El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. Oktober 2025 Volume 24. Nomor P-ISSN 2087-3638. E-ISSN 2655-7746 https://ftkjournal-uinmataram. id/index. php/eltsaqafah VARIASI METODE DALAM PEMBELAJARAN QAWAID NAHWU UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGUASAAN TATA BAHASA ARAB Badrul Islam Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Indonesia Corresponding author: badarul1884@gmail. Dony Handriawan JamiAoah Dual Arabiyah Cairo. Mesir hanselhanifa30@gmail. Article History Submitted: 09 Aug 2025. Revised: 11 Nov 2025. Accepted: 13 Nov 2025 DOI 10. 20414/tsaqafah. Abstract The learning of qawaid nahwu (Arabic grammar rule. constitutes a crucial foundation in Arabic language acquisition. However, the majority of Arabic learners face significant difficulties in mastering grammatical rules . This is attributed to the fact that the teaching methods generally employed do not align with their linguistic and communicative needs. Based on this issue, this study aims to examine the methods used in teaching grammatical rules to provide guidance for instructors in adapting teaching strategies according to the diverse conditions and needs of This study employs a descriptive-analytical method through literature review and previous research sourced from books, journals, and scientific articles discussing grammatical teaching methods. The findings reveal that there is a diversity of learning methods that can be utilized to facilitate the learning of grammatical rules. Among the most prominent are the deductive method, inductive method, modification method, activity method, and problem-solving method. This study also emphasizes the importance of selecting the most appropriate method based on learners' language proficiency levels, learning objectives, and existing learning This study recommends the importance of training for Arabic language instructors for non-Arab speakers to enable them to vary teaching methods and implement modern strategies that can realize the integration of grammar mastery and linguistic communication simultaneously. Keywords: strategy variation, teaching methods, qawaid nahwu Abstrak Pembelajaran qawaid nahwu merupakan fondasi penting dalam penguasaan bahasa Arab. Namun, mayoritas pembelajar bahasa Arab menghadapi kesulitan dalam mempelajari kaidah-kaidah tata bahasa . Hal ini disebabkan oleh metode This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 343 Variasi Metode Dalam Pembelajaran . (Badrul Islam. Dony Handriawa. pembelajaran yang diterapkan pada umumnya tidak sesuai dengan kebutuhan linguistik dan komunikatif mereka. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji metode-metode yang digunakan dalam pengajaran kaidah tata bahasa guna memberikan panduan kepada para pengajar agar dapat menyesuaikan strategi pengajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik yang beragam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis melalui kajian pustaka dan penelitian terdahulu yang bersumber dari buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang membahas metode pengajaran kaidah tata bahasa. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat keragaman metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk memudahkan pembelajaran kaidah tata bahasa. Di antaranya yang paling menonjol adalah metode deduktif, metode induktif, metode modifikasi, metode aktivitas, dan metode pemecahan masalah. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya pemilihan metode yang paling sesuai berdasarkan tingkat kemampuan bahasa peserta didik, tujuan pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran yang ada. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pelatihan bagi pengajar bahasa Arab untuk penutur non-Arab agar dapat memvariasikan metode pengajaran serta menerapkan strategi modern yang dapat mewujudkan integrasi penguasaan tata bahasa dan komunikasi linguistik secara bersamaan. Kata-kata kunci: metode pembelajaran, variasi strategi, qawaid nahwu PENDAHULUAN Bahasa Arab memiliki sistem tata bahasa yang kompleks dan kaya, mencakup kaidah nahwu, sharf, semantik, dan balaghah. Qawaid nahwu sebagai fondasi utama dalam memahami struktur bahasa Arab menjadi komponen krusial yang menentukan kemampuan berbahasa Arab Kompleksitas sistem gramatikal bahasa Arab menuntut metode pembelajaran yang tepat dan efektif agar pembelajar dapat menguasainya dengan optimal (Nasiruddin, 2. Fenomena kesulitan dalam pembelajaran qawaid nahwu dialami oleh mayoritas pembelajar bahasa Arab. Ahmad Sehri bin Punawan . mengidentifikasi bahwa salah satu penyebab utama kesulitan tersebut adalah ketidaksesuaian metode yang digunakan guru dengan kebutuhan dan karakteristik pembelajar. Metode yang monoton dan tidak variatif menyebabkan proses pembelajaran menjadi kurang menarik dan sulit dipahami. Metode pembelajaran, dalam konteks bahasa Arab disebut tariqah, merupakan cara sistematis yang digunakan guru dalam menjalankan fungsi pengajaran untuk merealisasikan tujuan pembelajaran (Ahmadi & Mustika, 2. Dalam pembelajaran qawaid nahwu, pemilihan metode yang tepat menjadi faktor determinan keberhasilan pembelajaran karena berkaitan langsung dengan cara penyampaian materi yang abstrak dan kompleks. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara komprehensif berbagai metode pembelajaran qawaidnahwu yang dapat diterapkan dalam pengajaran bahasa Arab. Kajian ini bertujuan untuk memberikan alternatif solusi bagi pendidik dalam mengatasi problematika pembelajaran tata bahasa Arab dan meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran. | 344 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan akan panduan praktis bagi pendidik bahasa Arab dalam memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pembelajar, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran qawaid nahwu secara LANDASAN TEORI Pembelajaran qawaid nahwu memerlukan landasan teoritis yang kuat untuk memahami kompleksitas materi dan strategi penyampaiannya. Teori pembelajaran bahasa kedua menjelaskan bahwa penguasaan tata bahasa merupakan proses kognitif yang melibatkan pemahaman pola, aturan, dan aplikasi praktis (Fitri etal. , 2. Konsep qawaid berasal dari bentuk jamak qaidah yang dalam bahasa Inggris sepadan dengan grammar atau tata bahasa dalam bahasa Indonesia. Qawaid merupakan kaidah-kaidah sistematis dalam menyusun kalimat bahasa Arab yang mencakup aspek i'rab, struktur, dan fungsi gramatikal (Ghulayaini, 2. Ilmu nahwu didefinisikan sebagai ilmu untuk mengetahui keadaan kalimat bahasa Arab, baik mufrad . ata tungga. maupun murakkab . usunan kalima. Ilmu ini juga disebut ilmu i'rab yang mengkaji keadaan akhir kata dalam konteks kalimat dari aspek rafa', nashab, jar, atau jazm (Shahahtah, tanpa tahu. Teori mempertimbangkan prinsip-prinsip pedagogis: bergerak dari mudah ke sulit, dari konkret ke abstrak, dari sederhana ke kompleks. Aplikasi teori ini dalam pembelajaran qawaid nahwu menuntut pemilihan strategi yang sesuai dengan tingkat kognitif pembelajar. Perkembangan teori pembelajaran bahasa juga menekankan pentingnya variasi metode untuk mengakomodasi gaya belajar yang berbeda. Pembelajaran qawaid nahwu yang efektif mengintegrasikan pendekatan deduktif dan induktif sesuai dengan karakteristik materi dan kemampuan pembelajar (Mualif, 2. Teori kognitif yang dikembangkan oleh Piaget dan Bruner menekankan bahwa pembelajaran adalah proses konstruksi pengetahuan melalui pengalaman dan pemahaman (Santrock, 2. Dalam konteks pembelajaran nahwu, pendekatan