PERILAKU LAKI-LAKI USIA 15-19 TAHUN DALAM PENCEGAHAN PENULARAN HIV/AIDS DI DESA SIBANG KAJA KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG Ari Kundari Dewi. Puja Astuti Dewi. Rismawan. M STIKES Bali. Jl. Tukad Balian No. 180 Denpasar Bali E-mail : arikundari000@gmail. ABSTRAK Tujuan: Penelitian ini ber tujuan untuk mengetahui gambar an per ilaku lakilaki usia 15-19 tahun dalam pencegahan penularan HIV/AIDS di Desa Sibang Kaja Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini yaitu remaja laki-laki usia 15-19 tahun dengan jumlah 147 responden, yang didapatkan melalui teknik simple random sampling. Data dikumpul menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil: Penelitian ini menunjukkan sebanyak 51% r esponden memiliki per ilaku yang baik dan 49% responden memiliki perilaku yang cukup dalam pencegahan penularan HIV/ AIDS. Kesimpulan: Temuan ini mengindikasikan bahwa remaja laki-laki usia 15-19 tahun perlu meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakannya kearah yang lebih baik, sehingga akan terciptanya perilaku yang baik dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Kata Kunci: HIV/AIDS. Perilaku. Remaja ABSTRACT Aim: To identify the behavior of adolescent boy in the age 15-19 years old in the prevention of HIV/AIDS transmission at Sibang Kaja village Abiansemal Badung. Method: This study employed cross sectional approach. To conduct this study, 147 respondents were recruited as the sample in this study through simple random sampling The data were collected by using questionnaires and analyzed with descriptive Finding: The findings indicated that 51% of respondents had good behavior and 49% of respondents had moderate behavior in the prevention of HIV/AIDS transmission. Conclusion: In conclusion, adolescents boy in the ages 15-19 years old need to improve their knowledge, attitudes and actions to be better in order to build good behavior and in accordance with the norms. Keywords: HIV/AIDS. Behavior. Adolescents PENDAHULUAN Salah satu masalah kesehatan yang sampai saat ini masih menjadi isu penting bersama masyarakat dunia adalah Aquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV/AIDS dapat ditularkan melalui beberapa cara penularan, yaitu melalui hubungan seksual yang beresiko tanpa perlindungan alat kontrasepsi seperti kondom, pemakaian alat-alat yang digunakan untuk menoreh kulit tanpa disterilkan terlebih dahulu seperti jarum tindik, pisau, silet, menyunat seseorang, membuat tatto, alat menggunakan jarum suntik secara bergantian pada pengguna narkoba, melalui darah dan produk darah yang tercemar HIV, pemakaian alat kesehatan yang tidak steril serta penularan dari ibu pada bayi dalam kandungan (Nursalam & Ninuk, 2. Hasil pengamatan melalui wawancara yang peneliti lakukan di Desa Sibang Kaja kepada tujuh laki-laki yang berusia diantara 15-19 tahun, diperoleh informasi bahwa di wilayah tempat tinggal mereka pernah terjadi kasus kematian yang disebabkan oleh HIV/ AIDS. Riwayat perilaku korban yang meninggal disebabkan oleh penyalahgunaan Tiga dari tujuh laki-laki rentang usia 15-19 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom, dua laki-laki lainnya mengaku dalam pemakaian jarum tatto serta alat cukur rambut tidak memperhatikan kesterilannya. Penelitian yang dilakukan pada 34 responden yang pernah melakukan hubungan seksual pada usia lebih dari 15 tahun, ditemukan bahwa sebanyak 19 orang . ,9%) tidak menggunakan kondom (Kendek,dkk. Penelitian yang dilakukan pada anak jalanan usia 11-18 tahun ditemukan sebanyak 48,8% memakai tatto dan sebanyak 60,0% yang menggunakan jarum yang tidak steril serta penggunaan tindik sebesar 85,4% dan sebesar 71,4% menggunakan jarum tindik yang tidak steril (Hutami, 2. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Syarif & Tafal . pada remaja pengguna narkoba suntik, diperoleh fakta bahwa 55,3% responden digambarkan sebagai pengguna jarum suntik beresiko. Perilaku pencegahan yang kurang baik tersebut menyebabkan tingginya kasus HIV/ AIDS. Perilaku terdiri dari tiga ranah . yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan (Notoatmodjo, 2. Hasil data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali . menunjukkan bahwa kasus HIV/ AIDS di Provinsi Bali menurut golongan umur dan jenis kelamin kumulatif dari tahun 1987 sampai September 2015 yang terbanyak yaitu pada laki-laki usia 20-29 tahun. Apabila dikaji kembali berdasarkan teori yang ada, dikatakan bahwa masa inkubasi HIV . erjadinya infeksi sampai munculnya gejala yang pertam. rata-rata 5Ae10 tahun (Katiandagho. Hal menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan pada perilaku laki-laki usia remaja . Ae19 tahu. sehingga menyebabkan tingginya kasus HIV/AIDS pada usia 20-29 tahun. METODE Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh laki-laki usia 15-19 tahun di Desa Sibang Kaja yang berjumlah 236 orang. Berdasarkan hasil perhitungan maka besar sampel yang diperlukan sebanyak 147 orang. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah menggunakan metode probability Teknik yang digunakan adalah simple random sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang telah berisi 24 pernyataan secara lengkap dan terperinci yang diajukan kepada responden dengan skala penelitian ordinal. Data yang sudah diolah kemudian dilakukan analisa data. Data dianalisa dengan statistik deskriptif yaitu berupa distribusi frekuensi dengan menggunakan program SPSS. HASIL Domain Pengetahuan ([]%) 4 ([]%) Baik Cukup Kurang Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain pengetahuan penggunaan kondom di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian Pada gambar 5. 1 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik dalam penggunaan kondom yaitu sebanyak 143 . ,3%) responden dan 4 . ,7%) responden memiliki pengetahuan kurang. ([]%) Gambar 5. 4 menunjukkan responden yang memiliki sikap baik dalam penggunaan kondom sebanyak 89 . ,5%) responden, kategori cukup sebanyak 57 . ,8%) dan 1 . ,7%) responden dalam kategori kurang. ([]%) Baik Gambar 5. 5 menunjukkan responden yang memiliki sikap baik dalam penggunaan alat menoreh kulit sebanyak 64 . ,5%) responden, cukup sebanyak 58 . ,5%) dan 25 . %) responden dalam kategori kurang. Cukup ([]%) Kurang 96A 1 ([]%) Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain pengetahuan penggunaan jarum suntik di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian Pada gambar 5. 3 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik dalam penggunaan jarum suntik yaitu sebanyak 137 . ,2%) responden dan 10 . ,8%) responden memiliki pengetahuan Baik Cukup Kurang Pada gambar 5. 6 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap baik dalam penggunaan jarum suntik yaitu sebanyak 96 . ,3%) responden, kategori cukup sebanyak 50 . %) dan 1 . ,7%) responden dalam kategori kurang. ([]%) Domain Tindakan 1 ([]%) Baik Cukup Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain sikap penggunaan jarum suntik di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian Domain Sikap ([]%) Kurang Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain sikap penggunaan alat-alat menoreh kulit . di Desa Sibang Kaja Sumber Data: Data Penelitian Baik ([]%) Cukup ([]%) Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain pengetahuan penggunaan alat-alat menoreh kulit di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian Gambar 5. 2 menunjukkan responden yang memiliki pengetahuan baik dalam penggunaan alat menoreh kulit yaitu sebanyak 102 . ,4%) responden dan 45 . ,6%) responden memiliki pengetahuan ([]%) Baik ([]%) ([]%) Kurang ([]%) Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain sikap penggunaan kondom di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian Baik ([]%) Cukup ([]%) Kurang Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain tindakan penggunaan kondom di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian Pada gambar 5. 7 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik dalam penggunaan kondom yaitu sebanyak 14 . ,5%), kategori cukup sebanyak 18 . ,2%) dan 115 . ,2%) responden dalam kategori kurang. ([]%) Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada variabel perilaku laki-laki usia 15-19 tahun dalam pencegahan penularan HIV/AIDS di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian ([]%) ([]%) Baik Cukup Gambar 5. 10 menunjukkan bahwa responden yang memiliki perilaku baik dalam pencegahan penularan HIV/AIDS yaitu sebanyak 75 . %) responden, dan 72 . %) responden berada dalam kategori cukup. Kurang Gambar 5. Distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain tindakan penggunaan alat-alat menoreh kulit di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian PEMBAHASAN Tujuan khusus dalam penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi pengetahuan, sikap dan tindakan laki-laki usia 15-19 tahun dalam hal penggunaan kondom, alat-alat menoreh kulit dan penggunaan jarum suntik. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa mayoritas domain pengetahuan dan sikap responden berada dalam kategori baik. Sedangkan domain tindakan penggunaan kondom dan alat menoreh kulit berada dalam kategori kurang, tetapi tindakan penggunaan jarum suntik berada dalam kategori baik. Gambar 5. 8 menunjukkan responden yang memiliki tindakan baik dalam penggunaan alat menoreh kulit sebanyak 54 ,7%), kategori cukup sebanyak 31 . ,1%) dan 62 . ,2%) responden dalam kategori ([]%) Baik ([]%) ([]%) Cukup Domain Pengetahuan Teori yang dikemukakan oleh Wawan Dewi bertambahnya usia, pengalaman dan tingkat kematangan seseorang juga bertambah. Teori serupa dikemukakan oleh Kholid . yaitu pengetahuan diperoleh dari pendidikan, pengalaman diri sendiri maupun orang lain, media massa maupun lingkungan. Hal ini diperoleh responden melalui penyuluhan/ seminar akan mampu menambah wawasan dan pengalaman responden itu sendiri, dan responden juga dapat bertanya secara langsung tentang hal-hal yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Ada pula responden yang mendapatkan informasi melalui internet dan media televisi. Saat ini internet dan media massa berupa televisi sudah menjadi kebutuhan untuk semua orang terutama remaja laki-laki usia 15-19 tahun, sehingga Kurang Gambar 5. Distribusi berdasarkan jumlah jawaban responden pada domain tindakan penggunaan jarum suntik di Desa Sibang Kaja . Sumber Data: Data Penelitian Gambar 5. 9 menunjukkan responden yang memiliki tindakan baik dalam penggunaan jarum suntik yaitu sebanyak 85 . ,8%), kategori cukup sebanyak 21 . ,3%) dan 41 . ,9%) responden dalam kategori Perilaku Laki-Laki Usia 15-19 Tahun Dalam Pencegahan Penularan HIV/AIDS responden dapat dengan mudah mencari informasi tentang HIV/AIDS melalui internet dan media televisi tersebut. Domain Sikap Teori yang dikemukakan oleh Wawan Dewi bertambahnya usia, pengalaman dan tingkat kematangan seseorang juga bertambah. Teori serupa menyebutkan bahwa sikap seseorang dapat berubah dengan diprolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut (Sarwo, 1993 dalam Kholid, 2. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara tertentu, bentuk reaksinya dengan positif maupun negatif (Azwar, 1995 dalam Kholid, 2. Hal ini menunjukkan bahwa seiring bertambahnya umur maka informasi dan pengalaman juga bertambah. Setelah responden memperoleh rangsangan berupa informasi tentang HIV/AIDS melalui penyuluhan/seminar, internet dan media televisi maka responden akan memiliki tanggapan dan keyakinan dalam dirinya. Domain Tindakan Teori yang dikemukakan oleh Kholid . bahwa sering kali terjadi seseorang memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu adanya faktor