Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS SHIN SPLINT PADA ATLET BASKET Desak Made Dwi Kesumayanti1*. Ni Kadek Yesi Sudiarti2. Putu Tresia Pratama Putri3. I Komang Pramana Darma Kusuma4 Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis. Fakultas Kesehatan Dan Sains. Universitas Dhyana Pura1,2,3,4 * E-mail: made. desak60@gmail. Abstrak Shin splints adalah suatu keadaan dimana terjadi rasa nyeri di tungkai bawah, di sepanjang tulang kering sisi dalam. Keluhan ini secara prevalensi lebih sering ditemui dan berkaitan dengan kegiatan olahraga. Nyeri ini muncul akibat suatu proses inflamasi pada otot, tendon, dan tulang kering, yaitu di tempat perlekatan otot pada tulang. Shin splints terjadi karena adanya beban berlebihan yang repetitif pada tulang kering dan jaringan ikat yang melekatkan otot ke tulang, sehingga menyebabkan gangguan fungsional pada penderita atau atlet khususnya. Tujuan: Untuk mengetahui efek pemberian kombinasi modalitas fisioterapi dalam menangani pasien dengan kasus shin Studi Kasus: Pasien mengeluhkan nyeri pada betis bagian dalam kaki kiri dari 3 minggu lalu yang dirasakan setelah bermain basket selama 1,5 jam pada lantai kayu dan berlari setengah mil di salah satu stadium di Bali. Setelah berlari, pasien mengeluhkan nyeri kaki kiri selama kurang lebih 1 jam setelah berhenti beraktivitas. Lari lebih dari 10 menit memperparah rasa nyeri. Pasien biasanya bermain basket sebanyak 5 kali seminggu . ekitar 1 ja. Kondisi saat ini masih dalam tahap rehabilitasi pemulihan. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan fisioterapis, pemeriksaan Tes Palpasi Shin mendapatkan hasil positif nyeri. Program intervensi yang diberikan adalah pemberian Ultrasound (US). TENS, dan terapi latihan. Hasil: Setelah pemberian intervensi sebanyak 2 kali terjadi penurunan nyeri dan peningkatan kemampuan fungsional pada pasien. Kata Kunci : shin splint, olahragawan,intervensi fisioterapi. Pendahuluan Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 didunia. Dengan banyaknya jumlah penduduk. Indonesia memiliki sejumlah permasalahan baik dalam perekonomian, transportasi, pendidikan, kesejahteraan, maupun kesehatan. Masyarakat modern cenderung mempunyai pola hidup yang mementingkan kesibukan, ditambah lagi dengan kurangnya olah raga untuk mengimbangi aktivitas yang sangat Padahal efek dari gaya hidup seperti itu akan berdampak terhadap daya tahan tubuh yang cepat menurun. Untuk mengantisipasinya, pilihan gaya hidup sehat harus mulai diterapkan, yang salah satunya kita dapat memulainya dengan olahraga. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Padatnya aktivitas maka masyarakat cenderung memilih olahraga yang praktis, efisien dan mudah dilakukan salah satunya adalah jogging dan lari. Namun dengan minimnya pemahaman masyarakat tentang bagaimana melakukan olahraga dengan baik dan benar sehingga melakukan kegiatan olahraga tidak sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditentukan atau secara tidak sengaja melakukan gerakan yang salah sehingga dapat menyebabkan cedera pada tungkai bawah. Cedera dapat mengenai otot, ligamen, maupun tulang. Cedera biasanya dikarenakan oleh kurangnya pemanasan, beban olahraga yang berlebih, tidak melakukan gerakan dengan benar, pemilihan lapangan yang salah dan abnormalitas postur yang makin meningkatkan resiko cidera. Cedera sering terjadi akibat beban olahraga yang berlebih pada tungkai bawah adalah Shin Splint. Shin splint secara umum terdiri dari satu atau lebih proses patologi, diantaranya Bone stress pada tulang tibia. Inflamasi pada periosteum dan fascia medial tibialis dan peningkatan tekanan compartement pada muscle lower leg akibat overuse dan inflamation (Sathe 2. Shin splint merupakan rasa nyeri pada bagian dalam