EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational PLACE ATTACHMENT: ANALISIS KETERIKATAN MAHASISWA TERHADAP KAMPUS X Sukri Karim1. Imam Abdillah Lukman2. Syarifah Zainab3. Zahratika4 Universitas Muhammadiyah Aceh 1234 e-mail: sukri. karim@unmuha. ABSTRAK Pendidikan tinggi merupakan fase krusial dalam kehidupan individu, karena pada tahap ini mahasiswa memperoleh keterampilan, pengetahuan, serta pengalaman yang akan memengaruhi arah masa depan mereka. Dalam konteks persaingan global dan kompleksitas tuntutan sosial, perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga memperhatikan faktor non-akademis yang berperan penting dalam kepuasan dan keberhasilan Salah satu faktor tersebut adalah keterikatan mahasiswa terhadap kampus . lace attachmen. , yaitu ikatan emosional yang terbentuk melalui pengalaman, interaksi sosial, serta kondisi lingkungan fisik kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keterikatan mahasiswa terhadap Kampus X serta menganalisis perbedaan ekspektasi mahasiswa sebelum dan setelah mereka menjadi bagian dari kampus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel 257 mahasiswa yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang mencakup dimensi afektif, kognitif, dan perilaku. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara harapan mahasiswa sebelum masuk kampus dan kenyataan yang dialami setelah kuliah, dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa place attachment mahasiswa terhadap kampus dipengaruhi oleh kualitas fasilitas, interaksi sosial, dan pengalaman akademik. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan strategis bagi pengelola perguruan tinggi dalam meningkatkan rasa memiliki, loyalitas, dan kepuasan mahasiswa. Kata Kunci: Place attachment. Kelekatan Mahasiswa. Kelekatan Kampus ABSTRACT Higher education represents a crucial stage in an individualAos life, as students acquire skills, knowledge, and experiences that strongly influence their future direction. In the context of global competition and increasingly complex social demands, universities are required not only to focus on academic achievement but also to pay attention to non-academic factors that significantly shape student satisfaction and success. One of these factors is student place attachment, which refers to the emotional bond formed through experiences, social interactions, and the physical environment of the campus. This study aimed to examine the extent of student attachment to Campus X and to analyze the differences between studentsAo expectations before entering the university and the reality they experienced afterward. The research employed a quantitative approach with a sample of 257 students selected through simple random sampling. The instrument used was a questionnaire covering affective, cognitive, and behavioral The results revealed a significant difference between studentsAo initial expectations and their actual experiences, with a significance value of 0. 000 < 0. These findings suggest that studentsAo place attachment is influenced by the quality of facilities, social interactions, and academic experiences. The study is expected to provide strategic insights for university management in strengthening studentsAo sense of belonging, loyalty, and overall satisfaction. Keywords: Place attachment. Student Attachment. Campus Attachment Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational PENDAHULUAN Pendidikan tinggi merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan individu yang menentukan arah perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengajaran, tetapi juga sebagai ruang sosialisasi yang membentuk identitas, nilai, serta pengalaman mahasiswa dalam jangka panjang. Di era globalisasi, ketika persaingan antarindividu semakin ketat dan tuntutan sosial-ekonomi semakin kompleks, keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademis, tetapi juga oleh