fisik. Bahkan, berdasarkan tempat kejadian terjadi kasus kekerasan terhadap anak tersebut, 35% terjadi di lingkungan keluarga. Apalagi pada kasus-kasus kekerasan ini, korban yang dilaporkan kebanyakan berada pada usia remaja, sekitar 13-17 tahun. Selain itu, pada per Agustus 2023, menurut GoodStats. Jakarta termasuk ke dalam 10 provinsi dengan kasus kekerasan tertinggi di Indonesia dan menduduki urutan ketiga, setelah Kepulauan Riau dan Jawa Barat dengan jumlah kasus kekerasan sebanyak 1171 kasus. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta. Mochamad Miftahulloh Tamary pada 9 Januari 2024 bahwa kasus kekerasan yang terjadi di Jakarta pada tahun 2022 berjumlah 1. 455 kasus dan sepanjang 2023 telah meningkat sampai 1. 682 kasus (Wardani. Diah Ayu, 2024. VOI). Padahal sejatinya keluarga adalah lingkungan hidup pertama dan utama bagi setiap anak (Fatmawati, 2016: . , disana adalah tempat anak untuk mengembangkan dirinya dalam kehidupan sosialnya kelak. Sayangnya, keluarga justru menjadi tempat paling sering terjadinya kekerasan fisik. Kekerasan fisik sendiri merupakan bentuk tindakan yang menyebabkan luka fisik dan rasa sakit, seperti memar, lebam, luka robek, bahkan patah tulang. Hal itu bisa memberi efek kurang baik pada anak, khususnya saat anak berada di masa remaja, karena dapat meninggalkan trauma hingga gangguan emosi, seperti sulit mengendalikan emosi, merasa tidak berharga, bahkan bisa menimbulkan perilaku agresif dalam diri remaja itu sendiri. Ditambah dengan keberadaan teknologi dan internet yang semakin berkembang, sehingga menghadirkan game-game online di masyarakat. Walau awalnya, kehadiran game-game online ini dimaksudkan untuk menghibur dan mengisi waktu luang, namun menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kristiana Siste Kurniasanti, seorang pakar adiksi yang juga Kepala Departemen Medik Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengatakan bahwa 14% remaja di ibukota menjadi kecanduan game online (Arifah. Iffah Nur, 2019. ABC New. Bahkan, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia (APJII), pengguna internet tertinggi saat ini berada diusia 15-19 tahun sebesar 91% dengan 54,13% pengguna internet di Indonesia memanfaatkan internet untuk bermain game online (Putra. Renold Isra, 2024. RRI). Walau, bermain game online dapat meningkatkan interaksi positif yang dapat meningkatkan kenyamanan dan kebahagiaan, bahkan mengurangi level depresi, stres, dan kecemasan, serta meningkatkan sikap kerja sama berdasarkan jenis game yang dimainkan berdasarkan beberapa survei dan studi yang telah dilakukan, namun bermain game juga memiliki dampak negatif, diantaranya semakin bertambahnya waktu bermain, maka hubungan interpersonal akan menurun. Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 selain itu juga dapat meningkatkan tingkat agresivitas seseorang (Leqa. Alif. Fazel Faruk, 2024. Warte. Menurut Sarwono & Meinarno . alam Ahmad Yanizon & Vina Sesriani, 2. perilaku agresif adalah suatu luapan emosi sebagai reaksi terhadap suatu kegagalan yang ditampakkan dalam pengrusakan manusia atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata . ataupun tindakan . on verba. Remaja-remaja yang terluka secara emosional, yang disebabkan oleh agresivitas verbal dan permusuhan, kelak akan menunjukkan perilaku yang serupa dengan perlakuan orang lain terhadap dirinya (Hamzah. Radja Erland, 2018. Jurnal Pustaka Komunikas. Di Jakarta sendiri, cukup banyak terjadi kasus tawuran pelajar, salah satunya adalah kasus tawuran di Pademangan. Jakara Utara, pada 14 Oktober 2023 lalu, yang menewaskan satu orang remaja dan sembilan orang remaja lainnya ditangkap, empat dari sembilan orang remaja ini juga ternyata masih di bawah umur (Rahim. Annisa Aulia, 2023. Detiknew. Bahkan, kasus tawuran pelajar ini terus berulang