Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) HUBUNGAN SELF-CARE DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS RAWAT INAP SRAGI TAHUN 2024 Ita Meisita1. Sandra Andini2. Hernida Warni3 Program Studi Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Mitra Indonesia Itameisita. student@umitra. ABSTRAK Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang timbul ketika insulin tidak diproduksi dengan baik oleh pankreas atau ketika tubuh tidak dapat menyerap insulin secara efektif. Self-care adalah suatu bentuk perawatan diri yang bertujuan untuk memantau kadar glukosa darah secara optimal dan mencegah terjadinya komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan self-care dengan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus di wilayah kerja UPTD puskesmas rawat inap sragi Tahun 2024. Jenis penelitian kuantitatif menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian seluruh penderita diabetes melitus bulan januari-april 113 orang, teknik sampling mengguankan purposive sampling dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Penentuan ssample menggunakan rumus Yamane didapatkan 88 sampel. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner SDSCA dan DQOL. Penelitian ini dilaksanakan pada 08 juli sampai 20 juli Analisa data menggunakan distrubsi frekuensi dan uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan mayoritas memiliki self-care cukup baik sejumlah 38 responden . ,2%), mayoritas memiliki kualitas hidup cukup baik 39 responden . ,3%). Dari 38 responden . ,2%) self-care cukup baik memiliki kualitas hidup cukup baik 31 . ,2%) responden dan 7 responden . ,0%) kualitas hidup baik. Terdapat hubungan self-care dengan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Lampung Selatan Tahun 2024 dengan p-value 0,000. Diharapkan penderita diabetes melitus untuk meningkatkan self-care dengan baik untuk mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup. Kata kunci : Diabetes Melitus. Self-Care. Kualitas Hidup ABSTRACT Diabetes Mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas fails to produce sufficient insulin or when the body is unable to effectively absorb insulin. Self-care refers to the practice of looking after one's own health with the aim of optimally monitoring blood glucose levels, preventing complications, and improving the quality of life. This research aims to identify the correlation between self-care and quality of life among diabetes mellitus patients in the working territory of Technical Implementation Unit (UPTD) of Community Health Center for Inpatient Care of Sragi in 2024. This quantitative research utilizes observational analytic method with a cross-sectional approach. The research population includes 113 patients with diabetes mellitus observed from January to April. The sampling was conducted using purposive sampling technique based on inclusion and exclusion criteria. The sample size was calculated using the Yamane formula which resulted in 88 respondents. The Summary of Diabetes Self-care Activities (SDSCA) and Diabetes Quality of Life (DQoL) questionnaires were used as the research instruments. The research was conducted from 08 July 2024 to 20 July 2024 and the data were analyzed using frequency distributions and chi-square tests. The results of the research revealed that the majority of respondents with a total of 38 respondents . 2%) had a moderate self-care and 39 respondents also had a moderate quality of life. Among the 38 respondents . 2%) who had a moderate self-care, 31 respondents . had a moderate quality of life and 7 respondents . 