kualitas hubungan mereka dengan lingkungan belajar. Dengan demikian, memahami dinamika psikologis, sosial, dan emosional yang berkembang antara mahasiswa dan kampus menjadi suatu hal yang sangat penting. Salah satu konsep yang relevan dalam memahami dinamika tersebut adalah kelekatan mahasiswa terhadap kampus. Kelekatan ini menggambarkan seberapa jauh mahasiswa merasa memiliki, mencintai, dan terikat dengan kampus yang mereka tempati. Konsep ini memiliki keterkaitan erat dengan teori kelekatan terhadap tempat . lace attachmen. , yakni sebuah kondisi psikologis di mana seseorang mengembangkan hubungan emosional yang positif terhadap suatu lokasi tertentu (Altman & Low, 1. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kelekatan semacam ini berimplikasi pada peningkatan rasa tanggung jawab dan keterlibatan. Misalnya, penelitian Trilestari. Istiqomah, dan Achmad . menemukan bahwa ikatan afektif dengan lingkungan dapat mendorong perilaku pro-lingkungan di kalangan karyawan, sedangkan studi Yulinda. Reza, dan Fitriani . menegaskan bahwa place attachment berkorelasi dengan perilaku peduli lingkungan pada masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa ikatan emosional tidak hanya mendorong perilaku perawatan terhadap tempat, tetapi juga menumbuhkan kesetiaan terhadap komunitas yang ada di dalamnya. Lebih lanjut. Chen. Dwyer, dan Firth . menjelaskan bahwa place attachment terdiri dari dimensi afektif, kognitif, dan perilaku yang saling berkaitan dalam membentuk ikatan individu dengan lingkungannya. Isa. Ariyanto, dan Kiumarsi . menambahkan bahwa keterikatan dengan suatu tempat dapat memengaruhi intensi untuk kembali mengunjungi atau menggunakan ruang tersebut, yang dalam konteks kampus dapat diartikan sebagai meningkatnya loyalitas mahasiswa. Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa yang memiliki tingkat keterikatan tinggi terhadap kampusnya akan lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan belajar, lebih aktif dalam kegiatan akademik maupun non-akademik, serta berkontribusi terhadap reputasi institusi. Dengan kata lain, kelekatan terhadap kampus berperan sebagai faktor non-akademis yang memengaruhi kualitas pengalaman mahasiswa selama menempuh studi. Namun demikian, perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang begitu cepat menimbulkan tantangan baru bagi perguruan tinggi dalam menjaga kelekatan mahasiswa. Studi Huang et al. menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran daring juga dapat memperkuat ikatan emosional terhadap kampus meski interaksi fisik berkurang. Hal ini sejalan dengan Chen et al. yang menemukan bahwa kepuasan mahasiswa terhadap platform pendidikan digital berperan dalam membangun kesetiaan terhadap lembaga. Walaupun kampus telah menyediakan fasilitas pendidikan dan kegiatan kemahasiswaan yang beragam, belum sepenuhnya jelas bagaimana mahasiswa membangun ikatan emosional dengan kampus tersebut. Di sisi lain, penelitian mengenai kelekatan mahasiswa terhadap kampus masih relatif terbatas di Indonesia, sebagaimana juga dicatat oleh Devi. Erlyani, dan Fauzia . bahwa aspek religiusitas dapat memengaruhi kelekatan terhadap tempat ibadah, yang dapat menjadi analogi untuk memahami keterikatan mahasiswa dengan lingkungan pendidikan. Kekosongan pengetahuan ini menunjukkan adanya ruang untuk melakukan kajian lebih Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keterikatan mahasiswa dalam setting Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tingkat kelekatan mahasiswa terhadap Kampus X serta faktor-faktor yang Pemahaman yang komprehensif mengenai aspek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan studi mengenai place attachment di ranah pendidikan tinggi. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi masukan praktis bagi pengelola perguruan tinggi dalam merancang strategi yang tepat untuk meningkatkan rasa memiliki, menciptakan iklim kampus yang inklusif, serta memperkuat kualitas pengalaman mahasiswa secara keseluruhan. Dengan demikian, universitas dapat memperkuat posisi strategisnya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pembentukan ikatan emosional yang berkelanjutan antara mahasiswa dan kampus. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menggambarkan tingkat kelekatan mahasiswa terhadap kampus. Lokasi penelitian adalah Kampus X dengan populasi seluruh mahasiswa angkatan 2020Ae2023 berjumlah 1. 950 orang. Sampel ditentukan menggunakan aplikasi Raosoft dengan margin of error 5%, sehingga diperoleh 257 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling insidental, yaitu responden dipilih berdasarkan pertemuan langsung dengan peneliti yang dianggap sesuai sebagai sumber data. Instrumen penelitian berupa kuesioner Psychological Place attachment Scale (PPAS) yang dikembangkan oleh Li dan Frieze . , terdiri dari tiga aspek: afektif, kognitif, dan perilaku. Selain itu, digunakan pula skala enam dimensi keterikatan kampus . dentitas tempat, ketergantungan tempat, keterikatan afektif, ikatan sosial, memori tempat, dan ekspektasi tempa. yang diadaptasi dari Huang. Finsterwalde, dan Chen . Data dianalisis secara deskriptif menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS 25. 0, untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kelekatan mahasiswa serta distribusi setiap indikator penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Keterikatan tempat . lace attachmen. merupakan bentuk kedekatan emosional individu dengan suatu lokasi tertentu. Ikatan ini terbentuk dari pengalaman positif yang dialami secara berulang, baik melalui aspek perilaku, afektif, maupun kognitif. Proses tersebut sering kali berlangsung tanpa disadari dan berkembang seiring waktu, sehingga melahirkan perasaan nyaman dan rasa memiliki terhadap lingkungan sosial maupun fisik. Lebih lanjut, individu yang menjalin persahabatan dan hubungan erat, baik di dalam organisasi maupun dengan komunitas luar, akan merasakan keterikatan ganda, yakni terhadap organisasi sekaligus lingkungannya. Dalam konteks pendidikan tinggi, pentingnya membangun ikatan emosional antara mahasiswa dan kampus menjadi sangat relevan. Hal ini dapat memperkuat rasa kepemilikan, meningkatkan loyalitas, serta menurunkan kemungkinan mahasiswa bersikap negatif seperti meninggalkan atau merusak kampus. Hasil Berdasarkan hasil penelitian pada subjek dalam penelitian ini ialah mahasiswa/i yang kuliah di Kampus X mulai dari Angkatan 2020 Ae 2023. Diskripsi data penelitian berfungsi untuk mengetahui data yang berhubungan dengan penelitian yang telah dilakukan. Tabel 1 Data deskritif pada variable Place attachment terlihat bahwa terdiri dari 257 subjek, memiliki nilai mean pada harapan 72, pada kenyataan 58, standar deviasi pada harapan 2. 54, pada kenyataan Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational 98, serta nilai minimum pada harapan 66, pada kenyataan 32, nilai maksimum harapan 76, pada kenyataan 72. Data tersebut akan dirangkum dalam tabel berikut: Tabel 1. Data deskriptif penelitian Descriptive Statistics Minimum Maximum Mean Std. Deviation Harapan Kenyataan Valid N . Sumber: Olah data SPSS versi 25 for windows, tahun 2024 Berdasarkan tabel 2 bahwa dari Uji t yang dilakukan terlihat bahwa nilai mean sebesar 33, sedangkan standar deviasi sebesar 6. 20 dan nilai signifikansi sebesar 0. 