kognitif mendorong siswa untuk membangun pemahaman kaidah melalui observasi contoh, identifikasi pola, dan generalisasi aturan. Metode induktif sejalan dengan teori ini karena memfasilitasi siswa mengkonstruksi pengetahuan dari hal-hal spesifik menuju konsep umum (Schunk, 2. Konstruktivisme memandang bahwa pembelajaran terjadi ketika siswa secara aktif membangun pemahaman mereka sendiri (Vygotsky dalam Woolfolk, 2. Dalam pembelajaran nahwu, teori ini mendukung penggunaan metode yang mengaktifkan siswa seperti metode This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 345 Variasi Metode Dalam Pembelajaran . (Badrul Islam. Dony Handriawa. aktivitas dan metode problem, di mana siswa tidak hanya menerima informasi tetapi aktif mencari, menganalisis, dan menyimpulkan kaidah nahwu melalui eksplorasi dan pemecahan Johnson & Johnson . menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif meningkatkan pemahaman konseptual melalui interaksi sosial dan kolaborasi. Dalam pembelajaran nahwu, metode yang melibatkan diskusi kelompok, analisis bersama terhadap teks, dan pemecahan masalah secara kolaboratif terbukti efektif meningkatkan penguasaan kaidah nahwu. Metode aktivitas dan problem dapat diintegrasikan dengan pendekatan kooperatif untuk memaksimalkan keterlibatan siswa. Pemilihan metode pembelajaran nahwu harus mempertimbangkan beberapa faktor: . karakteristik siswa meliputi usia, tingkat kemampuan bahasa Arab, dan gaya belajar. tujuan pembelajaran apakah fokus pada pemahaman konseptual atau aplikasi praktis. konteks pembelajaran seperti durasi, fasilitas, dan jumlah siswa. kompetensi guru dalam menerapkan metode tertentu (Richards & Rodgers, 2. Dampak pemilihan metode terhadap kompetensi siswa dapat dilihat dari tiga aspek: . kompetensi kognitif yaitu pemahaman dan penguasaan kaidah nahwu. kompetensi aplikatif yaitu kemampuan menerapkan kaidah dalam membaca, menulis, dan berbicara. kompetensi afektif yaitu motivasi dan sikap positif terhadap pembelajaran nahwu. Metode deduktif cenderung efektif untuk siswa tingkat lanjut yang sudah memiliki dasar, sementara metode induktif lebih sesuai untuk pemula karena memfasilitasi penemuan konsep secara bertahap (Mahmud, 2. Penelitian Rimahdani. Shaleh, dan Nurlaeli . menunjukkan bahwa variasi metode yang disesuaikan dengan tahap pembelajaran meningkatkan hasil belajar nahwu secara signifikan dibandingkan penggunaan satu metode secara monoton. Hal ini menegaskan pentingnya fleksibilitas guru dalam memilih dan mengkombinasikan metode sesuai dengan kebutuhan METODE PENELITIAN Penelitian mendeskripsikan dan menganalisis fenomena metode pembelajaran qawaidnahwu secara Jenis penelitian yang digunakan adalah libraryresearch yang menjadikan bahan pustaka sebagai sumber data utama. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dari berbagai literatur yang relevan, meliputi kitab-kitab klasik nahwu, jurnal ilmiah, artikel, dan referensi akademik lainnya yang | 346 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 berkaitan dengan metode pembelajaran qawaidnahwu. Sumber data primer berasal dari kitabkitab nahwu klasik seperti karya al-Ghalayain, al-Jarim, dan Musthofa Amin. Analisis data dilakukan metode analisis isi . ontent analysi. untuk mengidentifikasi, mengkategorisasi, dan menganalisis berbagai metode pembelajaran qawaid Proses analisis mencakup tahap reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan untuk menghasilkan gambaran komprehensif tentang variasi metode pembelajaran. Validitas data dipastikan melalui triangulasi sumber dengan membandingkan informasi dari berbagai literatur yang berbeda untuk memperoleh keakuratan dan keandalan hasil penelitian. PEMBAHASAN Ragam Metode Pembelajaran Qawaid Nahwu Metode Deduktif Metode deduktif