0%) had a good quality of life. There is a significant correlation between self-care and quality of life identified among patients with diabetes mellitus in the working territory of Technical Implementation Unit (UPTD) of Community Health Center for Inpatient care of Sragi. South Lampung in 2024 with a p-value of 0. Patients with diabetes mellitus are encouraged to enhance their self-care practices to prevent complications and improve their quality of life. Keywords: Diabetes Mellitus. Self-Care. Quality Of Life Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) PENDAHULUAN Penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes melitus (DM) adalah alasan utama kematian secara global, terhitung 74% dari semua kematian global, yaitu sekitar 41 juta orang per tahun (World Health Organization, 2. Dari semua penyakit tidak menular (PTM) ini, diabetes melitus (DM) menonjol karena tingkat kematiannya yang sangat tinggi. Tahun 2021 memiliki jumlah kematian global sebesar 6,7 juta karena DM, dengan wilayah Pasifik Barat melaporkan tingkat kematian terbesar, diikuti oleh Eropa dan Asia Tenggara (International Diabetes Feredation, 2. Di Indonesia. DM (Diabetes Melitu. menjadi salah satu penyakit yang bisa mematikan, dengan jumlah kematian yang dilaporkan sebesar 236. 711 pada tahun yang Diabetes mellitus, juga disebut sebagai DM, mengalami prevalensi yang meningkat secara global dan di negara-negara tertentu. Dilaporkan oleh International Diabetes Federation . bahwa pada tanun 2021 prevalensi global DM mempengaruhi 537 juta orang dewasa, dan diproyeksikan naik menjadi 783 juta pada tahun Telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam kejadian diabetes melitus (DM) di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018, prevalensi diabetes melitus (DM) secara keseluruhan adalah 1,5%. Jawa Barat. Jawa Timur, dan Jawa Tengah memiliki prevalensi individu yang terkena DM tertinggi (Balitbangkes RI, 2. Data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi DM terus meningkat, terutama di provinsi Lampung, yang menunjukkan peningkatan jumlah penderita DM berdasarkan diagnosis dokter (Kemenkes, 2. Manajemen Diabetes Mellitus yang tidak tepat dapat mengakibatkan konsekuensi yang parah, termasuk masalah makrovaskular dan mikrovaskular, serta neuropati yang mengancam jiwa bagi individu yang terkena. Komplikasi yang terkait dengan DM bisa berdampak pada menurunnya angka harapan hidup, naiknya beban keuangan, dan kualitas hidup mengalami penurunan secara keseluruhan bagi individu yang terkena dampak. Kualitas hidup mencakup berbagai dimensi seperti kesejahteraan fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan, dan secara Vol. 10 No. 1 Juni 2025 signifikan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan pengelolaan penyakit. Studi menunjukkan bahwa kesejahteraan individu dengan DM secara signifikan dipengaruhi oleh variabel seperti usia, tingkat pendidikan, bantuan keluarga, dan khususnya, kemampuan untuk mengelola self-care secara efektif (Irawan et al. , 2. Konsep self-care, yang dibuat oleh Dorothea Orem, menyoroti pentingnya tanggung jawab pasien dalam menjaga kesehatan mereka sendiri secara mandiri. Individu dengan DM harus terlibat dalam praktik self-care seperti mematuhi diet yang diatur, mempertahankan kadar gula darah yang optimal, mengikuti terapi resep yang ditentukan, melakukan latihan fisik, dan merawat kaki mereka (Nursalam, 2016. Rima Berti Anggraini, 2. Studi sebelumnya telah menunjukkan korelasi yang positif antara self-care yang efektif dan peningkatan kualitas hidup pada penderita diabetes Namun demikian, temuan penelitian ini belum meyakinkan, karena beberapa studi menetapkan tidak ada korelasi signifikan antara self-care dan kualitas hidup (Muzdalifah et al. Siregar et al. , 2. Melihat tingginya prevalensi DM yang terus meningkat setiap tahun, serta variasi dalam pengelolaan self-care di kalangan penderita DM, penelitian lebih lanjut diperlukan. Hasil pra-survei di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi menunjukkan bahwa sebagian besar penderita DM masih memiliki pengelolaan self-care yang kurang optimal, yang berdampak pada penurunan kualitas hidup mereka. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mendalam mengenai hubungan antara self-care dan kualitas hidup penderita DM di wilayah ini. METODE PENELITIAN Penggunaan metode penelitian kuantitatif dilakukan pada studi ini dengan menggunakan analisis observasional dan pendekatan crosectional. Strategi ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara variabel risiko dan efeknya dengan mengumpulkan data melalui pengamatan pada satu momen waktu (Notoatmodjo, 2. Penelitian dilakukan antara 8 Juli 2024 hingga 20 Juli 2024 di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap UPTD Sragi yang berlokasi di Kabupaten Lampung Selatan dengan sampel yang diteliti pasien diabetes mellitus antara Januari dan April. Responden penelitian ini tinggal di wilayah kerja puskesmas rawat inap Sragi. Ukuran sampel untuk penelitian ini, yang terdiri dari Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) 88 orang dengan diabetes melitus, ditentukan menggunakan rumus Yamane (Sugiyono, 2. Metode non-probability sampling yang dikenal sebagai purposive sampling digunakan pada studi ini, yang melibatkan pemilihan sampel menurut kriteria atau pertimbangan hal tertentu (Sugiyono. Instrumen penelitian Self-care: Dalam pengukuran Self-care penderita diabetes melitus SDSCA dimodifikasi oleh Toobert et al. , . Studi ini memanfaatkan kuisioner dari peneliti sebelumnya oleh Nurjannah, . Instrumen Penelitian Kualitas Hidup Kuesioner Diabetes Quality of Life (DQOL) digunakan sebagai instrumen untuk menilai kualitas hidup individu dengan diabetes ) Studi ini memanfaatkan kuisioner dari peneliti sebelumnya. Pada tahun 2016. Kuesioner ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Chusmeywati et al. HASIL Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan jenis kelamin pada Penderita Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Tahun 2024 Jenis Kelamin Responden Perempuan Laki-laki Total Frekuensi Tabel 2 Karakteristik Responden Berdasarkan usia pada Penderita Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Tahun 2024 Frekuensi 46-55 Tahun 56-65 Tahun > 65 Tahun Total Frekuensi Presentase (%) 12,5 % 18,2 % 58,0 % 11,4 % 100,0 % SMP SMA Perguruan Tinggi Total Tabel 3 di atas menggambarkan distribusi frekuensi responden menurut pendiidkan, mayoritas SMA 51 responden . ,0%) dan paling sedikit tidak sekolah 0 responden . %). Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan pekerjaan pada Penderita Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Tahun 2024 Pekerjaan Responden Frekuensi Tidak Berkerja Ibu Rumah Tangga (IRT) Wiraswasta Petani PNS Total Presentase (%) 22,7 % 47,7 % 5,7 % 19,3 % 4,5 % 100,0 % Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan lama menderita DM pada Penderita Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Tahun 2024 Lama Menderita DM Responden <1 Tahun 1-5 Tahun >5 Tahun Total Frekuensi Presentase (%) 12,5 % 54,5 % 33,0 % 100,0 % Presentase (%) 18,2 % Tabel 5 menampilkan karakteristik responden 30,7 % menurut lama waktu mengalami DM. Mayoritas 43,2 % responden . melaporkan DM 1-5 tahun yang lalu, sedangkan jumlah responden paling sedikit . , 12%) 8,0 % 100,0 % melaporkan DM <1 tahun yang lalu. Tabel 2 di atas menggambarkan distribusi frekuensi responden menurut usia, mayoritas berusia 56-65 tahun 38 responden . ,2%) dan paling sedikit > 65 tahun 7 responden . ,0%). Tabel 3 Karakteristik Responden Berdasarkan pendidikan pada Penderita Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Pendidikan Responden Tidak Sekolah Presentase (%) Tabel 4 di atas menggambarkan distribusi frekuensi 84,1% responden menurut pekerjaan, mayoritas pekerjaan 15,9% responden IRT dengan 42 responden . ,7%) dan 100% paling sedikit PNS 4 responden . ,5%). Tabel 1 di atas