000 atau Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan Place attachment pada mahasiswa setelah masuk kuliah pada Kampus. Data tersebut dapat dilihat pada table berikut ini: Tabel 2. Tabel Hasil Uji t Paired Samples Test Paired Differences Sig. Mean Std. Std. Deviation Error Confidence Mean Interval of the Difference Lower Upper 024 256 . Pair Harapan Ae 14. Kenyataan Selain itu, saat menyebarkan kuesioner/skala dalam bentuk google form peneliti juga menyediakan alternatif jawaban dalam bentuk esai dengan isi bernyataan silakan memberikan saran/masukan/kritikan yang dapat membangun. Adapun keritik dan masukan mahasiswa yang peneliti himpun secara garis besar diantaranya sebagai berikut: . Mahasiswa tidak puas dengan kondisi kampus seperti kondisi jalan dalam kampus yang berlubang, tidak teraspal, ketika hujan banjir. Ketika kemarau berdebu dan tidak tertata rapi. Selain itu, kampus juga tidak menyediakan WIFI secara merata di dalam kampus yang mudah mahasiswa akses. Toilet dan tempat wudhu yang tidak bersih, terutama toilet dan tempat wudhu perempuan. Mahasiswa berharap hubungan emosional antara dosen dan mahasiswa dapat terjalin dengan baik, dosen masuk kelas tidak tepat waktu, dosen suka mengganti-ganti jadwal kuliah. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa tidak ada ikatan emosional mahasiswa dengan lingkungannya, ikatan emosional terhadap tempat dipengaruhi oleh interaksi individu dengan tempat tersebut dan individu lain dalam lingkungan tersebut. Mahasiswa tidak mendapatkan apa yang diharapkannya dengan kenyataan yang ia temukan dilapangan setelah masuk kampus. Pembahasan Temuan penelitian ini memperlihatkan adanya kesenjangan yang cukup jelas antara ekspektasi mahasiswa sebelum memasuki dunia perkuliahan dengan realitas yang mereka Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational jumpai setelah menjadi bagian dari kampus. Secara umum, mahasiswa menggambarkan bahwa harapan awal terhadap kualitas layanan akademik, fasilitas pendukung, maupun atmosfer sosial lebih tinggi dibandingkan dengan kenyataan yang mereka alami. Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa place attachment dalam konteks perguruan tinggi tidak terbentuk secara otomatis, melainkan membutuhkan dukungan dari lingkungan fisik, sosial, dan kultural yang konsisten. Hal ini sejalan dengan uraian Altman dan Low . yang memandang keterikatan tempat sebagai hubungan emosional dinamis antara individu dengan Aspek fasilitas fisik kampus muncul sebagai faktor penting yang menentukan kepuasan Kondisi infrastruktur seperti ruang kuliah, jaringan internet, maupun sarana umum lain masih sering dinilai belum optimal. Situasi ini mendukung hasil penelitian Wahyudie et al. yang menekankan bahwa pelestarian dan pemanfaatan ruang belajar tidak hanya soal keberadaan bangunan, tetapi juga perawatan dan pengelolaan yang mendukung kenyamanan Bahkan. Isa. Ariyanto, dan Kiumarsi . menegaskan bahwa pengalaman positif terhadap fasilitas dapat meningkatkan niat mahasiswa untuk kembali memanfaatkan lingkungan kampus, sama halnya dengan wisatawan yang terdorong untuk berkunjung kembali karena ikatan emosional dengan suatu tempat. Selain faktor fisik, relasi sosial antara dosen dan mahasiswa terbukti memainkan peran Ketidakkonsistenan dalam proses pembelajaran, baik berupa perubahan jadwal mendadak maupun keterlambatan mengajar, kerap menjadi keluhan mahasiswa. Chen. Dwyer, dan Firth . menegaskan bahwa dimensi keterikatan tempat tidak bisa dilepaskan dari interaksi sosial yang bermakna. Dalam konteks ini, lemahnya komunikasi interpersonal dapat mengurangi intensitas ikatan emosional mahasiswa terhadap institusi. Studi Sarah. Rachmah, dan Dewi . juga memperlihatkan bahwa kualitas keterikatan sosial, seperti peer attachment, sangat berpengaruh terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru dalam lingkungan Di sisi lain, pengalaman digital juga semakin menentukan arah keterikatan mahasiswa. Pandemi COVID-19 memperlihatkan betapa pentingnya layanan daring yang andal. Studi Chen et al. menunjukkan bahwa kepuasan pengguna terhadap platform digital sangat berpengaruh pada loyalitas mereka terhadap lembaga penyedia layanan pendidikan. Kondisi serupa juga terlihat dalam penelitian Huang et al. , di mana keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran daring berkontribusi pada ikatan emosional mereka terhadap institusi, sekalipun secara fisik interaksi dengan kampus menurun. Keterikatan