merupakan pendekatan pembelajaran tertua dalam pengajaran nahwu yang menempati posisi dominan dalam sistem pendidikan tradisional. Metode ini mengikuti pola pembelajaran dari umum ke khusus, dimulai dengan penyampaian kaidah atau definisi umum, contoh-contoh, dan diakhiri (Turuqtadrismawadal-lughahal-arabiyyah, 2. Langkah-langkah implementasi metode deduktif mencakup tiga tahap sistematis. Pertama, guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan kaidah, definisi, atau prinsip umum secara langsung kepada siswa. Kedua, guru menjelaskan kaidah tersebut melalui pemberian beberapa contoh konkret untuk memperjelas pemahaman. Ketiga, siswa melakukan aplikasi dan latihanlatihan untuk menguji pemahaman terhadap kaidah yang telah dipelajari. Asas filosofis yang mendasari metode ini adalah proses analogis, dimana pemikiran bergerak dari kebenaran umum menuju kebenaran parsial, dari hukum-hukum universal ke halhal spesifik. Pendekatan ini mencerminkan pola berpikir deduktif yang mengaplikasikan teori general pada kasus-kasus particular. Kelebihan metode deduktif terletak pada efisiensi waktu dan kemudahan penerapan, terutama bagi pembelajar tingkat menengah yang telah memiliki dasar-dasar nahwu. Metode ini memungkinkan penyampaian materi secara sistematis dan terstruktur, sehingga cocok untuk kelas dengan jumlah siswa yang besar. Contoh kitab nahwu yang menggunakan pendekatan deduktif adalah "Jami' al-Durus al-Arabiyyah" karya Mushthofa al-Ghalayain dan "al-Jurumiyyah" yang telah digunakan di pesantren Indonesia selama berabad-abad. Kelemahan metode ini mencakup beberapa aspek signifikan. Pertama, tidak sesuai untuk pemula karena fokus pada hafalan kaidah tanpa memperhatikan pengembangan kemampuan Kedua, menjadikan siswa pasif dalam proses pembelajaran karena mereka hanya This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 347 Variasi Metode Dalam Pembelajaran . (Badrul Islam. Dony Handriawa. menerima informasi tanpa keterlibatan aktif. Ketiga, bertentangan dengan prinsip pembelajaran progresif yang menganjurkan pergerakan dari mudah ke sulit dan dari konkret ke abstrak. Metode Induktif Metode induktif muncul sebagai respons terhadap kelemahan pendekatan deduktif, dipengaruhi oleh perkembangan teori pendidikan Eropa, khususnya karya Friedrich Herbert pada akhir abad kesembilan belas. Metode ini mengikuti pola pembelajaran dari khusus ke umum, dimulai dengan observasi contoh-contoh konkret untuk kemudian menyimpulkan kaidah Implementasi metode induktif mengikuti empat tahap pembelajaran yang sistematis. Tahap pendahuluan bertujuan mempersiapkan siswa menerima materi baru melalui cerita, dialog, atau penjelasan konsep yang merangsang ingatan dan menarik perhatian siswa ke dalam pembelajaran. Tahap penyajian merupakan inti pembelajaran dimana materi disajikan secara menarik dan komprehensif, menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan materi baru. Tahap linking atau menghubungkan bertujuan menyeimbangkan materi yang dipelajari hari ini dengan pembelajaran sebelumnya, baik yang berdekatan maupun yang jauh. Tujuannya adalah agar informasi terhubung dan terurutkan dalam pikiran siswa, memfasilitasi pemahaman holistik. Tahap penarikan kesimpulan memungkinkan siswa menyimpulkan kaidah secara mandiri berdasarkan observasi contoh-contoh yang telah disajikan. Tahap terakhir adalah aplikasi, dimana siswa menerapkan kaidah yang telah disimpulkan dalam berbagai konteks dan latihan. Penerapan ini sangat penting karena pembelajaran kaidah tidak akan bermakna tanpa praktik yang memadai. Kelebihan metode induktif mencakup penciptaan lingkungan pembelajaran yang realistis, pembentukan hubungan baik antara guru dan siswa, penyediaan wawasan maksimal, dan peningkatan keaktifan siswa. Metode ini