menggambarkan distribusi frekuensi responden menurut jenis kelamin, mayoritas berjenis kelamin perempuan 74 responden . ,1%) dan paling sedikit laki-laki 14 responden . ,9%). Usia Responden Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Tahun 2024 Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan indeks massa tubuh pada Penderita Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Tahun 2024 IMT Responden Frekuensi Presentase (%) Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Kurus Normal Berat badan berlebih Obesitas Total 2,3 % 45,5 % 25,0 % 27,3 % 100,0 % Tabel 7 menampilkan dari 88 responden mayoritas sejumlah 38 responden . ,2%) memiliki self-care cukup baik, self-care baik 29 responden . ,0%) dan paling sedikit self-care buruk 21 responden . ,9%). Tabel 6 di atas menggambarkan karakteristik responden menurut indeks massa tubuh (IMT) dan mayoritas responden memilki Indeks massa tubuh normal 40 responden . ,5%) dan paling sedikit kurus 2 responden . ,3%). Tabel 8 Distribusi Kualitas Hidup pada Penderita Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Tahun 2024 Kualitas Hidup Responden Buruk Cukup Baik Baik Total Tabel 7 Distribusi self-care pada Penderita Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Tahun 2024 Self-care Responden Buruk Cukup Baik Baik Total Frekuensi Presentase (%) 23,9% 43,2% 33,0% 100,0% Frekuensi Presentase (%) 23,9% 44,3% 31,8% Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa dari 88 responden mayoritas sejumlah 39 responden . ,3%) mempunyai kualitas hidup cukup baik, 28 responden . ,8%) mempunyai kualitas hidup baik dan paling rendah kualitas hidup buruk 21 responden . ,9%). Tabel 9 Hubungan Self-care dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Diabetes Melitus Di UPTD Puskesmas Sragi Lampung Selatan Tahun 2024 Self-care Buruk Cukup Baik Total Kualitas Hidup Buruk Cukup Baik 23,9 0 Baik Hasil analisis pada tabel 6 dapat diketahui dari 38 responden . ,2%) self-care cukup baik terdapat 31 . ,2%) responden yang mempunyai kualitas hidup cukup baik dan 7 responden . ,0%) dengan kualitas hidup baik. Dari 29 responden . ,0%) yang menerapkan self-care baik mempunyai kualitas hidup baik sebanyak 21 responden . ,9%) dan 8 responden . ,1%) dengan kualitas hidup cukup baik serta 21 responden . ,9%) dengan self-care buruk mempunyai kualitas hidup yang buruk 21 responden . ,9%). Hasil Analisa bivariat dengan uji Chi-Square diperoleh p-value 0,000 < 0,05, sehingga kesimpulan yang dapat dibuat adalah adanya hubungan signifikan antara self-care dengan kualitas hidup pada pasien DM di UPTD Puskesmas Rawat Inap Sragi Lampung Selatan Tahun 2024. PEMBAHASAN Temuan studi ini menunjukkan bahwa responden dengan jumlah tertinggi adalah perempuan . ,1%) dibandingkan laki-laki Vol. 10 No. 1 Juni 2025 P-Value Total 0,000 ,9%), yang kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor fisiologis dan hormonal. Perubahan hormon, seperti penurunan estrogen saat menopause, dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes melitus (Tramunt et al. , 2. Perempuan juga mempunyai risiko lebih tinggi terkena diabetes karena faktor seperti IMT yang lebih besar dan riwayat diabetes melitus gestasional (Delaney. Selain itu, perempuan cenderung lebih sering mencari perawatan medis, sehingga kasus diabetes lebih banyak terdeteksi pada mereka. Responden terbanyak pada studi ini berada pada rentang usia 56-65 tahun . ,2%). Menurut DEPKES RI . , usia lebih dari 50 tahun merupakan awal lansia, di mana terjadi kemunduran fungsi fisik dan psikologis, yang dikenal sebagai proses degeneratif. Penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, sering terjadi pada usia tua karena menurunnya fungsi organ, terutama organ pankreas yang memproduksi Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Proses penuaan menyebabkan penurunan Berdasarkan temuan para peneliti, meskipun sebagian sensitivitas insulin, yang meningkatkan risiko besar peserta telah berurusan dengan DM selama 1-5 diabetes melitus (Fatihaturahmi et al. , 2023. tahun dan memiliki pemahaman yang relatif kuat PERKENI, 2. Sejalan dengan penelitian tentang self-care, kemungkinan mengalami masalah sebelumnya, mayoritas penderita diabetes berada masih meningkat seiring berjalannya waktu jika gaya pada usia > 40 tahun, karena resistensi insulin hidup dan praktik self-care mereka tidak ideal. yang meningkat seiring dengan penurunan fungsi Menurut Suryanti et al. , sebagian besar peserta metabolisme tubuh (Harahap et al. , 2020a. penelitian memiliki keadaan gizi normal, khususnya Suryanti et al. , 2. Usia muda kini juga rentan 40 responden . ,5%). Namun demikian, sebanyak terkena diabetes melitus, terutama karena 24 peserta . ,3%) diklasifikasikan sebagai obesitas, pkurangnya aktivitas fisik serta pola hidup yang sedangkan 22 peserta . ,0%) dikategorikan sebagai kurang sehat. yang memiliki berat badan berlebihan. Salah satu Pada studi ini, karakteristik responden menurut faktor risiko penting untuk DM adalah obesitas, pendidikan yang menjadi mayoritas adalah karena kelebihan kalori menyebabkan kelelahan sel responden yang pendidikan terakhirnya adalah beta pankreas dan penurunan produksi insulin yang SMA . ,0%). Hal ini selaras dengan beberapa cukup (Harahap et al. , 2. Sebuah penelitian yang studi lain yang juga menunjukkan mayoritas dilakukan oleh N. Ritonga & Annum, . responden dengan pendidikan SMA, seperti yang menunjukkan bahwa obesitas secara signifikan ditemukan oleh Putri et al. dan Basir et al. memperkuat kemungkinan berisiko diabetes mellitus . Penelitian membuktikan bahwa seseorang tipe 2, dengan risiko hingga 7 kali lebih tinggi akan semakin mudah menerima informasi tentang dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami kesehatan, termasuk pencegahan dan pengelolaan diabetes jika memiliki Pendidikan yang tinggi (Lengga et al. , 2023. Riniasih & Hapsari, 2. Peneliti berasumsi bahwa meskipun mayoritas Namun, penelitian lain oleh Agustina et al. , . responden memiliki IMT normal, faktor lain seperti menunjukkan bahwa mayoritas responden pola makan buruk, usia, dan jenis kelamin juga dapat berpendidikan SD, yang berbanding terbalik dengan menyebabkan DM pada responden yang tidak temuan ini. Pendidikan yang rendah cenderung obesitas. membatasi akses dan pemahaman terhadap Penelitian ini mengamati bahwa dari 88 responden, informasi kesehatan, yang dapat meningkatkan 43,2% menunjukkan self-care yang cukup baik, risiko diabetes. Faktor-faktor seperti pekerjaan yang meskipun sibuk dan gaya hidup yang tidak sehat sering kali perbaikan. Menurut Derang et al. , 75,5% berkontribusi pada tingginya angka kejadian responden memiliki self-care yang memadai, yang diabetes pada mereka yang berpendidikan SMA penting untuk meningkatkan mekanisme koping dan (Riniasih & Hapsari, 2. hasil kesehatan. Demikian pula. Solikin & Heriyadi. Penelitian menunjukkan bahwa proporsi yang . menemukan bahwa manajemen diri signifikan dari peserta mengalami diabetes melitus dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, dengan 48% (DM) selama durasi 1-5 tahun. Secara khusus, 48 peserta memiliki self-care yang cukup. Tingkat responden, atau 54,5% dari total, melaporkan pendidikan secara signifikan mempengaruhi menderita DM (WHO, 2. Seiring berjalannya manajemen diabetes, di mana pendidikan tinggi waktu, ada pemahaman yang berkembang tentang berkorelasi dengan pengetahuan yang baik dan, self-care, yang diperoleh melalui pengalaman luas akibatnya, manajemen penyakit yang lebih baik (Andi di bidang medis dan perawatan (Nurjannah, 2. Yuni Mulyani. Arman, 2. Teori self-care dari Hartono & Ediyono, . melakukan penelitian Orem menekankan tanggung jawab individu terhadap yang