Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 DAMPAK PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK TERHADAP GANGGUAN HAID PADA AKSEPTOR KB DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GUALI KECAMATAN KUSAMBI KABUPATEN MUNA BARAT Sarti Widya Purnama1. Ano Luthfa2*. Sulfianti. A Yusuf3 STIKes Pelita Ibu *anyoluthfa@yahoo. Received: 11-03-2024 Revised: 18-05-2024 Approved: 25-05-2024 ABSTRACT The use of injectable contraception, particularly in the Guali Health Center area, has significant implications for menstrual disturbances among acceptors. This study aims to examine the impact of injectable contraception on menstrual disorders among acceptors in the Guali Health Center region. Kusambi District. West Muna Regency. The study was conducted in January 2023, with a sample of 89 respondents using a quantitative approach and a cross-sectional design. Data was analyzed using univariate and logistic regression analysis to determine the relationship between injectable contraception use and menstrual disturbances. The results revealed a significant impact of injectable contraception on menstrual irregularities, with 70. of respondents experiencing menstrual disturbances, including amenorrhea and The study highlights the importance of understanding the side effects of injectable contraception, particularly its long-term use, and suggests that healthcare providers, especially midwives, enhance awareness and education about these potential health impacts. This research contributes valuable insights to improve family planning programs, focusing on informed decision-making regarding contraception Keywords: Injectable contraception. Menstrual disturbances. Family planning PENDAHULUAN Kontrasepsi Kontrasepsi merupakan salah satu program kesehatan yang penting untuk pengendalian angka kelahiran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Indonesia, penggunaan alat kontrasepsi hormonal seperti suntikan, pil, dan implan masih menjadi pilihan utama bagi pasangan suami istri yang ingin menunda atau mengatur jumlah anak. Di antara berbagai metode kontrasepsi, suntikan kontrasepsi menjadi salah satu yang paling banyak digunakan, terutama jenis kontrasepsi suntik 1 bulan dan 3 bulan. Meskipun efektif, penggunaan kontrasepsi suntik tidak lepas dari berbagai efek samping, salah satunya adalah gangguan pada siklus menstruasi (Sahriani. Gangguan menstruasi merupakan salah satu efek samping yang paling sering dilaporkan oleh akseptor kontrasepsi suntik. Beberapa gangguan yang umum terjadi antara lain perubahan frekuensi, durasi, dan jumlah perdarahan menstruasi, bahkan ada yang mengalami amenore . idak menstruasi sama sekal. Gangguan menstruasi ini dapat berdampak pada kualitas hidup wanita, menyebabkan ketidaknyamanan fisik, dan mempengaruhi kesehatan mental. Oleh karena itu, penting untuk memahami lebih lanjut mengenai hubungan antara penggunaan kontrasepsi suntik dengan gangguan menstruasi pada akseptor, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat penggunaan kontrasepsi suntik yang tinggi (Widyawati, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penggunaan kontrasepsi suntik terhadap gangguan haid pada akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Guali. Kecamatan Kusambi. Kabupaten Muna Barat. Puskesmas Guali merupakan salah satu Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kontrasepsi suntik kepada masyarakat, dan berdasarkan data yang ada, penggunaan kontrasepsi suntik di wilayah ini cukup Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat dan tenaga medis mengenai potensi gangguan menstruasi yang disebabkan oleh penggunaan kontrasepsi suntik (Elisabet & Sumarni, 2. Berdasarkan data yang ada, penggunaan kontrasepsi suntik terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2022. Puskesmas Guali mencatatkan angka pengguna kontrasepsi suntik sebanyak 249 orang, yang menunjukkan bahwa metode ini masih menjadi pilihan utama di wilayah tersebut. Namun, meskipun efektif dalam pencegahan kehamilan, efek samping berupa gangguan menstruasi pada beberapa akseptor sering kali tidak dilaporkan secara lengkap, yang dapat mempengaruhi pemahaman masyarakat mengenai penggunaan kontrasepsi ini secara aman (Imelda, 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan program kesehatan reproduksi, khususnya mengenai kontrasepsi suntik. Dengan mengetahui sejauh mana pengaruh kontrasepsi suntik terhadap gangguan menstruasi, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pihak kesehatan untuk memberikan informasi yang lebih baik dan mendalam kepada akseptor KB mengenai efek samping yang mungkin timbul serta cara-cara untuk mengelola efek samping tersebut (Marmi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional, yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan antara penggunaan kontrasepsi suntik dan gangguan haid pada akseptor KB (Notoatmodjo, 2. Desain cross-sectional dipilih karena bersifat praktis dan efisien untuk mengumpulkan data pada populasi yang besar dalam waktu yang relatif singkat (Sugiyono, 2. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling, dimana seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi dijadikan responden dalam penelitian ini (Elisabet & Sumarni, 2. Kriteria inklusi adalah wanita usia subur yang menggunakan kontrasepsi suntik baik suntik 1 bulan atau 3 bulan dan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Variabel yang digunakan yaitu variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen adalah gangguan haid, yang mencakup gangguan menstruasi seperti amenore . idak menstruasi sama sekal. , polimenorea . enstruasi lebih dari satu kali dalam sebula. , dan perdarahan tidak teratur. Sedangkan variabel independen adalah penggunaan kontrasepsi suntik, yang terbagi menjadi dua kategori, yaitu kontrasepsi suntik 1 bulan dan kontrasepsi suntik 3 bulan (Imelda, 2. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, yang berisi pertanyaan mengenai karakteristik responden serta pengalaman mereka terkait penggunaan kontrasepsi suntik dan gangguan haid yang dialami (Marmi, 2. Semua proses analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS, yang memungkinkan pengolahan data secara efektif dan menghasilkan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara statistik (Sugiyono, 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perbaikan program kesehatan reproduksi di masyarakat dan memberikan informasi yang lebih baik kepada para akseptor tentang efek samping yang mungkin terjadi akibat penggunaan kontrasepsi suntik (Sahriani, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Guali pada bulan Januari 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 89 responden yang merupakan akseptor kontrasepsi suntik. Berdasarkan data yang dikumpulkan, distribusi karakteristik Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 responden menunjukkan bahwa mayoritas responden berada dalam kelompok usia 20Ae35 tahun, dengan tingkat pendidikan mayoritas adalah SMP, dan sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga. Berikut adalah hasil analisis data berdasarkan karakteristik responden dan variabel penelitian. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Tabel 1 menunjukkan distribusi responden berdasarkan kelompok umur. Mayoritas responden berusia antara 20Ae35 tahun, yaitu sebanyak 59 orang . ,3%), diikuti oleh responden yang berusia kurang dari 20 tahun sebanyak 18 orang . ,2%), dan lebih dari 35 tahun sebanyak 12 orang . ,5%). Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan kelompok umur Umur Ibu Jumlah (F) Persentase (%) < 20 Tahun 20-35 Tahun > 35 Tahun Jumlah Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel 2 menggambarkan distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan. Sebagian besar responden memiliki pendidikan SMP sebanyak 32 orang . %), diikuti oleh pendidikan SD sebanyak 26 orang . ,2%), dan SMA/SMK sebanyak 22 orang . ,7%). Tebel 2. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan Pendidikan Ibu Jumlah (F) Persentase (%) SMP SMA/SMK Jumlah Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Tabel 3 menunjukkan distribusi pekerjaan responden, di mana mayoritas responden adalah ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 47 orang . ,8%), diikuti oleh wiraswasta sebanyak 26 orang . ,2%), dan PNS/swasta sebanyak 16 orang . %). Tabel 3. Distribusi pekerjaan responden, di mana mayoritas responden adalah ibu rumah tangga (IRT) Pekerjaan Ibu Jumlah (F) Persentase (%) IRT Wiraswasta PNS/Swasta Jumlah Penggunaan Kontrasepsi Suntik Tabel 4 memperlihatkan distribusi penggunaan kontrasepsi suntik pada Mayoritas responden menggunakan kontrasepsi suntik 1 bulan sebanyak 64 orang . ,9%), sementara sisanya, yaitu 25 orang . ,1%), menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Tabel 4. Distribusi penggunaan kontrasepsi suntik pada responden Penggunaan Kontrasepsi Jumlah Persentase Suntik (F) (%) Suntik 1 bulan Suntik 3 bulan Jumlah Gangguan Haid pada Responden Tabel 5 menunjukkan bahwa 70,8% responden mengalami gangguan haid sebagai akibat penggunaan kontrasepsi suntik, sementara 29,2% tidak mengalami gangguan tersebut. Tabel 5. Hasil analisi Gangguan Haid pada Responden Gangguan Haid Jumlah (F) Persentase (%) Tidak Jumlah Analisis Regresi Logistik Tabel 6 menyajikan hasil analisis regresi logistik untuk mengetahui dampak penggunaan kontrasepsi suntik terhadap gangguan haid. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p-value untuk variabel gangguan haid adalah 0,000 (< 0,. , yang berarti ada hubungan yang signifikan antara penggunaan kontrasepsi suntik dengan gangguan Tabel 6. Analsisi regresi logistik Variabel Wald Sig. Exp(B) 95% C. for Exp(B) Gangguan Haid 3,250 0,616 27,815 1 0,000 25,786 7,707 - 86,275 Constant 5,501 0,966 32,459 1 0,000 0,004 Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh signifikan penggunaan kontrasepsi suntik terhadap gangguan haid pada akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Guali. Data ini memberikan gambaran yang jelas mengenai dampak penggunaan kontrasepsi suntik terhadap gangguan menstruasi di masyarakat. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yang menggunakan kontrasepsi suntik mengalami gangguan haid, dengan persentase sebesar 70,8%. Gangguan menstruasi yang paling sering terjadi adalah amenore . idak menstruasi sama sekal. , perubahan durasi menstruasi, dan perdarahan yang tidak teratur. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sahriani . yang juga menemukan bahwa penggunaan kontrasepsi suntik dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi, seperti amenore dan polimenore. Hal ini dapat disebabkan oleh pengaruh hormon progesteron yang terkandung dalam kontrasepsi suntik, yang menghambat proses ovulasi dan menyebabkan perubahan pada lapisan endometrium (Sahriani, 2. Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden menggunakan kontrasepsi suntik 1 bulan . ,9%), sedangkan sisanya menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan . ,1%). Penggunaan kontrasepsi suntik 1 bulan cenderung memberikan efek yang lebih cepat terlihat pada siklus menstruasi, sedangkan kontrasepsi suntik 3 bulan, meskipun lebih praktis dan efektif dalam jangka panjang, cenderung menyebabkan gangguan menstruasi yang lebih sering terjadi. Penelitian oleh Widyawati . juga menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi suntik jangka Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 panjang, seperti suntik 3 bulan, dapat berhubungan dengan gangguan siklus menstruasi yang lebih kompleks dan intens. Hal ini menunjukkan bahwa durasi penggunaan kontrasepsi suntik dapat memengaruhi tingkat gangguan yang dialami oleh pengguna (Widyawati, 2. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi suntik memiliki dampak yang signifikan terhadap gangguan haid dengan nilai p-value sebesar 0,000 . < 0,. Hasil ini memperkuat hipotesis bahwa ada hubungan antara penggunaan kontrasepsi suntik dan gangguan menstruasi. Pengguna kontrasepsi suntik mengalami risiko gangguan haid sebanyak 25 kali lipat dibandingkan dengan yang tidak mengalami gangguan haid. Temuan ini selaras dengan hasil penelitian oleh Elisabet & Sumarni . , yang juga menemukan bahwa penggunaan kontrasepsi suntik dapat meningkatkan risiko gangguan menstruasi, terutama apabila digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa gangguan menstruasi adalah efek samping yang tidak dapat diabaikan oleh para pengguna kontrasepsi suntik, dan perlu ada perhatian lebih dalam penanganannya (Elisabet & Sumarni, 2. Temuan ini penting untuk meningkatkan pemahaman tentang efek samping penggunaan kontrasepsi suntik, khususnya di kalangan akseptor KB aktif. Pemberian informasi yang lebih baik dan edukasi kesehatan tentang potensi gangguan haid dan cara mengelola efek samping ini sangat diperlukan. Imelda . menekankan pentingnya edukasi mengenai kontrasepsi hormonal, termasuk suntik, agar akseptor dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi mengenai pilihan kontrasepsi yang Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam perbaikan program kesehatan reproduksi dan membantu akseptor kontrasepsi suntik dalam membuat keputusan yang lebih bijak dan terinformasi mengenai pilihan kontrasepsi yang digunakan (Imelda, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Guali. Kecamatan Kusambi. Kabupaten Muna Barat, dapat disimpulkan bahwa penggunaan kontrasepsi suntik memiliki dampak signifikan terhadap gangguan haid pada akseptor KB. Sebagian besar responden yang menggunakan kontrasepsi suntik melaporkan mengalami gangguan menstruasi, seperti amenore, perdarahan tidak teratur, dan perubahan durasi menstruasi. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi suntik meningkatkan risiko gangguan haid sebanyak 25 kali lipat dibandingkan dengan yang tidak mengalami gangguan haid. Penggunaan kontrasepsi suntik 1 bulan dan 3 bulan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap gangguan menstruasi, dengan pengguna kontrasepsi suntik 1 bulan lebih sering melaporkan gangguan pada siklus menstruasi mereka. Oleh karena itu, penting bagi petugas kesehatan untuk memberikan informasi yang jelas mengenai efek samping penggunaan kontrasepsi suntik, terutama terkait dengan gangguan menstruasi, sehingga akseptor dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi dan dapat mengelola efek samping tersebut dengan baik. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penyuluhan dan edukasi kesehatan mengenai kontrasepsi suntik perlu ditingkatkan, agar masyarakat lebih memahami potensi efek sampingnya dan dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi kesehatan mereka. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi dan program keluarga berencana di masyarakat. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 REFERENCE