Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 303-315 Pemenuhan Kriteria KRIS JKN: Studi Kasus di RSUD RT. Notopuro Sidoarjo Fulfilment of the Criteria of the KRIS JKN: A Case Study at RSUD RT. Notopuro Sidoarjo Pramitha Nayana Librata1. Rahmania Ambarika2. Ratna Wardani3 Universitas Strada Indonesia . -mail: mimi. nayana@gmail. Jl. Manila No. Tosaren. Kediri. Jawa Timur. Indonesi. ABSTRAK Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis implementasi dan pemenuhan dua Kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) JKN bertujuan menghapus kesenjangan kelas layanan dan meningkatkan mutu rumah sakit, namun implementasinya memerlukan kesiapan sarana, manajemen, dan pendanaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemenuhan 12 kriteria KRIS di RSUD R. Notopuro Sidoarjo. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam dengan manajemen dan tenaga kesehatan serta telaah dokumen. Hasil menunjukkan sebagian besar kriteria, seperti fasilitas tempat tidur, ventilasi, pencahayaan, dan outlet oksigen telah terpenuhi. Namun, kendala masih ditemui pada pembagian ruang pasien, ketersediaan partisi tanam standar, dan kamar mandi dalam ruang rawat inap. Hambatan utama berasal dari keterbatasan infrastruktur, anggaran, dan kebutuhan renovasi fisik. Rumah sakit merespons dengan perencanaan bertahap dan dukungan kebijakan internal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa RSUD Notopuro telah menunjukkan komitmen signifikan dalam memenuhi KRIS, tetapi masih memerlukan dukungan strategis untuk mencapai implementasi penuh. Kata kunci : KRIS. JKN, kelas rawat inap standar, infrastruktur rumah sakit, kebijakan ABSTRACT The Standard Inpatient Class (KRIS) under JKN aims to eliminate service disparities and improve hospital quality, yet its implementation requires adequate infrastructure, management, and funding. This study analyzes the fulfillment of 12 KRIS criteria at R. Notopuro Hospital in Sidoarjo. A qualitative approach was employed through in-depth interviews with hospital management and healthcare workers, complemented by document review. Findings reveal that most criteria, including beds, ventilation, lighting, and oxygen outlets, were fulfilled. However, challenges remain in patient room distribution, standard non-porous partitions, and in-room bathrooms. Key barriers include infrastructure limitations, budget constraints, and the need for physical The hospital responded with phased planning and internal policy support. This study concludes that R. Notopuro Hospital has made significant efforts toward KRIS compliance but requires strategic support to achieve full implementation. Keywords: KRIS. JKN. Standard Inpatient Class. Hospital Infrastructure. Health Policy Pramitha Nayana Librata. Rahmania Ambarika. Ratna Wardani : Pemenuhan Kriteria KRIS JKN A. PENDAHULUAN Pemerintah Indonesia melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berupaya menghadirkan layanan kesehatan yang setara bagi seluruh warga. Untuk memastikan standar pelayanan rawat inap, diterbitkan kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2021 (Pemerintah Republik Indonesia, 2. dan diperinci dalam Keputusan Dirjen Pelayanan Kesehatan Nomor HK. 02/I/1811/2022 (Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, 2. Dalam kebijakan tersebut, rumah sakit wajib memenuhi 12 kriteria standar fasilitas rawat KRIS JKN terdiri dari dua belas kriteria yang meliputi aspek fisik, teknis, dan kenyamanan pasien, seperti bahan bangunan yang tidak berpori tinggi, ventilasi udara, pencahayaan, kelengkapan tempat tidur, ketersediaan nakas, suhu ruangan, pemisahan pasien berdasarkan jenis kelamin dan usia, kepadatan ruang rawat, tirai atau partisi permanen, kamar mandi di dalam ruang rawat inap, fasilitas aksesibilitas kamar mandi, serta outlet oksigen di tiap tempat tidur. Kebijakan ini diharapkan mampu menghapuskan sistem kelas yang selama ini menciptakan kesenjangan dalam pelayanan kesehatan, dan menggantinya dengan satu standar kelas yang setara bagi seluruh peserta JKN. Namun tidak semua rumah sakit dapat memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Hal ini terlihat dari self-asement yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan terhadap rumah sakit di Indonesia, hanya 81% yang siap mengimplementasikan kebijakan KRIS JKN (Arisa et al. , 2. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa rumah sakit masih menghadapi kendala dalam memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Sebagai contoh, pada penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moch Anshari Shaleh Banjarmasin ditemukan bahwa kondisi fisik rumah sakit masih menjadi kendala dalam pelaksanaan KRIS JKN (Arisa et al. , 2. Penelitian lain di RSUD Kota Salatiga mengungkapkan bahwa terdapat sarana dan prasarana yang belum sepenuhnya memenuhi standar KRIS (Kuraini et al. , 2. Sementara itu, penelitian di Rumah Sakit Bhayangkara TK II Medan menunjukkan bahwa faktor pendanaan dan ketersediaan SDM menjadi hambatan utama selain masalah fasilitas fisik (Qurnaini Mz et al. , 2. Penelitian lain di RSUD Sanjiwani Kabupaten Gianyar. Bali menyebutkan bahwa ketidaksiapan rumah sakit dalam implementasi KRIS JKN terutama pada sarana prasana yang dipersyaratkan (Agung et al. , 2. RSUD RT Notopuro Sidoarjo, sebagai rumah sakit rujukan dengan status BLUD dan cakupan UHC 95%, telah menjadi pilot project KRIS JKN sejak 2022. Evaluasi awal Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 303-315 menunjukkan beberapa kekurangan pada ventilasi, pencahayaan, suhu ruangan, hingga fasilitas kamar mandi. Setelah peningkatan status menjadi RS Tipe A, tantangan menjadi semakin kompleks karena persyaratan fasilitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menelaah sejauh mana kesiapan RSUD RTNS dalam memenuhi 12 kriteria KRIS JKN secara menyeluruh. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, untuk mengeksplorasi secara mendalam implementasi 12 kriteria KRIS JKN di RSUD RT. Notopuro Sidoarjo. Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu rumah sakit percontohan dalam penerapan kebijakan KRIS secara penuh. Penelitian dilakukan selama November 2024 hingga Januari 2025. Subjek penelitian terdiri dari 17 orang informan, yaitu pegawai rumah sakit dari berbagai unit terkait, yang dipilih secara snowball sampling dengan kriteria: bekerja minimal 3 tahun, telah bertugas di unitnya selama minimal 1 tahun, bersedia diwawancarai, dan mengetahui serta terlibat dalam implementasi KRIS. Selain itu, terdapat 4 orang triangulator yang terdiri dari direktur dan wakil direktur rumah sakit, yang memberikan informasi untuk keperluan validasi data . riangulasi sumbe. Data dikumpulkan melalui tiga teknik: wawancara mendalam, observasi langsung terhadap kegiatan implementasi KRIS, serta dokumentasi . ermasuk regulasi, laporan keuangan, dan pedoman operasional rumah saki. Peneliti sebagai instrumen utama dibantu dengan panduan wawancara dan observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui tahap: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu, serta member checking dengan mengonfirmasi hasil interpretasi kepada para informan. Adapun penelitian ini telah mendapatkan kelaikan etik dari Universitas Strada Indonesia dengan Nomor: 0023450/EC/KEPK/I/01/2025. HASIL Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemenuhan 12 kriteria Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) JKN di RSUD R. Notopuro Sidoarjo. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 17 orang informan dan 4 triangulator. Temuan-temuan utama penelitian berdasarkan fokus tujuan khusus diringkas pada Tabel 1. Pramitha Nayana Librata. Rahmania Ambarika. Ratna Wardani : Pemenuhan Kriteria KRIS JKN A. Tabel 1. Analisis pemenuhan 12 kriteria Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) JKN di RSUD R. Notopuro Sidoarjo Kriteria Temuan Bahan Bangunan Tidak Berpori Tinggi Sebagian besar informan menyatakan bahwa material bangunan telah memenuhi standar KRIS, dengan penggunaan bata dan cat antijamur. Triangulasi menguatkan bahwa sebagian besar bangunan tidak memerlukan perubahan besar dalam aspek ini. Ventilasi menjadi aspek yang belum sepenuhnya merata. Meskipun beberapa kamar telah dilengkapi exhaust fan, perbaikan masih berjalan bertahap. Triangulator mengonfirmasi ventilasi sebagai masukan dari Kemenkes dan menjadi prioritas perbaikan. Pencahayaan ruang rawat dinilai telah banyak disesuaikan, terutama melalui pemasangan lampu LED. Triangulator menyatakan bahwa perbaikan ini difokuskan pada beberapa ruang prioritas dan terus dilakukan secara progresif. Seluruh ruang rawat telah dilengkapi tempat tidur crank 2 sesuai standar KRIS. Triangulator menguatkan bahwa standar tempat tidur telah dipenuhi meskipun tidak menyebutkan jenisnya secara spesifik. Mayoritas informan menyebutkan bahwa nakas telah tersedia, namun sebagian belum dilengkapi kunci. Triangulasi terbatas, namun pengadaan perangkat non-medis disebutkan masih berlangsung. AC telah terpasang di hampir seluruh kamar. Monitoring suhu dilakukan secara manual. Triangulator menguatkan bahwa kelembapan dan suhu merupakan tantangan teknis yang sedang Pengelompokan pasien telah dilakukan berdasarkan jenis penyakit dan usia, namun belum merata untuk jenis kelamin. Triangulator menyatakan bahwa pemisahan ini telah diterapkan secara bertahap. Ventilasi Udara Pencahayaan Ruangan Kelengkapan Tempat Tidur Ketersediaan Nakas per Tempat Tidur Kestabilan Suhu Ruangan . Ae26AC) Pembagian Ruangan Berdasarkan Jenis Kelamin. Usia, dan Jenis Penyakit Kepadatan Ruang Rawat dan Jarak Tempat Tidur Tirai atau Partisi Tanam Anti-Pori Kamar Mandi di Dalam Ruangan Rawat Inap Kamar Mandi Sesuai Standar Aksesibilitas Ketersediaan Outlet Oksigen Hambatan Implementasi KRIS Dilaporkan terjadi pengurangan tempat tidur signifikan untuk memenuhi jarak minimal antar TT. Triangulator menyebutkan penurunan jumlah tempat tidur berdampak pada pelayanan IGD, tetapi mendukung kebijakan standar. Tirai dengan rel tanam dan bahan anti-pori telah dipasang sebagian besar, namun belum menyeluruh. Triangulator menyoroti adanya kendala logistik meskipun pengadaan telah dilakukan. Renovasi kamar mandi masih berlangsung dan menjadi tantangan Triangulator menyatakan bahwa ini adalah aspek tersulit yang dipenuhi dalam program KRIS. Pintu kamar mandi sebagian besar belum sesuai standar lebar aksesibilitas . Triangulator menyatakan bahwa akses kursi roda masih menjadi kendala utama. Seluruh informan menyebut outlet oksigen telah terpasang sesuai Triangulasi tidak menyebut secara spesifik, namun tidak ditemukan kontradiksi. Hambatan utama adalah pengosongan ruangan untuk renovasi dan Triangulator mengonfirmasi bahwa proses renovasi dilakukan bertahap karena ruang rawat tetap digunakan dan standar KRIS bersifat dinamis. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 303-315 Kriteria Temuan Persiapan dan Kesiapan RSUD RTNS Seluruh informan menyatakan bahwa persiapan dilakukan melalui pemetaan, simulasi kebutuhan, dan pendampingan oleh Kementerian Kesehatan. Triangulator menguatkan bahwa pendekatan bertahap digunakan dalam implementasi. Selain data hasil wawancara untuk menemukan temuan seperti yang tersaji pada Tabel 1, penelitian ini juga memperoleh dokumen rekapitulasi pemenuhan 12 kriteria KRIS JKN dari pihak manajemen rumah sakit sebagai bagian dari monitoring internal. Data ini bersifat kuantitatif dan menunjukkan capaian masing-masing ruangan per Maret Rekapitulasi tersebut tersaji dalam Tabel 2. Tabel 2. Rekapitulasi Pemenuhan 12 Kriteria KRIS JKN per Maret 2025 RSUD RT Notopuro Sidoarjo Ae 4 Ruangan Pelaksana KRIS Kriteria KRIS Bahan bangunan tidak berporositas tinggi Ventilasi udara Pencahayaan (Ou250 lu. Pencahayaan tidur (O50 lu. Nurse Call Dua stop kontak Nakas per tempat tidur Suhu 20Ae26AC Pembagian ruang berdasarkan jenis kelamin/usia/penyakit Kepadatan & kualitas tempat Tirai/Partisi standar . idak berpori dan permane. Kamar mandi di dalam ruang Akses kursi roda ke kamar Handrail di kamar mandi Lantai tidak licin dan tidak Nurse Call di kamar mandi Kunci double di kamar mandi Outlet oksigen Ruang Tulip Ruang Teratai Ruang Mawar Kuning Ruang Mawar Merah Putih Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa sebagian besar kriteria KRIS telah terpenuhi dengan capaian 100% di hampir semua indikator. Namun, terdapat beberapa aspek yang masih menunjukkan variasi, terutama pada pencahayaan aktivitas . , akses kursi roda ke kamar mandi . , dan kunci ganda kamar mandi Pramitha Nayana Librata. Rahmania Ambarika. Ratna Wardani : Pemenuhan Kriteria KRIS JKN A. Perbedaan capaian antar ruang menunjukkan adanya dinamika kesiapan infrastruktur dan tahapan renovasi yang masih berlangsung. Secara keseluruhan, keempat ruang rawat menunjukkan kemajuan signifikan menuju pemenuhan penuh seluruh kriteria KRIS. Untuk memperjelas hasil analisis dan menjabarkan kesenjangan antara standar KRIS dan kondisi aktual di RSUD R. Notopuro Sidoarjo, peneliti menyusun ringkasan komparatif yang memuat capaian aktual, kesenjangan . , serta upaya yang telah dilakukan rumah sakit dalam memenuhi setiap indikator. Ringkasan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Ringkasan Pemenuhan 12 Kriteria KRIS JKN di RSUD R. Notopuro Sidoarjo Item Temuan Standar yang Ditentukan Bahan Bangunan Tidak Berpori Tinggi Ventilasi Udara Material bata, cat anti-jamur & anti-air Pencahayaan Ruangan 250 lux . , 50 lux . Kelengkapan Tempat Tidur Tempat tidur crank 2, stop kontak sesuai Ketersediaan Nakas per Tempat Tidur 1 nakas per TT, dengan fitur . Suhu 20Ae26AC. Kestabilan Suhu Ruangan Ou 6 pergantian udara/jam (ACH) Pembagian Ruangan Berdasarkan jenis kelamin, usia, penyakit Kepadatan Ruang Rawat Maks 4 TT/ruang, jarak Ou 1,5 m Capaian yang Sudah Dihasilkan Sebagian besar ruang sudah sesuai standar Sebagian ruang ada exhaust fan. Lampu LED sudah dipasang di beberapa Semua ruang sesuai standar Nakas tersedia, sebagian belum AC terpasang hampir di semua Sudah belum merata untuk jenis Sudah dikurangi TT untuk memenuhi jarak Gap (Hasil vs Standa. Hampir tidak ada gap, hanya sebagian kecil kamar mandi Belum merata di semua ruang Belum semua ruangan mencapai Keterangan (Upaya dalam Pencapaia. Renovasi bertahap untuk area kamar mandi Prioritas berdasar evaluasi Kemenkes Renovasi progresif sesuai prioritas ruang Tidak ada gap Pengadaan terjamin lewat anggaran RS Fitur keamanan belum terpenuhi Pengadaan perabot nonmedis masih Perlu sensor manajemen teknis Monitoring masih belum stabil Belum sepenuhnya sesuai Dampak pada pelayanan IGD . enurunan Dilakukan bertahap sesuai kapasitas ruang Penyesuaian jumlah TT agar sesuai regulasi Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 303-315 Item Temuan Tirai/Partisi Anti-Pori Kamar Mandi Dalam Ruang Kamar Mandi Aksesibilitas Outlet Oksigen Standar yang Ditentukan Tirai tanam, bahan tidak Tersedia di setiap ruang Pintu Ou 90 cm, ramah kursi Outlet permanen di tiap TT Capaian yang Sudah Dihasilkan Sudah terpasang sebagian besar Renovasi masih berjalan, belum semua sesuai Sebagian besar belum sesuai Semua outlet oksigen sudah Gap (Hasil vs Standa. Belum menyeluruh, ada kendala logistik Banyak ruang belum standar Gap besar pada lebar pintu & akses kursi roda Tidak ada gap Keterangan (Upaya dalam Pencapaia. Pengadaan & distribusi tirai terus dilakukan Aspek tersulit, butuh anggaran Perlu renovasi desain ulang Infrastruktur oksigen dinilai sudah siap Tabel 3 menunjukkan bahwa RSUD R. Notopuro telah berhasil memenuhi sebagian besar kriteria fisik utama KRIS, seperti bahan bangunan, kelengkapan tempat tidur, serta ketersediaan outlet oksigen. Adapun aspek yang masih memerlukan perbaikan terutama berkaitan dengan pencahayaan, ventilasi udara, dan aksesibilitas kamar mandi. Upaya yang dilakukan rumah sakit mencakup renovasi bertahap, pengadaan peralatan tambahan, dan perencanaan peningkatan sarana berdasarkan prioritas. Hasil ini menegaskan bahwa proses implementasi KRIS di RSUD R. Notopuro berjalan progresif, meskipun masih memerlukan dukungan sumber daya dan waktu untuk mencapai standar penuh. PEMBAHASAN RSUD R. Notopuro telah banyak menggunakan dinding bata dengan pelapis anti-jamur/anti-air, sehingga sebagian besar ruang rawat memenuhi kriteria bahan tidak berporositas tinggi. Material yang tidak menyerap kelembapan penting untuk pencegahan infeksi nosokomial dan kemudahan pembersihan. Temuan ini sejalan dengan studi tentang peran lingkungan dalam mengurangi risiko infeksi di fasilitas kesehatan (Shajahan et al. , 2. Manajemen perlu memprioritaskan renovasi kamar mandi yang tersisa dengan material low-porosity dan jadwalkan pemeliharaan preventif dan menggunakan pendekatan berbasis bukti untuk memilih material . ostAebenefit jangka Kriteria ventilasi udara sebesar 6 pergantian udara per jam (ACH) telah terpenuhi di RSUD R. Notopuro melalui kombinasi jendela terbuka dan pemasangan exhaust fan. Pramitha Nayana Librata. Rahmania Ambarika. Ratna Wardani : Pemenuhan Kriteria KRIS JKN A. Review terkini menunjukkan bahwa optimasi ventilasi . lami maupun mekani. meningkatkan pembuangan kontaminan udara dan mengurangi risiko infeksi nosokomial, terutama bila digabungkan dengan strategi desain lain. Hasil penelitian konsisten dengan temuan bahwa solusi ventilasi sederhana dan adaptif dapat efektif di konteks sumber daya terbatas (Nourozi et al. , 2. Manajemen perlu melakukan monitoring ACH berkala dan mempertimbangkan peningkatan ventilasi mekanis pada ruang berisiko tinggi serta menyediakan protokol pemeliharaan exhaust fan. Pencahayaan ruang rawat inap sebagian besar telah memenuhi standar 250 lux untuk aktivitas dan 50 lux untuk tidur, meskipun pengerjaannya masih dilakukan secara Pencahayaan dinilai sebagai prioritas kedua setelah ventilasi dan sanitasi. Pencahayaan yang memadai berdampak pada kenyamanan, pemulihan pasien, dan fungsi kerja staf. Penelitian menunjukkan konsistensi dengan literatur yang menyarankan prioritisasi intervensi (Shajahan et al. , 2. Manajemen perlu memprioritaskan area dengan kebutuhan klinis tinggi untuk peningkatan pencahayaan sambil mempertahankan kontrol terhadap efek pencahayaan malam untuk kenyamanan pasien ketika tidur. Temuan lapangan menunjukkan bahwa hampir seluruh tempat tidur pasien telah memenuhi kriteria KRIS, termasuk dua crank dan dua stop kontak tanpa percabangan. Pengadaan dilakukan secara mandiri melalui anggaran pemeliharaan, sedangkan pemenuhan nurse call masih berlangsung di beberapa ruang. Sistem nurse call berpengaruh pada waktu respons, keselamatan, dan kepuasan pasien karena meningkatkan efektivitas layanan (Galinato et al. , 2. Manajemen perlu mengaudit waktu respons nurse call, melatih staf respons, dan mempertimbangkan peningkatan sistem seperti alarm terintegrasi di ruang yang belum terpenuhi. Sebagian besar ruang rawat inap telah dilengkapi dengan nakas, namun beberapa unit belum memiliki fitur pengaman seperti kunci. Perabot non-medis yang dirancang untuk patient-centred care meningkatkan kenyamanan dan keselamatan dimana kualitas rendah dapat mengurangi fungsi adopsi layanan (Capodaglio, 2. Kekurangan pada fitur keamanan menunjukkan bahwa pemenuhan belum sepenuhnya optimal dan masih diperlukan peningkatan kualitas dalam pengadaan perabot non-medis agar selaras dengan prinsip patient-centered care. Manajemen perlu melakukan standarisasi spek pengadaan nakas berikut fitur keamanan. Semua ruang rawat inap telah dilengkapi AC dan pengukuran suhu dilakukan Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 303-315 secara berkala oleh Instalasi Pengelola Lingkungan. Meskipun secara teknis suhu ruangan telah memenuhi standar, beberapa pasien lanjut usia merasa kurang nyaman sehingga penggunaan AC disesuaikan. Temuan ini mengindikasikan perlunya pengelolaan yang fleksibel terhadap standar teknis agar tetap memperhatikan kenyamanan individual Keseimbangan antara standar layanan dan preferensi pasien menjadi tantangan tersendiri dalam implementasi KRIS. RSUD R. Notopuro telah melakukan pembagian ruang rawat berdasarkan jenis kelamin dan usia, namun belum sepenuhnya berdasarkan jenis penyakit infeksi dan noninfeksi. Beberapa informan menyampaikan bahwa ruang isolasi khusus telah tersedia namun terbatas. Pemisahan penyakit merupakan praktik pencegahan infeksi yang diakui oleh WHO namun memerlukan ruang isolasi dan sirkulasi pasien yang memadai (Shajahan et al. , 2. Manajemen dapat mengembangkan kebijakan triase dan penggunaan ruang fleksibel serta rencana investasi untuk ruang isolasi. Wawancara mendalam dengan para informan menunjukkan bahwa kepadatan ruang rawat inap di RSUD R. Notopuro Sidoarjo telah memenuhi standar maksimal empat tempat tidur per ruangan, dengan jarak antar tempat tidur yang memadai. Tempat tidur di ruang rawat sudah bersifat adjustable, dilengkapi dengan rel pengaman, dan mudah dibersihkan. Hasil ini diperkuat melalui observasi langsung dan kertas kerja KRIS yang menunjukkan nilai 100% pada indikator ini di ruang Tulip. Teratai. Mawar Kuning, dan Mawar Merah Putih. Namun, sebagian informan menyampaikan bahwa saat terjadi lonjakan pasien, ruang rawat bisa terasa lebih padat walaupun jumlah tempat tidur tidak Literatur menunjukkan bahwa kepadatan yang meningkat pada masa krisis memperburuk risiko infeksi dan menurunkan kualitas perawatan (Sari et al. , 2. Manajemen perlu merancang protokol surge capacity dan alternatif tempat tidur sementara agar standar tetap terjaga saat lonjakan. Seluruh ruang rawat inap RSUD R. Notopuro telah menggunakan tirai berbahan vinil atau poliester anti-air, terpasang pada rel di plafon. Tirai ini berfungsi sebagai partisi nonpermanen untuk menjaga privasi pasien tanpa mengganggu sirkulasi Berdasarkan hasil triangulasi dengan observasi dan dokumen, keempat ruang rawat telah memenuhi indikator ini secara optimal. Bahan non-pori yang mudah dibersihkan direkomendasikan untuk pengendalian infeksi (Shajahan et al. , 2. Informan menyatakan bahwa seluruh ruang rawat di RSUD R. Notopuro telah Pramitha Nayana Librata. Rahmania Ambarika. Ratna Wardani : Pemenuhan Kriteria KRIS JKN A. memiliki kamar mandi di dalam ruangan, yang memudahkan pasien dan mengurangi risiko kecelakaan. Desainnya dinilai cukup ramah pasien, meskipun terdapat masukan terkait pencahayaan dan peralatan mandi yang mulai aus. Berdasarkan data observasi dan evaluasi KRIS, semua ruang mencapai 100% pada indikator ini, dengan fitur seperti closet duduk, wastafel, dan ventilasi yang memadai. Studi ergonomi dan audit fasilitas menunjukkan bahwa banyak rumah sakit masih belum memenuhi persyaratan aksesibilitas praktis, kekurangan ini menghambat kemandirian pasien dan keselamatan (Monro & Mulley, 2. Berbeda dengan indikator lainnya, kriteria aksesibilitas kamar mandi belum terpenuhi secara merata. Hanya Ruang Tulip dan Mawar Merah Putih yang mencapai 100%, sementara Ruang Teratai dan Mawar Kuning masih memiliki keterbatasan, terutama pada akses kursi roda dan desain pintu. Informan menyebutkan bahwa permasalahan utama mencakup ukuran pintu, ketiadaan fasilitas untuk kursi roda besar, dan keterbatasan teknis akibat beban layanan tinggi serta kekurangan tenaga tukang Hasil wawancara dan dokumen pemenuhan KRIS menunjukkan bahwa seluruh ruang rawat telah memiliki outlet oksigen permanen di setiap tempat tidur, dengan pencapaian 100% pada seluruh ruang yang ditinjau. Para informan menegaskan bahwa fasilitas ini mendukung stabilitas pelayanan, khususnya pada pasien dengan gangguan Tidak ditemukan laporan gangguan teknis atau kekurangan suplai oksigen di ruang rawat. Ketersediaan oksigen permanen merupakan indikator kesiapan klinis, sehingga capaian 100% di RSUD ini termasuk kekuatan institusional yang signifikan (Graham et al. , 2. Informan mengidentifikasi sejumlah hambatan dalam proses pemenuhan KRIS, antara lain keterbatasan anggaran, tenaga teknis konstruksi, serta beban pasien yang Beberapa menyebutkan bahwa kebutuhan renovasi seringkali tidak dapat dilakukan sekaligus karena harus menyesuaikan jadwal pelayanan. Selain itu, ada juga kendala administratif dalam pengadaan material dan pelaporan indikator. Studi-studi lapangan di Indonesia juga melaporkan kendala serupa dalam penyesuaian infrastruktur terhadap KRIS (Arifin et al. , 2. Meskipun menghadapi sejumlah kendala, sebagian besar informan menyatakan bahwa manajemen RS telah melakukan persiapan secara bertahap dan sistematis, mulai Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 303-315 dari pendataan kebutuhan, pengajuan anggaran, hingga pelaksanaan renovasi fisik dan Manajemen mempertimbangkan urgensi dan skala prioritas dari masing-masing indikator KRIS. RSUD R. Notopuro menunjukkan kesiapan institusional yang baik, meski belum sepenuhnya ideal. Implementasi KRIS yang telah mencapai >90% di banyak indikator menunjukkan adanya arah kebijakan dan kepemimpinan yang mendukung transformasi mutu pelayanan rumah sakit secara berkelanjutan. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi pemenuhan 12 kriteria Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) JKN di RSUD RT. Notopuro Sidoarjo telah berjalan progresif, meskipun belum sepenuhnya sesuai target nasional. Beberapa kriteria struktural seperti bahan bangunan, ventilasi, kestabilan suhu ruangan, dan ketersediaan outlet oksigen telah terpenuhi dengan baik. Hanya beberapa aspek seperti pencahayaan dan kamar mandi yang masih memerlukan perbaikan. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen dan kesiapan manajerial rumah sakit sudah terlihat, namun diperlukan percepatan dalam realisasi anggaran dan sinergi antarunit. Sebagai saran, dukungan dari pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan sangat diperlukan, terutama dalam bentuk alokasi anggaran khusus dan pendampingan teknis untuk pemenuhan kriteria fisik yang membutuhkan renovasi besar. Manajemen rumah sakit disarankan menyusun roadmap implementasi KRIS yang lebih rinci, realistis, serta melakukan evaluasi berkala agar capaian dapat dimonitor secara tepat. Selain itu, pelibatan tenaga kesehatan dan pasien dalam sosialisasi manfaat KRIS penting untuk memperkuat kesadaran bersama. Penelitian lanjutan pasca-2025 juga perlu dilakukan untuk menilai dampak pemenuhan KRIS terhadap kualitas layanan, kepuasan pasien, dan efisiensi manajemen rumah sakit. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya terhadap RSUD RT Notopuro Sidoarjo yang menjadi tempat penelitian ini dilaksanakan. DAFTAR PUSTAKA