lain seperti fasilitas atau sarana dan prasarana. Pada penelitian ini yang menyebabkan tindakan pencegahan HIV/AIDS dalam penggunaan kondom dan alat-alat menoreh kulit kurang adalah fasilitas atau sarana dan prasarana yang belum memadai di wilayah tempat tinggal responden. Desa Sibang Kaja memiliki 1 puskesmas namun belum memiliki program kesehatan yang berfokus pada permasalahan responden. Sehingga responden belum mendapatkan pengarahan dan pembinaan secara berkelanjutan terkait pencegahan HIV/AIDS. pencegahan HIV/AIDS sehingga mampu diaplikasikan ke dalam aktifitasnya. Teori Notoatmodjo pemahaman dan aktifitas seseorang. Menurut Sunaryo . 4 dikutip di Kholid, 2. perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Teori serupa menunjukkan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh faktor predisposisi berupa pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai-nilai dan sebagainya dari seseorang (Kholid. Pada penelitian ini didapatkan sebagian besar responden masih mengikuti jenjang pendidikan, hal ini dapat menambah pengetahuan responden tentang HIV/AIDS terutama di tempat pendidikannya masingmasing. Bahkan pengetahuan ini akan meningkatkan motivasi responden untuk mencari sumber-sumber informasi lain terkait HIV/AIDS, sikap ini mencerminkan bahwa responden yakin pencegahan HIV/AIDS itu penting untuk kehidupannya. Hasil ini dapat dilihat pada domain pengetahuan dan sikap terhadap penggunaan kondom, alat menoreh kulit dan penggunaan jarum suntik yang berada dalam kategori Responden yang memiliki pengetahuan baik dalam penggunaan kondom sebanyak 143 orang . ,3%) responden, sebanyak 102 orang . ,4%) responden dan 137 orang . ,2%) responden memiliki pengetahuan baik dalam penggunaan alat menoreh kulit dan jarum suntik. Domain sikap dalam penggunaan kondom berada dalam kategori baik sebanyak 89 orang . ,5%) responden, sikap dalam penggunaan alat menoreh kulit berada dalam kategori baik sebanyak 64 orang . ,5%) responden dan sebanyak 96 orang . ,3%) responden memiliki sikap yang baik terhadap penggunaan jarum suntik. Sehingga perilaku laki-laki usia 15-19 tahun dalam pencegahan penularan HIV/AIDS dapat dikategorikan baik, karena didukung oleh dua dari tiga domain yang berada dalam kategori baik yaitu domain pengetahuan dan domain sikap. Perilaku Laki-Laki Usia 15-19 Tahun dalam Pencegahan Penularan HIV/AIDS Tujuan umum dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran perilaku lakilaki usia 15-19 tahun dalam pencegahan penularan HIV/AIDS di Desa Sibang Kaja Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Hasil menunjukkan bahwa perilaku laki-laki usia 15-19 tahun dalam pencegahan penularan HIV/AIDS mayoritas berada dalam kategori baik, yaitu sebanyak 75 orang . %) Hal ini mengindikasikan bahwa KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan Mayoritas laki-laki usia 15-19 tahun memiliki perilaku yang baik dalam pencegahan penularan HIV/AIDS. Dilihat dari nilai persentase setiap domain perilaku, domain tindakan dalam penggunaan kondom dan penggunaan alat-alat menoreh kulit memiliki skor yang rendah yaitu berada dalam kategori kurang. Sedangkan domain tindakan penggunaan jarum suntik berada dalam kategori baik. Domain pengetahuan dan domain sikap dalam penggunaan kondom, alat menoreh kulit serta jarum suntik memiliki skor yang lebih tinggi atau seluruhnya dalam kategori baik. Diperoleh tanggal 5 September 2016, dari http:// Hidayat. Metode penelitian kebidanan dan teknik analisa Jakarta: Salemba Medika. Hidayat. Metode penelitian kebidanan dan teknik analisa data (Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika. Saran Peneliti menyarankan agar peneliti subvariabel dengan perilaku pencegahan penularan HIV/AIDS. Hutami. Hubungan perilaku beresiko dengan infeksi HIV pada anak jalanan di Semarang. Jurnal Media Medika Muda. Diperoleh tanggal 17 Oktober https:// DAFTAR PUSTAKA