dan kian hari makin meresahkan, seperti salah satu kasus tawuran di Pasar Rebo. Jakarta Timur, pada 29 Januari 2024 lalu, yang mengakibatkan pergelangan tangan seorang pelajar putus (Jati. Rhama Purna, 2024. Kompa. Faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar ini ada banyak, salah satunya adalah kurangnya pengawasan dari orangtua (Tysara. Laudia, 2022. Liputan. Artinya, para pelajar pelaku tawuran tersebut kurang berkomunikasi dengan orangtua Komunikasi interpersonal orangtua dan remaja merupakan hal yang penting, hal ini diperkuat dengan pernyataan Ketti Murtini (Puspitasari. Wuryanti, 2023. ANTARA). Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himps. Jawa Tengah Cabang Barlingmascakeb bahwa komunikasi antara orangtua dan anak dapat menumbuhkan rasa empati, keterbukaan, hingga memperkuat hubungan dua arah. Remaja yang berasal dari keluarga yang sangat minim dalam menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan satu sama lain, serta mendapatkan kekerasan fisik di dalamnya, biasanya memiliki perilaku agresif, suka menyerang, dan bertindak kasar. Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat berdasakan data-data yang peneliti kumpulkan, penelitian ini menjadi sangat penting dan menarik untuk dilakukan agar dapat menemukan ditemukan benang merah dari komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik terhadap perilaku agresif remaja. Sehingga, tujuan penelitian ini yaitu mengetahui berapa besar pengaruh komunikasi interpersonal orangtua terhadap perilaku agresif remaja di Jakarta, mengetahui berapa besar pengaruh kekerasan fisik yang dilakukan orangtua terhadap perilaku agresif remaja di Jakarta, dan mengetahui berapa besar pengaruh komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik terhadap perilaku agresif remaja di Jakarta. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan teori skema hubungan keluarga adalah teori yang membahas tentang bagaimana individu dalam sebuah keluarga memandang keluarga itu sendiri. Menurut Fitzpatrick . alam Littlejohn. Stephen W, 2014: . skema hubungan itu terdiri dari pengetahuan mengenai diri sendiri, orang lain, dan hubungan, yang sejalan dengan pengetahuan tentang bagaimana berinteraksi dalam hubungan. Pengetahuan yang dimaksud ini berhubungan dengan bagaimana gambaran dari suatu hubungan yang kemudian menuntun perilaku dalam hubungan Fitzpatrick . alam Littlejohn. Stephen W, 2014: . juga berpendapat bahwa komunikasi keluarga tidak terjadi secara acak, tetapi berpola dengan skema-skema tertentu, diantaranya . seberapa dekat keluarga tersebut. tingkat individualitas dalam keluarga. faktor-faktor eksternal terhadap keluarga, seperti teman, jarak geografis, pekerjaan, dan masalah-masalah lain diluar keluarga. Skema-skema ini juga mencakup dua orientasi, yaitu orientasi percakapan . onversation orientatio. dan orientasi kesesuaian . onformity orientatio. Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 Keluarga yang memiliki skema percakapan tinggi dan skema kesesuaian tinggi akan senang berbicara satu sama lain dan berkumpul bersama, sedangkan keluarga yang memiliki skema percakapan rendah dan skema kesesuaian rendah tidak sering bicara satu sama lain dan cenderung Keluarga yang percakapan dan kesesuaiannya tinggi, mengartikan bahwa keluarga ini senang bicara satu sama lain dan berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama. Ada juga keluarga yang percakapannya tinggi, tapi kesesuaiannya rendah, jadi keluarga ini memang terbiasa untuk bicara satu sama lain dan punya kebebasan bicara terhadap satu sama lain, namun dalam mengambil keputusan akan cenderung individualis. Kemudian, ada juga keluarga yang percakapannya rendah, tapi kesesuaiannya tinggi, jadi keluarga ini tidak suka menghabiskan banyak waktu untuk bicara satu sama