Jurnal Pendidikan Modern. Volume 09 Nomor 01 Tahun 2023, 30-36 Analisis Tingkat Pengetahuan Anak Usia Dini Tentang Pengelolaan Sampah di TK Bangkalan Dwi Cahyanti Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Trunojoyo Madura dwicahyanti311@gmail. Dinda Rizki Tiara Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Trunojoyo Madura rtiara@trunojoyo. Muhammad Busyro Karim Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Trunojoyo Madura karim@trunojoyo. Abstrak Menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat adalah tanggung jawab bersama. Populasi merupakan bagian yang penting dari permasalahan lingkungan. Segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia berpotensi menghasilkan limbah dan penumpukan sampah. Pada dasarnya sekolah menjadi pelopor sekaligus pengembangan pengetahuan tentang sikap peduli lingkungan. Mengenalkan pengelolaan sampah sejak usia dini bertujuan untuk mengatasi masalah serta melahirkan pengetahuan yang akan membentuk sikap inisiatif terhadap permasalahan yang ada Selama ini pengelolaan sampah belum dilakukan dengan optimal baik dilingkungan masyarakat maupun di sekolah-sekolah. Beberapa sekolah yang sudah menerapkan pembiasaan membuang sampah pada tempatnya, namun masih banyak dari mereka yang belum memahami tentang pengelolaan sampah seperti pengelolaan yang dilakukan dengan cara 3R . educe, reuse dan recycl. Salah satu taman kanak - kanak di TK Bangkalan sudah menerapkan pembiasaan membuang sampah pada tempatnya, maka dari itu perlu diketahui bagaimana pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah masih banyak dari mereka yang belum memahami pengelolaan sampah. Hasil dari penelitian ini berimplikasi pada program pembelajaran yang dapat mengikatkan kemampuan anak dalam mengelola sampah. Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang bagaimana tingkat pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah, sehingga dapat membantu pihak-pihak yang terkait untuk membantu peningkatan pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah dan juga dapat membantu guru dalam menentukan strategi, metode serta model pembelajaran yang tepat bagi siswa di TK Bangkalan. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan penelitian jenis penelitian deskriptif kuantitatif yang menekankan pada aspek pengukuran secara objektif terhadap fenomena sosial yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah di Salah satu TK di Bangkalan. Kata Kunci: Pengetahuan Anak. Pengelolaan sampah, 3R (Reduce. Reuse dan Recycl. Oleh karena itu, dalam setiap aktivitas yang keseimbangan tatanan ekologi, sehingga sumber daya yang dihasilkan tetap terjaga kualitas dan kuantitas nya. PENDAHULUAN Lingkungan merupakan sumber komponen penting dalam kehidupan manusia. Sebagai manusia yang selalu berinteraksi dengan lingkungan untuk melanjutkan keberlangsungan Hampir seluruh aspek kegiatan manusia selalu berkesinambungan dengan lingkungan. Dwi C. Dinda R. Muhammad. K: Pengetahuan Anak Pengelolaam Sampah Berdasarkan fakta di lapangan tidak sedikit manusia yang sering lupa untuk memberikan perhatian kepada lingkungan yang sudah memberikan manfaat pada kita, akibatnya terjadi kerusakan pada lingkungan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Pengaruh buruk yang terjadi di lingkungan bisa berpotensi terjadinya bencana Kerusakan lingkungan banyak terjadi di berbagai tempat seperti halnya sekolah. Sekolah menjadi tempat dimana pengetahuan peduli akan lingkungan harus dipupuk sejak dini. Membiasakan anak membangun pengetahuan sejak dini dapat menjadikan anak mampu menyelesaikan masalah, melahirkan ide-ide baru serta memiliki rasa percaya diri. Pengetahuan atau kognitif adalah domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang . vert behavio. (Khazna, 2. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, menyatakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi secara berkelanjutan antara individu satu dengan lingkungannya (Kadir dalam Pratiwi, 2. Anak yang berpengetahuan akan memiliki inisiatif yang baik, hal ini selaras dengan respon anak ketika melihat sampah yang ada di lingkungan sekitarnya terutama sekolah. Kenyataannya masih terdapat beberapa TK yang sudah mulai menerapkan pembiasaan peduli lingkungan dengan membuang sampah pada Ada juga TK yang sudah menyiapkan tempat sampah tetapi tidak ada tindakan lanjutan pemberian edukasi, jadi guru hanya menyediakan saja tanpa memberikan contoh, sehingga banyak anak yang masih membuang sampah tidak pada Menjaga lingkungan agar tetap sehat dan bersih adalah tanggung jawab bersama. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik, maka dampak negatif yang membahayakan terutama bagi kesehatan manusia. Upaya pemeliharaan lingkungan tidak cukup jika dilakukan oleh perorangan saja. Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menyatakan bahwa jumlah pertambahan penduduk dan pola konsumsi masyarakat tidak seimbang dengan kegiatan pengelolaan sampah, akibatnya terjadi penumpukan sampah yang memberikan dampak negative terhadap kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia. Selama ini pengelolaan sampah belum sesuai dengan metode dan teknik yang berwawasan Penerapan pengelolaan sampah yang cukup diandalkan saat ini yang banyak diterapkan di negara maju sejak lama yaitu menggunakan teknik pendekatan 3R . educe, reuse, recycl. (Padmi, 3R . educe, reuse, recycl. merupakan teknik pengelolaan sampah yang dilakukan dengan cara mengurangi jumlah penumpukan sampah serta memanfaatkan sampah menjadi barang yang bermanfaat bahkan memiliki nilai jual. Reduce yang berarti tindakan atau aktivitas mengurangi segala sesuatu yang dapat menghasilkan sampah, seperti contoh membawa bekal makan di sekolah dari pada membeli jajanan di sekolah yang menghasilkan sampah, menggunakan tas belanja pakai ulang dari pada tas plastik sekali pakai. Reuse yaitu tindakan menggunakan kembali sampah yang masih berfungsi baik fungsi yang sama atau fungsi yang Contoh sederhana dari reuse ini adalah memanfaatkan sampah botol plastik menjadi Recycle yaitu kegiatan mendaur ulang sampah melalui proses penghancuran menjadi produk baru yang bermanfaat. Contoh sederhana seperti mendaurulang sisa makanan menjadi pupuk Guru dituntut memiliki strategi pembelajaran yang dapat menanamkan karakter cinta lingkungan pada anak dengan melakukan pembelajaran di luar Mengajar di luar kelas merupakan sa lah satu cara untuk mengajak siswa agar lebih dekat dengan sumber belajar yang sesungguhnya yaitu alam Artinya mereka dapat melakukan aktivitas yang bisa membawa mereka pada perubahan perilaku terhadap lingkungan sekitar yang mengacu pada pengalaman dan pendidikan lingkungan sehingga berpengaruh pada kecerdasan siswa (Adelia dalam Agusta, 2. Salah satu TK di Bangkalan ini sudah menerapkan pemilahan sampah yang di halaman sekolahnya terdapat tong sampah jenis yang Pembiasaan membuang sampah pada tempatnya sudah mulai berjalan baik. Pembiasaan seperti ini sangat memberikan konsep menanamkan cinta lingkungan bersih kepada anak. Salah satu TK di Bangkalan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan, sehingga dalam hal ini anak tidak hanya tau membuang sampah pada tempatnya saja, namun tindakan untuk mengurangi sampah dan mengelola sampah sebagai refleksi pengetahuan Jurnal Pendidikan Modern. Volume 09 Nomor 01 Tahun 2023, 30-36 anak tentang penanganan masalah sampah di merupakan grafik batang menjelaskan bahwa indikator diurutkan dari nilai yang tertinggi ke nilai yang rendah dengan jumlah total anak secara keseluruhan yaitu 85 anak dari TK A dan TK B. Adapun indikator atau point yang dibahas pada grafik adalah sebagai berikut: Definisi sampah Dalam indikator definisi sampah diturunkan sub indikator yang memuat pertanyaan mengenai pengertian sampah dan apakah semua benda bisa menjadi sampah. Dapat dilihat pada grafik di atas bahwa sub indikator pertanyaan pertama (A. memiliki sejumlah 4 dari kelas TK A dan 8 dari kelas TK B yang mengetahui bahwa sampah adalah barang bekas atau barang yang sudah tidak terpakai. Sub indikator point dua (A. sejumlah 0 dari kelas TK A dan 2 dari kelas TK B yang mengetahui bahwa semua benda bisa menjadi sampah. Hal ini menjelaskan bahwa hanya sedikit anak yang mengetahui definisi sampah dan lebih sedikit lagi yang memahami bahwa seluruh benda dapat menjadi sampah. Anak tidak mengetahui resiko dari kepemilikan sebuah benda yang dapat menjadi sampah atau limbah. Jenis sampah dan contohnya. Indikator jenis sampah dan contohnya diturunkan menjadi beberapa sub indikator yang memuat pertanyaan yaitu jenis sampah, contoh sampah organik dan contoh sampah anorganik. Grafik di atas menyatakan bahwa sub indikator pertanyaan pertama (B. mereka tidak mengetahui apa saja jenis sampah baik organik maupun anorganik. Sub indikator pertanyaan kedua (B. sejumlah 4 dari TK A dan 10 dari TK B mengetahui beberapa contoh sampah organik. Sebagian dari mereka ada yang sudah mendengar istilah sampah organik. Pada sub indikator pertanyaan ketiga (B. sebanyak 4 dari TK A dan 2 dari TK B mereka mengetahui contohcontoh sampah, namun kebanyakan dari mereka belum bisa membedakan antara sampah organik dan sampah anorganik. Berdasarkan data tersebut menjelaskan bahwa tidak banyak anak yang mengetahui tentang jenis dan contoh dari jenis sampah tersebut. Jika dibandingkan dengan jenis sampah anorganik, anak lebih familiar dengan sampah organik. Sampah organik lebih sering digunakan oleh anak dalam beraktivitas di luar kelas seperti membuat kompos atau berkarya dengan daun Cara membuang sampah METODE Penelitian ini dilakukan di salah satu TK di Bangkalan. Materi pokok yang diangkat pada penelitian ini adalah materi tentang pengelolaan Jenis penelitian ini menggunakan penelitian jenis penelitian deskriptif kuantitatif yang menekankan pada aspek pengukuran secara objektif terhadap fenomena sosial yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah di Salah satu TK di Bangkalan. Subjek penelitian ini peneliti menggunakan anak kelas TK A dan TK B sebagai sumber pemerolehan Teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan teknik wawancara sebagai studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti serta mengetahui hal-hal dari subjek yang lebih mendalam berdasarkan jumlah populasi, observasi untuk mengukur sikap subjek juga merekam fenomena yang diteliti, dokumentasi yang bertujuan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian yang meliputi jurnal yang relevan, laporan kegiatan dokumentasi dan data yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan dapat berperan besar dalam perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah yang dihasilkan. Pendidikan yang mengandung pengelolaan sampah tidak hanya pada pendidikan tinggi saja, namun sejak pendidikan anak usia dini. Pendidikan anak usia dini memiliki peranan besar dalam membentuk perilaku anak yang akan menjadi masyarakat di masa datang. Grafik 1. Tingkat Pengetahuan Anak Tentang Pengelolaan Sampah di TK Bangkalan Dari penelitian yang telah dilakukan, tingkat pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah di Salah satu TK di Bangkalan Madura dapat dilihat pada hasil grafik di atas. Grafik di atas yang Dwi C. Dinda R. Muhammad. K: Pengetahuan Anak Pengelolaam Sampah Dalam indikator ini terdapat dua penjabaran point A yaitu pembuangan langsung dengan cara ditumpuk, point B pembuangan langsung dengan cara dipilah dan point C adalah akibat dari pembuangan Sub indikator point (C. yaitu pembuangan langsung dengan cara dipilah dengan pertanyaan perilaku membuang sampah sehabis makan bungkus makanan dengan dibuang ke tempat sampah sebanyak 26 dari TK A dan 32 dari TK B, point (C. dengan pertanyaan pembuangan sampah yang benar yaitu dibuang pada tempatnya sejumlah 26 dari TK A dan 33 dari TK B , point (C. dengan pertanyaan perilaku jika anak melihat sampah dibuang ke tong sampah adalah sejumlah 18 dari TK A dan 26 dari TK B, point (C. dengan pertanyaan perilaku yang dilakukan ketika melihat sampah yang ada di lingkungan sekitar adalah, sebanyak masing-masing 1 baik dari TK A maupun TK B. Berdasarkan data yang ada menjelaskan bahwa hampir seluruh anak mengetahui hal yang harus dilakukan saat memiliki Anak mengetahui bahwa ketika mereka memiliki sampah mereka harus membuang sampah Pengolahan Reduce . engurangi sampa. Dalam indikator ini terdapat empat penjabaran point pertanyaan yaitu Point A adalah definisi dari Reduce, point B adalah jenis sampah yang bisa dikurangi, point C adalah cara mengurangi sampah dan point D adalah hasil dari mengurangi sampah. Masing-masing point tersebut dijabarkan lagi menjadi beberapa pertanyaan diantaranya point (A. yakni alasan mengapa sebaiknya kita mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai, point (A. dengan pertanyaan bagaimana cara agar penggunaan plastik dapat dikurangi point (B. dengan pertanyaan apa saja jenis sampah yang bisa dikurangi, point (C. dengan pertanyaan hal apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah, point (C. dengan pertanyaan bagaimana kita bisa mengurangi sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari, point (C. dengan pertanyaan apa saja jenis sampah yang bisa kita kurangi, point (C. dengan pertanyaan bagaimana cara mengurangi penggunaan botol air minum plastik, point (C. dengan pertanyaan bagaimana cara mengurangi penggunaan plastik belanja. Masing-masing dari pertanyaan yang sudah dijabarkan banyak dari anak yang belum mengetahui tindakan membuang sampah dengan benar apakah sebaiknya ditumpuk atau dilakukan Anak belum mengetahui bagaimana cara memisahkan sampah organik maupun sampah anorganik, namun sebagian dari mereka tau bahwa akibat dari pembuangan sampah sembarangan akan mengakibatkan terjadinya bencana alam banjir dan kerusakan lingkungan lainnya seperti air kotor dan ikan mati. Selain itu yang paling penting adalah mengurangi sampah, anak tidak mengetahui bahwa hal tersebut penting untuk dilakukan. Tidak menghasilkan sampah menjadi salah satu kegiatannya yang harus dikenalkan oleh anak dan Masyarakat agar tidak terjadinya pengolahan sampah yang menumpuk. Pengolahan Recycle . endaur ulan. Indikator pengolahan reuse terdapat empat penjabaran yakni point A tentang definisi daur ulang, point B tentang sampah yang dapat didaur ulang, point C cara mendaurulang sampah dan point D hasil dari daur ulang sampah. Terdapat beberapa pertanyaan dari masing-masing point tersebut yakni point (A. )1 tentang definisi daur ulang, point (A. dengan pertanyaan pentingnya daur ulang bagi Banyak anak yang belum mengetahui dari pertanyaan tersebut. Point (B. dengan pertanyaan contoh sampah yang bisa di daur ulang, sebanyak 8 anak mengetahui contoh sampah yang bisa didaur ulang yaitu seperti plastik dan botol. Point (B. dengan pertanyaan bagaimana cara membedakan sampah daur ulang dengan yang tidak bisa di daur ulang adalah sebanyak 2 anak yang mengetahui dengan menjawab dengan cara dikelompokkan yaitu sayuran dengan sayuran dan botol dengan botol. Point (C. dengan pertanyaan apa yang harus dilakukan sebelum memasukkan botol plastik ke dalam tempat daur ulang adalah sebanyak 1 anak yang mengetahui bahwa mendaur ulang sampah dengan cara dimasukkan ke dalam mesin pemotong. Point (D. dengan pertanyaan apa yang terjadi dengan benda-benda yang sudah di daur ulang, anak tidak mengetahui apa saja benda yang termasuk kategori benda yang bisa didaur Point (D. dengan pertanyaan apakah manfaat kompos bagi tanaman adalah sebanyak 1 anak yang mengetahui bahwa manfaat kompos adalah untuk kesuburan tanah. Berdasarkan data tersebut terdapat anak yang mengenal kegiatan daur ulang untuk pengelolaan sampah. Hal ini cukup Jurnal Pendidikan Modern. Volume 09 Nomor 01 Tahun 2023, 30-36 menarik saat anak mengetahui hingga penggunaan mesin pemotong untuk mendaur ulang plastik. Pengolahan Reuse . enggunakan kembal. Indikator ini terdapat empat penjabaran yakni point A tentang definisi reuse, point B contoh sampah yang bisa digunakan kembali, point C cara menggunakan kembali sampah dan point D hasil menggunakan kembali sampah. Terdapat beberapa pertanyaan dari masing-masing point yakni point (A. dengan pertanyaan apa yang dimaksud dengan menggunakan kembali sampah, point (A. dengan pertanyaan mengapa penting untuk menggunakan kembali barang-barang sebelum membuangnya. Dalam pertanyaan ini banyak anak yang belum mengetahui pengertian tentang reuse dan mengapa penting dilakukan reuse. Point (B. dengan pertanyaan beberapa cara menggunakan kembali kemasan atau wadah yakni, terdapat 2 anak yang mengetahui bahwa menggunakan botol air untuk dapat mengurangi sampah. Point (C. dengan pertanyaan bagaimana cara mengkreasikan kembali benda-benda yang sudah tidak berguna yakni, terdapat 9 anak yang mengetahui sebanyak 3 dari kelas TK A dan sebanyak 6 dari kelas TK B bahwa sampah bisa dikreasikan dengan cara dibuat mobilmobilan atau mainan. Point (C. anak belum mengetahui mengapa penting untuk merawat dan memperbaiki barang-barang yang telah rusak dari pada membeli barang baru. Point (D. dengan pertanyaan bagaimana cara membuat mainan dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai yakni, sebanyak 9 anak 3 dari kelas TK A dan 6 dari kelas TK B yang mengetahui bahwa sampah dapat digunakan kembali dan dikreasikan menjadi mainan dan barang yang bermanfaat lainnya. Point (D. dengan pertanyaan manfaat dari mengubah botol plastik menjadi pot tanaman yakni, sebanyak 3 anak yang mengetahui bahwa mengubah botol plastik menjadi pot tanaman dapat mengurangi sampah. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa anak paling banyak mengetahui aktivitas pembuangan sampah yang dilakukan dengan membuang sampah pada tempatnya tanpa ada penanganan sampah Sikap anak terhadap pembiasaan membuang sampah pada tempatnya sudah cukup Anak juga mengetahui akibat dari pembuangan sampah yang dilakukan secara sembarangan dapat mengakibatkan bencana dan pencemaran lingkungan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa anak sudah mulai memiliki perhatian pada Pengetahuan anak tentang perlunya membuang sampah di tempat sampah menjadi salah satu poin awal yang dapat mendukung pembentukan sikap cinta lingkungan dan pembiasaan untuk mengelola sampah. Namun pengetahuan ini tidak bisa hanya berhenti pada pengetahuan saja, perlu pembentukan kebiasaan yang cukup lama agar dapat menjadi kebiasaan hingga anak menjadi masyarakat yang peduli dengan lingkungan (Roslee. , dkk,2. Meskipun anak telah mengetahui perlunya membuang sampah pada tempat sampah, melalui penelitian ini diketahui bahwa tingkat pengetahuan anak tentang pentingnya mengelola sampah organik dan anorganik masih sangat kurang. Hal ini sejalan sustainability belum terbentuk pada anak usia dini (Mahat, dkk 2. Ketika anak telah mengetahui tentang cara membuang sampah yang benar namun tidak dilanjutkan dengan kegiatan lanjutan yang Faktor eksternal mempengaruhi tindak lanjut dari program pengelolaan sampah yang berakibat kurang efektifnya program tersebut (Boyd, 2. Sebagian dari mereka ada yang sudah mendengar istilah sampah organik. Sedikit dari mereka yang baru mengenal istilah sampah Anak masih sulit membedakan sampah organik dan anorganik. Pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah reduce, reuse