menunjukkan korelasi penting antara durasi kesehatan, yang sangat penting untuk mengelola DM dan pemahaman komprehensif tentang lima penyakit kronis (Nursalam, 2. Self-care pada pilar manajemen DM. Hal ini disebabkan oleh fakta diabetes meliputi pengelolaan diet, olahraga fisik, bahwa individu yang sudah mengalami DM untuk pemantauan gula darah, kepatuhan pada pengobatan, jangka waktu yang lama biasanya mempunyai dan perawatan kaki (Ahmad & Joshi, 2. Dalam keahlian yang lebih besar dalam mengelola kondisi penelitian ini, 43,2% responden memiliki self-care Namun demikian, durasi mengalami DM yang cukup baik, terutama dalam pengelolaan diet juga memperkuat kemungkinan masalah jika dan kepatuhan pada pengobatan, tetapi kurang dalam tindakan self-care yang memadai tidak diterapkan aktivitas fisik dan perawatan kaki. Ini sejalan dengan temuan Derang Imelda dan Sigalingging Vina . (S. Ritonga, 2022. Suryanti et al. , 2. serta Putra et al. , yang mencatat kekurangan Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) perawatan yang relatif tinggi. Hal ini patut diperhatikan kaki,pemantauan gula darah di antara pasien mengingat usia tua biasanya dihubungkan dengan kualitas hidup yang menurun. Gender juga bisa memengaruhi kualitas hidup, biasanya perempuan Sebanyak 33,0% responden menunjukkan self-care mempunyai kualitas hidup lebih rendah jika yang baik, dengan kepatuhan terhadap semua dibandingkan dengan laki-laki. Namun, studi ini komponen manajemen diabetes. Sebaliknya, 23,9% menemukan bahwa wanita sebenarnya mempunyai menunjukkan self-care yang buruk, mengabaikan kualitas hidup yang unggul, yang dapat dikaitkan aspek seperti diet, aktivitas fisik, dan pemantauan dengan kepatuhan mereka yang lebih tinggi terhadap gula darah. Menurut Fadli dan Uly . , self-care rekomendasi medis dan keterlibatan aktif dalam bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti Pendidikan pendidikan, usia, dan durasi diabetes. Pendidikan berkorelasi dengan peningkatan kualitas hidup, yang lebih tinggi dan durasi penyakit yang lebih karena memberikan individu dengan pengetahuan lama terkait dengan praktik self-care yang lebih yang ditingkatkan yang memfasilitasi self-care yang baik (Hartono & Ediyono, 2. lebih efisien. Individu yang baru didiagnosis Secara umum, penelitian ini mengungkapkan menderita diabetes dalam 1-5 tahun terakhir bahwa mayoritas peserta menunjukkan praktik self- umumnya mengalami standar hidup yang tinggi, care yang memuaskan. Namun, ada hal tertentu, difasilitasi oleh penyesuaian dini yang berhasil seperti pemantauan gula darah dan perawatan kaki, dengan kondisi dan bantuan dari keluarga mereka. yang perlu ditingkatkan untuk mengurangi Analisis statistik menggunakan tes Chi-Square konsekuensi potensial. Usia, jenis kelamin, mengungkapkan korelasi penting antara self-care dan pendidikan, dan durasi penyakit merupakan faktor kualitas hidup pada individu yang didiagnosis penting yang mempengaruhi efektivitas self-care menderita diabetes melitus di Pusat Kesehatan Rawat Inap Sragi Lampung Selatan pada tahun 2024. PPenelitian ini menunjukkan bahwa dari 88 value yang diperoleh 0,000 (<0,. menunjukkan responden, mayoritas . ,3%) mempunyai kualitas signifikansi statistik. Hal tersebut membuktikan hidup cukup baik, 31,8% mempunyai kualitas hidup bahwa self-care yang semakin bagus diterapkan oleh baik, dan 23,9% mempunyai kualitas hidup buruk. individu yang sedang sakit atau mengalami kesulitan. Menurut Derang et al. , 58,5% penderita semakin besar tingkat kepuasan hidup yang akan diabetes memiliki kualitas hidup sedang, mereka capai. Self-care yang komprehensif dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti gangguan mencakup berbagai elemen, termasuk pilihan diet, aktivitas sehari-hari dan pola tidur. Solikin dan latihan fisik, memantau kadar gula darah, mematuhi Heriyadi . juga menemukan bahwa 57,1% obat yang diresepkan, dan merawat kaki seseorang. penderita diabetes mempunyai kualitas hidup cukup, dan respons individu terhadap penyakit Tujuan utama dari praktik ini adalah untuk berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien DM. tambahan (Malini et al. , 2022. Siregar et al. , 2. Studi ini mengungkapkan bahwa mayoritas responden menikmati kualitas hidup yang relatif Dalam penelitian ini, 35,2% peserta menunjukkan tinggi, terutama disebabkan oleh pemahaman praktik self-care yang terpuji, menghasilkan standar mereka yang luas tentang diabetes, yang hidup yang tinggi. Sementara manajemen nutrisi dan memfasilitasi manajemen diri. Sebanyak 31,8% pengobatan diterapkan secara efektif, pemantauan peserta melaporkan memiliki kualitas hidup yang kadar gula darah dan aktivitas fisik tetap jarang, dan tinggi, yang terkait dengan kepuasan mereka sejumlah besar individu tidak memiliki pengetahuan dengan kesejahteraan fisik dan kemampuan mereka tentang perawatan kaki dasar. Sebuah studi yang untuk menjaga diri mereka sendiri. Sebaliknya, dilakukan oleh Derang et al. , menguatkan 23,9% peserta mengalami kualitas hidup di bawah hasil ini, menunjukkan bahwa praktik self-care yang standar, yang dipengaruhi oleh variabel seperti jenis tidak memadai, seperti pemantauan gula darah yang kelamin, pendidikan, usia, dan self-care yang tidak tidak teratur, aktivitas fisik yang tidak memadai, dan Studi oleh (Luther et al. , 2023. Siregar et mengabaikan perawatan kaki, berkontribusi pada , 2. menunjukkan korelasi yang kuat antara penurunan kualitas hidup. kualitas hidup di bawah standar dan kelemahan fisik Selain itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa dan kurangnya optimisme terhadap pemulihan. 23,9% peserta menunjukkan praktik self-care yang Studi ini menemukan bahwa proporsi yang terpuji, menghasilkan kualitas hidup yang tinggi. signifikan dari peserta, khususnya mereka yang Individu yang memiliki praktik self-care yang efektif berusia 56-65 tahun, melaporkan kualitas hidup Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) cenderung menunjukkan kesadaran yang tinggi, otonomi, dan kecenderungan yang kuat terhadap manajemen self-care. Hal ini, pada gilirannya, memungkinkan mereka untuk mengelola penyakit secara efektif dan menjunjung tinggi standar hidup yang unggul (Salahudin & Amelia, 2. Namun, tambahan 23,9% peserta menunjukkan self-care yang tidak memadai dan mengalami kualitas hidup yang rendah. Hal ini dapat dikaitkan dengan kegagalan mereka untuk mematuhi pedoman diet, kurangnya olahraga teratur, pemantauan kadar gula darah yang tidak konsisten, dan dukungan dan pemahaman yang tidak memadai dari keluarga mereka tentang manajemen penyakit yang efektif. Pendidikan tinggi berkorelasi dengan peningkatan pengetahuan self-care dan kualitas hidup yang lebih tinggi (Derang et al. Studi ini mengidentifikasi korelasi substansial antara self-care dan kualitas hidup pada individu yang didiagnosis dengan diabetes mellitus di area yang ditentukan. Analisis statistik menghasilkan p-value 0,000, menunjukkan temuan yang sangat signifikan. Temuan ini memvalidasi korelasi antara peningkatan selfcare dan peningkatan kualitas hidup di antara individu dengan diabetes mellitus di wilayah Saran bagi responden penelitian Diharapkan pada penderita diabetes melitus agar self-care perawatan mandiri seperti pengaturan pola makan, aktivitas fisik, mengontrol glukosa darah, meminum obat, dan perawatan kaki secara mandiri sehingga gula darah dapat terkontrol dengan baik agar dapat mencegah terjadinya komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup. Studi sebelumnya juga telah menunjukkan korelasi substansial antara self-care dan kualitas hidup pada individu yang didiagnosis dengan diabetes mellitus. Self-care yang efektif sangat penting untuk 6. REFERENSI