lebih sesuai dengan proses alamiah memperoleh pengetahuan karena dimulai dari observasi konkret menuju abstraksi. Kelemahan utama metode induktif adalah efisiensi waktu yang rendah, karena guru tidak dapat menyampaikan informasi secara langsung dan memerlukan waktu untuk membimbing siswa menyimpulkan kaidah. Selain itu, keterbatasan contoh dapat menghambat proses generalisasi yang akurat. Metode induktif dapat dibagi menjadi dua variasi. Metode contoh (Amtsilat. menggunakan contoh-contoh terpilih dari berbagai sumber, memberikan keleluasaan bagi guru dalam menentukan materi ilustratif. Metode teks utuh . l-Nushu. menggunakan teks lengkap dari sumber otentik seperti karya sastra, artikel sejarah, atau media massa kontemporer. | 348 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 Metode Mu'dilah Metode mu'dilah merupakan sintesis kreatif dari pendekatan deduktif dan induktif, dikembangkan untuk mengatasi kelemahan masing-masing metode sebelumnya. Metode ini menggunakan teks bersambung yang utuh dan bermakna sebagai media pembelajaran, bukan fragmen-fragmen terpisah yang artifisial. Karakteristik metode mu'dilah terletak pada penggunaan bacaan kontekstual yang dipahami siswa, baik dari segi makna maupun relevansinya. Dari teks tersebut diekstrak kalimat-kalimat yang mengandung pola gramatikal target, kemudian diturunkan kaidahnya secara sistematis. Proses pembelajaran diakhiri dengan aplikasi praktis dalam konteks yang beragam. Implementasi metode ini mempertimbangkan aspek kurikulum dengan memperlakukan beberapa bab secara aplikatif praktis tanpa penjelasan kaidah eksplisit, sementara bab-bab lain tetap menggunakan pendekatan deduktif tradisional. Pendekatan selektif ini memungkinkan optimalisasi waktu dan efektivitas pembelajaran. Keunggulan metode mu'dilah terletak pada integrasi aspek bahasa dan sastra dalam satu kesatuan pembelajaran, penggunaan materi autentik yang bermakna, dan fleksibilitas dalam adaptasi terhadap berbagai tingkat kemampuan siswa. Metode ini juga memfasilitasi pembelajaran kontekstual yang lebih relevan dengan kebutuhan komunikatif siswa. Metode Aktivitas Metode aktivitas menekankan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran melalui berbagai kegiatan eksploratoris dan investigatif. Siswa ditugaskan mengumpulkan kalimat dan struktur yang mengandung konsep gramatikal tertentu dari berbagai sumber seperti buku, koran, majalah, atau media digital. Langkah-langkah metode aktivitas dimulai dengan penugasan kolektif kepada siswa untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan contoh-contoh struktur gramatikal spesifik dari sumbersumber otentik. Guru kemudian memfasilitasi proses analisis dan kategorisasi data yang dikumpulkan siswa, membimbing mereka menyimpulkan konsep gramatikal yang terkandung. Tahap selanjutnya adalah formulasi kaidah berdasarkan pola-pola yang ditemukan dalam data, diikuti dengan aplikasi kaidah tersebut dalam konteks-konteks baru yang relevan. Proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa terlibat aktif dalam konstruksi pengetahuan. Kelebihan metode aktivitas mencakup peningkatan motivasi belajar karena siswa merasa memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Pembelajaran menjadi lebih menarik karena siswa mempelajari konsep yang mereka temukan sendiri, meningkatkan retensi dan pemahaman jangka panjang. Adapun kelemahan metode ini terletak pada ketidaksesuaian untuk pemula yang This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 349 Variasi Metode Dalam Pembelajaran . (Badrul Islam. Dony Handriawa. belum memiliki kemampuan dasar mengidentifikasi struktur gramatikal. Selain itu, metode ini memerlukan persiapan yang intensif dan waktu pembelajaran yang relatif panjang. Metode Problem Metode problem-solving