JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1084-1095 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah HUBUNGAN KESADARAN METAKOGNITIF DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TEKS HIKAYAT Rifchan Gani1. Dina Ramadhanti2. Ricci Gemarni Tatalia3 1,2,3 Universitas PGRI Sumatera Barat. Indonesia Email: rifchan. gani@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 June 2025 Final Revised: 11 July 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 24 September 2025 Keywords: Relationships Metacognitive Stories Education ABSTRACT Learning hikayat texts at the high school level aims to shape students' character through understanding life values. One of the contributing factors is low metacognitive awareness, namely students' ability to manage, monitor, and evaluate thought processes while reading. This study aims to determine the relationship between metacognitive awareness and the ability to understand values in hikayat texts of grade X Phase E students of SMA Pertiwi 1 Padang. This study uses a quantitative approach with a correlational method. The study population was all grade X Phase E students of SMA Pertiwi 1 Padang in the 2024/2025 academic year. A sample of 30 people was determined using a simple random sampling technique. Data collection was carried out using two instruments, namely a metacognitive awareness questionnaire and a multiple-choice test to measure understanding of values in hikayat texts. The results of data analysis showed that the level of students' metacognitive awareness was in the high category with an average percentage of Meanwhile, students' ability to understand the values of the fable text is also classified as high with an average value of 81. The results of the Pearson correlation test show a positive and significant relationship between metacognitive awareness and the ability to understand the values of the fable text, as evidenced by the calculated t value > t table . 11 > 1. ABSTRAK Pembelajaran teks hikayat di jenjang SMA bertujuan membentuk karakter siswa melalui pemahaman nilai-nilai kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesadaran metakognitif dengan kemampuan memahami nilai-nilai dalam teks hikayat siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang tahun ajaran 2024/2025. Sampel sebanyak 30 orang ditentukan dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan dua instrumen, yaitu angket kesadaran metakognitif dan tes pilihan ganda untuk mengukur pemahaman terhadap nilai-nilai dalam teks hikayat. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tingkat kesadaran metakognitif siswa berada pada kategori tinggi dengan rata-rata persentase sebesar 71,50%. Sementara itu, kemampuan siswa dalam memahami nilai-nilai teks hikayat juga tergolong tinggi dengan nilai rata-rata sebesar 81,53. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kesadaran metakognitif dan kemampuan memahami nilai-nilai teks hikayat, dibuktikan dengan nilai thitung > ttabel . ,11 > 1,. Kata kunci: Hubungan. Metakognitif. Hikayat. Pendidikan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat PENDAHULUAN Pembelajaran sastra di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan kompetensi kebahasaan siswa, tetapi juga untuk membentuk karakter melalui pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Salah satu teks sastra yang dipelajari adalah teks hikayat yang dikenal sebagai karya sastra lama yang sarat dengan nilai-nilai moral, sosial, dan religius (Nurgiyantoro, 2. Siswa dapat mengenali beragam karakter dari cerita dan pola kehidupan masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Dengan mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam teks diharapkan siswa dapat mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dalam rangka pembentukan karakter. Pembelajaran memahami nilai-nilai terkandung dalam teks hikayat secara lebih khusus dipelajari siswa di Kelas X Fase E, khususnya pada elemen membaca dan memirsa. Dalam kurikulum, bunyi Capaian Pembelajaran (CP) dalam elemen membaca dan memirsa yaitu mendorong siswa untuk memahami isi dan pesan moral dalam berbagai jenis teks sastra klasik yang bertujuan untuk membentuk karakter serta memperluas wawasan kebudayaan siswa. Hal tersebut secara khusus dijabarkan dalam tujuan pembelajaran yaitu siswa dapat mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat, seperti nilai moral, nilai sosial, nilai budaya, nilai religius, dan nilai pendidikan serta mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat juga dipelajari oleh siswa Kelas X Fase E di SMA Pertiwi Padang. Siswa mengenal teks hikayat melalui proses membaca dan mengenali struktur yang membangun teks, menganalisis isi cerita dan tokoh serta mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam teks, dan menyimpulkan nilai-nilai yang terkandung serta relevansinya dalam kehidupan sehari. Pembelajaran yang dilakukan menunjukkan keberagaman kemampuan siswa dalam mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Beberapa siswa hanya mampu menangkap pesan-pesan yang tersirat dalam teks, sementara sebagian siswa yang lain hanya mampu memahami cerita semata dan cenderung mengabaikan nilai-nilai yang Hal ini menunjukkan tujuan pembelajaran belum tercapai. Informasi yang diperoleh dari guru menunjukkan bahwa siswa kesulitan memahami teks hikayat karena beberapa sebab, yaitu: Pertama, minimnya strategi membaca sehingga siswa kesulitan memahami isi bacaan dan tidak dapat menangkap makna dari teks yang Kedua, perbedaan kosakata dalam teks hikayat dengan kosakata yang umumnya dikenal siswa saat ini sehingga siswa kesulitan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Ketiga, kompleksitas teks hikayat yang berbeda dengan teks biasa yang menyebabkan siswa kesulitan memahami makna dari teks. Informasi dari siswa menunjukan bahwa mereka mengakui bahwa kosakata yang digunakan dalam teks hikayat terlalu sulit mereka Kesulitan memahami teks hikayat pada dasarnya bukan hanya pada soal keterbatasan bahasa dan isi bacaan semata, melainkan juga karena lemahnya kesadaran metakognitif. Siswa yang tidak menyadari proses berpikirnya sendiri saat membaca akan cenderung membaca secara pasif. Berbeda dengan siswa yang menyadari proses berpikirnya akan lebih mampu mengontrol cara mereka membaca dan memahami sehingga mereka lebih efektif dalam menggali makna dan nilai dari teks yang mereka baca. Siswa perlu melatih dan menyadari proses berpikirnya sendiri untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Selain itu, keberagaman kemampuan siswa dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat perlu ditelaah untuk mengetahui faktor-faktor yang mungkin Faktor eksternal seperti strategi pembelajaran dan media pembelajaran Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat yang digunakan guru selama ini terbukti membentuk pemahaman siswa terhadap Akan tetapi, faktor internal dari siswa juga perlu menjadi perhatian. Salah satu faktor internal yang relevan dengan proses memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat adalah kesadaran metakognitif. Menurut Flavel . , kesadaran metakognitif mencakup kesadaran tentang proses berpikir sendiri, serta kemampuan mengontrol dan mengevaluasi proses tersebut. Tanpa kesadaran metakognitif, siswa akan kesulitan memahami sesuatu dan tidak mengetahui cara mengatasi kesulitan tersebut. Dalam pembelajaran memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat, kesadaran metakognitif juga menjadi faktor penting karena dapat membantu siswa mengidentifikasi bagian teks yang membingungkan. siswa dapat mengetahui strategi yang tepat saat membaca, misalnya membaca ulang, membuat catatan, menggarisbawahi informasi penting, atau merangkum. dan siswa mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang isi teks sehingga dapat menjembatani kesenjangan makna saat Sejalan dengan pendapat tersebut. OAoNeil & Brown . alam Romli, 2. juga menyatakan bahwa metakognisi adalah proses yang digunakan individu untuk mempertimbangkan pemikirannya guna mengembangkan teknik pemecahan masalah secara Siswa yang memiliki kesadaran metakognitif yang baik cenderung mampu memilih strategi belajar yang tepat, sehingga pemahamannya terhadap teks menjadi lebih optimal. Kesadaran metakognitif mencakup dua komponen utama, yaitu pengetahuan metakognitif dan regulasi/strategi metakognitif (Schraw & Moshman . Schraw & Dennison . Pengetahuan metakognitif meliputi kesadaran tentang tugas . engetahuan deklarati. , strategi . engetahuan prosedura. , dan kondisi belajar . engetahuan Sementara itu, regulasi/strategi metakognitif mencakup kemampuan merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses berpikir. Dalam konteks membaca teks