dan recycle sangatlah minim. Konsep yang lebih dikenal anak adalah recycle yang mana sebenarnya adalah tahap pengelolaan sampah yang akhir, dimana sebaiknya anak terbiasa mengurangi sampah dibandingkan membuang sampah dan mendaur ulang sampah tersebut. Jika dilihat pada pengetahuan anak tentang perlunya membuang sampah pada tempatnya namun anak tidak mengetahui pengelolaan sampah 3R, menjelaskan bahwa anak masih hanya diajarkan tentang membuang sampah pada tempatnya dan bahayanya jika tidak membuang sampah di tempatnya. Sekolah menjadi salah satu tempat yang pembiasaan baik anak. Anak dapat mengetahui cara mengelola sampah dengan cara 3R agar tidak hanya dibuang begitu saja melalui beberapa stimulus, seperti program Ae program tertentu (Fadlilah & Muqowim, 2. Selain itu pembelajaran tentang lingkungan dapat diajarkan pada anak melalui aktivitas bermain (Marinto, 2. Guru juga dapat menunjukan kemampuannya dalam mengelola Dwi C. Dinda R. Muhammad. K: Pengetahuan Anak Pengelolaam Sampah sampah dan membentuk kegiatan belajar terkait hal tersebut (Mayawati & Qismullah, 2. , seperti kegiatan menanam yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kecerdasan naturalis anak agar mampu menumbuhkan rasas cinta pada lingkungan (Lintiana, dkk, 2. Berdasarkan observasi yang dilakukan, pengetahuan tentang sampah dan jenis-jenis sampah masih sangat rendah. Oleh sebab itu, penting bagi guru atau pendidik untuk memberikan edukasi terkait pengelolaan sampah yang diharapkan anak mampu menyikapi permasalahan sampah dengan cara mengurangi jumlah produksi sampah yang akan mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, sehingga anak tidak hanya tau membuang sampah pada tempatnya saja, namun juga memanfaatkan kembali sampah menjadi barang-barang lain yang berguna. PENUTUP Simpulan Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dan pembahasan yang telah dilakukan tentang analisis tingkat pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah masih sangat kurang. Dapat dilihat dari grafik yang telah disajikan dari 85 anak mereka paling banyak mengetahui pada point cara membuang sampah yakni dibuang pada tempatnya. Anak juga mengetahui bahwa akibat dari pembuangan sampah secara sembarangan akan menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi masih banyak dari mereka yang belum mengetahui tentang pentingnya pengelolaan sampah yang dilakukan dengan cara 3R . educe, reuse dan recycl. Artinya, pengetahuan anak dalam penanganan sampah masih pada tahap awal yaitu dengan cara dibuang ketempatnya tanpa ada tindakan selanjutnya dengan cara dikelola. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan beberapa saran kepada pihak-pihak terkait dengan harapan yang dapat dijadikan sebagai acuan perbaikan. Adapun saran-saran tersebut antara lain Bagi guru atau fasilitator lembaga di Salah satu TK di Bangkalan. Guru dapat menyajikan materi khusus tentang pengelolaan sampah pada pembelajarannya, salah satu cara adalah dengan membuat media yang bisa menstimulasi pengetahuan anak tentang pengelolaan sampah. Guru atau fasilitator bisa melakukan pembinaan terhadap anak yang masih membeli jajanan yang berbungkus plastik diluar sekolah. Guru berupaya mencari strategi terbaik untuk memotivasi anak untu peduli terhadap Bagi orang tua Kepada orang tua hendaknya ikut serta dalam proses bimbingan karakter peduli lingkungan terhadap anak. Bagi masyarakat sekitar Masyarakat seharusnya berkontribusi dalam menjaga kestabilan lingkungan dengan cara mengurangi produksi sampah-sampah rumah tangga, seperti tidak langsung membuang dimanfaatkan kembali menjadi barang yang Melakukan penyuluhan dan pemberian edukasi terkait pengelolaan sampah dengan cara kerja sama pihakpihak tertentu. Menghadirkan masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi barang yang memiliki nilai jual. DAFTAR PUSTAKA