lain, tetapi menggunakan hal-hal negatif seperti ancaman atau ketakutan untuk mendapatkan suatu kepatuhan dari anggota keluarga. Selain itu, ada keluarga yang percakapan dan kesesuaiannya rendah, jadi keluarga ini tidak mau membuang-buang waktu untuk bicara satu sama lain dan cenderung lebih mementingkan diri mereka sendiri, jadi tidak memperdulikan apa yang anggota keluarga lain lakukan. Komunikasi interpersonal ini merujuk pada percakapan yang melibatkan dua orang atau lebih di dalamnya. Dalam hal ini, untuk melihat komunikasi interpersonal orangtua dan remaja. Peneliti menggunakan 4 indikator (Devito dalam Purwitasari. Endah, 2. yang mencakup keterbukaan . , empati . , sikap mendukung . , sikap positif . , dan keseteraan . Kekerasan fisik ini merujuk pada berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan hingga menimbulkan rasa sakit bahkan sampai meninggalkan luka fisik. Peneliti menggunakan 2 indikator (Straus et al dalam Day. Philip G. Sarah B Woods. Leo Gonzales. Rodolfo Fernandez-Criado. Amer Shakil, 2. , mencakup minor assault dan severe assault. Perilaku agresif ini merujuk pada tindakan yang bertujuan untuk menyakiti atau melukai orang lain, baik verbal maupun fisik. Peneliti menggunakan 4 indikator (Buss dan Perry dalam Purwitasari. Endah, 2. mencakup physical aggression, verbal aggression, anger, dan hatred. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma positivisme. Positivisme merupakan paradigma yang menganggap bahwa ilmu alam sebagai sumber pengetahuan yang benar, dimana realitas kehidupan tidak hanya dijelaskan dengan sebuah spekulasi saja, namun juga harus didasari pada sesuatu yang konkrit, pasti, mutlak, dan valid. Positivisme sangat menekankan rasionalitas, dimana semua dasar pemikiran didasari pada logika, fakta, dan kenyataan, bukan hanya sekedar spekulasi semata. Hal ini sejalan yang apa yang dipaparkan oleh Dini. Nanat, dan Erni . dimana positivisme adalah suatu paham yang dalam Aupencapaian kebenaranAy-nya bersumber pada kejadian yang benar-benar terjadi, bukan hanya ada di dalam angan-angan . , atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Peneliti menggunakan paradigma positivisme ini untuk mengukur dan menguantifikasikan sebab akibat dari gejala sosial yang terjadi sesuai realitas dalam kehidupan dengan apa adanya berdasarkan data-data yang diterima pada saat melakukan penelitian ini. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif, dimana peneliti ingin menggambarkan seberapa besar pengaruh komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik terhadap perilaku agresif remaja gamers. Teknik penelitian menggunakan kuesioner dengan sampel sebanyak 100 responden remaja gamers di Jakarta menggunakan teknik random sampling. Populasi yang digunakan adalah para remaja gamers di Jakarta yang berjumlah 1. dimana data diperoleh berdasarkan jumlah penduduk menurut kelompok umur dan kabupaten/kota di provinsi Jakarta (Badan Pusat Statistik Jakarta, 2. yang didapatkan sejumlah 3. kemudian diambil sebesar 43% nya dari penelitian yang dilakukan oleh IDN Research Institute yang mengatakan bahwa generasi Z memiliki kegemaran bermain game sehari-hari (IDN Research Institute, 2. Generasi Z sendiri dimulai dari usia 9-22 tahun, sementara pada penelitian ini peneliti membutuhkan populasi remaja gamers, dimana remaja berada di usia 12-21 tahun Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 (Soetjiningsih, 2. , artinya remaja masuk ke dalam generasi Z. Selain itu, istilah gamers, menurut kamus Cambridge, merujuk pada seseorang yang gemar bermain game (Jatmika. Geri, 2. Kemudian, ditarik sampel sejumlah 100 orang menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 10%, dimana menurut rumus Slovin, ketentuan margin of errors ada di 10% - 20%, semakin kecil margin of errors yang dipilih, maka