hikayat, siswa yang memiliki kesadaran metakognitif akan lebih mampu mengelola pemikirannya untuk memahami makna eksplisit dan implisit dalam teks, serta mampu mengaitkanya dengan pengalaman dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Beberapa penelitian menunjukkan pentingnya kesadaran metakognitif dalam Zhang & Seepho . menemukan bahwa siswa dengan tingkat kesadaran metakognitif tinggi menunjukkan kinerja pemahaman bacaan yang lebih baik termasuk dalam memahami isi dan nilai dalam teks naratif dan sastra. Serpara. , et al,. menemukan bahwa semakin tinggi kesadaran siswa terhadap strategi metakognitifnya, semakin baik kemampuan mereka dalam memahami bahasa Jerman Selain itu, kesadaran metakognitif berperan dalam penggunaan strategi membaca dan kemampuan menyaring informasi secara relevan. Handayani. , et al,. , dalam hal pemahaman bacan, siswa yang memiliki kesadaran metakognitif tinggi cenderung memiliki hasil lebih baik dalam pemahaman bacaan (Zohar & Dori, 2. dan pembaca yang sukses adalah mereka yang secara aktif memantau pemahamannya dan melakukan perbaikan saat mengalami kebingungan (Preeley & Afflerbac. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian yang mengkaji tentang hubungan antara kesadaran metakognitif dengan pemahaman bacaan lebih banyak dilakukan pada teks-teks faktual bukan pada teks sastra seperti hikayat. Padahal, memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks sastra khususnya hikayat juga memerlukan kemampuan interpretasi yang kompleks dan keterlibatan emosional yang melibatkan aspek metakognitif. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, penelitian ini perlu dilakukan untuk membuktikan apakah terdapat hubungan antara kemampuan metakognitif dengan kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa Kelas X Fase E Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat SMA 1 Pertiwi Padang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional, yaitu metode yang bertujuan untuk menguji hubungan antara dua variabel, yaitu kesadaran metakognitif sebagai variabel bebas (X) dan kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat sebagai variabel terikat (Y). Penelitian kuantitatif dipilih karena data yang diperoleh berupa angka dan dianalisis secara statistik untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Menurut Darmawan . , penelitian kuantitatif merupakan metode perolehan pengetahuan yang menggunakan data numerik sebagai sarana memperoleh informasi. Sugiyono . menyatakan bahwa penelitian kuantitatif digunakan untuk mengkaji populasi atau sampel dengan menggunakan instrumen pengumpulan data dan analisis statistik, serta bertujuan untuk menguji hipotesis. Oleh karena itu, pendekatan kuantitatif dianggap sesuai dengan tujuan penelitian ini, yakni untuk mengetahui signifikansi hubungan antara kesadaran metakognitif siswa dengan kemampuannya memahami nilainilai dalam teks hikayat. Metode korelasional yang digunakan bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan, kekuatan hubungan, dan makna hubungan antara kedua variabel. Arikunto . menyebutkan bahwa penelitian korelasional berfungsi untuk mengukur seberapa erat hubungan antara dua variabel, sedangkan Sudjana . menjelaskan bahwa analisis korelasi digunakan untuk mengetahui kekuatan dan arah hubungan antar variabel. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang. Populasi ini dipilih karena siswa kelas X berada dalam fase perkembangan kognitif yang mendukung kegiatan membaca, menalar, dan menganalisis teks sastra, khususnya Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara acak tanpa mempertimbangkan stratifikasi tertentu dalam Menurut Sugiyono . , teknik ini memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel. Uji normalitas dan homogenitas dilakukan berdasarkan nilai hasil belajar siswa pada materi teks hikayat. Dari hasil uji tersebut, diperoleh dua kelas yang memenuhi syarat, yaitu Kelas X E6 dan X E9. Selanjutnya, pengundian dilakukan untuk menentukan kelas uji coba dan kelas sampel. Berdasarkan hasil pengundian. Kelas X E9 ditetapkan sebagai kelas uji coba, sementara Kelas X E6 sebagai kelas sampel utama, dengan jumlah masing-masing 26 dan 30 siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil hasil penelitian yang diperoleh dari dua instrumen, yaitu angket kesadaran metakognitif dan tes objektif pemahaman nilai-nilai dalam teks hikayat. Data yang dianalisis berasal dari siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang. Analisis dilakukan untuk menjawab rumusan masalah serta menguji hipotesis mengenai hubungan antara kesadaran metakognitif dan kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Penyajian hasil diawali dengan deskripsi data masing-masing variabel penelitian, kemudian dilanjutkan dengan analisis hubungan kedua variabel melalui uji statistik. Setiap bagian dalam pembahasan dikaitkan dengan teori dan temuan penelitian sebelumnya guna memperkuat interpretasi data. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat Tingkat Kesadaran Metakognitif Siswa Berdasarakan hasil analisis data, tingkat kesadaran metakognitif siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang secara keseluruhan berada pada kategori tinggi dengan rata-rata 71,50%. Persentase tiap indikator dan subindikator adalah sebagai berikut: Tabel 1. Tingkat Kesadaran Metakognitif Siswa Kelas X Fase E SMA Pertiwiw 1 Padang Indikator Kesadaran Metakognitiif . ,50%) Pengetahuan Metakognitif Pengetahuan Deklaratif Pengetahuan Prosedural Pengetahuan Kondisional Strategi Metakognitif Strategi Perencanaan Strategi Pemantauan Strategi Evaluasi Presentase (%) 73,89 78,33 69,58 73,75 69,91 69,00 72,35 66,30 Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Teks Hikayat Kemampuan siswa dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat juga berada pada kategori tinggi dengan rata-rata 81,53. Berdasarkan rata-rata (M) kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat dari keseluruhan indikator tergolong baik sekali karena rata-rata hitung berada pada tingkat penguasaan 8695% pada skala 10. Persentase capaian untuk masing-masing indikator nilai adalah sebagai Tabel 2. Kemapuan Memahami Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Teks Hikayat Siswa Kelas X Fase E SMA Pertiwiw 1 Padang Indikator Nilai Moral Nilai Religius/Agama Nilai Sosial Nilai Budaya Nilai Pendidikan Rata-Rata 81,67 73,33 78,33 91,67 Kategori Baik Lebih Dari Cukup Cukup Baik Baik Sekali Berdasarkan tingkat penguasaan kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa pada keseluruhan indikator. Pertama, siswa yang berada pada penguasaan . -95%) ada 10 orang siswa. Kedua, siswa yang tingkat penguasaan . -85%) ada 14 orang siswa. Ketiga, siswa yang berada pada tingkat penguasaan . -75%) ada 6 orang siswa. Dapat di deskripsikan dalam bentuk diagram berikut. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat Gambar 1. Diagram Kemampuan Memahami Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Teks Hikayat Selanjutnya hasil uji korelasi Pearson antara kesadaran metakognitif dengan kemampuan memahami nilai-nilai dalam teks hikayat menunjukkan nilai r = 0,699 dan signifikansi sebesar 0,000 . < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kedua variabel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kesadaran metakognitif siswa, maka semakin tinggi pula kemampuan mereka dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Pembahasan Pada sub bagian ini akan diuraikan tiga hal berikut. Pertama, kesadaran metakognitif siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang. Kedua, kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang. Ketiga, hubungan kesadaran metakognitif dengan kemampuan memahmi nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang. Kesadaran Metakognitif Siswa Kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang Kesadaran metakognitif siswa kelas x fase e SMA pertiwi 1 padang dilihat dari Pada tingkat kesadaran metakognitif siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang berdasarkan hasil analisis data memperoleh keseluruhan sekitar 71,50%. Mengacu pada tabel penafsiran skor menurut Riduwan . , nilai tersebut termasuk dalam kategori Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum siswa telah memiliki kemampuan yang baik dalam menyadari serta mengendalikan proses berpikir dan belajarnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Flavell. , yang menyatakan bahwa metacognition refers to the knowledge about and regulation of oneAos own cognitive processes, yaitu kesadaran seseorang atas apa yang ia pikirkan dan bagaimana cara mengelola pikirannya secara efektif dalam kegiatan belajar. Selanjutnya, tingkat kesadaran metakognitif per siswa berdasarkan hasil analisis data juga menunjukkan variasi yang signifikan. Berdasarkan klasifikasi skor, diperoleh sebaran capaian sebagai berikut. Pertama, skor 51 dicapai oleh 1 orang siswa dengan persentase 85%, yang tergolong dalam kategori sangat tinggi. Kedua, skor 50 dicapai oleh 1 orang siswa . %), juga termasuk kategori sangat tinggi. Ketiga, skor 49 dicapai oleh 1 orang siswa . %), dengan kategori sangat tinggi. Keempat, skor 48 dicapai oleh 3 orang Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat siswa . %) yang termasuk kategori tinggi. Kelima, skor 46 dicapai oleh 2 orang siswa . %) dalam kategori tinggi. Keenam, skor 45 dicapai oleh 1 orang siswa . %) dan ketujuh, skor 44 oleh 1 orang siswa . %), keduanya masuk dalam kategori tinggi. Kedelapan, skor 43 dicapai oleh 4 orang siswa . %) dan kesembilan, skor 42 oleh 1 orang siswa . %), juga termasuk kategori tinggi. Selanjutnya, kesepuluh, skor 41 diperoleh oleh 5 orang siswa dengan persentase 68%, yang berada dalam kategori tinggi. Kesebelas, skor 40 dicapai oleh 1 orang siswa . %) dan keduabelas, skor 39 oleh 1 orang siswa . %), masih tergolong kategori Ketigabelas, skor 38 dicapai oleh 1 orang siswa . %) dan keempatbelas, skor 37 oleh 1 orang siswa . %), keduanya juga masuk kategori tinggi. Namun demikian, terdapat juga siswa dengan kategori cukup, yaitu kelimabelas, skor 35 diperoleh oleh 1 orang siswa . %) dan keenambelas, skor 34 oleh 3 orang siswa . %). Sebaran ini memperlihatkan bahwa mayoritas siswa berada pada kategori tinggi, sementara sebagian kecil lainnya berada pada kategori sangat tinggi dan cukup. Hal ini menguatkan kesimpulan bahwa kesadaran metakognitif siswa secara umum berada dalam kategori yang baik. Jika ditinjau lebih lanjut berdasarkan indikator, kesadaran metakognitif dibagi menjadi dua indikator utama, yaitu pengetahuan metakognitif dan strategi metakognitif. Pengetahuan metakognitif Pada indikator pengetahuan metakognitif, diperoleh rata-rata sebesar 73,89% yang termasuk dalam kategori tinggi. Pengetahuan metakognitif mencakup tiga subindikator. Pengetahuan Deklaratif Pengetahuan deklaratif berdasarkan hasil analisis data memperoleh sekitar 78,33% yang tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa telah memiliki pengetahuan eksplisit tentang dirinya sebagai pelajar, termasuk pemahaman terhadap tugas belajar yang Tingginya persentase pada aspek pengetahuan deklaratif menunjukkan bahwa siswa telah memiliki pemahaman yang kuat mengenai dirinya sebagai pembelajar, termasuk kekuatan dan kelemahan dalam memahami materi. Pengetahuan ini merupakan landasan dari kesadaran metakognitif karena menjadi dasar untuk mengembangkan strategi belajar yang tepat. Menurut Anderson. Ed. , . , pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang diri sendiri dan tentang strategi belajar yang diperlukan dalam konteks tugas tertentu. Artinya, siswa tidak hanya tahu AuapaAy yang harus dipelajari, tetapi juga siapa dirinya dalam proses belajar tersebut. Tingginya kategori ini mencerminkan bahwa siswa telah mampu mengenali kondisi internalnya seperti minat, motivasi, dan kesiapan dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural berdasarkan hasil analisis data memperoleh sekitar 69,42% yang berada dalam kategori tinggi. Ini mengindikasikan bahwa siswa memahami langkahlangkah atau prosedur untuk menyelesaikan tugas belajar, meskipun masih ada ruang peningkatan dalam penerapan strategi yang tepat. Pengetahuan prosedural mencakup kemampuan siswa dalam memahami langkah-langkah teknis atau prosedur dalam melakukan suatu tugas, misalnya mengidentifikasi nilai-nilai di dalam teks hikayat. Menurut Schraw. , & Moshman. , menjelaskan bahwa pengetahuan prosedural mengacu pada pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan strategi belajar tertentu dan kapan strategi tersebut harus digunakan secara tepat. Meskipun hasilnya belum mencapai kategori sangat tinggi, nilai ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu mengenali dan menggunakan metode atau teknik membaca yang sesuai, seperti mencatat poin penting atau menggarisbawahi gagasan utama dalam teks. Namun demikian. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat masih dibutuhkan pelatihan dan pembiasaan strategi belajar agar kemampuan ini dapat Pengetahuan Kondisional Pengetahuan kondisional berdasarkan hasil analisis data memperoleh sekitar 73,75%, juga termasuk pada kategori tinggi. Artinya, siswa tidak hanya tahu apa dan bagaimana cara belajar, tetapi juga tahu kapan dan mengapa strategi tersebut digunakan. Menurut Schraw, , & Dennison. , menekankan bahwa pengetahuan kondisional sangat penting dalam pemilihan strategi belajar yang efektif karena mengarahkan siswa untuk menggunakan strategi yang sesuai dengan situasi belajar yang dihadapi. Pengetahuan kondisional mengacu pada kemampuan siswa dalam menentukan kapan dan mengapa strategi belajar tertentu perlu digunakan. Subindikator ini penting karena tanpa pemahaman waktu dan alasan penggunaan strategi, pengetahuan deklaratif dan prosedural tidak akan optimal. Paris. Lipson. , & Wixson. menyebutkan bahwa pengetahuan kondisional merupakan jenis pengetahuan metakognitif yang memungkinkan individu menyesuaikan strategi berdasarkan tuntutan tugas dan situasi belajar. Dengan skor yang tinggi pada subindikator ini, siswa telah menunjukkan kemampuan memilih strategi berdasarkan konteks teks hikayat yang dibaca, seperti kapan menggunakan strategi membuat simpulan, dan kapan harus mencari kata kunci untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Strategi metakognitif Pada indikator kedua yaitu strategi metakognitif, diperoleh sekitar 69,91%, yang juga berada dalam kategori tinggi. Strategi metakognitif terdiri atas tiga subindikator, yaitu: Strategi Perencanaan Berdasarkan hasil analisis data memperoleh sekitar 69,00%, berdasarkan penafsiran persentase berada dalam kategori tinggi. Kategori tersebut menunjukkan bahwa siswa mampu dalam menetapkan tujuan, memilih strategi, dan merancang tahapan belajar, yang merupakan langkah awal penting dalam kegiatan berpikir metakognitif. Strategi perencanaan merupakan tahap awal dalam proses metakognitif, yang melibatkan penentuan tujuan belajar, pemilihan strategi, dan alokasi waktu. Nilai 69% menunjukkan bahwa siswa cukup baik dalam merancang strategi sebelum membaca teks hikayat, seperti menyiapkan catatan atau memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk membaca. Menurut Brown. , perencanaan mencakup aktivitas merancang bagaimana menyelesaikan tugas secara efisien dan efektif, termasuk pemilihan strategi, penetapan tujuan, dan prediksi kesulitan. Meskipun masih dalam kategori tinggi, aspek ini bisa ditingkatkan melalui pelatihan keterampilan pra-membaca dan pengembangan tujuan belajar individual. Strategi Pemantauan Strategi Pemantauan berdasarkan hasil analisis data memperoleh sekitar 72,35%, angka ini tergolong pada kategori tinggi berdasarkan hasil penafsiran. Hal ini menandakan bahwa siswa secara sadar melakukan pemeriksaan terhadap pemahaman dan kemajuan mereka saat proses belajar berlangsung. Menurut OAoNeil & Brown . alam Romli, 2. , kemampuan memantau ini penting dalam mendeteksi kesalahan atau ketidakefektifan strategi belajar. Strategi pemantauan mencerminkan kemampuan siswa dalam mengevaluasi proses berpikir mereka saat kegiatan membaca berlangsung. Ini termasuk kemampuan untuk menyadari ketika terjadi kebingungan atau kesalahan saat memahami teks, dan mengambil tindakan korektif secara langsung. Menurut Zimmerman. , pemantauan diri adalah pusat dari proses belajar mandiri, karena memungkinkan siswa menyadari dan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat memperbaiki pemahamannya secara langsung selama pembelajaran. Persentase ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu menilai keefektifan strategi saat membaca teks hikayat secara real-time, meskipun peningkatan kesadaran terhadap hambatan kognitif bisa lebih dioptimalkan. Strategi Evaluasi Berdasarkan hasil analisis data, strategi evaluasi mendapatkan hasil dengan memperoleh dengan angka sekitar 66,30% dan masih termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa telah mampu mengevaluasi efektivitas strategi belajar yang telah digunakan, walaupun masih memerlukan peningkatan dalam hal refleksi hasil dan penyesuaian strategi. Strategi evaluasi merupakan proses reflektif setelah kegiatan membaca, yang meliputi penilaian terhadap pencapaian tujuan belajar dan efektivitas strategi yang Meskipun tergolong tinggi, subindikator ini memiliki persentase terendah dari keseluruhan strategi metakognitif, yang menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam melakukan refleksi menyeluruh atas proses belajar mereka. Menurut O'malley. , & Chamot. , evaluasi merupakan kemampuan untuk menilai hasil akhir proses belajar dan mengidentifikasi bagian yang berhasil maupun yang masih perlu ditingkatkan. Rendahnya hasil evaluasi ini menunjukkan pentingnya bimbingan dalam membangun budaya reflektif di akhir pembelajaran, misalnya dengan latihan jurnal refleksi atau diskusi pasca membaca. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang memiliki kesadaran metakognitif yang baik. Baik dari segi pengetahuan maupun strategi yang digunakan untuk mengelola pikirannya dalam kegiatan belajar, seluruh indikator dan subindikator menunjukkan kategori tinggi atau sangat tinggi, yang berarti bahwa siswa telah mengembangkan kemampuan kognitif tingkat lanjut yang penting dalam pembelajaran khususnya dalam memahmi nilai-nilai yang terkandung dalam teks Kemampuan Memahami Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Teks Hikayat Siswa Kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang Kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang, jika dilihat berdasarkan nilai per indikator, menunjukkan variasi tingkat penguasaan. Pada indikator 1 . ilai mora. terdapat rata-rata hitung 81,67. Mengacu pada rata-rata hitung yang diperoleh, maka kemampuan memahami nilai moral siswa tergolong baik sekali. Pada indikator 2 . ilai sosia. terdapat rata-rata hitung 62,9. Mengacu pada rata-rata hitung tersebut, maka kemampuan memahami nilai sosial siswa tergolong lebih dari cukup. Pada indikator 3 . ilai religius/agam. terdapat rata-rata hitung 73,33. Mengacu pada rata-rata hitung yang diperoleh, maka kemampuan memahami nilai religius siswa tergolong lebih dari cukup. Pada indikator 4 . ilai pendidika. terdapat ratarata hitung 91,67. Mengacu pada rata-rata hitung tersebut, maka kemampuan memahami nilai pendidikan siswa tergolong baik sekali. Pada indikator 5 . ilai buday. terdapat ratarata hitung 78,33. Mengacu pada rata-rata hitung tersebut, maka kemampuan memahami nilai budaya siswa tergolong baik. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa aspek kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat yang dikemukakan oleh Mulyadi, dkk . , mencakup lima jenis nilai, yaitu nilai moral, nilai religius, nilai sosial, nilai budaya, dan nilai pendidikan. Maka dari keseluruhan indikator, diperoleh nilai rata-rata hitung kemampuan memahami nilai-nilai dalam teks hikayat sebesar 81,53, yang tergolong Setelah dilakukan analisis data, diketahui bahwa indikator yang mendapatkan nilai rata-rata hitung tertinggi adalah indikator 1 . ilai mora. Hal ini menunjukkan bahwa siswa Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat telah mampu mengenali dan memahami pesan-pesan moral yang terkandung dalam teks hikayat secara optimal. Sementara itu, indikator yang mendapatkan nilai rata-rata hitung terendah adalah indikator 2 . ilai sosia. Rendahnya nilai ini dipengaruhi oleh kurangnya perhatian siswa dalam mengaitkan isi cerita hikayat dengan realitas kehidupan sosial di masyarakat, serta kesulitan dalam mengidentifikasi hubungan antar tokoh yang mencerminkan nilai sosial dalam cerita. Hubungan Kesadaran Metakognitif dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Teks Hikayat Siswa Kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang, diperoleh bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesadaran metakognitif dengan kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks Siswa yang memiliki kesadaran metakognitif tinggi terbukti lebih mampu memahami dan menginterpretasikan nilai-nilai moral, sosial, agama, pendidikan, maupun budaya dalam teks hikayat. Kemampuan ini mencerminkan efektivitas penggunaan strategi berpikir dalam memahami teks secara mendalam dan kritis. Hubungan antara kedua variabel dibuktikan melalui uji t yang memperoleh hasil t hitung sebesar 2,06, sedangkan t tabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 1,70, sehingga t hitung > t tabel . ,06 > 1,. Artinya, hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesadaran metakognitif dan kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa kelas X Fase E di SMA Pertiwi 1 Padang. Temuan ini diperkuat oleh pernyataan Flavell . alam Santrock, 2. yang menjelaskan bahwa metakognisi merupakan kesadaran seseorang terhadap proses berpikirnya sendiri serta kemampuannya dalam mengatur dan mengontrol proses berpikir OAoNeil dan Brown . alam Romli, 2. juga menegaskan bahwa metakognisi mencakup proses perencanaan, pemantauan, dan evaluasi terhadap strategi berpikir dalam menghadapi persoalan belajar. Artinya, siswa yang memiliki kesadaran terhadap proses berpikirnya akan lebih terarah dalam memahami isi suatu teks, termasuk teks sastra seperti Selanjutnya, hasil penelitian Serpara. Karuna, & Tomasouw . juga mendukung temuan ini, yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan strategi metakognitif dengan kemampuan memahami teks Bahasa Jerman. Dalam penelitian tersebut, diperoleh nilai r hitung sebesar 0,849 lebih besar dari r tabel sebesar 0,316, serta nilai signifikansi sebesar 0,00 O 0,05. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi kemampuan seseorang dalam menerapkan strategi metakognitif, maka semakin baik pula kemampuannya dalam memahami teks. Temuan ini juga menekankan pentingnya pembelajaran membaca pemahaman yang memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan dan menerapkan strategi metakognitif yang mereka miliki. Selain itu. Fariah. Jamaluddin, & Karnan . dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kesadaran metakognitif dengan hasil belajar biologi peserta didik. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa r hitung sebesar 0,412 lebih besar dari r tabel sebesar 0,176 pada taraf signifikansi 5%, dengan nilai signifikansi sebesar 0,00 O 0,05. Hal ini menandakan bahwa hubungan antara kedua variabel bersifat positif dan signifikan, sehingga HCA ditolak dan HCA diterima. Meskipun konteksnya berbeda, hasil tersebut memperkuat bahwa kesadaran metakognitif merupakan faktor penting yang memengaruhi hasil belajar di berbagai bidang, termasuk dalam memahami teks sastra seperti hikayat. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi metakognitif tidak Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Hubungan Kesadaran Metakognitif Dengan Kemampuan Memahami Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Hikayat hanya penting dalam memahami materi pembelajaran secara umum, tetapi juga krusial dalam mendalami makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk merancang pembelajaran sastra yang memungkinkan siswa mengasah kemampuan berpikir metakognitif mereka, sehingga mereka dapat menjadi pembaca yang reflektif, kritis, dan bermakna. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan mengenai hubungan kesadaran metakognitif dengan kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang, disimpulkan tiga hal sebagai berikut ini. Pertama, kesadaran metakognitif terdapat dua indikator utama dan tiga sub indikator dari kedua indikator tersebut, yaitu pengetahuan metakognitif . engetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisiona. dan strategi metakognitif . trategi perencanaan, strategi pemantauan dan strategi evaluas. Dari keseluruhan indikator tingkat kesadaran metakognitif berkisar 71,50%, dengan penafsiran tergolong pada kategori tinggi. Kedua, kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang terdapat lima indikator yaitu, nilai moral, nilai sosial, nilai agama, nilai pendidikan, dan nilai budaya. Berdasarkan lima indikator tersebut memperoleh rata-rata hitung 81,53 tergolong baik. Ketiga, terdapat hubungan yang signifikan antara kesadaran metakognitif dengan kemampuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat siswa kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang. Hal ini dibuktikan dengan uji hipotesis memperoleh nilai thitung > ttabel yaitu 2,11 > 1,69 yang berarti hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesadaran metakognitif dengan memapuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat Siswa Kelas X Fase E SMA Pertiwi 1 Padang. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kesadaran metakognitif berperan penting dalam menunjang kemampuan siswa dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Semakin tinggi tingkat kesadaran metakognitif yang dimiliki siswa, maka semakin baik pula kemampuan mereka dalam menginterpretasikan dan mengaitkan nilainilai moral, sosial, agama, pendidikan, dan budaya yang termuat dalam teks hikayat. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran metakognitif dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pemahaman sastra siswa secara lebih mendalam dan reflektif. REFERENSI