mahasiswa tidak hanya terletak pada aspek utilitarian, tetapi juga mencerminkan nilai, budaya, dan identitas kolektif. Niemiec dan Ardoin . menemukan bahwa place attachment mampu memengaruhi perilaku individu dalam menjaga atau mendukung lingkungan tempat ia beraktivitas. Dengan kata lain, jika mahasiswa merasa nilai pribadi mereka sejalan dengan nilai yang diusung kampus, maka kelekatan emosional mereka akan lebih kuat. Hal ini diperkuat oleh penelitian Yulinda et al. yang menghubungkan place attachment dengan perilaku pro-lingkungan, menegaskan bahwa nilai dan kesadaran kolektif memainkan peran besar dalam membangun ikatan. Penelitian Devi. Erlyani, dan Fauzia . bahkan menunjukkan bahwa religiusitas dapat memperkuat ikatan emosional dengan tempat ibadah, yang secara analogi juga relevan dalam membentuk ikatan mahasiswa terhadap kampus yang memiliki dimensi spiritual maupun kultural. Beberapa mahasiswa meski kurang puas terhadap kondisi fisik kampus, tetap mempertahankan kenangan positif yang melekat pada pengalaman belajar maupun hubungan Menurut Li dan Frieze . , keterikatan semacam ini dapat dipandang sebagai bentuk civic engagement, di mana pengalaman di perguruan tinggi berfungsi sebagai modal sosial yang Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Kondisi serupa juga ditunjukkan oleh Trilestari et al. yang menemukan bahwa place attachment dapat menjadi prediktor perilaku prososial dalam konteks lingkungan Dalam perspektif yang lebih luas. Kastenholz. Marques, dan Carneiro . menekankan bahwa pengalaman emosional yang kaya dan berkesan akan membentuk keterikatan lebih kuat terhadap suatu tempat, termasuk lingkungan belajar. Secara organisasi, jika kesenjangan harapan dan kenyataan dibiarkan, maka dapat menimbulkan konsekuensi serius, seperti menurunnya retensi mahasiswa atau meningkatnya niat untuk pindah ke perguruan tinggi lain. Studi Majeed dan Ramkissoon . menegaskan bahwa kondisi kesehatan psikologis dan keterikatan tempat saling terkait dalam memengaruhi kesejahteraan individu, yang dalam konteks kampus berarti memengaruhi komitmen mahasiswa terhadap institusi. Dengan demikian, strategi pengelolaan kampus yang proaktif, baik dalam bidang layanan akademik maupun perbaikan fasilitas, sangat penting untuk menjaga keberlanjutan ikatan mahasiswa. Dengan mempertimbangkan temuan-temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa place attachment mahasiswa di kampus masih menghadapi tantangan signifikan, terutama pada dimensi afektif dan perilaku. Upaya penguatan perlu diarahkan pada peningkatan kualitas fasilitas fisik, konsistensi interaksi akademik, serta penguatan nilai dan identitas institusi. Seperti disampaikan oleh Boley et al. , pengukuran place attachment dapat membantu institusi pendidikan dalam merancang strategi peningkatan loyalitas mahasiswa melalui pengalaman belajar yang lebih komprehensif. Pada akhirnya, sebagaimana ditekankan oleh Isa et al. dan Kastenholz et al. , strategi keberlanjutan kampus perlu menempatkan pengalaman emosional mahasiswa sebagai inti, sehingga perbaikan berkelanjutan tidak hanya berfungsi meningkatkan kepuasan, tetapi juga memperkuat citra dan daya saing institusi di mata KESIMPULAN Place attachment: Analisis Keterikatan Mahasiswa terhadap Kampus (Kampus X) Dapat dijadikan sebagai rujukan atau pertimbangan untuk melakukan promosi atau perbaikan Kampus. Dengan adanya hasil penelitian ini kampus dapat mengetahui hal apa saja yang harus dijadikan perhatian atau perbaikan khusus dan segera dilakukan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan place attachment mahasiswa Kampus X sebelum masuk dan setelah masuk kampus (Kampus X) dengan nilai mean sebelum masuk Kampus sebesar 72. 43 dan setelah masuk Kampus turun menjadi 58. Dengan artian mahasiswa memiliki harapan yang tinggi terhadap kampus sebelum mereka masuk kampus dan menjadi rendah setelah mereka masuk kampus. DAFTAR PUSTAKA