tulang tibia karena adanya inflamasi pada periosteum otot tibialis posterior dikarenakan trauma berulang akibat aktifitas olahraga, berjalan pada permukaan yang tidak rata atau keras, fllexibility, poor imbalance and muscle, penggunaan sepatu yang tidak tepat, malalignment ankle seperti pes planus, pes cavus, biomekanik berlari yang salah sehingga memicu terjadinya iritasi pada periosteum tibia, yang menimbulkan nyeri sebagaimana mengganggu gerak fungsional dari sendi ankle seperti berjalan, berlari, melompat yang dikarenakan adanya penurunan fungsi otot dan stabilisasi ankle (Bhusari and Deshmukh 2. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan yaitu Case Study dengan pasien berjenis kelamin laki-laki, berusia 22 tahun, mengeluhkan nyeri pada betis bagian dalam kaki kiri dari 3 minggu lalu yang dirasakan setelah bermain basket selama 1,5 jam dan berlari setengah mil di salah satu stadium basket di Bali. Kondisi saat ini masih dalam tahap rehabilitasi pemulihan. Dalam laporan ini menggunakan metode studi kasus dengan analisis deskriptif dimana dalam laporan akan memuat data pengukuran sebelum dan sesudah pemberian intervensi seperti pengukuran nyeri, lingkup gerak sendi, kekuatan otot, dan aktivitas Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Hasil Dan Pembahasan Shin splints adalah suatu keadaan dimana terjadi rasa nyeri di tungkai bawah, di sepanjang tulang kering sisi dalam. Keluhan ini sering ditemui dan berkaitan dengan kegiatan olahraga. Nyeri ini muncul akibat suatu proses peradangan pada otot, tendon, dan tulang kering, yaitu di tempat perlekatan otot pada tulang. Peradangan ini terjadi karena otot dan jaringan tulang . di tungkai bawah melakukan aktivitas yang melebihi kemampuannya, secara berulang. Menurut hasil sebuah temuan, shin splints selalu dikeluhkan setelah aktivitas berolahraga, khususnya mereka yang melakukan perubahan mendadak pada aktifitas olahraga tersebut, yaitu perubahan frekuensi, durasi dan intensitas. Beberapa jenis olahraga dengan aktivitas fisik yang tinggi dapat menimbulkan keluhan ini. Kelompok olahraga yang sering mengalami shin splints adalah dansa, lari, sepakbola, futsal, basketball, softball (Khandekar 2. Berdasarkan hasil sebuah penelitian menunjukan peningkatan intensitas atau frekuensi yang tiba-tiba pada tingkat aktivitas berpengaruh pada kelelahan otot terlalu cepat untuk membantu penyerapan energi dengan aktifitas yang tinggi sehingga memaksa tibia mengalami sebagian besar benturan berulang (Li et al. Kurangnya alas kaki bantalan, terutama pada permukaan yang keras, tidak menyerap kekuatan transmisi saat berlari atau melompat. Stres ini dikaitkan dengan timbulnya shin splints. Ketidakseimbangan otot, termasuk otot inti yang lemah, ketidakfleksibelan dan sesak otot tungkai bawah, termasuk gastrocnemius, soleus dan otot plantar . iasanya fleksor digitorum longu. dapat meningkatkan kemungkinan shin splints (Sukamti 2. Nyeri yang terkait dengan shin splints disebabkan oleh gangguan pada serat Sharpey yang menghubungkan medial soleus fascia melalui periosteum tibia di mana ia dimasukkan ke dalam tulang. Dengan tekanan berulang, gaya tumbukan secara eksentrik melelahkan soleus dan membuat tibialis menekuk atau menekuk berulang kali, yang berkontribusi pada shin splints. Dampaknya menjadi lebih buruk dengan berlari menanjak, menuruni bukit, di medan yang tidak rata, atau di permukaan yang Alas kaki yang tidak tepat, termasuk sepatu usang, juga dapat menyebabkan shin splints (Vasanad 2. Berdasarkan hasil penelitian, shin splints berkembang ketika otot dan jaringan tulang . pada tungkai bekerja berlebihan akibat aktivitas berulang (Furia. Doctor, and Irani 2. Diperkirakan hal tersebut menyebabkan pembengkakan jaringan di sekitar tulang kering. Beberapa hal dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya shin splints, antara lain. Perubahan tingkat aktivitas yang tiba-tiba Ae seperti baru memulai olahraga atau tiba-tiba menambah jarak atau kecepatan berlari (Gerard dan William2. Berlari pada permukaan yang keras atau tidak rata, menggunakan Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 sepatu yang tidak pas atau sudah usang sehingga tidak memberikan bantalan dan tidak menyokong kaki dengan baik, lokasi shin splints yang paling sering adalah bagian medial . isi dalam tulang kerin. (Nuhmani and Muaidi 2. Shin . e ketidakseimbangan antara otot betis dengan otot di bagian depan tungkai, dan seringkali diderita pelari pemula yang belum menyesuaikan diri terhadap tekanan dalam berlari atau yang tidak melakukan peregangan dengan baik (Barton et al. Hasil dalam penelitian ini dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah diberikan intervensi yang terdapat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 1. Hasil sebelum dan sesudah pengukuran. Pengukuran Nyeri VAS Kekuatan otot Lingkup MMT Goniometer Sebelum Sesudah Nyeri gerak 3/10 Nyeri gerak 2/10 Nyeri tekan 2/10 Nyeri tekan 1/10 Nyeri diam 0/10 Nyeri diam 0/10 5/5, 5/5. Gerakan Gerakan plantar fleksi, otot plantar fleksi, otot flexsor sinsitra flexsor sinsitra Sinistra. Sinistra, 45A - 0A - 20A 47A - 0A - 20A 72,5%% Aktifitas Lower Extremity Functional Scale (LEFS) Berdasarkan hasil diatas didapatkan hasil pengukuran pada nyeri dan lingkup gerak sendi terdapat perubahan yaitu penurunan rasa nyeri dan bertambah lingkup gerak sendi serta dari segi pengukuran fungsional terdapat perubahan, yang semulanya ketergantungan sedang menjadi ketergantungan ringan (Mattock. Steele, and Mickle Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Dalam intervensi yang diberikan akan menyesuaikan dengan fase yang dialami penederita sekarang sehingga penanganan lebih tepat diberikan seperti pada fase akut dapat diberikan isometrik dan kompres es lalu fase sub akut mulai diberi latihan beban minimal dan lanjut fase kronis diberi latihan strengthening untuk menjaga otot serta fase back to return untuk mempersiapkan kembali ke aktivitas olahraga seperti pada Berikut guidline untuk kondisi shin splint (Saeki et al. Tabel 2. Guidline Shin Splint Fase Fase I Fase Akut Intervensi yang disarankan Modalitas Ultrasound. Tens Kompres ice Exercise terapi 3-5 set, 6-12 reps Minggu 7-14 hari. Quad set, ham set , bridging mungkin bisa sampai Fase II Fase Subakut Modalitas Ultrasound. Tens Kompres ice Exercise terapi 1-2 set, 12-20 reps Minggu 2-6 Mini wall sqaut, ankle strengthening, step up Down Fase i Modalitas Ultrasound. Tens Exercise terapi 3-5 set, 1-10 reps Penguatan Lanjutan Adduction Minggu 6-8 Fase IV Return to activity 8 minggu dst machine, jump to box Return to activity and sport Exercise terapi 4-6 set, 1-5 reps Skipping, balance, ladder drill Kesimpulan Dengan mengetahui proses dari wound healing seperti tendon, otot khususnya maka dapat disesuaikan exercise yang diberikan agar tidak menimbulkan cedera Oleh karena itu dengan pemberian intervensi mulai dari fase akut, sub akut dan kronis maka dapat mencapai goals yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan penuruan rasa nyeri dan bertambahnya lingkup gerak sendi pemederita shin splint setelah diberikan intervensi latihan sesuai fase penderita. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Ucapan Terima Kasih Terima kasih kami ucapkan terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat-nya penelitian ini dapat berjalan dengan lancar, dan terima kasih kepada orangtua kami serta kerabat sejawat kami dan pihak pendukung lainnya yang telah banyak mendukung untuk penelitian ini. Daftar Pustaka