semakin banyak sampel yang didapat. Selain itu, menurut prosedur penelitian Arikunto, angka 10% ini dapat digunakan jika jumlah populasi lebih dari 100 orang, sedangkan jika jumlah populasi kurang dari 100 orang, maka sampel harus diambil HASIL DAN PEMBAHASAN Komunikasi interpersonal orangtua adalah komunikasi antara orangtua dan anak yang dilakukan dalam jarak yang berdekatan, sehingga memungkinkan setiap peserta dalam komunikasi tersebut, baik orangtua maupun anak, dapat menangkap reaksi lawan bicaranya secara langsung, baik verbal ataupun non verbal. Komunikasi interpersonal yang tercipta antara orangtua dan anak ini sangat penting dalam kehidupan bersosial anak, khususnya anak yang berada di dalam masa remaja, karena mereka sedang dalam masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, sehingga ada perubahan di dalam diri, baik fisik, psikis, dan psikososial. Sehingga, juga komunikasi interpersonal yang terjalin antara orangtua dan remaja ini kurang baik, maka hal itu juga akan berdampak pada remaja itu Sayangnya, dalam proses komunikasi interpersonal orangtua dan remaja, kekerasan fisik kerap kali terjadi, dimana kekerasan fisik ini akhirnya menyebabkan luka dan rasa sakit pada remaja. Bahkan tak hanya luka dan rasa sakit saja, kekerasan fisik juga dapat menyebabkan trauma secara psikis maupun sosial kepada remaja. Hal itulah yang akhirnya menimbulkan perilaku agresif di dalam diri remaja itu sendiri. Perilaku agresif yang timbul di dalam diri remaja ini adalah perilaku yang dapat merugikan atau membahayakan orang lain maupun sekitar, baik melalui fisik maupun verbal. Biasanya perilaku agresif ini dilakukan secara sengaja untuk menyakiti orang lain, karena faktor komunikasi interpersonal antara orangtua dan remaja yang kurang baik, serta kekerasan fisik yang dialami remaja itu sendiri, membuat remaja tersebut akan berpikir bahwa dirinya dapat melakukan perilaku agresif kepada orang lain juga. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Angela M. Kaufman-Parks, dkk. , berjudul Partner Violence Perpetration Across Adolescence and Young Adulthood, menemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara antara perilaku agresi dan kekerasan fisik yang dilakukan orangtua terhadap anak saat remaja dengan kecenderungan anak tersebut untuk melakukan kekerasan fisik serupa dalam hubungan romantisnya pada masa dewasa awal. Hasil ini mengindikasikan adanya transmisi pola kekerasan dari hubungan orangtua-anak ke hubungan pasangan di kemudian hari. Peneliti melihat adanya fenomena kasus kekerasan fisik terhadap anak yang meningkat di Jakarta, dan kekerasan fisik ini kerap kali terjadi di dalam lingkungan keluarga. Apalagi. Jakarta kini menduduki urutan ketiga sebagai provinsi dengan kasus kekerasan fisik tertinggi di Indonesia. Belum lagi, kasus tawuran antar pelajar yang terus berulang dan kian meresahkan di Jakarta hingga menyebabkan korban jiwa. Dalam melihat fenomena ini, peneliti menggunakan teori skema hubungan keluarga. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana seorang individu dalam keluarga memandang keluarga itu sendiri, yang kemudian akhirnya menuntun individu ini untuk berinteraksi dan berperilaku dalam suatu hubungan sesuai dengan hubungannya dalam keluarga itu sendiri. Dalam penelitian ini, seorang anak yang masih berada di dalam fase remaja dan belum siap dengan perubahan dalam dirinya, akan melihat bagaimana hubungannya dalam keluarga dan kemudian akan dia aplikasikan dalam hubungan sosialnya. Remaja yang sehari-hari minim komunikasi dengan orangtuanya dan kerap kali mendapatkan kekerasan fisik, maka akan berperilaku agresif secara fisik dan verbal. Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua terhadap Perilaku Agresif Remaja Peneliti menggunakan Uji T untuk mengetahui pengaruh dari setiap variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah. Pengambilan keputusan pada uji T ini didasarkan pada perbandingan nilai thitung dengan ttabel, serta nilai signifikan. Apabila thitung > ttabel dan nilai signifikan < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima atau terdapat pengaruh. Sebaliknya, apabila thitung < ttabel dan nilai signifikan > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak atau tidak terdapat pengaruh. Gambar 1 Uji T Variabel X1 Terhadap Variabel Y Sumber: olahan peneliti, 2024 Berdasarkan hasil perhitungan yang didapatkan dari uji T, nilai thitung sebesar 6. 825 dan nilai signifikan sebesar 0,001, dimana 6,825 > 1,98498 dan 0,001 > 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa H01 ditolak dan H11 diterima, artinya terdapat pengaruh dari variabel komunikasi interpersonal orangtua terhadap variabel perilaku agresif remaja. Berdasarkan uji koefisien determinasi didapatkan R square sebesar 0,322, artinya variabel komunikasi interpersonal orangtua menyumbang sebesar 32,2% pengaruh terhadap variabel perilaku agresif remaja. Artinya, ketika kualitas komunikasi interpersonal antara orangtua dan remaja kurang baik, dalam artian ketika orangtua dan remaja tidak saling terbuka, remaja merasa tidak didukung dan cenderung mencari cara lain untuk mengekspresikan diri, yang seringkali berujung pada perilaku agresif dalam diri remaja itu sendiri. Sehingga, pada akhirnya akan mempengaruhi cara komunikasi dari remaja tersebut menjadi cara komunikasi yang agresif. Hal ini akhirnya membuat remaja terbiasa bersikap agresif, khususnya dalam cara berkomunikasi, misalnya seperti mencaci maki, menghina, bahkan mengucapkan kata-kata kasar yang menyakiti seseorang. Pengaruh Kekerasan fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Peneliti menggunakan Uji T untuk mengetahui pengaruh dari setiap variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah. Pengambilan keputusan pada uji T ini didasarkan pada perbandingan nilai thitung dengan ttabel, serta nilai signifikan. Apabila thitung > ttabel dan nilai signifikan < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima atau terdapat pengaruh. Sebaliknya, apabila thitung < ttabel dan nilai signifikan > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak atau tidak terdapat pengaruh. Gambar 2 Uji T Variabel X2 Terhadap Y Sumber: olahan peneliti, 2024 Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 Berdasarkan hasil perhitungan yang didapatkan dari uji T, nilai thitung sebesar 4,211 dan nilai signifikan sebesar 0,001, dimana 4,211 > 1,98498 dan 0,001 > 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa H02 ditolak dan H12 diterima, artinya terdapat pengaruh dari variabel kekerasan fisik terhadap variabel perilaku agresif remaja. Berdasarkan uji koefisien determinasi didapatkan R square sebesar 0,153, artinya variabel kekerasan fisik menyumbang sebesar 15,3% pengaruh terhadap variabel perilaku agresif remaja. Artinya, ketika remaja sering mendapatkan kekerasan fisik di rumah, baik itu dengan dalih membuat patuh atau hukuman, remaja akan cenderung menganggap bahwa kekerasan fisik adalah hal yang normal. Pada dasarnya, kekerasan fisik, tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga luka psikologis yang memengaruhi cara remaja berinteraksi dengan dunia luar. Remaja nantinya akan menjadi agresif pada orang sekitarnya, terbiasa memukul ataupun menyakiti orang lain secara fisik, karena menganggap bahwa kekerasan fisik yang didapatinya dari orangtua adalah hal yang wajar ketika seseorang tidak mengikuti kehendaknya. Hal itu juga nantinya bisa mempengaruhi sikap remaja, misalnya menjadi mudah marah dan tersinggung. Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Peneliti menggunakan Uji F untuk mengetahui pengaruh dari setiap variabel bebas terhadap variabel terikat secara bersamaan. Pengambilan keputusan pada uji F ini didasarkan pada perbandingan nilai fhitung dengan ftabel, serta nilai signifikan. Apabila fhitung > ftabel dan nilai signifikan < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima atau terdapat pengaruh. Sebaliknya, apabila fhitung < ftabel dan nilai signifikan > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak atau tidak terdapat pengaruh. Gambar 3 Uji F Variabel X1 dan X2 terhadap Variabel Y Sumber: olahan peneliti, 2024 Berdasarkan hasil perhitungan yang didapatkan dari uji F, nilai fhitung sebesar 26,028 dan nilai signifikan sebesar 0,01, dimana 26,028 > 3,09 dan 0,01 > 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa H03 ditolak dan H13 diterima, artinya terdapat pengaruh dari variabel komunikasi interpersonal orangtua dan variabel kekerasan fisik terhadap variabel perilaku agresif remaja. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa masalah perilaku agresif pada remaja jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil dari interaksi kompleks antara lingkungan komunikasi yang buruk dan adanya paparan kekerasan fisik. Peneliti juga melakukan uji koefisien determinasi untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersamaan terhadap pengaruh terikat. Berdasarkan uji koefisien determinasi didapatkan R square sebesar 0,349, artinya variabel komunikasi interpersonal orangtua dan variabel kekerasan fisik menyumbang sebesar 34,9% terhadap variabel perilaku agresif remaja, sedangkan 65,1% sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian ini, seperti pengaruh teman sebaya, tayangan media, masalah di sekolah, kondisi ekonomi keluarga, dan faktor-faktor lainnya. Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 Walau demikian, hal ini menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik memiliki pengaruh pada bagaimana remaja memiliki kecenderungan untuk berperilaku agresif, karena remaja yang berada pada tahap pencarian jati diri, umumnya mengikuti bagaimana lingkungan sekitarnya bersikap. Analisis Regresi Linear Berganda Gambar 4 Uji Regresi Linear Berganda Sumber: olahan peneliti, 2024 Berdasarkan tabel diatas, maka dapat diketahui hasil persamaan regresi sebagai berikut: Y = yca1 ycU1 yca2 ycU2 e Hasil persamaan regresi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Nilai sebesar 7. 660 merupakan nilai konstanta atau keadaan dimana variabel perilaku agresif remaja (Y) belum dipengaruhi oleh variabel bebas yaitu variabel komunikasi interpersonal (X. dan variabel kekerasan fisik (X. yca1 merupakan nilai koefisien regresi dari X1 sebesar 0,494. Nilai tersebut menunjukkan bahwa variabel komunikasi interpersonal orangtua mempunyai pengaruh yang positif terhadap variabel perilaku agresif remaja. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu satuan dari variabel komunikasi interpersonal orangtua, maka variabel perilaku agresif remaja juga akan terpengaruh sebesar 0,494 dengan asumsi bahwa variabel lain tidak diteliti dalam penelitian ini. yca2 merupakan nilai koefisien regresi dari X2 sebesar 0,113. Nilai tersebut menunjukkan bahwa variabel kekerasan fisik mempunyai pengaruh yang positif terhadap variabel perilaku agresif Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu satuan dari variabel kekerasan fisik, maka variabel perilaku agresif remaja juga akan terpengaruh sebesar 0,113 dengan asumsi bahwa variabel lain tidak diteliti dalam penelitian ini. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik secara signifikan dan juga bersifat positif terhadap perilaku agresif remaja. Dengan demikian, variabel komunikasi interpersonal orangtua memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku agresif remaja. Hal tersebut dibuktikan berdasarkan uji T, dimana hasil yang didapatkan menunjukkan nilai thitung > nilai ttabel, sebesar 6,825 > 1,98498 dan nilai signifikan sebesar 0,001 < 0,05, dimana H11 diterima atau terdapat pengaruh dari variabel komunikasi interpersonal orangtua terhadap variabel perilaku agresif remaja. Berdasarkan uji tersebut, dapat diketahui besarnya pengaruh komunikasi interpersonal orangtua terhadap perilaku agresif remaja adalah sebesar 6,825. Variabel kekerasan fisik memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku agresif remaja. Hal tersebut dibuktikan berdasarkan uji T, dimana hasil yang didapatkan menunjukkan nilai thitung > nilai ttabel, sebesar 4,211 > 1,98498 dan nilai signifikan sebesar 0,001 < 0,05, dimana H12 diterima atau terdapat pengaruh dari variabel kekerasan fisik terhadap variabel Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 perilaku agresif remaja. Berdasarkan uji tersebut, dapat diketahui besarnya pengaruh kekerasan fisik terhadap perilaku agresif remaja adalah sebesar 4,211. Variabel komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku agresif remaja. Hal tersebut dibuktikan berdasarkan uji F, dimana hasil yang didapatkan menunjukkan nilai fhitung > nilai ftabel, sebesar 26,028 > 3,09 dan nilai signifikan sebesar 0,001 < 0,05, dimana H13 diterima atau terdapat pengaruh dari variabel komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik terhadap variabel perilaku agresif remaja. Berdasarkan uji tersebut, dapat diketahui besarnya pengaruh komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik terhadap perilaku agresif remaja adalah sebesar 26,028. Sayangnya, dalam penelitian ini, peneliti memiliki beberapa keterbatasan, diantaranya: . Penelitian ini hanya berfokus kepada populasi remaja gamers di Jakarta, sehingga hasil dari penelitian tidak dapat diterapkan terhadap remaja gamers diluar Jakarta, . Penelitian ini memiliki responden yang terdiri dari kelompok umur tertentu sehingga dapat hasil dari penelitian tidak dapat diterapkan terhadap kelompok umur lain diluar penelitian ini, . Penelitian ini tidak mempertimbangkan variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi perilaku agresif remaja, sehingga menyebabkan hasil penelitian masih jauh dari kata sempurna, . Penelitian ini memiliki durasi yang cukup terbatas sehingga penelitian ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan unuk melakukan penelitian yang bersifat kualitatif, untuk mendapatkan data yang lebih mendalam mengenai pengaruh komunikasi interpersonal orangtua dan kekerasan fisik terhadap perilaku agresif remaja. Dalam penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan oleh peneliti, diantaranya . Orangtua dapat membangun komunikasi yang terbuka dan positif dengan anak remaja mereka, serta memberikan contoh baik dalam bertindak untuk meminimalisasikan kekerasan fisik, . Masyarakat dapat membantu menciptakan lingkungan yang ramah keluarga, sehingga dapat mendukung orangtua dalam membesarkan anak-anak mereka. DAFTAR PUSTAKA Andrews. Foulkes. , & Blakemore. -J. Peer Influence in Adolescence: Public-health Implications for COVID-19. Trends in Cognitive Sciences, 24. , 585Ae587. Aswar. Efek Kemampuan Komunikasi terhadap Perilaku Agresi Orangtua kepada Anak. MEDIALOG: Jurnal Komunikasi, 3. , 101Ae113. Day. Sarah. Leo. Rodolfo. -C. , & Amer. Validating the TeenHITSS to Assess Child Abuse in Adolescent Populations. Family Medicine, 55. , 12Ae19. Fardiah. , & Rini. Komunikasi Antarpersona Anak dengan Orangtua dalam Mencegah Kekerasan. Jurnal Visi Komunikasi, 15. , 114Ae132. Fatmawati. Peran Keluarga terhadap Pembentukan Kepribadian Islam bagi Remaja. Jurnal Risalah, 27. , 17Ae31. Ferdiansa. , & Neviyarni. Analisis Perilaku Agresif Siswa. JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesi. , 5. , 8Ae12. Hamzah. Pengembangan Hubungan Komunikasi Antarpribadi di Kalangan Remaja. Jurnal Pustaka Komunikasi, 1. , 180Ae187. Harianti. , & Siregar. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan Orang Tua terhadap Anak. Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA, 2. , 45Ae56. Herliawati. Utami. , & Indrian. Hubungan Kematangan Emosi Ibu dengan Kekerasan Fisik dan Kekerasan Verbal pada Anak Usia Sekolah di SD Negeri 11 Indralaya. Jurnal MKS, 46. , 59Ae63. Irawati. Nanat Fatah. , & Erni. Positivisme. Pospositivisme. Teori Kritis, dan Konstruktivisme dalam Perspektif AuEpistemologi IslamAy. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 4. , 870Ae880. Pengaruh Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kekerasan Fisik terhadap Perilaku Agresif Remaja Gamers Vidhya Pudharika Kurniawan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 439-449 Jati. Januari . Tawuran Pelajar yang Terus Berulang dan Kian Meresahkan. Kompas. https://w. id/baca/metro/2024/01/29/tawuran-pelajar-yang-terus-berulang-dankian-meresahkan Kaufman-Parks. DeMaris. Giordano. Manning. , & Longmore. Familial fects on Intimate Partner Violence Perpetration Across Adolescence and Young Adulthood. Journal of Family Issues, 39. , 1Ae29. Kewalramani. , & Garima. Relationship Between Aggression and Interpersonal Communication. The International Journal of Indian Psychology, 4. , 91Ae112. Littlejohn. Teori Komunikasi (Theories of Human Communicatio. Salemba Humanika. Mansur. Februari . Polisi Ungkap Kronologi dan Motif Remaja Bunuh Satu Keluarga di Penajam Paser Utara. Republika News. https://news. id/berita/s8j9rf409/polisiungkap-kronologi-dan-motif-remaja-bunuh-satu-keluarga-di-penajam-paser-utara Muhamad. Desember . Komnas PA: Ada 3. 547 Kasus Kekerasan Anak 2023. Terbanyak Kekerasan Seksual. Databoks. https://databoks. id/datapublish/2023/12/29/komnas-pa-ada-3547-kasuskekerasan-anak-2023-terbanyak-kekerasan-seksual Nazhifah. Pengaruh Verbal Abuse. Kualitas Komunikasi Orang Tua dan Konformitas Teman Sebaya terhadap Perilaku Agresif Remaja. Jurnal Ilmu Komunikasi, 15. , 262Ae274. Pratama. Syahniar. , & Karneli. Perilaku Agresif Siswa dari Keluarga Broken Home. Konselor, 5. Purwitasari. Contribution of Parents Interpersonal Communication to The Aggressive Behaviour of Adolescent in School. International Journal of Communication. Management, and Humanities, 1. , 18Ae22. Puspitasari. Februari . Psikolog Ingatkan Pentingnya Komunikasi antara Orang Tua dan Anak. ANTARA. https://w. com/berita/3416556/psikolog-ingatkan-pentingnyakomunikasi-antara-orang-tua-dan-anak Putri. Agustus . 10 Provinsi dengan Kasus Kekerasan Tertinggi di Indonesia. GoodStats. https://goodstats. id/article/10-provinsi-dengan-kasus-kekerasan-tertinggi-di-indonesia-GTDCh Rahim. Oktober . Viral: Tawuran Maut Tewaskan 1 Orang di Jakut, 9 Pelaku Ditangkap. Detiknews. https://news. com/berita/d-6981605/viral-tawuran-maut-tewaskan-1-orangdi-jakut-9-pelaku-ditangkap Rorong. Penempatan Teori dalam ilmu komunikasi (Kajian Kepustakaan dalam Perspektif Deductive-Interpretiv. Commed: Jurnal Komunikasi dan Media, 4. Rosika. Azmi. , & Ofianto. Analisis Paradigma Filsafat Positivisme. Comserva, 3. Rusmawan. Teknik Penulisan Tugas Akhir dan Skripsi. PT Elex Media Komputindo. Setiawan. Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam. Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, 11. Setiawan. Memilih diantara 7 Tradisi Ilmu Komunikasi dalam Kerangka Filosofis. Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan. Komunikasi, dan Pemikiran Hukum Islam, 11. Soetjiningsih, & Ranuh. Tumbuh kembang Anak (Edisi . EGC. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Sugiyono. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method. Alfabeta. Sujarweni. Metode Penelitian: Lengkap. Praktis, dan Mudah Dipahami. Pustaka Baru