KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL SRI KUNING KARYA R. HARDJOWIROGO (Kajian Psikologi Sastr. Tanti Sekar Ratri Universitas Negeri Yogyakarta 2023@student. Sri Harti Widyastuti Universitas Negeri Yogyakarta sriharti@uny. Mulyana Universitas Negeri Yogyakarta mulyana@uny. ABSTRACT The purpose of this study is to . describe the main characters. Srikuning and Sudjana, in the novel Sri Kuning by R. Hardjowirogo. explain the nature of inner conflict. identify the causing factors. explain how the characters resolve their conflict. This research used a qualitative descriptive method with Sigmund Freud's literary psychology approach that relates to the id, ego, and superego. The data collection technique is carried out through a literature study by reading carefully over and over again. The results of this study are as follows: . Srikuning's character: coquettish, assertive, wise. Sudjana's character: skilled in fighting, careful, honest, etc. The form of Srikuning's inner conflict: anger, sadness, inner conflict, etc. , whereas Sudjana's: anger, sadness, heartlessness, etc. Factors that cause Srikuning's inner conflict: being set up by Subagja and Bendara Juru, being defamed by Bendara Juru, etc. , whereas Sudjana's are: Subagja interfering with his affairs with Srikuning, being emotionally provoked by Pak Thiwul, etc. Direct aggression, diversion, and rationalisation are Srikuning's methods of resolving conflict, whereas Sudjana uses regression and rationalisation to handle it. Keywords: Inner conflict, psychoanalysis, main character, novel ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan . perwatakan tokoh utama Srikuning dan Sudjana dalam novel Sri Kuning karangan R. Hardjowirogo. wujud konflik batin, . faktor yang menyebabkan serta . cara tokoh mengatasi konfliknya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra Sigmund Freud yaitu berhubungan dengan id, ego, dan superego. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dengan membaca secara cermat berulang-ulang. Hasil penelitian yang telah dilakukan adalah . watak Srikuning: centil, tegas, bijaksana, dll, watak Sudjana: terampil berkelahi, berhati-hati, jujur dll. wujud konflik batin Srikuning: marah, sedih, pertentangan batin, dll sedangkan Sudjana: marah, sedih, tidak tega dll. Faktor yang menyebabkan konflik batin Srikuning akan dijodohkan dengan Subagja dan Bendara Juru, disakiti oleh Subagja, dll sedangkan Sudjana: mendengar ucapan yang menyakitkan, difitnah oleh Bendara Juru dan Surasentika dll. Cara Srikuning mengatasi konflik dengan agresi langsung, pengalihan dan rasionalisasi, sedangkan Sudjana mengatasinya dengan regresi dan rasionalisasi. Kata kunci: Konflik batin, psikoanalisis, tokoh utama, novel PENDAHULUAN Sastra merupakan ekspresi kehidupan manusia yang tidak dapat terlepas dari akar masyarakatnya (Wellek dan Werren, 2016: . Sastra juga merupakan sebuah karya yang dibuat oleh manusia untuk menyatakan pemikiran, rasa dan imajinasinya. Sumber cerita karya sastra bisa dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari atau hanya imajinasi pengarang saja. Pembaca dapat mempelajari dan mengambil nilai-nilai kehidupan yang ada dalam karya sastra melalui tulisan tersebut. Salah satu karya sastra yang menarik perhatian pembaca sampai sekarang adalah novel. Novel menurut Nurgiyantoro . 5: . adalah karya sastra prosa fiksi yang lebih panjang serta dibangun dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik yang membangun novel adalah tema, latar/setting, alur, penokohan, point of view, amanat dan gaya bahasa. Sedangkan unsur ekstrinsik novel seperti pendidikan pengarang, budaya, sosial dan lain-lain. Widayat . 1: . menambahkan bahwa novel merupakan jenis karya sastra Jawa yang mendapat pengaruh dari sastra dan teori sastra Barat. Siswanto . 3: . mengemukakan bahwa novel adalah karangan prosa panjang yang terdapat rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan menonjolkan watak dan sifat pelakunya. Penggunaan istilah tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan atau karakter dan karakterisasi sering ditemukan ketika membahas sebuah karya fiksi. Sedangkan watak perwatakan dan karakter merujuk kepada sifat dan sikap tokoh yang ditafsirkan pembaca yang menunjukkan kualitas pribadi seorang tokoh (Nurgiyantoro, 2015: . Tokoh sebagai sarana pengarang untuk mengungkapkan maksud melalui ucapan, pembicaraan dengan tokoh lain atau tindakannya. Watak tokoh yang berbeda antara satu dengan yang lain dapat menyebabkan konflik antar tokoh dan menimbulkan peristiwa lain dalam cerita. Dengan demikian peran tokoh dalam cerita sebagai penggerak cerita (Pradopo, 1976: . Tokoh dalam cerita dibedakan menjadi tokoh utama . entral character, main characte. dan tokoh tambahan . eripheral characte. (Nurgiyantoro, 2009: . Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peran penting dalam suatu cerita (Aminuddin, 2013: . Tokoh utama banyak diceritakan sebagai pelaku peristiwa atau yang dikenai peristiwa. Tokoh utama memiliki peran penting dalam sebuah cerita sehingga sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya (Wardianto, 2020: . Tokoh-tokoh dalam novel biasanya digambarkan dengan jelas, contohnya yang berkaitan dengan ciri-ciri fisik, keadaan sosial, tindakan, sifat dan kebiasaan juga termasuk hubungan antara satu tokoh dengan yang lain yang digambarkan secara langsung atau tidak (Nurgiyantoro, 2009: . Pengarang mempunyai cara pandang terhadap peristiwa tertentu yang membuat cerita dalam novel hidup dan utuh. Konflik merupakan satu bagian yang membuat cerita utuh dan menarik perhatian pembaca. Adanya konflik yang terjadi di dalam novel menjadikan peran tokoh lebih hidup. Konflik yang disajikan dalam novel dapat berupa konflik fisik atau Konflik merujuk terhadap segala sesuatu yang sifatnya tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami oleh tokoh dalam cerita, jika tokoh tersebut mempunyai kesempatan untuk memilih tentu saja tidak akan memilih (Meredith & Fitzgerald dalan Nurgiyantoro, 2019: . Lebih lanjut Nurgiyantoro . 7: . memaparkan bahwa konflik batin adalah permasalahan yang dialami tokoh karena pertentangan antara hati, pikiran dan jiwanya. Konflik batin erat kaitannya dengan emosi yang ada pada individu dari tingkat keresahan sampai tingkat yang lebih tinggi (Dayana, 2019: . Konflik batin terjadi di dalam alam bawah sadar individu. Ketika terjadi konflik batin tersebut dapat mengganggu ketenangan pikiran meskipun tidak disadari secara langsung (Surakhmad, 2010: . Menurut Minderop . 3: . dalam karya sastra terdapat bagian yang dapat menghidupkan konflik yaitu aspek psikologi sastra. Psikologi sastra adalah salah satu ilmu untuk mengetahui dan meneliti sastra yang menggunakan konsep dan kerangka teori yang ada dalam ilmu psikologi (Wiyatmi, 2011: . Psikologi dan sastra memiliki hubungan yang fungsional yakni sama-sama bermanfaat untuk mempelajari kondisi kejiwaan orang lain. dalam karya sastra gejala kejiwaan yang dipaparkan bersifat imajiner/ fiksi sedangkan psikologi bersifat nyata. Di dalam psikologi sastra juga dikenal istilah mengenai kepribadian. Sigmund Freud membagi struktur kepribadian menjadi 3 yakni id, ego dan super ego. Ketiga unsur kepribadian tersebut mempunyai tujuan, sifat komponen, prinsip kerja dan dinamika tersendiri, namun ketiganya merupakan sistem yang bekerja sama dengan mempengaruhi perilaku manusia. Id (Das E. menurut Freud . alam Minderop, 2013: . merupakan energi psikis dan naluri yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makan, seks serta menolak rasa tidak nyaman. Id merupakan sistem kepribadian yang paling dasar dimana terdapat naluri bawaan. Ego (Das Ic. merupakan sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu untuk bertindak prinsip kenyataan di duni anyata (Freud dalam Minderop, 2013: . Sedangkan Super ego (Das Uber Ic. mengacu pada moralitas dalam kepribadian. Super ego sama halnya dengan hati nurani manusia yang mengenali baik dan buruk (Freud dalam Minderop, 2013: . Adanya konflik batin yang disebabkan oleh pertentangan antara id, ego dan super ego. Untuk mengatasasi konflik batin tersebut kemudian muncul mekanisme pemertahanan ego. Mekanisme pemertahanan ego adalah cara yang diambil oleh ego untuk mengatasi ketegangan (Soeardiman, 1980: . Tanpa adanya mekanisme pemertahanan ini kecemasan dapat menjadi ancaman yang membahayakan terhadap kesehatan mental. Macam-macam mekanisme pemertahanan antara lain: Pengalihan . yaitu mengalihkan rasa tidak senang terhadap sebuah objek pada objek lain yang memungkinkan (Minderop, 2013: . Rasionalisasi yakni mencari alasan atau pembenaran untuk membenarkan tindakannya sehingga ego dapat menerima daripada alasan sebenarnya (Berry, 2001: Regresi, ada dua macam intrepretasi regresi yakni retrogressive behavior yakni tindakan seperti anak kecil, menangis dan manja untuk memperoleh rasa aman dan perhatian orang lain. Serta primitivation yakni tindakan orang dewasa yang kehilangan kontrol sehingga tidak malu untuk bertengkar (Hilgard dalam Minderop, 2013: . Agresi, dapat berupa agresi langsung direct aggression dan pengalihan. Agresi langsung dengan cara merespon langsung pada orang atau objek yang menjadi sumber Sedangkan agresi yang dialihan adalah melampiaskan frustasi terhadap objek tertentu karena ketidakmampuan menghadapi frustasi (Minderop, 2013: . Novel Sri Kuning ini terdiri dari 135 halaman serta dibagi menjadi 20 bagian sub judul. Novel tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1953. Novel tersebut menceritakan seorang perempuan bernama Srikuning yang mengalami kesedihan. Ia lahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Srikuning kemudian dijodohkan dengan pria yang tidak dicintainya yaitu Subagja, putra Tjakarja orang kaya dari Djagadayoh dan Bendara Juru. Srikuning tidak menyukai Subagja. Ia lebih menyukai Sudjana seorang laki-laki sederhana dari Patraredjan. Akhirnya hubungan antara Srikuning dan Sudjana ditentang oleh orang tua Srikuning. Tokoh Srikuning digambarkan sebagai wanita terpelajar dan berpikiran maju. Sehingga ia berani memilih jalan hidupnya sendiri walaupun ditentang oleh keluarga dan lingkungannya. Begitu juga dengan Sudjana, meskipun ia dari kalangan bawah tetapi berani untuk mendekati Srikuning. Penelitian mengenai konflik batin dalam novel sudah banyak dilakukan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Dariyah dengan judul Konflik dalam Novel Sri Kuning Karya R. Hardjowirogo pada tahun 2013. Penelitian tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan bentukbentuk, faktor penyebab dan strategi tokoh untuk menghadapi konflik. Konflik yang dibahas dalam penelitian tersebut adalah konflik secara umum yaitu konflik internal dan eksternal. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan teori konflik oleh Nurgiyantoro yang didukung teori alur/ plot untuk menemukan peristiwa ynag berhubungan dengan konflik. Penelitian lainnya yang meneliti konflik batin adalah penelitian yang dilakukan oleh Laeli Nur Hidayatunnikmah yang berjudul Konflik Psikis Paraga Wiradi wonten ing Trilogi Novel Kelangan Satang Anggitanipun Suparto Brata (Tinjauan Psikologi Sastra pada tahun 2013. Penelitian teresbut meneliti perwatakan, konflik psikis yang dialami, penyebab dan cara menghadapi konflik batin oleh tokoh utama dalam novel menggunakan pendekatan psikologi Hal yang membedakan dengan penelitian terdahulu adalah objek penelitiannya. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti akan melakukan kajian terhadap perwatakan, wujud konflik batin, faktor yang menyebabkan konflik batin serta cara menyelesaikan konflik batin oleh tokoh utama Srikuning dan Sudjana dalam Novel Sri Kuning karangan R. Hardjowirogo. Pemilihan novel ini dilakukan karena terdapat banyak konflik batin yang layak untuk dianalisis. Selain itu permasalahan kejiwaan yang terdapat dalam novel ini dapat memberikan gambaran bagi pembaca mengenai berbagai penyimpangan perilaku tokoh dalam karya sastra yang disebabkan oleh konflik batin. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan atas dasar kenyataannya (Sudaryanto, 1988: . Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra Sigmund Freud yang berhubungan dengan id, ego dan super ego. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan perwatakan, wujud konflik batin, faktor yang menyebabkan konflik batin serta cara menyelesaikan konflik batin oleh tokoh utama Srikuning dan Sudjana dalam Novel Sri Kuning karangan R. Hardjowirogo. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa atau kalimat yang ada dalam novel sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data dengan baca dan catat. Proses membaca dilakukan secara cermat dan berulang-ulang sehingga menemukan data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Data kemudian dicatat dalam kartu data dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Prosedur menganalisis data dengan cara . kategorisasi, . tabulasi, . intrepretasi, dan . Data yang telah dianalisis kemudian disahkan dengan validitas dan reliabilitas. Validitas data dilakukan dengan validitas semantik, yakni berdasarkan tingkat kesensitifan makna simbolik yang berhubungan dengan konteks (Endraswara, 2006: . Caranya dengan menafsirkan data-data yang dicocokkan dengan konteks kalimat. Peneliti juga meminta saran dan sanggahan terhadap ahli yang paham betul terhadap penelitian ini yaitu dosen Reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan reliabilitas intrarater dan interrater. Reliabilitas intrarater dilakukan dengan cara membaca novel secara berulang-ulang sehingga memperoleh data yang konsisten sedangkan reliabilitas interrater yaitu dengan membahas hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Srikuning dan Sudjana termasuk dalam tokoh utama karena dua tokoh tersebut mengalami peristiwa yang kompleks dan diutamakan didalam cerita. Dalam novel Sri Kuning terdapat juga tokoh tambahan seperti Surasentika. Bok Surasentika. Wignyasabda. Kjai Amadrawi. Ki Trunangali. Bok Trunangali. Gunakarya (Pak Thiwu. Karjadimedja. Subagja. Tjakarja. Bok Tjakarja. Gijem, dan Bendara Djuru Sastrasupraptana. Adapun hasil penelitian mengenai perwatakan, wujud konflik batin, faktor yang menyebabkan konflik batin serta cara menyelesaikan konflik batin sebagai berikut. Perwatakan Tokoh Utama Tokoh Srikuning dan Sudjana digambarkan mempunyai watak yang beraneka ragam. Adapun hasil analisis watak tokoh utama Srikuning dan Sudjana berdasarkan teori psikonalisis Sigmund Freud disajikan dalam tabel seperti di bawah ini. Tabel 1. Perwatakan Tokoh Srikuning Struktur Kepribadian Ego Super Ego Perwatakan Jumlah Data Centil Ucapannya kasar Pandai Bijaksana Peka terhadap suasana Tegas Tegar Teliti Setia Sabar Mantab terhadap pilihannya Jujur Sederhana Tidak sombong Bijaksana Setia Menurut dengan orang tua Tegar Menjalankan tata krama Ramah Luwes Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tokoh Srikuning mempunyai watak yang didasari oleh tiga struktur kepribadian yaitu id, ego dan super ego. Perwatakan yang didasari oleh struktur kepribadian id ditemukan 2 butir data, perwatakan yang didasari oleh ego sebanyak 24 butir data, dan perwatakan yang didasari oleh struktur kepribadian super ego ada 23 butir data. Perwatakan Srikuning tegas didasari oleh struktur kepribadian ego. Watak ini memiliki jumlah data terbanyak dalam struktur kepribadian ego yaitu sebanyak 4 butir data. Adapun analisis data seperti di bawah ini. Srikuning gumudjeng kalijan noleh, samar manawi kemirengan ing tijang sanes. Nalika Srikuning noleh wau sumerep regemenging tijang djaler kalih, malah ladjeng ketingal saja Wusana ingkang sateng wau njuwara pijambakan: AuSrikuning tak terne. Ay Srikuning ngertos manawi suwaranipun Subagja, ladjeng mangsuli sadjak boten kedugi: AuKowe Subagja, perlu apa nusul lakuku? Oraa koterake, aku ja wis wani. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Berdasarkan kutipan data diatas Subagja menggoda Srikuning semakin menjadi-jadi. Keadaan tersebut menjadikan Srikuning berbicara lebih tegas lagi terhadap Subagja daripada Srikuning bertindak demikian didasari oleh ego sehingga ia berbicara dengan nada tegas dan mantab kepada Subagja. Hal tersebut menegaskan bahwa Srikuning tidak mau diantarkan oleh Subagja ke pasar serta tidak senang diperlakukan demikian. Tabel 2. Perwatakan Tokoh Sudjana Struktur Perwatakan Kepribadian Percaya diri Cekatan Terampil Berkelahi Berani Ego Menerima Selalu ingat Merasa Setia Tegar Berhati-hati Sabar Mantab Jujur Bijaksana Berani Meninmbang-nimbang Super Ego Ramah Jujur Merasa Bijaksana Setia Sabar Ikhlas Menimbang-nimbang Tanggung jawab Satria Jumlah Data Ingat Tegar Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tokoh Sudjana mempunyai watak yang didasari oleh tiga struktur kepribadian yaitu id, ego dan super ego. Perwatakan yang didasari oleh struktur kepribadian id ditemukan 12 butir data, perwatakan yang didasari oleh ego sebanyak 27 butir data, dan perwatakan yang didasari oleh struktur kepribadian super ego ada 32 butir data. Bijaksana berarti dapat menggunakan akal budinya dengan benar. Tidak semua orang mempunyai watak bijaksana, tergantung bagaimana orang tersebut menghapai masalah. Watak bijaksna dari Sudjana terlihat dari kutipan data seperti di bawah ini. Srikuning: AuIja Sudjana, upama ora anaa kowe, aku mesi sida dipilara. Aku tulungana, ja?Ay Sudjana ladjeng mireng tembungipun Srikuning ingkang makaten wau ladjeng ageng manahipun saha mangsuli: AuAdja samar, waton isih ana aku, alangna ing pakewuhAy (Hardjowirogo, 1953: . Kutipan data yang dicetak tebal di atas menunjukkan watak bijaksana dari Sudjana. Sudjana berbicara dengan Srikuning bahwa ia akan menolongnya. Ketika Srikuning membutuhkan pertolongan dari dirinya langsung saja diutarakan tanpa ada rasa sungkan. Tindakan Sudjana tersebut didasari oleh ego. Kenyataannya wanita lebih lemah jika dibandingkan dengan laki-laki. Sudjana mau menolong Srikuning sebagai wujud rasa cintanya. Wujud Konflik Batin Di dalam novel Sri Kuning tokoh utama Srikuning dan Sudjana mengalami beraneka macam konflik batin. Wujud konflik batin tersebut kemudian dianalisis menggunakan struktur kepribadian Sigmund Freud yang berwujud id, ego dan super ego. Id isinya berupa dorongan primer yang harus dituruti, contohnya insting dan nafsu. Ego berfungsi untuk mengontrol id. Sedangkan super ego berupa moral kepribadian yang isinya kata hati. Wujud konflik batin yang dialami Srikuning dan Sudjana sebagai berikut. Tabel 3. Konflik Batin Tokoh Srikuning Struktur Konflik Batin Kepribadian Dipaksa Jengkel Digoda Difitnah Marah Pertentangan batin Susah Pening Geregetan Gelap hati Ego Was-was Jengkel Bingung Pasrah Susah Jumlah Data Super Ego Dipaksa Sungkan Dipaksa Jengkel Sungkan Pertentangan batin Terharu Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tokoh Srikuning mengalami konflik batin yang didasari oleh tiga struktur kepribadian yaitu id, ego dan super ego. Konflik batin yang didasari oleh struktur kepribadian id ditemukan 10 butir data, konflik batin yang didasari oleh ego sebanyak 7 butir data, dan konflik batin yang didasari oleh struktur kepribadian super ego ada 5 butir data. Pertentangan batin merupakan konflik batin yang dialami Srikuning berdasarkan struktur kepribadian super ego. Di ranah struktur kepribadian super ego konflik ini memiliki jumlah data terbanyak. Pertentangan batin bermakna rasa hati yang mengganjal karena bingung mengambil keputusan antara dua perkara atau lebih. Pertentangan batin dapat juga disebabkan adanya dua dorongan atau lebih yang berlawanan dan tidak dapat dipenuhi dalam waktu yang bersamaan. Pertentangan batin yang dialami Srikuning seperti di bawah ini. Sudjana: AuKeprije ta?Ay Srikuning mangsuli kalijan katja-katja: AuTjekake bapak mung ora oleh ok aku entuk kowe. Nanging keprije, kasusilanku tansah anggonseli, durung bisa ninggal panguwasaning wong-tuwa, dadi sanadjan tradjangku gawe kasamaraning, batinku durung owah, tetep isih ngenggoni kautaman. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Berdasarkan kutipan data tersebut Srikuning mengutarakan bahwa ayahnya tidak menyetujui dirinya berhubungan dan dekat dengan Sudjana. Srikuning kemudian mengalami pertentangan antara ego dan super egonya. Ego menjadikan Srikuning berpikir dengan rasional bahwa dirinya tidak menyukai Subagja sehingga tidak setuju dijodohkan. Super ego yang lebih kuat mendorong Srikuning untuk mengikuti nasihat orang tuanya meskipun hatinya terasa berat. Sudjana: AuAsuh Ning, saksat kowe njengkakake patiku. Ay AuJen patimu djalaran saka ngantepi menjang aku, ajake bakal kaleksanan. Ay Saladjengipun Srikuning witjanten kalijan nangis: AuO. Sudjana, prakara anggone bapak ora tjonsong menjang kowe, sanadjan gawe susahku, tak anggep durung sepiraa. Balik saikiA. AkuA. Arep dipunsutA. NdaraA. Djuru. Mesi kelakone. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Berdasarkan data di atas Srikuning mengatakan persoalan dirinya akan dijodohkan dengan Bendara Juru kepada Sudjana. Srikuning mengalami pertentangan batin antara ego dan super egonya. Ego menjadikan Srikuning mengeluh kepada Sudjana. Sedangkan super ego yang lebih kuat menjadikan Srikuning menuruti perintah orang tuanya. No Tabel 4. Konflik Batin Tokoh Sudjana Struktur Konflik Batin Kepribadian Bingung Takut Marah Tidak menerima Jengkel Ego Pertentangan batin Menerima Bingung Pasrah Susah Malu Was-was Difitnah Dipaksa Putus asa Nekat Dibenci Pening Putus asa Prasangka buruk Diancam Tidak dipercaya Terharu Super Ego Sedih Sungkan Tidak tega Tidak dipercaya Diancam Pening Pasrah Menerima Jumlah Data Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tokoh Sudjana mengalami konflik batin yang didasari oleh tiga struktur kepribadian yaitu id, ego dan super ego. Konflik batin yang didasari oleh struktur kepribadian id ditemukan 5 butir data, ego sebanyak 18 butir data, dan super ego ada 8 butir data. Tidak tega adalah sikap belas kasihan terhadap orang lain. Konflik batin tidak tega yang dialami oleh Sudjana didasari oleh struktur kepribadian super ego. Rasa tidak tega tersebut seperti terlihat di kutipan data yang dicetak tebal di bawah ini. Sudjana: AuIja ta Ning, kautaman iku wadjib dirungkebi, nanging aku meksa ora tega, pak Karja bae ben ngeterake. Wis mangkata! Empun pak. Srikuning sampejan eterake. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Berdasarkan data di atas Sudjana berbicara kepada Srikuning jika dirinya tidak tega melihat Srikuning pergi ke pasar hanya berdua dengan Embok Giyem. Rasa tidak tega tersebut dilandasi oleh super ego. Super ego yang kuat mendorong Sudjana untuk merasa tidak tega melihat keadaan Srikuning. Sudjana tidak sampai hati jika nanti Srikuning digoda oleh Subagja di jalan. Kemudian ego mendasari Sudjana untuk meminta tolong pada Karyadimeja untuk mengantar Srikuning ke pasar. Faktor yang Menyebabkan Konflik Batin Segala peristiwa yang terjadi di dalam cerita merupakan hasil karangan oleh penulis, begitu juga konflik. Konflik yang terjadi tidak dapat lepas dari sebab yang menjadikan munculnya konflik tersebut. Berikut ini disajikan faktor yang menyebabkan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama Srikuning dan Sudjana. Tabel 5. Konflik Batin Tokoh Srikuning Konflik batin Marah Pertentangan Batin Tokoh Yang Menyebabkan Konflik Raden Juru Sastrasupraptana Sudjana Surasentika Faktor Penyebab Tidak merasa keluar dengan Subagja Mengetahui Sudjana menangis Srikuning mengikuti perintah orang tuanya, walaupun tidak setuju dijodohkan dengan Subagja dan Bendara Juru Srikuning pernah difitnah oleh Bendara Juru pernah berjalan Bersama Subagja. Masalah tersebut selanjutnya menimbulkan konflik batin berwujud marah seperti kutipan data di bawah ini. Djuru: AuRungokna ja. Saka kansane Subagja, nalika seweke lagi mlaku karo kowe, bandjur diantem Sudjana saka buri. Ay Srikuning: AuBoten sudi kula lumampah kalijan Subagja. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Berdasarkan data diatas Srikuning difitnah oleh Bendara juru. Namun sejatinya Srikuning tidak pernah berjalan bersama Subagja ketika pergi ke Pasar Watukumpul. Srikuning kemudian marah dan menanggapi pertanyaan Bendara Juru dengan agak kasar. Srikuning mangsuli kalijan katja-katja: AuTjekake bapak mung ora oleh ok aku entuk kowe. Nanging keprije, kasusilanku tansah anggonseli, durung bisa ninggal panguwasaning wong tuwa, dadi sanadyan tradjangku gawe kasamaraning wong tuwa, batinku durung owah, tetep isih ngenggoni kautaman. Ay Sudjana: AuKowe kuwi marahi gembeng aku bae Ning. Ay Srikuning mangsuli semu ngerang-erang: AuO, pantes, wong lanang mata juju. La antepmu ana ngendi!Ay (Hardjowirogo, 1953: . Sikap Srikuning yang marah juga menunjukkan rasa marahnya kepada Sudjana. Srikuning menceritakan hubungannya dengan Sudjana. Srikuning mengatakan bahwa ayahnya tidak mengizinkan dia berhubungan asmara dengan Sudjana. Meski demikian Srikuning masih menjalankan tata krama dan belum dapat melepaskan diri dari penguasaan orang tuanya. Sudjana yang mendengar perkataan Srikuning kemudian meneteskan air mata yang berarti tidak jadi berjodoh dengannya. Srikuning yang mengetahui Sudjana menangis kemudian marah karena merasa usaha Sudjana kurang untuk dirinya. Permasalahan Srikuning yang akan dijodohkan dengan Subagja dan Bendara Juru juga mengakibatkan munculnya konflik batin berupa pertentangan batin. Konflik batin pertentangan batin tersebut merupakan inti cerita dari novel. Nanging boten wonten kabingahan ing donja ingkang tanpa sisihan, kados bingahipun tetijang sasusun, punika dipunsisihi ing susahipun Srikuning. Malah daja kasusahanipun Srikuning ingkang naming tijang setunggal, saged njuremaken kasenenenganipun tetijang sesusun, katitik nalika tetijang ingkang sami wonten ing sensang sareng sumerep Srikuning sateng awanda susah, ladjeng tjep tanpa sabawa, kados bela susah sadaja. Kados makaten kaduking panjandra tumrap sateng kawontenanipun Srikuning. (Hardjowirogo, 1953: . Srikuning akan dijodohkan dengan Subagja. Hal tersebut membuat Srikuning sedih hati. Orang tuanya menginginkan Srikuning berjodoh dengan Subagja namun Srikuning tidak mau. Rasa sedih hati yang dialami Srikuning juga mempengaruhi tindakan orang-orang dusun ketika berada di sendang. Orang-orang tersebut hanya diam tanpa mengucap satu kata seolah-oleh ikut merasakan kesedihan Srikuning. Sudjana: AuAsuh Ning, saksat kowe njengkakake patiku. Ay Srikuning: AuJen patimu djalaran saka ngantepi menjang aku, ajake bakal kaleksanan. Ay Saladjengipun Srikuning witjanten kalijan nangis: AuO. Sudjana, prakara anggone bapak ora tjonsong menjang kowe, sanandjan gawe susahku, tak anggep durung sepiraa. Balik saikiA. AkuA. Arep dipunsutA. NdaraA. Djuru. Mesi kelakone. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Berdasarkan kutipan data di atas Srikuning mengeluh kepada Sudjana karena akan dijodohkan dengan Bendara Juru. Srikuning mengatakan hal tersebut sambil menangis. Sejatinya ia tidak mau jika dijodohkan dengan Bendara Juru tetapi masih mentaati perintah orang tuanya. Hal tersebut memunculkan pertentangan batin. Srikuning bingung akan tetap mentaati perintah orang tuanya atau akan memperjuangkan kisah cintanya dengan Sudjana. Tabel 6. Konflik Batin Tokoh Sudjana Konflik batin Marah Tokoh Yang Menyebabkan Konflik Subagja Subagja dan Pak Thiwul Tidak Tega Srikuning Faktor Penyebab Mendengar pembicaraan Subagja yang mengungkit-ungkit tentang Srikuning Pak Thiwul sengaja memancing emosi Sudjana Mengetahui Srikuning pergi ke pasar hanya berdua dengan Mbok Giyem Khawatir dengan Srikuning Konflik batin yang dialami oleh Sudjana yang akan dibahas penulis adalah marah dan tidak Subagja tidak suka terhadap Sudjana karena sama-sama berkeinginan untuk meminang Srikuning. Ditambah Subagja pernah ditolak oleh Srikuning menyebabkan dirinya benci terhadap Sudjana. Subagja tidak ingin Srikuning berjodoh dengan Sudjana. Segala hal dilakukan oleh Subagja untuk merusak hubungan Srikuning dan Sudjana. Subagja kemudian mencampuri urusan Sudjana sehingga menyebabkan Sudjana marah seperti kutipan data dibawah ini. Subagja: AuKowe adja kakehan reka, kowe rak sing ngarepake Srikuning ta tjah bagus?Ay Sudjana mireng tembung Srikuning wau ladjeng tuwuh kanepsonipun, tijang ingkang njepeng wau dipun kipataken ngantos sawah kelumah. Sudjana ladjeng malang kerik kalijan ansosogi sasanipun tuwin witjanten: AuIja iki Sudjana, kang bakal kuwat mengkoni Srikuning. Ajo, kowe arep apay (Hardjowirogo, 1953: . Sudjana dipancing amarahnya oleg Subagja. Subagja mengatakan pada Sudjana bahwa tidak perlu menggantungkan harapan kepada Srikuning. Hal teresebut menyebabkan Sudjana marah dan tidak suka urusannya dengan Srikuning dicampuri orang lain. Sudjana kemudian menampik Subagja hingga jatuh tersungkur. Pak Thiwul: AuWis, wis nak, ditjupeta samene bae, luputku wong loro iki apuranen. Ay Sudjana: AuSing ngapura niku rak awak sampejan sewe, kula mung sadermi ngijani. La niku Raden Mas Baguse Subagja napa nggih pun trima. E, tegese jen dereng trima, engga ngriki kula ladeni, sampejan mang melu ngrangkep sisan!Ay (Hardjowirogo, 1953: . Berdasarkan kutipan data diatas Subagja mengajak Pak Thiwul untuk menghadang Sudjana dan akan menghajarnya. Namun upaya Subagja dan Pak Thiwul sia-sia. Pak Thiwul kemudian meminta memaafkan perbuatannya dan Subagja. Sudjana tidak menerima dan kemudian marah. Ekspresi kemarahan Sudjana ditunjukkan dengan menantang balik untuk berkelahi keduanya. Segala upaya dilakukan Subagja untuk menggagalkan hubungan Srikuning dan Sudjana. Termasuk Ketika Srikuning pergi ke Pasar Watukumpul. Sudjana merasa tidak tega dan waswas seperti kutipan data di bawah ini. Sudjana: AuNa rak tenan. Dalu niki onten lelakon kesusu Pak!Ay Karja: AuGus Djana, wonten punapa?Ay Sudjana: AuKula mireng wartos, dalu niki Subagja adjeng njegat Srikuning. Ay Karja: AuO, inggih. Pantjenipun kula pijambak inggih base sateng peken. Rentjangipun Srikuning sinten?Ay Sudjana: AuMirit wartos, mung dieterake rentjang!Ay Karja: AuNanging rak saweg wartos ta?Ay Sudjana: AuSampejan ampun sembrana lo pak, niki empun keslepek, wau kula teng grija sampejan, boten onten, tjrijose teng Karangdlima, bandjur kula nusul niki. Saniki empun djam telu luwih, wajahe wong teng pasar pasa mangkat. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Sadumugining djawi susun. Sudjana witjanten: AuDos pundi pak, jen boten saged nututi Srikuning? Ketiwasan. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Karja: AuPrakawis ketututanipun tamtu. Nanging sareh rumijin. Ingkang dipunbudjeng punika sinten, punapa Srikuning punapa Subagja!Ay Sudjana: AuNiki mengke rak mung rembugan sing bakal ngensoni laku. Bakune Srikuning. Pangira kula Srikuning mesi bakal nemoni panggawe boten betjik seking pandamele Subagja. Niku Srikuning kula pak. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Sudjana merasa was-was dan tidak tega hatinya karena mendengar kabar Srikuning akan dihadang Subagja. Sudjana dan Karjadimeja segera menyusul Srikuning ke pasar. Hatinya Sudjana khawatir apabila tidak dapat menyusul Srikuning. Sudjana juga tidak sampai hati jika Srikuning sampai kenapa-kenapa akibat ulah Subagja. Cara Tokoh Utama Mengatasi Konflik Batin Tokoh utama di dalam cerita tentu saja memiliki cara untuk mengatasi konflik batin yang sedang dialami. Upaya yang dilakukan tokoh utama ada yang dapat menyelesaikan konflik atau hanya untuk menghadapi saja. Adapun upaya yang dilakukan Srikuning dan Sudjana untuk mengatasi konflik seperti di bawah ini. Tabel 7. Cara Srikuning Mengatasi Konflik Batin Cara Mengatasi Konflik batin Konteks Cerita Konflik Marah Agresi Langsung Difitnah oleh Bendara Juru dan ia tidak merasa keluar dengan Subagja. Mengetahui Sudjana menangis Pertentangan Pengalihan Mengeluh kepada Sudjana Rasionalisasi Mentaati tata krama terhadap orang tua Srikuning mengatasi konflik batin yang dialaminya dengan melakukan agresi langsung. Agresi langsung adalah agresi yang dilakukan langsung terhadap orang atau objek yang menjadi sumber frustasi (Minderop, 2013: . Djuru: AuRungokna ja. Saka kansane Subagja, nalika seweke lagi mlaku karo kowe, bandjur diantem Sudjana saka buri. Ay Srikuning: AuBoten sudi kula lumampah kalijan Subagja. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Kutipan data diatas menunjukkan bahwa Srikuning difitnah oleh Bendara Juru pernah berjalan bersama dengan Subagja di Pasar Watukumpul. Srikuning yang merasa tidak pernah berbuat demikian kemudian menanggapi pertanyaan Bendara Juru dengan agak kasar. Tindakan Srikuning yang demikian menunjukkan agresi langsung karena langsung ditujukan kepada sumber frustasi yakni ucapan Bendara Juru. Sudjana: AuKowe kuwi marahi gembeng aku bae Ning. Ay Srikuning mangsuli semu ngerang-erang: AuO, pantes, wong lanang mata juju. La antepmu ana ngendi!Ay (Hardjowirogo, 1953: . Kutipan data diatas juga menunjukkan Srikuning yang langsung mengatasi kemarahannya dengan agresi langsung. Srikuning mengatakan bahwa Sudjana mata juju yang berarti gampang menangis. Reaksi tersebut ditunjukkan Srikuning langsung kepada Sudjana karena merasa kurang diusahakan hubungan asmaranya dengan Sudjana. Sedangkan konflik batin pertentangan batin dijelaskan secara rinci dengan kutipan data dibawah ini. Sudjana: AuAsuh Ning, saksat kowe njengkakake patiku. Ay AuJen patimu djalaran saka ngantepi menjang aku, ajake bakal kaleksanan. Ay Saladjengipun Srikuning witjanten kalijan nangis: AuO. Sudjana, prakara anggone bapak ora tjonsong menjang kowe, sanadjan gawe susahku, tak anggep durung sepiraa. Balik saikiA. AkuA. Arep dipunsutA. NdaraA. Djuru. Mesi kelakone. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Dari kutipan data diatas dapat diketahui bahwa Srikuning mengeluh kepada Sudjana sambil menangis. Srikuning tidka mau jika harus dijodohkan dengan Bendara Juru sehingga menyebabkan pertentangan batin. Ia bingung harus menuruti perintah orang tuanya atau mempertahankan kisah asmaranya dengan Sudjana. Tindakan Srikuning yang mengeluh terhadap Sudjana menunjukkan mekanisme pemertahanan ego pengalihan. Pengalihan dilakukan karena Srikuning tidak dapat mengeluarkan perasaan frustasinya terhadap Bendara Juru. Srikuning: AuA. Karo meneh saupama aku ora setyaa menjang kowe, apa aku nemah ngemohi pakoning wong tuwa, arep diolehake anake wong sugih. Ay Sudjana: AuAnake sapa?Ay Srikuning: AuIja Subagja mau. Wong tuwaku tansah meksa aku kon nglakoni laki oleh seweke, peh anake wong sugih. Ay (Hardjowiogo, 1953: . Kutipan data di atas menunjukkan bahwa Srikuning dipaksa oleh orang tuanya untuk dijodohkan dengan Subagja. Srikuning tidak mau, namun dirinya tetap menghargai orang Tindakan Srikuning tersebut menunjukkan rasa baktinya terhadap orang tua. Tindakan tersebut merupakan mekanisme pemertahanan ego rasionalisasi. Tabel 8. Cara Srikuning Mengatasi Konflik Batin Cara Mengatasi Konflik batin Konteks Cerita Konflik Marah Regresi Sudjana melepaskan orang yang . memegangnya hingga terjatuh Menantang Subagja dan Pak Thiwul untuk berkelahi kembali Tidak tega Rasionalisasi Menyuruh Karyadimeja untuk mengantarkan Srikuning ke pasar Langsung menyusul Srikuning Banyak upaya yang dilakukan Sudjana dalam mengatasi konflik batin yang sedang Namun dalam penelitian ini hanya regresi . dan rasionalisasi yang akan diulas oleh peneliti secara lebih rinci. Adapun penjelasannya sebagai berikut. Subagja: AuKowe adja kakehan reka, kowe rak sing ngarepake Srikuning ta tjah bagus?Ay Sudjana mireng tembung Srikuning wau ladjeng tuwuh kanepsonipun, tijang ingkang njepeng wau dipun kipataken ngantos sawah kelumah. Sudjana ladjeng malang kerik kalijan ansosogi sasanipun tuwin witjanten: AuIja iki Sudjana, kang bakal kuwat mengkoni Srikuning. Ajo, kowe arep apay (Hardjowirogo, 1953: . Berdasarkan kutipan data di atas Sudjana dipancing emosinya Ketika mendengar ucapan Subagja. Sudjana yang emosi kemudian menghempaskan orang yang memegang pundaknya sampai jatuh tersungkur. Sudjana kemudian berkacak pinggang dan menepuk-nepuk dadanya. Selain itu Sudjana seraya berkata bahwa ia yang akan meminang Srikuning Tindakan Sudjana tersbut menunjukkan regresi . karena kehilangan kontrol dan menyebabkan Pak Thiwul: AuWis, wis nak, ditjupeta samene bae, luputku wong loro iki apuranen. Ay Sudjana: AuSing ngapura niku rak awak sampejan sewe, kula mung sadermi ngijani. La niku Raden Mas Baguse Subagja napa nggih pun trima. E, tegese jen dereng trima, engga ngriki kula ladeni, sampejan mang melu ngrangkep sisan!Ay (Hardjowirogo, 1953: 12 Regresi . juga dilakukan oleh Sudjana ketika emosinya terpancing oleh Pak Thiwul. Sudjana kemudian menantang balik Subagja dan Pak Thiwul untuk berkelahi kembali jika belum puas. Tindakan Sudjana tersebut menunjukkan regresi . seperti halnya orang yang tidak punya sopan santun. Djana: AuNa rak tenan. Dalu niki onten lelakon kesusu Pak!Ay Karja: AuGus Djana, wonten punapa?Ay Djana: AuKula mireng wartos, dalu niki Subagja adjeng njegat Srikuning. Ay Karja: AuO, inggih. Pantjenipun kula pijambak inggih base sateng peken. Rentjangipun Srikuning sinten?Ay Djana: AuMirit wartos, mung dieterake rentjang!Ay Karja: AuNanging rak saweg wartos ta?Ay Djana: AuSampejan ampun sembrana lo pak, niki empun keslepek, wau kula teng grija sampejan, boten onten, tjrijose teng Karangdlima, bandjur kula nusul niki. Saniki empun djam telu luwih, wajahe wong teng pasar pasa mangkat. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Kutipan data diatas menujukkan bahwa Sudjana mendengar kabar bahwa Srikuning akan dihadang Subagja ketika perjalanan ke pasar. Hal tersebut menyebabkan rasa was-was dan Sudjana bersama Karjadimeja kemudian segera menuju Kuwaron, menengok Srikuning jika belum berangkat ke pasar. Tindakan Sudjana menunjukkan rasionalisasi. AuIja ta Ning, kautaman iku wadjib dirungkebi, nanging aku meksa ora tega, pak Karja bae ben ngeterake. Wis mangkata! Empun pak. Srikuning sampejan eterake. Ay (Hardjowirogo, 1953: . Kutipan data diatas menujukkan perkataan Sudjana kepada Srikuning dan Karjadimeja. Akhirnya Sudjana dan Karjadimeja berhasil menemukan Srikuning di jalan. Sudjana tidak sampai hati mengetahui Srikuning pergi ke pasar hanya berdua dengan Mbok Giyem. Sudjana khawatir apabila Srikuning dihadang lagi oleh Subagja. Sudjana kemudian meminta tolong kepada Karjadimeja untuk menemani Srikuning dan Mbok Giyem ke pasar. Tindakan Sudjana tersebut menunjukkan rasionalisasi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perwatakan tokoh utama Srikuning dan Sudjana dalam novel Sri Kuning karangan R. Hardjowirogo, wujud konflik batin, faktor yang menyebabkan konflik batin serta cara tokoh mengatasi konfliknya diperoleh Kesimpulan sebagai berikut: Pertama. Srikuning dan Sudjana mempunyai watak yang didasari oleh tiga struktur kepribadian yaitu id, ego dan super ego. Perwatakan Srikuning yang didasari oleh struktur kepribadian id ditemukan 2 butir data yakni centil dan ucapannya kasar, watak berdasarkan ego sebanyak 24 butir data yakni pandai, bijaksana, peka terhadap suasana dll dan perwatakan yang didasari oleh struktur kepribadian super ego ada 23 butir data yakni sederhana, tidak sombong dll. Perwatakan Srikuning sebagian besar didominasi oleh struktur kepribadian ego. Sedangkan perwatakan Sudjana yang didasari id terdapat 12 butir data yakni percaya diri, cekatan, berani, dll, watak yang didasari ego terdapat 27 butir data yakni menerima, selalu ingat, bijaksana, dll, serta watak yang didasari super ego ada 32 butir data yakni sabar, ikhlas, satria, dll. Perwatakan Sudjana didominasi oleh struktur kepribadian super Kedua, konflik batin yang dialami oleh Srikuning dan Sudjana di dasari oleh struktur kepribadian id, ego dan super ego. Konflik batin yang didasari oleh struktur kepribadian id ditemukan 10 butir data, ego sebanyak 7 butir data, dan super ego ada 5 butir data. Konflik batin yang dialami oleh Srikuning di dominasi oleh struktur kepribadian id dimana ia bertindak berdasarkan prinsip kenikmatan yang berupa insting atau nafsu. Srikuning mengedepankan instingnya untuk menghindari rasa tidak nyaman yakni dipaksa oleh orang tuanya untuk dijodohkan dengan Subagja maupun Bendara Juru, namun Srikuning tidak mau. Hal tersebut kemudian menyebabkan pertentangan batin. Sedangkan konflik batin yang dialami oleh Sudjana secara dominan didasari oleh struktur kepribadian ego yang berjumlah 18 butir data. Sedangkan id terdapat 5 butir data dan super ego 8 butir data. Ego berarti sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu untuk bertindak prinsip kenyataan di dunia nyata. Konlik batin yang dialami oleh Sudjana berupa kenyataan-kenyataan yang harus ia hadapi ketika hubungannya dengan Srikuning menemui banyak rintangan. Seperti Srikuning dijodohkan orang tuanya dengan Subagja dan Bendara Juru, serta menghadapi orang yang mencoba menghalanginya yakni Subagja. Ketiga, faktor penyebab konflik batin yang dialami Srikuning adalah, difitnah oleh Bendara Juru bahwa ia pernah berjalan bersama Subagja, mengetahui Sudjana menangis, serta pertentangan batin mengikuti perintah orang tuanya untuk dijodohkan dengan Subagja dan Bendara Juru walaupun tidak setuju, dll. Sedangkan faktor penyebab konflik batin yang dialami Sudjana adalah mendengar pembicaraan Subagja yang mencampuri urusannya dengan Srikuning, terpancing emosi oleh Pak Thiwul, serta was-was mengetahui Srikuning pergi ke pasar hanya berdua dengan Mbok Giyem, dll. Keempat, cara menyelesaikan konflik batin Srikuning dalam Sudjana adalah sebagai Agresi langsung dilakukan Srikuning dengan cara menanggapi pertanyaan secara langsung kepada sumber frustasi, yakni ketika difitnah oleh Bendara Juru dengan nada bicara agak kasar. Hal demikian juga dilakukan Srikuning ketika melihat Sudjana menangis. Pengalihan dilakukan Srikuning ketika mengalami pertentangan batin dengan cara mengeluh kepada Sudjana. Hal tersebut untuk mengurangi rasa tidak nyaman ketika dipaksa dijodohkan. Rasionalisasi juga dilakukan Srikuning, ia tetap menghormati dan berbakti pada orang tua meskipun perintahnya membuat pertentangan batin dalam dirinya. Sedangkan cara Sudjana menyelesaikan konflik dengan cara regresi . dan rasionalisasi. Regresi dilakukan Sudjana karena kemarahannya memuncak sehingga melakukan tindakan seperti orang yang sopan santunnya kurang. Sedangkan rasionalisasi dilakukan Sudjana ketika mengetahui Srikuing pergi ke pasar dengan Mbok Giyem. Ia bertindak berdasarkan keanyataan untuk mengatasi rasa khawatir terhadap Srikuning yakni dengan cara langsung menyusul ke pasar untuk memastikan Srikuning baik-baik saja. DAFTAR PUSTAKA