qawaidnahwu, dimana siswa dihadapkan pada permasalahan gramatikal yang harus dipecahkan melalui analisis dan investigasi sistematis. Metode ini mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa. Implementasi metode problem dimulai dengan presentasi permasalahan gramatikal spesifik yang solusinya terkait dengan kaidah baru yang akan dipelajari. Guru menyajikan contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan gramatikal, kemudian menantang siswa untuk mengidentifikasi dan mengoreksi kesalahan tersebut. Siswa dimotivasi untuk mencari solusi melalui diskusi kelompok, konsultasi referensi, atau bimbingan guru. Jika mengalami kesulitan, guru menyediakan contoh tambahan yang dapat membantu siswa mengidentifikasi pola dan menemukan solusi. Proses pembelajaran menekankan pada pemahaman fungsi dan jabatan setiap unsur dalam kalimat. Kelebihan metode problem terletak pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi, peningkatan keaktifan dan keterlibatan siswa, serta pembentukan sikap investigatif terhadap fenomena bahasa. Metode ini juga mengembangkan kemampuan problem-solving yang transferable ke konteks pembelajaran lainnya. Kelemahan utama metode problem adalah konsumsi waktu yang besar, terutama jika siswa mengalami kesulitan signifikan dalam menemukan solusi. Selain itu, metode ini memerlukan kemampuan fasilitasi yang tinggi dari guru untuk membimbing siswa tanpa memberikan jawaban Analisis Komparatif Metode Pembelajaran Setiap metode pembelajaran qawaidnahwu memiliki karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan yang berbeda, sehingga pemilihan metode harus mempertimbangkan berbagai faktor kontekstual. Metode deduktif cocok untuk pembelajar tingkat menengah-lanjut yang telah memiliki dasar nahwu yang solid, namun kurang efektif untuk pemula karena sifatnya yang abstrak dan menuntut kemampuan hafalan tinggi. Metode induktif lebih sesuai untuk pemula karena mengikuti proses alamiah pembelajaran dari konkret ke abstrak, namun memerlukan waktu relatif panjang dan kemampuan fasilitasi yang tinggi dari guru. Metode mu'dilah menawarkan keseimbangan antara efisiensi dan efektivitas, cocok untuk berbagai tingkat kemampuan dengan syarat tersedianya materi teks yang berkualitas. | 350 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 Metode aktivitas sangat efektif untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa, namun memerlukan persiapan intensif dan kurang cocok untuk pemula. Metode problem mengembangkan kemampuan berpikir kritis tetapi memerlukan waktu yang substantial dan kemampuan analisis dasar dari siswa. Konteks pembelajaran juga mempengaruhi efektivitas metode. Pembelajaran dalam setting pesantren tradisional mungkin lebih sesuai menggunakan metode deduktif yang telah teruji, sementara setting pendidikan modern dapat mengadopsi metode yang lebih variatif dan PENUTUP Berdasarkan analisis komprehensif terhadap berbagai metode pembelajaran qawaid nahwu, dapat disimpulkan bahwa terdapat lima metode utama yang masing-masing memiliki karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan tersendiri. Metode deduktif, induktif, mu'dilah, aktivitas, dan problem menawarkan pendekatan yang berbeda dalam penyampaian materi tata bahasa Arab, memungkinkan guru untuk memilih strategi yang paling sesuai dengan kondisi Efektivitas pembelajaran qawaid nahwu tidak bergantung pada satu metode tunggal, melainkan pada kemampuan guru dalam memilih dan mengaplikasikan metode yang tepat sesuai dengan karakteristik siswa, tingkat kemampuan, konteks pembelajaran, dan tujuan yang ingin Variasi metode juga diperlukan untuk mengakomodasi gaya belajar yang beragam dan mempertahankan motivasi siswa sepanjang proses pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA