Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Sastra Wayang sebagai Alternatif dalam Pengajaran Sastra Indonesia Berbasis Kearifan Lokal pada era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity, dan Ambiguit. Albertus Prasojo Prodi Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Sebelas Maret ARTICLE INFO Article history: DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Sastra Wayang. Lokalitas Jawa. Alternatif era VUCA. Pengajaran Sastra ABSTRACT Tulisan ini membahas mengenai eksplorasi kearifan lokal pengajaran sastra Indonesia pada era VUCA melalui mata kuliah Sastra Wayang yang diterapkan di Prodi Sastra Indonesia. FIB Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Hadir dan berkembangnya trend VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity, dan Ambiguit. merupakan sebuh keniscayaan atas perkembangan teknologi dan budaya, sehingga memberikan pengaruh secara signifikan tak terkecuali dalam hal identitas. Tujuan dalam penulisan ini adalah. menjabarkan konteks Sastra Wayang sebagai alternatif kearifan lokal khususnya di wilayah Jawa, sebagai modal dalam narasi lokalitas pada era VUCA. Menjabarkan eksistensi Sastra Wayang sebagai bentuk lokalitas Jawa yang berkorelasi terhadap alternatif dalam menghadapi era VUCA. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriftif dengan menggunakan teori lokalitas, berkenaan dengan prinsip yang mengatur organisasi dan pemrosesan struktur berdasarkan kedekatan atau keeratan element penyusunnya. Hasil penelitian menunjukkan: . Berkaitan dengan konteks Wayang, terdapat relevansi antara sastra dan cerita pewayangan yang bersumber dari adaptasi baru atas cerita Epos ke dalam Wayang, yang dapat menghadirkan pemaknaan sebagai lokalitas di dalam cerita-cerita Eksistensi sastra Wayang sebagai bentuk lokalitas Jawa yang berkorelasi terhadap alternatif dalam menghadapi era VUCA, berkaitan dengan aspek kultural yang masih menjaga eksistensi pertunjukan Wayang, berikut dengan transformasi dalam bentuk lain seperti adaptasi dalam novel, sehingga menguatkan Wayang sebagai tuntunan hidup masyarakat Jawa pada umumnya. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Albertus Prasojo Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. Jebres. Kec. Jebres. Kota Surakarta. Jawa Tengah 57126. Indonesia Email: prasojo@staff. PENDAHULUAN Eksplorasi kearifan lokal pengajaran sastra Indonesia pada era VUCA melalui mata kuliah Sastra Wayang yang diterapkan di Prodi Sastra Indonesia. FIB. Universitas Sebelas Maret. Surakarta, merupakan alternative dalam menjaga identitas atas berbagai perkembangan yang marak sebagai konkesuensi perkembangan teknologi. Hadir dan berkembangnya trend VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity, dan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Ambiguit. seperti didefinisikan oleh Mohd Aris et. merupakan sebuh keniscayaan atas perkembangan teknologi dan budaya, sehingga memberikan pengaruh secara signifikan tak terkecuali dalam hal identitas. Oleh karena itu, disebabkan oleh identitas yang merupakan cerminan budaya suatu masyarakat yang perlu atau harus dipertahankan, penyelamatan berbagai aspek dengan mengedepankan lokalitas dari identitas tersebut, tak terkecuali dalam konteks generasi muda di Indonesia perlu untuk ditumbuhkembangkan. Tidak dimungkiri bahwasannya perkembangan teknologi berdampak terhadap konsekuensi atas Hal itu juga berkorelasi terhadap aspek sosial, disebabkan oleh tergantikannya peran dan posisi manusia oleh teknologi, dan berpengaruh terhadap karakteristik kemanusiaan. Dengan demikian, penanaman kembali konsep kemanusiaan kepada generasi muda termasuk melalui kurikulum pendidikan, perlu kembali digalakkan sehingga indentitas yang mereka miliki tetap relevan dengan karakteristik kebudayaan masyarakatnya, sehingga meminimalisasi terjadinya gagap budaya dan berdampak terhadap persoalan kemanusiaan pada umumnya. Berkaitan dengan kurikulum pengajaran sastra, perlu hadirnya nilai-nilai lokalitas sebagai penyeimbang dengan hadirnya teori-teori Barat, berikut dengan trend global yang berkembang akhir-akhir ini. Dalam konteks masyarakat Jawa, salah satu hal yang mungkin untuk kembali dihadirkan khususnya untuk mahasiswa Sastra Indonesia atau pun Fakultas Ilmu Budaya secara umum adalah adanya mata kuliah Sastra Wayang. Mata kuliah tersebut setidaknya telah diajarkan di beberapa kampus, termasuk di Prodi Sastra Indonesia. FIB UNS, dengan salah satu orientasinya, mahasiswa mampu memahami alur penceritaan Wayang dalam sebuah pementasan dengan harapan, mereka dapat mengambil hikmah dan nilai yang terkandung di Selain berkaitan dengan pementasan Wayang yang banyak dipentaskan di Kota Surakarta dan sekitarnya, kajian mata kuliah Sastra Wayang, juga dapat mengacu pada bentuk-bentuk transformasi ceritacerita di dalam pewayangan dengan berbagai bentuk kreativitas para sastrawan dalam memaknai cerita-cerita Tidak dimungkiri, terdapat beberapa karya sastra yang mengambil inspirasi cerita Wayang di dalam karyanya, seperti halnya novel Anak Bajang Menggiring Angin . karya Sindhunata. Hal itu memiliki signifikansi khususnya bagi mahasiswa yang tidak memahami bahasa Jawa dengan baik, sehingga mengalami kesulitan ketika menyaksikan pementasan Wayang untuk memahami isi dari cerita yang dipentaskan. Kajian terhadap pertunjukkan Wayang, antara lain dilakukan oleh Emerson . Era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity, dan Ambiguit. dengan berbagai kondisi lain yang merepresentasikan hal tersebut seperti era disrupsi dan lainnya, memilik relevansi dengan kecepatan informasi dan kondisi kehidupan yang di sisi lain menghadirkan AukebingunganAy dan ketidakpastian. Oleh karena itu, dengan keterombangambingan kondisi yang tentu erat dengan ciri postmodern yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan kehadiran internet, menjadikan berbagai hal baru yang mungkin hadir dalam kehidupan masyarakat. Hal itu tentu berdampak terhadap berbagai representasi identitas yang AuberkejaranAy dan tidak dimungkiri menjadi bagian dari referensi identitas bagi generasi muda di Indonesia saat ini. Trend musik dan film Korea yang sedemikian berkembang dan mudah diakses, tentu telah banyak menggeser paradigma anak muda atas identitas dan banyak di antara mereka telah terpengaruh dan meninggalkan nilai-nilai kultural . yang mereka miliki. Dengan demikian, menghadirkan representasi identitas lokal dalam sistem pendidikan untuk mereka, merupakan salah satu cara untuk menjaga dan memperkuat identitas kultural dalam diri mereka. Berkaitan dengan permasalahan-permasalahan di atas, menghadirkan konteks lokalitas dalam kurikulum pendidikan merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. Sekalipun globalisasi dan modernitas merupakan Audua mata pedangAy yang sama tajamnya dan tak terelakkan, akan tetapi menjaga dan menghadirkan kembali lokalitas untuk generasi muda merupakan suatu yang wajib, terlebih dengan adanya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017, yang mengatur tentang pelestarian dan pegembangan kebudayaan di Indonesia. Terlebih untuk mahasiswa Prodi Sastra Indonesia ataupun Fakultas Ilmu Budaya pada umumnya, hal itu akan memperkuat identitas mereka yang diharapkan mampu berperan sebagai AyagenAy atas pemertahanan lokalitas dalam konteks modernitas dan globalisasi yang marak dewasa ini. Dengan berbagai permasalahan dan argumentasi di atas, tulisan ini akan membahas mengenai sastra Wayang sebagai alternatif referensi identitas lokal melalui mata kuliah dalam pengajaran di Prodi Sastra Indonesia. FIB. UNS, yang diharapkan dapat menjadi penguat indentitas lokalitas mahasiswa sebagai generasi muda dalam era VUCA yang serba cepat dan AumembingungkanAy. Teori Penelitian Yunus . 4: . menjelaskan kearifan lokal merupakan budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu dan mampu bertahan dalam menghadapi arus globalisasi, karena kearifan lokal mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter masyarakatnya. Lebih lanjut. Yunus . untuk tetap bisa bertahan, kearifan lokal harus bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman. Akan tetapi, tidak hanya cukup dengan mengikuti perubahan zaman, melainkan harus mempunyai tujuan dalam masyarakat. Hal Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X itu dikarenakan kearifan lokal harus bisa merepresentasikan masyarakatnya dan menjadi panutan dalam masyarakat dengan berorientasi pada nilai-nilai yang ada di dalam kearifan lokal itu sendiri. Sedangkan menurut Rosidi . 1: . kearifan lokal adalah kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada saat kedua kebudayaan saling berhubungan. Berkaitan dengan konseptualisasi teori atas definisi kearifan lokal di atas, sastra Wayang juga meurpuakan salah satu representasi kearifan lokal. Meski secara genealogi cerita wayang bersumber dari kitabkitab India seperti Ramayana dan Mahabarata, akan tetapi telah terjadi tafsir dan modifikasi di dalam Wayang. Terlebih, sastra Wayang yang dimaksud bermakna luas, tidak serta merta berkaitan dengan pertunjukkan Wayang Kulit di Jawa, tetapi termasuk bentuk-bentuk transformasinya khususnya dalam ranah sastra dengan hadirnya karya-karya sastra yang bersumber dari cerita pewayangan. METODE PENELITIAN Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif sebagaimana dikemukakan oleh Moleong . dan Creswell . Sedangkan Faruk . , menjelaskan bahwasannya metode penelitian berkaitan dengan upaya memberikan pemaknaan terhadap nilai-nilai yang tidak dimunculkan oleh data-data secara langsung, dengan menggunakan variable hipotesis dan teoretis. Sumber data dalam penelitian ini adalah kurikulum dalam bentuk RPS pengajaran mata kuliah Sastra Wayang, yang diajarkan di Prodi Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Sebelas Maret. Data dalam penelitian ini adalah kontekstualisai sastra Wayang yang merepresentasikan bentuk kearifan lokal sebagai standard capaian yang harus dipahami oleh mahasiwa dalam mata kuliah tersebut. Langkah-langkah penelitian ini meliputi: . menjabarkan konteks sastra Wayang sebagai alternatif kearifan lokal khususnya di wilayah Jawa, sebagai modal dalam narasi lokalitas pada era VUCA. Menjabarkan eksistensi sastra Wayang sebagai bentuk lokalitas Jawa yang berkorelasi terhadap alternatif dalam menghadapi era VUCA. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai hasil dan pembahasan penelitian. Hal itu tentu berkorelasi dengan permasalahan dan tujuan dalam penelitian ini yaitu berkaitan dengan kontekstualisasi kondisi VUCA atas trend berbagai referensi budaya luar yang mengejawantah sebagai bagian kebudayaan lokal yang tidak Selain itu, pada bagian ini juga akan dielaborasi berkaitan dengan keberadaan sastra Wayang yang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam pengajaran sastra untuk prodi-prodi yang berbasis pada aspek kebahasaan, kesusastraan, atau kebudayaan pada umumnya, seperti halnya prodi bahasa dan sastra, maupun prodi pendidikan bahasa dan sastra. Pada bagian kontekstualisasi kondisi VUCA bagi generasi muda di Indonesia, akan dijabarkan faktor atau penjelasan atas kondisi tersebut termasuk yang terjadi di Indonesia. Akan dibahas mengenai aspek teoreris yang relevan dengan kondisi tersebut dan barang tentu berkorelasi terhadap trend global termasuk pada persoalan akses atas kondisi humanitas tersebut. Sedangkan pada bagian selanjutnya, mengenai keberadaan mata kuliah Sastra Wayang yang diterapkan di Prodi Sastra Indonesia. FIB UNS, dan akan dijabarkan mengenai relevansi keberadaan mata kuliah dengan upaya pemertahanan identitas lokalitas dalam diri mahasiswa. Harapannya, akan memosisikan mereka sebagai AuagentAy dalam upaya pemertahanan identitas lokal dibandingkan terbawa arus atas trend budaya luar yang begitu marak akhir-akhir ini. Kontekstualisasi Kondisi VUCA bagi Generasi Muda di Indonesia Jean Francoys-Lyotard dalam Sim . , menjelaskan kondisi nir-manusia, yang mana manusia akan kehilangan sisi-sisi kemanusiaannya, atas dasar kondisi pascamodern. Dalam hal ini, kondisi tersebut didasarkan pada persoalan hadirnya modernitas dengan berbagai dampak yang dihadirkan, baik melalui kehadiran listrik dengan potensi turunannya seperti halnya alat elektronik, yang memungkinkan sebagai langkah awal dalam melakukan akses atas sumber-sumber informasi lain. Kondisi tersebut sering kali berdampak terhadap kemungkinan akses terhadap nilai-nilai di luar diri masyarakat atau budaya setempat, sehingga memungkinkan hilangnya nilai nilai lokalitas dan berganti dengan nilai humantitas lain yang sering kali artifisial. Berkaitan dengan penjabaran di atas, kondisi VUCA yang sebenarnya merupakan representasi lain atas kondisi pascamodern dan istilah-istilah muthakhir lainnya yang merepresentasikan kondisi perubahan konsep humanitas yang didasarkan pada persoalan perkembangan teknologi, menggambarkan kodisi yang Volatility . Uncertainty . Complexity . , dan Ambiguity . , merupakan kondisi yang serba membingungkan atas gegap gempita era disrupsi yang serba cepat dan sedemikian dinamis sehingga sulit untuk memetakan pola yang terjadi. Oleh karena itu, alih-alih perlu menjadi bagian trend yang terus berubah atas berbagai support yang hadir atas berbagai presentasi modernitas tersebut, kiranya perlu adanya kontrol yang mengedepankan asas pemertahanan budaya lokal yang selain berorientasi pada penyelamatan, juga berkaitan sebagai filter untuk kontrol terhadap kondisi humanitas yang terus berkembang atas trend-trend tersebut. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Berkaitan dengan sistem pendidikan di kampus, perlu perencanaan matang dengan keberadaan mata kuliah yang merepresentasikan kontekstualisasi atas keberadaan lokalitas yang berpotensi dalam melakukan kontrol identitas terhadap trend globalisasi yang masif. Dalam hal ini, kontekstualisasi tersebut berhubungan dengan referensi lokal yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kesejarahan masyarakat setempat dan sekiranya merepresentasikan aspek humanitas sebagai referensi untuk melakukan kontrol terhadap representasi humanitas lain yang terus menggerus identitas lokal yang dimiliki oleh masyarakat. Bahkan, kondisi tersebut sangat relevan apabila diterapkan dalam lingkup prodi atau fakultas yang memiliki relevansi dengan kajian-kajian humanitas. Selain sebagai bentuk implementasi kebijakan, hal itu juga memudahkan dalam implementasi mata kuliah karena ketertarikan yang mungkin dimiliki didasarkan pada kecenderungan kajian keilmuwan yang relevan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwasannya implementasi mata kuliah sastra Wayang yang pada kenyataannya memiliki potensi dalam mendekatkan para mahasiswa yang bergelut dalam dunia sastra sangat relevan untuk diimplemetasikan. Faktanya beberapa prodi sastra Indonesia di berbagai perguruan tinggi telah/pernah mengimplementasikan mata kuliah tersebut sebagai bagian dari kurikulum yang diajarkan. Selain mata kuliah tersebut diterapkan di FIB UGM, saat ini Prodi Sastra Indonesia. FIB UNS juga menerapkan mata kuliah tersebut dengan tujuan yaitu mendekatkan kembali generasi muda yaitu para mahasiswa terhadap aspek lokalitas masyarakat (Jaw. sebagai patron kebudayaan dari kampus tersebut, yang harapannya dapat menguatkan jati diri mereka sebagai bagian dari budaya tersebut, atas gempuran budaya luar yang semakin menguat atas berbagai saluran yang menaunginya. Mata kuliah tersebut diharapkan dapat menjadi penguat identitas sekaligus filterisasi atas modernitas melalui wadah globalisasi dengan trend-trend budaya luar baik bersumber dari Barat, maupun Asia Timur yang saat ini menjadi Aupenguasa baruAy pada era pascamodern sebagai istilah lain dari era VUCA. Sastra Wayang: Referensi Kearifan Lokal Pengajaran Sastra Era VUCA di Indonesia Mata kuliah Sastra Wayang, diprogramkan untuk semester 6, mahasiswa pembidangan Sastra. Mata kuliah tersebut memiliki beban 2 SKS, dengan sistem perkuliahan 14 pertemuan untuk teori, 1 pertemuan UTS, dan 1 pertemuan UAS. Meski tidak ada beban SKS untuk praktik lapangan, namun mahasiswa diwajibkan melakukan penelitian lapangan, khususnya dalam menyaksikan pementasan Wayang Kulit, yang banyak dipentaskan di Kota Surakarta. Berkaitan dengan deskripsi mata kuliah. Sastra Wayang mempelajari berbagai lakon atau cerita wayang dari tradisi Mahabarata dan Ramayana hingga transformasi dalam Sastra Jawa dan Sastra Indonesia. Selain itu, sekarang kemunculan seni pertunjukan wayang dan perkembangan wayang dalam konteks estetika dan cerita yang dipetakan dalam mata kuliah ini. Sedangkan dalam hal Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) melalui perkuliahan dalam mata kuliah Sastra Wayang, mahasiswa mampu mempelajari berbagai lakon atau cerita wayang dari tradisi Mahabarata dan Ramayana hingga transformasi dalam Sastra Jawa dan Sastra Indonesia. Selain itu, mahasiswa juga mampu memelajari sejarah kemunculan seni pertunjukan Wayang dan perkembangan wayang dalam konteks estetika dan cerita. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, mahasiswa diwajibkan menyaksikan pertunjukan Wayang Kulit yang banyak disuguhkan di Kota Surakarta. Beberapa agenda pertunjukan Wayang Kulit yang ada di Kota Surakarta, antara lain adalah pada setiap malam Jumat Kliwon, yang dipentaskan di Taman Budaya Provinsi Jawa Tengah, dengan berbagai variasi dalang dengan gaya . yang variatif, yang mencakup administrasi provinsi Jawa Tengah. Event lain yang juga ada di Kota Surakarta adalah peringatan Hari Wayang Dunia (HWD) yang digagas dan diselenggarakan oleh ISI Surakarta. Selain menyaksikan berbagai pementasan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan secara mandiri oleh masyarakat di kawasan Kota Surakarta, para mahasiswa juga dapat menyaksikan transformasi cerita Wayang dalam bentuk Wayang Orang Sriwedari yang merupakan salah satu identitas kultural yang ikonik di Kota Surakarta, dengan jadwal pementasan mulai pukul 30 WIB, pada setiap hari Seni hingga Sabtu. Transformasi cerita Wayang baik melalui naskah Ramayan dan Mahabarata, juga banyak terdapat dalam berbagai karya sastra, baik dalam khasanah Sastra Jawa maupun dalam khasanah Sastra Indonesia. Salah satu karya paling fenomenal berkaitan dengan transformasi cerita Wayang dalam dunia sastra adalah novel berjudul Anak Bajang Menggiring Angin karya Romo Sindhunata. Novel tersebut terinspirasi dari cerita Wayang dari kitab Ramayana. Adapun dokumentasi bagian sampul dan foto pengarang dari karya tersebut adalah sebagai berikut. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Berkaitan dengan relevansi Sastra Wayang atas era VUCA, seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa konteks mata kuliah tersebut berkorelasi dengan upaya pemertahanan identitas kultural masyarakat Indonesia/Jawa dalam wadah institusi Universitas Sebelas Maret. Orientasi dari pengajaran tersebut adalah sebagai bentuk pemertahanan indentitas dan filterisasi atas berbagai referensi kemanusiaan yang baru, yang lambat laun menggerus konsep kemanusiaan dan jati diri Indonesia. Hal itu setipe dengan konsep antihumanisme dalam terminologi pascahumanisme, dengan adanya kritik kemanusiaan dalam nilai-nilai tradisi yang dihadirkan oleh konsep global dan berusaha memberikan definisi/menggantikan nilai-nilai kemanusiaan lokal dengan nilai-nilai kemanusiaan yang baru atas dasar trend modernitas, seperti halnya dikemukakan oleh Ferrando . Relevansi mata kuliah Sastra Wayang dalam konteks VUCA, diharapkan dapat memberikan insight kepada para mahasiswa atas identitas dan kebanggaan mereka terhadap jati diri mereka sebagai bangsa. Sekalipun pertunjukkan Wayang yang bersumber dari naskah-naskah India seperti Ramayana dan Mahabarata, akan tetapi pada kenyataannya telah terjadi delokalisasi dengan berbagai tafsir dan modifikasi dalam cerita Harapannya, mata kuliah Sastra Wayang dapat memberikan inspirasi bagi entitas kebudayaan lain, untuk menghadirkan mata kuliah berbasis lokalitas sebagai upaya kontrol terhadap trend modernitas pada era VUCA yang sedemikian cepat transisinya dan menghadirkan gagap budaya. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X KESIMPULAN Berkaitan dengan konteks cerita Wayang Kulit, terdapat relevansi antara sastra dan cerita pewayangan yang bersumber dari adaptasi atas cerita epos Ramayana dan Mahabarata ke dalam Wayang, yang dapat menghadirkan pemaknaan sebagai lokalitas di dalam cerita-cerita tersebut. Wayang sebagai sumber falsafah hidup orang Jawa, terdapat aspek-aspek humanitas yang seyogyanya menjadi insight atau pegangan hidup masyarakatnya secara berkesinambungan. Dengan demikian, pelestarian konsep cerita Wayang kepada generasi muda, perlu untuk terus ditumbuhkembangkan seiring dengan hinggar binggar trend modernitas yang berdampak salah satunya maraknya trend budaya luar di Indonesia. Eksistensi sastra Wayang sebagai bentuk tuntutan hidup dalam lokalitas Jawa, berkorelasi terhadap alternatif dalam menghadapi era VUCA. Berkaitan dengan aspek kultural yang masih menjaga eksistensi pertunjukan Wayang, berikut dengan transformasi dalam bentuk lain seperti adaptasi dalam novel, sehingga menguatkan Wayang sebagai tuntunan hidup masyarakat Jawa pada umumnya. Era VUCA yang dikenal dengan kondisi kehidupan yang serba cepat dan determinatif, berpotensi menggerus bahkan menggantikan suatu konsep kebudayaan, yang kenyataannya humanitas tersebut merupakan representasi lokalitas dan identitas Dengan demikian, mata kuliah Sastra Wayang sebagai salah satu bentuk relevansi antara tradisi dan kurikulum perkuliahan, diharapkan dapat menjadi solusi atas potensi tercerabutnya nilai-nilai lokalitas generasi muda, dan sekaligus menjadikan mereka sebagai AuagenAy atas estafet kebudayaan yang semestinya terus kerlenjutan dan berkesinambungan. Pengimplementasian mata kuliah Sastra Wayang yang diajarkan di Prodi Sastra Indonesia. FIB UNS, menunjukkan bahwa kehadiran mata kuliah tidak serta harus berkorelasi dengan modernitas maupun konsepikonsepsi pemikiran Barat. Mahasiswa perlu lebih jauh mengenali identitas atas keberagaman lokalitas di Indonesia, yang sejatinya adiluhung dan memiliki kekayaan yang luar biasa. Mereka diharapkan memiliki kebanggaan atas berbagai representasi identitas nasioanal yang pada kenyataannya bersumber dari puncakpuncak identitas dan budaya daerah, yang barang tentu menghadirkan signifikansi dan menjadi pembeda antara bangsa yang satu dengan bangsa lainnya, yaitu kebhinekaan keindonesiaan yang justru kuat dengan representasi identitas lokalitasnya sebagai bentuk falsafah hidup dan jati diri bangsa. DAFTAR PUSTAKA